Chapter 13 – Secret Rendezvous

Selagi waktu dan tempat pertemuan dirancang, tak ada yang lebih menggelikan dari salah paham yang dibiarkan berjalan akibat pertemuan rahasia di malam hari


.

Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc

.

Keishuk menyampaikan undangan yang diberikan utusan Kekaisaran Kai bahwa akan diadakan referendum untuk membahas dua hal.

Pertama, penyatuan kembali Kekaisaran Kai Selatan dan Kekaisaran Kai Utara.

Kedua, perjanjian kerjasama antar kerajaan Kouka dengan Kekaisaran Kai.

Dalam rapat kelima suku yang diadakan segera setelah undangan itu tiba, hanya selang sehari setelah Agito muncul di hadapan mereka untuk membunuh rekannya yang gagal menuntaskan misi. Suasana terasa tegang, tentu saja, masalah dengan kuil Sakura merah belum selesai sudah ditambah dengan masalah dari Kekaisaran Kai. Sekilas, ini terlihat sebagai kesempatan bagus tapi Soo Won merasa ada aroma busuk di balik tawaran manis ini.

Sehingga diputuskan Soo Won akan menghadiri referendum didampingi Joo Doh, Geun Tae dan Kyo Ga sedangkan Joon Gi dan Mundok diminta bersiaga di wilayah masing-masing agar saat keadaan menjadi genting atau datang serangan dadakan dari musuh secara tersembunyi, mereka bisa tetap mempertahankan diri. Setelah Soo Won meminta para jenderal menyiapkan pasukan dari tiap suku berjaga di wilayah perbatasan, hanya tinggal satu masalah.

Lily.

Soo Won tersenyum, ia sudah memikirkan sesuatu untuk mengantisipasi hal ini meskipun Lily merasa pasti ada yang tak beres. Melihat ekspresi Soo Won, Lily mendapat perasaan tak enak.

"tetua Mundok, anda tak keberatan jika nona Lily dititipkan ke Fuuga sementara kami pergi ke Kekaisaran Kai untuk menghadiri referendum, kan?".

"apa?!" pekik Tae Woo dan Lily bersamaan.

Saat Lily mempertanyakan reaksi Tae Woo dengan cara menatap Tae Woo disertai ekspresi yang seolah berkata 'apa-apaan reaksimu barusan? kau keberatan jika aku dititipkan di Fuuga?' maka Tae Woo yang bisa membaca apa maksud Lily hanya memalingkan wajah tanpa ekspresi seolah ingin berkata 'terserah sih, tapi kenapa kau bereaksi begitu? tak suka jika dititipkan ke Fuuga?'.

Mundok mengangguk "terlepas dari kondisi Tae Woo saat ini, para petarung tangguh didikanku tentu saja takkan membiarkan sesuatu terjadi pada nona Lily saat nona Lily dititipkan ke tempat kami, tapi kenapa anda meminta nona Lily dititipkan ke tempat kami?".

"karena aku pribadi merasa itu tempat yang paling aman untuk menyembunyikan nona Lily... bukan berarti aku tak percaya pada suku lain, tapi jenderal Joon Gi sendiri juga sudah setuju, kami juga tak ingin mengambil resiko dengan membawa Lily serta ke Kekaisaran Kai bersama kami".

Joon Gi mengangguk "benar, sayangnya aku bukan tipe petarung tangguh seperti tetua Mundok atau jenderal Tae Woo, tapi masalahnya putriku ini tipe yang mudah terjerumus dalam bahaya bahkan seringkali tak memikirkan akibatnya pada diri sendiri, daripada aku merasa cemas atas keselamatannya yang belum pasti, lebih baik dia kutitipkan di tempat yang bisa mengawasinya dimana sifat sembrononya bisa ditekan sepenuhnya".

"ayahanda tidak sopan?! kenapa bicara begitu soal putrimu sendiri?" protes Lily.

"kau tak lupa apa yang terjadi di kerajaan Sei, kan?" sahut Joon Gi.

Lily terpaksa bungkam. Ia tak bisa membantah ucapan Joon Gi jika teringat betapa khawatirnya Joon Gi saat itu apalagi jika ia teringat bagaimana reaksi Joon Gi pasca ia selamat. Hanya dua hal yang diminta Joon Gi padanya, yaitu agar ia tak melibatkan diri dalam hal berbahaya tanpa membicarakannya pada Joon Gi terlebih dahulu dan tetap bertahan hidup apapun yang terjadi. Akhirnya Lily menyetujui usulan yang disampaikan Soo Won tanpa protes, sebab ia tak ingin membuat ayahnya khawatir seperti saat itu lagi dan rapat ditutup.

