Joonmyeon membeku di tempat setelah mendengar suara ledakan pistol. Amarahnya semakin menjadi ketika melihat darah tersembur keluar di dada kiri Yixing dan akhirnya terjatuh.

"Babi sialan."

...


Yixing berusaha untuk menjaga pandangannya supaya tidak menggelap. Ia bisa melihat orang-orang berbaju kepolisian datang mendekat. Namun, entah mengapa pandangannya semakin mengabur perlahan seiring rasa sakit di dadanya menjadi.

"Joon.. Myeon-ah.."

"Kena..pa.."

"Rasanya.. sa..kit.. sekali..."

Pandangan Yixing menggelap sempurna, ia pun akhirnya menutup kedua matanya pelan. Namun sebelum itu..

Ia bisa melihat Joonmyeon berlari ke arahnya.

...


BAGIAN 2

Di sepanjang koridor menuju ruang UGD, terlihat lima orang perawat yang bergerak gesit sembari mendorong kasur beroda. Di samping itu juga, terlihat Joonmyeon yang tampak cemas berjalan di sisi kasur beroda sembari menggenggam erat jemari Yixing.

"Bertahanlah Yixing." lirih Joonmyeon. "Bertahanlah untukku."

Langkah Joonmyeon berhenti ketika telah sampai di depan ruang UGD. Ia pun menghela nafas gusar lalu mengigit bibir bawahnya. Tak lupa, ia sedikit berteriak untuk melapangkan sejenak perasaannya yang tertekan akibat terlalu khawatir dengan kondisi Yixing. Ia pun akhirnya memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di kursi tunggu dekat pintu ruangan. Kepalanya tertunduk dalam. Menatap lagi telapak tangannya yang bebas di udara. Perlahan ia menautkan sepuluh jarinya dan mengeratkannya seerat mungkin. Mencoba untuk berharap semoga Zhang Yixing-nya dapat diselamatkan.

Dua jam sudah lewat dan tidak ada sedikitpun tanda-tanda operasi gawat darurat telah selesai. Joonmyeon semakin frustasi dibuatnya. Lagi, ia menghela nafasnya gusar. Namun lebih berat dari sebelumnya. Sungguh, ia sudah tak sanggup mengendalikan pikiran dan raga yang sudah kelewat lelah.

Indra pendengaran Joonmyeon menangkap suara pintu terbuka, segera ia pun berdiri kemudian menghampiri seorang dokter yang tengah berjalan menjauhi ruangan sambil melepas masker operasi di wajah.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Joonmyeon langsung pada inti.

Sang dokter menatap dalam Joonmyeon di hadapannya. Guratan senyum simpul pun terlukis di wajahnya pelan. "Keadaannya saat ini sedang kritis."

Joonmyeon mengernyit. Perasaannya berkecamuk tak karuan dibuatnya. Ia pun berusaha sekuat mungkin untuk mengendalikan diri supaya tetap tegar.

"Peluru yang menghantam dada pasien telah mengakibatkan robekan pada bagian ujung arteri pulmonalis. Untung saja robekan itu masih bisa ditangani. Namun, hal itu berakibat serius pada pasien yang membuat jantungnya mengalami hambatan sirkulasi peredaran darah dan membuat keadaan pasien menjadi kritis saat ini. "

Joonmyeon diam. Ia memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya kembali. "Apa saya bisa melihat kondisi pasien?"

"Tentu saja." jawab sang dokter.

"Terima kasih banyak." ucap Joonmyeon sembari membungkukkan badan.

Sang dokter mengangguk pelan sebagai balasan kemudian berjalan meninggalkan Joonmyeon. Tanpa basa-basi, Joonmyeon pun langsung masuk ke dalam ruangan. Terlihatlah Yixing yang terbujur kaku dengan selang infus di tangan kiri dan alat bantu nafas yang menutupi hidung hingga mulut. Hati Joonmyeon remuk seketika melihat keadaan Yixing seperti ini. Ia lalai dalam tugas utamanya untuk melindungi Yixing. Ia menghancurkan komitmen yang telah ia buat sendiri.

Joonmyeon pun berjalan mendekat hingga berada di samping Yixing. Ia menggenggam erat telapak tangan kanan Yixing dan mengusap lembut surai hitamnya dengan tangan kiri. Perlahan, ia memejamkan mata kemudian mengecup dalam dahi Yixing sambil menyapu permukaan punggung tangan Yixing dengan jempolnya. Ia pun membuka kedua matanya kemudian tersenyum lemah menatap wajah yang sedang tak sadarkan diri itu.

"Cepatlah bangun Yixing. Kau membuatku gila dengan kondisi kritismu itu."

...


Joonmyeon berlari cepat menuju ruang rawat Yixing setelah mendapat panggilan dari rumah sakit bahwa sang pujaan hatinya telah siuman. Ia yang saat itu sedang menghadiri rapat, tiba-tiba saja pergi tergopoh-gopoh tanpa memperdulikan kesan buruk yang mungkin ia tinggalkan pada Kepala Divisi Penyelididikan. Ia bahagia. Setelah tujuh hari menunggu, akhirnya ia bisa bernafas lega karena kabar baik ini.

Joonmyeon pun membuka pintu. Terlihat seorang dokter dan perawat yang memeriksa lebih lanjut keadaan Yixing. Joonmyeon pun berjalan mendekat. Ia dapat melihat kedua mata Yixing yang terbuka pelan sekali. Ia tersenyum ketika sepasang manik indah itu menaruh pandang padanya. Sepasang manik indah itu tampak sangat sayu sekali.

"Perkembangannya sungguh pesat sekali." ungkap sang dokter. Ia pun menghadapkan diri pada Joonmyeon yang berada di belakangnya. "Kondisi pasien saat ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun, pasien masih harus dirawat intensif sekitar empat atau lima hari."

Beban pada batin Joonmyeon terangkat perlahan hingga membuat raganya sedikit lega tatkala mendengar kabar baik dari sang dokter. "Terima kasih banyak." ucapnya sambil membungkuk.

