Hyunbin mengambil satu gorengan dari tas kresek di meja. Ia mengunyahnya, kemudian menelannya dengan cepat. Daniel tertawa ketika Hyunbin tersedak tempe karena makannya yang terburu-buru. Masih dengan tertawa, Daniel mengulurkan satu botol air mineral yang masih tersegel tutupnya kepada Hyunbin.

"Bukain dulu, goblok," umpat Hyunbin masih dengan terbatuk.

Daniel nyengir dan tertawa lagi. "Bukain dong. Gue gak punya tenaga habis ketawa." Ia mengulurkan botol air mineral kepada Jaehwan.

"Yaila, lur. Ga guna juga pean punya badan gede."

Hyunbin akhirnya bisa merasakan tenggorokannya bebas dari gorengan yang tadi sempat tersangkut setelah minum. Ia menutup botol air mineralnya, kemudian mengembalikannya lagi kepada Daniel.

"Lo tau gak, guys?"

"Ora," ujar Jaehwan.

"Belum selesai, botak!" Hyunbin berseru kesal. Jaehwan cengengesan. "Yodah, lanjot!"

"Senakal-nakalnya gue, gue masih berbakti pada kedua orang tua," kata Hyunbin. Dua orang temannya yang lain saling berpandangan, bingung dengan maksud ucapan laki-laki yang paling tinggi di antara mereka ini.

"Pean ngomong opo toh?"

"Masa nih ya, Bang Seongwu ngasih nama kontak emaknya di hape pake Bunda Macan?"

"Posthink aja, siapa tau emaknya Bang Seongwu galak kayak macan," ujar Daniel cuek sembari memakan satu tempe goreng.

"Lo itu kalo mau gosipin gue liat-liat keadaan juga kali. Orangnya ada di sini nih!"

Jaehwan, Daniel, dan Hyunbin kompak menoleh ke asal suara dan mendapati Seongwu yang tengah melipat tangan di depan dada menatap mereka.

"Eh, Bang Seongwu tambah cakep aja kayak Aliando."

.

.

DAYBREAK

Episode #7: Pet Names

.

.

"Jelasin ke gue, apa aja yang kalian omongin tadi." Seongwu mengambil satu tempe goreng dari dalam tas kresek kemudian memakannya sambil melihat ketiga juniornya satu persatu.

Jaehwan menyikut perut Hyunbin hingga si empunya mengaduh kesakitan dan balas menginjak kaki Jaehwan.

"Jangkrik! Loro!" Jaehwan memukul bibirnya ketika satu umpatan lolos dari sana.

"Loro? Dua maksud lo?" Seongwu bertanya bingung. Ia mengambil satu tempe lagi dan memakannya.

"Loro itu sakit artinya kalo dalam bahasa Jawa," Daniel menerangkan. "Kita tadi gak ngomongin apa-apa kok, Bang. Gue aja gak paham sama apa yang diucapin Hyunbin tadi," lanjutnya.

"Nah, ya itu Bang!"

"Gak percaya." Seongwu memicingkan mata. Ia menatap Hyunbin dan Jaehwan bergantian. "Gue mantan calon mahasiswa Psikologi ya. Gue ngerti kalo lo lagi bohong."

Hyunbin mendengus, "Gak ada hubungannya ya."

"Iya kayak Jaehwan sama Sungwoon." Jaehwan mendelik ke arah Daniel. Sedangkan si yang berbadan paling tambun di antara mereka meringis kecil menunjukkan deretan giginya.

"Gini lo, Bang. Hyunbin tadi bilang kalo lo nyimpen kontak emak lo pake nama Bunda Macan." Daniel menjelaskan karena dua temannya yang lain tidak ada yang mau buka mulut untuk berbicara yang sebenarnya.

Seongwu langsung menatap tajam Hyunbin. "Lo kok tau?"

Hyunbin lantas berdiri sambil menunjuk-nunjuk Seongwu. "Tuh kan bener!" Ia berteriak, membuat seisi kantin menatap meja mereka.

"Bukan gitu maksud gue!" Seongwu ikut berdiri. "Itu bukan kontak Mamah gue ya!"

Jaehwan menarik tangan Hyunbin untuk kembali duduk, sedangkan Daniel mendorong bahu Seongwu untuk menyuruhnya duduk juga. "Kalian gak malu apa teriak-teriak diliatin seisi kantin." Jaehwan berujar.

"Itu bukan kontak Mamah gue ya! Dasar sotoy lo!" Seongwu meledek. Hyunbin yang tidak terima langsung membalas, "Ya mana gue tau! Orang namanya ada 'Bunda'nya. Gue kira emak lo."

Daniel dan Jaehwan yang masih waras di sana menenangkan dua orang yang bersitegang karena permasalahan sepele menikung tidak penting tersebut. "Yaudah, Bang, jelasin aja biar gak ada salah paham di antara kita," ucap Daniel.

"Itu kontaknya Minhyun."

Hyunbin melongo.

