Ponsel Minhyun di kabinet dapur berdering nyaring. Jinyoung selaku satu-satunya makhluk hidup di sana yang mendengarnya menghela napas kasar. Jarak antara ruang keluarga dengan dapur tidak terlalu jauh sebenarnya, tapi Jinyoung terlalu malas bahkan untuk menggerakkan bokongnya satu senti saja.

Ia membiarkan ponsel Minhyun terus berdering dan berusaha untuk tidak terganggu dengan nada dering panggilannya yang sangat keras. Panggilan pertama berhenti. Sepertinya si penelepon menyerah karena Minhyun tak kunjung menangkat panggilannya, atau karena operator yang memberitahunya bahwa nomor yang dituju tidak dapat menerima panggilan.

Ponsel si sulung berdering kembali. Kali ini Jinyoung semakin kesal. Pristin sedang tampil di layar kaca dan suara dering ponsel Minhyun memenuhi seluruh rumah. Ia mengusap kasar wajahnya serta kakinya menendang-nendang kesal ke udara.

"KAK MINHYUN! HAPENYA BUNYI! BERISIK TAU GAK!"

.

.

DAYBREAK

Episode #4: Interacting with Family Members

.

.

"Tinggal angkat aja apa susahnya sih kamu itu."

Minhyun menggerutu begitu keluar dari kamar mandi masih dengan rambut yang basah karena belum dikeringkan. Ia memakai baju terburu-buru hingga kaosnya terbalik; bagian belakang berada di depan, saking terburunya.

"Ya aku kan lagi nonton Kyulkyung, Kak. Gak bisa diganggu gugat."

"Halah, bucin."

Minhyun mencibir. Sedangkan yang disindir tidak peduli dan tetap melanjutkan acara menonton idolanya yang sedikit terganggu oleh insiden tidak penting tadi.

"Lah kalo yang telepon tadi penting gimana? Kalo ada kebakaran? Ada yang kecelakaan?"

Jinyoung mengendikkan bahu sambil matanya masih awas menonton televisi. "Bodo ah!"

Sebelum jarinya bergerak mengecek panggilan tak terjawab di riwayat teleponnya, ponselnya kembali berdering. Ia tersenyum ketika sebuah nama yang satu minggu ini membuatnya bahagia terpampang pada layar ponselnya.

"Iya halo?"

.

.

.

Setelah mematikan panggilan, Minhyun kembali masuk rumah. Agar percakapannya di telepon tidak didengar oleh Jinyoung yang dasarnya selalu ingin tahu, Minhyun sengaja pindah ke beranda rumah.

Di ruang keluarga, ia menemukan Jinyoung sedang tidur-tiduran sembari bermain ponsel dengan televisi masih menyala. Acara musik yang tadi ditonton oleh Jinyoung sudah selesai. Pantas saja adiknya sudah tidak menaruh perhatian pada televisi yang menyala.

"Kalo gak ditonton tuh dimatiin tivinya," omel Minhyun. Ia mengambil remote di samping kaki Jinyoung, kemudian mematikan televisi.

"Marah-marah mulu. Dasar cewek PMS." Jinyoung menggerutu pelan sembari memainkan game di ponsel.

"Hair dryer di mana, Dek?" tanya Minhyun setelah mengecek laci meja televisi dan tidak menemukan pengering rambut di sana. Jinyoung menghela napas lega karena sang kakak tidak mendengarkan ucapannya barusan.

"Tadi habis dipake Woojin. Gak tau ditaruh mana," jawab Jinyoung. "Di kamar kali," lanjutnya sembari menunjuk arah kamar tidurnya dengan Woojin menggunakan dagu.

Minhyun menaiki tangga menuju kamar Jinyoung yang dengan terpaksa kini berbagi kamar dengan Woojin sejak beberapa bulan yang lalu. Sejak dirinya dan Woojin menjadi mahasiswa baru di universitas yang sama dengan Minhyun dan Jonghyun.

Ia membuka pintu dan menghentikan langkah untuk masuk. Betapa kagetnya ia melihat keadaan kamar yang sangat berantakan. Handuk bekas mandi tergeletak di atas ranjang milik Woojin. Buku-buku di atas meja tidak ditata rapi. Yang paling parah, cucian kotor di dalam keranjang menumpuk tinggi dan bau keringat menyebar di seluruh kamar.

"JINYOUNG! KAMARMU BERANTAKAN BANGET!"

Jinyoung di ruang tengah menghembuskan napas kelas untuk kesekian kalinya. "Woojin yang berantakin kok jadi aku yang salah." Ia bergumam tak menghiraukan Minhyun yang berteriak sebelumnya. "Bunda mana pake pergi lagi. Kak Minhyun jadi gak ada pawangnya kan," lanjutnya masih bergumam.

.

.

.

Suara ketukan pintu dari luar lagi-lagi membuat Jinyoung ingin mengumpat, tapi ia tahan. Dalam hitungan ketiga, Jinyoung yakin suara teriakan Minhyun dari dapur akan terdengar dan menyuruhnya untuk segera membukakan pintu.

"Jinyoung! Bukain pintunya!"

Tuh, kan! Jinyoung bilang juga apa.

"Iya, iya, emak macan."

"APA?"

Jinyoung bergegas mengambil langkah seribu sebelum piring melesat cepat ke arahnya. Ia lantas membuka pintu dan menemukan sosok laki-laki berjaket hijau terang. Awalnya Jinyoung pikir laki-laki itu adalah tukang ojek online yang sering mengantarkan pesanan makanan Minhyun.

