Chapter 11 – Assassination Mission

Misi pembunuhan pada wanita tak bersalah membuatnya bertekad untuk melindunginya yang berusaha tetap tegar


.

Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc

.

Rasanya seperti ditenggelamkan ke dasar laut, seorang diri berada di tengah kegelapan.

Gelap gulita.

Dingin.

Sesak.

Sakit.

Di tengah semua sensasi itu, terasa secercah kehangatan menyelimutinya bersamaan dengan cahaya yang membungkus tangannya, membimbingnya kembali ke dunia nyata. Semakin dekat ia dengan dunia nyata, semakin besar rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya yang terasa lemas, belum ditambah usahanya yang harus berusaha mengatur napasnya agar tetap pendek. Rasa lemas dan nyeri dari luka tusukan dan luka tergores yang ada di tubuhnya tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit dari luka yang menembus tubuhnya, dari punggung hingga ke perutnya. Luka itu terasa sakit tiap kali ia menarik dan menghembuskan napas sehingga ia tak punya pilihan selain menjaga napasnya tetap pendek.

Kepalanya terasa berat, ditambah rasa mual yang membuat kepalanya bertambah pening, ia membuka matanya dan menemukan Lily tertidur di sampingnya, menggenggam tangannya. Di saat ia berusaha bangun pelan-pelan agar tak membangunkan Lily, suster yang baru kembali sambil membawa sebuah baskom berisi air sebagai kompres memintanya tetap berbaring dan tak pergi kemana-mana karena ia belum pulih dari kondisi kritis akibat lukanya yang parah.

Tae Woo tak sadarkan selama 3 hari sejak malam penyerangan itu, selama itu juga Lily terus ada di sampingnya dan membantu merawatnya hingga hampir tak tidur. Setelah menanyakan dimana Mundok dan Han Dae, Tae Woo beranjak pasca meyakinkan suster bahwa ia baik-baik saja. Ia tak ingin hanya berbaring sementara yang lain menginterogasi penyerang mereka. Tae Woo menyelimuti Lily dan meminta suster untuk membiarkan Lily tidur sebelum ia pergi.


Begitu ia tiba di ruang perawatan tempat para kawanan berbaju hitam itu diinterogasi, suasana di ruangan itu terasa aneh karena orang-orang itu malah meminta dibunuh saja sebagai ganti jika mereka bersedia buka mulut. Soo Won sempat merasa ada yang aneh tapi menurut salah satu pria itu, toh mereka akan dibunuh juga pada akhirnya oleh rekan mereka karena mereka gagal melaksanakan misi.

"kalau begitu, sebelum kalian mati, bisa beritahu kami apa misi kalian kali ini?".

Ke-4 jenderal lainnya, Soo Won, Mundok dan Han Dae yang ada di ruangan itu menoleh ke belakang dan terkejut melihat Tae Woo yang bertanya barusan, bersandar di kusen pintu sambil memegangi lukanya. Tentu saja Mundok langsung memarahinya dan Han Dae geleng-geleng kepala melihat jenderal suku angin yang lebih memilih datang ke tempat ini ketimbang istirahat terlepas dari tindakan cerobohnya malam itu yang telah melawan kawanan pembunuh bayaran seorang diri tanpa memedulikan kondisinya sendiri.

Saat Lily tiba di dekat kamar perawatan, ia melihat Tae Woo masuk dan tak sengaja mendengar percakapan di dalam ruang perawatan.

"misi utama kami adalah membunuh putri jenderal suku air dari kerajaan Kouka, An Lily".

"pembicaraan yang menarik, teruskan... siapa kalian dan darimana asal kalian? dari kata-kata kalian barusan, aku merasa kalian bukan berasal dari kerajaan Kouka" ujar Lily yang muncul dari belakang Tae Woo.

