Chapter 16 – Was This The Right Time?
Apa ini saat yang tepat untuk mengurus hal-hal semacam ini?
.
Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc
.
Saat Yui membuka matanya, ia merasakan kehangatan dari jari tangan yang besar, membelai wajahnya lembut "hangatnya, tangan ini...".
"kenapa menangis? Kau mimpi buruk?".
Setelah terdengar suara Jae Ha di telinganya, Yui bangun sambil menyeka air matanya "eng, bukan... aku hanya memimpikan mendiang ibuku...".
"...mungkin karena sebentar lagi kita akan sampai ke tanah airmu, tempat kelahiranmu" ujar Jae Ha menggendong Yui dan membawanya ke dek kapal.
Mereka kini dalam perjalanan menuju Kekaisaran Kai Selatan, tepatnya di kota Banshee yang merupakan kota pelabuhan. Rupanya kota Banshee tak hanya dikenal sebagai kota pelabuhan besar yang menjadi salah satu kota berlangsungnya basis perdagangan dalam dan luar negeri, tapi juga kota seni dan wisata sehingga banyak warga dalam negeri sendiri dan orang dari luar negeri yang lalu lalang di kota Banshee. Mereka menumpang kapal milik kapten Gigan dari kota pelabuhan Awa. Lucu juga mengingat apa yang terjadi saat mereka baru tiba di Awa sebab kapten Gigan tanpa ragu menginjak Jae Ha sambil bertanya siapa Yui. Kapten Gigan akan diam di pelabuhan bersama para awak kapalnya dengan berkedok pedagang yang datang dari Awa, sedangkan Yona dan teman-temannya adalah kelompok seniman jalanan yang berkeliling dari satu kota ke kota lain. Sebelum berlabuh, kapten Gigan bersama Yona sebagai ketua kelompok kali ini melaksanakan rapat di kabin.
"kita bagi dua kelompok sesuai rencana awal, kelompok seniman jalanan akan memata-matai keadaan dengan terjun langsung ke markas mereka dan kelompok pedagang diam di pelabuhan untuk mencari serta menunggu kabar dari kelompok seniman jalanan dan membantu mereka jika terjadi sesuatu" ujar kapten Gigan yang memimpin kelompok pedagang.
Mengingat apa yang terjadi saat mereka memasuki wilayah kerajaan lain (Sei Arc & Xing Arc) dimana mereka berakhir bentrok dengan kerajaan lain, Kija menyarankan agar mereka berjalan di kota sambil berpasangan, paling tidak harus ada satu yang berada di samping yang lain saat berjalan di kota sehingga jika terjadi sesuatu, yang satu lagi bisa menjadi rem untuk menahan yang lain.
"aku mengerti hal itu, tapi... apa-apaan pengambilan undian ini!?" pekik Yasmine saat melihat penentuan pasangan yang dilakukan secara acak dengan undian (ini ide Yun).
Akhirnya, kelompok seniman jalanan dibagi menjadi beberapa tim dimana Yona dengan Hak, Kija dengan Yasmine, Shina dengan Leila, Jae Ha dengan Yui dan Zeno dengan Amitha dan Yun.
"tunggu dulu!? apa tim ini benar-benar ditentukan berdasarkan undian?!" protes Kija.
"kak, kau tidak pakai kekuatanmu, kan?" ujar Yasmine menatap curiga Hak.
"apa yang kau katakan, adikku?" ujar Hak tersenyum lebar.
Raijuu, hewan suci yang merasuki Hak memiliki penglihatan tembus pandang sehingga Hak sebagai pemiliknya bisa melihat isi kotak undian itu dan Yona yang ingin berpasangan dengan Hak sudah memintanya untuk mengambil undian miliknya juga sehingga mereka jadi satu tim (dasar licik). Yui dan Leila yang mengetahui hal ini, tentu saja menahan tawa tapi keduanya memilih untuk diam meski Yui sudah berencana menceritakan hal ini pada Jae Ha yang akan menggunakan hal ini sebagai bahan untuk menggoda Hak nanti.
"baik, jadi rencananya kami dari tim pedagang akan bertindak sebagai pengalih perhatian juga pusat informasi, kami berkedok sebagai pedagang yang baru tiba di kota pelabuhan ini dan akan menetap sampai festival itu selesai... sedangkan kalian tim seniman jalanan menumpang kapal kami dan masuk ke kota untuk ikut berpartisipasi dalam festival yang akan diadakan di kota pelabuhan tujuan kita, kan? kami yang akan mencari informasi di pelabuhan dan jalur dagang sementara kalian ke kota untuk melakukan pengintaian" ujar kapten Gigan.
