Chapter 3 – Disaster
Bencana alam selalu datang tanpa diundang dan tak bisa diduga sama halnya hati seseorang
.
Nomaden Arc
.
Setelah mendengar laporan dari Keishuk, Joo Doh mengira-ngira apa yang dipikirkan tuannya saat ini. Setelah semua pencapaian yang didapat Soo Won hingga saat ini, kekuatan kerajaan Kouka meningkat pesat sehingga kerajaan Kouka kini bisa setara dengan Kekaisaran Kai. Soo Won tentu sudah memperhitungkan ini, tapi masih ada satu hal yang ia khawatirkan.
"bagaimana dengan pergerakan kerajaan Gujarat?".
Masih belum ada kabar sejak terakhir kali Bihan mengirimkan pesan berupa peringatan tentang buronan dari kerajaan Gujarat di awal musim dingin. Ini sudah akhir musim dingin. Tiba-tiba, seorang prajurit datang dengan tergopoh-gopoh bersama kurir kilat dari suku api.
Setelah kejadian sinyal palsu dari suku api akibat perbuatan Leila (sebenarnya perbuatan Yona) Soo Won telah mengantisipasi hal ini dengan meminta Kyo Ga dan Tae Jun mengirimkan pesan secara langsung padanya lewat kurir kilat jika keadaan mendesak.
Kurir kilat tersebut membawa kabar langsung dari jenderal suku api, Kan Kyo Ga bahwa ada invasi dari Kekaisaran Kai Utara.
"Li Hazara memilih melanggar perjanjian?" ujar Joo Doh geram.
Soo Won menurunkan surat yang ia terima "tidak, bukan Li Hazara... tapi kaum nomaden".
Kekaisaran Kai Utara telah runtuh. Kaum nomaden berhasil mengambil alih Kekaisaran. Para kepala keluarga kemiliteran yang memegang wilayah tertentu dibungkam, meskipun sebagian juga bekerja sama dan bersedia tunduk pada kekuatan kaum nomaden. Dan kini, apa yang telah membuat kaum nomaden yang dikenal sebagai kaum yang hidup bebas tanpa terikat oleh suatu daerah dan bangsa manapun malah membuat keonaran dengan meruntuhkan pemerintahan dalam negeri dan berniat menyerang kerajaan lain?
.
Setibanya di wilayah suku api, ketika Soo Won ingin meminta penjelasan mengenai kondisi di wilayah suku api saat ini, Tae Jun menjelaskan bahwa Kyo Ga jatuh dari jurang ketika sedang bertarung melawan ketua nomaden, Aruma Igarashi. Awalnya, sambil membawa pasukannya masing-masing, jenderal suku api Kan Kyo Ga dan ketua tertinggi nomaden Aruma Igarashi berhadapan satu sama lain dan bernegosiasi, bahwa kaum nomaden akan menarik mundur para pasukannya jika satu permintaan mereka dipenuhi. Saat Kyo Ga menolak permintaan Aruma keduanya bertarung dan di tengah pertarungan, terjadi longsor salju yang membuat keduanya terjatuh ke bawah jurang.
"berarti kedua belah pihak tak bisa bergerak karena 'kepala' mereka tidak ada? yah, setidaknya sampai yang mulia datang kemari" komentar Joo Doh.
Tae Jun menggelengkan kepala "tidak, masih ada wakil dari tiap pihak dan entah kenapa pihak nomaden tak bergerak setelah itu sehingga kami juga tak bisa bergerak sembarangan".
Heuk Chi datang dan melaporkan situasi pada Tae Jun dan Soo Won "hingga kini, kami dan para pasukan nomaden masih melakukan pencarian di area pegunungan sekitar tapi keduanya masih belum kami temukan, para pasukan nomaden juga tak berani bergerak sembarangan karena ini perintah dari wakil kelompok mereka, yakni istri ketua tertinggi nomaden".
Soo Won mengangguk mendengar cerita Heuk Chi "tapi apa yang sebenarnya diinginkan kaum nomaden?".
"perlu kujelaskan ulang? Kami hanya ingin adik kami dibawa ke hadapan kami".
Wanita berambut coklat lurus selutut bermata ungu yang dikepang satu di belakang itu muncul di hadapan mereka. Kimono sederhana bercorak pemandangan di pegunungan dan Haori hitam yang ia kenakan membuatnya terlihat anggun, andai saja tak ada naginata yang ada di tangan kirinya, yang membuat mereka takjub adalah karena wanita itu sanggup membawa naginata dengan sebelah tangan. Wanita itu adalah Tomoe Gozen, si bungsu dari tiga bersaudari klan Gozen, istri Aruma Igarashi juga wakil dari ketua tertinggi nomaden. Ketika Soo Won bertanya siapa adik yang dimaksud Tomoe, Tomoe tersenyum.