Jaehwan membuka mulut lebar dan berujar kaget, "HAH?!"

Daniel biasa saja.

Sedetik kemudian, tiga orang mahasiswa semester empat itu tertawa terbahak-bahak. Jaehwan bahkan sampai mengeluarkan air mata, saking lucunya menurut dia.

"Kok bisa macan sih, Ya Allah. Jaehwan ketawa gak bisa berhenti ini." Laki-laki asli Malang itu memegangi perutnya yang nyeri karena tak bisa berhenti tertawa.

Daniel yang pada dasarnya suka tertawa, kini tertawa hingga matanya menyipit dan tidak bisa membuka lebar lagi.

"Apanya yang lucu sih?" Seongwu bertanya heran.

"Masa Kak Minhyun disamain sama macan? Orang lemah lembut kayak gitu mah cocoknya kelinci bukan macan," terang Hyunbin. Dua temannya mengangguki ucapannya.

"Minhyun galak kayak gitu dikata lemah lembut. Kalian aja yang belum tau gimana aslinya," balas Seongwu. "Dia kayak macan PMS."

Daniel dan Jaehwan mendadak berhenti tertawa. Dengan mata, Daniel berusaha memberi kode kepada Seongwu untuk menoleh ke belakangnya. Tapi dasar Seongwu yang kurang peka, ia malah lanjut mengoceh tentang betapa galaknya Minhyun.

"Oh, jadi aku galak kayak macan PMS ya?"

Karma itu nyata.

.

.

.

"Jinyoung yang kasih nama bukan aku."

Seongwu mempercepat langkahnya agar bisa berjalan sejajar dengan Minhyun yang melangkah lebih dulu di depannya. "Dengerin aku dulu, Yang."

Ia berusaha meraih pergelangan tangan Minhyun, tapi si perempuan dengan cepat menepisnya. Seorang Seongwu mana pernah kehabisan akal. Meskipun Minhyun berjalan lebih dulu, Seongwu dengan langkah lebar-lebar berhasil mendahuluinya dan sekarang ia berhenti di depan kekasihnya sembari merentangkan tangan.

"Bentar. Dengerin aku ngomong dulu." Ucap Seongwu dengan tegas.

Minhyun terkesiap. Ia mendongakkan kepala dan pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus. Jujur, Minhyun merasa terintimidasi dengan tatapan tegas milik laki-laki kelahiran Agustus tersebut. Baru pertama kali ini Minhyun melihat Seongwu dalam mode seriusnya selain saat presentasi.

"Kamu marah gara-gara aku nyimpen kontak kamu kayak gitu?" Tangan Seongwu mencengkeram erat pergelangan tangan Minhyun yang memberontak berusaha melepaskan. "Kenapa kamu harus marah?"

Minhyun diam.

Seongwu yang melihat mata kekasihnya mulai berkaca-kaca, langsung menarik Minhyun ke dalam dekapannya. Minhyun bergerak-gerak dalam dekapan Seongwu, minta untuk dilepaskan.

"Kamu jangan nangis dong. Kan aku gak ngapa-ngapain." Seongwu mengelus kepala si perempuan yang masih berada dalam dekapannya. "Aku cuma tanya aja kenapa kamu marah."

Minhyun mendongakkan kepala. Ia menatap Seongwu dengan kedua matanya yang sembab. "Aku nyimpen kontak kamu pake nama Pangeran. Bagus banget lagi. Kamu kenapa nyimpennya pake nama gituan? Aku ga suka."

Minhyun mendekap Seongwu lebih erat. Ia menenggelamkan wajahnya ke dada Seongwu dan menumpahkan air matanya di sana. Seongwu menahan untuk tidak mencubit pipi Minhyun karena gemas.

"Ya udah, karena aku orangnya baik hati, kamu mau diganti nama jadi gimana?" Seongwu masih mengelus kepala Minhyun dengan posisi berpelukan di area parkiran.

"Lepasin dulu. Aku gak bisa napas." Seongwu mengendurkan pelukannya dan Minhyun langsung bernapas lega. "Mana hape kamu?"

Laki-laki itu merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya dari sana. Ia dengan ragu memberikan ponselnya kepada Minhyun. Sang perempuan dengan semangat merebut ponsel Seongwu dari tangan si empunya. Setelag beberapa menit, ia mengembalikan ponselnya ke Seongwu lagi.

"Ayo anterin aku pulang. Nanti kalo kamu udah sampe rumah, aku telpon biar kamu tau aku ganti namanya jadi apa."

.

.

.

.

.

.

.

Panggilan masuk

Cinderella

Jawab 》》》》《《《《 Tolak

.

.

.

.

Ong = pangeran

Minhyun = cinderella

Aku = kudanya

Hahaha ga ding

ini sebenernya kalo di wattpad ada gambar screenshotnya hehe kalo kepo sama gambarnya, tungguin aja di wattpad kkkk

buat yg kemaren jawab UGM, selamat anda mendapat cinta dari saya