"Jangan sungkan." jawab sang dokter. "Rekanmu ini memiliki semangat juang yang sangat tinggi. Saya jadi terpukau."

Joonmyeon hanya tersenyum sebagai tanggapan. Ia pun membungkukkan badan beberapa kali ketika sang dokter minta pamit untuk meninggalkan ruangan. Setelah sang dokter beserta perawat meninggalkan ruangan seutuhnya, ia pun berjalan mendekati Yixing hingga berada di sampingnya. Sesampainya, ia menggenggam penuh jemari Yixing kemudian mencium bagian punggungnya.

"Aku hampir gila menghawatirkanmu, Xing-ah."

Yixing tersenyum lemah. Ia pun menggerakkan bibirnya yang terasa sangat kaku. "Maaf.."

Joonmyeon tersenyum. Ia pun mencium dalam dahi Yixing sebagai balasan. Kemudian, bibirnya pun turun ke bawah lalu mengesap bibir tebal Yixing yang terlihat sangat pucat. Ia melumat dalam bibir Yixing sekejap. Perlahan, ia melepaskan tautan bibirnya lalu menatap wajah manis Yixing yang pucat itu teduh.

"Kenapa.. menciumku?" tanya Yixing lemah.

"Memangnya tidak boleh ya?"

Yixing menelisik tatapan teduh Joonmyeon yang terasa sangat hangat di dada. "Nanti kau jatuh sakit."

Joonmyeon tertawa kecil. "Jangan bicara seperti itu."

Yixing tersenyum lemah. "Aku sangat merindukanmu Joon.."

"Begitupun aku, Xing." ucap Joonmyeon. "Aku juga sangat merindukanmu. Namun, rasa rinduku kalah telak terhadap rasa khawatirku."

Yixing tak menanggapi. Joonmyeon mengusap lembut surai hitam Yixing. Ia tersenyum lembut ketika melihat kedua mata Yixing yang memejam perlahan.

Tok. Tok.

Joonmyeon menegapkan tubuh kemudian menaruh pandang pada pintu yang terbuka perlahan.

"Halo Joonmyeon-sunbae." sapa Taehyung hangat. Ia pun memasuki ruangan dengan membawa sebuket bunga mawar putih di genggamannya. Juga, terdapat pemuda yang lebih muda menutup pintu ruangan kemudian berjalan tepat di belakang Taehyung. Kedua tangannya membawa keranjang yang berisi berbagai buah-buahan.

Untuk kali ini. Joonmyeon tersenyum hangat pada kehadiran Taehyung yang tidak terduga.

"Aku tidak menyangka kau akan datang menjenguk." ucap Joonmyeon.

"Tentu saja aku harus datang. Sebagai seorang hoobae yang berbudi pekerti luhur harus seperti itu."

Pada akhirnya, Kim Taehyung tetaplah Kim Taehyung. Seorang manusia berwujud empat dimensi. Sifatnya begitu tidak mudah ditebak dan teramat susah untuk dimengerti.

"Terima kasih."

Taehyung pun kaget seketika. "Wah, wah. Ini pertama kalinya kau berterimakasih padaku."

Joonmyeon tak bertanggapan apapun. Ia mempersilahkan Taehyung -beserta pemuda yang diketahui pacarnya untuk meletakkan buket bunga dan keranjang buah di atas meja nakas samping kasur.

"Terima kasih." ucap Yixing pelan. "Maaf, aku masih belum sanggup duduk."

"Ah, tidak apa kok hyungnim. Malah lebih baik, hyungnim berbaring saja." balas Taehyung. "Bahkan menurutku, berbaring maupun duduk sama saja."

"Panggil saja Yixing."

"Ah, ne. Yixing-hyung." Taehyung mengelus pipinya dengan jari telunjuk, tanda canggung. "Aku Kim Taehyung. Hoobae kesayangan Joonmyeon-sunbae."

"Ck. Sejak kapan aku menganggapmu sebagai kesayangan." ucap Joonmyeon datar.

"Umurku baru 22 tahun. Aku lulusan Universitas Sungkyunkwan jurusan kriminologi." ucap Taehyung yang tampaknya menghiraukan protes dari Joonmyeon.

"Wah, sepertinya kau merupakan detektif yang sangat berbakat." ucap Yixing.

Taehyung mengelus tengkuknya canggung. "Eum.. aku tidak tahu soal itu."

Melihat Yixing dan Taehyung yang asyik berbincang-bincang, Joonmyeon pun berinisiatif mengajak pemuda di belakang Taehyung berbicara.

"Hei." bisik Joonmyeon pada pemuda itu.

Pemuda itu kaget kemudian membungkukkan badan. "Ne?" ucapnya sambil menatap bingung Joonmyeon.

"Aku ingin bertanya sesuatu padamu." ucap Joonmyeon. "Kenapa kau mau berpacaran dengan manusia siluman alien yang bernama Kim Taehyung?"

Pemuda itu membuka bibirnya untuk menjawab, namun ia urungkan niatnya dengan menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah merona.

Joonmyeon terkekeh. "Kau sangat pemalu ya. Kontras sekali dengan sifat Kim Taehyung."

"Yixing-hyung, lihat pacarmu yang mencoba selingkuh di hadapanmu secara langsung." ucap Taehyung tiba-tiba.

"Hei! Bicara apa kau hah?!"

"Aku bicara kau selingkuh pada Yixing-hyung."

Yixing tersenyum melihat perdebatan tak penting antara Joonmyeon dan Taehyung. Tak sengaja, pandangannya jatuh pada sosok di belakang Taehyung yang sedang kebingungan. Dan tak sengaja pula sosok itu menatapnya balik kemudian berjalan mendekatinya.

"Namaku Jeon Jungkook." ucap pemuda itu.

"Wah, padahal aku belum bertanya loh."

