Chapter 20 – Poisoned Blossom
Bunga yang mekar di tengah pertumpahan darah, begitu cantik dan berbahaya, karena bunga itu langka dan beracun
.
Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc
.
Sesuai ucapan Agito, meski pemimpinnya telah mati, para pasukannya bukannya mundur, para pembunuh dari kuil Sakura merah justru berkumpul dan menyerang mereka (yah, sejak awal mereka memang berniat membuat tempat ini benar-benar jadi medan pertumpahan darah).
"yah, sudah kuduga akan begini jadinya... ini merepotkan..." ujar Fuyo menoleh ke arah teman-temannya "jika kalian ingin Jae Ha selamat, cepat bantu aku!? tolong tahan mereka sementara aku menanganinya!?".
.
"dia bilang begitu, tapi bagaimana caranya?" ujar Yona mengarahkan belati yang dibawa Hak dan diberikan Hak padanya ke arah musuhnya.
Hak mengarahkan kepalan tinjunya ke depan karena Tsu Quan Dao andalannya ditinggalkan di tempat lain "di telingaku ucapannya malah terdengar seperti 'cepat selesaikan urusan kalian masing-masing lalu segeralah kemari', sekarang kira-kira siapa yang bisa kupinjam senjatanya, ya?".
.
"tentu saja kami ingin segera menolong teman kami tapi kita sendiri juga sedang terjepit" ujar Leila menghela napas.
"perlu kubukakan jalan untukmu?" tanya Kyo Ga melirik ke belakang.
"itu sangat membantu, tapi..." ujar Leila menarik napas panjang sebelum berteriak "Yasmine, kau mau tidur sampai kapan?! cepat bangun?!".
.
"kusarankan, kau buka selendangku..." ujar Yasmine membuka matanya, menatap Darius dan memegang wajah Darius.
"oh, sudah sadar? Tapi kenapa dengan leher..." ujar Darius membuka selendang yang melilit leher Yasmine dan terbelalak saat melihat leher Yasmine.
Detik berikutnya, Yasmine menendang Darius sekuat tenaga sehingga tubuh Darius terpental sejauh beberapa meter dan menghantam dinding cukup keras sebelum ia tergeletak di tanah dalam kondisi tak sadarkan diri, membuat Amitha terbelalak meski dalam hati ia ingin bertepuk tangan pada aksi Yasmine yang mengagumkan.
"wah, sulit sekali berperan sebagai gadis yang lemah, lho...".
"nona Yasmine, lehermu..." ujar Kija menunjuk Yasmine, terbelalak melihat bekas luka yang sekilas ia lihat ada di leher Yasmine.
"rahasiakan ini dari kakakku..." ujar Yasmine dengan sigap melilitkan kembali syal di lehernya untuk menutupi bekas luka di lehernya, tersenyum sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, lalu melemparkan kunai ke arah prajurit yang menahan Yun sehingga Yun bebas dari sandera.
Zeno sudah bersiap melindungi Yun yang tak bisa bertarung namun Shina mengambil pedang miliknya yang tergeletak di tanah lalu meminta keduanya berlindung di belakangnya. Mereka bertiga ingin segera mencapai tempat Jae Ha dan Yui namun mereka terhalang musuh.
Tiba-tiba, musuh yang ada di depan Shina merintih kesakitan dan rubuh satu persatu sehingga Yun mengira Shina menggunakan kekuatan matanya namun Shina menggelengkan kepalanya. Saat Zeno melihat kondisi musuh mereka yang terkapar di depan Shina, mereka semua sudah mati dengan mulut dan mata mengeluarkan darah. Menurut Shina yang bisa melihat isi tubuh mereka, beberapa organ vital dalam tubuh mereka hancur. Hal sama terjadi pertama kali pada musuh yang dihadapi Kija dan Yasmine.
"ini akan menghemat waktu kita, ayo" ujar Yasmine memberitahu Kija bahwa itu salah satu kekuatan matanya dan itulah bagaimana mereka bisa sampai paling pertama ke tempat Jae Ha dan Yui.
Aso merasa tak punya pilihan yang tersisa, sehingga ia mengambil jalan terakhir, ia mengambil tombol pemicu bom yang telah disiapkan oleh Agito dan menekannya, namun tak terjadi apa-apa sampai Fuyo menyingkir dari sisi Jae Ha setelah meminta Yasmine menjaga Jae Ha dan berdiri di balkon.
