Chapter 6 – Nameless Path

Dalam menjalani hidup, jalan yang kau ambil tak memerlukan nama dan jejak langkah kaki


.

Nomaden Arc

.


Perlu waktu empat hari bagi mereka untuk menunggu badai salju reda dan sudah enam hari sejak mereka menghilang, mereka berdua harus kembali secepatnya. Leila bersedia mengantar mereka dengan syarat agar kedua belah pihak tak meneruskan perseteruan, sebagai pihak yang menjadi penyebab permasalahan utama mereka, inilah bentuk permintaan maaf juga sebagai bentuk pertanggungjawabannya.

Leila mengubah wujudnya menjadi wujud Alter dan menyuruh Inukai berpegangan padanya "aku akan terbang sambil menggendong Inukai, kalian bertiga naik hewan buasku saja".

"maksudmu..." ujar Aruma dengan wajah pucat.

"Hokuto, keluarlah..." ujar Leila menjentikkan jarinya.

Muncul seekor kuda raksasa yang ukurannya sedikit lebih besar dari beruang, bersisik perak dengan tanduk runcing berwarna putih gading di dahinya, surai dan kumisnya seperti naga dan pupil kedua matanya berwarna hitam legam, ekornya seperti ekor kuda.

Setelah mengelus-elus surai Hokuto, Leila menyuruh Shina, Kyo Ga dan Aruma menaikinya "tenang saja, akan kuminta ia terbang dengan menyesuaikan kecepatannya denganku lagipula tekanan udara yang terlalu tinggi tak baik untuk luka kalian".

.

Zeno memberitahu teman-temannya bahwa keberadaan Seiryuu mendekat ke tempat mereka saat ini yang dibenarkan oleh Jae Ha dan Kija, kini mereka berada di dekat area perkemahan para nomaden. Sebelum Leila membawa Aruma dan Inukai kembali ke perkemahan nomaden, ia lebih dulu menyuruh Hokuto mendarat di balkon kastil Saika dimana Soo Won dan Joo Doh berada disana, mengawasi keadaan bersama Tae Jun dan Heuk Chi. Setelah Leila menurunkan Inukai di teras, Aruma yang menyadari kalau Leila berniat mengangkat Kyo Ga turun, segera menendang Kyo Ga dari atas Hokuto.

"turun sana?!".

"sakit!? dasar pria kasar!?".

"kak Leila, kenapa kedua orang dewasa ini nggak bisa akur, ya?".

"jangan heran, Inukai... terlalu rumit untuk dijelaskan".

Tae Jun langsung memeluk Kyo Ga sambil menangis melihat kakaknya selamat. Setelah Tae Jun menjelaskan apa yang terjadi selama Kyo Ga tak ada, Kyo Ga menghadap Soo Won dan berlutut di hadapannya.

"maafkan saya karena telah merepotkan anda sampai harus membuat anda datang kemari, yang mulia".

"sudahlah, yang penting kau selamat... bagaimana lukamu?".

Saat Kyo Ga menjawab pertanyaan Soo Won bahwa kondisinya tak perlu dikhawatirkan, Leila menginterupsi pembicaraan dengan membeberkan diagnosa yang ia dapat soal luka di tubuh Kyo Ga.

"jangan sok kuat, kau masih harus dirawat dengan baik" ujar Leila melipat tangan sebelum dia menunjuk Aruma "lain dengan si darah panas itu, dibunuh pun dia tak akan mati".

Kyo Ga melempar pandangan tajam pada Leila "tutup mulutmu, Yuki Onna".

Aruma mengepalkan tangan dan menangis terharu "ah, menyegarkan rasanya mendengar lidah tajammu, adikku".

"dasar masochist".

"masochist" ulang Inukai sambil menunjuk Aruma.

"diam kau, bocah".

.

"ah, kak Leila datang bersama rombongan dari suku api" ujar Yui memasang kedua tangannya ke belakang kedua telinganya, di antara mereka Yui memiliki pendengaran paling tajam.

