Ternyata saya berhasil membodohi kalian, muhehehe. Walaupun aku sering typo, aku nggak akan salah kok kalo nulis nama. Anyway makasih untuk yang sudah meninggalkan review, fav ataupun follow. Ini hadiah special buat kalian.


Sequel: Unspoken

2017 (c) tryss

.

Park Woojin X Ahn Hyungseob

JINSEOB

.

.


Hyungseob percaya pada perasaannya.


.

.

Aku percaya, suatu keajaiban lahir untuk melahirkan keajaiban yang lain. Hari itu, dimana aku kembali membuka mataku dari koma, aku melihat ibuku yang duduk di sofa sambil membaca koran. Wajahnya terlihat letih dan menua, namun begitu aku memanggil namanya lirih, ia segera mendekatiku. Ia tersenyum dengan air mata yang berurai sambil menggenggam tanganku.

Ingin sekali rasanya menceritakan petualanganku sebagai Park Jihoon tapi aku merasa enggan. Menyimpannya sendiri terasa lebih baik. Bagaimanapun juga, jika aku mengingat hariku sebagai Park Jihoon, maka kenangan tentang Park Woojin akan menerpaku. Dan aku tidak ingin itu terjadi. Bisa mengingat namanya saja sudah suatu kelegaan yang luar biasa. Setidaknya, jatuh cinta pada Woojin merupakan kenangan terbaik yang kumiliki disisa waktuku yang terbilang pendek ini.

Penyakit yang kuderita semakin memburuk, aku tidak yakin akan hidup sampai menemui Woojin lagi. Sekiranya, aku berpikir seperti itu dulu. Namun Dokter selalu bilang, saat kau mengharapkan sesuatu, akan ada saatnya Tuhan memberikan apa yang kau harapkan. Jadi, dengan tidak tahu dirinya, aku berharap untuk bisa hidup normal dan sehat.

Hanya itu.

Aku tidak sekalipun berharap bertemu Woojin. Ya, walaupun aku juga ingin menemui pemuda itu. Tapi daripada menemui Woojin, bukankah harusnya aku menemui Jihoon lebih dulu?

Karena harapanku yang besar, aku juga harus berkorban banyak. Terapi yang awalnya kujalani setengah hati, kini kulakukan tanpa beban. Memang menyakitkan tapi aku yakin aku bisa.

Kemudian, pada suatu hari yang sedikit mendung, Ibu mendatangi kamar rawat inapku dengan senyum cerah. Maka dari itu, aku bertanya,'Ibu dapat gaji besar?'

'Tidak. Ini bahkan jauh lebih berharga dari gaji ibu.'

'Haruskah aku menebak?'

Ibu terkekeh pelan,'Untuk apa menebak? Kau bahkan sudah tahu.'

Serius, saat itu aku tidak tahu apapun. Memangnya aku tahu apa? Semenjak bangun dari koma, yang bisa kulakukan hanya tidur di ranjang rumah sakit.

Ibu berujar,'Dokter menyatakan kalau kau sudah membaik. Kau bisa pulang dan melakukan aktivitas normal yang ringan.'

Tubuhku membeku. Novel yang kupegang jatuh ke pangkuan saat Ibu menarikku ke dalam sebuah pelukan erat. Sambil saling memeluk, kami menangis bahagia.

Rasanya kembali ke rumah sendiri setelah berbulan-bulan tidur di ranjang rumah sakit adalah hal paling membahagiakan. Tepat di hari yang sama juga, seorang tamu datang ke rumah. Ibu sedang memasak, jadi aku yang membukakan pintu. Wajahnya begitu familiar—tidak, aku begitu kenal dengan wajah itu. Apalagi senyum menggemaskannya.

"Hai, Hyungseob."

Sungguh, aku menangis begitu mendengar suaranya. Tangannya menyentuh pundakku, menarikku ke dalam pelukan ringan,"Kenapa menangis? Kau harusnya tersenyum."

"Bagaimana bisa aku tidak menangis kalau aku bisa bertemu denganmu di dunia nyata."

Aku mendorongnya pelan hingga pelukan kami terlepas dan menariknya duduk di kursi teras. Hujan sudah mulai turun sejak aku membukakan pintu untuk Jihoon. Ibu keluar, membawakan beberapa camilan dan selimut untuk kami. Rasanya begitu menyenangkan bisa duduk bersama Jihoon sambil menikmati hujan.

"Bagaimana caranya kau tahu rumahku dan datang kesini tepat di hari aku keluar dari rumah sakit?" Tanyaku.

