Chapter 9 – Drowning
Sensasi tenggelam di bawah laut terdalam yang gelap gulita, berada dalam kegelapan hingga secercah cahaya kecil menariknya keluar, kembali ke permukaan yang dipenuhi cahaya
.
Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc
.
Meski Yui sempat rewel, akhirnya ia makan dengan tenang saat Jae Ha memberinya beberapa buah yang ia dapat sebagai pengganti pencuci mulut untuk Yui. Yona tiba tak lama setelah Yui dan Jae Ha hendak kembali ke perkemahan, namun terhenti saat Yui mengatakan ada seseorang atau lebih tepatnya sekelompok orang yang mendekat.
"langkah kakinya cepat, seirama dan ringan, bukan tentara... lebih seperti...".
"para pembunuh bayaran" potong seorang pria berbaju hitam yang muncul di hadapan mereka.
"serius? Baik sekali kalian mau memberitahu identitas kalian pada kami?" ujar Jae Ha dengan nada mengejek.
"hanya ada satu alasan kenapa kami membeberkan siapa kami" ujar pria itu menjentikkan jari, kelompok orang-orang berbaju hitam muncul dari belakangnya "kalian akan mati disini, tapi mungkin kami masih bersedia mengampuni nyawa kalian jika kalian serahkan gadis berambut hijau yang kau gendong itu".
Mereka meminta Yui diserahkan agar nyawa mereka selamat? tentu saja itu takkan terjadi. Jae Ha bisa merasakan tubuh Yui yang ia gendong gemetar, ia menenangkan Yui dan meyakinkan kalau mereka takkan menyerahkan Yui apapun yang terjadi. Terlepas dari situasi mereka yang kurang menguntungkan, Yona bertanya-tanya siapa gerombolan yang mencurigakan ini dan apa yang membuat mereka ingin membawa Yui.
"sebenarnya siapa kalian? kenapa kalian ingin membawa Yui?".
"kalian tak perlu tahu siapa kami, yang pasti kami hanya ingin membawa gadis itu ke...".
"tidak mau?!" potong Yui.
"dengar sendiri apa katanya, kan? Yui-chan teman kami, dan takkan kami biarkan kalian pergi membawanya seenaknya".
"kalian akan menyesal".
Kembali ke perkemahan dimana teman-temannya menunggu sambil membawa dua orang gadis ukuran mungil bukanlah hal sulit bagi Jae Ha, namun kelompok yang mengepungnya terlalu banyak untuk ia atasi seorang diri sambil melindungi kedua gadis itu. Ia ingin segera melompat dari sana, tapi tampaknya kelompok yang ia hadapi saat ini cukup licik, mereka terus berusaha menyerang Yona dan Yui sehingga Jae Ha terfokus untuk melindungi Yui dan Yona. Mereka terdesak, hingga berada di tepi jurang, di belakang mereka terdapat sungai yang mengalir deras menuju air terjun di tepi jurang. Yona hampir saja tertusuk beberapa anak panah beracun yang dilontarkan para penyerang mereka, namun Jae Ha lebih dulu melindunginya sehingga Jae Ha tertusuk beberapa anak panah di punggung, bahu kanan dan tangan kirinya. Saat Yui yang lepas dari gendongannya dilempar ke seberang sungai oleh salah satu pria berbaju hitam itu, Jae Ha menendang pria itu dan menangkap Yui. Setelah Jae Ha melemparkan Yui yang tak sadarkan diri pada Yona, mereka melihat anak panah musuh yang berada di seberang sungai menancap di paha kaki kanan Jae Ha sebelum Jae Ha jatuh ke jurang depan air terjun di belakang mereka.
Hal terakhir yang ia ingat sebelum jatuh dari ketinggian adalah teriakan Yona dan Yui yang memanggil namanya. Ketinggian saat ia terjatuh serta tekanan air membuat Jae Ha merasa ia dihempaskan ke dalam air dengan kekuatan tak terkira. Tubuhnya yang terjatuh ke dasar sungai di depan air terjun dibuat tak berkutik akibat dihantam kekuatan alam. Meski ini akhir musim dingin, salju dan es masih belum mencair, zona beku dalam air membuatnya tak bisa bergerak sesuai keinginannya, tekanan air dan udara yang telah membuatnya menelan air sungai cukup banyak belum ditambah luka akibat tusukan panah beracun di tubuhnya.