"wanita yang dijuluki Yuki Onna di kelompok kami, Leila Dilwale Diandra... kabar terakhir yang kami dengar tentang Leila adalah bahwa ia dijatuhkan ke bawah jurang setelah dikejar dan dipojokkan pasukan suku api... aku dan suamiku sudah menganggap Leila seperti adik kandung kami sendiri dan bagi kami semua anggota kelompok nomaden adalah keluarga, sepantasnya kami marah jika ada keluarga kami yang dibunuh dan kalian tak bisa menyalahkan suamiku atas tindakan yang ia ambil...".
Joo Doh mendelik "kau mengancam kami? Jika kau meremehkan kami, justru kepalamu yang akan melayang".
"oh, menakutkan..." ujar Tomoe tertawa terkekeh sebelum memunggungi mereka "sementara waktu, kita sama-sama tak bisa bergerak... jadi lebih baik jika kita cari 'kepala' suku masing-masing sebelum kita selesaikan urusan kita, kan?".
"untuk ukuran wanita yang keberadaan suaminya tak diketahui sepertimu, kelihatannya kau tenang sekali?" sindir Soo Won.
Tomoe tertawa keras sebelum menekankan bahwa ia takkan menyerang lebih dulu dan akan menunggu hingga Aruma kembali "suamiku takkan mati semudah itu, kau pikir sudah berapa kali dia hampir mati dan kembali lagi? kecelakaan di tengah salju sudah jadi makanan sehari-hari bagi kami dan jika sampai ia kembali, Leila belum muncul... entahlah, kita lihat saja apa keputusan suamiku dan keluarga kami yang lain...".
Tae Jun mengulurkan tangannya ke bawah jurang "kakak!?".
Kyo Ga menutup matanya perlahan, merasa ajalnya sudah tiba setelah terjatuh dari jurang dan melihat kilas balik masa lalunya.
"jangan menyerah!?".
Kedua tangan yang kurus itu berhasil menangkap tangannya, berusaha menahan tubuhnya yang jatuh ke bawah meski sebenarnya ia sedang terjun bebas ke bawah jurang bersama Kyo Ga. Kyo Ga yang membuka matanya kembali terbelalak melihat sosok yang menangkapnya dari atas, sosok wanita berambut putih bermata biru dengan sepasang sayap dari punggungnya.
"tak mungkin... malaikat?".
.
Saat Kyo Ga kembali membuka matanya, ia terkejut mendapati Leila sedang mengompresnya.
"oh, akhirnya kau bangun juga... kau demam tinggi sejak 2 hari yang lalu, istirahatlah".
Melihat sorot mata Kyo Ga, Leila sadar Kyo Ga menaruh waspada terhadapnya dan ia mengerti penyebab sikap Kyo Ga. Seolah bisa membaca pikiran Kyo Ga, Leila meminta Kyo Ga istirahat selagi menaruh bubur ke dalam mangkuk sambil menyebutkan luka-luka yang dialami Kyo Ga mulai dari luka akibat tusukan pedang di perut, patah tulang rusuk dan retak tulang lengan kanan serta lebam di beberapa bagian tubuh.
"makan sedikit sebelum kau minum obatmu".
"kenapa kau menolongku yang jelas-jelas musuhmu?".
Leila menepuk keras luka di tulang rusuk Kyo Ga sehingga Kyo Ga meringis kesakitan.
"pertama, aku tidak suka berhutang, anggap ini balas budi atas pengobatan yang kau dan ibumu berikan padaku ketika aku amnesia... kedua, aku tidak bisa membiarkanmu mati karena kami masih perlu bantuanmu... ketiga, memangnya perlu alasan untuk menolong orang yang sekarat di depan matamu?" ujar Leila menyodorkan semangkuk bubur pada Kyo Ga "bisa duduk dan makan sendiri? atau perlu kusuapi?".
"adikku, mana bagianku?".
Kyo Ga terkejut melihat pria berambut coklat kehitaman cepak bermata amber yang berbaring di sebelahnya, ia baru sadar masih ada orang lain selain Leila di ruangan ini "masih hidup juga kau, Aruma Igarashi?".
"maaf membuatmu kecewa tapi mana mungkin kubiarkan istriku menjanda saat ia mengandung anak kami?".
Saat terlihat percikan api diselingi adu argumen antara Aruma dan Kyo Ga, Leila menghela napas menchop kepala keduanya "cukup, kalian sama-sama terluka, jadi sekarang istirahat dan pulihkan tubuh kalian, setelah itu baru selesaikan urusan kalian, terserah mau berkelahi sampai mati atau apa, tapi lakukan itu di tempat lain dimana aku tak bisa melihatnya".