Mereka berasal dari kuil Sakura merah, sebuah kuil di perbatasan Kekaisaran Kai Selatan dan kerajaan Kouka yang dipakai sebagai kamuflase tempat pengembangan pembunuh bayaran. Para anak yatim piatu yang tak memiliki orang tua dikumpulkan di tempat itu untuk dilatih dan dibesarkan sebagai pembunuh bayaran. Disebut kuil Sakura merah karena sepanjang jalan di tangga menuju gerbang kuil dan pekarangan sekeliling kuil dipenuhi pohon Sakura yang mekar di dekat kuburan anak-anak yang tak bisa bertahan hidup selama masa pelatihan sebagai calon pembunuh bayaran. Pohon Sakura yang tumbuh seolah menggantikan mayat mereka, menjadi pohon Sakura yang seolah berwarna merah seperti darah di bawah sinar bulan.

"siapa klien yang meminta kalian untuk membunuhku?".

"mereka...".

"selamat tidur, teman lama".

Namun sebelum kawanan pria berbaju hitam itu menjawab pertanyaan Lily, mereka terlanjur mati dibunuh, tertusuk pisau kecil yang beracun di tengkuk mereka. Pria yang membunuh para pria yang tengah diinterogasi itu tak lain adalah rekan mereka sendiri.

"terima kasih... Agi... to..." gumam salah satu pria itu sebelum tewas.

"sama-sama..." gumam Agito mengambil kembali pisau miliknya setelah masuk dari jendela.

Joo Doh, Kyo Ga dan Geun Tae segera membentengi Soo Won sementara Tae Woo melindungi Lily yang berdiri di belakangnya, bersama Joon Gi, Mundok dan Han Dae yang berdiri di depan mereka berdua.

"hei, hei, tak perlu tegang begitu... aku kemari hanya untuk melaksanakan misiku, membunuh para rekan kami yang gagal melaksanakan misi dan aku akan segera pulang setelah ini..." sahut Agito melambaikan tangan.

Soo Won heran dan curiga kenapa rekannya yang dibunuh Agito mau buka mulut semudah itu? Menurut Agito, mereka buka mulut atau tidak, tak ada bedanya bagi mereka yang berasal dari organisasi pembunuh bayaran kaliber tinggi, mereka tipe yang akan tetap melaksanakan misi mereka. Hanya ada dua alasan bagi mereka untuk menghentikan pelaksanaan misi.

Pertama, jika misi telah tuntas.

Kedua, jika misi dibatalkan.

Lily melipat tangan dan mengacungkan jari telunjuknya "kalau begitu, bagaimana jika kalian tambahkan satu alasan lagi? ketiga, karena kalian dari kuil Sakura merah telah musnah".

"mulutmu lancang sekali, nona... apa itu kata-kata yang pantas diucapkan seorang mangsa? memang apa yang bisa dilakukan gadis kecil sepertimu? Terlebih, malam itu kulihat kau hanya wanita lemah yang tak berdaya dan hanya bisa diam saat dilindungi laki-laki yang terluka itu".

"seperti katamu, aku memang hanya wanita lemah dan lagi aku bukan tipe wanita petarung, tapi camkan ini baik-baik di dalam kepalamu, wanita bisa melakukan apapun demi orang-orang yang ia sayangi dan ingin ia lindungi, tak peduli meski tangannya harus terkotori atau ia harus kehilangan nyawanya..." ujar Lily maju hingga ia berdiri di depan Tae Woo, melipat tangan dan menatap tajam Agito.

Tae Woo terkekeh "kusarankan, jangan meremehkan wanita atau kau akan menyesal...".

"untuk ukuran orang yang nyawanya diincar, kau terlihat tenang sekali, nona? aku tak melihat rasa takut malah aku merasa kalau kau marah sekali..." ujar Agito yang agak merinding.

"sebab aku merasa tak pernah melakukan hal buruk yang keterlaluan sampai nyawaku harus diincar. Aku bukan tipe orang yang akan diam saja jika tahu diriku sendiri akan dibunuh dan... tentu saja aku akan sangat marah, jika orang yang kusayangi dan tak ada hubungannya dengan masalah ini malah terluka karenaku, kan?".

