Seongwu itu misterius. Dua tahun menjalin hubungan dengannya, tak lantas membuat Minhyun hapal dengan sifat Seongwu luar dalam.
Seongwu tidak mudah ditebak. Minhyun kerap kali dibuat bingung dengan jalan pikirannya. Kemarin dia bilang menyesal setelah makan seblak dengan sambal dua sendok dan tidak akan memakannya lagi, tapi hari ini dia makan seblak dengan sambal tiga sendok dan sakit perut. Seongwu bilang tidak war Mobile Legends lagi karena mau fokus belajar, tapi besok paginya kantung matanya semakin menghitam karena war sampai subuh.
Seongwu tidak suka makan sawi dan selalu menyingkirkannya ketika makan mie ayam bersama Minhyun. Seongwu lebih suka telur dadar milik nasi padang ketimbang daging rendang. Seongwu itu lebay, suka bereaksi berlebihan. Seongwu itu suka buat malu. Kalau Minhyun sedang jalan berdua dengannya, ia akan bercerita panjang lebar dengan suara keras dan jangan lupa dengan ekspresinya yang berlebihan sampai jadi pusat perhatian orang.
Seongwu peringkat dua yang paling berisik setelah Jaehwan. Dia suka sekali bersenandung ketika sedang jalan di koridor sembari menggunakan earphonenya dengan suara musik yang keras. Dia sampai tidak sadar menyenandungkan lagunya keras-keras dan membuat yang mendengarkannya terganggu karena suara sumbang Seongwu. Seongwu paling suka dengan lagu-lagu dangdut dan hampir seluruh playlistnya berisikan lagu dangdut mulai zaman Rhoma Irama sampai Nella Kharisma.
Seongwu tidak romantis. Dia bilang sendirinya adalah tipe yang romantis, tapi untuk Minhyun romantisnya Seongwu itu memalukan. Pada intinya, semua yang dilakukan Seongwu itu memalukan. Apalagi kalau sudah main bersama Jaehwan, Hyunbin, dan Daniel. Memalukannya dipangkat empat.
Dari semua kebiasaan Seongwu yang membuat Minhyun menghela napas panjang, satu yang benar-benar Minhyun tidak suka. Kebiasaan Seongwu ketika sedang sedih. Kalau bisa, Minhyun tidak ingin melihatnya lagi.
.
.
DAYBREAK
Episode #11: A Death of Someone Close
.
.
"Kenapa?" Kenta bertanya setelah melihat Minhyun terus-terusan menghela napas sembari menatap ponselnya.
Minhyun menggeleng sebagai jawaban. "Gak apa," ia menghela napas lagi.
Kenta akan melanjutkan kegiatannya untuk membaca buku, tapi suara napas Minhyun di sisinya benar-benar membuatnya terganggu. "Cerita aja kalo ada masalah. Aku gak bisa fokus baca nih kalo kamu gitu terus," jelasnya. Ia melipat sedikit ujung novel yang tadi dibacanya, kemudian menyimpan buku itu di atas meja.
"Kangen sama Seongwu?" Tebak Kenta. "Dia bolos lagi mungkin," lanjutnya. Ia kini menopang dagu di atas meja dan mengawasi Minhyun.
"Biasanya kalo Seongwu bolos itu bilang ke aku. Tapi ini sampe sekarang kok dia gak chat atau telepon gitu. Aku kan takut ada apa-apa sama dia."
"Posthink aja, siapa tau Seongwu gak ada kuota," Kenta mencoba menenangkan sahabatnya yang terlihat uring-uringan semenjak mereka duduk di bangku perpustakaan. "Atau kamu coba tanya sama temen-temen kosnya, barangkali mereka tau Seongwu di mana."
"Aku coba line Jaehwan tadi, tapi belum dapet balesan. Mungkin dia lagi ada kelas," jawab Minhyun. Perempuan itu meletakkan kepalanya di meja dan mendengus lagi.
"Tanya Haknyeon? Dia kan juga satu kosan sama Seongwu."
Minhyun menegakkan kepala ketika mendengar nama Haknyeon disebutkan oleh Kenta. Perempuan berdarah campuran itu menaikkan alisnya, "Haknyeon."
