Chapter 2 – End of Banquet
Perjamuan yang manis diakhiri dengan sebuah panah yang dilontarkan, tanda lonceng awal tahun berbunyi sebagai pertanda bahaya yang akan datang
.
Sword and Shield Arc
.
Pasca melewatkan tahun baru bersama keluarga mereka masing-masing, diadakan rapat kelima suku lebih kepada formalitas untuk memberi laporan tentang keadaan tiap suku masing-masing serta memberi ucapan selamat tahun baru pada raja sehingga rapat ini diakhiri dengan sebuah perjamuan.
Ini bukan sesuatu yang harus dijalani Tae Woo dengan senang hati, jika saja Mundok tak datang bersamanya dan menyuruhnya bertahan di acara yang menurutnya membosankan ini. Jika ada sesuatu yang bisa menghiburnya, hanya satu hal.
"dari tadi pasang wajah cemberut terus, nanti keberuntungan tahun baru lari, lho".
Mendengar komentar yang datang dari putri jenderal suku air, ia tak menggubrisnya dan pergi dari perjamuan yang membosankan itu. Merasa tak senang karena diacuhkan, Lily menyusul Tae Woo dan keduanya bicara di luar. Joon Gi dan Mundok yang menyadari sosok keduanya tak ada di ruang perjamuan, segera mencari mereka berdua meski di tengah jalan, mereka tak sengaja berpapasan dengan Soo Won dan Geun Tae yang bercengkrama bersama Joo Doh dan Kyo Ga yang ikut bergabung dengan mereka untuk mencari keduanya, mereka lalu menemukan keduanya di luar. Tae Woo duduk di pagar sambil memegangi sebelah kakinya, menatap langit malam yang terasa begitu dingin sementara Lily berada di sampingnya, bertopang dagu sambil ikut menatap langit meski sesekali pandangannya ia alihkan pada jenderal muda suku angin.
Lily meniup kedua tangannya "pastinya berat bagimu...".
"apanya?".
"yah, mengingat kau yang seusiaku harus menjadi jenderal suku angin".
"sejak awal juga aku tidak mau, karena bagiku ini merepotkan... tapi jenderal tiap suku selalu dipilih berdasarkan kemampuan mereka yaitu prajurit terkuat di sukunya".
"bukankah itu berarti kau yang paling kuat di sukumu?".
"bukan aku, orang itu masih jauh lebih kuat".
"kalau kau mengalahkan jenderal sebelum kau, otomatis kau akan menjadi jenderal... kau tak ingin menjadi jenderal tapi kau selalu menantangnya meski kau selalu kalah?".
Tae Woo hampir terjungkal dari tempat duduknya "dengar dari...".
"tangan kananmu".
"Han Dae sialan..." gerutu Tae Woo merenggangkan jari jemari tangannya yang membentuk kepalan tangan, menghela napas dan menatap langit "aku ingin menang darinya, aku ingin dia mengakuiku, bahwa aku telah melampauinya... tapi orang yang kuakui sebagai satu-satunya pemimpin kami berkata padaku... kupercayakan suku angin padamu... apa ini bukan curang namanya, jika aku berusaha mati-matian mengejarnya sekuat tenaga tapi dia malah pergi terlalu jauh meninggalkanku sebelum aku bisa melampauinya?".
"sedikit banyak, aku mengerti itu... ditinggalkan begitu saja tanpa sempat menyampaikan apa yang kau inginkan darinya, rasanya jadi seperti cinta bertepuk sebelah tangan saja..." ujar Lily menghela napas sebelum tertawa geli.
"kalau anda, sudah ditolak sejak awal, kan?" ujar Tae Woo terkekeh, ia sudah tahu kalau Lily bertepuk sebelah tangan dengan Geun Tae.
"itu bukan urusanmu!?" pekik Lily menoleh ke arah Tae Woo.
Detik berikutnya, Tae Woo memakaikan syalnya pada Lily, meminta Lily memakainya karena Lily sempat bersin tadi.
"maafkan kata-kataku yang kasar, nona Lily..." ujar Tae Woo membungkukkan tubuh sebelum berjalan melalui Lily "selamat malam...".
"aku benar-benar tak mengerti dengan laki-laki itu..." gumam Lily menghembuskan napasnya pada kedua tangannya yang memegang erat syal Tae Woo, melihat punggung Tae Woo yang berjalan menjauhinya.
"tapi dari yang saya lihat sepertinya anda selalu menikmati saat yang anda lewatkan bersama jenderal Tae Woo, nona Lily" komentar Tetora yang ada disitu dari tadi.
"benar" angguk Ayura.
"kalian salah paham?!" pekik Lily.
Sementara itu, para pengintip mereka...
