EPILOG
Kedua kelopak mata itu terbuka perlahan, menampakkan manik jernih berwarna hitam mutiara. Kelopak mata itu mengerjap pelan guna merealisasikan pikiran yang sempat ditarik ke alam bawah sadar. Sesudahnya, manik itu pun menerawang lurus ke langit gelap dengan kirana rembulan dan bintang-bintang berserakan yang memaparkan cahayanya. Di padang rumput yang luasnya tak hingga, pemuda itu tertidur telentang. Tubuhnya menghadap udara dan maniknya menatap dalam sang rembulan dan bintang-bintang.
Satu tetes air mata lolos dari pelupuk matanya dan jatuh perlahan.
Pemuda itu menutupkan mata, membiarkan satu-dua-tiga tetes air itu membebaskan diri dari tempat persembunyiannya. Pemuda itu lekas membuka matanya kembali. Ia pun menorehkan senyuman di wajahnya. Senyuman tulus yang tampak getir dan menampakkan perasaan sesak yang begitu nyata.
"Sudah cukup sampai disini tugasku." pemuda itu berkata.
"Setidaknya, aku yang dulu bisa merasa sedikit bahagia."
Pemuda itu kaget ketika ada seekor kelinci putih yang menghampirinya. Ia pun mendudukkan tubuhnya, kemudian mengangkat kelinci putih itu ke pangkuannya. Dielusnya bulu putih itu yang terasa sangat lembut di telapak tangannya. Setelahnya, ia mengangkat kelinci putih itu ke pelukannya. Ia membiarkan pipinya menyentuh bulu putih halus itu. Lagi, buliran air mata itu kembali jatuh dan kini membasahi pipinya.
"Aku sangat merindukanmu, Joonmyeon-ah.."
...
8 tahun kemudian.
"Yeee... akhirnya ke taman bunga ini lagi..."
Joonmyeon melepaskan genggamannya membiarkan anak lelaki berumur enam tahun berlari memasuki kawasan taman bunga lebih dalam. Senyumnya mengembang perlahan ketika melihat tingkah aktif anak itu yang berlari mengelilingi pohon besar di tengah taman.
Duk.
"Aduh!"
"Astaga.."
Joonmyeon masih berjalan santai menuju tempat anak kecil itu berada, meskipun anak kecil itu terjatuh dan perlahan ingin menangis. Kedua manik kuacinya menangkap seorang wanita cantik berlari tergopoh menuju anak kecil itu kemudian memeluknya telah sampai.
"Eomma.."
"Dasar nakal. Berlari-lari boleh, ceroboh jangan."
Joonmyeon berjongkok pada dua insan manusia yang saling berpeluk itu. Tangan kanannya terulur lalu mengusap lembut penuh kehati-hatian surai hitam itu.
"Lihat anakmu ini Joonmyeon, ceroboh sekali."
"Appa.. kaki Yixing sakit.."
Joonmyeon terkekeh. Ia pun meluruskan kaki anak kecil itu -sang buah hati pelan. "Bagian mana yang sakit, hm?"
"Sini." ucap anak kecil itu sembari menunjuk bagian dengkulnya.
Joonmyeon mengangkat celana panjang yang menutupi kaki mungil itu hingga di atas dengkul. Ia menghela nafasnya lega lantaran tak ada luka serius di kaki buah hatinya. Ia pun mendekatkan wajahnya kemudian mencium bagian yang ditunjuk buah hatinya tadi.
Anak itu tertawa geli akibat perlakuan Joonmyeon. "Appa, geli..."
Joonmyeon menjauh kemudian menatap sang buah hati sembari mengusap pipinya. "Apa masih terasa sakit?"
Anak itu menggeleng. "Tidak." ucapnya. Ia pun berdiri kemudian menerjang tubuh kokoh Joonmyeon hingga sang empu tidak mempunyai keseimbangan dan terduduk dibuatnya. "Terima kasih, appa. Appa memang malaikat penyembuh Yixing."