Jihoon menoleh, tangannya menggengam secangkir coklat hangat dan biskuit,"Sekilas rasanya seperti mimpi dan deja vu. Tiba-tiba saja aku seperti ingat dimana rumahmu, kebiasaanmu, makanan kesukaanmu. Semua tentangmu, aku bisa ingat,"Jihoon tertawa lirih,"padahal kita sebenarnya tidak saling kenal."

Aku ikut tertawa,"Aku juga—"

"Kau juga?" Matanya membulat lucu.

"Aku jelas tahu rumahmu karena aku menggunakan tubuhmu, tapi rasanya aku merasa begitu dekat denganmu. Aku bahkan pernah melihat apa yang kau lakukan di saat tertentu. Seperti lapisan tipis yang mengambang samar-samar di depan mataku."

"M-menakjubkan—oh, iya! Bukannya kau suka seseorang?"

Seketika, aku merasa begitu malu,"J-jangan membahas itu. Aku malu."

"Aku mungkin bisa membantu mempertemukan kalian."

"Harusnya kau sudah melihatnya. Kita bertukar persis seperti permintaanku waktu itu."

"Iya aku tahu tapi, ingatanku hanya bertahan sampai aku pulang ke rumah. Besoknya aku tidak mengingat apapun tentang hari itu. Aku sudah mencoba berkali-kali, bahkan sampai datang ke seorang ahli hipnotis untuk mengembalikan ingatanku tapi, tetap tidak berhasil. Dia bilang, ada kerusakan memori cukup parah pada hari itu."

Kuraih tangan Jihoon ke dalam genggaman,"Kalau begitu jangan diingat. Biarkan itu jadi kenanganku sendiri—"

"TIDAK BISA!"

"Jihoon~ Kumohon, dia mungkin lebih menyukaimu daripada aku. I-ini semua bukan hal yang dapat diterima masyarakat umum. Mana ada yang mau percaya kita sudah bertukar tubuh? Cukup biar jadi rahasia kita saja. Aku sudah bahagia bisa kembali sehat dan bertemu denganmu."

Sejak hari itu, aku merasa terlengkapi. Jihoon berubah menjadi teman dekatku, bukan, aku lebih merasa kami jadi seperti saudara tanpa hubungab darah. Kami mengerti satu sama lain dengan baik dan saling menjaga.

Keinginanku untuk bertemu Jihoon menjadi kenyataan dan itu sudah cukup. Aku tidak ingin berharap bisa bertemu Park Woojin. Ia terlampau tinggi untuk kugapai.

Sampai setahun kemudian, aku benar-benar merasa begitu sehat. Dalam kurun waktu setahun itu juga, aku mengejar pelajaran yang tertinggal. Aku harus kuliah, bekerja, membahagiakan ibuku dan membanggakan ayah yang ada disana. Sudah cukup aku membiarkan Ibu kesepian selama aku koma.

Jihoon sekarang tinggal bersama kami. Saat itu orang tuanya mengajaknya pindah ke Daegu tapi dia tidak ingin meninggalkan Seoul. Dia bilang, terlalu banyak kenangan di Seoul sampai tidak ingin pergi. Berhubung rumah kami tersisa satu kamar kosong dan Jihoon sudah menjadi teman terbaikku, aku menawari Jihoon untuk tinggal serumah. Orang tuanya sempat menolak tapi giliran Ibuku yang bicara, mereka segera setuju.

Tidak terlalu banyak yang aku lakukan selama setahun belakangan. Dan itulah masalahnya. Terlalu banyak waktu luang dapat memenuhi kepalaku dengan pikiran yang tidak-tidak. Contohnya, mencari Woojin.

Sudah sering aku memikirkannya tapi berkat Jihoon—yang selalu menawariku mencari orang yang kusukai—intensitas pikiran itu semakin besar. Menolak ataupun menyetujuinya tidak menjadi pilihanku. Aku akan tetap diam, enggan menggeleng ataupun mengangguk. Lagipula, apa gunanya kalau aku bertemu dengan Woojin? Dia—mungkin saja—sudah punya kekasih. Apalagi saat seseorang sudah kuliah, kemungkinan untuk memiliki kekasih jauh lebih besar. Ketakutanku terhadap Park Woojin yang memiliki kekasih begitu besar, namun aku juga tidak berbuat suatu hal yang dapat mempertahankan masa menjomblo Woojin.

Rasanya asing sekali mengingat dulu kami pernah sangat dekat. Sedekat itu sampai warga sekolah menjuluki kami pasangan terpopuler padahal pacaran saja tidak. Namun sekarang, untuk berpapasanpun kami tidak sama sekali.

Suatu sore, saat aku dan Jihoon punya waktu luang, kami pergi ke cafe. Ada Bae Jinyoung—kekasih Jihoon sejak mereka tingkat akhir. Mereka bertemu di stasiun bawah tanah dengan begitu manis. Aku saja sampai berharap masih bisa bertukar tubuh lagi dengan Jihoon. Sungguh, sosok Bae Jinyoung begitu sempurna. Dia tampan, penyayang dan perhatian. Jihoon terlihat sangat bahagia saat bersama Jinyoung.

