"Sudah baikan Baek" Luhan bertanya setelah memberikan segelas teh manis kepada sepupunya
"Hm" Baekhyun sudah tidak menangis lagi namun hatinya seperti diremas karena masih belum merelakan Sehunnya
"Ayo kita jalan - jalan" Luhan mengusulkan hal tersebut untuk menghilang stres karena seupunya bagaikan kesurupan
"Baiklah" Baekhyun menerima ajakan tersebut karena dirinya juga tidak mau terlalu larut dalam kesedihan karena Sehunnya sudah menjadi milik sepupunya
Luhan mengajak semuanya untuk jalan - jalan sekaligus membuat penat karena mereka juga merasa bosan jika berada dimansion aja.
"Sehun" Baekhyun memanggil Sehun yang sibuk fokus menyetir sedangkan Luhan berjaga - jaga takut Sehunnya kenapa - napa
"Apa Baek?" Sehun menjawab sekedar namun perhatiannya masih fokus kedepan menyetir
"Tolong kau jaga Luhan dengan baik, kalau kau menyakitinya maka siap - siap saja kau akan kami siksa" Baekhyun merelakan Sehun bersama Luhan namun dirinya masih harus lebih over protective pada Luhannya yang selama ini banyak disakiti termasuk kedua orang tuanya sendiri
"Tentu Baek, Aku akan menjaga Luhan dengan semampuku" Sehun senang karena pada akhirnya Baekhyun merelakannya begitu juga dengan Luhan yang tidak menyangka jika Baekhyun sangat perhatian dan baik padanya
"Kita minum bubble tea saja" Baekhyun mengusulkan minuman tersebut karena dia biasanya meminum itu jika sedang stres atau ada masalah
"Baiklah" Sehun mengarahkan mobilnya menuju tempat jual bubble tea dekat sekolah sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang tanpa komplain
Setelah sampai dikedai bubble tea, Baekhyun memesan sebanyak dua puluh satu gelas bubble tea, satu rasa taro dan sisanya rasa coklat.
"Kau gila Baek, itu banyak sekali" Luhan mengomel karena memang sepupunya sangat gila sampai memesan dua puluh satu gelas
"Aku minum sebelas gelas karena hatiku sedang galau Lu" Baekhyun menceritakan kebiasaannya ketika sedang ada masalah sedangkan Luhan dan yang lainnya hanya menggeleng - geleng kepala karena apa yang dilakukan Baekhyun sangat tidak baik
"Sudahlah" Sehun melerai karena takut Luhan dan Baekhyun akan bertengkar karena masalah pesanan Baekhyun yang kelebihan
Setelah pesanan datang Baekhyun mengambilnya dan meminumnya dengan satu tegukan bagaikan meminum soju.
"Ada - ada saja kau Baek" Luhan berbicara dalam hati karena melihat tingkah konyol sepupunya yang dalam masalah, namun Luhan tidak berani memarahi Baekhyun karena dirinya lah penyebab Baekhyun seperti ini
"Lu" Sehun menepuk punggung Luhan untuk memberikan keyakinan bahwa Baekhyun akan baik - baik saja dengan caranya sendiri
"Hm" Luhan mengerti dan mengangguk kemudian mereka semua melanjutkan meminum bubble tea kesukaan mereka
..
..
..
"Bye Baek" Luhan mengantar Baekhyun pulang dengan mobil Baekhyun sedangka yang lainnya mengikuti dari belakang
"Hati - hati Lu, dan berbahagia lah bersama Sehun"
"Pasti" Luhan baru kali ini merasakan indahnya hidup ketika bersama Sehun dan Ibu Sehun
Drtt... Drtt..