"ah, masa muda..." gumam Geun Tae menyeringai melihat adegan barusan, sementara Mundok terlihat berpikir serius karena perasaan mereka yang rumit, sama seperti Joon Gi.
Keesokan harinya, para jenderal yang berniat pulang ke wilayah masing-masing, sebelum pergi tentu saja mereka pamit pada Soo Won, tapi tak terlihat dimana Tae Woo dan Lily (lagi). Tak jauh dari gerbang depan di lorong istana, Tae Woo yang tak berniat beramah-ramah pada Soo Won sejak awal mengingat sudah ada Mundok, memutuskan untuk menunggu saja di dekat gerbang. Saat itulah Lily menghampirinya dan menyerahkan sebuah kantung kain berisi teh herbal untuk Tae Yeon.
"itu bisa membantu melancarkan pernapasan dan menjaga tubuh tetap hangat, musim dingin begini pasti sulit bagi Tae Yeon, kan? meski aku tak tahu apa itu perlu kuberikan atau tidak, tapi karena aku agak cemas padanya...".
Tentu Tae Woo berterima kasih pada Lily, reaksi yang tak diduga Lily adalah saat Tae Woo tersenyum padanya mengingat ini masih di kastil Hiryuu. Bukan senyum sinis, senyum simpul atau senyuman palsu seperti semalam, tapi senyuman yang tulus yang ia lihat saat Tae Woo ada di dekat teman-temannya di Fuuga. Ia mengerti kenapa Tae Woo selalu bersikap dingin dan terlihat cemberut saat di kastil Hiryuu, tapi ia lebih senang melihat Tae Woo tersenyum dan ceria seperti saat ia bersama teman-temannya di Fuuga.
"jangan terlalu khawatir... mereka pasti baik-baik saja, dan aku percaya kau pasti bisa menjadi jenderal yang baik... lalu, bukankah masih ada cara lain jika kau ingin diakuinya? bagaimana jika kau balas kepercayaannya, buktikan kalau kau bisa jadi jenderal yang lebih baik darinya, yang berarti kau berhasil melampauinya dalam satu hal".
Menyadari Lily berusaha menghiburnya, Tae Woo tersenyum lebar dan berterima kasih pada Lily. Setelah Lily mengembalikan syalnya, ia pamit pada Tae Woo karena ia juga akan pulang bersama An Joon Gi hari ini. Tiba-tiba, setelah melihat ke satu titik, pupil mata Tae Woo melebar, saat inilah para jenderal lain yang ingin pulang datang bersama Soo Won yang ingin melepas kepergian mereka.
"nona Lily?!".
Lily berhenti, menoleh ke arah Tae Woo dan dibuat terkejut saat Tae Woo menarik tangannya dan mendekapnya ke dadanya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menangkap anak panah yang hampir mengenai Lily jika saja ia tak menangkap Lily barusan. Lily yang melihat anak panah itu terbelalak, untuk sesaat dunia terasa berhenti saat Tae Woo jatuh sambil mendekapnya dan menghantam lantai sehingga Mundok bersama para jenderal dan Soo Won berlari menghampiri mereka berdua.
"disana?!" ujar Tae Woo menunjuk ke atap dekat gerbang istana, bayangan seorang penyerang yang berani melakukan aksinya siang-siang itu menghilang.
Sementara para prajurit yang diperintahkan Joo Doh mengejar penyerang itu, Mundok duduk di samping Tae Woo untuk memeriksa keadaannya. Setelah Tae Woo meyakinkan kalau ia tak apa-apa, ia menyadari Lily tak bergerak sama sekali sejak tadi, mungkin karena shock. Lily yang memegangi lengan Tae Woo terlihat masih terkejut.
Tae Woo memegang kedua bahunya dan membantunya duduk "nona Lily, kau tak terluka?".
Lily menyadari satu hal setelah apa yang ia lihat barusan, lalu menarik telapak tangan kanan Tae Woo yang berdarah "justru kau yang terluka?!".
Melihat darah di telapak tangannya, Tae Woo menjilatnya "hanya tergores".
"duh, pokoknya obati saja dulu" pinta Lily meminta Tae Woo mengobati luka di tangannya.
Tentu saja Tae Woo yang merasa ini hanya luka kecil, tak menggubrisnya "dibandingkan luka akibat digembleng tetua Mundok, ini tak ada apa-apanya".
Menyerah, Lily mengeluarkan sapu tangannya dan membalutkan sapu tangannya ke tangan kanan Tae Woo sebagai pengganti perban "tak perlu mengembalikannya... anggap saja sebagai sedikit terima kasihku atas pertolonganmu barusan".
Tae Woo hanya tersenyum simpul "terima kasih".