"penyusupan jika memungkinkan..." tambah Yun menambahkan point utama.
"setelah kalian berhasil menyusup ke markas utama mereka, kami akan menunggu sinyal dan kabar dari kalian di kapal dan kami akan mengirim bantuan sesuai apa yang kami bisa".
"oh iya, satu hal yang perlu kalian ingat, jangan memanggil mereka dengan sebutan tuan putri di tengah kota, mengerti?" ujar Yun menunjuk Yona, Yasmine, Yui dan Leila sambil menatap para laki-laki di kelompok mereka (setelah mengetahui kalau Yui adalah putri Kekaisaran Kai Selatan, Kija jadi ikut memanggilnya putri, sih).
"baik, bu..." ujar Yona dkk.
"jangan panggil aku ibu!?" pekik Yun.
"tapi jika kita mencari di tengah-tengah festival, apa tak sulit untuk mencari informasi?" ujar Yona cemas.
"bisa jadi... tapi, dengan begini, kita juga tak terlalu mencolok, kan?" sahut Hak.
Amitha sudah memberitahu mereka bahwa akan diadakan festival penghormatan untuk dewa naga laut sebagai pembukaan referendum di kota Banshee. Banshee, nama kota itu diambil dari nama seorang wanita yang mendirikan kota itu, wanita itu adalah disegani warganya karena ia tak hanya cerdas dan canti, ia juga merupakan pemimpin yang baik, adil dan peduli pada para warganya. Menurut cerita warga setempat, seorang penguasa hendak menikahi Banshee untuk mendapatkan kemakmuran dan kekuasaan. Karena Banshee menolak permintaannya, pria itu membantai warga desa untuk mengancam Banshee. Hal ini memicu amarah dewa naga laut, Mizuchi. Mizuchi marah besar karena darah warga desa mengalir ke laut dan mencemari laut dengan darah dan perasaan negatif mereka. Untuk meredamkan amarah Mizuchi, Banshee terjun ke laut dan mengorbankan dirinya. Pria itu menyesali perbuatannya sehingga ia membuat makam untuk Banshee yang menghadap laut. Saat membuat makam itu, pria itu mendapatkan seorang bayi perempuan yang hanyut di tepi pantai. Pria itu kemudian mengasuh bayi itu yang ia beri nama Syrena. Sejak itu, keturunan Syrena yang dianggap sebagai reinkarnasi Banshee sangat dihormati dan pada generasi berikutnya, mereka lebih dikenal sebagai keturunan kaum Siren, penyihir dari laut.
Yun terlihat sangat tertarik saat Amitha menceritakan soal itu, ia juga meminta Amitha untuk menceritakan apa saja yang ia tahu mengenai kebudayaan Kekaisaran Kai Selatan sehingga ia cukup akrab dengan Amitha. Setelah sampai di pelabuhan, sementara kapten Gigan dan awak kapalnya mengurus berbagai macam protokol, Yun mengajak teman-temannya berpencar. Di tengah jalan, entah kenapa Yun merasa ia melupakan sesuatu yang penting.
Di pesisir pantai, berdiri kompleks bangunan megah nan kokoh yang dinding bagian bawahnya dibangun dengan batu karang. Salah satunya yang paling condong menghadap laut berhadapan dengan tangga batu yang menuju pantai pasir putih yang ada di bawah bangunan. Jika menuruni tangga batu itu dan berjalan menyusuri pantai pasir putih, di sebelah Selatan benteng mereka dapat menemukan Oasis, gambaran yang tepat untuk menggambarkan lembah yang dipenuhi oleh pepohonan khas padang pasir yang mengelilingi sebuah danau yang terbentuk di tengah surga kecil itu, berasal dari air terjun yang menuju laut, sedangkan di sebelah Utara benteng terdapat daerah batu karang, sebuah gua alami yang dikelilingi bebatuan stalaktit menambah hawa misterius di tempat itu. Hawa mistis paling terasa saat memasuki gua itu dan menemukan sebuah batu yang memiliki ukiran seekor naga yang muncul dari dalam laut berada di samping ukiran seorang wanita. Batu itu adalah makam untuk Banshee sekaligus monumen peringatan atas berdirinya kota Banshee.
Seorang pria berpakaian prajurit militer tiba-tiba memasuki gua itu sambil berteriak mencari pria yang kini berada di depan makam Banshee. Gua ini cukup luas dan tinggi sehingga suara pria itu bergema dalam gua. Pria paruh baya yang memiliki kerutan usia di dekat matanya itu menghela napas, dengan kedua tangan yang saling terkait di belakang, ia menoleh ke belakang dan melihat jemputannya datang. Pria itu kira-kira seumuran Geun Tae, rambut hitamnya yang lurus dihiasi beberapa uban, kedua bola mata yang hitam legam seperti langit malam itu kini menatap prajurit yang menghampirinya.
