"Yeol?"
"Chanyeol?!" Baekhyun mencoba lagi, kali ini lebih keras. Ia melepaskan stick game yang ia pegang untuk menepuk pundak pria yang satu kepala lebih tinggi darinya itu.
"Hm?" Chanyeol merespon dengan lambat. Matanya yang besar mengerjap-ngerjap. Namun tidak seperti Chanyeol biasanya dengan wajah jenakanya saat kebingungan, ada gurat kesedihan yang tidak berusaha ia sembunyikan, tidak di hadapan Baekhyun.
Menghela napas berat, Baekhyun meraih stick di tangan Chanyeol, yang bahkan hampir-hampir tidak ia gunakan, ia hanya memegangnya dan membiarkan Baekhyun menang lima kali berturut-turut tanpa mengatakan apa-apa. Sekarang tulisan game over terpampang jelas di layar televisi besar miliknya dan Baekhyun beranjak untuk mematikan TV berikut game console yang sedang mereka mainkan sebelum ia menarik tangan Chanyeol untuk membawanya bangkit duduk ke atas tempat tidur.
"Chanyeol yang benar saja!" Pria pendek (sebenarnya dia tidak sependek itu, sungguh! Hanya saja Chanyeol terlalu tinggi dan membuatnya terlihat seperti bangsa Hobbit!) itu memutar bolamata atas minimnya respon yang diberikan sahabatnya itu.
Jika itu orang lain, ia tidak akan mempermasalahkannya. Tapi ini Park Chanyeol! Park Chanyeol si Happy Virus. Park Chanyeol yang, apapun yang terjadi, ketika ada yang lucu, ketika ada yang memukulnya, ketika ada yang memalukan baginya, bahkan ketika ada yang membully-nya, ia akan tertawa. Park Chanyeol si Rich Teeth, yang senyumnya bisa meyinari seantero kota, dengan gigi-gigi putihnya yang berjejer rapi dan cemerlang seperti model komersial pasta gigi. Namun sekarang, semua itu menghilang, digantikan kerut samar di keningnya dan lengkung sedih bibirnya. Dan semua itu hanya karena satu orang, hanya karena satu wanita yang Baekhyun terlalu malas untuk mengingat namanya.
"Kau masih saja seperti ini karena si Sooyeon— Sooyong— Soo— ah apapun itu?!"
Mendengar nama itu, Chanyeol berkedip sekali lagi, dan matanya lebih fokus saat menatap Baekhyun sekilas, sebelum mengembalikannya ke pangkuannya lagi. Seolah takut Baekhyun dapat membaca pikirannya seperti yang pria kecil itu sering lalukan.
"Namanya Sooyoung," ia mengimbuhkan dengan pelan.
"Aku tidak peduli. Dengar, Chanyeol," Baekhyun menempatkan kedua tangan di kedua pundak pria itu untuk menatapnya lekat-lekat. "Dia itu tidak cocok untukmu, jadi biarkan saja dia pergi. Kau sendiri yang suka mengeluh padaku dia tidak suka musik yang kau suka, dia tidak suka bowling sepertimu, dan dia bahkan membenci binatang sementara kau, aku tahu waktu kecil kau membawa pulang seekor anak tikus karena kau pikir itu sangat imut sampai kau dipukul ibumu! Dia juga sering tidak mengerti gurauanmu dan menganggapnya terlalu serius...
"Aku tahu dia cantik, tinggi, langsing, dan dia ketua kelompok cheerleaders di sekolah. Tapi cantik bukan segalanya, kan? Kau perlu seseorang yang mengertimu... yang sepertimu, yang bisa berbagi hobi denganmu."
Sampai di situ, Baekhyun menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering. Dan tahu-tahu, melihat pada kedalaman mata Chanyeol yang menurutnya cantik dan bersinar, Baekhyun kehilangan kata-kata. Mendadak ia menjadi sangat gugup akan apa yang telah dan apa yang akan ia ucapkan. Demi Tuhan, bagaimana bisa ia melakukannya sejauh ini?! Ia seharusnya menyimpan perasaannya untuk dirinya sendiri. Namun kadang, perasaan itu terlalu meluap-luap, hingga ke detik ini, saat ini, dimana ia sudah tidak dapat menahannya seorang diri. Ia ingin melihat senyum Chanyeol kembali, dan ia ingin... menjadi alasan dibalik senyum seribu watt itu.
"Dan... tidak masalah 'kan apakah orang itu wanita atau... seorang pria?" tanyanya pelan.
Chanyeol mengerjap, kemudian lama sekali, keheningan adalah satu-satunya hal yang mengisi ruangan itu, kamar Chanyeol. Sepertinya, keidiotan pria tinggi itu kembali. Mendadak, semuanya menjadi canggung.
