Chapter 21 – Guilty Bond

Ikatan yang terbentuk di masa lalu atau masa kini yang hanya akan menciptakan penderitaan di masa depan, haruskah tetap terjalin? Atau haruskah ikatan itu diputuskan meski mungkin akan menyisakan penyesalan?


.

Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc

.

Setelah mereka menunggu beberapa saat, Yun keluar dari kamar tempat ia menangani teman-teman mereka yang terluka, termasuk Yui, sehingga orang-orang yang menunggu di koridor segera menghampirinya dan menanyakan keadaan Yui, mulai dari Kaisar Dal, Arslan dan Amitha serta teman-teman mereka.

"detak jantung dan napasnya... kembali..." ujar Yun dengan napas tersengal.

Mendengar ucapan Yun, betapa leganya Kaisar Dal sehingga ia langsung masuk ke kamar Yui dibaringkan disusul Arslan dan Amitha sementara teman-teman mereka bicara dengan Yun di depan kamar yang dibiarkan terbuka.

"sudah tak apa-apa, meski lemah, detak jantung dan napasnya masih ada meski memang detak jantung dan napasnya masih terlalu lemah" ujar Yun menjelaskan penyakit yang diderita oleh Yui, sebenarnya ini diderita Yui sejak lahir dan Yuma, dokter yang sempat mengasuh Yui yang memberitahu Leila dan Maya soal penyakit ini. Yun sudah mengantisipasi hal ini sejak pertama kali Yui terkena serangan dengan bertanya pada Leila dan Leila memberitahu penyakit yang diderita Yui serta cara menanganinya kalau-kalau saat itu Leila tak bisa menanganinya seperti saat ini.

Stagnansi, penyakit ini pada awalnya disebabkan kondisi mental dan tubuh yang jatuh dalam kondisi terendah, bisa dibilang titik nadir dalam hidupnya. Napas dan detak jantung Fuyo atau Yui yang sempat berhenti saat ia tak sadarkan diri adalah gejala utama Stagnansi. Sebenarnya napas dan detak jantungnya masih ada, tapi terlalu lemah untuk bisa dideteksi menggunakan indra pendengaran semata sebab Stagnansi yang kumat bisa membuat kondisi tubuh pasiennya jatuh pada kondisi tidur mati alias koma.

"tapi tak kusangka ada penyakit seperti ini" gumam Yun melihat Yui yang wajahnya sangat pucat seperti mayat.

"yang dialami Yui tadi masih bisa dibilang serangan ringan, yang membuat penyakit langka ini berbahaya karena gejalanya. Selain serangan ringan yang dialami Yui tadi juga ada serangan kategori berat. Serangan berat ini dialami Yui saat ia berusia 10 tahun yang membuat seluruh fungsi tubuhnya jatuh dalam kondisi koma dan pertumbuhannya berhenti" tutur Arslan yang tahu soal penyakit Yui sejak dulu.

"itu sebabnya tubuhnya masih seperti anak kecil meski dalamnya sudah 16 tahun?" ujar Hak yang detik berikutnya kepalanya ditampar Yona.

Kija mengangkat tangan "apa penyebab utama yang bisa membuat nona Yui kena serangan berat?".

"pengidap Stagnansi tak boleh merasa kelelahan secara mental dan fisik di saat bersamaan dan daripada fisik, kondisi mentalnya lebih harus dijaga. Untungnya Yui-chan bukan tipe yang bisa jatuh dalam kondisi kelelahan secara mental dan fisik di saat yang bersamaan jika bukan karena kejadian yang sangat luar biasa. Untuk anak seusianya, Yui-chan memang tergolong tabah dan yang membuat Yui-chan terkena serangan berat yang menyebabkan dia koma terhitung sejak usia 10 tahun adalah kematian ibu dan saudara kembarnya... di usia 15 tahun, saat ia genap berusia 15 tahun malam itu, ia sadar dari koma" jawab Arslan yang saat itu memang berada di dekat situ, ia ingat sekali bagaimana Shurin menangis bahagia saat akhirnya Yui sadar meski tak lama setelah itu, Shurin meninggal karena sakit tapi untungnya kejadian itu tak membuat Yui jatuh dalam kondisi Stagnansi lagi.

"MENJAUH DARIKU!?".