Agito melipat tangan dan tertawa keras sehingga Tae Woo membentengi Lily. Melihat amarah dan keberanian Lily, Agito bersedia buka mulut soal klien mereka karena bagi mereka, tak ada kerugian yang didapat kuil Sakura merah atau Kekaisaran Kai Selatan jika ia buka mulut. Kuil Sakura merah paling sering mendapat klien dari kalangan pejabat pemerintah, tentu saja klien mereka kali ini juga termasuk kalangan itu dimana mereka mendapat dua misi yang berbeda di kerajaan Kouka.

Misi pertama, klien berasal dari kerajaan Sei, mereka diminta membunuh An Lily yang telah menjadi penyebab utama jatuhnya kerajaan Sei menjadi negara jajahan kerajaan Kouka.

Misi kedua, klien berasal dari Kekaisaran Kai Selatan, mereka diminta mencari putri semata wayang Kaisar Kai Selatan saat ini, dengan kata lain putri Kekaisaran Kai Selatan.

"putri Kekaisaran Kai Selatan yang kami kira sudah mati sejak lama, ternyata masih hidup dan bisa dibilang saat ini putri sedang minggat, kabar terakhir yang kami dapat tentang keberadaan beliau dari mata-mata kami adalah beliau sedang berada di kerajaan Kouka... jika kalian ingin kami cepat pergi dari kerajaan Kouka, mungkin kalian bisa bantu kami dengan membiarkan kami melakukan misi kami?".

"untuk membantu kalian mencari tuan putri kalian, terserah yang mulia Soo Won... tapi mana mungkin kami biarkan kalian membunuh nona Lily, kan?" sahut Tae Woo.

Lily merentangkan tangan kirinya ke depan Tae Woo "mau membunuhku? coba saja jika kalian bisa, tapi jika kalian sampai melibatkan atau mencelakai orang lain lagi, bersiaplah... air yang tenang akan berubah menjadi tsunami dan menelan kalian...".

Agito tertawa keras dan menghilang tanpa jejak bersamaan dengan saat ia menebarkan kelopak bunga (sebenarnya ia kabur ke atas atap) sehingga Joo Doh meneriaki para prajurit yang ada di luar untuk menangkap Agito.

"baiklah, sekarang... urusan terakhirku..." ujar Lily menoleh ke arah Tae Woo yang berdiri di belakangnya "jenderal bodoh satu ini...".

"kenapa malah marah padaku?".

"bagus kalau kau sadar bahwa aku marah padamu..." ujar Lily mencengkeram baju Tae Woo "meleng sedikit malah keluyuran, bukannya istirahat?! Mau diopname terus?".

"tak perlu berlebihan, luka kecil begini..." ujar Tae Woo memalingkan wajahnya dan menepis pelan kedua tangan Lily.

"oh, ya?" ujar Lily tersenyum spartan dan menchop sela tulang rusuk Tae Woo.

Melihat Tae Woo yang pingsan dengan wajah membiru, yang lain dibuat terkejut meski hanya Tetora yang berteriak sambil menunjuk Tae Woo "no... nona Lily, jenderal Tae Woo...".

"tak apa, aku hanya mengejutkan paru-parunya sedikit" sahut Lily menangkap tubuh Tae Woo sebelum jatuh ke lantai.

"yang begitu tak apa-apa?!" pekik Tetora dengan wajah pucat.

"Han Dae, tolong bantu aku!? berat?!" pinta Lily.

Han Dae mengangguk, ia menggendong Tae Woo ala piggyback ride "aye aye sir".

"kalau berat, kenapa malah dibikin pingsan, nona Lily?" tanya Ayura.

"ini cara paling mudah untuk menutup mulutnya agar dia tak cerewet atau memaksakan diri... asalkan lukanya tak terbuka lagi, tak masalah, kan?" jawab Lily melambaikan tangan.

