Jonghyun terlonjak kaget dalam mimpinya hingga membuatnya terbangun. Ia mengucek mata, kemudian menoleh ke arah pintu basecamp yang tadi dibuka dengan tidak sabaran. Seongwu berdiri di sana dengan napas yang terengah-engah. Laki-laki kelahiran Agustus itu mengelap peluh di pelipisnya dengan lengan jas almamater. "Minhyun mana?" Ia bertanya.
"Lah?" Jonghyun menatapnya kebingungan. "Kalian kan satu kelas. Biasanya juga barengan kek upin ipin."
Seongwu melepas sepatu dan meletakkannya di rak. "Dia tadi keluar duluan. Gue kira ke sini." Ia kini duduk pada spasi kosong di samping Jonghyun.
Seongwu mengambil ponselnya dari saku almamater, berusaha menghubungi Minhyun. Tak berapa lama, ia menjauhkan ponsel dari telinganya, dan mendesah kesal ketika ponsel kekasihnya tidak dapat dihubungi.
"Minhyun gak bilang apa-apa tadi ke elo?" Seongwu mengalihkan pandangan dari ponsel. Jonghyun menjawabnya dengan gelengan kepala. "Gak lah. Emang gue emaknya?"
.
.
DAYBREAK
Episode #8: Geeking Out Over Something
.
.
Seongwu bernapas lega ketika sebuah panggilan dari Minhyun masuk ke ponselnya. Ia buru-buru menepi dan duduk pada kursi taman untuk mengangkat panggilan.
"Assalamualaikum Seongwu." Minhyun berujar dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam. Ada apa?"
Minhyun di seberang tertawa kecil, "Maaf ya aku tadi habis kelas kabur gitu aja. Aku habis pergi sama Woojin. Hapeku lowbat, gak bisa ngabarin." Di akhir kalimatnya, Minhyun tertawa lagi.
"Kirain kamu ngilang dibawa penjaga gedung fakultas," jawab Seongwu sedikit kesal. Namun, ia lega sekali ketika mendengar suara tertawa Minhyun barusan.
"Ya gak bakal lah." Minhyun tertawa lagi. "Kamu mau main ke rumah?" Si perempuan bertanya.
Seongwu mengernyit, tapi ia yakin Minhyun tak bisa melihat raut wajahnya. "Ngapain?"
"Kalo mau ke rumah sekalian dong, nitip pasta gigi soalnya aku mager mau keluar."
"Heleh dasar."
Setelah menutup panggilan dan menyimpan ponsel di saku almamater, Seongwu melangkahkan kakinya dengan ringan menuju parkiran.
.
.
"Masuk, Bang." Woojin membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Seongwu untuk masuk setelah melepas sepatu. "Kak Minhyun-nya lagi sibuk bikin Transformers," lanjut Woojin ketika mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang keluarga.
Di ruang keluarga, Seongwu bisa melihat seorang perempuan dalam balutan kaos oblong warna hitam serta celana training abu-abu sedang serius membaca lembaran kertas panduan. Seongwu mendekati Minhyun dan mengagetkan perempuan itu dari belakang. Entah karena terlalu serius atau apa, Minhyun bahkan tidak terkejut oleh kehadiran Seongwu. Ia hanya menolehkan kepala untuk melihat Seongwu sebentar sebelum lanjut membaca lembaran panduannya lagi.
"Serius amat, Yang. Aku dicuekin," ucap Seongwu. Minhyun tidak bergeming. Perempuan itu sekarang makin asyik mengatur balok-balok Legonya. Woojin tengkurap di atas karpet, membantu Minhyun untuk menyusun balok-balok Legonya.
"Oh iya, pasta giginya mana?" Minhyun akhirnya menyadari kehadiran laki-laki itu di sana. Seongwu tersenyum sambil menyerahkan bungkusan plastik berisi pasta gigi. Minhyun menerimanya, kemudian memberikannya pada Woojin. "Dek, ini taruh dulu di kamar mandi," suruhnya. Woojin lantas bangun dan bergegas lari ke kamar mandi setelah menerima bungkusan plastik tersebut dari Minhyun.
"Kamu bikin apa sih, Yang?" Tanya Seongwu sekali lagi. Dalam hatinya ia berdoa agar Minhyun tidak mengacuhkannya lagi.
"Oh ini, tadi aku baru beli Lego sama Woojin." Perempuan itu menunjuk kotak lego di dekat kakinya menggunakan dagu karena tangannya sekarang penuh balok-balok permainan.
Seongwu mengangguk. "Kok tumben?"
