"Besok. Kamu mau ke sini emangnya?"
Minhyun mengapit ponsel di antara kepala dan bahu sambil tangannya cekatan menggosok pakaian. "Gak usah lagian. Lusa aja ke sini, ada pengajiannya. Ajakin pacarmu juga, aku kangen sama dia." Ia terkekeh pelan.
"Ya udah, assalamualaikum."
Minhyun mengantongi ponsel di saku bajunya dan melanjutkan kegiatannya menyetrika baju. Ketika masih asyik, Minhyun dikejutkan dengan sepasang tangan yang melingkar di perutnya erat. Ia merasakan sesuatu yang berat berada di bahu kanannya dan mendapati Seongwu yang memeluknya dari belakang. "Siapa, Yang?" Seongwu berbisik tepat di telinganya.
"Dongho," jawab Minhyun. Tangannya masih cekatan menyetrika meskipun Seongwu yang masih bergelayut manja padanya sungguh merepotakan. "Mandi dulu sana! Kamu bau!"
"Dongho mau ke sini? Sama Kenta?"
Minhyun meletakkan setrika di atas tatakan besinya, kemudian berusaha melepaskan tangan Seongwu yang semakin erat memeluk perutnya. Kepalanya di bahu Minhyun bergerak terus-terusan sampai Minhyun merasakan geli akibat gesekan kulitnya dengan rambut Seongwu. "Iya. Udah sana mandi dulu, Seongwu!" perintah Minhyun.
"Habis ini kita beres-beres biar besok gak keteteran." Minhyun melanjutkan lagi kegiatan menyetrikanya yang tadi sempat tertunda karena aksi manja oknum Seongwu kepadanya.
"Iya, nanti dulu-"
"Eh, apa ini?" Minhyun memekik kaget ketika mendapati bekas merah pada kemeja putih milik Seongwu. "Kok aku ga nyadar ada ginian di baju kamu? Masa aku nyucinya kurang bersih?"
Seongwu melepaskan pelukannya pada Minhyun dan melirik ke arah kemejanya yang sedang disetrika Minhyun. Mereka berdua kemudian saling berpandangan bingung.
"Bekas lipstik siapa ini?" Minhyun bergumam pelan. Seongwu melirik raut wajah istrinya yang kebingungan. Ia terkikik geli kemudian. "Wah, jangan-jangan itu bekas lipstik yang kemaren lagi?" Gumaman Seongwu terlalu keras sampai Minhyun bisa dengan jelas mendengarnya.
"Yang kemaren siapa? Kamu habis ngapain?" Mata Minhyun memicing curiga. Menelisik Seongwu dari atas ke bawah, "Jangan-jangan kamu..."
"Iya itu yang kemarin katanya kangen aku. Baru pulang kerja udah ngusel-ngusel, mana masih pake makeup lagi. Jadi deh, lipstiknya nempel di baju aku," Seongwu berujar dengan santai. Ia melirik Minhyun sambil menahan tawa. "Siapa yang kemaren ngusel-ngusel kamu pake bilang kangen segala lagi? Bawa sini orangnya, mau aku tampol."
Seongwu tertawa, "Kamu lupa? Yang kemaren baru pulang kerja langsung geret aku ke kamar terus peluk-peluk bilang kangen. Masa kamu lupa sih, Yang?"
Minhyun mendongak menatap Seongwu, "Hah? Aku ya?" Ia meringis geli, merutuki keobodohannya. "Oh iya sih."
Minhyun nyengir, "Berarti itu bekas lipstikku ya?"
Seongwu mendekap Minhyun dan mengeratkan pelukannya. "Iya ih. Aku jadi gemes deh sama kamu."
Minhyun sampai megap-megap karena pelukan Seongwu yang sangat erat. Tangannya tak berhenti memukul dada Seongwu, meminta dilepaskan, tapi Seongwu malah mendekapnya semakin erat.
"Yang, gak bisa napas."