"Oh iya Haknyeon!" Ia menepuk jidatnya dan meringis. Setelahnya, ia segera membuka aplikasi chatting dan mengetikkan beberapa kalimat untuk dikirimkan ke adik tingkat teman Woojin tersebut.
"Bentar ya, Ken." Minhyun berdiri dan menyambar tas punggungnya. "Mau ngapelin Haknyeon dulu."
.
.
.
"Gak tau, Mbak. Tadi pagi pas aku mau nebeng, eh motornya di garasi udah gak ada. Aku kira udah berangkat." Haknyeon menjawab ketika mereka sudah menepi di pinggiran jogging track Fakultas Teknik.
Haknyeon tadi sedang jogging sebenarnya dan Minhyun yang kebetulan melewati area jogging track karena sedang menuju Teknik Sipil, menemukan si target di sana.
"Sama sekali gak ada yang liat dia?" Tanya Minhyun lagi.
"Bang Seongwu gak lapor ketua kelas gitu?" Haknyeon balik bertanya. Yang lebih muda berulang kali mengelap keringat di wajahnya dengan handuk kecil yang ia taruh di leher. "Coba tanya Bang Jaehwan. Dia yang bangunnya paling pagi."
.
.
.
"Bang Seongwu tadi pagi habis sholat subuh terus langsung balik kamar. Keluar lagi udah pakaian rapi. Pas ditanyain mau ke mana, dia bilang urusan penting. Terus berangkat deh bawa sepeda motor."
"Dia gak bawa apa-apa?"
Jaehwan menggeleng, "Dia bawa tas punggung doang. Udah."
Minhyun menghela napas panjang. Bahunya turun setelah mendengarkan cerita Jaehwan. "Gue kira Bang Seongwu ngomong-ngomong gitu ke elo dia mau pergi ke mana," lanjut Jaehwan.
"Dia kalo bolos kelas pasti ngabarin, tapi ini nggak. Chat gak dibaca, telepon gak diangkat. Aku gak tau mesti gimana lagi," Minhyun mendesah kecewa. Ia mendongakkan kepala, menatap langit dengan pandangan kosong.
"Bang Seongwu gak punya kenalan deket lagi, Kak?"
Minhyun menggeleng masih dengan menatap kosong langit. "Gak tau. Yang paling deket sih kamu kayaknya." Ia kini menundukkan kepala, "Daniel, Hyunbin aku tanyain juga gak tau. Jonghyun yang biasanya nongkrong bareng juga bilang kalo Seongwu gak ngabarin apa-apa ke dia." Minhyun melanjutkan.
"Aku ada nomor kakaknya Seongwu sih, tapi masa nanyain Seongwu ke kakaknya? Kan mereka gak barengan."
"Coba aja. Siapa tau mereka sekeluarga liburan bareng makanya Bang Seongwu buru-buru berangkat pagi."
.
.
.
Jam di kamar menunjukkan pukul delapan malam. Minhyun berguling di atas kasur tanpa melakukan apapun sejak pulang kuliah tadi dan selama itu pula Seongwu belum membalas pesannya dan atau menjawab panggilan teleponnya.
Minhyun khawatir bukan tanpa alasan. Seongwu tidak pernah menghilang tanpa kabar seharian. Ada acara keluarga atau bolos kuliah, dia pasti mengabari Minhyun lewat pesan teks atau kalau tidak sempat mengetik, dia akan berpesan lewat Jaehwan yang satu kos-kosan dengannya.
Jinyoung, Woojin, dan Jonghyun ikut khawatir ketika anak perempuan satu-satunya di rumah itu uring-uringan dan tidak mau ikut makan malam. Minhyun mengunci diri di kamar dan hanya keluar ketika ingin ke kamar mandi.
Perempuan itu masih berada di atas ranjang sambil mengamati ponselnya, siapa tahu ada balasan pesan yang tadi dikirimnya untuk Seongwu. Minhyun tengkurap dan menyamankan diri dalam balutan selimut tebal. Ponsel yang diletakkan di hadapannya itu sedari tadi ia hidup-matikan dengan malas.
Ia sudah hampir putus asa dan memilih untuk tidur, sebelum ponselnya menyala dan menampakkan sebuah nama yang ia khawatirkan seharian ini. Tanpa pikir panjang, ia segera meraih ponsel dan menjawab panggilan teleponnya.