Saat terdengar teriakan Yui dari dalam kamar, reaksi yang sudah bisa diduga, teman-temannya ikut masuk ke dalam kamar dan berusaha menenangkan Yui. Sampai akhirnya saat menyadari Jae Ha memegangi bahunya dan memintanya tenang, Yui memeluk erat Jae Ha dan menangis sambil meminta Jae Ha membawanya pergi, kembali ke kerajaan Kouka karena mereka sudah tak ada urusan lagi di Kekaisaran Kai.

"Yui-chan, jangan gegabah, kau masih harus istirahat" ujar Jae Ha menepuk-nepuk kepala dan punggung Yui.

"tidak mau!? cepat bawa aku pergi dari sini!? sejauh mungkin dari mereka!?".

"sepertinya masih terlalu cepat bagiku untuk menemuinya?" ujar Kaisar Dal beranjak disusul oleh Arslan dan Amitha.

Saat Yona menahan mereka bertiga dan meminta Yui bicara sebentar dengan ayahnya, Kaisar Dal hanya mengayunkan tangan "tak apa, aku mengerti kenapa dia bersikap begitu padaku tapi paling tidak aku bersyukur satu hal, sepertinya putriku mendapatkan teman-teman yang sangat baik, yang lebih layak disebut keluarganya daripada aku, ayah kandungnya yang payah dan lemah karena menelantarkan dan tak bisa melindungi istri dan anaknya sendiri...".

Mendengar ucapan Kaisar Dal, Yui melempar bantal terdekat ke wajah ayahnya "bagus kalau kau sadar... jika aku boleh protes satu hal... apa maksud kata-katamu saat itu bahwa kalau tahu begini jadinya seharusnya kedua anak itu tak usah lahir sekalian... Yui yang mendengar hal itu tak sekuatku!? kenapa kau bisa bilang begitu setelah seenaknya membuat anak, dasar pak tua brengsek!?".

"oh? mulut kasar dan keberanian ini... Fuyo-chan, kenapa kau nggak bilang-bilang kalau tukar posisi? Sejak kapan tukar posisi?" ujar Jae Ha menahan Fuyo dari belakang.

Fuyo melipat tangan "apa boleh buat, Yui itu anaknya lembut, untuk hal yang perlu ditegaskan seperti ini memang lebih baik aku yang keluar, kan?".

"apa begitu cara bicara yang pantas pada ayahmu sendiri, Fuyo?" ujar Kaisar Dal menghampiri Fuyo, ia sudah mendengar tentang jiwa kedua putrinya yang tinggal dalam satu tubuh.

"jangan berharap kalau aku akan menganggapmu sebagai ayahku setelah semua yang telah kau lakukan pada kami...".

"wajar jika kau membenciku, tapi tak peduli seberapa besar kebencianmu padaku, suka atau tidak, aku tetap ayah kandungmu dan aku berhak mengkhawatirkan putri kandungku".

Fuyo menunduukkan kepala sambil mengepalkan kedua tangannya yang bergetar "sudah tak ada gunanya kau berusaha bersikap sebagai ayahku sementara kau menyuruh antek-antek kuil Sakura merah untuk membunuh ibu padahal hingga akhir hayatnya, ibu selalu mencintaimu!?".

"aku tak pernah memerintahkan siapapun untuk membunuh istri atau anakku sendiri?! alasan apa yang membuatku harus membunuh anak dan istriku sendiri!?".

"karena kau membenci kami, kan!? karena kau tahu ibu kami bukan manusia melainkan Oni darah murni klan Genbu yang lebih dikenal sebagai keturunan kaum Siren yang memiliki satu keistimewaan dimana kami dapat mengabulkan permintaan apapun dengan mengorbankan atau memberi persembahan, kau berusaha membunuh ibu karena berniat menggunakan ibu sebagai tumbal untuk memenuhi keinginanmu?" ujar Fuyo dengan suara bergetar, ia memegangi dadanya dengan tangannya yang gemetar sebelum mendongak dengan wajah berurai air mata "dan tanpa sengaja, Yui mendengar kau berkata 'jika aku tahu akan begini jadinya, seharusnya kedua anak itu tak usah lahir sekalian'... memangnya... siapa lagi yang kau maksud selain aku dan Yui? jika pada akhirnya kami berdua hanya akan dibuang, lalu untuk apa kami berdua dilahirkan?!".

