Chapter 19 – I Need a Doctor
Bunga yang mekar di tengah pertumpahan darah, begitu cantik dan berbahaya, karena bunga itu langka dan beracun
.
Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc
.
Tepat setelah Leila berteriak karena merasakan hawa membunuh yang mulai bergerak, semua penerangan di ruangan perjamuan padam, membuat ruangan itu gelap gulita. Di tengah ruang pesta perjamuan yang gelap gulita, pasca terdengar suara beberapa anak panah yang menancap ke dinding, bagai dihadapkan dengan ular yang merayap di tengah kegelapan, beberapa dari mereka bisa merasakan hawa pembunuh yang kuat; dipancarkan kelompok pembunuh dari kuil Sakura merah yang berada di antara mereka.
Leila dan Kyo Ga saling berbalik membelakangi satu sama lain dan menempelkan punggung mereka, mempercayakan punggung masing-masing pada orang yang ada di belakangnya, sama seperti yang dilakukan Yona dan Hak.
Terdengar suara seruling seolah itu pertanda dimulainya pertempuran darah.
Mulai terdengar suara teriakan di tengah kegelapan, dimulai dari suara teriakan seorang gadis kecil yang dikenali sebagai suara Yui, diiringi rentetan suara beberapa pria yang merupakan petinggi Kekaisaran Kai dan diakhiri dengan suara teriakan wanita yang dikenali Yona dan Hak sebagai suara Yasmine.
Di tengah kegelapan ini, hanya Yasmine dan Shina yang bisa melihat apa yang terjadi dan jika terjadi sesuatu, seharusnya mereka memberitahu teman mereka yang tak bisa melihat di tengah kegelapan ini. Hak tak bisa meninggalkan Yona dan hanya bisa berteriak memanggil Yasmine. Tak ada jawaban, akhirnya Hak memanggil Leila namun Leila juga berada dalam posisi yang sama dengan Hak, mereka sama-sama tak bisa melihat apa yang terjadi di tengah kegelapan dan tak tahu apa yang terjadi. Yui yang berteriak pertama kali juga tak diketahui keadaannya karena baik Jae Ha yang bersama Yui juga Shina yang seharusnya bisa melihat apa yang terjadi, anehnya tak memberikan jawaban.
Hak merasa geram di tengah ketidakpastian ini, ia menjentikkan jarinya dan timbul percikan listrik dari kedua tangannya yang ia lemparkan pada penerangan di ruangan ini, entah lentera, lilin atau obor, yang penting listrik itu bisa memicu timbulnya api. Begitu penerangan berhasil kembali dinyalakan, jelas terlihat siapa yang kawan atau lawan.
Yona dan Hak dikelilingi prajurit Kekaisaran Kai Selatan (bawahan menteri kemiliteran yang merencanakan kudeta dari kuil Sakura merah) mengacungkan tombak mereka ke arah mereka berdua, sama seperti yang dialami Kyo Ga dan Leila.
Soo Won, seperti biasa dijaga oleh Joo Doh dan Geun Tae.
Tampaknya situasi teman-teman mereka juga tak bisa dibilang baik.
Kija tak bisa bergerak sembarangan; bukan karena dikelilingi prajurit Kekaisaran Kai Selatan yang mengacungkan tombak mereka padanya, melainkan karena Darius menahan Yasmine, ia membius dan membuat Yasmine tidak sadarkan diri, melingkarkan lengan kanannya ke tubuh Yasmine dan mengacungkan pedangnya ke leher Yasmine.
Shina dan Zeno mengangkat kedua tangan mereka ke atas setelah Shina meletakkan pedangnya ke lantai; salah satu prajurit yang mengacungkan pedangnya ke arah mereka, menyandera Yun dan meminta mereka tak bergerak.
Amitha yang berkomplot dengan Yona dkk ditahan oleh ayahnya sendiri, menteri kemiliteran, Aso yang saat ini mengacungkan pedangnya ke leher Kaisar Dal sementara tangan kanannya mencengkram kedua pergelangan tangan Amitha.