"tak bisakah kau tak berteriak di tempat keramat ini?".
"mohon maaf, yang mulia?!" ujar prajurit itu berlutut di hadapan tuannya "saya hanya ingin menyampaikan, rombongan dari kerajaan Kouka baru saja tiba?!".
Pria itu kembali menghela napas. Dialah Kaisar Dal, Kaisar Kekaisaran Kai Selatan saat ini.
"sampaikan padanya, aku akan segera menemuinya setelah selesai ziarah ke makam istri dan anak-anakku" sahut Kaisar Dal melewati prajurit itu.
Melihat prajurit itu memacu kudanya kembali menuju benteng Samudra, kompleks bangunan megah yang berada di pesisir pantai itu, Kaisar Dal melarikan kudanya menuju Oasis. Setelah ia menambatkan kudanya, ia berdiri di depan deretan makam yang merupakan makam kedua istrinya, mendiang permaisuri dan selirnya serta makam anak-anaknya.
"Shoka, Sumire, Fuyo, Yui dan Hayabusa... lama tak jumpa" ujar Kaisar Dal menangkupkan kedua tangannya sebelum berlutut di depan deretan makam itu "aku penasaran apa kalian tahu betapa aku sangat merindukan kalian? tapi kurasa aku hanya perlu menunggu sebentar lagi agar aku bisa bertemu lagi dengan kalian".
Tak menghiraukan Joo Doh yang mengomel karena mereka dibuat menunggu oleh Kaisar Dal, Geun Tae meminta Kyo Ga pergi ke kota untuk melihat keadaan sekaligus mencari toko yang bagus (yang dimaksud Geun Tae adalah toko yang menyediakan barang yang ada dalam daftar oleh-oleh untuk istrinya).
Kyo Ga menautkan alis mendengar ucapan Geun Tae "kenapa harus saya?".
Geun Tae menyeringai "itu karena kau yang paling muda di antara kami, pendatang baru yang masih hijau".
"jenderal Tae Woo yang paling muda di antara kelima jenderal, kan?".
"benar, tapi bocah suku angin itu tak ada disini karena harus istirahat di Fuuga, kan? aku jadi penasaran, kira-kira apa yang sedang mereka lakukan?" ujar Geun Tae melipat tangan, tertawa terkekeh sebelum menyadari Soo Won yang diam sejak tadi "kenapa, yang mulia?".
Soo Won tersadar dari lamunannya dan melambaikan tangan "ah, tidak apa-apa. Aku hanya teringat ekspresi nona Lily saat berpisah karena harus ditinggal di Fuuga. Kukira akan terjadi perpisahan yang mengharukan karena ia harus berpisah dengan jenderal Joon Gi sementara waktu, ternyata dia malah dengan senang hati ditinggal di Fuuga".
Itu karena saat tiba di Fuuga, Lily disambut oleh Tae Yeon, sehingga Lily menggendong Tae Yeon dan melambaikan tangan saat berpisah dengan rombongan yang mengantarnya sebelum rombongan itu berpencar, dimana rombongan Joon Gi kembali ke wilayah suku air sedangkan rombongan Soo Won pergi ke Kekaisaran Kai Selatan.
"yang mulia, masih ada banyak wanita bangsawan yang cantik dan kompeten sebagai ratu, apa perlu saya kenalkan jika Lily memang lebih memilih jenderal Tae Woo?".
"anda salah paham, jenderal Geun Tae?!"
Merasa cukup dengan kelakuan para jenderal seniornya, saat Geun Tae dan Joo Doh kembali adu mulut, Kyo Ga pamit dan memilih untuk turun ke kota sesuai permintaan Geun Tae. Dasar, ia benar-benar tak habis pikir, memangnya ini saat yang tepat untuk mengurus hal remeh temeh semacam percintaan? Ia heran, kenapa Geun Tae selalu menganggap kedekatan antara Lily dan Soo Won atau Tae Woo sebagai ketertarikan antar lawan jenis? Meskipun memang, kedekatan antara Lily dan Tae Woo perlu dipertanyakan, jika memang benar tidak ada perasaan apapun, apa maksud mereka saling berpelukan?
