Minhyun sedang duduk-duduk di taman JUTAP[1, menunggu Seongwu yang sedang pergi ke studio untuk menyimpan tugas di loker. Sore-sore begini biasanya banyak mahasiswa Fakultas Teknik yang olahraga di jogging track taman.
Mata perempuan itu melirik ke arah sekumpulan mahasiswa baru dari Fakultas Teknik yang sedang jogging sore. Ia menahan senyum ketika sekumpulan mahasiswa baru itu lewat di depannya. Beberapa dari mereka ada yang mengenal Minhyun dan menyapanya. Perempuan itu melemparkan senyum manisnya sebagai balasan.
"Kenapa maba teknik ganteng-ganteng ya," ia bergumam. Mahasiswi Arsitektur tersebut mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman. Ia tak bisa berhenti menahan senyumnya melihat pemandangan yang menyejukkan mata.
"Astagfirullah. Gak boleh gitu, Minhyun. Udah punya Seongwu, gak boleh lirik-lirik yang lain." Ia mengalihkan pandangan ketika salah satu mahasiswa baru di sana melepas kaosnya yang penuh keringat.
"Iya, Minhyun. Seongwu udah ganteng banget kayak gini kok ya masih ngelirik yang lain."
"Eh, kamu udah lama di sini?"
.
.
DAYBREAK
Episode #5: Competing
.
.
"Kamu tau game ini gak, Yang?"
Seongwu mengarahkan ponselnya ke hadapan Minhyun. Mereka kini duduk pada salah satu gazebo yang ada di taman. Minhyun yang awalnya masih melihat sekumpulan mahasiswa teknik dari kejauhan, kini terhalang oleh ponsel Seongwu yang berada di depan wajahnya.
"Oh ini, tau lah! Kamu main ini juga?" Minhyun merebut ponsel Seongwu dari tangan si empunya. Ia menggeser-geser pilihan lagu yang ada dalam permainan tersebut. "Kartumu bagus banget, Yang. S semua."
Ia membuka inventory card milik kekasihnya dan matanya melotot kaget melihat koleksi kartu di akun game milik Seongwu. "Day6 Moonrise kamu udah lengkap semua? Wih gila! Kok bisa?"
Dengan wajah terkejutnya, Minhyun menatap Seongwu. Sedangkan yang ditatap hanya nyengir bodoh. "Keren kan aku?"
"Kamu download kapan? Kok kartumu banyak banget, mana sampe R lagi."
Seongwu angkat bahu, "Gak tau. Lupa. Kalo gak salah sih dua minggu yang lalu." Ia kemudian mengambil ponsel Minhyun yang berada di pangkuan si perempuan. Ia membuka kunci layar dan membuka aplikasi permainan yang sama.
"Kamu udah punya game ini lama?" tanya Seongwu. Ia menggeser-geser pilihan artis di aplikasi permainan ponsel Minhyun. "Kamu gak pernah main apa gimana? Kok skornya cuma sampe satu juta?"
Minhyun mendelik tak terima. Ia melirik Seongwu yang kini sedang memainkan salah satu lagu di permainan tersebut. "Enak aja. Dapetin satu juta itu susah tau."
"Lebih susah dapetin kamu," ucap Seongwu yang masih fokus dengan permainannya.
"Jangan gombal. Kamu jelek kalo gitu."
"Nih, lihat nih!" Seongwu menyodorkan ponsel Minhyun ke hadapan pemiliknya. "Dapet dua juta." Ia tersenyum bangga melihat raut wajah Minhyun yang heran dengan mulut yang menganga lebar.
"Biasa aja keleus." Seongwu mengusap wajah Minhyun hingga si perempuan sadar dari kekagetannya.
"Kok bisa sih?" Minhyun bertanya dengan heran.
"Kartu kamu kan S-nya ada lima, yang dua A, duanya lagi B." Seongwu mengarahkan jarinya ke layar ponsel untuk menunjukkan kepada Minhyun. "Harusnya sih bisa sampe dua juta," lanjutnya. Minhyun menggelengkan kepala tanda masih tidak paham.
"Kamu kalo main harus pas temponya, biar poin yang didapet bisa penuh," jelas Seongwu lagi. Minhyun tetap menggelengkan kepala. "Aku masih gak ngerti. Perasaan tiap aku main tulisannya perfect terus tuh, tapi kok gak bisa sampe sebanyak kamu ya skornya?" Ujar Minhyun.
"Kamu mau nyoba main?" Seongwu menyodorkan ponsel Minhyun dan langsung diterima oleh Minhyun. Ia mengembalikan lagi ponsel Seongwu kepada yang punya. "Kalo bisa coba kalahin skorku."