"ayah, lepaskan aku?! hentikan semua ini, ayah?!".
"tutup mulutmu, Amitha" ujar Aso menyeringai dan menatap Kaisar Dal "inilah akhir...".
Ucapan Aso terhenti karena kharisma sang Kaisar, pancaran kekuatan dan aura intimidasi yang keluar dari tubuhnya membuat Aso sempat merinding.
Meski sorot matanya begitu tajam dan dingin seolah bisa membekukan lawannya tanpa ragu, Kaisar Dal memegang ujung pedang Aso yang ia arahkan ke lehernya sendiri "kenapa, Aso? Apa sekarang kau takut mengambil nyawa seorang Kaisar? Cepat bunuh aku, aku sudah tak punya alasan untuk hidup lagi".
"yang pantas mati itu bukan anda, Kaisar Dal?!".
Yona dkk mengira suara tadi adalah suara Jae Ha, tapi ternyata itu suara Arslan yang berada di depan balkon Timur yang langsung menghadap ke arah laut. Suara teriakan Arslan tampaknya berhasil membuat mereka yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangan mereka padanya termasuk Yona dkk yang terkejut melihat situasi yang tampak membingungkan itu.
Arslan yang berdiri di samping Agito, mengacungkan pedangnya ke leher Agito.
Agito yang berada di belakang Yui, menghunuskan pisaunya ke leher Yui.
Yui duduk sambil mendekapkan kepala Jae Ha ke dadanya, tetesan darah segar menempel di wajahnya, ia terlihat bagai boneka dengan sorot mata tanpa emosi itu.
Jae Ha yang tak sadarkan diri tertusuk pisau di tengkuk lehernya, terlihat jelas ia merasa sesak napas; sambil bersandar di dekapan Yui, ia memegangi dadanya dan berusaha memasukkan kembali pasokan oksigen yang makin menipis ke dalam paru-parunya di tengah rentetan batuk yang harusnya sudah sembuh, tiap prosesnya terlihat menyakitkan.
"mata sipit, bangun?! bukan saatnya tidur?!" teriak Hak, ia berharap mendapat respon dari Jae Ha namun sia-sia, Jae Ha tak dapat mendengarnya. Ia juga tak bisa meninggalkan tempatnya saat ini karena ia tak bisa meninggalkan Yona.
Rasa panik juga melanda Yona, ia tahu tak seharusnya ia meneriakkan nama Yui secara terang-terangan tapi itu tak masuk dalam pikirannya saat ini melihat kondisi kedua temannya "apa kau dengar suaraku, Jae Ha!? Katakan sesuatu!? apa yang terjadi, Yui!? YUI?!".
Kaisar Dal tentu saja bisa mendengar suara teriakan Yona barusan, ia sudah siap mati karena ia merasa tak punya alasan untuk hidup lagi setelah istri dan anak-anaknya; keluarganya pergi meninggalkannya, bahkan ia kalah perang dan kehilangan tahtanya, tapi nama salah satu putri kandungnya yang seharusnya sudah mati nampaknya membawanya kembali pada kenyataan.
Setelah menutup mata pasca mengarahkan pedang Aso ke lehernya, Kaisar Dal membuka mata dan menoleh ke arah Yona yang berteriak barusan "...Yui?".
"kenapa terkejut, Kaisar Dal? bukankah anda sendiri yang meminta kuil Sakura merah mencari putri kandung anda yang anda kira sudah mati, ternyata masih hidup?" ujar Soo Won memberi tahu apa yang diberitahukan Agito pada mereka.
"apa maksudnya? aku tak pernah meminta kuil Sakura merah untuk mencari Yui?! Dan lagi, Yui... putriku sudah lama meninggal?!".
"berarti anda juga dijebak, aku paham sekarang... rupanya otaknya memang kalian, kuil Sakura merah?" ujar Soo Won melirik Agito.