Melihat punggung Tae Woo dari kejauhan, Lily kembali merasakan hal yang sama, ia merasa punggung itu begitu tegap meski terlihat lebih kecil dari yang ia kira, rasa kesepian terpancar dari punggung itu, terlihat dari sorot mata dan senyum simpul yang ia dapatkan sesekali dari Tae Woo, membuatnya merasa Tae Woo yang berada di dekatnya terasa begitu jauh.
Pikirannya teralihkan pada siapa pelaku penyerangan barusan. Panah tadi bahkan tak memiliki surat, tapi menurut Mundok, panah itu bukan dari kerajaan Kouka karena bentuknya yang tak biasa. Sayangnya Mundok tak terlalu ingat darimana asalnya tapi ia akan mengabari Soo Won dan yang lain jika ia sudah ingat darimana panah itu berasal.
Sementara itu, Tae Woo yang dalam perjalanan pulang merasa lega, ia tak pernah merasa senang berada di kastil Hiryuu setelah Hak pergi meninggalkan suku angin dan melepaskan gelar 'jenderal' padanya, sama seperti apa yang ia rasakan tiap kali berada di samping Soo Won, raja Kouka saat ini. Ia mengerti kalau itu karena sebagian hati kanak-kanaknya merasa kalau orang yang ia anggap kakaknya meninggalkannya akibat ulah pria itu, otaknya mengerti situasi yang terjadi tapi hatinya tak menyukai itu. Setiap kali ia berada di kastil Hiryuu dan tiap kali ia harus berada di dekat pria itu, ia merasa sesak dan dingin karena harus menahan perasaannya, seperti ditenggelamkan ke dasar laut dalam yang gelap gulita. Hanya setelah Lily kadang-kadang ikut bersama ayahnya dan sering bertemu dengannya, setidaknya ia mendapat cahaya di dasar laut itu karena ia tahu, masih ada teman seperjuangan di sampingnya.
Diam-diam Tae Woo menatap telapak tangannya yang dibalut sapu tangan Lily "masih terasa hangat...".
.
OC Profile
.
Name : Yasmine Dilwale Mira
Age : 17 tahun
Brithday : 9 Juni
Relationshiop :
Adik kandung Hak dan Leila
Putri kandung Ulla (ayah) dan Maya (ibu)
Keponakan yang diadopsi Azurite (raja Gujarat) dan Setia (permaisuri raja Gujarat)
Cucu angkat Son Mundok dan kakak angkat Tae Yeon
(raja kerajaan Gujarat sebelumnya, yaitu Azurite memiliki satu permaisuri dan satu selir. Dari permaisurinya, Setia, Azurite memiliki seorang putri bernama Tara (putri ketiga). Dari selirnya, Tiara, Azurite memiliki 5 putri bernama Tatiana (putri kedua), si kembar identik Anna (putri ke-4) dan Tasya (putri ke-5), terakhir si kembar non identik Nagine (putri ke-6) dan Nadine (putri ke-7). Mereka berenam menjadi adik angkat Yasmine setelah Yasmine diadopsi oleh Azurite dan Setia dan namanya diganti menjadi Yatalia. Azurite mengangkatnya sebagai anak karena istrinya Setia mengalami keguguran pada kehamilan pertama dan mengira mereka tak dapat memiliki anak lagi dari Setia sehingga Azurite meminta Maya, ibu kandung Yasmine yang merupakan kakak kembarnya untuk mengadopsi Yasmine yang kebetulan lahir di waktu yang berdekatan dengan putri pertama mereka yang telah meninggal sebagai pengganti putri mereka sehingga Yasmine dibesarkan sebagai putri kerajaan Gujarat dengan nama Yatalia dan karena ia yang paling tua, ia menjadi putri sulung).
Appearance :
Rambut putih lurus selutut
Warna kulit putih pucat seperti salju
Bola mata berbentuk mata kucing berwarna hijau, mata heterochroma (mata beda warna) yang unik, mata kanan berwarna hijau muda rerumputan dan mata kiri berwarna hijau permata Jade, terdapat tatto kupu-kupu Ageha di sekitar mata kiri
Tinggi badan 160 cm
Memiliki tanda lahir berupa bunga yang besar di dada, tanda bunga melati yang menjadi asal mula namanya, Yasmine
Memiliki tatto harimau putih di pinggul serta tatto ular hitam di punggung
Perban biasa melilit kedua kaki dan tangannya untuk menutupi tatto mata satu di telapak tangan kanan dan kirinya serta tatto bunga di punggung kaki dan tangannya, juga tatto daun dari sulur yang menjalar dari tatto bunga dan mata yang terlihat seolah melilit kedua kaki dan tangannya.
Lehernya biasa ditutupi dengan syal hitam renda bunga-bunga.
