Chapter 12 – Cherry Blossom
Di bawah pohon Sakura yang mekar pada awal musim semi, bayangan masa lalu yang telah lama ditinggalkan kembali muncul
.
Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc
.
Kija menunjuk tiga botol minuman di atas meja makan yang berisi minuman dengan beragam warna, mulai dari warna biru, pink dan orange "apa ini, Yun? Baunya harum sekali".
"itu ekstrak bunga, bukan aku yang membuatnya tapi Leila dan Yasmine" jawab Yun meminta yang lain untuk tak menyentuh ketiga minuman itu jika tak ingin dihajar oleh Yasmine.
Hak pergi bersama Leila dan Yasmine ke kota terdekat untuk mencari obat untuk Jae Ha. Pasca serangan para pria berbaju hitam di akhir musim dingin baru-baru ini, meski Jae Ha sama sekali tak bicara apa-apa karena tak ingin membuat mereka cemas, jelas Jae Ha mengalami gangguan pada paru-parunya. Untungnya suhu hangat dari cuaca lingkungan sekitar mereka yang saat ini memasuki awal musim dingin membuat kondisi Jae Ha membaik dengan cepat, hanya perlu aromaterapi untuk melegakan pernapasan dan vitamin untuk memulihkan kondisi tubuh. Luka tusukan panah, luka ditebas dan tulang retak atau patah tak terlalu mengganggunya seperti apa yang ia derita akibat gangguan pernapasannya.
"tapi apa mereka bertiga tak terlalu lama?" gumam Yona bertopang dagu, ia bersungut karena dilarang ikut dengan Hak ke kota mengingat Yun menahannya dengan alasan kalau tiga kakak beradik eksotis itu sudah terlalu menarik perhatian.
Yui tersenyum mendengar kegundahan Yona sehingga ia memberitahu bahwa kakak beradik eksotis itu sedang dalam perjalanan kembali dan mereka sudah dekat sampai tiba-tiba mereka dikejutkan suara teriakan yang mereka kenali sebagai suara teriakan Hak, Leila dan Yasmine.
"WAA!?" (Hak).
"KYAA?!" (Leila).
"OH, TIDAK?!" (Yasmine).
Yona refleks berdiri "itu suara mereka?!".
"apa yang terjadi?" ujar Yun heran, menautkan alis.
"...apa kawanan berbaju hitam itu lagi?" gumam Jae Ha sebelum menutupi mulutnya dengan telapak tangannya, menahan batuk.
Yui mengangkat kedua telapak tangannya ke samping telinga, menajamkan pendengarannya "aku tak mendengar ada kedatangan musuh, hanya ada mereka bertiga".
"tapi tak mungkin mereka berteriak jika tak terjadi sesuatu, kan?" ujar Kija sontak menoleh ke arah Shina "Shina, apa ada serangan dari musuh?".
"mereka tak terluka, kan?" tanya Yona cemas.
Shina menggelengkan kepala "tapi memang terjadi sesuatu... kalian akan mengerti kalau kalian melihat sendiri kondisi mereka...".
"kalau begitu, tunggu apalagi? ayo, kita pergi?!" ujar Zeno menarik Shina dan berlari paling depan.
Saat tiba disana, mereka menemukan Hak dan Yasmine bersembunyi ke balik semak dengan kedua tangan memegangi kepala mereka sedangkan Leila tak terlihat sehingga Shina mencabut pedangnya dan menebas pohon di belakang Hak dan Yasmine.
Bersamaan dengan jatuhnya pohon itu, Leila yang sembunyi di atas pohon itu mendarat dengan selamat.
"Shina!? kenapa tak kau biarkan aku sembunyi!?".
Setelah Shina meminta maaf sambil membungkukkan badannya, terlepas dari reaksi Leila yang bersungut pada Shina, teman-teman mereka terkejut melihat perubahan di tubuh Leila, dimana Leila kini memiliki sepasang sayap berwarna putih.
"aku pernah melihat wujud Altermu... seingatku... bukankah sayapmu warnannya hitam?" ujar Shina heran.
"baiklah, ingat cerita ibuku tentang wujud Alter dan wujud Revenger? Ini bukan wujud Alter atau wujud Revenger kami" ujar Yasmine.