Lily meminta kedua dayangnya dan Han Dae membawa kembali Tae Woo ke ruang perawatan tanpa memperdulikan bisik-bisik di antara para jenderal dan Soo Won yang ada di belakangnya karena sedikit banyak ia bisa menebak kalau yang mereka bicarakan, dan ia benar-benar tak peduli dengan semua itu saat ini.


Malamnya, saat Tae Woo sadar kembali, dia terkejut melihat Lily bertopang dagu pada kedua jari tangannya yang saling bertautan, menatap Tae Woo sinis.

"kenapa masih marah? belum cukup membuatku pingsan dan mempermalukanku di depan para jenderal lain barusan?".

"apa maksudmu mempermalukanmu?".

"jenderal suku angin pingsan karena satu pukulan dari putri jenderal suku air... bisa bayangkan bagaimana reaksi anak-anak suku angin jika Han Dae menyebarkan kabar itu saat kami kembali ke Fuuga nanti?".

"kalau begitu, bagaimana bisa kau bertindak seceroboh itu kemarin?".

Ceroboh.

Tae Woo menyandarkan kepalanya ke dinding dan tertawa sinis mendengar ucapan Lily.

Benar, tak ada kata lain yang pas selain 'ceroboh' atas tindakannya malam itu yang berusaha melawan sebuah pasukan khusus pembunuh bayaran dalam keadaan terluka cukup parah.

Han Dae, Ayura dan Tetora yang menguping dari luar dikejutkan oleh Mundok, Joon Gi, Joo Doh, Kyo Ga dan Soo Won yang baru tiba disitu. Han Dae menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, pertanda meminta yang lain jangan ribut. Ayura dan Tetora juga tak berani masuk ke dalam kamar karena Lily sedang dalam tensi tegangan tinggi.

"jawab pertanyaanku, jenderal bodoh".

Tae Woo menghela napas, tampaknya nama panggilan baru dari Lily itu resmi digunakan Lily untuk memanggilnya saat Lily sedang emosi seperti saat ini. Tae Woo diam bukan karena dia tak ingin menjawab pertanyaan Lily, hanya saja karena luka di tubuhnya yang terasa sakit, ia masih berusaha mengatur napasnya hingga akhirnya ia bisa menjawab pertanyaan Lily.

"entahlah... kita memang tak terlalu dekat... tapi... aku tak sebodoh itu... sampai membiarkan wanita yang tak bersalah... mati di depan mataku...".

"jangan bercanda!?" teriak Lily memukulkan kedua tangannya ke lantai dan berdiri.

"kau tak sekuat yang kau kira... kau takut, kan? meski tanganmu gemetar... kau tetap berdiri dan tak mau kalah..".

"jangan meremehkanku!? aku tak peduli jika tubuhku berlumuran darah!? tapi tentu saja aku takut jika melihatmu yang berlumuran darah bertarung melawan mereka!? kau, seorang diri dengan tubuh terluka parah berusaha melawan mereka!? ceroboh pun ada batasnya!? kau membuatku takut dan berpikir... apa aku masih bisa bertemu lagi denganmu atau tidak?!".

"aku tak meremehkanmu... karena aku tahu... kalau kau wanita yang kuat... tapi tak peduli sekuat apapun, kau tetap wanita... dan sudah tugas laki-laki... untuk melindungi wanita..." ujar Tae Woo memegang wajah Lily dan menundukkan kepala "tapi aku minta maaf... karena sudah membuatmu cemas...".

Lily mengerti perasaan Yona yang merasa sangat lega saat orang yang ia sayangi kembali lagi padanya, meski perasaan ini berbeda, tak mengubah kenyataan kalau Lily sudah menganggap Tae Woo sebagai salah satu orang yang ia sayangi. Lily menangis lega, mendekap kepala Tae Woo ke pelukannya. Tae Woo bisa melihat jelas air mata Lily yang berjatuhan ke wajahnya, sehingga ia tak tahu harus bereaksi apa selain menepuk-nepuk punggung Lily dan membiarkan Lily menangis.

"tuan Hak, apa ini juga yang anda rasakan saat melindungi tuan putri dan orang yang anda sayangi?".