"Bundamu ada?" Orang tersebut meringis lebar sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Mata tajam milik Jinyoung langsung memindai penampilan laki-laki di depannya dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Gaya pakaian? Oke (tapi Jinyoung tidak suka jaket warna hijau terang milik orang itu). Tatanan rambut? Lumayan. Postur badan? Lebih oke daripada badan kurus milik Jinyoung. Wajah? Tampan (tapi Jinyoung lebih tampan).

"Bunda yang mana, nih? Bunda asli apa bunda macan?" tanyanya. Mereka masih berdiri di depan pintu karena Jinyoung belum mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.

"Bunda macan?"

"Kak Minhyun maksudnya. Ya udah, masuk dulu, Bang."

Akhirnya, Jinyoung membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan si tamu untuk duduk. Seongwu awalnya duduk di ruang tamu, tapi Jinyoung mengajaknya untuk pindah duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.

"Kek tamu penting aja duduk di ruang tamu. Udah, duduk sini aja. Bang Seongwu bisa main kan? Ayo tanding PES sama aku."

Minhyun yang selesai mencuci piring, menghampiri dua laki-laki yang sedang bersiap untuk bermain PES di ruang keluarga. Ia duduk pada karpet yang sengaja diletakkan di sana oleh Bunda sebagai tempat duduk-duduk santai sampai tidur-tiduran. Seongwu di sebelahnya sibuk dengan joystik dan mata yang menatap layar televisi penuh konsentrasi. Kalau seperti ini, gagal sudah rencana jalan-jalan sore berdua mereka.

"Yang, tadi katanya mau jalan-jalan?" tanya Minhyun. Seongwu masih serius memilih pemain untuk tim kesebelasannya. Entah mendengar atau tidak, Seongwu tidak membalas ucapan Minhyun.

"Woi! Jadi jalan gak sih?!" Kini si perempuan berteriak tepat di telinga sang laki-laki, membuatnya berjengit karena kaget.

"Ha? Hm... ya, bentar."

Tangan Seongwu dengan lancar memencet joystik dan terlihat beberapa kali oleh Minhyun ia merombak lagi susunan pemain yang tadi dibuatnya.

"Ah lama, Bang. Aku aja udah selese nih."

"Iya, iya bentar- tuh udah! Ayo cuss!"

Minhyun sudah biasa diacuhkan karena game. Jinyoung, Woojin, Jonghyun juga sering seperti itu. Sebagai perempuan satu-satunya selain Bunda di rumah, Minhyun terlalu sering dilupakan karena game.

"Duh aku itu apa. Udah biasa dinomor duakan sama PES," gumam Minhyun.

.

.

.

"Gak! Gak! Ulang pokoknya! Gak terima aku, Bang!"

"Ya kalo kalah terima aja kali."

Jinyoung mengambil lagi joystiknya yang tadi ia lempar karena kesal. Seongwu tertawa kesenangan karena berhasil menang lawan Jinyoung. Seongwu juga memungut lagi joystiknya yang tadi ia sempat taruh setelah permainan selesai. "Ya udah ayo tanding lagi."

"Aku mau pake Barca sekarang."

"Aku Real Madrid kalo gitu."

Ini sudah pertandingan kelima dan Jinyoung hanya menang sekali saja. Minhyun yang tiduran di belakang mereka, masih asyik sendiri bermain ponsel sembari menunggu dua lelaki itu untuk menyudahi permainan.

"Kalo menang aku dapet apa?" tanya Seongwu. Ia menaik turunkan alisnya ke hadapan Jinyoung.

"Nasi goreng samping Indomaret. Gimana?"

Seongwu menggeleng kecil. "Kurang oke."

"Tapi itu enak, Bang nasi gorengnya. Porsinya banyak."

Seongwu masih menggeleng. "Aku lagi diet gak makan banyak-banyak."

"Halah sok-sokan diet. Kak Minhyun aja makannya dua bungkus sekaligus." Jinyoung menjawab dengan cuek menatap layar televisi untuk menyusun pemain.

Minhyun langsung mendorong kepala adiknya dari belakang. "Ngawur kalo ngomong. Orang aku makannya setengah porsi doang."

"Setengah kali empat sih iya," balas Jinyoung.

Minhyun yang tidak terima, kini menendang bokong Jinyoung. Jinyoung langsung menoleh dan balas memukul paha Minhyun. Sedangkan Seongwu hanya tertawa mendengarkan perdebatan pasangan kakak-adik tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

"Minhyun kalo di rumah emang gitu ya, Jinyoung?" tanya Seongwu.

"Gitu gimana, Yang?"

"Iya gitu. Kalemnya pencitraan doang, aslinya mah galak."

"Galak kayak maung ya?"

Seongwu dan Jinyoung tertawa bersama, sedangkan Minhyun mendelik tak suka.

.

.

.

.

Setelah aku pertimbangkan, Daybreak bakal aku post juga di wattpad (hitung2 ngeramein tag onghwang).

Username wattpad sudahku cantumkan di profil. Kalo males lihat di profil, yauda ini uname wattpadku: s-erenity

Buat mirancchi yang masih bingung, iya ini ceritanya masih nyambung dari awal. Mungkin ke depannya bakal ada latar waktu yg loncat2. Sepertinya sih, ga yakin 100% juga.

Maaf ya gabisa balas reviewnya satu2 karena aku gatau gimana caranya balas review????

EDITED

aku udah up cerita ini di wattpad. barangkali ada yg mau baca lagi hehe. di wattpad ada gifnya loh guyss jadi lucu gitu ehe /promosi/