Tidak ada yang membahagiakan untuk Minhyun selain Seongwu dan sidang skripsi. Satu langkah lagi dan Minhyun akan wisuda. Bisa segera membahagiakan orang tua dan mendapatkan penghasilan tetap hasil kerja.
"Doain Minhyun ya, Bun biar cepet lulus," ucap Minhyun ketika selesai mencium tangan sang ibu. Ibunya mengusap kepala anaknya sembari menjawab, "Bunda doainnya semoga kamu cepet dapet jodoh dan nikah. Biar kamu gak manja terus sama Bunda."
Minhyun merengut lucu dan Bunda tersenyum. "Udah sana berangkat. Nanti telat ke kampus, telat juga wisudanya."
Jinyoung sudah siap dengan Vespa putihnya di depan pagar rumah. Yang lebih muda mengulurkan helm merah kepada yang lebih tua dengan senyum manis yang merekah.
"Ngapain kamu senyum-senyum gitu?" tanya Minhyun penuh selidik. Jinyoung masih tersenyum sampai Minhyun selesai memasang helmnya.
"Aku kan ikutan seneng liat kak Minhyun bentar lagi lulus," jawabnya.
"Aaaamiiin."
.
.
.
DAYBREAK
Episode #9: Buying Flowers For The Other
.
.
.
"Makan dulu rotinya, Kak." Woojin mengoleskan selai coklat pada rotinya. Setelahnya, ia menumpuk satu lembar roti lagi di atasnya. "Tegang amat mukanya. Bang Jonghyun aja santai woles gitu." Ia menggigit pinggiran rotinya, kemudian mengunyahnya dengan cepat.
"Aku baru ini loh liat kak Minhyun full make-up. Biasanya nih ya, bedak aja gak pake. Terus berangkat ngampus mukanya gak ada bedanya sama gak mandi," celetuk Woojin disela-sela kegiatan mengunyah rotinya. Jinyoung yang juga ada di meja makan dan sedang makan sereal, tertawa hingga tersedak susu.
"Sabar, sabar. Orang sabar rejekinya lancar." Minhyun hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan dua adiknya yang menertawakan dirinya. Ia langsung menyambar roti yang sudah dioles selai sebelumnya dan langsung melahapnya.
Ketika rotinya habis setengah, ia baru sadar bahwa wajahnya kini sudah dimake-up dan menggunakan lipstik. "Aduh lupa kalo pake lipstik. Entar hilang lipstiknya," gumamnya sembari memelankan tempo makannya.
"Gak bakal nempel diroti lipstiknya. Ketauan kalo gak pernah pake lipstik," sahut Jinyoung. Lagi-lagi Jinyoung dan Woojin tertawa bersama.
"Ya Allah paringi sabar."
Jinyoung dan Woojin yang asyik tertawa, sedetik kemudian berhenti karena Jonghyun memukul kedua laki-laki muda itu dengan gulungan koran. Woojin menoleh dan mendapati Jonghyun memasang muka garang ke arahnya. "Ampun, Bang."
"Ayo buruan." Jonghyun yang sudah siap dengan kemeja biru laut lengkap dengan dasi serta celana kain hitamnya menyuruh Minhyun untuk keluar dan berangkat ke tempat wisuda.
Minhyun dengan hati-hati berdiri dari duduknya agar kebayanya tidak berantakan. Jinyoung yang melihat kelakuan berlebihan kakaknya itu kemudian mencibir, "Rempong banget dasar cewek."
Si perempuan yang sedang memasang sepatu hak tingginya itu rasanya ingin mengumpati adiknya, tapi ia urungkan karena tidak ingin mengacaukan hari besarnya pagi ini. "Ya Allah, semoga Jinyoung sama Woojin cepat diberi hidayah."
.
.
.
"Kentaaaa!" Minhyun memekik ketika melihat Kenta berdiri tak jauh dari dirinya. Perempuan itu segera berlari ketika Kenta menoleh dan melambaikan tangan ke arahnya.
"Minhyun cantik banget pake make up gini." Kenta tersenyum lebar mengamati penampilan baru sahabatnya dari atas kepala sampai ujung kaki. Minhyun yang dipuji seperti itu hanya tersenyum malu dan mendekap Kenta ke dalam pelukannya.
"Aku seneng banget kita bisa wisuda bareng-bareng." Ia berujar sambil tetap memeluk Kenta. Kenta sendiri balas memeluk Minhyun dan hampir saja meneteskan air mata karena terlalu senang.