Seongwu nyengir lebar, lalu melepaskan pelukannya. "Iya lupa."
.
.
DAYBREAK
Episode #15: Moving in Together
.
.
"Berani emang kalo berdua aja?"
Sepiring tempe goreng tersaji di atas meja makan. Ibu Seongwu menarik kursi setelah meletakkan piring berisi ikan goreng. "Yakin?" Tanya beliau sekali lagi.
Seongwu mengangguk takzim sembari mengambil dua potong tempe dari piring. "Iya, Mah. Yakin," ia menjawab setelah menelan nasi di mulutnya. "Kita berdua pemberani kok. Mamah tenang aja."
Minhyun mencebikkan bibir mendengarkan jawaban terlalu percaya diri suaminya. Ia belum membuka suara dan masih khidmat menikmati sarapannya. Ayah mertuanya juga terkikik geli setelah Seongwu melontarkan jawabannya tadi.
Pria kelahiran Agustus itu Minhyun kenali sebagai pengecut kalau berurusan dengan hal-hal mistis. Dia dulu pernah menelepon Minhyun sore-sore, minta ditemani ke kampus untuk mengambil charger laptopnya yang ketinggalan di kelas. Hari itu masih cerah, baru jam tiga, tapi Seongwu bahkan menggandeng tangan Minhyun erat ketika mereka masuk dalam kelas. Keringat dingin menghiasi wajah Seongwu selepasnya mereka keluar dari sana. Seongwu bilang dia takut sepi dan sendirian. Minhyun tertawa kalau mengingat kejadian lucu itu lagi.
"Mamah percaya sama Minhyun, tapi kalo kamu sih nggak. Pipis malem-malem aja masih ditemenin," ujar ibu Seongwu. Minhyun sampai tersedak karena menahan tawa. Ia terbatuk-batuk dan mengeluarkan air mata. Ayah mertuanya dengan cekatan mengangsurkan segelas air untuknya, dengan bibir yang juga ikut tertawa.
"Iya kan? Seongwu tiap malem pasti minta anterin pipis," jelas ibunya lagi.
Minhyun mengangguk, "Bener, Mah. Ganggu orang tidur aja ya kan?"
Wajah Seongwu memerah padam. Antara menahan emosi dan malu. Sudah sebesar ini, punya istri, tapi mau ke kamar mandi saja minta ditemani.
"Yang, kamu ini kok gak belain aku? Malah sekongkol sama Mamah."
Seongwu merajuk.
.
.
Keringat membanjiri wajah ayu Minhyun. Dengan cekatan ia menurunkan boks-boks besar dari atas mobil bak yang membawa barang-barangnya. Rambut panjangnya yang dicepol nampak sedikit berantakan. Lengan kaos panjangnya ia gulung ke atas, ujung celana juga ia jinjing sampai lutut.
Setelah menurunkan seluruh boks dari atas mobil bak, ia mengangkut satu-satu boks itu ke dalam rumah. Kembali lagi keluar untuk mengangkut boks lainnya, begitu seterusnya.
Seongwu sedang membetulkan gagang pintu kamar yang tidak terpasang sempurna. Setelah memastikan pintu kamar bisa membuka dan menutup dengan baik, Seongwu berjalan menuju ruang tamu dan mendapati Minhyun yang kepayahan mengangkut boks-boks besar.
"Udah, Yang kamu duduk aja biar aku yang angkut lainnya," ia menyentuh pundak Minhyun dan menuntunnya untuk duduk pada kursi kayu yang baru mereka beli minggu lalu.
"Masih banyak barangnya. Gak papa biar aku bantuin aja." Minhyun akan bangkit lagi, tapi Seongwu dengan cepat mendorong bahu Minhyun agar duduk kembali. Ia pasrah ketika Seongwu menatapnya dengan tatapan seriusnya yang jarang sekali ia perlihatkan. Pada akhirnya Minhyun hanya mengangguk mengiyakan dan mengamati Seongwu dalam diam.