Pemuda yang bernama Jungkook itu panik lalu membungkukkan badannya sembilan puluh derajat. "Kumohon maafkan aku."

"Aku bercanda, Jungkook-ah."

Jungkook menghela nafasnya lega lalu tersenyum lebar sambil mengelus tengkuk lehernya.

"Eum.. Yixing-hyung." Jungkook buka suara setelah sekian detik saling diam.

"Hm?"

"Apa dadamu terasa sakit?"

Yixing menatap Jungkook yang tampak sangat penasaran. Ia pun tersenyum simpul. "Tentu saja. Tapi tidak sesakit saat aku baru tersadar. Aku bahkan tidak sanggup bicara."

"Tapi, bukannya Yixing-hyung.."

"Ne. Rasa sakitnya perlahan mengurang. Apalagi ketika Taehyung mengajakku bicara."

"Begitu ya.." ucap Jungkook perlahan memelan. Ia pun memainkan jari telunjuk sembari mencari topik pembicaraan selanjutnya. Ia merengut. Menjadi sosok yang mengalir seperti Taehyung sangat susah sekali. Untuk dekade ini, ia berusaha keras untuk menjadi sosok yang spontan dalam lingkaran sosial. Namun, tidak bisa. Ia masih saja menjadi sosok yang canggung.

Kedua bola mata jernih itupun langsung menangkap keranjang buah di meja nakas. Seketika, Jungkook pun menatap Yixing yang berbaring dan kedapatan senyuman yang terlihat lemah dari wajah manis itu.

"Apel." Jungkook langsung gelagapan. "Eh, m-maksudku... hyung mau makan apel?"

Yixing terkekeh. "Astaga, kau membuatku gemas Jungkook-ah."

"Hyung tidak mau ya?"

Yixing tersenyum simpul. "Aku sedang tidak ingin."

Jungkook mengerti. Ia pun menaruhkan pandang pada Taehyung yang masih sibuk berdebat dengan Joonmyeon.

"Sudah ku bilang jangan asal bicara, Taehyung."

"Siapa yang asal bicara? Aku bicara fakta, sunbae. Buktinya pun terlihat secara nyata dan bisa dilihat dengan mata kepala sendiri."

Yixing melihat Jungkook yang menaruh pandang pada salah satu dari dua insan tak jelas itu. Lalu ia pun melihat Kim Taehyung. Bola mata hitamnya bergantian melihat Jungkook dan Kim Taehyung. Setelahnya, ia memandang intens Jungkook yang tengah menatap dalam rupa Kim Taehyung itu. Entah mengapa, ia merasakan aura gelap di diri Jungkook. Ia pun menghela nafas pelan. Ah, mungkin saja ini perasaan tak jelas yang sering dialaminya.

Yixing melihat Jungkook yang berakhir menundukkan kepala. Ia melihat mata Jungkook terpejam rapat dan bahu yang mulai bergetar pelan.

"Yixing-hyung. Aku.. ingin kau menjadi saksi atas ucapanku ini."

Yixing diam tak bertanggapan apapun. Ia masih serius memandang Jungkook yang berada di fase sentimental ini.

"Aku sangat mencintai Taetae-hyung. Aku ingin bersama Taetae-hyung selamanya. Aku ingin terus bahagia bersama Taetae-hyung."

Jungkook menggigit bibir bawahnya. Bahunya mulai bergetar kuat. "Aku.. a-aku.. Taetae-hyung.."

"Katakan padaku ada apa, Jungkook-ah." ucap Yixing lembut.

Jungkook menggeleng pelan. "Maaf. Aku tidak bisa mengatakannya."

Ternyata aura gelap Jungkook yang dirasakannya bukanlah perasaan tak jelas yang sering dialaminya. Perasan yang dirasakannya ini nyata. Ia pun menaruh rasa curiga pada Jeon Jungkook ini.

"Aku mengerti." ucap Yixing. "Mendekatlah."

Jungkook membuka matanya lalu menatap bingung Yixing sebentar. Perlahan, ia mendekatkan diri pada tubuh Yixing yang tengah berbaring itu. Sontak, ia pun kaget tak percaya ketika mengetahui tubuhnya direngkuh oleh Yixing. Ia menutupkan matanya dan tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan.

"Aku sangat takut saat hari mulai berganti. Aku takut apa yang akan terjadi padaku dan Taetae-hyung esok. Aku sangat takut hyung.."

Yixing mengusap pelan punggung Jungkook. Ia pun melihat bayangan hitam menguar perlahan. Ia menggerakkan tangannya menyentuh bayangan hitam itu. Ia merasakan rasa pusing yang mendominasi kepalanya lalu melihat apa yang terjadi di balik bayangan hitam itu.

'Kumohon jangan sakiti Kim Taehyung appa.'

'Kau seharusnya mencintai perempuan! Bukan laki-laki!'

'Kumohon..'

'AAAKKH!'

Yixing membuka kedua matanya cepat lalu menghela nafasnya panjang. Ia pun mengusap punggung Jungkook sambil menghirup wewangian di surai hitam itu sekaligus menciumnya.

"Tetaplah di sisi Taehyung jangan pergi kemanapun."

"Apalagi pergi ke rumah."

Jungkook kaget. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali mencerna ucapan Yixing lalu memejamkan matanya rapat meloloskan bulir air mata.

"Aku tidak boleh tinggal bersama Taetae-hyung." ucap Jungkook pelan. "Jika aku memaksakan diri, Taetae-hyung... dia.. dia akan.."

"Cobalah bicara pada Taehyung, Jungkook-ah. Taehyung akan melindungimu."

Jungkook tak membalas apapun. Ia hanya memejamkan mata sembari menikmati usapan lembut di surainya. Ia bisa merasakan ketenangan di usapan lembut itu.