"tega sekali kau, adikku... dingin sekali sikapmu pada kakakmu, Yuki-chan".
"lukamu tak separah dia, jangan manja" ujar Leila menujuk Kyo Ga dan menyodorkan bubur untuk Aruma "lalu, usia kandungan nyonya Tomoe sudah berapa bulan?".
"baru 3 bulan, omong-omong tuan putri satu itu melahirkan akhir Desember lalu".
"pantas kalian baru bergerak setelah tahun baru".
Luka yang dialami Aruma tak separah Kyo Ga, memang tulang rusuknya ada yang patah dan tulang kering kaki kanannya retak, luka benturan di kepala serta luka akibat tertusuk panah di bahu dan tangan kirinya, tapi tetap saja ia tak terima karena harus satu ruangan dengan Kyo Ga ditambah Leila lebih dulu mengurus Kyo Ga ketimbang dia.
Sementara Leila mengurus Aruma, Kyo Ga yang menuruti perintah Leila untuk makan bubur yang ia buat dan minum obat diam-diam menatap Leila yang meski lagaknya acuh, kelembutan yang terpancar darinya tetap sama dengan yang ia rasakan saat Leila masih ada bersamanya di kastil Saika.
"badai saljunya juga masih belum reda, untuk sementara kita berempat tak bisa kemana-mana, jadi aku minta kalian berdua jangan ribut dan bersabarlah" ujar Leila menutup jendela kayu itu setelah mengintip keluar sesaat.
"eng? berempat?" ujar Kyo Ga heran.
Setelah memanggil Kyo Ga, Aruma menunjuk sudut kamar dimana Shina yang memang biasa diam tengah memberi makan Ao.
"manusia gunung?!".
Melihat reaksi terkejut Kyo Ga, tentu saja Aruma tertawa sedangkan Leila menyuruh Kyo Ga tetap tenang. Shina setuju saat Leila mengajaknya berbagi selimut untuk tidur malam ini, untungnya ada wig Shina yang membuat mereka tambah hangat. Sebelum tidur, Kyo Ga menanyakan apa yang terjadi sampai ia dan Aruma bisa berada di tempat ini bersama Leila dan Shina. Aruma juga menanyakan hal yang sama karena ia juga baru sadar tak lama sebelum Kyo Ga dan belum tahu apa yang terjadi.
Saat Leila ingin menceritakan apa yang terjadi, seorang anak laki-laki berambut hitam dan bermata merah yang usianya kira-kira sepantaran dengan Yun masuk ke rumah itu. Dengan cepat anak itu menutup pintu rumah. Dengan cekatan, Leila melepaskan baju anak itu untuk ia keringkan di dekat perapian setelah melihat tubuh anak itu menggigil kedinginan akibat salju. Selagi menunggu baju anak itu kering, Leila menghangatkan anak itu dengan memeluknya di dalam selimut sambil duduk bersandar di pojok bersama Shina seperti kepompong.
"oho, bisa kutebak... jadi rupanya kau menghilang karena mencari Leila lebih dulu, Inukai? dasar bocah nakal!?".
"memangnya kenapa? sudah jadi keahlian suku nomaden sebagai suku penunggang kuda untuk mengandalkan indra penciuman dan orang dewasa terlalu memperumit suatu masalah... kalau menunggu kalian bergerak, kelamaan, lebih baik kucari saja sendiri" ujar Inukai menjulurkan lidah.
"dan aku salut anak ini bisa menemukanku" ujar Leila menepuk-nepuk kepala Inukai.
Inukai menutup mata sebelum mempererat pelukannya pada Leila "gampang, kok... soalnya wangi kak Leila seperti ibu... tetap hangat di tengah kegelapan, seperti bulan...".
Melihat Inukai tertidur, Leila tersenyum lembut dan mengelusnya "Aruma, jangan marahi dia nanti... Inukai masih anak-anak, dia hanya mengikuti nalurinya".
"aku mengerti, kau yang mengurusnya sejak ibunya meninggal saat ia berusia 3 tahun... waktu yang ia habiskan bersamamu selama 9 tahun bukan waktu yang sebentar, wajar saja jika pada akhirnya ia menganggapmu sebagai kakak sekaligus ibunya..." ujar Aruma tersenyum melihat Inukai tertidur sambil bersandar pada Leila "tapi aku lega, kau sehat-sehat saja... bahkan kau tak berubah, kelembutanmu masih sama seperti dulu, meski di kelompok kami itu bisa disebut lembek".
"tapi aku tak selembek tuan putri".