Agito menyeringai, ia menepuk kepala Yui "benar sekali, kami sangat berterima kasih padamu, Sumire no musume (anak perempuan Sumire)...".
Mengetahui putri kandungnya masih hidup, Kaisar Dal tak memikirkan apapun lagi, ia berlari menuju ke arah Yui namun langkah kakinya terhenti karena para pemanah yang berada di atas melancarkan serangan mereka. Anak panah menancap di bahu, punggung dan kaki Kaisar Dal yang tersungkur ke lantai namun Yui benar-benar tak menunjukkan reaksi.
"Yui, buka matamu?! jangan jatuh dalam hipnotis kuil Sakura merah?!" teriak Amitha.
"percuma saja bicara padanya saat ini, kondisinya sama seperti boneka... boneka yang sangat mudah digunakan" ujar Agito mencengkram rambut Yui meski ia terpaksa melompat, menjauh dari Yui karena Arslan mengayunkan pedangnya dan mencoba menusuk Agito dari belakang.
Agito yang berhasil menghindar, terkekeh dan mengangkat bahu "kenapa, Arslan? Aku sudah penuhi janji yang kita sepakati, kan? kau ingin gadis itu kau dapatkan kembali, kau dapatkan apa yang kau inginkan...".
"jadi jangan sentuh Yui dengan tangan kotormu..." sahut Arslan mengacungkan pedangnya ke arah Agito dengan tangan kirinya sambil mendekap Yui dengan tangan kanannya "setelah aku tahu apa yang kalian lakukan padanya, kalian pikir aku sudi menyerahkannya pada kalian yang telah mengubah gadis sekecil ini menjadi mesin pembunuh... dimana harga diri kalian sebagai manusia!? Yui bukan boneka kalian, Agito!?".
"sayangnya, bagi kami, dialah boneka terbaik yang telah kami ciptakan dan bisa kami gunakan untuk menghabisi musuh yang membahayakan kami, seperti ini" ujar Agito menjentikkan jari.
Detik berikutnya, untuk pertama kalinya Yui bergerak. Ia menusuk tangan Arslan dan setelah Arslan menjauh darinya, Yui melemparkan beberapa kunai ke arah Arslan. Arslan yang kaki dan tangannya terkena kunai itu bertekuk lutut di hadapan Yui.
"apa yang kau lakukan... siapa kau? Aku bahkan tak bisa merasakan emosi dari dari dirimu... apa hal ini yang benar-benar ingin kau lakukan!? Sadarlah dan kembalilah padaku, Yui!? Kau yang saat ini jatuh dalam pengaruh cuci otak mereka, tidak lebih dari mesin pembunuh!?".
"namaku Yui... code name Glass Marionette (boneka kaca)... aku membunuh 998 orang sejak berusia 9 tahun..." sahut Yui dengan sorot mata yang kosong.
Agito tertawa keras dan maju selangkah, menendang dan menginjak tubuh Arslan yang kini tergeletak ke tanah.
"ironis, kan? bagaimana rasanya dilukai oleh boneka kami? Kami tahu kau pasti akan berusaha merebut Yui dan kau termasuk lawan yang menyusahkan karena kami tahu kau memang kuat tapi aku tahu kau takkan berkutik di hadapannya..." ujar Agito berbalik memunggungi Arslan, memegangi kepala dan wajah Yui "karena bagimu, dia wanita yang kau cintai... apa ucapanmu barusan tidak terlalu kejam pada kekasihmu sendiri?".
"mantan kekasih... kami berdua memutuskan untuk berpisah setelah Fuyo, kakak kembarnya yang harusnya sudah mati, merasukinya dan memberitahu dosa yang dilakukan oleh ayahku" ujar Arslan berlutut sambil menancapkan pedangnya ke lantai dengan napas tersengal "bahwa penyebab utama nyonya Sumire, selir Kaisar Dal yang merupakan ibu kandung Yui dan Fuyo, meminta Kaisar Dal untuk mengasingkannya dan pergi dari kastil membawa kedua putrinya karena ayahku memperkosa nyonya Sumire. Yui yang masih kecil menyaksikan itu semua dan menyimpan semuanya rapat-rapat karena nyonya Sumire memintanya untuk melupakan apa yang ia liha sedangkan Fuyo yang mengetahui semua yang dialami adiknya sejak lahir setelah masuk ke tubuh adiknya, memberitahuku semua itu, memintaku berpisah dari Yui karena satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuknya hanya melepaskannya dan memastikan kalau dia bisa hidup dengan bebas di luar sana...".