Kaisar Dal kali ini menatap Fuyo dengan sorot mata dipenuhi rasa bersalah dan kesedihan "aku punya alasan kenapa aku sampai mengatakan hal itu".

"kalau begitu, katakan alasannya!? Apapun itu, akan kudengarkan".

"mengenai ibumu, Sumire, aku menikahinya karena aku mencintainya, dia satu-satunya wanita yang kucintai dan aku tetap memilih untuk menikahinya meski aku sudah tahu, Sumire bukan manusia... bahkan sejak sebelum kami berdua memutuskan untuk menikah, jadi untuk apa aku membunuh Sumire?" ujar Kaisar Dal menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Saat berkunjung ke kuil Sakura merah untuk menemui Sumire, Yui dan Fuyo, yang ia dapat hanyalah kabar bahwa Sumire dan Yui meninggal dalam kebakaran. Demi menyelamatkan Yui yang terjebak dalam bangunan yang terbakar, Sumire kembali masuk ke bangunan yang dilalap api dan akhirnya tak pernah keluar bersama Yui. Pihak kuil Sakura merah mengatakan bahwa jasad keduanya sudah tak bisa dikenali lagi dan keduanya sudah dikremasi. Kebohongan yang diberitahu kuil Sakura merah mengenai kematian Hayabusa dan Fuyo lebih mengerikan. Kuil Sakura merah mengatakan bahwa Fuyo dan Hayabusa yang dibesarkan tanpa mengetahui kalau keduanya adalah kakak beradik seayah, saling mencintai dan akhirnya bunuh diri setelah tahu kalau mereka berdua kakak beradik seayah yang menjalin cinta terlarang.

Fuyo memegangi kepalanya, merasa pusing mendadak "dan kau percaya begitu saja informasi yang diberikan kuil Sakura merah?".

Kaisar Dal tak menyangkalnya. Sebagai putra semata wayang telah dididik dengan keras sejak kecil dan ia tak ingin anak-anaknya menderita akibat didikan yang keras. Bukannya tak sayang pada anak dan istrinya tapi ia hanya tak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan anak yang selalu ia nantikan. Ia sangat senang saat Fuyo dan Yui lahir, tapi tuntutan dari istana mengenai penerus tahta membuat Kaisar Dal terpaksa mengambil Shoka sebagai permaisurinya karena posisi Shoka lebih tinggi dari Sumire sehingga Sumire menjadi selirnya. Ia merasa telah gagal sebagai ayah dan suami, sehingga ia tak tahu harus berbuat apa saat itu terlebih ada keganjilan yang disebabkan oleh kelahiran Fuyo dan Yui yang terbilang ganjil. Sumire sudah memintanya untuk tak berpikir seperti itu dan memaklumi pernikahannya yang kedua. Saat Fuyo dan Yui lahir, Fuyo yang terlahir dengan mata yang buta, kedua kakinya menjadi ekor ular sedangkan Yui yang terlahir dengan kedua kaki yang cacat, kedua kakinya menjadi ekor ikan. Karena para menteri dan peramal istana memintanya mendapatkan pewaris tahta dari kalangan manusia, ia terpaksa menikahi Shoka dan lahirlah Hayabusa sebagai pewaris tahta.

"tak seperti ibumu, aku tak tahu harus berlaku seperti apa di hadapan kalian berdua... aku benar-benar orang yang kikuk, meski aku sangat senang karena mendapatkan kalian berdua sebagai putriku, aku tak tahu harus bagaimana menghadapi kalian dan bersikap layaknya ayah dan saat aku mendapat kabar bahwa kau meninggal bersama Hayabusa dan kalian berdua... timbul penyesalan dalam hatiku, seharusnya sejak awal aku tak membesarkan kalian berdua secara terpisah... kau dan Hayabusa, jika pada akhirnya kalian berdua hanya akan berakhir seperti ini, seharusnya kalian berdua tak lahir sebagai anak-anakku... maafkan aku, seandainya kalian tak terlahir sebagai anak-anakku, kalian pasti akan lebih bahagia... itulah yang kupikirkan, karena itulah... aku berkata begitu..." ujar Kaisar Dal menutupi kedua matanya dengan sebelah telapak tangannya sambil menundukkan kepalanya, terlihat air mata menetes ke wajahnya "selain Fuyo dan Hayabusa yang memang kulihat jasadnya, aku tak pernah berusaha mencaritahu apakah Yui memang masih hidup atau tidak, karena meski Yui masih hidup, aku takut Yui berkata kalau ia tak membutuhkan ayahnya, karena itu aku tak pernah lagi mencari tahu soal kalian tanpa kuketahui kalau ternyata selama ini kalian harus menderita... permintaan maaf seperti apapun takkan bisa menebus kesalahanku... aku benar-benar ayah yang payah, maafkan aku... Fuyo... Yui...".

