"Miracle in Your Eyes."
Chapter 2 : Siluet Abu-abu
By : Amanda Lactis
.
.
.
Naruto mengetukkan jarinya ke mejanya, berkali-kali, sampai mendapat delikan sebal dari sisi kanannya, Yamanaka Ino yang mencoba fokus namun gagal akibat suara bising yang dihasilkan Naruto. Sayangnya Naruto cuek, dia malah meluruskan pandangannya pada sosok yang sedari tadi mengikutinya, pria aneh yang tak jelas identitasnya. Manusia atau hantu. Naruto saja bingung. Saat ditanya pun, pria itu lebih memilih diam seribu bahasa tanpa satupun penjelasan terlontar dari bibirnya. Hikaru-san sampai mengusirnya agar Naruto mencari tahu apa yang sebenarnya diminta si pria asing tersebut.
"Ck, tatapan matanya seperti mau membunuhku saja, huh." Naruto mendumel kesal. Setengah hati mendengar penjelasan dosen yang menerangkan di depan kelas. Ino yang duduk di sampingnya, sejak minggu pertama kuliah, sampai mereka naik ke semester dua, sudah hafal mati kebiasaan Naruto. Bisa dikatakan, Ino sebelas dua belas dengan Naruto. Sifatnya cuek, tidak suka mencari ribut, dan tentunya Ino diberi sedikit hadiah dari Tuhan.
Kalau Naruto bisa melihat secara jelas dan bahkan masa lalu para hantu, maka Ino memiliki kepekaan terhadap mahluk astral. Dia bisa membedakan mana hantu baik dan jahat dari aura mereka. Cuman, Ino malas membeberkan kelebihannya itu. Takut dikira pamer oleh gerombolan Sakura, si gadis nyentrik pecinta warna pink, musuh dari golongan pecinta ketenangan sepertinya dan Naruto. Ngomong-ngomong soal gadis berjidat lebar itu, Ino memang benci dengannya, suka sekali mencari perhatian dari siapapun. Entah keturunan atau sifatnya dari lahir sudah begitu.
"Nar."
Naruto menoleh. "Apa?" sahutnya pendek.
Ino sedikit ragu, dia membasahi bibir bawahnya, "Di sebelahmu, ehem, ada sesuatu." Ujarnya sepelan mungkin. Dan tentu saja, seorang Naruto bukan jajaran mahasiswi teladan sampai mempertaruhkan hidup demi duduk di barisan depan.
Naruto mengangguk mengiyakan, dia membiarkan saja si hantu wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya sibuk melotot kearah Ino. "Dia terlihat menyeramkan, matanya hilang satu, wajahnya terbakar dan kakinya seperti dipotong. Bagaimana menurutmu?" Naruto membalas sedikit bercanda.
"Astaga, Nar, aku tidak tahu selera humormu nyaris mendekati angka minus."
"Tidak, tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin melampiaskan kekesalanku pada para hantu tidak tahu diri yang suka sekali mengganggu hidupku."
Ino tertawa kecil. Hubungannya dengan Naruto tidak bisa dikatakan dekat, namun dia tidak membenci gadis bersurai pirang itu. Naruto juga orangnya lebih pendiam, nyaman di dunianya sendiri, sampai-sampai Ino ingin menembus batasannya dan menjadi lebih dekat dengan Naruto.
"Pst, nanti aku mau ke Perpustakaan, mau ikut tidak?" Naruto menyenggol tangan Ino, yang ditanggapi antusias dari yang bersangkutan.
Mungkin Naruto punya cara sendiri untuk bersosialisasi?
"Omong-omong…"
Naruto menghentikan coretannya pada binder biru kesukaannya. "Ya?"
"…aku merasakan aura aneh saat kau masuk kelas tadi. Entahlah, bukan hantu, tapi bukan juga manusia. Kau paham maksudku?"
Bingo! Naruto bersorak dalam hati.
"Yamanaka Ino! Kau harus membantuku! Ne?"
Ino mengerjap bingung, tapi mengalah dan memilih mengikuti ucapan Naruto yang tidak jelas.
.
.
.
Fugaku sibuk mengurusi konferensi pers yang menginginkan agar Sasuke digantikan oleh kakaknya, Itachi. Fugaku sendiri ingin agar Itachi menggantikan Sasuke meski hanya sementara, tapi oh Tuhan putera sulungnya itu begitu keras kepala dan lebih menuruti kekasihnya, kalau tidak salah namanya Kyuubi, Fugaku tak begitu ingat.
"Uchiha-sama, saya yakin Itachi-sama akan menjalankan tugasnya dengan baik."
"Itu benar, akan bagus jika ia mau memimpin Uchiha Corp sampai Sasuke-sama sadar."