Minhyun baru mengangkut dua boks ke dalam rumah dan masih sisa sekitar lima kardus lagi. Ia sebenarnya tidak tega ketika melihat Seongwu mengangkut lima kardus itu bergantian seorang diri. Ingin rasanya ia beranjak dan membantu sang suami, tapi ia urungkan ketika ingat bahwa perkataan Seongwu tidak bisa dibantah.
Selesai dengan kardus terakhirnya, Minhyun akhirnya bangkit mendekati Seongwu yang duduk di samping kardus-kardus tersebut. Tangan lentiknya berusaha membuka salah satu kardus besar yang bertuliskan 'precious' dengan spidol permanen hitam.
Minhyun tersenyum samar ketika tutup kardus itu akhirnya terbuka. Ia meraih salah satu isinya dan kembali tersenyum. Satu figurin Transformers yang Minhyun ingat sebagai hadiah wisuda dari Seongwu, sebelum laki-laki itu kembali ke Jakarta untuk berkumpul dengan keluarga.
Ia masih menyimpan hadiah yang Seongwu berikan kepadanya, termasuk hasil gambaran tangan laki-laki itu ketika di perpustakaan dulu. Ia akhirnya menyelesaikan gambarnya seminggu kemudian dan dengan bangga menunjukkannya ke depan Minhyun. Mereka akhirnya saling bertukar gambar dan Minhyun sampai membingkai gambar Seongwu tersebut di kamarnya. Meskipun hasilnya tidak sempurna, tapi Minhyun tetap menghargainya. Ia senang dengan ketulusan Seongwu yang disampaikan laki-laki itu melalui goresan gambarnya.
"Aku dulu gak bisa gambar cewek cantik, Yang. Maklumin aja kalo gambarku itu jelek banget," Seongwu berujar tiba-tiba. Minhyun mendongak, menatap manik hitam Seongwu yang juga memandang ke arahnya.
"Gak papa, bagus kok. Sampe aku pigorain." Minhyun tersenyum. Jari-jarinya menyapu permukaan kaca pigora perlahan-lahan. "Punyamu mana? Kamu masih nyimpen juga?"
Seongwu mengangguk. Tangannya gemas sekali untuk tidak mengelus puncak kepala Minhyun. "Ada kok. Aku tempel di sketch book. Masih ada sampe sekarang." Ia tersenyun tulus ketika Minhyun menatapnya lagi. "Aku masukin ke kardus itu juga kalo gak salah."
Tangan Minhyun mengubak isi kardus lagi. Di tumpukan terbawahnya ada beberapa sketch book yang Minhyun yakini itu milik Seongwu semasa kuliah dulu. Salah satunya ada yang ia ganti sampulnya menjadi warna biru muda dengan sebuah kutipan di depannya. Minhyun ingat sekali ia dengan iseng mengecat sampul sketch book Seongwu dengan cat akrilik warna biru. Kemudian memberikan kutipan dalam bahasa Inggris di atas cat dasar tersebut.
"Aku terharu banget kamu masih nyimpen buku ini untuk waktu yang lama." Minhyun tersenyum miring, mencoba menahan air mata. "Aku pengen nangis," cicitnya.
"Gambarmu ada di halaman paling depan. Aku laminating dan tempel di sana," ucap Seongwu. Ia masih mengusap rambut Minhyun dengan sayang, sesekali memberikan kecupan kecil di sana.
Mata Minhyun berkaca-kaca. Tangannya gemetar ketika membuka halaman pertama buku tersebut. Seongwu tersenyum simpul dan menarik Minhyun yang akan menangis dalam dekapannya. "Jangan nangis dong," bisiknya.
"Aku gak nyangka kita udah melangkah jauh banget sejak saat itu."
"Aku apalagi."
.
.
.
.
Ini ceritanya mereka pindah rumah, tapi kok malah isinya romantis-romantisan???? Salah konteks nih hehehehe