"Lagu lain ya? Twice yang Likey." jawab Minhyun semangat. Seongwu hanya terkekeh kecil melihat kelakuan kekasihnya. "Oke deal!"
Minhyun mulai memainkan permainan. Air mukanya berubah menjadi lebih serius. Dia yang bisa bermain sambil ikut menyanyi, kini hanya membuka sedikit bibirnya tanda bahwa dirinya benar-benar serius dalam bermain.
"Kalo kamu bisa ngalahin skorku, aku beliin brush pen dua belas warna."
"Oke bos!" Minhyun menjawab penuh semangat masih dengan mata dan tangan yang fokus bermain.
.
.
.
"Kok skorku masih satu juta setengah sih? Kok gak bisa banyak kayak kamu?" Minhyun hampir saja ingin membanting ponselnya, tapi urung karena refleks cepat Seongwu untuk menahan tangan kekasihnya.
"Siniin hapenya. Aku mau main lagi." Minhyun memberikan ponselnya kepada Seongwu. Ia duduk lebih dekat dengan laki-laki itu untuk melihat bagaimana cara Seongwu bermain.
"Kalo skorku lebih bagus dari kamu gimana?" tantang Seongwu pada Minhyun yang mencondongkan tubuh ke arahnya.
"Ya gak usah beliin aku brush pen," jawab Minhyun enteng. "Gampang kan?"
"Penawaran yang kurang menarik." Minhyun menaikkan alisnya tanda sedang berpikir, "Traktir makan di kantin FK?"
"Itu sih kamu yang seneng soalnya bisa liat anak FK yang ganteng-ganteng. Lagian makanan FK hambar gak ada micinnya, aku gak suka."
"Halah. Biasanya juga makan di kantin FK buat ngeliatin temennya Jinyoung yang cantik itu kan? Siapa sih namanya?" Minhyun meletakkan jari telunjuk di dagu, "Siyeon kan?"
"Ehe," Seongwu nyengir. Ia kemudian menyolek dagu Minhyun yang kini mengalihkan pandangannya dari Seongwu. "Kamu tetep yang paling cantik kok," ujar Seongwu.
"Ih apasih! Udah sana main dulu. Kali skormu banyak, aku traktir di Upnormal," ujar Minhyun final.
"Tapi kamu udah gak marah kan?" Seongwu memastikan. Takut kalau-kalau kekasihnya ini masih ngambek kepadanya. Siapa yang bisa bantuin dia kerjakan tugas kalau bukan Minhyun?
"Ya kalo kamu mati karena sianida, itu aku yang ngeracunin."
Seongwu menekan tombol 'start' untuk memulai permainan. Minhyun semakin mendekat ke arah Seongwu untuk melihat jari tangan Seongwu yang lincah menekan-nekan layar ponsel.
Tulisan 'perfect' di layar tidak pernah hilang dan jumlah skor di pojok kiri layar terus bertambah banyak. Minhyun semakin heran, perasaan dirinya juga memainkan permainan menggunakan cara yang sama dengan Seongwu. Tapi kenapa skor yang didapatnya tak sebanyak yang didapatkan Seongwu?
Lagu selesai. Seongwu tersenyum puas dengan hasil skor yang nampak di layar. Minhyun di sampingnya mengerucutkan bibir kesal. Bahunya turun karena ia kecewa.
"Tuh lihat! Dua juta nih!" Seongwu menggeser ponsel Minhyun. Perempuan di sebelahnya lantas mengambilnya dan melihat hasil skor yang tertulis di sana.
"Kok bisa sih?" Ia bertanya dengan bingung. "Kamu ngecheat apa gimana?"
"Aku ini jago urusan main game. Lawan kamu sama Jinyoung mah..." Seongwu menjentikkan jari, "Kecil." Kemudian tertawa.
Minhyun kesal. Ia langsung menutup aplikasi permainan di ponselnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia mengambil tas dan beranjak dari gazebo. "Ngalah dong sama perempuan. Kamu itu laki-laki beneran apa bukan sih? Gak gentle."
Minhyun berjalan meninggalkan taman. Seongwu masih duduk di gazebo dan menatap punggung Minhyun yang mulai berjalan menjauh dengan tatapan bingung.
"Lah emang aku salah apa?" Seongwu bermonolog. "Perempuan emang susah dimengerti."
.
.
.
Note:
[1] JUTAP: Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan
.
Aku takutnya kalo up tiap hari pada bosen bacanya. Ada yang mulai bosen gakk????? Gak papa jujur aja hehehe. Atau lebih baik aku upnya dua hari sekali????
Oh ya btw, ada yang sadar gak atau ada yang tau latar cerita ini di kota mana hayoooo? Terus universitas tempat tokohnya kuliah di mana???? Yang bener aku kasih cinta.
