Chapter 17 – Disappearance Pain

Hilangnya rasa sakit yang merupakan bukti bahwa kau hidup, apa itu berarti ia telah mati?


.

Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc

.

Saat Yasmine dan Kija pergi menjelajahi daerah pertokoan yang khusus menjual alat perkakas untuk kendaraan, Yasmine melihat seorang gadis yang ukuran tubuhnya sedikit lebih mungil dari Yona, menjatuhkan ikat rambutnya sehingga ia menangkap ikat rambut yang jatuh ke jalan itu. Yasmine tersenyum melihat anak itu, mengingatkannya pada gadis yang sepantaran dengan anak kecil itu. Tak jauh dari jalan dimana anak itu mengambil ikat rambutnya, sebuah delman yang ditarik seekor kuda berjalan cukup kencang menuju gadis itu, Yasmine menyadari kuda yang menarik delman itu mengamuk. Tepat sebelum kuda delman itu menerjang gadis kecil itu, Yasmine berlari dan berhasil menangkap anak itu pada detik terakhir.

"TARA?!" teriak Yasmine yang menangkap gadis itu dan tersungkur sejauh beberapa meter.

Kija terkejut melihat apa yang terjadi dan berlari menghampiri Yasmine "YASMINE?!".

Anak yang diselamatkan Yasmine sama sekali tak terluka karena Yasmine memeluknya erat, Yasmine yang jatuh tersungkur sambil memeluk erat anak itu tak bergerak sehingga anak yang ia selamatkan mengguncang-guncangkan tubuh Yasmine, berusaha membangunkan Yasmine sambil menangis ketakutan melihat darah mengucur keluar dari kepala dan bahu Yasmine.

"kakak, bangun!?" isak anak kecil itu.

Tanpa memedulikan darah yang mengucur keluar dari kepalanya serta darah yang mengalir dari bahu menuju lengannya, Yasmine memegang wajah anak itu sambil berusaha duduk dan tersenyum "...kau tak terluka, kan?".

Setelah anak itu menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa ia tak terluka, ibu anak itu yang terkejut melihat peristiwa barusan segera memeluk anaknya sambil menangis lega, berterima kasih pada Yasmine sambil menggendong putrinya.

Seorang bangsawan turun dari delman itu dan menghampiri Yasmine. Pria itu terpaku selama beberapa detik pasca melihat darah yang mengucur dari tubuh Yasmine sebelum berlutut dan membungkukkan badan di depan Yasmine "mohon maaf yang sebesar-besarnya!? Apa kau tak apa-apa?".

Yasmine terbelalak melihat pria itu "Karma!? Tidak, tak mungkin...".

"apa dia terlihat baik-baik saja?! sudah jelas dia terluka, kan!?" ujar Kija yang mencengkram baju pria itu.

"Kija, sudah..." ujar Yasmine berusaha bangun untuk menahan Kija, namun sebelah kakinya tak bisa digerakkan sehingga ia hanya bisa menarik baju Kija dari belakang.

Kija yang menyadari tangan Yasmine menarik bajunya dari belakang, melepaskan cengkraman tangannya dari pria itu dan berlutut di depan Yasmine, memegangi kedua bahu Yasmine "nona Yasmine!? wajah anda pucat!?".

"jangan teriak-teriak, tenang dulu dan jangan panik begitu".

"bagaimana bisa tenang?! justru anda yang terlalu tenang!?".

"panik begitu takkan mengubah apapun, sekarang yang lebih penting, bisa tolong pinjamkan bahumu dan bantu aku berjalan kembali ke kapal? Sebelah kakiku tak bisa kugerakkan, entah kenapa".

"baik!? akan saya bawa anda pada Yun secepatnya?!" ujar Kija membopong Yasmine.

Yasmine terkejut karena Kija malah membopongnya "kubilang pinjam bahumu saja, kan? aku masih bisa jalan, turunkan...".

"tolong jangan memaksakan diri?! bertahanlah sebentar!?".

"hoi, ular putih!?".

"Yasmine?!".

Saat Kija dan Yasmine melihat ke arah sumber suara, mereka melihat Hak, Leila, Yona dan Shina datang menghampiri mereka.