Kyo Ga memutuskan berhenti memikirkan hal itu dan geleng-geleng kepala, kenapa juga dia malah memikirkan hal itu? ini bukan saatnya memikirkan hal remeh temeh macam itu, Kyo Ga tahu penyebab utamanya, mungkin ini ada hubungannya dengan bayangan wajah perempuan yang tak mau pergi dari kepalanya sampai sekarang. Untuk mengalihkan pikirannya, ia pergi menaiki kuda untuk menuju kota ditemani oleh tiga pendamping, dua orang bawahannya dari suku api dan seorang pendamping (atau lebih tepatnya pemandu) dari pihak Kekaisaran Kai Selatan.
Di depan gerbang menuju daerah pertokoan, lautan manusia yang lalu lalang di jalan membuat mereka kesulitan untuk jalan menunggangi kuda sehingga Kyo Ga menyuruh ketiga bawahan yang mendampinginya untuk menambatkan kuda mereka di suatu tempat. Bawahan Kyo Ga sempat heran, tak biasanya jenderal mereka bersedia turun dari kuda dan lebih memilih untuk jalan kaki di tengah kerumunan orang banyak seperti ini. Sebaliknya, pemandu dari Kekaisaran Kai Selatan yang belum mengenal seperti apa jenderal suku api, mengutarakan pendapatnya bahwa ia tak mengira kalau ternyata Kyo Ga tak seperti bangsawan yang ia kenal, kebanyakan bangsawan lebih memilih untuk naik kuda atau delman di tengah kerumunan orang banyak dan tak ingin membaur di tengah kerumunan rakyat biasa seperti ini. Sebenarnya itu juga yang akan dilakukan Kyo Ga dulu, ia biasanya akan lebih memilih untuk naik kuda ketimbang jalan kaki. Lagi-lagi Kyo Ga terbayang wajah gadis itu.
Kyo Ga tertawa sinis dan membelakangi ketiga pendampingnya "aku hanya melakukan apa yang menurutku lebih praktis".
Di tengah jalan, saat ia menemukan toko yang menurutnya mungkin menjual salah satu barang yang masuk dalam daftar yang ditunjukkan Geun Tae barusan, tanpa sengaja Kyo Ga menabrak seorang wanita.
"KYA?!".
"WOAH?!".
"oh, maafkan saya?!" ujar wanita itu membungkukkan badan.
"ah, tidak, justru aku yang tak melihat jalan... kau tak apa-apa, nona?" ujar Kyo Ga berdiri dan mengulurkan tangannya.
Wanita itu tak menjawab pertanyaan Kyo Ga dan mendongak, menatap Kyo Ga dengan mata terbelalak, begitu juga dengan Kyo Ga yang terbelalak melihat wanita itu. Tanpa sempat Kyo Ga mengatakan sepatah kata apapun, seorang pria berambut biru yang cepak dengan mata yang dililit perban menarik tangan wanita itu, pergi menjauh dari hadapan Kyo Ga. Beruntung hanya si pemandu yang sempat melihat wanita yang bertabrakan dengan Kyo Ga barusan.
"ada apa, jenderal? Anda mengenal wanita tadi?" tanya si pemandu.
Kyo Ga mengerutkan kening sebelum ia memasang topeng tanpa ekspresi "benar... wanita itu adalah wanita yang takkan bisa kulupakan".
.
"oh, kau sudah kembali? bagaimana dengan..." tanya Geun Tae terpotong karena Kyo Ga pergi melewatinya tanpa suara sehingga Geun Tae dibuat geleng-geleng kepala "...ada apa dengan bocah suku api itu? kepalanya kebentur atau lagi bad mood?".
"apa ada hubungannya dengan wanita yang tak sengaja bertabrakan dengan beliau tadi, ya?".
Ucapan si pemandu membuat kedua jendral dan raja Kouka memalingkan wajah mereka pada si pemandu dengan ekspresi terkejut, sama seperti kedua bawahan Kyo Ga. Kedua bawahan Kyo Ga yang tak sempat melihat wanita itu juga merasa penasaran terlebih setelah mereka mendengar ciri-ciri wanita itu dari si pemandu.
"wanita itu cantik sekali?! rambutnya hitam lurus, matanya sebiru laut dan kulitnya agak coklat seperti kopi susu!? meski pakaiannya sopan, wanita itu tetap terlihat sangat seksi dengan lekuk tubuhnya yang terlihat jelas dengan kimono".
Hanya Soo Won yang menyadari, siapa kira-kira wanita yang bertabrakan dengan Kyo Ga dan seperti biasa, ia takkan bicara apa-apa.
Sementara itu, Kyo Ga duduk bertopang dagu, menatap laut "apa-apaan aku ini? wanita yang takkan bisa kulupakan... hah? apa yang kupikirkan? ini bukan saatnya memikirkan hal remeh macam itu, kan?".