"mundur..." ujar Fuyo menyingkap kimononya "bom ini akan meledak dalam waktu dekat...".
Rupanya bom itu adalah kalung mutiara yang dililit dari leher ke dada Fuyo.
"matikan bomnya!?" teriak Yun.
"tapi berapa lama lagi waktu kita yang tersisa!?" pekik Kija.
"bagaimana melepaskan bom ini!?" ujar Arslan menghampiri Fuyo.
"tak ada waktu lagi!?" ujar Fuyo mendorong Arslan.
"aku baru sadar ketika tangan kecilnya mendorongku, gadis ini tetap manusia biasa, tapi dia hanya tak bisa mengendalikan kekuatannya yang terlalu besar... aku memang bodoh, kenapa aku melepaskan genggaman tanganku dari tangan yang kecil itu?" pikir Arslan.
Fuyo mengarahkan kedua tangannya ke depan, dengan tangan dan suara bergetar, mendongak dengan mata berkaca-kaca, tangisannya pecah saat untuk pertama kali emosinya terlihat "sejak awal, seharusnya ini kulakukan... aku tak ingin membunuh orang lagi!?".
Melihat Fuyo melompat dari balkon Timur yang langsung menghadap laut, Arslan tidak bisa bergerak, hanya bisa meneriakkan nama Yui sementara Jae Ha melompat dari balkon sambil meneriakkan nama Fuyo.
Setelah Jae Ha berhasil melepaskan bom yang melilit di leher Fuyo, Jae Ha mendekap Fuyo setelah ia melemparkan bom itu ke langit. Saat pecahan bom itu bertebaran, beberapa pecahan bom itu mengiris lengan dan menusuk punggung Jae Ha yang melindungi Fuyo.
"Jae Ha?! Yui!?" ujar Yun melihat kedua temannya tercebur ke dalam laut.
Leila melihat semuanya, termasuk apa yang dilakukan adiknya dan Yui sehingga ia menghela napas panjang dan menjentikkan jarinya "merepotkan... akan kuselesaikan ini dengan cepat".
Setelah Leila melangkah maju dan menjauh dari sisi Kyo Ga, tubuhnya berubah warna menjadi warna biru tua keunguan. Sama seperti Yasmine, ini kekuatan 'kutukan' yang ditanggung oleh Leila. Jika Yasmine menggunakan matanya untuk mengendalikan apa yang ada dalam tubuh makhluk hidup, Leila dapat mengubah elemen yang ada di dalam tubuhnya menjadi obat atau racun.
Seperti sekarang, hanya dengan menyentuh musuhnya, Leila yang telah mengubah tubuhnya menjadi gumpalan racun berhasil membuat musuhnya mati keracunan sementara Yasmine bisa membuat musuhnya tewas dengan organ vital dalam tubuh yang rusak hanya dengan menatap mereka.
"kak, cepat gunakan Raijuu dan tolong mereka berdua secepat mungkin!?" pinta Yasmine yang memasang cakar di kedua tangannya.
"benar, serahkan saja ini pada kami berdua... para naga bisa mendeteksi keberadaan Jae Ha jadi bawa saja mereka bersama kalian, kami berdua sudah cukup untuk mengatasi ini semua" pinta Leila yang menghunuskan pedangnya.
Hak mengangguk "kami akan kembali secepatnya".
Setelah Hak menjentikkan jari dan melingkarkan tangannya ke tubuh Yona, ia segera naik ke atas Raijuu bersama teman-temannya.
"kurasa aku memang bodoh, meski aku sudah tahu kalau bunga itu beracun dan berbahaya, aku tetap merasa bunga itu begitu cantik, bunga terindah yang pernah kulihat" pikir Kyo Ga melihat bagaimana Leila bertarung.
Di dalam laut, Jae Ha menggertakkan giginya karena lukanya yang tersiram air laut terasa perih sehingga ia merenggangkan pegangannya pada Fuyo. Meski berada di dalam air, Jae Ha merasa mendengar suara yang lembut itu memanggilnya.
"takkan kubiarkan kau mati" ujar Fuyo memegang wajah Jae Ha.