"apa yang terjadi, Kija?" tanya Yona terkejut melihat kondisi Yasmine.

"yang penting, berikan pertolongan pertama dulu?! turunkan dia?!" ujar Leila membuka isi tas di pinggulnya dan memeriksa kondisi Yasmine.

Sama seperti Yun, Leila juga memiliki skill dalam pengobatan berkat pelajaran yang ia dapat saat tinggal bersama kaum nomaden.

"kita tak bisa menangani lukanya disini, kita kembali ke kapal, tapi sebelum itu..." ujar Leila mengikatkan kain untuk menahan pendarahan di kepala dan bahu Yasmine sebelum menoleh ke arah Hak, bertanya apa Hak bisa membetulkan sendi yang bergeser atau lepas. Hak duduk di samping Yasmine dan Leila, mengerti maksud Leila dan bertanya sendi mana yang bergeser.

"sendi pinggulnya, karena itu sebelah kakinya tak bisa digerakkan... tolong, ya" ujar Leila yang menahan kedua tangan Yasmine.

"oke, tahan" ujar Hak membetulkan posisi persendian Yasmine yang bergeser.

Tak ada suara dari Yasmine setelah itu, tentu saja karena Yasmine tak sadarkan diri setelahnya.

"Hak!? Leila!? apa kalian tak terlalu kasar pada adik sendiri?!" pekik Yona melihat Yasmine yang tambah pucat.

"sudahlah, yang penting sekarang kita bawa dia kembali agar dia bisa segera diobati" ujar Hak membopong Yasmine yang tak sadarkan diri.

"kita masih belum dapat penginapan dan entah dengan teman-teman kita... meski kita kembali ke kapal sekarang, belum tentu Yun dan yang lain sudah kembali, kan? jadi biar aku saja yang mengobatinya nanti kalau Yun belum kembali" ujar Leila menepuk lengan Hak.

Pria bangsawan yang menaiki delman yang menabrak Yasmine tadi memperkenalkan dirinya, namanya Darius, ia menjelaskan alasan kuda barusan mengamuk akibat dikejutkan oleh anak buahnya dan sebagai permintaan maaf, ia menawarkan Yona dkk untuk menginap di rumahnya, ia juga bersikeras untuk membayar biaya pengobatan Yasmine dan menyarankan agar Yasmine segara dibawa ke klinik terdekat.


Tak disangka, Darius membawa mereka ke benteng Samudra, mereka dibawa ke salah satu bangunan yang dikhususkan untuk tamu. Darius meminta para pelayan membawakan barang-barang Yona dkk sementara ia menuntun Yona dkk ke kamar yang besar. Ia meminta Yona dkk untuk tak sungkan menggunakan kamar itu dan meminta para pelayan memenuhi permintaan mereka jika mereka butuh sesuatu.

"siapa tamu yang kau bawa pulang ini, Darius?" tanya wanita berambut hitam dan bermata hijau yang datang ke tempat itu karena ia mendengar adiknya telah kembali, bersama beberapa tamu tak dikenal.

"ah, kak Midori..." ujar Darius menjelaskan apa yang terjadi di kota tadi.

Saat melihat Yasmine yang terluka masih dalam kondisi tak sadarkan diri dan digendong Hak di punggungnya, Midori membungkukkan kepala sambil menyuruh Darius ikut membungkuk "aduh, mohon maaf yang sebesar-besarnya?! adik saya benar-benar telah membuat anda semua kerepotan?!".

"tak masalah, nona Midori... kami justru sangat berterima kasih atas pertolongan tuan Darius" ujar Leila membungkukkan badan.

Tadi sementara Hak dan Yona menemani Yasmine yang dibawa ke klinik bersama Darius, Yun dkk yang telah kembali ke kapal dijemput oleh Shina dan Leila yang telah menjelaskan situasi yang terjadi. Amitha berpura-pura baru tiba di kota ini dengan memakai jalan darat dan pergi ke benteng Samudra menunggangi kuda sementara Yun dll yang oleh dijemput Shina dan Leila pergi ke klinik tempat Hak, Yona dan Yasmine menunggu. Sementara beberapa anggota yang masuk ke kamar mengatur barang-barang mereka, Midori bercakap-cakap dengan Leila dan Yun tentang apa saja peran masing-masing anggota kelompok.

