Minhyun berdiri di pinggir trotoar, menunggu Seongwu datang menjemputnya. Sudah lewat setengah jam, tapi Seongwu dan sepeda motor kuningnya belum terlihat di pandangan radius sepuluh meter Minhyun.
Minhyun menyerah dan berbalik untuk masuk ke salah satu kafe di samping kantornya. Sembari menunggu Seongwu, ia memesan segelas jus apel. Ia memilih tempat duduk yang dekat dengan jalan supaya ketika Seongwu sampai di sana ia bisa langsung melihatnya.
Tak berapa lama setelah Minhyun mendapatkan pesanannya, ponsel yang ia letakkan di meja bergetar. Ia segera meraihnya dan melihat nama Seongwu tertera di sana.
"Waalaikumsalam, aku lagi di kafe," jawab Minhyun ketika gendang telinganya mendengar serentetan kalimat pertanyaan dari Seongwu.
Minhyun mengalihkan pandangannya ke jendela kafe untuk melihat keberadaan Seongwu. Ia melambaikan tangan kepada sang suami ketika mata mereka bertemu.
"Masuk dulu sini, aku baru aja pesen," ucapnya di telepon.
.
.
DAYBREAK
Episode #13: Patching Each Other Up
.
.
"Kamu mau pesen apa?" Tanya Minhyun.
Seongwu meletakkan tas di samping tubuhnya dan langsung bersandar pada sandaran sofa di hadapan Minhyun. Matanya terpejam dan raut wajahnya nampak lelah. "Americano," gumamnya pelan.
"Gak. Jangan kopi, nanti kamu gak bisa tidur," tukas Minhyun cepat.
Masih dengan mata terpejam, Seongwu menjawab, "Ya udah terserah."
"Jus tomat? Apa wortel? Jus tomat wortel?"
Seongwu membuka mata dan mengangguk, "Terserah." Kemudian ia menyandar lagi dan memejamkan mata kembali.
"Kok terserah sih?" Minhyun berujar kesal.
"Aku doyan dua-duanya," jawab Seongwu masih dengan mata terpejam. Suaranya mengecil dan Minhyun yakin sebentar lagi laki-laki itu akan tertidur.
"Ya udah tunggu sini bentar."
Setelah memesan, Minhyun kembali duduk dan mulai mengaduk minumannya. Menyedot sedikit jus apelnya, ia melirik Seongwu yang kini sudah tertidur pulas dengan posisi duduk. Minhyun hanya bisa menghela napas melihat Seongwu yang kentara sekali kelelahan.
Tak lama, pesanan jus untuk Seongwu diantarkan. Minhyun tersenyum kepada pelayan sebagai ucapan terima kasih. Ia menyenggol kaki Seongwu karena posisi duduk mereka yang berhadapan dengan meja persegi yang menghalangi keduanya.
Seongwu terbangun dan langsung mengucek matanya. Ia menatap Minhyun dengan tatapan bertanya, seperti kenapa Minhyun harus membangunkannya.
"Minum dulu, habisin. Terus kita pulang."
Tanpa perlu disuruh lagi, Seongwu langsung menyambar gelas jus dan meminumnya cepat. Dalam sekali minum, Seongwu bisa menghabiskan setengah isinya. Minhyun tak bisa berhenti takjub dengan Seongwu yang makan dan minumnya selalu dilakukan dengan cepat.
"Pelan-pelan nanti keselek."
"UHUK!"
"Tuh kan dibilangin juga apa."
.
.
.
"Aku aja deh yang bawa motornya. Kamu keliatannya capek banget gitu," Minhyun berujar sembari memakai helm yang diberikan Seongwu.
"Aku masih sayang nyawa, jadi gak bakal biarin kamu yang nyetir. Bisa-bisa kita gak sampe rumah, tapi sampe rumah sakit." Seongwu sudah siap di atas sepeda motornya, tinggal menunggu Minhyun untuk naik, dan mereka bisa langsung pulang.
Minhyun memukul lengan Seongwu sebelum akhirnya naik di jok belakang. "Dasar! Ajarin dong kalo gitu biar aku bawa motornya bener!" protesnya.
Minhyun memegang ujung jaket Seongwu erat ketika sang laki-laki menyalakan mesin motornya. "Peluk dong, Yang. Masa kita udah nikah kamu gak pernah peluk aku kalo lagi digoncengin," ucap Seongwu ketika merasa tangan Minhyun tidak melingkari perutnya.