"Hei. Kau mendengarku tidak, hah? Dasar tidak sopan. Jika ada orang yang lebih tua berbicara, dengar. Bukan malah membuang muka seperti itu. Dasar a-"

Joonmyeon yang kesal melihat tingkah Taehyung membuang muka di saat berbicara, langsung memilih bungkam ketika melihat ke arah pandang Taehyung. Ia mengerjapkan mata bingung pada dua insan yang tengah saling mendekap itu. Setelah sekian menit otaknya mencerna kejadian yang dilihat, ia pun tersenyum teduh. Pemandangan dua insan ini membuatnya merasakan hatinya dihembus oleh angin yang sejuk. Apalagi melihat Yixing. Yixing terlihat sangat lembut dan keibuan. Ya ampun, pemandangan ini membuatnya makin jatuh cinta dengan Yixing.

"Haah.. calon istri dan ibu mertua." ucap Taehyung sambil tersenyum lebar.

Joonmyeon mengangguk. Pandangannya menangkap Yixing adalah seorang ibu dan Jungkook adalah seorang anak. Ia mulai berfantasi, ia adalah seorang ayah dan ini merupakan keluarga kecilnya.

Tunggu.

Tiba-tiba saja otak Junmyeon menangkap sesuatu yang mengganjal.

"Cih. Aku tak sudi menjadikanmu sebagai menantu." ucap Joonmyeon jijik.

Taehyung menatap tak suka ke arah Joonmyeon. "Bagaimanapun, aku adalah menantu. Suka maupun tidak suka, kau harus menerimanya Joonmyeon-sunbae."

"Karena.."

"Kookie adalah calon istriku." ucap Taehyung. "Bagaimanapun, aku harus menjadikan Kookie sebagai istriku." Taehyung pun mulai membara semangatnya. "Ah, aku jadi tidak sabar untuk cepat-cepat menikah dan melabeli Kookie."

"Terserah kau saja. Aku tidak peduli." ucap Joonmyeon malas.

Suasana menjadi hening. Hal itu yang membuat dahi Yixing mengernyit bingung kemudian membuka matanya. Ia pun terkekeh pelan ketika melihat kedua insan pendominan menaruh pandang ke arahnya -dan tentu saja Jungkook juga. Ia pun mengakhiri dekapannya, begitupula dengan Jungkook. Ia melihat Jungkook yang berusaha menghapus seluruh jejak air mata membasahi pipi. Ia mengangkat kedua tangannya pelan lalu membantu pemuda lugu itu menghapus air mata yang mengalir.

"Bicaralah pada Taehyung." ucap Yixing setengah berbisik.

Jungkook menatap Yixing. "Aku akan berusaha, hyung. Terima kasih banyak."

Yixing tersenyum. "Jangan pulang ke rumah. Ini yang paling penting untukmu, Jungkook-ah."

"Eum.. b-baik."

Yixing tersenyum simpul ketika melihat kekesalan Jungkook akan keusilan Taehyung yang tiba-tiba menutup mata dari belakang dan mencium pipi setelahnya. 'Mereka sangat lucu,' kagumnya.

"Sudah saatnya pulang." ucap Taehyung bersemangat yang diakhiri kekehan pelan. "Yixing-hyung kami pulang dulu ya. Cepat sembuh."

"Terima kasih Taehyung-ah." ucap Yixing. "Jungkook-ah juga, terima kasih banyak."

"Sama-sama, Yixing-hyung." ucap Jungkook sambil tersenyum sebagai balasan. Ia pun menghampiri Taehyung lalu menggenggam erat telapak tangan Taehyung juga menggandeng lengannya.

"Kami pulang dulu, Joonmyeon-sunbae. Besok masih ada rapat loh, jangan sampai lupa."

Joonmyeon berdecak. "Cepatlah pulang. Aku sudah kelampau muak melihatmu terus-terusan."

"Jangan muak. Berat. Nanti rindu loh." Taehyung terkekeh lalu langsung keluar ruangan ketika melihat Joonmyeon yang bersiap melemparnya dengan dompet.

"Yixing-hyung, cepat sembuh ya!" teriak Taehyung sebelum benar-benar menghilang dari ruang rawat.

"Hah, anak itu. Membuatku pusing saja." ucap Joonmyeon lelah.

Joonmyeon pun berjalan menghampiri Yixing. Sesampainya, ia pun mengusap surai hitam Yixing. "Istirahatlah." ucapnya lembut. Ia pun mengecup pelan bibir Yixing lalu diakhiri dengan mencium dalam dahinya.

Perlahan, Yixing memejamkan mata merasakan lebih dalam cumbuan Joonmyeon di keningnya. Ia pun berusaha menyapa alam mimpi ketika merasakan Joonmyeon tak mencium keningnya dan telapak tangan yang terasa kasar namun kuat itu mulai mengusap surai hitamnya.

Namun.

Entah mengapa, ia merasakan rasa takut yang dialami Jungkook.

Seolah-olah..

Hal yang ditakutkan Jungkook itu akan terjadi padanya.

...


"Aku sudah bilang berapa kali, Joonmyeon-ah. Aku sudah sehat dan aku ingin pulang. Aku rindu rumah kecilku." ucap Yixing.

Joonmyeon menggeleng. Membuat Yixing memanyunkan bibir mulai bertingkah imut, tau-tau Joonmyeon jadi meleleh dan memperbolehkannya pulang.

Ternyata. Joonmyeon tetap bersikukuh bahkan tak peduli dengan Yixing yang mulai berusaha semampunya bertingkah imut. Meskipun ia sedang mengemudi, jujur saja ia hampir banting setir ketika melihat dengan lirikan matanya tampang Yixing yang sedang mode imut itu. Untung saja, ia kuat iman dan konsentrasi. Jika tidak. Mungkin mobilnya sudah masuk jurang.

"Tidak. Zhang Yixing." ucap Joonmyeon tegas.

Yixing berdecak sebal. Ia pun langsung menatap ke arah luar jendela di sampingnya. "Aku membencimu."

Joonmyeon menghela nafasnya pelan. Tangan kirinya mulai menangkap tangan kanan Yixing yang bebas lalu menggenggam dan mengusapnya lembut.