"Eh udah dong, jangan gitu. Aku jadi sedih. Nanti make-upku luntur nih."
Minhyun terkikik geli dan melepaskan pelukannya. Ia dan Kenta kemudian mengambil tempat duduk untuk mengikuti prosesi wisuda selanjutnya.
Tempat duduk Minhyun dan Kenta berada di depan Jonghyun, sehingga mereka bisa mengobrol sebelum acara wisuda dimulai. Jonghyun dan Kenta sedang asik bercakap berdua, sedangkan Minhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan wisuda. Mata tajamnya mengamati satu persatu wajah teman-teman yang berada di sekelilingnya, barangkali menemukan sosok laki-laki yang hampir dua tahun ini berbagi kebahagiaan bersamanya.
Seongwu belum terlihat oleh mata rubah Minhyun. Perempuan itu sampai tidak fokus mendengarkan ucapan Kenta akibat terlalu serius mencari sosok laki-laki yang selalu cengengesan 24/7.
"Nyari siapa? Kok dari tadi celingukan mulu?" Kenta menepuk bahu Minhyun ketika dirasa Minhyun tidak mendengarkan apa yang diucapannya. Perempuan kelahiran Agustus itu langsung menoleh ke Kenta dan tertawa hampa. "Sori, sori, gak fokus. Kenapa?"
Kenta mendesah, "Pasti nyariin Seongwu ya?" Tebaknya. Minhyun langsung mengangguk antusias. "Kok tau sih?"
Perempuan berdarah Jepang-Indonesia itu mendengus kesal. "Kita ini temenan udah lama, ya aku hapal lah gimana kamu," ujarnya disambut ringisan dari Minhyun.
"Seongwu ada di sana tuh, di sampingnya Youngmin." Kenta menunjuk deretan kursi di arah kanannya yang mana terdapat segerombolan anak-anak yang pagi ini siap di wisuda. Di samping Youngmin-si perempuan bergigi besar-besar teman satu kelas Minhyun, ada Seongwu yang duduk anteng di sana.
"Kirain dia gak bakal dateng wisuda. Soalnya Seongwu otaknya agak kurang bener. Takutnya tiba-tiba punya pemikiran gak mau dateng wisuda," ucap Minhyun lega. "Otaknya belum upgrade dari pentium ya gitu," balas Kenta.
.
.
.
Bukan, Minhyun bukan mahasiswi berotak cemerlang seperti Youngmin. Minhyun juga tidak bodoh-bodoh sekali seperti Seongwu atau Kenta. Nilainya rata-rata dan Minhyun tetap bersyukur akan itu. Jadi dia sudah tidak kaget lagi ketika Youngmin diumumkan sebagai peraih IPK terbaik di angkatannya.
Setelah memberikan ucapan selamat kepada Youngmin dan foto bersama sebagai kenang-kenangan bersama Kenta serta teman satu Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Minhyun melangkah menuju kedua orang tuanya yang berdiri tak jauh darinya. Ia berlari dan langsung memberikan pelukan kepada keduanya.
Bundanya mengelus dan memberikan tepukan sayang di punggungnya, sedang ayahnya mengelus rambutnya yang sudah tidak tertutupi topi toga. "Bunda maaf ya, Minhyun gak bisa dapet IPK tertinggi," ujarnya lirih dalam dekapan ibunya.
"Bunda gak masalah mau kamu dapet yang tertinggi atau yang terendah, pokoknya Minhyun tetep anak Bunda yang paling hebat," jawab Bunda. "Jinyoung juga," lanjut beliau.
Setelah melepas pelukan dengan sang Ibu, Minhyun ganti memeluk ayahnya. Ia langsung menyamankan diri dalam dekapan hangat milik pahlawannya. "Ayah makasih ya udah dukung Kakak, semua keputusan yang Kakak ambil waktu lulus SMA dulu."
Ayahnya mengelus rambut sang putri dengan lembut. "Ayah percaya sama Kakak karena Ayah yakin Kakak orangnya bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Ayah yang harusnya terima kasih karena Kakak menjadi panutan yang baik buat Jinyoung maupun Woojin."
.
.