Di tengah perbincangan yang santai pasca rapat kelima suku, Geun Tae memuji Lily yang kini menurutnya telah menjadi wanita yang kuat dan menarik.

"bukankah ini kesempatan bagi kalian berdua untuk mendekatkan diri? kalian berdua bisa jadi pasangan yang serasi, menurutku" ujar Geun Tae tertawa lebar.

"apa maksud anda? anda salah paham, jenderal Geun Tae?! kami berdua hanya teman?!" ujar Lily panik dan mengayunkan tangan.

"benar, jangan bicara seenaknya, paman... yang kusukai itu tipe wanita petarung seperti... putri Yasmine".

Mendengar ucapan Tae Woo, Geun Tae memiringkan ujung bibirnya "gunung yang kau incar itu gunung salju yang curam dan terjal... itu terlalu berbahaya, nak".

"biar saja... lagipula yang dicintai Lily itu bukan aku, tapi...".

Sebelum Tae Woo bicara lebih dari ini mengenai hal yang berbahaya untuk diungkapkan di depan para jenderal lain, Lily menutup mulut Tae Woo dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya melakukan kuncian leher dari belakang Tae Woo sambil tersenyum tanpa dosa dan berusaha menyeret Tae Woo menjauh.

"ohohohoho~ apa yang kau katakan, Tae Woo? ayo, kembali ke kamarmu, kau mulai melantur lagi karena demammu naik, ya?".

Dalam hati, Soo Won hanya bisa bersimpati pada jenderal suku angin sementara yang lainnya tambah salah paham melihat perubahan perilaku Lily pada Tae Woo.

Kalian tanya apanya yang berubah? Banyak.

Lily tak terlihat tertarik berakrab ria dengan pria seumurannya seperti Tae Woo sebelumnya, tapi Tae Woo bisa akrab dengannya dalam waktu singkat bahkan cukup dekat, dan yang paling terlihat mencolok adalah hilangnya embel-embel alias panggilan kehormatan (nama panggilan jenderal dari Lily dan nama panggilan nona dari Tae Woo) di antara Tae Woo dari Lily yang berganti pada panggilan akrab dengan memanggil nama kecil satu sama lain.

Seandainya Soo Won tak mengetahui bahwa Lily mencintai Geun Tae, mungkin sama seperti para jenderal sampai para dayang dan prajurit di kastil Hiryuu yang bergosip tentang kedekatan mereka berdua, Soo Won mungkin juga akan mengira kalau Lily telah jatuh hati pada Tae Woo. Soo Won bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain tapi ia termasuk pria yang pandai membaca emosi orang lain. Dari apa yang ia lihat, Tae Woo hanya belum menyadari perasaannya dan Lily yang baru saja patah hati mulai menyadari keberadaan Tae Woo.

Kesalahpahaman ini berawal dari gosip yang beredar dari mulut beberapa dayang dan prajurit yang berpatroli malam itu, mengatakan kalau ada yang melihat Tae Woo dan Lily berduaan di taman pada malam hari, tak hanya bicara, tapi juga berpelukan. Tentu saja mereka salah paham apalagi bagi mereka yang melihat sebelumnya Lily menangis lega sambil memeluk Tae Woo di kamar Tae Woo dirawat.


Malam itu, Lily tak bisa tidur sehingga ia berjalan-jalan keluar. Ia menghentikan langkahnya di taman saat melihat bunga di pohon Sakura mulai mekar dengan indahnya.

"cantiknya...".

"tak bisa tidur juga?".

Lily sudah ingin protes pada Tae Woo karena ia lagi-lagi beranjak dari kamarnya ketimbang diam di kamar untuk beristirahat, namun Tae Woo yang kondisinya terlihat jauh lebih baik dari saat ia baru sadar, membuat Lily memaklumi tindakannya kali ini. Tentu saja Tae Woo merasa bosan karena dikurung dalam kamar perawatan. Lily mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Tae Woo yang menghampirinya. Kini keduanya berada di taman, berdiri bersebelahan sambil menatap bunga dari pohon Sakura yang mulai mekar dengan indahnya.

"apa kau tak apa-apa?".

Lily mengedipkan matanya sambil memiringkan kepalanya, heran mendengar pertanyaan dari jenderal suku angin yang kondisinya jelas tak lebih baik darinya "yang terluka itu kau, kan?".

"maksudku... tentang jenderal Geun Tae...".