"Hallo Bu" Sehun mengangkat telepon dari ibunya sedangkan Luhan yang baru naik kedalam mobil setelah mengantar Baekhyun masuk kedalam rumah merasa terkejut karena Sehun menelepon Ibunya
"Nak, kalian sedang dimana. Ibu mau memberikan makanan kepada kalian" Ibu Sehun berbicara dengan semangat karena dirinya ingin memberikan banyak makanan ringan pada anak - anaknya
"Kami lagi dijalan bu" Sehun menatap Luhan dengan pandangan bertanya sedangkan Luhan yang tidak mengerti apa - apa langsung mengambil handphone Sehun
"Hallo Bu, ini Luhan" Luhan mengambil ahli karena dari raut wajah kekasihnya bisa dipastikan bahwa ingin meminta persetujuan namun dirinya masih belum tahu apa yang ingin dikatakan
"Nak, Ibu ingin kalian kemari karena Ibu memasak makanan ringan lebih untuk kalian" Ibu Sehun tersenyum karena yang berbicara padanya adalah putri angkatnya yang dirindukannya
"Baiklah bu" Luhan sangat bahagia karena Ibu Sehun sangat sayang kepada mereka walaupun makanan yang diberikan harganya tidak mahal namun lihat bentuk kasih sayang yang diberikan bukan dari harga makanan tersebut
"Ibu tunggu ya nak"
"Baik Bu, Lulu tutup ya teleponnya" Luhan senang karena walaupun Ibu Sehun bukan ibunya namun rasanya seperti memiliki Ibu sendiri dan kemungkinan nanti akan menjadi Ibu mertuanya
"Ayo kerumah ibumu Hun" Luhan sudah semangat karena akan bertemu dengan Ibu Sehun
"Baik" Sehun tidak bisa menolak permintaan kekasihnya
Setelah memakan waktu selama lima belas menit, mereka sampai didepan rumah Sehun yang terlihat sangat sepi.
"Ibu" Luhan mengetuk pintu sambil memanggil Ibu Sehun
CLECK
"Mari masuk nak" Ibu Sehun berlari dengan terburu - buru karena terlalu senang dan semangat sedangkan Luhan dan Sehun jalan bergandengan tangan serta yang lainnya mengekor dibelakang Sehun
"Ini ada untuk kalian" Ibu Sehun memberikan emping asin untuk anak - anaknya karena porsi yang dimasaknya sangat berlebihan untuk dijual
"Terima kasih Bu" Luhan menerimanya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menggengam tangan Sehun
"Sehun, lepaskan tangamu dari Luhan. Dasar anak nakal" Ibu Sehun mengira anaknya Sehun berbuat tindakan yang tidak sopan pada majikannya
"Ibu, jangan seperti itu" Luhan mencoba untuk membela Sehun
"Itu tidak sopan Lu" Ibu Sehun masih saja memarahi anaknya karena tidak menjunjung tinggi kehormatan
"Bu, kami baru saja jadian" Sehun memberitahu sedangkan Ibu Sehun mengorek telinganya karena takut salah mendengar apa yang dikatakan anaknya
"Kalian dengar apa yang dikatakannya?" Ibu Sehun bertanya pada Kris cs sekaligus menunjuk anaknya sebagai objek
"Ibu, kami sudah sah menjadi sepasang kekasih" Luhan menjelaskan dengan lembut karena dia tahu bahwa Ibu Sehun sangat terkejut dan tidak menyangka
"Benarkah?" Ibu Sehun merasa senang namun satu sisi merasa takut juga
"Iya Bu" Luhan mengangguk meyakinkan
"Tapi apa kedua orang tuamu setuju nak, karena kami bukan golongan atas" Ibu Sehun paling takut karena anaknya bukan dari golongan orang kaya
"Ibu tidak boleh seperti itu. Lagian Sehun adalah sumber kebahagianku dan dia mengajariku cara menghargai hidup, jika orang tuaku tidak setuju maka lebih baik kami mati bersama"
"Luhan, jangan berbicara seperti itu" Ibu Sehun memarahi putri angkatnya yang sembarangan bicara
"Sudah - sudah, Ibu ayo kita masak bersama. Aku ingin makan masakan Ibu lagi" Luhan sebelumnya sudah berbelanja ke supermarket untuk membeli bahan belanjaan sekalian untuk makan malam
"Baiklah" Ibu Sehun dengan senang hati memasakan untuk anak - anaknya
Luhan dan Ibu Sehun sibuk memasak sedangakn Sehun cs sibuk membawa barang - barang belanjaan mereka kedapur Ibu Sehun yang kecil.
