Chapter 8 – Black Clothes Man

Orang-orang berpakaian serba hitam membuatmu merasa curiga pada mereka, kan?


.

Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc

.

Ini semua berawal dari insiden yang terjadi di akhir musim dingin.

Anggota baru di kelompok mereka bukan hanya dua adik perempuan Hak, Leila dan Yasmine, tapi juga si mungil Yui, yang ukurannya paling mungil terlepas dari usianya yang paling muda. Ia seusia Yona, 16 tahun, hanya beberapa bulan setelah Yona sehingga jadilah ia yang paling muda di grup ini.

Karena kondisi kakinya yang cacat membuatnya tak bisa berjalan terlalu lama, Jae Ha sering menggendongnya di bahunya, bergantian dengan Yasmine atau Leila. Berbeda dengan Yona, meski ia seusia Yona, Yui termasuk tipe Lolita sehingga orang lain akan mengira ia berusia 10 tahun alias masih anak-anak karena penampilan luarnya (tinggi badannya hanya 148 cm, lebih mungil dari Yona).

"kakak Jae Ha?! Hak mengambil cemilanku?!" protes Yui saat ia berlari ke arah Jae Ha.

"maaf, chibi musume (gadis / nona kecil)... aku tak tahu itu milikmu" ujar Hak yang melahap apel terakhir yang dia ambil dari piring makan.

Sementara Yona memarahi Hak karena Hak mengambil apel terakhir yang ternyata milik Yui, Jae Ha mengajak Yui mencari buah sebagai pencuci mulut pasca makan siang.

"tak disangka, Jae Ha pandai menangani anak-anak" gumam Yasmine bersiap menuangkan isi makanannya ke mangkuk Shina.

"Yasmine?! lagi-lagi memberikan porsi makananmu pada orang lain?! kau baru makan sedikit, kan?!" ujar Yun merebut mangkuk makanan Yasmine yang masih sisa setengah.

Yasmine tersenyum lebar, mengambil kesempatan ini untuk lari "aku sudah kenyang!? Terima kasih makanannya, mama Yun~".

"jangan panggil aku mama?! jangan kabur?! habiskan makananmu?!" pekik Yun mengejarnya.

Hak tertawa geli sementara Leila geleng-geleng kepala melihatnya "mulai lagi...".

"lho, tuan putri mana?" ujar Kija menoleh ke sekeliling.

"pergi menyusul Jae Ha" ujar Shina.

"nona mencemaskan nona mungil" angguk Zeno.

Tiba-tiba, Shina berlari sambil berteriak "Jae Ha!? Yui?!".

Yasmine dan Yun yang kejar-kejaran berhenti di tempat karena suasana jadi tegang, namun Leila yang berdiri dan paling pertama bertanya sambil menahan Shina "apa yang terjadi?".

.

Yona memeluk Yui, menatap tajam sambil mengacungkan pedangnya ke depan, para pria yang berjubah hitam dan memakai penutup wajah kini mengepung mereka berdua pasti bukanlah orang baik mengingat orang-orang itu telah menjatuhkan temannya terlepas dari alasan mereka yang tak diketahui Yona dan Yui.

Yui menyadarkan Yona bahwa sesuatu terjadi dari arah belakang, Yona yang menyadari bahwa teman-temannya yang lain telah tiba merasa sangat lega. Ketika Kija, Shina, Zeno, Hak dan Yasmine membuka jalan dan menahan para pria berjubah hitam itu, Leila menghampiri Yona dan Yui, menanyakan dimana Jae Ha yang tadinya ikut pergi bersama mereka sementara Yun memeriksa apakah keduanya terluka atau tidak, selain tubuh mereka yang dingin akibat salju.

Teringat apa yang terjadi, Yona dengan panik menjawab bahwa Jae Ha jatuh ke bawah jurang depan air terjun di belakang mereka setelah tertusuk beberapa anak panah beracun di tubuhnya demi melindungi Yona dan Yui, tak muncul lagi sampai sekarang. Yun pucat pasi mendengar jawaban Yona, menoleh ke arah Shina dan meminta Shina mencari keberadaan Jae Ha. Saat Shina mengatakan bahwa Jae Ha tersangkut di antara bebatuan dasar sungai di bawah air terjun, Yui melepas mantel dan Haorinya hingga hanya tersisa kimononya, meminta Leila dan yang lain menjaga Yona setelah berjanji kalau ia akan kembali membawa Jae Ha.

"jika di dalam air, maka ini wilayah kekuasaan kaum Siren".

Leila terbelalak "eh? sejak kapan ganti jadi kau?".

"sebelum kalian datang" sahut Yui tersenyum.

Yona dan yang lain terkejut saat Yui melompat ke dalam sungai, kecuali Leila yang meminta Yun bersiap mengobati Jae Ha jika Yui kembali membawa Jae Ha atau mereka yang pergi menjemput keduanya setelah mengurus para penyerang mereka.

Selagi ia menjaga Yona dan Yun dari para penyerang mereka, Leila meminta Yun memeriksa dan menenangkan Yona "tenang saja, anak itu memang paling muda di antara kita, tapi jika itu di dalam air, tak ada yang bisa menandinginya karena itu wilayah kekuasaannya".