"Assalamualaikum Seongwu!" Ia memekik tertahan.
Di seberang sana, Seongwu terkikik pelan. "Waalaikumsalam, Minhyunku."
"Kamu dari mana aja? Bolos kok gak bilang-bilang?"
Seongwu di sana masih tertawa pelan. "Maaf ya gak ngabar-ngabarin kamu."
Minhyun merasa ada sesuatu yang berbeda dari suara Seongwu. Nadanya tetap terdengar ceria seperti biasa, tapi perasaan Minhyun tidak menyangkal bahwa suara Seongwu terdengar sedikit serak dan cukup berat. "Kamu sakit? Pilek? Suaramu kok gitu?"
"Enggak. Aku habis nangis," jawab Seongwu.
"Kenapa?"
Minhyun merubah posisi dari tengkurap menjadi duduk bersandar pada headboard. Ia menaikkan selimut sampai ke batas dada.
"Aku mau cerita, tapi kamu jangan kaget ya."
Minhyun menganggukkan kepala, tapi ia yakin Seongwu tidak bisa melihatnya. Jadi, ia menjawab, "Iya."
"Kemaren malem aku dapet telepon dari Mamah. Mamah ngabarin kalo..." Suara Seongwu berhenti dan digantikan dengan hembusan napas. Minhyun menunggu laki-laki itu melanjutkan ucapannya tanpa berniat memotongnya. "...Mamah bilang kalo Nenek meninggal."
"Innalillahiwainnailaihirojiun." Minhyun membekap mulutnya karena kaget.
"Kamu orang pertama di Jogja yang aku kasih tau." Seongwu menghembuskan napas lagi. "Hapeku mode silent, jadi gak sempet kasih tau kamu. Aku udah lupa sama hapeku, lupa naruhnya di mana. Aku baru inget sama kamu waktu Kakak kasih tau kalo kamu tadi telepon dia."
Minhyun mengangguk lemah, "Iya aku tadi telepon Kakak, tapi gak diangkat juga. Aku kirain kamu pergi ke mana gitu, ada acara keluarga atau apa."
Hening sebentar di antara mereka sebelum suara Seongwu memecah suasana. "Sayang," panggilnya.
"Hm?"
"Vidcall dong. Aku kangen." Suara Seongwu terdengar lelah. Minhyun pun segera mengganti mode panggilan suaranya menjadi mode panggilan video.
Nampak wajah Seongwu yang tengah tersenyum di bawah pijaran lampu remang-remang kamarnya. Minhyun mengulas sebuah senyum juga sembari mengangkat ponselnya agar wajahnya bisa terlihat jelas di layar ponsel Seongwu.
"Kamu habis nangis berapa lama?" Tanya Minhyun. Seongwu menutup wajahnya dengan satu tangan karena malu. "Huhu padahal aku gak pernah nangis di depan kamu, tapi sekarang ketauan habis nangis. Aku malu."
"Ngapain malu? Biasanya juga malu-maluin." Minhyun terkekeh. Seongwu di sana mau tak mau ikut tertawa juga melihat pujaan hatinya tertawa.
"Kamu kalo ada masalah, lagi sedih, lagi capek, cerita aja sama aku. Aku jangan dianggurin, gak enak tau." Si perempuan mengerucutkan bibirnya sebal. Seongwu mengangguk kecil dengan tetap tersenyum. "Iya iya. Jadi tambah sayang sama kamu."
"Heleh ngomong doang," Minhyun mencibir. "Kamu kalo sedih cerita dong sama aku, siapa tau bisa bantu. Biar aku ada gunanya jadi pacar, gak ngerepotin doang bisanya."
"Gak kok, aku gak papa. Kamu juga gak pernah ngerepotin aku." Seongwu meraih sebuah bantal dan memeluknya erat. "Aku kangen nih, pengen peluk, tapi gak bisa. Jadi peluk bantal aja."
"Sini peluk dulu." Minhyun menjauhkan ponsel dari wajahnya, lalu merentangkan tangan kirinya yang bebas. Seongwu juga ikut melakukan hal yang sama. Mereka berdua kemudian tertawa menyadari hal bodoh yang baru saja mereka lakukan.