"Aduh bawel." Tapi Minhyun tetap merentangkan tangannya dan memeluk perut Seongwu dari belakang. "Ayo jalan!"
Jalanan Ibu Kota di sore hari apalagi di jam-jam pulang kantor seperti ini memang selalu padat. Bukan padat lagi, tapi sampai tidak bisa bergerak. Seongwu tidak suka jika harus berlama-lama di jalan, apalagi dalam keadaan lelah sepulang kerja. Ia takut Minhyun tiba-tiba tertidur di belakangnya ketika menunggu antrian panjang kendaraan.
"Yang," panggil Minhyun. Seongwu menjawabnya dengan gumaman.
"Kamu capek banget ya?" tanya Minhyun.
"Kenapa?" Seongwu balik bertanya. "Tiap hari juga capek kok, jadi udah biasa," lanjutnya.
Minhyun mendengus, "Bohong." Ia mengendurkan sedikit pelukannya pada perut Seongwu. "Kamu biasanya kalo lagi macet gini nyerocos mulu. Ngomentarin inilah, itulah. Kok sekarang jadi diem sih? Kan tumben."
Seongwu meringis pelan. "Emang gitu ya?" Ia menahan rem, menunggu sepeda motor di depannya untuk jalan lagi. Sambil matanya tak berhenti mencari jalan agar bisa terbebas dari jebakan kemacetan, Seongwu tetap pasang telinga mendengarkan cerita Minhyun.
"Kamu jangan apa-apa disimpen sendiri dong. Aku jadi ngerasa gak tau apa-apa tentang kamu padahal statusku udah sah jadi istri."
Seongwu masih diam mendengarkan sambil terus melewati sela di antara mobil-mobil yang terjebak kemacetan. "Oh ya, masalah rumah, kamu bisa bagi tugasnya ke aku kok. Biar gak semua kamu yang ngurusin. Kamu pasti capek kan tiap hari berangkat pagi, nganterin aku, terus ke kantor, kerja, belum lagi ngurusin rumah," lanjut Minhyun. "Aku ngerti kok."
"Itu udah jadi tugas aku, dan aku gak keberatan buat itu," ujar Seongwu. "Aku tau kamu pasti lebih capek dari aku. Kamu siapin sarapan, siapin kebutuhan aku tiap harinya, pulang malem dan masih tetep bisa ngurusin aku. Kamu yang tidurnya selalu telat cuma buat pastiin kalo aku udah tidur. Bangun pagi-pagi banget buat bangunin aku," sambungnya.
"Sabar ya, bentar lagi rumahnya selesai kok. Jadi aku gak bakal secapek ini, kamu tenang aja." Suara tenang Seongwu benar-benar menghipnotis Minhyun. Perempuan itu sampai terharu mendengar nada serius yang terlontar dari bibir Seongwu selain saat mereka ijab qabul dulu.
"Makanya, ajarin aku sepeda motor dong, biar gak ngerepotin kamu terus. Biar aku bisa berangkat sendiri, jadi kamu gak usah muter jauh-jauh buat jemput aku di kantor."
"Gak ah, aku lebih seneng direpotin." Seongwu terkekeh pelan. Minhyun menyubit perutnya sampai si empunya meringis kesakitan.
"Lagian nih ya, kita itu sama-sama sibuk kerja. Pagi pulang malem. Kalo bawa kendaraan sendiri-sendiri, waktu kita berduaan cuma malem doang pas mau tidur. Aku gak mau."
Minhyun menyunggingkan senyum, "Hm? Terus?"
Setelah berhasil melewati satu mobil di depannya, Seongwu melanjutkan, "Jadi, kalo aku nganterin kamu gini kan kita jadi punya waktu lebih buat ngobrol-ngobrol santai sebelum sama-sama sibuk kerja."
"Aku gak tau lho kalo kamu bisa romantis gini." Minhyun mengeratkan pelukannya pada Seongwu.
Seongwu tertawa ringan, "Aduh jadi enak kan kalo dipeluk gitu."
.
.
.
.
.
halooowelcome back to my story!
hahaha apaan.
sebenernya ujiannya belum selesai, tapi tangan gatel banget pengen ngetik cerita lolololol
udah ya bhay mau lanjut semedi dulu...
