"Gimana sih? Masa lupa?" Minhyun berteriak di telinga Seongwu yang tertutup helm.
Seongwu sendiri masih ragu, apakah dia harus berbelok apa lurus. Dia melajukan motornya pelan sembari menengok kanan-kiri, siapa tahu ada patokan khusus yang dia hafal.
"Seingetku tadi lurus, Yang, tapi ini kok gak ada ya?"
Ia menghentikan motor di pinggir jalan, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk mengecek peta. Minhyun diam saja, menunggu keputusan Seongwu selanjutnya. Ia melirik ponsel Seongwu dari balik bahu si laki-laki, selanjutnya ia semakin kesal karena tahu Seongwu belum beli paket data.
"Maaf, Yang aku gak paketan. Liatin maps di hapemu dong." Sebuah ringisan Minhyun dengar, membuat ia mendengus kesal. "Gak bawa hape," jawabnya ketus.
"Yaudah deh, jalan lagi aja."
Seongwu menyalankan mesin motornya lagi. Minhyun masih diam tidak berniat untuk menyahuti.
"Lurus apa belok kanan, Yang?"
"Belok kanan."
"Oke lurus aja."
Minhyun mendengus, lagi.
.
.
DAYBREAK
Episode #14: Getting Lost Somewhere
.
.
"Tuh kan! Tau tadi aku aja yang nyetir!" ujar Minhyun kesal.
Mereka sedang duduk di depan minimarket setelah membeli dua botol air mineral. Siang yang terik membuat Minhyun mengeluarkan keringat berlebih. Belum lagi dari setengah jam yang lalu mereka hanya berputar-putar di jalan tanpa tahu tujuan.
"Apa kita tanya orang aja ya?" Seongwu menghabiskan satu botol air mineral dalam satu kali tenggakan. Ia mengelap bibirnya dan melemparkan botol kosongnya ke dalam tempat sampah. "Gimana?"
"Ya mana ada yang tahu kalo kamu ingetnya cuma es campur di gerobak biru," jawab Minhyun. Perempuan itu meneguk lagi airnya sampai tersisa setengah. "Kan aku udah bilang belok kanan, kamu gak percaya," lanjutnya.
"Ya udah, terserah," ucap Minhyun final.
Seongwu bisa pastikan bahwa sampai rumah nanti istrinya ini tidak akan mau diajak berbicara lagi karena ngambek. Salahnya juga yang bilang sudah hapal wilayah rumah barunya ini tanpa bantuan peta atau semacamnya. Minhyun sebagai istri juga percaya, toh Seongwu sering bolak-balik ke sini dan ia yakin suaminya itu sudah hapal di luar kepala.
"Ayo, kita putar balik lagi aja."
Setelah menggunakan jaket dan masker, Seongwu berjalan menuju motornya yang terparkir. Minhyun mengikuti di belakangnya dan mengenakan masker juga.
Ketika dirasa Minhyun sudah naik dengan aman di jok belakang, Seongwu melajukan motornya keluar halaman parkir minimarket.
"Ini belok kanan kan, Yang?" Tanya Seongwu dari balik helmnya.
"Belok kiri lah. Kan arahnya berlawanan," Minhyun menjawab dengan kesal. Seongwu meringis kecil menyadarai kebodohannya barusan. "Oh iya sih. Kirain tetep kanan soalnya kamu tadi bilangnya ke kanan."
Minhyun mendorong kepala Seongwu yang tertutup helm dari belakang karena sebal. Membuat si empunya kepala hampir oleng ketika menyetir. "Kamu ini kapan pinternya sih?" Minhyun bergumam.
"Yang, jangan anarkis gitu. Nanti nabrak."
"Kamu aja yang nabrak. Aku nanti lompat."
Seongwu merajuk, "Jahat."
.
.
Sepeda motor yang dikendarai Seongwu akhirnya berhasil belok ke kiri. Seongwu menurunkan laju kendaraannya dan berjalan sedikit menepi ke kiri. Ia menaikkan kaca helmnya agar suaranya tidak teredam.
"Habis ini ke mana?" tanyanya pada Minhyun.
Minhyun yang tadi masih tengok kanan-kiri, akhirnya memusatkan fokusnya pada Seongwu. "Lah kok nanya? Kan kamu yang hapal jalannya, bukan aku."
"Oh oke siap!" Seongwu menjawab, kemudian melajukan kembali motornya ke kecepatan normal.
Minhyun yang duduk di belakang masih tetap menengok kanan dan kiri, siapa tahu penjual es campur yang ia dan Seongwu cari dapat ditemukan. Kadang Minhyun memberi tepukan pada bahu Seongwu ketika melihat gerobak warna biru yang ia kira sebagai gerobak es campur. Namun, ketika didekati, gerobak itu hanya gerobak bakso yang kebetulan lewat. Begitu seterusnya hingga satu kilometer mereka lewati.
"Yang, Yang!" Lagi-lagi Minhyun menepuk bahu Seongwu dengan cepat ketika mata tajamnya menangkap bayangan gerobak berwarna biru yang ramai dikerumuni banyak orang. "Itu bukan sih?" Tangannya menunjuk ke arah yang dimaksud untuk memudahkan Seongwu menemukan targetnya.
"Oh iya!" Seongwu memekik senang dan langsung menambah kecepatan agar lekas sampai di sana. Minhyun akhirnya bernapas lega ketika menemukan es campur yang dimaksud oleh ibu mertuanya.
.
"Bungkus empat ya, Mas."
Minhyun tersenyum ramah ke arah si penjual es campur. Setelah memesan, ia duduk di kursi plastik samping Seongwu yang disediakan oleh si penjual sebagai tempat untuk menunggu pesanan atau untuk duduk menghabiskan es di sana.
Seongwu menurunkan maskernya dan mengelap peluh sebesar biji jagung di dahinya. Minhyun mengulurkan sisa air mineralnya yang belum habis tadi pada Seongwu dan diterima oleh sang suami dengan raut senang. "Makasih," ujarnya sembari menerima botol air mineral.
"Yang," Seongwu mengangsurkan lagi botol air kepada Minhyun. "Kabar buruknya, aku lupa jalan buat balik," ucapnya sedikit panik.
"Huh?" Minhyun mendesah. "Sudah kuduga. Gak kaget aku sama kelakuan kamu," ujarnya sarkas.
Seongwu memainkan kontak di tangannya, "Terus gimana dong?"
"Ya tinggal putar balik lagi apa susahnya sih?" Jawab Minhyun. "Kamu tuh ya, kalo lagi di jalan itu diinget-inget tadi lewatnya mana. Untung kalo perginya berdua sama aku. Lah kalo sendiri? Bisa nyasar sampe Eropa kamu nanti."
Yang dinasehati hanya meringis. Membuat Minhyun gemas setengah mati ingin memukulnya.
"Kamu lucu deh kalo lagi marah-marah gitu." Seongwu berucap dengan kekehan di akhirnya. "Aku jadi tambah cinta."
"Halah mikir cinta mulu. Pikirin tuh gimana caranya pulang biar gak kesasar."
Seongwu nyengir lebar dan Minhyun mendengus kesal, lagi.
.
.
.
.
.
hai! wassup guys!!!
hehehe akhirnya bisa update juga setelah bersibuk-sibuk ria dengan ujian praktik. alhamdulillah selesai jugaaa yeeee
alhamdulillah lagi soalnya sekolah udah ga ada pelajaran, cuma bimbel doaaang yeeee