"Aku serius Yixing."

Yixing menatap Joonmyeon yang berada di sampingnya. Lalu menatap tangannya yang digenggam Joonmyeon. Ia pun membalas balik genggaman Joonmyeon.

'Tidak apa, untuk mengantisipasi perasaan tak jelas yang tau-tau saja berubah menjadi kenyataan.'

"Baiklah." ucap Yixing mengalah.

Joonmyeon tersenyum simpul lalu kembali sibuk menaruh fokus pada kemudi.

Setelah sekitar tiga puluh menit berlalu, mobil BMW hitam itu telah sampai di perkarangan apartemen yang tampak elit dan mahal. Setelah memarkirkan kendaraan roda empat itu di basement, Joonmyeon dan Yixing memasuki bagian dalam apartemen dan mencari lift terdekat. Sesampainya di lift terdekat, mereka pun memasuki lift itu setelah menunggu sekian menit. Joonmyeon menekan tombol angka lima dan pintu lift pun tertutup.

Hening. Tidak ada satupun kata yang terlontar. Entah mengapa untuk kali ini, Joonmyeon dan Yixing sangat nyaman dengan keheningan.

Joonmyeon menatap Yixing sekilas lalu menggerakkan lengannya merangkul bahu Yixing dan membawa tubuh itu mendekat. Yixing kaget, ia menatap bingung pada Joonmyeon. Namun, tatapannya justru dibalas dengan senyuman tampan oleh sang sasaran. Mau tak mau, ia harus merelakan pipinya merona perlahan. Ia pun menyembunyikan wajahnya dari jangkauan pandang Joonmyeon dan lengannya bergerak perlahan mengikat pinggang Joonmyeon.

Pintu lift terbuka dan mereka meninggalkan kotak berjalan itu. Mereka pun berjalan beriringan menyusuri koridor lantai lima yang sepi itu. Langkah dua pasang kaki itu pun berhenti di depan sebuah pintu bercat cokelat yang bernomorkan 2205. Joonmyeon memasukkan kode pengaman di sebuah kotak yang melekat di dinding samping pintu. Sesudahnya, ia membuka pintu dan memasuki apartemennya diikuti oleh Yixing di belakang.

Yixing menutup pintu kemudian meluaskan tatapannya pada interior apartemen yang ditinggali Joonmyeon. Melihat berbagai perabotan yang disusun sedemikian rupa hingga menimbulkan kesan nyaman dan hangat. Ia pun mengikuti langkah Joonmyeon yang berjalan menuju kamar. Ia memasuki kamar dan mendapati Joonmyeon berbaring di kasur dengan tubuh menyamping. Ia melihat Joonmyeon menepuk bagian kosong di kasur itu sebagai tanda ajakan untuk tidur disana. Ia membuang mukanya ke samping. Ia tidak tahan dengan tampang mesum Joonmyeon yang terlihat menyebalkan hingga membuatnya bernafsu untuk menonjok wajah rupawan itu. Ia pun akhirnya mengambil tempat di samping Joonmyeon lalu memeluk tubuh kokoh itu dan membenamkan seluruh wajahnya di dada Joonmyeon.

Joonmyeon mengusap surai hitam Yixing sambil menciuminya sesekali. Ia pun mengambil ponselnya di saku celana lalu melihat jam yang tertera di layarnya setelah menekan tombol di sampingnya. Ia memeluk tubuh Yixing kemudian mengeratkannya.

"Sudah saatnya aku pergi ke kantor." ucap Joonmyeon lembut. Ia melepas pelukannya lalu mengecup pipi Yixing pelan. "Aku pergi dulu ya." ucapnya sambil mengusak surai hitam Yixing.

"Hm.. hati-hati."

"Tentu sayangku." ucap Joonmyeon sambil membelai pipi Yixing. Ia pun beranjak dari kasur kemudian berjalan meninggalkan kamar.

Yixing membuka kedua matanya kemudian bangkit menyandarkan punggungnya di headboard. Ia mengambil ponselnya di saku celana. Ia pun mencari kontak seseorang di ponsel itu dan menghubunginya.

"Halo Yixing-hyung?"

"Bagaimana keadaan Jungkook, Taehyung-ah."

"Dia baik-baik saja."

Yixing diam sejenak.

"Tetap awasi dia, kalau kau tidak ingin merasakan penyesalan terbesar di hidupmu."

"Tentu, hyung. Aku bahkan berusaha mengambil cuti untuk melindungi Kookie. Tapi tidak bisa, tiba-tiba saja ada kasus baru yang harus diurus."

Taehyung diam sejenak.

"Tapi aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku supaya aku bisa pulang lebih cepat. Kau tahu hyung? Aku sering menelpon Kookie tiap dua jam sekali."

Yixing terkekeh pelan. "Sampai segitunya ya."

"Aku memang merasakan akhir-akhir ini mood Kookie berubah. Aku pikir karena sebentar lagi ujian akhir. Ternyata bukan."

"Kau percaya apa yang kukatakan, kan?"

"Tentu saja aku percaya hyung. Aku tahu bagaimana keluarga Kookie. Apalagi ayahnya. Itulah alasan utama kenapa aku berpacaran dengan Kookie. Aku.. benar-benar ingin melindunginya. Terima kasih banyak telah memberitahuku, hyung. Dengan ini aku bisa lebih waspada mengawasi Kookie."

"Tentu, Taehyung-ah." ucap Yixing. "Jangan sampai lengah."

"Eum.. aku tutup ya hyung. Dah.."

Panggilan pun berhenti. Yixing langsung meletak kasar ponselnya ke sampingnya. Ia menidurkan tubuhnya lalu menaruh telapak tangannya di dahinya. Ia pun menarik kemudian menghela nafasnya kuat dan memejamkan mata sesudahnya.

'Perasaan ini kenapa semakin kuat? Sebenarnya apa yang akan terjadi?'