Joonmyeon tersenyum lembut. Ia pun mengeratkan ikatan lengannya pada tubuh kecil itu sambil memejamkan matanya perlahan. Memasukkan tubuh kecil itu ke dalam tubuh kokohnya guna merasakan kehangatan yang menyakitkan dari sebuah perasaan rindu teramat berlebih pada seseorang nun jauh disana. Ia membelai surai hitam itu dengan pipinya sembari menghirup aroma buah khas shampo anak-anak kemudian menciumnya sesekali.
Sang wanita yang berpredikat ibu dari anak laki-laki bernama Yixing -Kim Yixing lebih tepatnya-, juga istri dari Joonmyeon tersenyum simpul. Ia jadi gemas sendiri dengan interaksi suami dan anak yang erat sekali. Suaminya sungguh sangat mencintai dan menyayangi putra semata wayangnya.
"Yixing."
Anak itu -Kim Yixing beralih sejenak dari dekapan dalam Joonmyeon ke sang ibu. "Ne eomma?"
"Yixing tidak ingin ajak eomma berpelukan juga?"
Kim Yixing tersenyum lebar dan merentangkan tangan kirinya. "Ayo eomma ikut berpelukan juga.."
Sang ibu pun mendekat kemudian ikut acara berpelukan ayah dan anak itu. Mereka mulai menyatu dalam satu ikatan yang menyalurkan kehangatan dan kenyamanan dalam keluarga. Joonmyeon pun mencium pelan pucuk kepala sang istri.
'Meskipun aku sudah memiliki kehidupan baru, rasa rinduku ini masih terasa nyata.'
Joonmyeon mencium dalam kepala sang anak. 'Aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu.'
Angin berhembus, menerbangkan sedikit surai ketiga insan itu pelan. Joonmyeon mengangkat kepalanya pelan. Menatap pohon besar dengan kelopak berwarna merah muda itu berlomba meninggalkan rantingnya pelan. Sepertinya, musim gugur akan tiba sebentar lagi.
"Wah!" seru Kim Yixing. Ia berdiri lalu melompat-lompat berusaha menangkap kelopak bunga merah muda yang berguguran itu. "Appa, eomma lihat! Bunga yeongeun-nya berguguran!"
Joonmyeon menatap putra semata wayangnya yang terkagum melihat kelopak itu jatuh satu persatu. Senyuman terukir di wajah rupawannya ketika melihat putra semata wayangnya tersenyum bahagia di bawah pohon bunga yeongeun*. Putra semata wayangnya terlihat sangat indah dan bercahaya. Itu berhasil mengingatkannya pada seseorang yang sangat dirindukannya.
"Yixing aktif sekali ya." ucap sang istri. "Aku jadi penasaran bagaimana Yixing saat dewasa nanti."
"Yixing akan menjadi sosok yang manis, baik, dan sopan." ucap Joonmyeon. "Di saat Yixing telah menemukan keseriusannya, Yixing akan menjaganya dan melindunginya sebaik mungkin. Yixing akan menjadi sosok yang lembut dan penyayang."
Sang istri menyandarkan kepalanya di bahu Joonmyeon dan melingkarkan lengannya di pinggang Joonmyeon. "Diam-diam kau mempunyai bakat meramal ya."
"Aku tidak meramal." ucap Joonmyeon. Ia tersenyum lembut. "Ini harapanku untuk Yixing kita di masa depan nanti."
Joonmyeon menatap buah hatinya yang berjalan ke arahnya dengan tangan penuh dengan kelopak bunga yeongeun. Ia pun mengusap surai hitamnya ketika anak lelakinya duduk kemudian menyandar ke tubuh kokohnya.
'Aku jadi tidak sabar untuk menyelesaikan kehidupan baruku demi bertemu denganmu lagi.'
'Namun..'
'Kehadiran putra yang sama manisnya denganmu, membuatku berpikir ulang ketidaksabaranku itu.'
'Zhang Yixing. Tolong rengkuh dan peluk anakku. Jaga dia dengan sepenuh hatimu.'
'Jika bisa. Tolong hadir kembali di sisiku dengan wujud anakku ini.'
'Aku mencintaimu selalu..'
'Zhang Yixing.'
*Yeongeun = Cherry blossom