"Gitu dong. Kamu kalo sedih jelek tau." Seongwu masih tertawa. "Jangan nangis lagi ya? Nanti Nenek gak tenang di sana. Kamu kudu ikhlas, lapang dada. Doain yang terbaik buat Nenek. Aku ngomong doang sih kayaknya, tapi beneran deh, doa itu obat yang paling manjur kalo kata Bunda." Minhyun tersenyum di akhir kalimatnya.
"Iya Bundanya anak-anak. Siap! 86!" Seongwu memberikan pose hormat sambil nyengir lebar.
"Udah malem, kamu gak tidur?"
Minhyun mengangguk, "Iya ini udah ngantuk dari tadi nungguin kamu bales sms sama bales telepon. Mau tidur tapi gagal mulu."
Seongwu menggaruk rambutnya, "Yaudah sana tidur. Besok aku telepon lagi."
Ketika Minhyun akan mengakhiri panggilan, suara Seongwu di seberang sana mencegahnya. "Oh ya! Aku besok masih gak masuk, Yang. Titip absen dong hehe."
"Haha hehe aja. Gak gratis ya? Download-in dramanya Lee Seung Gi yang baru pokoknya." Minhyun menggerutu. Jari tangannya bergerak untuk menekan tombol yang mengakhiri panggilan.
"Aku matiin ya? Kamu tidur yang nyenyak." Ia mendekatkan ponsel ke bibirnya dan memberikan satu kecupan pada Seongwu di seberang sana. "Assalamualaikum."
Tepat setelah Seongwu menjawab salamnya, ia langsung mematikan panggilannya. Minhyun menaruh ponsel di atas nakas dan merebahkan kepala. Ia memejamkan mata masih dengan senyuman di bibirnya.
.
.
Minhyun itu orangnya cerewet apalagi masalah kebersihan. Seongwu tidak pernah marah ketika Minhyun mulai mengomel karena Seongwu berangkat kuliah tidak mandi dan hanya gosok gigi. Minhyun juga mengomel ketika sepatu Seongwu bau karena tidak pernah dicuci.
Minhyun pemilih urusan makanan. Dia tidak suka pedas dan tidak suka makanan manis. Ia bahkan pernah menambahkan air lagi ke bubble tea yang dibelinya karena terlalu manis.
Minhyun tidak suka jadi pusat perhatian. Ketika dia sedang jalan berdua dengan Seongwu, otomatis banyak pasang mata yang menatap mereka berdua karena Seongwu itu berisik. Minhyun akan jalan lebih cepat atau berjalan lebih lambat dari Seongwu agar dia tidak mendengarkan celotehan tidak penting kekasihnya itu.
Minhyun itu galak kalau berhadapan dengan Jinyoung, Woojin, dan Seongwu. Galak dengan Jinyoung dan Woojin karena masih anak-anak dan butuh diluruskan. Galak dengan Seongwu karena bertingkah kekanak-kanakan dan butuh tuntunan ke jalan yang benar.
Minhyun adalah yang paling pengertian. Minhyun pernah membawakan Seongwu sebungkus nasi padang tanpa sayur dengan lauk telur dadar di siang hari selepas latihan band, tepat ketika Seongwu belum sarapan sejak pagi. "Aku bisa liat wajahmu kelaperan dari pagi. Itu di jidatmu ada tulisannya 'belum makan' hehe," ucap Minhyun hari itu.
Seongwu tahu, Minhyun sering mengomelinya karena Minhyun sayang padanya. Seongwu merasa beruntung bisa memiliki Minhyun dalam hidupnya. Bagaimana kalau dia tidak bertemu Minhyun dalam kehidupannya ini? Siapa yang akan beresin lokernya yang berantakan tiap pagi?
Seongwu merasa menjadi seorang yang istimewa karena punya satu jelmaan malaikat Tuhan seperti Minhyun dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
PS. ch 10 dan 11 ini flashback sebelum mereka wisuda ya hehe
PSS. makasih buat kalian yang masih betah baca cerita gak ada faedahnya ini. makasih juga buat yang udah masukin cerita ini ke favorite stories sama follow storiesnya. aku tanpa kalian, hanya remahan rengginang.
PSSS. semangat untuk para author ff buat lanjutin ffnya. aku menunggu karya kalian untuk ku bacaaaa hehehe