Hak memotong pembicaraan, sambil memegang dahi Yasmine yang ia baringkan di kamar, ia memanggil Yun karena Yasmine mulai demam. Saat Yun hendak memeriksanya, Yasmine terbangun, ia memegangi kepalanya dan bertanya dimana ia berada saat ini. Tanpa menjawab pertanyaan Yasmine, Hak menidurkan Yasmine ke pangkuannya dan menyuruhnya tidur meski Yun sempat mengomeli Yasmine karena lagi-lagi ia bertindak ceroboh.

"...kenapa kakak dan Yun ada tiga orang?" gumam Yasmine melihat ke arah mereka berdua.

"TIDUR SANA?!" pekik Hak dan Yun.

"ah... dengan kondisinya begini, mana bisa dia menari, kan?" ujar Yona menyelimuti Yasmine dengan selimut setelah futon dibawakan oleh salah satu dayang.

Saat Leila menanyakan apa Yona bersedia berpartner dengannya, Yona merasa ragu karena ia tak yakin bisa menyeimbangkan tariannya dengan tarian Leila sehingga Hak menunjuk Yona dan mengejek mereka berdua bahwa tarian mereka akan jadi tarian anak ayam sempoyongan jika Leila malah menyeimbangkan tariannya dengan Yona. Tentu saja Yona langsung cemberut dan berusaha memukul Hak sambil berteriak menyebut nama Hak.

"kakak, sama kekasihmu sendiri kok tega betul?" ujar Leila geleng-geleng kepala.

"oh, justru aku hanya akan menggoda dan mengerjai satu-satunya gadis yang kucintai" sahut Hak tersenyum lebar sambil menahan kedua tangan Yona.

"dasar Hak curang?!" protes Yona yang wajahnya memerah memeluk erat Hak yang tertawa melihat reaksi Yona yang manis.

Tak lama kemudian, Amitha datang menghampiri mereka dan bersikap seolah ia tak mengenal Yona dkk "kak Midori!? Ada apa ini?".

"oh, Amitha?! Selamat datang?!" ujar Midori memeluk erat Amitha dan menjelaskan apa yang barusan terjadi. Midori melipat tangan dan menghela napas "begitulah, gara-gara adikku yang sembrono ini... dia benar-benar biang masalah, aku akan lebih senang jika memiliki adik yang manis dan baik sepertimu, adik ipar~".

"huh, pilih kasih" gumam Darius bersungut "lalu, dimana kakak ipar?".

Amitha memberitahu bahwa setelah menjemputnya dan membawanya kemari, Arslan langsung pergi menyusul ayah mereka untuk menemani Kaisar Dal menemui rombongan dari kerajaan Kouka di benteng utama.

"lho? Jadi kenapa kau kemari sendiri?" tanya Darius.

"soalnya kudengar kak Midori ada disini, jadi aku tinggal saja".

"duh, manisnya~" ujar Midori memeluk Amitha "sebelum kau bertanya, Darius... aku diantar Arslan kemari sebelum ia pergi menjemput Amitha yang baru saja tiba".

"oh, jadi dia langsung pergi setelah mengantar Amitha kemari tanpa menemuimu dulu? dingin sekali sikapnya pada istrinya, seperti biasa...".

"sudahlah, Darius. Jika kau hanya ingin memicu pertengkaran, kita selesaikan di kamar. Malu jika terlihat tamu, kan?" sahut Midori membelakangi Darius "dan mengingat tinggal enam hari lagi sampai malam festival penghormatan dewa naga laut Mizuchi, lebih baik kau fokus untuk memperketat keamanan karena festival itu adalah pembukaan referendum".

"aku tahu kita hanya punya waktu seminggu sebelum referendum tapi yang ingin kukatakan padamu adalah, kuharap apa yang kau pilih tak membuatmu menderita di masa depan seperti ibu".