Sementara itu, di kastil Hiryuu...

Akhir musim dingin, tepatnya di bulan Februari, Soo Won menginjak usia 19 tahun sehingga para jenderal yang hadir di acara ulang tahun pasca rapat kelima suku mengucapkan selamat. Perjamuan dalam rangka merayakan ulang tahun Soo Won yang ke-19 tahun kembali membuat Tae Woo datang bersama Mundok dan Han Dae.

"pasang wajah cemberut lagi, jenderal?".

Tae Woo menatap Lily yang berdiri di belakangnya sambil melipat tangan di depan dadanya sementara kedua dayangnya, Ayura dan Tetora menunggu dengan setia di belakang Lily. Lagi-lagi, ia agak heran kenapa putri jenderal suku air ini selalu mempertanyakan ekspresinya yang jelas-jelas terlihat tidak senang seolah berkata ia merasa sangat bosan dan ingin cepat pulang.

"bukan urusanmu, nona... kenapa tak berbincang dengan yang mulia saja? toh, ayahmu pasti lebih senang begitu ketimbang kau menghabiskan waktu untuk berbincang denganku".

"dingin sekali kau, padahal sebentar lagi awal musim semi..." ujar Lily menghela napas dan bersandar di pagar samping Tae Woo, bertopang dagu "justru aku sengaja kemari agar aku bisa menghindar dari niat jahat ayahanda yang terus-terusan mendorongku untuk berbincang dan lebih dekat dengan yang mulia Soo Won, apalagi di antara para jenderal hanya kau yang tak bisa akrab dengannya jadi aku tak perlu khawatir dia mendekatiku".

"karena aku hanya sudi berurusan dengannya hanya saat menyangkut urusan pekerjaan, di luar hal itu sebisa mungkin aku tak ingin berinteraksi apalagi sia-sia beramah tamah di hadapannya" ujar Tae Woo menyandarkan punggung dan kedua sikutnya ke pagar, mendongak ke atas sambil menatap langit malam.

Lily terdiam, mengerti alasan di balik sikap jenderal suku angin yang dingin itu. Merasa keduanya sama-sama tak tertarik pada keramaian di perjamuan, keduanya memutuskan kembali ke kamar masing-masing, meski sempat merasa aneh saat Tae Woo menawarkan diri untuk mengantarnya kembali ke kamar, ia menerima tawaran itu karena jalan menuju kamar yang disediakan untuk mereka searah. Di tengah jalan, Ayura berhenti, begitu juga Tae Woo.

"kau bisa merasakannya juga?".

Ayura mengangguk "disini terlalu sepi".

"benar, para penjaganya kemana?" ujar Tetora menoleh sekeliling.

Sekelompok pria berbaju hitam tiba-tiba muncul di hadapan mereka, meminta mereka untuk menyerahkan Lily. Ayura menghunuskan kedua pedangnya dan Tetora yang biasa bertarung dengan menggunakan tangan kosong meminta Tae Woo membantu mereka membawa Lily ke tempat yang aman sementara mereka menahan serangan para pria itu dari belakang. Sambil melindungi Lily dari kejaran para pria berbaju hitam itu, Tae Woo yang berada di depan Lily terus menjatuhkan anggota pria berbaju hitam yang kadang muncul dari depan. Gelar jenderal yang diberikan pada Tae Woo sebagai yang terkuat (kedua setelah Hak) di suku angin bukan tanpa alasan, dia memang petarung tangguh. Meski ia tak bersenjatakan tombak andalannya, Tae Woo tetap bisa melindunginya dan ini membuat Lily takjub. Sebentar lagi mereka sampai di tempat yang agak ramai, dimana para tamu undangan masih berkumpul di perjamuan tapi sayangnya penyerang mereka terbilang nekad. Tae Woo yang paling pertama menyadari akan kehadiran para pemanah gelap dari atap menyuruh ketiga gadis yang berada di belakangnya merunduk saat hujan panah tak bisa dihindari.

Lily membuka matanya, terbelalak "TAE WOO!?".

.

Joon Gi menoleh ke luar, ia merasa mendengar teriakan seseorang dari luar. Terlepas dari daya penglihatannya yang buruk, ia memiliki pendengaran yang tajam. Ketika Soo Won meminta Joo Doh memeriksa keadaan sekeliling, Joo Doh meminta para prajuritnya untuk pergi keluar. Saat itulah, Tetora masuk dengan napas terengah-engah karena berlari sekuat tenaga.

"celaka, yang mulia!? nona Lily... dan jenderal Tae Woo...".

Saat Joon Gi hendak menanyakan apa yang terjadi, Ayura datang sambil membawa Lily yang bajunya berlumuran darah. Soo Won memerintahkan Joo Doh mengamankan penjagaan sekitar kastil sementara beberapa prajurit bersiap memanggil dokter namun Lily menggenggam lengan baju Joon Gi dan menggelengkan kepala.

"ini bukan darahku... Tae Woo... cepat tolong dia?! kalau begini terus, bisa-bisa..." ujar Lily yang memegangi lengan baju Joon Gi dengan tubuh gemetar.

Dengan cepat, Mundok dan Han Dae berlari keluar disusul Geun Tae dan Joo Doh.