"benar... aku rasa aku sudah bilang padamu, kan? jangan temui adikku setelah ini atau aku akan membunuhmu, Arslan" ujar Fuyo mengeluarkan sebuah kunai di tangannya "rupanya ada yang ingin jadi korban ke-999 yang mati di tanganku?".
"benar sekali, Fuyo... dia adalah anak dari pria yang menyengsarakan mendiang ibumu, jadi dia termasuk orang yang harus kau bunuh..." ujar Agito berlutut di samping Fuyo dan menepuk kepala Fuyo.
"hentikan, Yui!?" teriak Amitha saat Fuyo mengangkat kunainya.
Namun, mereka terkejut melihat Fuyo malah menebas leher Agito sehingga Agito tersungkur ke lantai sambil muntah darah "kau... kenapa?".
"kenapa? kau tak menyangka kalau cuci otak kuil Sakura merah padaku bisa lepas? wajar saja jika aku takkan menuruti perintah kalian dan tak berfungsi sebagai boneka kalian karena yang menerima cuci otak adalah Yui, bukan aku" ujar Fuyo mengetuk pelipisnya sebelum mencabut dan menusuk Akito di bagian lain "sudah sewajarnya jika seorang anak membalas dendam atas kematian orang tuanya, kan?".
Fuyo mengetahui dari ibu asuhnya dan Yui, Shurin, bahwa Aso memperkosa dan mengancam Sumire yang tak sengaja mengetahui rencana kudeta Aso juga soal ia yang bekerjasama dengan kuil Sakura merah namun Aso mengancam Sumire bahwa Fuyo dan Yui akan dijadikan kelinci percobaan di kuil Sakura merah sehingga Sumire terpaksa bungkam. Selama diasingkan ke kuil Sakura merah, orang-orang di kuil Sakura merah melakukan cuci otak pada Yui sehingga Yui dijadikan boneka mereka sebagai mesin pembunuh. Hal ini tak berlaku pada Fuyo karena Fuyo tidak menerima cuci otak itu.
"untuk membungkam ibu kami selamanya, malam itu kalian membakar bangunan tempat kami bertiga berada... setelah aku memperingatkan hal ini pada Hayabusa agar ia bisa memberitahu hal ini pada Kaisar Dal, kalian membunuhku dan Hayabusa. Tapi satu hal yang tak kalian tahu bahwa sebagai Oni klan Genbu yang lebih dikenal sebagai keturunan kaum Siren, kami punya satu keistimewaan dimana permintaan kami bisa terkabul jika kami mengorbankan sesuatu... seperti ibu kami yang mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan kami berdua, Yui juga mengorbankan penglihatannya, ia meminta agar aku bisa tetap bersamanya dan hasilnya rohku tinggal di dalam tubuhnya" ujar Fuyo menempelkan tangan kanannya ke dadanya.
"Fuyo atau Yui, terserahlah... bisa jelaskan apa yang terjadi pada si mata sipit?" tanya Hak dari kejauhan.
"tampaknya dia terkena racun dari pisau yang menancap ke lehernya, dia tertusuk pisau itu saat berusaha melindungi Yui dari Agito" ujar Fuyo merogoh kantong baju Agito dan menemukan botol kecil berisi cairan berwarna merah muda Sakura "sesuai dugaanku, pria licik sepertimu pasti akan menyimpan penawar racunnya".
"percuma saja... dia takkan tertolong..." sahut Agito terkekeh.