Yixing membuka matanya kemudian menatap langit-langit kamar.

"Joonmyeon-ah.."

...


"Aku pulang."

Joonmyeon menutup pintu apartemen yang ditempatinya. Sekejap, indra penciumannya menangkap aroma yang menyenangkan hingga menimbulkan deruan menggelitik di abdomennya. Segera ia berjalan menuju pusat aroma menyenangkan itu berasal. Ia melangkah ke dapur dan melihat sosok Yixing yang tengah menghidangkan beberapa jenis hidangan di atas meja makan.

"Selamat datang, Joonmyeon-ah."

Joonmyeon tersenyum. Ia pun menarik satu kursi lalu mendudukinya. "Setelah sekian lama, akhirnya ada yang menyambutku pulang dengan masakan yang terlihat sangat lezat."

Yixing terkekeh pelan. Ia pun mengambil tempat di seberang Joonmyeon. "Ini pertama kalinya, aku memasak untuk seseorang." ucapnya. "Dan akhirnya, aku tidak sendirian lagi saat makan malam."

Joonmyeon tertawa pelan lalu mengambil sendok dan sumpit bersamaan. "Selamat makan." ucapnya lalu menyantap hidangan yang dibuat Yixing.

"Wah, ternyata kau jago memasak ya." puji Joonmyeon setelah indra pengecapnya menangkap rasa enak dan lezat dari hidangan yang dibuat Yixing. "Makin cinta deh."

Yixing tersipu. Ia pun menundukkan sedikit kepalanya. "Terima kasih."

'Manisnya.' puji Joonmyeon dalam hati. Ia jadi bingung dan penasaran apa yang diidamkan oleh ibu Yixing sewaktu hamil. Kenapa bisa ibu Yixing melahirkan seorang putra yang manisnya lebih dari gula? Joonmyeon gemas sendiri dibuatnya. Ia jadi ingin cubit-cubit pipi yang merona itu.

"Terima kasih atas hidangannya." ucap Joonmyeon. Ia pun melihat Yixing yang tengah memandangnya dengan dagu bertumpu pada siku lengan.

"Kau tidak makan?"

Yixing menggeleng pelan.

"Kenapa tidak, hm? Nanti sakit loh."

"Sedang tidak berselera." ucap Yixing pelan.

Joonmyeon mengusak surai hitam Yixing. "Kalau sakit beneran, aku tidak mau bertanggungjawab."

Yixing tertawa pelan. "Iya. Iya. Aku akan makan. Tapi tidak sekarang."

"Baiklah. Baiklah. Hari ini aku mau mengalah." ucap Joonmyeon. "Aku sedang tidak ingin melihat sayang cantik dan manisku ini ngambek."

Seketika terdengar suara ponsel berdering. Segera, Joonmyeon mengambil ponselnya yang berada di saku celana. Ia melihat sebentar layarnya kemudian mendekatkan ke telinganya.

"Ada apa?"

"Sekarang?"

"Aku akan kesana."

Joonmyeon menjauhkan ponsel dari telinga dan meletaknya kembali ke saku celana. "Aku harus bersiap. Ada TKP yang harus diinvestigasi sekarang."

Yixing memandang Joonmyeon berdiri dan mulai beranjak dari dapur. Ia pun segera menyusul Joonmyeon dan melihat pemuda itu sedang mengenakan kaos kaki berwarna hitam. Tiba-tiba, maniknya pun menangkap keberadaan jaket hitam yang terhempas bebas di atas sofa lalu mengambilnya.

"Joonmyeon-ah, kau melupakan-"

Yixing terdiam melihat Joonmyeon yang sudah selesai mengenakan sepatu dan berdiri menghadapnya.

Bayangan hitam itu..

Sekarang ada di balik punggung Joommyeon.

"Yixing."

Yixing terperanjat. Ia pun berjalan pelan menghampiri Joonmyeon sembari memeluk erat jaket hitamnya.

"Kau melupakan jaketmu." ucap Yixing pelan. Ia pun memberi jaket hitam pada Joonmyeon.

"Terima kasih sayang." Joonmyeon mengambil jaket hitam miliknya dari genggaman Yixing lalu mengenakannya. Sesudahnya, ia mengusak surai hitam Yixing pelan, menempelkan dahinya di dahi Yixing, kemudian diakhiri dengan mengecup bibir ranum itu sebentar.

"Aku pergi dulu."

Baru saja Joonmyeon menggerakkan kakinya selangkah, lengannya ditahan oleh Yixing. Ia pun menatap bingung Yixing yang menggenggam lengannya dan kepala yang menunduk dalam.

"Jangan pergi." ucap Yixing pelan.

Joonmyeon tersenyum teduh. Diusapnya lembut pipi Yixing lalu menciumnya pelan. "Sayangnya aku harus pergi."

"Ku mohon jangan pergi, Joonmyeon-ah.. tetaplah disini..."

Joonmyeon menghela nafasnya pelan. Sejujurnya, ia sedikit bingung dengan tingkah Yixing yang satu ini.

"Bagaimanapun, aku harus datang investigasi TKP, Yixing-ah."

Yixing pun mengeratkan genggamannya pada lengan Joonmyeon. Manik hitamnya berkaca-kaca. Entah berapa lama kedua manik indah itu menahan benteng supaya air mata tidak meluap. "Kumohon tetaplah disini, Joonmyeon-ah." ucapnya lirih.

Joonmyeon tersenyum. Digenggamnya lembut telapak tangan Yixing yang mengikat lengannya kuat. Memberikan secercah keyakinan pada sosok manis yang sangat cemas di hadapannya ini.

"Aku akan menjaga diriku dengan sebaik mungkin, Yixing-ah. Jangan khawatir." ucap Joonmyeon meyakinkan. "Lagipula, aku harus menjalankan dan menyelesaikan tugasku sebagai detektif."

Yixing diam sembari menggigit bibir bawahnya. Ia tak mampu menanggapi ucapan Joonmyeon lantaran rasa cemas yang menghinggapi batinnya.