Jae Ha yang sejak tadi memangku Yui yang duduk di pangkuannya merubah posisinya, setelah menggendong Yui, ia memberitahu teman-temannya tentang apa yang dikatakan Yui. Tomoe yang mendengar kabar itu bergegas membawa naginata miliknya yang tergeletak di atas meja dan pergi keluar tenda miliknya setelah meminta Yona dan yang lain tetap diam di dalam tenda. Setelah badai salju reda dan sekali lagi mereka mengawasi para nomaden, Tomoe memergoki mereka dan muncul di hadapan mereka. Melihat Hak dan Yasmine, Tomoe tahu kalau mereka saudara kandung Leila sehingga ia membawa Yona dan yang lain ke perkemahan nomaden, ia tak mungkin menganggap Yona dan teman-temannya sebagai musuh.

Tepat di depan tenda, hanya beberapa langkah setelah ia keluar, Tomoe melihat Aruma datang bersama Leila, Shina dan Inukai serta beberapa orang yang ia kira dari suku api. Tak lain adalah Soo Won dan Joo Doh yang didampingi Kyo Ga dan Tae Jun bersama beberapa prajurit. Yona dan yang lain berada tepat di dalam tenda yang ada di belakang Tomoe, mengintip apa yang terjadi di luar.

Melihat Aruma di hadapannya, Tomoe berlari menghampirinya. Jika ada yang mengira ini akan jadi pertemuan yang mengharukan, mereka salah tebak. Tomoe tanpa ragu memukul Aruma di dadanya, tepat di sela tulang rusuknya sehingga Aruma terkapar sambil memegangi lukanya.

"dasar bodoh?! kenapa lama sekali, hah?! sejak kapan kau jadi lemah begini?! bangun?!".

"Tomoe-chan, tahan, lawanmu orang sakit" pinta Leila menahan Tomoe yang siap menginjak Aruma sementara Inukai menusuk-nusuk Aruma dengan ujung jari telunjuknya "paman, masih hidup, kan?".

"sayang, mana mungkin aku meninggalkanmu dan membuatmu menjanda sedangkan kau lagi hamil muda?" ujar Aruma duduk dan merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar "aku pulang".

Setelah Leila melepaskannya, Tomoe memeluk erat Aruma "selamat datang kembali".

"sekarang, bisa kita perjelas semuanya, kan? Pangeran dan tuan putri sudah tahu kalau aku ada di Kouka dalam keadaan sehat walafiat, lalu kenapa mereka berdua masih meminta kalian para nomaden untuk mencariku? terlebih jumlah pasukan yang kalian bawa ini hanya seperlima dari jumlah asli kalian, kemana sisanya?".

Aruma hanya membawa 5.000 orang bersamanya dan itu hanya seperlima dari jumlah asli para nomaden? Jumlah yang setara dengan prajurit satu negara, tak heran mereka dapat menguasai Kekaisaran Kai Utara. Lagi-lagi Soo Won dan yang lain dibuat terkejut.

"tanyakan langsung pada mereka berdua" sahut Tomoe menjentikkan jarinya.

Sinar putih keperakan dari langit menyilaukan mata mereka semua. Saat mereka mendongak ke atas dan membuka mata, mereka semua terkejut melihat seekor naga raksasa bersisik perak melayang turun dari langit sambil membawa beberapa orang yang mereka kenal. Yohime dan Hakuya turun dari atas kepala naga itu, dimana Yohime menggendong bayi kembar, laki-laki dan perempuan yang diberi nama Yuki dan Setsuka.

Yohime memberitahu identitas orang tua kandungnya. Ibunya, Sakura adalah putri bungsu dari tiga bersaudara yang lahir dari ayah yang sama dengan ibu yang berbeda. Ibu kandung Sakura adalah selir Kaisar Kai Selatan saat itu, sayangnya Kaisar Kai Selatan saat itu tak memiliki anak selain Sakura sehingga tahta Kekaisaran selanjutnya diserahkan kepada Dal, keponakan Kaisar sebelumnya. Setelah Dal naik tahta, Sakura meninggalkan kastil bersama pengawalnya, Yue. Kondisi Kekaisaran Kai Selatan di bawah kepemimpinan Kaisar Dal lebih stabil setelah Kekaisaran Kai terpecah menjadi dua namun Kaisar Dal termasuk pemimpin tiran dan serakah, karena moral prajurit Kekaisaran di bawah kepemimpinannya jatuh. Kaisar Dal bahkan tak segan untuk menghukum mereka yang tak ia sukai dan membumihanguskan suatu daerah jika ia mencium adanya pemberontakan dari sana. Buktinya adalah apa yang dilakukan para prajurit Kekaisaran Kai Selatan pada beberapa desa di perbatasan setelah mereka kalah perang dari kerajaan Kouka. Kekaisaran Kai Utara tak lebih baik kondisinya. Dengan kekuatan Kaisar yang berada di bawah keluarga kemiliteran di sekelilingnya, tinggal menunggu jatuhnya Kekaisaran Kai Utara.

