"Catetan yang tadi dikasih Mamah mana?"

Seongwu mendadak menghentikan langkah, membuat Minhyun mau tak mau juga harus berhenti dan berbalik menghadapnya. Ia meraba saku celananya dan tidak mendapati catatan kecil itu di sana. Mulutnya membuka lebar, panik. Ia segera mencari catatan kecil itu di saku hoodie yang ia kenakan. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika tangannya berhasil menemukan secarik kertas lecek yang dilipat-lipat.

"Ini, Yang. Kirain ilang tadi," Seongwu meringis di akhir kalimatnya sembari menyerahkan lipatan kertas itu kepada Minhyun.

Sang perempuan langsung menyambar uluran kertas dari tangan si laki-laki dan berujar, "Kamu itu tetep aja. Kapan sih gak teledor?" Setelah itu ia berjalan lebih dulu meninggalkan Seongwu yang berdiri di pintu masuk pasar.

Melihat Minhyun yang pergi meninggalkannya terlebih dahulu, bibir Seongwu punya refleks lebih cepat ketimbang badannya. Ia lantas berteriak memanggil nama Minhyun sebelum berlari mengejarnya.

"Sayang! Masa suaminya ditinggalin sih? Tungguin dong!"

.

.

DAYBREAK

Episode #12: Shopping Together

.

.

Minhyun paling semangat kalau pergi ke pasar. Meskipun dirinya tidak bisa memasak, urusan belanja dia memang jagonya. Dulu ketika masih tinggal di Sleman, tiap Minggu pagi dia kebagian tugas untuk berbelanja di pasar. Kalau Jinyoung tidak mau mengantarnya ke pasar, Minhyun biasanya meminta Woojin untuk menemaninya. Woojin lebih jago urusan bumbu dapur ketimbang Jinyoung, meskipun mereka sama-sama laki-laki. Jadi, Minhyun tidak usah mencari di google kalau tidak tahu perbedaan jahe dan lengkuas.

"Yang, capek nih. Duduk bentar yuk?"

Seongwu berjalan tertatih-tatih di belakang Minhyun, mengikuti si perempuan yang masih semangat mengelilingi isi pasar. Kedua tangannya penuh dengan kantong plastik belanjaan titipan sang Mamah dan milik Minhyun sendiri tentunya.

Minhyun tidak menghiraukan Seongwu yang mengeluh. Ia tetap berjalan sembari menoleh ke kiri dan kanan. Tangan kirinya juga menjinjing satu kantong plastik berisi daging. "Kamu tadi udah beli bumbu-bumbunya kan? Yang udah di list tadi?"

"Udah, Yang, pulang aja yuk," Seongwu merengek lagi. Minhyun melirik ke belakangnya dan menemukan Seongwu dengan wajah memelasnya melihat ke arahnya.

"Tadi siapa yang semangat banget diajak ke pasar?" Minhyun berujar.

"Itu kan tadi. Sekarang udah beda keadaannya," jawab Seongwu dengan menyeret langkahnya susah payah.

"Bentar ya, kurang satu lagi nih. Kamu tau gak kacang kedelai itu yang kayak gimana?" Ucap Minhyun sembari melihat bergantian catatan kecil yang diberikan ibu Seongwu dengan kios-kios di pasar.

"Kamu aja gak tau, apalagi aku?"

Minhyun berhenti di depan sebuah toko yang sedang tutup. Ia menyuruh Seongwu untuk beristirahat di sana dan menaruh kantong belanjaannya di atas sebuah meja kosong di depannya. "Googling aja, Yang," ucap Seongwu.

"Aku tadi udah searching, tapi kayak gini." Ia menyodorkan ponselnya ke hadapan Seongwu. Si laki-laki mengerutkan dahinya kebingungan. "Hmm... aku gak liat kacang yang bentuknya begituan."

"Ini kacangnya gede-gede, Yang. Tadi aku liat di toko sana kacangnya kecil-kecil. Gak ada yang segede ini." Minhyun menarik lagi ponselnya dan mencoba untuk mencari gambar lain dari si kacang kedelai ini.

"Ya udah kita jalan lagi aja siapa tau ketemu." Seongwu bersiap untuk mengangkat kembali kantong plastik belanjanya. "Balik ke jalan yang tadi aja. Kayaknya aku tadi liat ada yang jualan kacang."

Seongwu kali ini memimpin perjalanan mereka menyusuri kembali toko-toko di pasar. Minhyun berjalan di belakangnya dengan menunduk memperhatikan layar ponselnya. Ia tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya hingga kepalanya membentur punggung Seongwu yang tadi berjalan di depannya.

"Itu bukan sih, Yang? Kacang kedelai?"

Minhyun mendongakkan kepala, memutar untuk melihat ke arah yang ditunjuk oleh Seongwu. "Mana?"

"Itu tuh! Itu bukannya kacang kedelai ya?" Seongwu dengan semangat menunjuk-nunjuk ke tumpukan kacang di salah satu toko. "Itu kacangnya kan gede-gede warnanya putih."

"Hadeh." Minhyun memutar bola matanya malas. "Kamu gak pernah makan rujak ya? Itu kacang tanah buat rujakan, Sayangku." Ia menyubit hidung Seongwu gemas dengan tangan kanannya yang bebas.

.

.

"Balik ke toko yang tadi aja deh."

Minhyun berjalan mendahului Seongwu yang mengeluh lagi karena mereka sudah bolak-balik sebanyak lima kali dan masih belum menemukan keberadaan si kacang kedelai tersebut.

"Hah?" Seongwu melotot kaget. "Yang bener dong? Kita tadi udah ngelewatin sepuluh kali. Tawaf aja kalah."

"Dasar lebay," hardik Minhyun.