Sungguh.

Yixing melihat bayangan hitam itu di balik punggung Joonmyeon.

Dan sungguh.

Yixing masih ingin terus bersama Joonmyeon lebih lama lagi. Ia masih ingin merasakan kehangatan dan rasa cinta yang diberikan Joonmyeon lebih lama lagi.

"Percayalah padaku, sayang." Telapak tangan Joonmyeon bergerak perlahan ke pipi Yixing lalu mengusap pipi itu pelan nan lembut. "Aku akan menjaga diriku baik-baik."

Yixing mengangkat sedikit kepalanya yang menunduk. Ia pun menatap wajah Joonmyeon yang tengah tersenyum lembut. Kemudian tatapannya jatuh pada manik kuaci milik Joonmyeon demi mencari suatu kepastian dari ucapannya.

"Aku pasti kembali. Investigasi ini hanya memakan waktu paling banyak lima jam." ucap Joonmyeon. "Untukmu, aku bisa gesit menyelesaikan investigasi hari ini. Setidaknya, paling lama tiga jam."

Joonmyeon memandang Yixing yang menundukkan kepalanya perlahan. Ia mengusap perlahan pipi Yixing kemudian mendorong pelan dagu Yixing hingga ia bisa menatap dengan jelas manik hitam itu.

"Jangan khawatir, Yixing-ah."

Tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipi Yixing. Ia merasakan rasa sakit dan perih yang teramat pedih di dadanya. Sungguh, ia tidak ingin kelalaian yang sama terjadi. Kelalaian yang dimana ia membiarkan ayahnya pergi kemudian hilang dimakan kematian. Ia tidak ingin hal itu terjadi pada Joonmyeon. Satu-satunya sosok berharga yang ia punya sekarang ini.

Joonmyeon langsung meloloskan lengannya dari genggaman Yixing yang melemah secara tak sadar. Ia menempelkan telapak tangan yang tadinya dipenjarakan oleh genggaman Yixing di pipi tirus itu. Diusapnya kedua bagian pipi Yixing dengan jempolnya guna menghapus air mata yang tanpa dosanya membasahi pipi indah itu. Sekaligus, menenangkan batin Yixing yang sekarang tengah bergejolak.

Setelah dirasa keadaan Yixing cukup tenang, Joonmyeon pun mendekatkan wajahnya sambil memejamkan kedua matanya perlahan lalu menempelkan bibirnya di bibir ranum merah muda milik Yixing. Ia melumat perlahan bibir itu seraya memberikan ketenangan dan keyakinan pada diri Yixing yang sangat menghawatirkannya.

Yixing memejamkan matanya perlahan kemudian membalas tiap-tiap lumatan Joonmyeon di bibirnya. Ia memeluk pinggang Joonmyeon ketika merasakan tengkuknya di dorong. Ia membalas segala lumatan Joonmyeon hati-hati untuk merasakan perasaan yang disampaikan Joonmyeon melalui cumbuan ini.

Baik Joonmyeon dan Yixing, mereka menjauhkan bibir mereka perlahan lalu membuka masing-masing manik mereka.

"Aku pergi dulu." ucap Joonmyeon kemudian dilanjutkan mengecup singkat bibir Yixing lalu mencium pelan dahinya.

Yixing hanya diam tanpa tanggapan apapun. Ia mengangkat tangannya ketika Joonmyeon berjalan menjauh sambil melambaikan tangan. Ia pun menggigit bibir bawahnya sembari mengamati punggung Joonmyeon yang menjauh dari ruang lingkup pandangannya. Joonmyeon pun benar-benar menghilang dari ruang lingkup pandangannya dan rasa cemas langsung menghinggapi batinnga tanpa ampun.

"Kumohon lindungi Joonmyeon."

"Aku masih ingin bersamanya lebih lama lagi."

...


Sudah satu jam berlalu dan Yixing terus berjalan mondar-mandir sambil menggigiti jempol juga telunjuk sesekali.

"Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku lakukan?" ucap Yixing berulang kali.

"Aku harus melindungi Joonmyeon sebelum semuanya terlambat. Tapi aku tidak tahu apa yang harus dilakukan."

Tak sengaja Yixing melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sontak, ia langsung mengambilnya dan mencoba menghubungi seseorang lewat benda elektronik itu.

"Halo Taehyung-ah."

"Ne. Yi-"

"Jangan sebut namaku jika kau berada di dekat Joonmyeon."

Yixing mendengar suara setengah gaduh di ponselnya.

"Ne. Yixing-hyung. Ada apa?"

"Beritahu lokasi investigasi TKP-nya."

"Hah? Untuk apa hyung?"

Yixing menarik lalu menghela nafasnya pelan. "Aku ingin kesana."

"Maaf hyung. Warga sipil tidak diperbolehkan mengunjungi TKP kecuali wartawan."

"Ku mohon Taehyung-ah.. sekali ini saja. Sebelum semuanya terlambat, ku mohon.. beritahu aku lokasinya."

"Eh? Tunggu? Memangnya apa yang akan terjadi hyung?"

Yixing berusaha untuk menegarkan diri. Namun, entah mengapa terasa sangat sulit dilakukan.

"Ada sesuatu yang buruk akan terjadi pada Joonmyeon. Sebelum itu akan terjadi, aku harus mencegahnya." jelas Yixing. "Ku mohon, bantulah aku Taehyung-ah. Aku belum-bahkan-tidak-akan pernah siap kehilangan Joonmyeon."

"Astaga.. oke. Aku akan memberitahunya. Ng.. lokasinya.. duh, bagaimana menjelaskannya."

Yixing diam. Menunggu Taehyung untuk memperjelas ucapannya.

"Lokasinya, 48 km sebelum perbatasan Seoul. Di lantai tiga apartemen sederhana bercat putih yang terlihat sedikit suram."