"hanya ada dua kemungkinan... pertama, salah seorang kepala keluarga kemiliteran mengambil alih tahta Kaisar... dan kedua, tinggal menunggu invasi dari Kaisar Dal yang menganggap ini sebagai kesempatan untuk mengambil kembali Kekaisaran Kai Utara... suamiku mungkin bisa mengacuhkan hal ini tapi tidak denganku, aku tak bisa membiarkan pria tiran itu berkuasa lebih jauh karena ini hanya akan menimbulkan kekacauan di Kekaisaran Kai... sebelum itu terjadi, harus ada yang mengambil alih tahta Kekaisaran Kai Utara".

"karena itu merepotkan bagiku".

"kau ini benar-benar pangeran Kekaisaran Kai Utara bukan? ibu kandungmu, nyonya Yokihi adalah permaisuri Kaisar Kai Utara, kau juga harus ikut andil".

"itu salah ayah bodoh itu sendiri, sampai-sampai kekuatan anggota keluarga kemiliteran jadi lebih kuat dibandingkan keluarga kerajaan...".

"baiklah, aku mengerti masalahnya sekarang... kau sengaja meminta kaum nomaden pergi ke Kouka, pura-pura menyerang kami untuk memancing pergerakan dari Kekaisaran Kai Selatan karena mereka mengira kekuatan Kekaisaran Kai Utara saat ini sedang kosong karena nomaden yang dianggap sebagai pelaku utama kudeta baru-baru ini sedang hilang, begitu?" tanya Soo Won.

"baguslah kau cepat tanggap" angguk Hakuya.

"dan alasan kedua, karena ada yang harus kuberitahu padamu, yang mulia Soo Won... In Ha, ibu kandung mendiang putri Yona, putri semata wayang mendiang Raja Il... dia adalah bibiku, karena mereka tiga bersaudara... Tina, In Ha dan si bungsu, Sakura... dan dengan kata lain, aku saudara sepupumu" ujar Yohime tersenyum.

"HAH?!" pekik audiens.

.

Akhirnya kedua belah pihak sepakat melakukan perjanjian damai. Soo Won bersedia setuju karena diberitahu bahwa yang memukul mundur pasukan Kekaisaran Kai Selatan yang ingin melakukan invasi secara diam-diam adalah ulah Yohime dan Hakuya dibantu kenalan mereka (tentu saja, Yona dkk yang identitasnya dirahasiakan).

"sebelumnya, Soo Won... jalan apa yang kau pilih?" tanya Yohime.

Hakuya dan Yohime bersedia menjadi Kaisar dan permaisuri Kekaisaran Kai karena mereka tidak ingin generasi berikutnya termasuk anak-anak mereka disengsarakan oleh rezim Kaisar Dal. Yohime hanya membujuk Hakuya, sebab keputusan akhir ada di tangan Hakuya sebagai penerus tahta Kekaisaran Kai Utara yang sah. Hakuya bersedia mengambil kembali singgasana Kaisar karena memikirkan anak-anak dan istrinya, ia juga tak bisa membiarkan rakyat tempat kelahiran istrinya dan tempat kelahirannya dibuat sengsara lebih jauh lagi. Kaum nomaden dan beberapa kepala keluarga kemiliteran setuju dengannya, sehingga ia berhasil mengambil alih tahta Kaisar.

Kursi raja adalah kursi panas, orang-orang tahu hal itu.

Yohime mempertanyakan penyebab Soo Won mengambil kursi raja dan jalan apa yang sedang ia jalani saat ini. Soo Won memberikan jawaban yang sama dengan jawaban yang ia berikan pada Kija di benteng Hotsuma di kerajaan Sei.