Setelah puas berfoto bersama teman-teman seperjuangannya, termasuk Jonghyun, Minhyun kembali mencari keberadaan Seongwu yang hilang lagi setelah sebelumnya terlihat kumpul bersama anak-anak teknik lain. Minhyun mendengus karena tak belum bisa menemukan keberadaan Seongwu di luar gedung wisuda. Ia hampir putus asa dan akan kembali ke parkiran untuk pulang bersama orang tuanya, ketika sepasang tangan besar menutup matanya.
"Siapa?" Minhyun bertanya, tapi pemilik tangan enggan menjawabnya.
Minhyun mengendus aroma parfum yang sepertinya milik si pelaku penutup matanya ini. Ia seperti mengenali aroma vanila khas parfum laki-laki ini.
"Seongwu ya?" Ia menebak, lalu si pemilik tangan langsung melepaskan tangannya dari mata Minhyun dan melesat ke hadapan sang perempuan. "Gak asik. Gampang banget ketebaknya."
Seongwu masih mengenakan pakaian toganya, sedangkan Minhyun hanya memakai kebaya warna birunya. Ia melihat penampilan laki-laki di hadapannya ini yang terlihat lebih rapi dari biasanya.
"Kamu kok ganteng hari ini?" goda Minhyun. Seongwu langsung mencibir, "Tiap hari juga ganteng kali."
Seongwu kemudian menggandeng tangan Minhyun untuk duduk pada salah satu kursi taman. "Duduk dulu nanti kamu capek berdiri terus soalnya pake hak tinggi," ucap Seongwu.
"Oh ya, bawa hape gak, Yang? Hapeku di tas yang dibawa sama Bunda. Mau ngabarin Bunda bentar."
Seongwu merogoh saku kemeja dan memberikan ponselnya kepada Minhyun untuk mengabari ibunya.
"Halo Bunda? Bunda sama Ayah pulang duluan aja nanti Kakak pulangnya sama Seongwu."
"Iya, assalamualaikum."
Minhyun mengulurkan kembali ponselnya kepada Seongwu. Seongwu menerimanya sembari menjawab, "Emang aku bilang mau nganterin kamu pulang?"
"Oh yaudah kalo gitu aku naik gojek aja," balas Minhyun.
"Eh jangan nanti kamu diculik abang gojeknya karena kamu cantik." Seongwu nyengir dan Minhyun memasang wajah malasnya setiap Seongwu mulai menggombal. "Kalo gitu anterin pulang kalo gak mau aku diculik abang gojek."
Seongwu menggaruk rambutnya tanda sedang berpikir. "Tapi aku bawa sepeda motor, Yang."
"Gak ada hubungannya kali."
"Kamu mau emangnya naik sepeda motor pake kebaya gitu? Gak ribet?" Seongwu bertanya memastikan.
"Why not?" Minhyun tersenyum kemudian. "As long as sama kamu aku gak masalah."
Seongwu tersenyum malu-malu sembari memukul-mukul kecil lengan Minhyun. "Jangan gitu, Yang. Aku ambyar nih."
Minhyun mendorong badan bongsor Seongwu yang kini bergelayut manja di lengannya. "Ya Allah, ini orang satu kenapa sih?" Gumam Minhyun. Seongwu kemudian melepaskan Minhyun dan menegakkan badan menatap si perempuan.
"Aku mau ngomong serius sama kamu," ucapnya tiba-tiba. Tidak ada lagi wajah malu tapi malu-maluin milik si laki-laki yang baru ditampakkannya tadi. Raut Seongwu berubah 180 derajat lebih serius ketimbang biasanya.
"Besok aku mau balik ke Jakarta."
Minhyun mendadak diam. Ia menganga dan tak tahu harus memberi respon seperti apa.
"Aku mau habisin waktu sama keluarga di sana," lanjutnya. Air wajah Seongwu sedikit berubah lebih lembut ketimbang tadi.
"Kita LDR dulu sebentar gak papa kan?" Ia meraih tangan Minhyun dan menggenggamnya erat. "Aku usahain buat secepatnya dapet kerja supaya cepet ketemu kamunya juga."
Setitik air bening turun dari pelupuk mata Minhyun. Seongwu yang kaget langsung menangkup pipi Minhyun dan mengusap air mata yang turun dari sana. "Jangan nangis, Yang."
"Aku gak nangis, cuma aku gak tau harus ngomong apa."
"Aku bakal ngelamar pekerjaan di Jogja kok, biar gampang kalo mau ketemu kamu. Aku pulang ke Jakarta cuma bentar kok, Yang. Mau ketemu sama saudara-saudara dulu sebelum merantau lagi."