Ia tak ingin menyerah, ia berusaha berenang di tengah air sungai yang dingin, mencari cara agar ia bisa mencapai permukaan namun arus air sungai terlalu kuat, sialnya kaki naganya yang jadi andalannya bahkan tersangkut di antara bebatuan dasar sungai di bawah air terjun. Batu itu bisa ia hancurkan dengan mudah menggunakan kaki naganya. Ia ingin kembali ke tempat Yona dan Yui berada secepatnya, keduanya masih berada dalam bahaya, namun kaki naganya sekalipun tak mendengar perintahnya. Saat ia berpikir sejak kapan ia jadi selemah ini, memori tentang apa yang ia alami dalam hidupnya muncul kembali, apa ia akan mati disini?
"takkan kubiarkan kau mati...".
Sepasang tangan yang kurus itu lebih kecil dari tangannya, tapi tangan itu berusaha menariknya keluar dari perangkap alam yang hampir membawanya pada kematian, tangan yang begitu kecil dengan jari lentik, tapi begitu lembut.
Entah ini mimpi atau bukan, Jae Ha merasa ia melihat seseorang berenang dari permukaan dan menghampirinya, setengah tubuhnya dari pinggul sampai kaki berupa ekor ikan. Kedua tangan itu memegang wajahnya, mata bulat besar berwarna hitam bak mutiara hitam itu menatapnya lembut dan menciumnya.
"Jae Ha?!".
Saat Jae Ha membuka matanya, ia melihat Yona yang memanggil namanya. Di sekelilingnya ada teman-temannya yang berkumpul mengerubunginya dengan tatapan cemas yang berganti dengan ekspresi lega melihat Jae Ha sudah sadar. Meski mereka berada di tenda yang paling besar, dengan seluruh anggota yang masuk ke dalam tenda saat ini, mereka terpaksa duduk di pangkuan satu sama lain untuk menambah luas tempat seperti Hak yang memangku Yona, Kija yang memangku Yun, Shina yang memangku Zeno (yang entah kenapa telanjang dada), meski Jae Ha agak heran melihat Yasmine dan Leila yang berselimut sambil memeluk Yui.
Yona menceritakan apa yang terjadi setelah Jae Ha jatuh ke bawah jurang, tak lama setelah Yui ikut terjun ke dalam sungai untuk menyelamatkan Jae Ha, sebagian penyerang mereka mundur sehingga mereka bergegas mencari Yui dan Jae Ha. Mereka menemukan keduanya ada di tepi sungai dekat air terjun setelah mereka turun ke bawah.
"kau sempat kena hipotermia, jadi Zeno menghangatkanmu, meski tadinya Leila sudah siap menghangatkanmu" ujar Yun menyodorkan pakaian hangat untuk Jae Ha karena Jae Ha saat ini tak memakai apapun di balik selimutnya.
"jangan salah sangka, ya. Aku hanya tak ingin melihat ada laki-laki yang mati di hadapanku" tukas Leila melihat pupil mata Jae Ha melebar saat menatapnya.
"yah, mana mungkin kubiarkan adikku menghangatkan si mesum ini? lagipula masih ada satu lagi yang harus dihangatkan" sahut Hak yang siap menggantikan Leila kalau Zeno tak segera menggantikan Leila, menunjuk Yui yang tertidur di pelukan Yasmine dan Leila.
"Yui-chan yang membantu mengeluarkanmu dari air, karena itu kami menghangatkannya" ujar Yasmine mengacungkan jari tangannya membentuk tanda peace.
"nah, karena si mata sayu ini sudah bangun, bisa jelaskan pada kami? Siapa yang sebenarnya kami lihat itu?" tanya Hak.
Sosok yang mereka lihat saat itu bukanlah Yui, melainkan wanita lain yang sangat mirip Yui. Ia memiliki rambut hijau gelap bergelombang sepinggang, mata hitam bulat yang besar bagai mutiara hitam, tapi tubuhnya bukan tubuh anak kecil seperti Yui, melainkan tubuh gadis remaja seperti Yasmine, yang lebih mengherankan adalah karena dari pinggul hingga ke kaki gadis itu bukan tubuh manusia, melainkan ekor ikan.
Leila menjelaskan bahwa itu adalah sosok Yui yang satu lagi, yang ia dapat sebagai keturunan kaum Siren. Siren adalah kaum penyihir yang ditakuti karena mereka memiliki Xiang Liu, ular berkepala 9 yang menjadi peliharaan kaum Siren. Kaum Siren dapat mengubah sosok mereka menjadi setengah manusia dan setengah binatang, tergantung tempat dia berada. Jika berada di dalam air, kedua kakinya bisa menjadi ekor ikan sedangkan jika berada di atas tanah, kedua kakinya bisa berubah menjadi ekor ular. Selain itu, mereka juga dapat mengendalikan air dan nyanyian mereka memiliki sihir yang membuat mereka dapat mempengaruhi hati orang lain. Itu yang diketahui orang pada umumnya, tapi ada yang mengatakan kalau mereka juga bagian dari Oni klan Genbu. Genbu dikenal dengan lambang kura-kura hitam dengan ular hijau melilit tubuhnya, itu sebabnya Oni klan Genbu identik dengan air.