"Udah lama sih sebenernya. Cuma baru kesampean beli yang ini sekarang," jawab Minhyun. Ia bahkan menjawab Seongwu tanpa memandang si lawan bicara. Seongwu berasa ngobrol sama tembok.
"Jadi kamu nabung selama ini tuh gara-gara mau beli ini?"
Minhyun mengangguk dengan semangat. Seongwu sudah tidak merasa bicara dengan tembok lagi karena Minhyun kini menatapnya sembari tersenyum lebar.
"Iya, Yang. Aku dari dulu pengen banget yang ini dan alhamdulillah sekarang bisa beli." Ia menjawab dengan gembira. Minhyun tak berhenti tersenyum ketika membahas tentang kesukaannya tersebut, membuat Seongwu gemas ingin menggigit pipi tembam milik si perempuan.
.
.
Minhyun membagi fokusnya antara mengobrol dengan Seongwu, membaca panduan, dan membantu Woojin menyusun Lego. Tetap saja Seongwu masih merasa dinomor tigakan karena Minhyun lebih banyak membantu Woojin daripada berbicara dengannya.
Ia hanya menjawab ya, tidak, dan bisa jadi ketika Seongwu menanyakan sesuatu atau mengatakan sesuatu. Seongwu kesal, tentu saja. Siapa yang tidak cemburu ketika pacarmu menomorsatukan benda mati ketimbang makhluk tampan seperti dirinya ini?
Rasanya Seongwu ingin mengacak-acak susunan Lego yang sudah Minhyun dan Woojin buat, tapi ia tahu bahwa hal tersebut bukan suatu rencana yang tepat. Menurutnya, ia bahkan lebih menarik ketimbang makhluk balok bernama Lego tersebut. Bahkan lebih tampan. Tapi kenapa Minhyun tidak tertarik?
Woojin sedang ke kamar mandi karena perutnya sakit sehabis makan seblak pedas tadi pagi. Tinggal Minhyun sendiri dalam posisi tengkurap sambil asyik menyusun Legonya.
Seongwu ikut tengkurap di sebelah Minhyun, mengamati tingkah laku dan raut serius kekasihnya itu dari jarak yang lebih dekat. Ia menusuk-nusukkan telunjuknya ke pipi tembam Minhyun. Perempuan dua puluh tahun itu awalnya tidak terganggu. Namun, ketika frekuensi Seongwu bermain dengan pipinya semakin banyak, ia langsung memalingkan wajah dan menatap Seongwu tajam.
Bukannya takut, Seongwu justru terkikik geli melihat ekspresi Minhyun yang menurutnya sangat lucu. "Jangan ganggu dong, Yang. Lagi serius ini," omel Minhyun. Seongwu mengangguk saja mengiyakan.
Sekali lagi. Laki-laki itu kembali mengulangi hal yang sama. Dengan cepat Minhyun langsung menepis tangan Seongwu dari pipinya. "Diem dulu dong ganteng."
"Ya habisnya aku dicuekin. Kita yang pacaran, tapi kenapa aku yang dianggurin. Aku sukanya duren bukan anggur." Seongwu mengerucutkan bibir kesal. Minhyun lantas menepuk bibir kekasihnya sembari berujar, "Geli. Jangan gituuu."
"Aku jangan dicuekin lagi." Seongwu berujar masih dengan nada merengek, membuat Minhyun merinding geli sekali lagi.
"Alah kamu kalo main Mobile Legends aku juga dicuekin," balas Minhyun. Seongwu merasa seperti mendapatkan karma.
"Tapi aku mainnya kan gak lama, Yang." Seongwu berujar membela diri. "Kamu kan lama, banyak lagi legonya," lanjutnya.
"Ssst! Udah diem dulu." Minhyun menaruh telunjuknya ke bibir Seongwu, menyuruhnya untuk berhenti bicara. "Aku mau selesaiin Optimus Primeku."
Seongwu menghela napas lelah.
"Kalo ngantuk tidur aja dulu. Ntar aku bangunin," ucap Minhyun.
"Mending aku tidur di kosan kalo gitu. Daripada di sini dicuekin sama pacar." Seongwu berusaha menyindir Minhyun sembari melirik apakah si perempuan memalingkan wajah ke arahnya karena sedari tadi Minhyun fokus sekali tanpa memandang dirinya.
"Ya udah sana pulang aja. Kan aku udah dapet pasta giginya."
Seongwu lantas menyahuti, "Susah emang punya pacar maniak Lego sama Transformers."
.
.
.
.
Maaf banget kemaren gak update. Ya gini sih akibat gak pernah olahraga. Pulang sekolah langsung tepar gara2 paginya ada jam olahraga. Pulang les habis magrib, lanjut mandi, terus ketiduran. Pules banget sampe subuh hehehe.