"terlambat... jika ayah tak membutuhkanku, maka aku juga tak memerlukan ayah di sisiku..." ujar Fuyo terduduk lemas dan menutupi wajahnya yang berlinang air mata "kukira sejak awal... keberadaanku tak diinginkan... kupikir aku memang tak dibutuhkan, karena itu... aku juga tak memerlukan ayah di sisiku... dengan begitu impas kan... tanpa kutahu... kalau ternyata ayah sangat menyayangi kami berdua...".

Kaisar Dal memeluk anaknya "terima kasih karena telah bertahan hidup, Fuyo, Yui...".

Entah Yui atau Fuyo, yang jelas Yona dkk lega melihat ayah dan anak ini berdamai. Setelah Yui atau Fuyo menangis selama beberapa saat di pelukan Kaisar Dal, Kaisar Dal memegang kedua bahu putrinya; menanyakan soal perasaan dan hubungan Yui pada Arslan dan Fuyo pada Hayabusa. Kaisar Dal mengakui, Arslan pria yang baik, tapi tak peduli sebesar apapun perasaan Yui dan Arslan, Kaisar Dal tak mungkin merestui hubungan mereka berdua dan menyerahkan Yui pada anak dari pria yang telah mencelakakan ibu mereka, dan Yui mengerti hal itu.

Tiba-tiba, terdengar keributan dari luar, dimana Amitha mencoba menghentikan Midori yang memaksa masuk setelah mendengar bahwa Yui adalah putri kandung Kaisar Dal. Saat Midori ingin bicara dengan Yui, Jae Ha membentengi Yui.

"aku hanya ingin tahu, apakah Yui putri kandung raja Kaisar Dal, dengan Yui mantan kekasih Arslan, adalah orang yang sama?" ujar Midori.

Yui mengangguk.

Midori menamparnya.

"Midori? apa-apaan..." ujar Arslan berdiri dan menahan Midori.

Jae Ha mendekap Yui untuk melindungi Yui dari Midori yang ditahan oleh Arslan "hentikan?! kenapa kau malah menamparnya?".

"karena dia wanita yang dicintai Arslan!? tak peduli sebaik apapun perilakunya dan sebesar apapun kasih sayang yang Arslan berikan padaku, takkan bisa menandingi sedetik tatapan matanya ketika Arslan teringat padamu!? tersirat dari sorot matanya betapa besarnya perasaan cintanya padamu, meski kau memilih pergi meninggalkannya... dia sangat mencintaimu... tapi kenapa kau meninggalkannya?" ujar Midori terduduk lemas sambil menyeka air matanya yang berlinang "aku iri padamu, kenapa harus kau yang dipilihnya?".

"jangan ada yang ikut campur!?" ujar Yui yang bangun dari dekapan Jae Ha.

Detik berikutnya, Jae Ha menyadari siapa yang ada di hadapannya, berdiri dan menghela napas setelah melihat Midori ditampar balik "kau sendiri yang ikut campur, Fuyo-chan...".

Setelah menampar balik Midori, Fuyo mencengkram baju Midori "itu untuk adikku, dan alasan kenapa mereka berpisah atas permintaanku. Aku tahu ini egois, tapi akan kukatakan ini sebagai kakaknya, karena tidak seperti 'Fuyo', 'Yui' tak bisa membalas dendam karena ia akan selalu merasa ragu selama ia masih bersama Arslan. Penyebab penderitaan yang menimpa ibu kami, aku dan Yui adalah ayah kandung Arslan. Aku bukannya ingin 'Yui' membalas dendam atas kematian kami berdua tapi aku hanya tak ingin ia terus dihantui oleh perasaan bersalah atas kematianku dan ibu kami. 'Yui' tetap manusia biasa, ia juga membenci ayah kandung Arslan sebagai penyebab kesengsaraan kami tapi kebencian 'Yui' terhalang oleh perasaannya pada Arslan. Sebagai kakaknya, aku hanya ingin adikku terus hidup dan aku tak rela jika ia harus hidup menderita!?".