"jadi singkatnya Yui sama seperti kita bertiga?" tanya Hak.
"agak berbeda, bisa dibilang Yui ini Hanyo, karena setengah darahnya hanya darah manusia... ibunya adalah Oni darah murni klan Genbu sedangkan ayahnya manusia biasa, karena itu tak semua kekuatan kaum Siren ia dapatkan" jawab Leila.
"tapi... dia bilang namanya Fuyo... bukan hanya tubuhnya... sikapnya juga lain... kepribadian ganda?" tanya Jae Ha sebelum batuk beberapa kali.
Leila menggelengkan kepala, entah kenapa sorot matanya terlihat begitu sedih "apa yang telah terjadi terlalu tragis untuk kuceritakan lagipula itu privasi Yui, akan lebih baik jika Yui sendiri yang...".
"percuma saja, Leila... Yui tak ingat apa yang terjadi, jadi mana mungkin dia bisa menceritakan apa yang telah terjadi?" ujar Fuyo melepaskan diri dari pelukan Yasmine dan Leila, begitu ia memisahkan diri dari Yasmine dan Leila, terlihat jelas perbedaan tubuhnya dengan tubuh Yui.
Fuyo memperkenalkan dirinya sebagai kakak kembar Yui yang telah meninggal saat mereka berusia 9 tahun, tapi Yui menerima rohnya sehingga ia tinggal di tubuh Yui. Dalam satu tubuh terdapat dua roh yang berbeda, mereka dua orang yang berbeda dengan kepribadian berbeda yang tinggal dalam satu tubuh, yang berarti bukan kepribadian ganda. Berbeda dengan Yui yang pertumbuhannya berhenti sejak berusia 10 tahun, tubuh Fuyo tetap tumbuh sehingga jika yang muncul adalah Fuyo, tubuhnya akan berubah seperti saat ini dan jika Fuyo masuk ke air, tubuhnya akan berubah ke versi duyung tapi Fuyo tak menjelaskan penyebab kematiannya dan penyebab kenapa Yui menerima rohnya ke dalam tubuhnya. Fuyo hanya memberitahu kalau penyerang mereka berasal dari Kekaisaran Kai dan meminta mereka untuk berhati-hati, ia juga akan menolong Yona dan yang lain jika terjadi hal yang sama di masa depan.
"selain lihai membunuh, mereka juga lihai dalam mengolah racun dan mereka biasa mengoles racun itu ke senjata mereka, jadi hati-hati... racun dalam tubuhmu sudah kukeluarkan, tapi luka di tubuhmu cukup parah, jangan memaksakan diri" sahut Fuyo memegang dahi Jae Ha sebelum ia tak sadarkan diri.
Yasmine menahan tubuhnya dari belakang saat tubuh Fuyo kembali beralih pada Yui yang kini terlelap di pelukan Yasmine. Anggota yang lain terang-terangan menatap curiga Jae Ha bahkan ada yang terang-terangan tersenyum usil seperti Yun, Yasmine dan Hak. Jae Ha yang tak tahu apa yang terjadi selama ia tak sadar, tentu saja kebingungan.
Sebenarnya itu karena saat mereka menemukan Fuyo dan Jae Ha di tepi sungai, mereka terlalu terkejut melihat Fuyo, mereka tak sempat bertanya apa-apa melihat sosok Fuyo saat itu karena situasi memang darurat. Saat tiba di sana, Fuyo sedang memberi napas buatan, mengguncang tubuh Jae Ha sampai akhirnya Jae Ha berhasil memuntahkan sejumlah air yang ia telan meski saat Jae Ha memuntahkan air sungai yang ia telan membuat mereka ngeri karena Jae Ha terlihat sangat tersiksa untuk sekedar memuntahkan air sungai yang ia telan dan kembali mengisi paru-parunya dengan udara. Sebelum Yun menangani luka tusukan panah di tubuh Jae Ha, mereka membawanya kembali ke tenda. Pasca menanggalkan baju Jae Ha yang basah, Fuyo yang diselimuti Yasmine membantu mengeluarkan racun dalam tubuh Jae Ha sebelum Yun menangani luka di tubuhnya dan diakhiri dengan Zeno yang menghangatkan tubuhnya yang kedinginan akibat hipotermia.