"lucu sekali mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu, Darius... jika kau terus menerus mengutamakan perasaanmu tanpa melakukan tanggung jawabmu, itulah yang disebut egois" sahut Midori mendelik pada Darius.

Sebelum pergi, Midori memberikan salam pada Yona dkk dan tersenyum simpul "baiklah, saya mohon diri, nanti akan saya minta salah satu dayang untuk melayani anda sekalian... silakan beristirahat dan mohon maaf atas ketidaknyamanannya".

Begitu Midori pergi, Darius menghela napas "dasar, keras kepala... oh, mohon maaf atas apa yang kalian saksikan barusan".

"tak masalah... rupanya, nona Midori sudah menikah?" ujar Leila.

"benar, itu perjodohan yang seenaknya ditentukan oleh ayah kami berdua. Kakakku memang sudah sejak lama menyukai pria yang ia nikahi itu, tapi entah dengan pria itu..." ujar Darius membungkukkan badan "maaf, aku malah curhat. Jika ada yang kalian perlukan, katakan saja pada dayang".

Setelah Darius dan Midori tak terlihat lagi, Amitha menghela napas lega dan bergabung dengan Yona dkk.

"mereka tak malu, ya? bertengkar di depan orang yang baru mereka kenal..." gumam Yun.

"kakak adik itu memang begitu, biarkan saja" ujar Amitha mengayunkan tangan.

Zeno menyadari saudaranya yang dari tadi diam dan terlihat muram sehingga ia memegang bahu Kija "kenapa, Hakuryuu?".

Kija mengerutkan kening dan mengepalkan tangannya yang bergetar sebelum menatap Hak "Hak, maafkan aku... padahal aku ada disana, tapi...".

Ucapan Kija terhenti karena Hak menyentil dahinya keras-keras, sehingga Kija mengelus dahi dengan ekspresi bingung sebelum ia merasa kesal dan mengomeli Hak yang menyentil dahinya.

"tak sepertimu saja, ular putih" ujar Hak terkekeh dan melipat tangan sebelum melirik Leila "nah, sekarang... katakan padaku, Leila. Sejak kapan Yasmine kehilangan kemampuan untuk merasakan sakit?".

Leila menghela napas "ketahuan juga, toh... benar, Yasmine memang tak bisa merasakan sakit, itu sudah berlangsung sejak lama dan bukannya kami berusaha menyembunyikannya darimu, kak. Hanya saja, Yasmine tak tahu bagaimana ia harus menjelaskannya padamu karena kau mungkin akan bertanya penyebabnya, dan itu adalah hal yang paling tak ingin dibicarakan oleh Yasmine. Karena itu, saat ia memintaku untuk tak mengatakan soal penyakitnya karena ia ingin memberitahumu langsung saat ia sudah siap, aku hanya bisa mengiyakan permintaannya".

Analgesia adalah suatu kondisi dimana seseorang kehilangan kemampuan merasakan rasa sakit dalam keadaan sadar yang disebabkan shock secara psikis yang sangat besar sehingga alam bawah sadarnya melumpuhkan fungsi syarafnya untuk merasakan sakit. Yasmine mengalami kelumpuhan saraf perasa sakit, Analgesia dimana Yasmine tak bisa merasa sakit sama sekali saat terluka, ia juga tidak bisa merasakan apa itu panas, dingin, lapar ataupun kelelahan. Makan dan tidur hanya untuk mengisi energi baginya.

"aku tahu karena Kayano memberitahuku... sejak kapan kau sadar?" tanya Leila.

"si ular putih mengatakan bahwa Yasmine seperti tak merasakan sakit, awalnya aku kira dia hanya menahan sakit, tapi kejadian tadi membuatku sadar. Padahal sendi pinggulnya sampai lepas, orang normal seharusnya berteriak kesakitan tapi ia sama sekali tak menunjukkan reaksi kesakitan saat kubetulkan sendinya" ujar Hak menunjuk Kija.

"ini sama sekali tidak bisa dianggap enteng!? jika ia mendapat luka fatal, akan jadi masalah karena ia tak bisa merasakan sakit sama sekali, kan?" ujar Yun.