Yixing mengernyitkan dahinya bingung. "Aku tidak mengerti. Kirimkan saja koordinat GPS-nya."

"Ah, iya juga. Aku kirim dulu."

Yixing mematikan panggilan dan menunggu pesan masuk dengan menggenggam kuat ponselnya.

Ding!

Akhirnya tiba satu pemberitahuan di ponselnya. Ia menekan pemberitahuan itu di layar ponsel dan terlihatlah link disana. Ia menekan link itu dan terbukalah aplikasi navigasi di ponselnya. Tanpa basa-basi, ia segera pergi meninggalkan apartemen.

...


Langkah kaki pun berhenti perlahan. Dengan nafas yang masih menggebu akibat berlari dari pemberhentian terakhir yang cukup jauh, ia melihat layar ponselnya memastikan bahwa lokasi yang ia pijaki ini pas. Ternyata pas, ia berada di tempat yang sesuai dengan titik di peta navigasi elektronik. Apartemen bercat putih yang dimaksud Taehyung itu berada di seberang jalan. Yixing pun mulai menunggu kehadiran Joonmyeon, Taehyung, dan aparat kepolisian yang lain.

Hampir setengah jam menunggu, manik kelam Yixing menangkap sosok Joonmyeon yang keluar dari apartemen. Kali ini, Joonmyeon tidak ditemani Taehyung sang patner kerja. Ia melihat Joonmyeon berjalan ke arah kanan. Segera, ia berjalan menyebrangi jalan dan mengikuti langkah Joonmyeon dengan perbedaan jarak sekitar dua setengah meter.

'Masih aman.' batin Yixing sembari melihat punggung kokoh itu berjalan santai melewati berbagai jenis bangunan juga manusia.

Yixing berlari ketika melihat Joonmyeon berlari menuju zebra cross. Ia melihat Joonmyeon memelankan langkah kakinya dan menyebrangi jalan dengan santai.

Kaki Yixing membeku.

Tatkala ia melihat lampu tanda untuk menyebrang berubah dari hijau menjadi merah.

Ketakutan mengguncang Yixing kuat ketika melihat sebuah mobil pengiriman barang yang melaju cepat menuju Joonmyeon dan akan menabrak kuat tubuh itu.

Jarak mobil dan Joonmyeon sudah hanpir mendekati sangat dekat. Yixing segera berlari mendekati Joonmyeon dan langsung mendorong kuat tubuh itu.

Yixing pun memejamkan mata. Sekejap tubuhnya merasakan sakit luar biasa akibat tumbukan yang sangat kuat dengan badan mobil.

Rasa sakit ini sungguh luar biasa.

Yixing sendiri tak sanggup untuk bertahan.

Dan akhirnya memilih untuk memejamkan matanya.

...


Joonmyeon tak percaya apa yang dilihatnya sekarang ini. Lagi. Ia kembali melihat tubuh Yixing yang tak sadarkan diri dengan darah di sekitarnya.

Jadi.

Alasan Yixing memohon padanya untuk tidak pergi ialah ini?

Jadi.

Akibat keegoisannya, Yixing datang untuk melindunginya?

Sontak Joonmyeon bangkit lalu langsung menghampiri tubuh Yixing yang terbujur tak berdaya dengan aliran darah membasahi.

"Yixing-ah, bangun." ucap Joonmyeon sambil mengguncang tubuh Yixing.

"Yixing-ah." Joonmyeon mengguncang kuat tubuh Yixing kemudian menampar pelan pipi Yixing.

Sayang sekali. Yixing tak bisa sadar atau sekedar bangun dalam keadaan lemah.

Joonmyeon menggeram dan buliran air mata pun bersiap untuk lolos. Ia mengangkat pelan tubuh Yixing lalu memeluknya erat. Bahkan sangat erat.

"Yixing... maaf..."

"Hikss.."

"Maafkan aku..."

...


"Joonmyeon-sunbae, ayo pulang." ucap Taehyung pelan sambil mengusap lembut punggung Joonmyeon.

"Yixing tidak punya keluarga disini. Jadi akulah yang harus menemaninya." ucap Joonmyeon. Suaranya terdengar serak dan tidak bertenaga sama sekali.

"Sunbae.."

"Pulanglah, jika ingin pulang. Aku tidak apa-apa."

Taehyung diam. Ia tidak tahu ingin berbuat apa.

"Kasihan Jungkook, bukannya besok dia masih ujian?" ucap Joonmyeon. "Lebih baik kalian pulang saja dan istirahatlah."

Taehyung menatap dalam Joonmyeon yang berada di sampingnya ini. Meskipun sedang menunduk, ia bisa melihat sorotan mata yang gelap dan hampa menyiratkan rasa sakit teramat dalam akibat kehilangan sosok berharga.

"Baiklah." ucap Taehyung. "Kalau begitu kami pulang dulu."

Taehyung memeluk sekilas namun dalam tubuh Joonmyeon yang setengah depresi itu kemudian berjalan menghampiri Jungkook yang berada di meja panjang barisan kedua. Sesampainya, ia mengusap punggung Jungkook yang terisak dan membawa tubuh itu ke dekapannya.

"Ayo kita pulang, Kookie."

Jungkook membalas dekapan Taehyung dan menangis sepuasnya disana. Setelah cukup tenang ia pun berdiri dibantu oleh Taehyung kemudian pergi meninggalkan funeral hall.

Sekarang tinggallah Joonmyeon sendiri di suatu ruangan yang sepi. Perlahan, ia mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk lalu menatap foto Yixing disana.

Untuk kali ini.

Joonmyeon sangat membenci senyuman manis Yixing.

Rasa sakit dan sesak kembali menyerangnya tanpa ampun melihat foto Yixing yang tersenyum manis. Senyuman manis itu terlihat sangat damai dan entah mengapa terasa sangat pahit bagi Joonmyeon.

"Aku tidak rela kau pergi begitu saja, Yixing-ah.."

"Ku mohon kembalilah padaku."

-end-