Kakashi yang sejak tadi berdiri di samping Fugaku, memandang satu persatu petinggi Perusahaan, mungkin saja ada yang bersembunyi di balik kedok mereka. Sampai saat ini pun, Kakashi masih ragu, siapa yang menyabotase mobil yang dikendarai Sasuke. Bisa saja orang dalam, bukankah tidk baik jika terlalu mempercayai seseorang?
"Akan aku pikirkan, dan Kakashi, hubungi Itachi sekarang. Katakan padanya, keadaan sudah mulai genting." Fugaku bangkit dan merapikan dasinya, keluar ruangan dan menyerahkan kepercayaannya pada Kakashi, berharap akan ada titik terang.
.
.
.
"Aku tidak mau."
"Saya mohon, Itachi-sama. Keadaannya tidak berpihak pada kami."
"Aku juga tidak peduli. Enak saja aku disuruh menggantikan Sasuke."
"Itachi-sama, saya minta anda berubah pikiran."
Yang disebut namanya berdecak, nyaris memutuskan sambungan telepon namun kekasihnya yang tadinya sedang bersantai justru penasaran dan bertanya lewat gerakan tangan.
"Siapa?"
Kyuubi mendapat gelengan dari Itachi. Mungkin nanti dia akan cerita, batin lelaki berusia dua puluh enam tahun tersebut. Toh Itachi tidak jago menjaga rahasia jika berhadapan dengannya. Nanti juga pasti bercerita sambil mengeluh betapa kolot ayahnya dan dia harus menjadi boneka demi meneruskan perusahaan. Kyuubi sudah hafal dengan sifat kekasihnya.
'Sedikit lagi.'
"Sasuke kecelakaan, kau tahu, ayahku ingin aku menggantikan posisi adikku. Betapa menyebalkan." Itachi menghampiri Kyuubi dan menyandarkan kepalanya di bahu Kyuubi, menyesap aroma kesukaannya sejak dulu.
Kyuubi tertawa geli, tangannya mengusap lembut surai gelap Itachi. "Besok kita ke Jepang, bagaimana? Aku rindu rumahku, Tachi."
Itachi berpikir sejenak. "Aku bisa saja menggantikan Sasuke, tapi ayolah Kyuu-chan, bekerja itu membosankan!"
"Yasudah kita putus saja."
"Apa?! Kenapa jadi kau yang marah? Hei Kyuu-chan mau kemana?"
"Berisik! Sana tidur di ruang tamu."
Kakashi tidak pernah merasakan hawa baik ketika Itachi membicarakan Kyuubi, tidak meski putera sulung Fugaku itu berceloteh betapa manis dan hebatnya kekasih yang berbeda tiga tahun di bawahnya itu, Kakashi sama sekali tidak peduli. Hanya saja, riwayat hidup Kyuubi tidak terlalu bagus. Dia kehilangan kedua orang tuanya dan menjadi penghuni panti asuhan selama sebelas tahun sebelum diadopsi oleh keluarga Haruno dan menjadi kakak tiri dari Haruno Sakura, gadis berambut pink nyentrik yang setahu Kakashi, sempat naksir Itachi saat gadis itu menginjak bangku SMA dulu.
'Tunggu sedikit lagi, Kaa-sama.' Kyuubi tersenyum saat melihat Itachi tertidur di sofa ruang tamu, senyumnya sedikit aneh.
.
.
.
Ino merasakan kepalanya mendadak pening saat Naruto menyeretnya paksa, menuju Perpustakaan yang jaraknya sangat jauh dari gedung Fakultas mereka. Tentu saja, Ino harus menahan diri untuk tidak meneriaki Naruto agar pelan-pelan mengingat suasana kampus sedang ramai saat jam makan siang.
"Ya Tuhan, Nar! Pelan-pelan, Perpustakaannya tidak akan lari kemana-mana!"
"Pstt! Aku harus menceritakanmu sesuatu Ino, toh kita tidak ada kelas sore ini-"
"-baka! Aku ada kelas Agama nanti sore, demi Tuhan Naru aku minta pelankan langkahmu!" seru Ino.
Naruto berhasil dikendalikan setelah akhirnya gadis itu berhenti mendadak. Seakan ingat sesuatu. "Oh iya, aku lupa jika kita tidak sekelas saat mata kuliah Agama. Gomen ne?" ia menyengir kaku. Sedangkan Ino mendengus.
Baiklah, sebenarnya Naruto bisa saja mengikuti jejak kedua orang tuanya yang menganut ajaram Shinto, atau keluarga kakek dan neneknya yang Katolik, tapi Naruto lebih suka untuk tidak terikat agama apapun. Jadi, saat kelas Agama, Naruto lebih condong ke Katolik karena selain mahasiswinya sedikit, dia bisa lebih mudah memahami materinya. Ino ada di kelas lain, lebih tepatnya gadis itu penganut ajaran Shinto. Kelasnya setiap hari Senin, jam empat sore sampai malam hari, pukul tujuh tepat.