Leila menjelaskan bahwa terapi apapun yang diberikan pada Yasmine takkan mempan jika Yasmine sendiri belum bisa melepas perasaan yang mengganjal di hatinya, entah penyesalan atau perasaan bersalahnya.

"apa yang kau maksud dengan penyesalan atau rasa bersalah?" tanya Hak.

Tepat sebelum Leila buka mulut, Yasmine melempar kunai ke arahnya yang berhasil ditangkap Leila sebelum kunai itu mengenainya.

"kurasa kau sudah cukup sehat untuk bisa melempar kunai ini ke arahku, Yasmine".

"bukankah lebih baik kita sama-sama tutup mulut mengenai masa lalu kita yang tak ingin kita ungkit?" sahut Yasmine menunjuk Leila.

"jika itu bukan hal yang besar, ceritakan padaku... alasan kenapa kau kehilangan kemampuan untuk merasakan sakit juga penyebab kenapa tubuhmu menolak makanan, Yasmine... dan jika yang kau sembunyikan adalah soal tunanganmu yang sudah meninggal, kami sudah tahu hal itu, Leila".

Leila diam, begitu juga Yasmine, bukan hanya karena kata-kata kakak mereka tapi juga karena terlalu terkejut. Apa yang mereka sembunyikan selama ini diketahui pada akhirnya oleh orang yang tak ingin mereka buat cemas, kakak mereka.

Leila menghela napas "ibu yang cerita, ya?".

"karena nyonya Maya tak ingin hal itu disinggung di hadapanmu" ujar Shina.

"berarti soal aku juga..." ujar Yasmine.

"tidak, Kayano yang cerita padaku" ujar Zeno mengacungkan dua jari tangannya membentuk peace "jangan marah padanya, aku yang memintanya untuk cerita".

"yah, sebab tidak ada rahasia pada suami sendiri, kan?" ujar Jae Ha terkekeh.

Yasmine terpaksa menjelaskan bahwa tubuhnya memang menolak makanan, dimana tubuhnya memproduksi lebih banyak asam lambung akibat faktor psikologis, stress atau depresi, asam lambung yang tinggi membuat tubuhnya tak bisa menerima makanan dengan baik bahkan makanan bisa jadi tidak mau masuk, dalam artian dia masih bisa makan tapi sulit dicerna sehingga tak jarang apa yang ia makan akan ia muntahkan kembali.

"apakah ada pantangannya? Maksudku, apa ada kondisi bisa yang membuat penyakitnya ini makin parah?" tanya Yona.

"tentu saja ada, dia tak boleh stress apalagi depresi. Jika ada yang mengganjal di pikirannya, dia tak boleh memendamnya dan harus mengutarakannya sebelum itu jadi pikirannya jika dia tak mau asam lambungnya naik dan makanannya tak bisa masuk lagi, ini untuk mengatasi masalah tubuhnya yang menolak makan. Untuk Analgesia, sudah kujelaskan tadi" jawab Leila.

"jadi itu sebabnya mulutnya seperti tak ada remnya dan dia selalu mengatakan apa yang ia pikirkan?" gumam Jae Ha.

"kalau itu, memang cara bicaranya dari dulu begitu... dari dulu nona besar paling benci jika dibohongi, jadi nona besar pasti lebih memilih untuk mengatakan kebenaran meski itu pahit. Itu yang diberitahu Kayano selaku pengasuhnya sejak dulu, padaku" ujar Zeno.

"...pasti menjaganya sangat melelahkan" ujar Yun menaruh simpati mengingat Yasmine juga wanita kuat yang tak mau kalah "itu sebabnya kau selalu makan sedikit? Kenapa tak pernah bilang pada kami?".

"karena aku tak ingin ditanya apa alasannya, aku memang berniat menceritakannya tapi tidak sekarang" ujar Yasmine menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

Hak menghela napas dan menepuk kepala Yasmine, menyuruhnya tidur kembali "kau ceritakan saja saat kau sudah siap, sekarang yang penting tidurlah dan pulihkan kondisimu".