Minhyun mengangguk dan semakin menggenggam erat tangan Seongwu. "Iya gapapa. Aku gak keberatan. Itu kan hak kamu, aku gak pantes buat ngelarang selagi kita belum ada ikatan resmi."
"Belum ada, tapi akan ada kan ya?" Seongwu menggoda Minhyun hingga pipi si perempuan semakin memerah.
"Kamu jangan nangis gitu dong, nanti liburanku di Jakarta gak tenang." Seongwu mengusap lagi air mata Minhyun yang mengalir di pipinya. "Kamu tenang aja. Aku bakal balik lagi ke Jogja, soalnya pusat gravitasiku kan ada di sini."
Minhyun memukul bahu Seongwu pelan dan si laki-laki tertawa puas. "Kamu kok gak ada romantis-romantisnya sih, heran. Gombal mulu kerjaannya."
"Ya Allah." Seongwu menepuk jidatnya. "Untung kamu ngingetin aku soal romantis-romantisan. Ayo ikut aku ke parkiran, aku punya sesuatu buat kamu."
Seongwu dengan semangat '45 menarik Minhyun yang kesusahan berjalan karena memakai kebaya dan sepatu hak tinggi menuju tempat parkir sepeda motor. Sesampainya di sana, ia mengambil kresek hitam yang tergantung di sepeda motornya. Laki-laki itu membuka bungkusnya dan mengeluarkan isinya.
Satu buket bunga anyelir putih dan aster merah yang dirangkai cantik, Seongwu arahkan ke hadapan Minhyun. Si perempuan mendongak menuntut penjelasan kepada si laki-laki. "Udah terima aja, ini buat kamu."
Minhyun menerima buket bunga pemberian Seongwu dan menatap Seongwu penuh pertanyaan. "Aku gak suka bunga ginian tau gak? Sukanya bunga bank," canda Minhyun.
Seongwu melotot tak percaya dengan penuturan Minhyun barusan. "Ya Allah, kirain kamu gak materialistis kayak cewek-cewek lain," gumam Seongwu dengan sedih.
"Kirain kamu bakal romantis kayak cowok-cowok lain," balas Minhyun. Perempuan itu menyunggingkan senyum melihat raut kecewa Seongwu yang lucu. "Maafin kalo aku gak romantis kayak oppa kamu di drama."
"Maafin aku juga kalo aku matre gak kayak mantan kamu sebelumnya."
"Mantan aku siapa?" Seongwu memekik tak terima. Minhyun justru terkikik geli karenanya. "Aku cuma bercanda. Kamu kok baperan banget sih."
"Jangan gitu dong, Yang. Kan aku jadi sedih kalo kamu bilang aku gak romantis."
"Ya kamu emang gak romantis, tapi aku sayangnya sama kamu aja. Gimana dong?"
Minhyun tersenyum lembut ke arah Seongwu, membuat laki-laki yang hobi nyengir itu tiba-tiba mau pingsan. "Mau kamu matre atau gak aku juga tetep sayang sama kamu," jawab Seongwu penuh percaya diri. Minhyun lagi-lagi tersipu karenanya.
"Kalo udah tau aku matre, kamu harus kerja keras dong biar punya penghasilan banyak dan bahagiain aku."
"Udah kodratnya laki-laki buat kerja keras. Itu kewajiban, harga mati!" Seongwu menjawab dengan lantang dan tersenyum tulus setelahnya.
Ia menarik Minhyun ke dalam pelukannya dan berujar lembut ke telinga Minhyun, "Tokoh utama hari ini adalah aku kan, Yang?"
"Bukan, tapi Kang Daniel Wanna One."
.
.
.
.
.
.
Huhu aku ga bisa bikin couple gesrek ini lovey-dovey an. Gak jagoooo huhuhu soalnya gak pernah punya pacar /jomblo dari lahir ya gini nih
Aku mau konfirmasi sedikit di cerita ini biar gak bingung. Jadi, Minhyun dan Jonghyun itu sepupuan. Jinyoung adeknya Minhyun dan Woojin adeknya Jonghyun. Udah gitu aja. Eh ada lagi, Youngmin sama Kenta itu temennya Minhyun dan Seongwu, sama-sama anak arsi juga.
Aku ngetik ini setelah ngerjakan tugas esai 1000 kata. Kenapa susah sekali menulis esai padahal cuma 1000 kata, sedangkan nulis ini sampe 2000 kata aku biasa aja.