"Apa benar rumor jika Perpustakaan lantai dua itu angker?" tanya Ino mencairkan suasana ketika mereka sampai di Perpustakaan lantai satu. Naruto terkekeh, dia memasukkan tasnya ke dalam loker setelah menitipkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) ke petugas Perpustakaan.
"Angker? Tidak, kok. Hantunya saja tampan, angker dari mananya?"
Ino memutar kedua bola matanya malas, dia merapikan kemeja toscanya sebelum mengekori Naruto naik ke lantai dua. Suasanya sepi. Tidak seramai lantai satu yang dipenuhi meja dan kursi serta stop kontak untuk mencharge laptop dan ponsel, para mahasiswa lebih suka di lantai satu karena mereka bisa bebas berkelompok tanpa bersempit-sempitan di sela rak-rak buku tua. Intinya, lebih banyak space di lantai satu. Alasan logis jika lantai dua lebih sepi, bukan?
"Ah! Hikaru-san! Konnichiwa!"
"Hai, Naru. Siapa itu? Temanmu? Aku kira kamu ansos dan introvert."
"Astaga jahatnya! Oh Ino, ini Hikaru-san, aku yakin kau bisa merasakan auranya, kan?"
Ino sedikit mengangguk, untuk pertama kalinya dia merasakan aura yang berbeda dari hantu lainnya. Sejuk, dan wanginya seperti bunga mawar.
"Dia tidak bisa melihatku? Tapi bisa merasakan auraku? Temanmu memang jauh dari kata biasa, eh?" Hikaru tersenyum, dia melayang menuju pojok ruangan, ditanggapi gelengan maklum dari Naruto.
"Duduk saja, Ino. Aku mau mencari buku untuk tugas makalah Biokimia minggu depan."
Ino hanya diam saja, dia duduk sambil memainkan ponselnya, hanya saja tak lama kemudian dia merasakan hal aneh. Lampu Perpustakaa berkedip-kedip, beberapa buku di depannya tampak bergeser, Ino menjatuhkan ponselnya tanpa sadar.
"Oya? Dia bisa melihat kita?"
"Eiiii, tidak mungkin! Hanya Naru-chan yang bisa melihat kita"
"Jadi rindu Naru-chan, dia kemana ya?"
Naruto datang dan menaikkan alisnya heran melihat Ino yang pucat pasi seolah melihat hantu menyeramkan. Tangannya sampai gemetar hebat, dan Naruto melirik ke sisi kiri, dia menghela nafas panjang.
"Kalian mengganggu temanku, kan?" suara Naruto terdengar begitu lelah menghadapi tiga hantu yang berdiri di samping Ino.
"Na-Naru, kau melihat sesuatu?"
Naruto mengendikkan bahu cuek, dia menggeser kursi dan mendudukkan diri di dekat Ino, tangannya terangkat seakan mengusir tiga hantu usil junior Hikaru, yang hobby menampakkan diri di depannya sejak tahun pertama kuliah.
"Hantu nya ada yang usil, maklum ya? Kau takut?"
Ino menggeleng, menghilangkan ketakutan di hatinya. "Lalu di sana ada siapa?" dia menunjuk ragu sepuluh meter di belakang Naruto. Gadis itu mengerjap polos, dia menolehkan kepalanya dan terkejut melihat lelaki bermanik onyx kemarin datang kembali.
"Kau mengenalku?"
"Oh bagaimana aku bisa mengenal ribuan hantu yang mengganggu hidupku selama bertahun-tahun?" lirih Naruto sarkas, mengabaikan hantu asing itu dan pura-pura tidak merasakan hawa dingin pada bagian belakang tengkuknya.
"Kau harus menolongku."
"Auh, tiba-tiba dingin sekali ya, Ino?" Naruto menggosok-gosokkan telapak tangannya kaku.
"Apa maksudmu? Pendingin ruangannya kan rusak sejak kemarin."
To Be Continued
Note : Halo! Saya balik lagi! Mumpung libur jadi saya update! Selama menikmati weekend readers-tachi~! Btw, saya dapat inspirasi ini bukan dari film Goblin atau Hwayugi, tapi emang pengalaman saya sendiri, haha~~! Saya kan biasa ngampus sampe malem, belum lagi rapat organisasi sampe jam 9 malem, jadi suka liat yang aneh-aneh pas nglewatin gedung kampus. Duh, tapi saya gak sebaik Naruto yang ngajakin para hantu ngomong, saya lebih suka curhat sama kucing lewat! Lucu sih! Hehe! *plak* Itu aja ya, updatenya saya cari waktu lagi, dua minggu lagi saya udah UTS soalnya.
Regards,
Amanda Lactis