"tutup mulutmu, pria sekarat... kalau itu terjadi, akan kubelah mayatmu jadi dua..." ujar Fuyo menyeringai, ia serius.
"jangan kira... kau bisa selamat dari maut... meski sudah membunuhku... setelah ini... Fuyo... atau Yui..." ujar Agito menghembuskan napas terakhir sambil menyeringai.
Sesuai ucapan Agito, meski pemimpinnya telah mati, para pasukannya bukannya mundur, para pembunuh dari kuil Sakura merah justru berkumpul dan menyerang mereka (yah, sejak awal mereka memang berniat membuat tempat ini benar-benar jadi medan pertumpahan darah).
"yah, sudah kuduga akan begini jadinya... ini merepotkan..." ujar Fuyo menoleh ke arah teman-temannya "jika kalian ingin Jae Ha selamat, cepat bantu aku!? tolong tahan mereka sementara aku menanganinya!?".
Tak disangka, tanpa menghiraukan kunai yang tertancap di tubuhnya, Arslan membentengi Fuyo dan menyuruhnya segera menolong Jae Ha.
"kau berhutang satu hal padaku, Fuyo... sebagai gantinya, izinkan aku bicara dengan Yui sekali saja..." pinta Arslan yang mengacungkan pedangnya ke depan dan dibalas Fuyo dengan helaan napas panjang karena merasa ini merepotkan dengan ekspresi seolah ingin berkata apa boleh buat.
Setelah mencabut pisau yang menancap di leher Jae Ha dan menahan pendarahan di leher Jae Ha dengan kain kimononya yang ia robek dan ia lilitkan ke leher Jae Ha, Fuyo menenggak isi botol kecil itu ke mulutnya. Arslan memalingkan wajahnya, berusaha mengacuhkan kenyataan bahwa Fuyo (dengan tubuh Yui) saat ini meminumkan penawar racun itu pada Jae Ha, tinggal menunggu reaksi dari Jae Ha.
"aku tak tahu kalau ternyata kau cukup lihai menangani orang yang terluka?" ujar Arslan saat ia melihat Fuyo menunggu reaksi dari Jae Ha.
"jika kau tahu titik vital manusia untuk menghentikan nyawanya, kau juga perlu tahu cara agar kau bisa menyelamatkan nyawanya, meski itu lebih sering dipakai para pembunuh seperti kami untuk menyelamatkan nyawa kami sendiri" sahut Fuyo memegangi dahi Jae Ha.
Reaksi yang ditimbulkan obat penawar racun itu cukup cepat, setelah Jae Ha batuk beberapa kali, ia membuka matanya. Saat Jae Ha terlihat hendak mengatakan sesuatu, karena suara Jae Ha begitu pelan, Fuyo menyampirkan rambutnya ke balik telinganya, mendekatkan telinganya ke mulut Jae Ha.
"ku... kupikir... aku akan mati..." bisik Jae Ha dengan napas terputus-putus.
Fuyo tersenyum mendengar ucapan Jae Ha dan tertawa kecil "masih terlalu cepat untuk mati, kan?".
"dia kekasihmu?" tanya Arslan.
"tutup mulutmu" sahut Fuyo menutup kedua telinga Jae Ha dan mendekap kepala Jae Ha yang masih lemas ke dadanya sebelum ia menoleh ke arah Arslan "kenapa kau bertanya begitu?".
"kau tak sadar? ekspresimu jadi lembut barusan, tahu... aku tak pernah melihatmu tersenyum seperti itu" sahut Arslan, kata-katanya membuat Fuyo tertegun.
Kija dan Yasmine tiba paling pertama di dekat mereka, saat itu Fuyo meminta Arslan mendekat agar ia bisa menangani lukanya. Setelah mencabut kunai yang menancap di tubuh Arslan dan menahan pendarahannya, Jae Ha bergerak dan berusaha bangun sehingga Fuyo menyuruhnya istirahat dan menahannya ke pangkuannya.
Well, Jae Ha always need a doctor, right?