"Oh, lupakan. Omong-omong aku harus pulang! Ibu pasti merindukanku!"
Baekhyun nyaris mengernyit pada alasan yang ia karang dalam waktu sepersekian milidetik. Ibu merindukannya? Sejak kapan! Wanita itu pasti akan memarahinya lagi karena bermain terlalu lama dan lupa membelikannya tepung di supermarket. Namun karena Chanyeol sedikit... eh, idiot, pria itu diam saja dan mengangguk.
Cepat-cepat, Baekhyun mengemasi barangnya. Tidak banyak, hanya topi yang ia celupkan ke kepala bertulisn Supreme, topi yang Chanyeol berikan untuk hadiah ulang tahunnya dua tahun lalu. Lalu sebuah jaket kebesaran yang semula dibeli Chanyeol untuk dirinya sendiri namun karena Baekhyun tampak begitu menyukainya, ia juga dengan sukarela memberikan itu pada sahabatnya, dan itu menjelaskan ukurannya yang tidak begitu pas di badan kecil Baekhyun. Dan terakhir adalah tas ransel berisi selembar baju dan seperangkat alat menginap kalau-kalau mereka keasyikan bermain hingga lupa waktu seperti sebelum-sebelumnya.
"Dasar bodoh..." Baekhyun bergumam seraya menyelipkan diri melalui pintu kamar Chanyeol dan menutup pintu itu di belakangnya, meninggalkan Chanyeol yang masih diam di tempat tidur seperti kena stroke dadakan.
Malam itu, sudah hampir satu jam melewati tengah malam dan Baekhyun hanya sibuk berguling-guling ke sana kemari dan membuat berantakan seluruh tempat tidurnya. Ia tidak bisa tidur meski itulah yang ingin ia lakukan sejak kembali dari rumah Chanyeol sore itu.
Sialan Chanyeol! Apa yang sebenarnya ia lihat dari pria itu? Keluguannya? Senyum cerahnya? Lelucon-leluconnya yang absurd? Wajahnya yang aneh dan mata kirinya yang berkedut setiap ia tertawa? Jarinya yang lihai memetik gitar dan suara beratnya yang sedikit serak ketika ia membawakan lagu Radiohead? Hidungnya yang sempurna dan bibirnya yang seksi? Atau lengannya yang selalu membuat Baekhyun iri? (well, antara iri dan ingin berada di antaranya).
Sebenarnya, semuanya. Semua hingga hal terkecil yang idiot itu lakukan tak pernah gagal membuat Baekhyun jatuh hati, entah guna-guna apa yang ia lakukan, namun Chanyeol bahkan tidak pernah menyadari itu. Dia mulai berkencan dengan gadis tercantik di sekolah dan membangga-banggakannya, buta sama sekali bagaimana cemburunya Baekhyun, bagaimana hancurnya perasaan Baekhyun, bagaimana ia berharap terlahir menjadi seorang gadis, dan secantik gadis itu.
Dan sekarang, mengenang semua itu membuat pikiran Baekhyun bertambah runyam dan kantuk semakin menjauhkan diri darinya. Sepertinya tidak akan ada tidur nyenyak malam ini. Ia beranjak dari tempat tidur untuk mengambil sepasang headset berwarna biru langit (juga hadiah ulang tahun dari Chanyeol, damn it, semua hal yang Baekhyun miliki beraroma Chanyeol) di meja belajar dekat jendela saat ia mendengar bunyi berisik di luar. Perlu beberapa saat bagi Baekhyun untuk sadar bahwa seseorang tengah melempari jendela kamarnya dengan kerikil. Buru-buru ia membuka jendela, siap menyemprot siapapun orang udik dan mabuk yang menyerang rumahnya saat menemukan sosok mirip Chanyeol di bawah sana.
Tunggu! Itu memang Chanyeol!
"YAK! Apa yang kau lakukan di situ?!" Ia berbisik keras, ingin didengar pria di bawah sana namun juga takut membangunkan penghuni rumah yang lain ataupun tetangga-tetangga sekitar.
"Baekhyun! Turun ke sini cepat!" Chanyeol membalas disertai lambaian tangan.
Memutar bolamata hingga ke belakang kepalanya, Baekhyun cepat-cepat beranjak meninggalkan jendela, acuh apakah ia sudah menutupnya atau belum, dan berlari menuruni tangga sebelum mengendap-endap membuka pintu rumah dan berlarian ke pekarangan, dimana Chanyeol telah berhasil melompati pagar rumahnya.
"Yah! Idiot! Kau sedang apa tengah malam begini?! Bagaimana kalau kau dikira pencuri atau apa!" Ia tidak menunggu napasnya kembali normal agar dapat menyemprot Chanyeol, ia melakukannya di detik yang sama kakinya mencapai jarak terdekat dengan pria setinggi seratus delapan puluh lima senti itu.