"karena itu, aku menghilangkan keraguannya... hanya aku yang bisa melakukannya... aku tahu Yui menahan kebenciannya pada ayahku karena aku dan aku tahu Yui akan terus melakukan itu karena aku... aku juga tahu kalau kebenciannya terlalu besar untuk ditahan selamanya... itu sebabnya aku akan melepaskannya, yang bisa kulakukan hanyalah tidak menahannya yang pergi meninggalkanku dan mengakhiri hubungan kami sebelum Yui membalas dendam pada ayahku" ujar Arslan duduk di samping Midori "aku rela memberikan apapun demi kebahagiaan Yui, termasuk melepaskannya, memberikan kebebasannya kembali dan membiarkannya pergi dariku".

"dasar bodoh, kenapa kau katakan itu padaku di depan istrimu? Bukankah sudah kubilang, jika kau benar-benar mencintai orang itu, kau tak harus memilikinya... jika perasaanmu memang tulus, asal orang itu bahagia, itulah kebahagiaan terbesar... karena itu aku memintamu untuk mencari kebahagiaanmu sendiri dan aku takkan memaafkanmu jika kau tak bahagia, Arslan... jangan membuatku mengatakan hal yang sama dua kali" ujar Yui menyentil dahi Arslan dan tersenyum lebar.

Melihat Yui tersenyum begitu lembut, Arslan hampir memeluknya, andai saja Jae Ha tak lebih dulu menyelamatkan Yui dengan cara memeluk Yui dari belakang dan menahan Arslan sambil memegang wajah Arslan "oh, maaf... kupikir tak seharusnya kau memeluk mantan kekasihmu di hadapan istrimu saat ini~".

Yui tertawa dan memegang lengan Jae Ha "kak Jae Ha, kenapa kau jadi overprotektif seperti Hak?".

"apa boleh buat, refleks... sebab saat aku memikirkan kalau kau akan dipeluk laki-laki lain, aku jadi merasa seperti seorang ayah yang tak rela memberikan putrinya pada orang lain..." ujar Jae Ha merangkul Yui dari belakang.

Yui memegang kedua bahu Jae Ha dengan tangan bergetar dan tertawa lepas "memangnya kau ayahku? Usia kita hanya beda 9 tahun, kan?".

"lolicon..." ujar Yun.

"yang benar bukannya pedofil?" ujar Hak.

"hei, itu lebih parah lagi, Hak?!" sahut Yona menahan tawa.

"terima kasih pujiannya~" ujar Jae Ha tersenyum lebar.

"kau bersama orang-orang yang cukup aneh, apa tak masalah?" ujar Arslan.

"begitulah..." sahut Yui tersenyum.

"kelihatannya mereka orang-orang yang baik" ujar Arslan tersenyum lega.

"maaf karena aku menamparmu..." ujar Midori berdiri dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca "aku benar-benar iri kepadamu... bukan hanya karena dia mencintaimu, tapi juga karena dalam tubuh kecilmu, tersimpan kebaikan hati, ketegaran dan ketulusan yang membuatmu tetap bersinar meskipun kau sendiri ada di tengah kegelapan...".

"aku tak sekuat yang kau kira..." ujar Yui tersenyum lembut, lalu memeluk Jae Ha.

Jae Ha merasa Yui tak seperti biasanya, bukan hanya karena tatapan tajam menusuk dari Arslan dan Kaisar Dal tapi biasanya Yui tak akan berbuat seperti ini di hadapan yang lain "Yui-chan?".

"pada awalnya, aku ingin berada di dekatmu karena aku suka mendengar suaramu yang mirip dengannya, rasanya menenangkan bagiku... berbeda dengan kak Fuyo yang sejak awal memang tertarik padamu karena kau tak takut padanya dan kau tak pernah bohong padanya..." ujar Yui tersenyum lebar setelah mengecup kening Jae Ha "tolong jaga kak Fuyo, Jae Ha".

Saat Yui tak sadarkan diri di pelukannya sambil tersenyum, seisi ruangan kembali rusuh ketika Jae Ha yang hendak memeriksanya juga ikut pingsan.

.