Bersamaan dengan saat Jae Ha membuka matanya, ia terbelalak saat Fuyo menciumnya sambil melingkarkan kedua lengannya ke tengkuk leher Jae Ha. Anehnya, Jae Ha merasa bisa bernapas di dalam air setelahnya.
"bertahanlah..." ujar Fuyo menyeret Jae Ha ke tepi, keduanya berhasil tiba di daratan, di atas bebatuan tepi pantai.
"...kenapa kau menciumku?" ujar Jae Ha
"pernapasan buatan... kau tak tahu? Ada legenda di kalangan keturunan kaum Siren bahwa siapapun yang mendapatkan ciuman kami dalam wujud duyung, dia dapat bernapas di dalam air..." ujar Fuyo menyampirkan rambutnya ke belakang telinga sebelah kanan.
Jae Ha tersenyum, memegang wajah Fuyo "aku merasa beruntung sekali, bisa melihat permata dari laut... terima kasih sudah menolongku...".
"akulah yang kau tolong..." ujar Fuyo.
Rambut hijau gelap Fuyo yang basah bergelombang kini mencapai pinggul terlihat bagaikan ombak, tubuhnya kini setengah ekor ikan yang berwarna hijau gelap, mata hitamnya yang besar terlihat mengkilat di bawah sinar matahari pagi yang indah seperti permata hitam. Sosok Fuyo bagaikan permata dari dasar laut di mata Jae Ha.
Fuyo mendongak dan menatap Jae Ha, mempertanyakan kenapa Jae Ha malah menolongnya dan tak membiarkannya mati. Jae Ha memang biasa bersikap baik pada wanita dan bukan Jae Ha namanya jika ia membiarkan gadis di hadapannya mati.
"...saat aku berpikir aku tak bisa membiarkan gadis semuda kau mati di hadapanku, aku sudah melompat dan menangkapmu. Tak apa, jika kau tidak mau membunuh lagi, maka lakukanlah... aku juga tak mau melihatmu membunuh orang karena tak peduli sekuat apapun kau dan sebesar apapun kekuatan yang kau punya, kau tetap gadis kecil yang masih berumur 16 tahun".
Ketika Fuyo menangis di hadapannya karena Fuyo merasa dirinya yang telah merenggut banyak nyawa tak pantas untuk dimaafkan, Jae Ha menggenggam tangannya dan mengadu dahi setelah mengelus lembut rambutnya dan mengecup keningnya.
"kalau begitu, tebuslah dosamu... gunakanlah kekuatanmu, bukan lagi untuk membunuh, tapi untuk melindungi orang lain... dengan begitu, aku yakin, kau bisa menebus kesalahanmu jika yang kau selamatkan jauh lebih banyak ketimbang yang kau bunuh... tetaplah hidup...".
Bulir air mata Fuyo yang berjatuhan berubah menjadi butiran mutiara.
Fuyo yang biasanya begitu tegar, kini menangis sambil bersandar di pelukan Jae Ha yang tak bicara apapun, hanya diam sambil mengelus rambut Fuyo dan mendekap Fuyo.
Saat Fuyo jatuh pingsan, Jae Ha menahan kepala Fuyo yang jatuh ke dekapannya bersamaan dengan saat ekor Fuyo kembali menjadi sepasang kaki. Jae Ha terkejut mengetahui napas dan detak jantung Fuyo berhenti. Terlalu banyak hal mengejutkan yang terjadi dan tidak dimengerti Jae Ha, sehingga Jae Ha menyelimuti Fuyo dengan bajunya dan saat itulah teman-temannya tiba di sana.
Hak menggunakan Raijuu untuk terbang dari dalam benteng secepatnya menuju tepi pantai dan saat mereka menemukan Jae Ha di tepi pantai, mereka segera turun dari Raijuu, menghampiri Jae Ha dan Fuyo yang duduk di tepi dengan tubuh basah kuyup.
"Jae Ha, lukamu?!" ujar Yun saat melihat luka di tengkuk leher, lengan dan punggung Jae Ha.
"aku tak apa-apa!? periksa dia lebih dulu, tahu-tahu tadi ia pingsan, saat kuperiksa nafas dan detak jantungnya berhenti?!".