Meskipun mengeluh, Seongwu tetap mengekor Minhyun yang kini berjalan dengan agak cepat. Ia berjalan dengan menyeret kakinya yang sangat pegal sambil bibirnya terus menggumamkan kata lelah berkali-kali.

Setelah sampai di salah satu toko yang dimaksud, Seongwu cepat-cepat menaruh kantong belanjanya ke lantai di dalam toko tersebut. Ia kemudian duduk pada kursi kosong yang disediakan toko, sembari menunggu Minhyun yang sedang membeli.

"Bu, ada kedelai?" Tanya Minhyun.

"Ada. Berapa?"

"Apanya?" Minhyun balik bertanya.

"Kedelainya," jawab si ibu penjual.

"Oh," Minhyun mengangguk malu. Seongwu di belakangnya menahan tawa. "Seperempat berapa, Bu?"

"Seperempat tiga ribu. Mau beli berapa?"

Minhyun memutar badan ke belakang, meminta bantuan Seongwu yang masih asik menertawakan dirinya. "Beli berapa?" Ia bertanya pada Seongwu. Sedangkan Seongwu menjawabnya dengan angkat bahu, tidak tahu. "Mamah nulisnya beli berapa kilo?"

Minhyun menggeleng, "Gak tau, gak ditulis sama Mamah."

"Ya udah kira-kira aja," Seongwu menjawab dengan enteng.

Minhyun berbalik lagi menghadap si penjual, ia terlihat menimbang-nimbang sebentar sebelum memutuskan. "Setengah kilo aja deh, Bu."

Setelah meletakkan barang-barang belanjaan di kursi belakang, Minhyun bergegas masuk ke kursi samping pengemudi. Ia memakai sabuk pengaman dan menunggu Seongwu yang sedang membeli es dawet di samping tempat parkir.

Minhyun mengeluarkan kertas lecek yang semakin lecek itu dari saku hoodienya. Mengecek kembali daftar belanjanya, barangkali ada yang tertinggal.

Seongwu masuk sambil menyedot es dawetnya yang dibungkus dalam plastik. Ia menyodorkan esnya ke arah Minhyun, "Mau?"

Minhyun menggeleng sebagai jawaban. "Kamu itu masih pagi kok udah minum es."

Seongwu menampakkan cengiran sebelum menyedot esnya lagi. "Aku butuh energi, Yang, setelah semuanya terkuras habis pas kita keliling pasar," jawabnya dengan nada yang didramatisasi.

"Udah lengkap semua kan belanjanya?" Tanya Seongwu memastikan. Ia menyerahkan es dawetnya ke depan Minhyun lagi. "Pegangin dulu, aku mau nyetir," lanjutnya ketika Minhyun berkata tidak mau.

.

.

Minhyun sedang cuci tangan di wastafel, ketika Mamah Seongwu mengecek hasil belanjanya yang tadi diletakkan Seongwu di atas meja makan. Seongwu sendiri kembali ke kamar karena dia bilang lelah sekali setelah menemani Minhyun belanja keliling pasar. Mamahnya menggelengkan kepala tidak menyangka melihat kelakuan anak laki-lakinya yang tidak pernah berubah.

"Mbak Minhyun? Sini bentar Mbak!" Suara Mamah Seongwu yang memanggil dari meja makan membuat Minhyun cepat-cepat membilas sisa sabun yang masih menempel di tangannya. "Iya, Mah," jawabnya.

Segera, setelah mengeringkan tangan dengan lap, Minhyun langsung melesat ke sumber suara. "Kenapa, Mah?"

"Gak beli jahe?" Tanya Mamah sembari mengaduk isi belanjaan. "Kok gak ada?"

Minhyun terkejut. Perasaan tadi Seongwu bilang sudah membeli rempah-rempah lengkap ketika dirinya dan Minhyun memutuskan untuk berpencar agar belanjanya cepat selesai.

"Seongwu bilang tadi udah beli, Mah." Jawab Minhyun. Ia ikut membongkar isi plastik belanjanya dengan Seongwu tadi dan tidak menemukan sebutir jahepun di sana. "Kok gak ada ya?"

"Ini kenapa malah beli kunyit? Katanya mau masak rawon?" Mamah mengangkat satu plastik berisi rempah-rempah dan mengeluarkan kunyit dari sana. Minhyun mengernyit bingung dan langsung mendekat ke arah wanita paruh baya tersebut.

"Lah iya, Seongwu kenapa beli kunyit? Kok gak beli jahe?" Ia bergumam. "Ya udah deh, Mah kalo gak ada. Biar Minhyun beli di warung depan aja."

Minhyun bergegas naik ke lantai dua, ke kamarnya bersama Seongwu untuk mengambil dompet. Ia melihat Seongwu tertidur pulas dalam balutan selimut tebal dan mendengkur keras.

"Enak ya tidurnya nyenyak banget? Baru diajak belanja aja udah tepar. Pake salah beli lagi." Minhyun duduk di pinggir kasur sambil mengelus rambut Seongwu dengan halus. Karena gemas, ia pun menyubit pipi Seongwu kuat-kuat.

"Kamu itu ngapain beli kunyit kok gak beli jaheeee?! Padahal mereka itu beda banget??!!!"

.

.

.

.

.

.

PS. Iya. Di sini mereka udah nikah /haduh/ nanti aku ceritain di chapter lain gimana mereka bisa nikah ahahahha

PSS. maaf updatenya malah seminggu sekali. Minggu depan udah PAT (ini tuh nama lainnya UAS) trus lanjut ujian praktik, USBN, terus UN. Mungkin updatenya bakal molor2 seminggu sekali huhuhuhu

PSSS. baca2 lagi chap sebelumnya, dan ternyata masih ada typonya. Maafin sama typo2 yg gak ke edit ya.