Chanyeol hanya membalas dengan sebuah cengiran lebar khas miliknya, dan untuk sesaat, Baekhyun lupa untuk marah, lupa untuk bernapas, dan lupa alasan ia dilahirkan selain untuk melihat senyum itu. Ia hanya terlalu senang Chanyeol-nya telah kembali.
"Ikut sebentar," tambah pria tinggi itu lagi, tidak permisi saat menarik tangan Baekhyun sementara tangan lain menenteng gitar yang baru Baekhyun sadari ia bawa.
Mereka duduk di taman bermain di seberang rumah Baekhyun, di atas sepasang ayunan yang dulu, ketika mereka masih kecil, adalah salah satu mainan favorit mereka, dimana Chanyeol akan melayangkan Baekhyun yang ketakutan tinggi-tinggi. Baekhyun tidak pernah jatuh, karena Chanyeol akan selalu ada di sana untuk menangkapnya.
"Untuk apa kita malam-malam di sini?" Baekhyun celingukan, seolah memprediksi penjaga malam akan tahu-tahu muncul dari balik perosotan dan menciduk mereka saat itu juga.
"Hari ini jadwal pelajaran gitarmu, kau lupa? Kau harus berlatih keras suapaya mahir memainkannya, Hyunnie."
"Aku tahu, tapi demi Tuhan, ini tengah malam, Yeol! Kau sedang mengigau atau bagaimana?" Baekhyun mengerjap. Demi Tuhan ini aneh!
Dan senyuman Chanyeol berikutnya, meskipun tampan, ia juga menemukan itu aneh. Chanyeol, di sisi lain, tidak menggubris banyak. Ia hanya menaikkan gitar ke pangkuannya dan mulai memetik beberapa nada. Satu dua... satu dua... hingga terbentuk melodi. Alunan lembut yang sedikit demi sedikit semakin berirama.
Baekhyun mengenali lagu itu.
"Awalnya aku tidak tahu kenapa kau begitu menyukai lagu ini," Chanyeol memulai, matanya menatap fokus Baekhyun sedangkan jemarinya tidak berhenti bermain, seolah ia hafal lagu itu di luar kepala.
You're on the phone you're girlfriend she's upset
she's going off about something that you said
she doesn't know your humor like I do
Lagu itu berputar begitu saja di kepala Baekhyun. Ia ingat menyanyikannya keras-keras di kamar mandi di hari dimana si Sooyoung menyebalkan itu membuat Chanyeol berjalan pulang bersamanya dengan bahu lunglai. Baekhyun bertanya kenapa dan Chanyeol memberitahunya bahwa kekasihnya itu tersinggung oleh Chanyeol yang mencoba membuat lelucon tentang ulat gemuk.
"Kau menyanyikannya di kamar mandi."
I'm in my room typical Thursday night
listen to the kind of music she doesn't like
she never knows your story like I do
Di dunia ini, siapa yang tidak suka musik country? Baekhyun sangat suka, dan Chanyeol juga tertular olehnya. Well, gadis itu tidak. Dia tidak suka musik kebarat-baratan karena nilai bahasa inggrisnya sangat menyayat hati. Baekhyun diam-diam kasihan. Sooyoung tidak akan pernah tahu rasanya bepergian dengan jip ayah Chanyeol di subuh minggu ketika matahari belum terbit menuju luar kota dan menyanyikan lagu country keras-keras agar tidak tertidur, mendengar Chanyeol menyanyi dengan sepenuh hati pada lagu kesukaannya.
She wears short skirt I wear t-shirt
she's cheers capten and I'm on the bleachers
dreamin' about the day when you wake up and find that what you're looking for has been here the whole time
Sebagai salah satu pemain basket andalan, Chanyeol populer di antara para gadis, sehingga tidak mengherankan ketika akhirnya ia dapat berkencan dengan seorang kapten cheerleaders. Baekhyun dengan kemampuan olahraga yang minim hanya bisa duduk di kursi penonton dengan buku matematika di tangan (yang sebenarnya tidak pernah berhasil ia baca sebab perhatiannya akan sepenuhnya terpusat pada pemain basket paling jangkung dan paling tampan di lapangan sana a.k.a Park Chanyeol) dan bersorak di antara penonton. Chanyeol tidak melihatnya, tentu saja. Ia hanya melihat gadis tercantik dengan rok pendek bersorak ceria, pom-pom melambai-lambai di antara teman-temannya. Semua pria melakukannya, kecuali Baekhyun.
"Kau menyanyikannya ketika kau sendirian di kamarmu, tapi aku dapat mendengarnya."