"dan aku juga sudah pernah bilang, kan? ibarat pedang bermata dua, kami bertiga lahir dengan menanggung kekuatan dan kutukan... bisa dibilang ini kutukan kami, dimana sosok kami akan berubah tanpa keinginan kami selama sehari penuh tiap musim. Sosok kami akan berubah jadi setengah manusia setengah hewan pada bulan purnama pertama di tiap awal musim, dengan kata lain, kami akan mengalami hal ini setiap tiga bulan sekali. Sosok hewan apa yang muncul tergantung pada hewan buas yang merasuki kami" tutur Leila.
"seingatku yang merasukimu kuda, kenapa yang keluar malah sayap?" gumam Yasmine.
"hei, Hokuto punya sayap, cuma dia sembunyikan" sahut Leila.
"terus, kenapa kalian berdua sembunyi dengan posisi begitu?" tanya Zeno.
Yona tersenyum lebar "Hak, angkat tanganmu dan keluar~ aku mau lihat~".
Saat Hak dan Yasmine berhasil ditarik keluar secara paksa dari persembunyian mereka, terlihat jelas perubahan di tubuh mereka berdua. Hak dan Yasmine memiliki sepasang telinga kucing di kepala mereka, bahkan tumbuh ekor di tubuh mereka, bedanya ekor Yasmine adalah ekor harimau putih yang lorengnya hitam putih sedangkan ekor Hak adalah ekor singa. Satu lagi, telinga mereka berdua beda warna, dimana telinga kucing di kepala Hak berwarna hitam dan telinga kucing di kepala Yasmine berwarna putih.
Reaksi mereka? beragam...
Zeno tersenyum lebar (entah apa yang dipikirkan si tua ini)
Kija dan Jae Ha yang tertawa terbahak-bahak (meski tawa Kija harus berakhir karena Yasmine yang mengunci lehernya dan tawa Jae Ha terhenti akibat batuk beberapa kali)
Shina dan Yui yang diam seperti biasa (karena Shina memang pendiam sedangkan Yui tak bisa melihat apa yang membuat teman-temannya tertawa)
Yun yang speechless dengan ekspresi yang priceless
Dan... Yona yang menatap Hak dengan mata berbinar tak bisa menahan diri untuk tak memeluk Hak
"KYA!? Manisnya?!" pekik Yona mendekap erat Hak sambil mengelus-eluskan pipinya ke wajah Hak.
"mana ada laki-laki yang senang kalau dibilang manis?! Ini memalukan?!" pekik Hak dengan wajah tersipu, meski dalam hati ia merasa senang melihat reaksi Yona.
Begitulah, mereka tak punya pilihan lain selain menunggu sehari penuh sampai perubahan di tubuh mereka bertiga kembali ke semula.
"omong-omong, untuk apa kau bikin minuman ekstrak bunga itu?" tanya Yun.
"kau bisa anggap itu sebagai minuman penambah energi untuk kami para 'bunga' meski aku pribadi menyebutnya sebagai relaksan... dan sebagai tambahan, ini juga bisa digunakan untuk meredakan nyeri saat... yah, tahulah, tamu bulanan perempuan".
"adikku, itu bukan hal yang seharusnya kau ucapkan di tengah kumpulan laki-laki begini".
"tapi sikap cuek adikmu itu sama saja denganmu, Hak" angguk Yona yang duduk di pangkuan Hak.
Melihat Leila duduk bersandar di bawah pohon Sakura, Yasmine menyerahkan botol minuman berisi ekstrak bunga "omong-omong, kau tahu tidak, kak? konon di bawah pohon Sakura yang mekar dengan lebat, ada mayat yang dikuburkan".
"jangan bicara yang tidak-tidak selagi memberikan minuman padaku?!" protes Leila tersentak, sampai-sampai air minumnya muncrat.
"bicara soal pohon Sakura yang mekar, kuil tempatku dibesarkan dulu juga punya rumor begitu sebab tiap ada anak yang meninggal, jumlah pohon Sakura di kuil jadi bertambah".
Anggota grup Happy Hungry Bunch terdiam mendengar ucapan Yui yang membuat mereka tambah merinding. Shina yang biasanya memang diam tiba-tiba berdiri dan mengutarakan apa yang ia lihat, nampaknya mereka kedatangan tamu.