Lily melihat rasa khawatir di mata Tae Woo yang terlihat segan bertanya pada awalnya, tapi ia bisa mengerti alasan di balik sikap dan pertanyaan Tae Woo barusan. Saat perjamuan, memang terdengar kabar gembira dari Geun Tae bahwa Yun Ho, istrinya tengah mengandung sehingga Yun Ho tak bisa ikut hadir dalam pesta ulang tahun Soo Won.

"kenapa? kau pikir aku akan menangis berhari-hari layaknya gadis lain yang baru saja patah hati?".

Tae Woo terdiam mendengar jawab Lily yang terdengar sarkastik, tapi tak mengubah fakta jika ia khawatir pada Lily karena ia bisa melihat kesedihan di mata Lily. Tak ingin membuat orang lain yang tahu soal perasaaannya cemas padanya, Lily meyakinkan kalau ia baik-baik saja dan tersenyum.

"perasaanku pada jenderal Geun Tae memang tak bisa hilang secepat yang kuinginkan tapi aku akan berdoa untuk kebahagiaan mereka, juga keselamatan nyonya Yun Ho dan bayi mereka".

Tae Woo mengerutkan kening, meraih bahu Lily dan mengubah posisi sehingga kini mereka berdua saling berhadapan "kau tak sekuat yang kau kira".

"apa-apaan ucapanmu itu? mengajakku berkelahi?".

"kenapa kau tak jujur saja tentang apa yang kau rasakan saat ini? bahwa kau terluka dan kau hanya menahan perasaanmu".

Mendengar ucapan Tae Woo, Lily menundukkan kepala dan tersenyum pilu "aku mengerti ini sudah saatnya melepaskan perasaanku yang tak membuahkan hasil dan aku tidak sebodoh itu sampai mau jadi perusak rumah tangga orang lain... aku hanya terkejut... kenapa aku bisa begitu tenang? Aku bahkan bisa memutuskan perasaanku semudah ini... pada akhirnya, perasaanku tak serius, kan? aku merasa diriku yang pernah berharap dan mempertahankan perasaan yang tak mungkin terbalas ini bodoh sekali... tapi setelah mendengar ucapanmu, kurasa kau benar... sebab aku merasa aku akan menangis jika aku mengakui apa yang kurasakan".

"perasaanmu itu serius, karena itu kau terluka, kan? aku tidak merasa kalau perasaanmu yang sungguh-sungguh itu sebagai sesuatu yang bodoh dan aku berkata begitu karena melihat kau berusaha keras menahan air matamu..." ujar Tae Woo menepuk kepala Lily sambil berdecak pinggang "terserah jika mau menangis atau marah-marah, kau bisa bersandar padaku, meski pundakku tak selebar jenderal Geun Tae".

Lily menempelkan kedua tangannya dan wajahnya yang berurai air mata ke dekapan Tae Woo "aku masih belum bisa menata perasaanku, tapi pundak yang merangkulku terasa hangat dan lebih lebar dari yang kukira".


Tae Woo sempat mempertanyakan apa tak masalah jika salah paham tentang hubungan mereka berdua dibiarkan saja ditambah dengan sikap Lily padanya yang bisa membuat salah paham di mata orang lain tentang hubungan mereka berdua makin menjadi namun saat Lily bertanya apa Tae Woo merasa keberatan atau terganggu dengan adanya gosip yang beredar tentang seperti apa hubungan mereka berdua yang sebenarnya, Tae Woo mengakui ia tak keberatan soal gosip itu dan meminta Lily lebih memikirkan dirinya sendiri.

"jangan pasang ekspresi begitu, aku benar-benar sudah tak apa-apa... karena Tae Woo sudah membiarkanku menangis, aku merasa sangat lega, rasanya aku sudah bisa melangkah maju" ujar Lily mengaitkan kedua tangannya di belakang sambil mendongak, menatap langit dengan sorot mata yang tenang sebelum ia berbalik menatap Tae Woo dan tersenyum lebar "terima kasih banyak, Tae Woo".

Tae Woo tersenyum lega melihat senyuman Lily yang tulus "kau memang wanita yang kuat, nona Lily... semoga laki-laki berikutnya yang kau cintai akan jadi seseorang yang bisa menilai kualitas dirimu dan menghargaimu".

Lily mengacungkan jari telunjuknya yang tegak lurus ke depan Tae Woo "sudah kubilang, kau tak perlu memanggilku dengan panggilan formal seperti itu, kan? kita seumuran, tak masalah jika kita saling memanggil nama kecil kita".

Tae Woo melipat tangan dan tertawa geli "baiklah, Lily".