If you could see that I'm the one who understands you
been here all along so why can't you see
you belong with me
you belong with me
Mereka tumbuh bersama, bermain bersama, saling membaca dan saling mengerti satu sama lain. Ketika Baekhyun tersesat karena ia buruk saat membaca arah, Chanyeol yang menemukannya, dan sejak itu akan selalu mengawal Baekhyun kemana-mana agar ia tidak akan pernah tersesat lagi. Saat Chanyeol anak-anak lain di sekolah mengerjai Chanyeol dengan seekor kucing Persia berbulu tebal, Baekhyun yang menerobos datang untuk menyelamatkan Chanyeol yang alergi terhadap bulu binatang. Saat Baekhyun keras kepala tidak ingin menuruti ibunya agar membawa payung, Chanyeol membawa sebuah payung besar dengan rajinnya, agar ketika hujan, ia dapat membawa Baekhyun pulang bersamanya. Saat Chanyeol menangis, Baekhyun yang akan ada di sana, sekedar menatapnya dengan senyuman atau bermain dengan telinga elf-nya yang akan selalu berhasil membuat Chanyeol tertawa.
"Bagaimana kau bisa tahu semua itu?" Baekhyun mengerutkan alis, jantungnya berdetak cepat hingga ia khawatir Chanyeol dapat mendengarnya.
Chanyeol terkekeh pelan. "Ini aku, Baekhyunnie. Kita adalah satu jiwa dengan dua tubuh, ingat?"
Lalu kenapa kau tidak bisa melihat kepada siapa seharusnya kamu memberi hati?
Alunan gitar masih mengisi dengan irama cepat sementara Chanyeol dan Baekhyun hanya saling terpaku satu sama lain, sebelum Baekhyun meraih gitar dari Chanyeol, memetik nada kemudian mulai membuka bibir dan menyanyikan liriknya.
Walk in the street with you and your worn out jeans
I can't help thinking this is how it ought to be
laughing on a park bench thinking to myself 'hey isn't this easy'
And you've got smile that could light up this whole town
I haven't since in awhile since she brought you down
so you've to know you're better than that
hey what're you doing with a girl like that
Baekhyun mencuri napas, dan merasakan darah berdesir di bawah vena-nya. Betapa ia merasakan adrenalin yang memukul-mukul dada, membuatnya semakin dan semakin berani untuk menyanyikan seluruh apa yang menjadi isi hatinya.
She wears high heels I wear sneaker
she's cheers capten and I'm on the bleacher
dreamin' bout the day when you wake up and find that what you're looking for
has been here the whole time
Permainan gitarnya mulai kacau, Baekhyun tahu. Dia bukanlah seorang pro dalam hal itu dan Chanyeol adalah seorang guru tersabar yang pernah ia kenal. Meski kadang ia juga akan mengomeli Baekhyun. Namun saat ini, sepertinya tak seorang pun dari mereka yang peduli dengan apakah seharusnya Baekhyun memainkan nada F atau G.
If you could see that I'm the one who understands you
been here all along so why can't you see
you belong with me
Standing by you in your back door
all this time how could you not now maybe
you belong with me
you belong with me
Ohh... I remember you driving to my house in the middle of the night
I know how to make you laugh when you know you're about to cry
I know your favorite song and you tell me about your dream
think I know where you belong think I know it's with me
Can't you see that I'm the one who understands you been here all along
so why can't you see
you belong with me
you belong with meee
Have you ever thought just maybe
you belong with me
Suara getaran senar masih terdengar beberapa milidetik sebelum redam dengan sendiri setelah Baekhyun mengakhiri nyanyian dan permainan gitarnya, atau lebih tepatnya, pengakuannya yang di luar perencanaan.
Chanyeol diam di sana, menatap mata Baekhyun lekat dengan ekspresi yang kali ini tidak dapat Baekhyun tafsirkan.
"Aku harap kamu ingat bahwa aku masih si idiot yang sama," Chanyeol berkata setelah detik-detik yang hanya di isi derik suara binatang malam dan desau lembut angin.
"Aku mungkin tidak dapat melihat, tapi aku juga pernah memikirkannya, sering malah. Aku hanya tidak berani berharap."
Ia meraih gitar di tangan Baekhyun, menurunkannya di antara mereka sebelum mendekatkan wajahnya pada pria yang lebih pendek itu, yang sekarang menggigit bibirnya gugup.
"That yes, I'm belong with you," tutupnya, seraya menyegel bibir Baekhyun, yang selalu mencuri perhatiannya entah sejak berapa lama, dengan miliknya.
Dan rasanya... rasanya seperti pulang ke rumah, ke tempat yang tempat dimana ia seharusnya berada.
End