"Banyak sekali nak" Ibu Sehun terkejut karena banyak sekali bahan makanan yang dibeli
"Tidak Bu, ini untuk kebutuhan kita semua termasuk Ibu" Luhan belanja banyak karena ingin Ibunya makan sehat disini
"Tapi ini terlalu banyak nak" Ibu Sehun yang sudah sangat ahli memasak bisa menebak kalau bahan makanan yang dimbeli Luhan sangat banyak
"Lagian kalau kami main - main kesini agar tidak membawa bahan makanan lagi Bu" setelah memberikan alasan yang jelas baru Ibu Sehun tidak mengomeli anaknya
"Ayo masak bu" Luhan dan Ibu Sehun menghabiskan waktu selama tiga puluh menit untuk memasak Nasi goreng karena itu adalah andalan Luhan
"Hm.. Harumnya" Sehun yang mengambil minum kedapur merasa sangat tergoda karena harumnya masakan Luhan dan Ibunya
"Kekasihmu yang memasak nak, nanti kalau dia jadi istrimu kau akan makan enak setiap hari" Ibu Sehun menggoda anaknya dan putrinya yang malu karena ucapannya
"Ibu" Sehun malu dan menegur ibunya
"Kau emangnya mau makan nasi goreng setiap hari?" Luhan bertanya pada Sehun yang merona
"Tidak apa asal itu buatanmu" Sehun mengatakannya dengan malu karena pipinya sudah memerah
"Yang iya aku tidak mau masak nasi goreng setiap hari" Luhan mengatakannya sambil membagi nasi goreng kedalam beberapa porsi sesuai dengan jumlah mereka
"Kenapa?" Sehun dan Ibu Sehun heran kenapa Luhan tidak mau memasak nasi goreng setiap hari
"Karena kalau makan terlalu banyak bisa panas dalam dan suara bisa hilang" Luhan mengatakannya dengan santai sedangkan Sehun dan Ibunya baru ingat kalau makan yang berminyak itu tidak bagus
"Baiklah" Sehun paham dengan maksud Luhan
"Kalau begitu tolong panggilkan yang lain biar kita makan bersama diatas lantai saja" Luhan menyuruh Sehun untuk memanggil yang lain untuk makan bersama dilantai karena meja Ibu Sehun sangat kecil dan cukup untuk dua orang
Setelah memanggil yang lainnya Luhan memberikan satu persatu piring yang sudah diisinya nasi goreng dalam jumlah besar.
"Wah, harumnya" Kris memuji makanan tersebut padahal biasanya Kris jarang memberikan komentar apakah makanan itu enak atau tidak enak
"Benar" yang lain menimpali setuju
"Ayo makan" Luhan dan yang lainnya makan bersama dengan nikmat sedangkan Ibu Sehun tersenyum karena senang memiliki menantu yang cantik, baik dan sangat banyak kelebihannya
"Kalian taruh aja disitu nanti biar Ibu yang cuci" Ibu Sehun menyuruh anak - anaknya untuk meletakkan piring dilantai saja
"Tidak, kalian cuci masing - masing termasuk Sehun dan diriku sendiri" Luhan mengatakannya dengan tegas karena tidak mungkin menyusahkan orang lain. Satu persatu mereka mencuci piring hingga gilirannya yang terakhir
"Ibu mana piring Ibu, biar Luhan yang cuci" Luhan mengambil piring Ibu Sehun yang diatas paha sang Ibu
"Tidak nak biar Ibu saja" namun tangan Luhan sudah mengambil piring tersebut sedangkan Ibu Sehun tidak bisa berbuat apa - apa lagi
Luhan pergi kedapur dan mencuci piringnya dengan sang Ibu sedangkan yang lainnya menonton televisi didepan. Setelah selesai Luhan kembali dan terkejut karena Sehun cs makan kripik sambil menonton.
"Bu, apa Ibu tidak rugi karena memberikan kami kripik terus - terusan" Luhan takut karena mereka Ibu Sehun tidak mendapatkan laba dan akhirnya Ibu Sehun makan apa adanya
"Tidak apa nak" Ibu Sehun meyakinkan anaknya bahwa semua akan baik - baik saja
"Ibu, ini uang untuk biaya kripiknya dan kapan - kapan jika Ibu ada waktu tolong buatkan sebanyak dua kilo untuk kami" Luhan menyerahkan uang dalam jumlah besar untuk biaya kripik tersebut
"Ibu akan buatkan tetapi uang ini tidak perlu nak" Ibu Sehun tidak mungkin menerima uang tersebut
"Sudahlah Bu, Ibu terima saja anggap biaya kripik yang dua kilo itu" Luhan memaksa dan menyodorkan uang tersebut ketangan sang Ibu
"Baiklah, terima kasih nak" Ibu Sehun tidak bisa menolak jika sudah dipaksa sehingga lebih baik menerimanya saja
"Kita kapan pulang?" Sehun bertanya karena hari sudah gelap dan mau hujan
"Sekarang saja, Bu kami pamit dulu ya" Luhan dan yang lainnya pamit untuk pulang karena sudah mau hujan sedangkan Ibu Sehun yang tadinya merasa senang namun harus terpaksa merelakan semua anaknya untuk kembali karena sudah mau hujan
"Baiklah, Bye" Ibu Sehun dan yang lainnya saling melambai dan ketika mobil mereka sudah menghilang Ibu Sehun merasa sangat bahagia karena memiliki calon menantu sepetti Luhan yang sangat sempurna
~TBC~