Lalu ada—ehem—Kang Daniel, kakak tingkat yang membinaku dan Jihoon saat ospek.

Please, aku tidak ingin menjelaskan Daniel sunbae terlalu banyak atau nantinya malah jatuh terlalu dalam padanya. Dia baik dan peduli kepada banyak orang. Semua orang pasti merasa special saat bersama Daniel sunbae, karena itu aku tidak ingin berharap banyak.

Jihoon sempat bilang bahwa Daniel sunbae menunjukkan ketertarikan padaku tapi, seseorang selalu muncul memenuhi kepalaku sesaat setelah aku memutuskan untuk menerima eksistensi Daniel sunbae. Selalu begitu.

Tidakkah Park Woojin begitu kejam?

Dia bahkan tidak berada di sekitarku (mungkin juga tidak tahu bahwa aku hidup dunia) tapi, kenapa namanya selalu merekat dalam ingatanku? Membayangiku dengan kenangan-kenangan kami di masa lampau.

Bukankah itu namanya kejam?

Sudah setahun lebih aku seperti ini, jelas aku ingin menyerah. Aku ingin berhenti terus memikirkan pemuda bergingsul itu tapi, dia sepertinya tidak ingin membuatku berhenti memikirkannya.

Malamnya aku mendatangi kamar Jihoon dan berbaring di sebelahnya. Kukira dia sudah tidur sebelum dia menanyakan keadaanku tanpa membuka mata,"Ada yang mengganggumu?"

"Park Woojin."

Aku sudah lelah. Woojin terus menghantuiku dan Jihoon harus tahu ini.

Jihoon membuka mata, mimik wajahnya kaget sambil memandangku tidak percaya,"Jangan bilang...," Aku membiarkan Jihoon mengutarakan tebakannya,"dia yang kau sukai selama ini."

Aku tidak menjawab, tidak juga menyanggah.

"Park Woojin, wakil kedisiplinan itu, kan?"

Aku diam namun tetap mengangguk.

"Kau harusnya bilang dari awal, aku bisa menolongmu—"

"Dia—" suaraku tersangkut ditenggorokan, aku takut,"Dia pasti tidak menyukaiku tapi, kau."

Jihoon menghela nafasnya,"HEH! DIA BODOH KALAU TIDAK MENYUKAIMU! Daniel sunbae yang disukai banyak orang saja tergila-gila padamu, apalagi Woojin,"

"Sudah, ayo tidur saja."

Dia pasti mengerti bahwa aku tidak ingin mendengarnya mengomel. Aku bahkan masih sempat mendengar gumaman dan dengusan kesalnya sebelum jatuh tertidur.


Tidak ada yang lebih mengesalkan daripada mendapat jadwal kuliah pagi padahal harusnya aku masih bisa tidur sampai pukul sepuluh nanti. Terkutuklah dosen yang seenak perut buncitnya itu mengganti jadwal. Aku kesal sekali!

Terlalu banyak tenaga yang kugunakan untuk membuka lokerku sampai pemilik loker sebelah berjengit kaget. Aku sempat melihat tubuhnya melonjak kecil tapi, masa bodoh. Dosen buncit itu telah mendidihkan darahku.

Aku merasakan pergerakan dari pemuda pemilik loker sebelah kiriku. Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Aku memang pernah bertemu dengan Kim Taedong, pemilik loker sebelah kananku. Kami satu jurusan dan sering bertemu tapi, tidak dengan pemuda ini. Mungkin jadwal kami sangat kontras sehingga tidak sempat bertatap wajah satu kalipun. Jadi, sebelum kesempatanku menyapanya tinggal kenangan, aku berbalik sambil menutup lokerku juga.

Namun bukan ini yang aku inginkan. Aku jelas merindukan pemuda ini tapi, tidak dengan pertemuan semacam ini. Aku... belum siap.

"W-woojin?"

Kenapa harus sekarang?

"Siapa?" Tanyanya.

Aku terlalu ragu untuk menjawab tapi, tidak yakin pula jika harus diam saja.

"Aku," Ibu, Jihoonie, tolong aku,"Hy-hyungseob. Ahn Hyungseob."

Yang aku tahu, ketika Woojin mengurungku dalam pelukan eratnya, aku merasa bahwa memang seharusnya pelukan itu untukku. Hangat, sama seperti dahulu kala. Gumaman bahagia menggerakkanku untuk memeluknya tak kalah erat.

Rasanya..., masih seperti dulu.


FIN