Chapter 24 – Back to The Wind's Fang

Selama masih hidup, setiap luka akan sembuh meski meninggalkan bekas


.

Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc

.

Fuuga...

Lily berkeliling dengan gelagat mencari sesuatu; tepatnya seseorang kesana kemari. Selama ia mengungsi dan tinggal di Fuuga, ia menggunakan kesempatan ini untuk belajar banyak hal dan ikut melakukan berbagai kegiatan bersama warga di Fuuga berfokus pada ilmu kedokteran dan seni wajib militer.

Yap, Lily mempelajari ilmu kedokteran agar ia bisa tahu bagaimana menangani orang lain yang terluka karena ia tak ingin hanya bisa berpangku tangan melihat orang yang ia sayangi terluka sedangkan seni wajib militer ia pelajari agar ia juga bisa bertarung, tak hanya dilindungi oleh orang lain saat ia terjebak dalam situasi bahaya. Pemicunya? Tentu saja karena apa yang telah ia lewati selama ini sejak ia bertemu dengan Yona hingga apa yang terjadi pada Tae Woo baru-baru ini.

Selama perjalanan menuju Fuuga yang biasanya memerlukan waktu satu setengah hari dengan berkuda dari Kuuto (yang menjadi dua hari karena mereka perlu berhenti beberapa kali untuk mengistirahatkan Tae Woo yang kondisinya memburuk akibat lukanya; meski Tae Woo sendiri bersikeras bahwa ia masih bisa melanjutkan perjalanan) Lily mencemaskan kondisi Tae Woo yang terlihat memburuk karena ia memaksakan diri untuk kembali ke Fuuga sementara luka di tubuhnya melemahkan tubuhnya yang terkena racun, sehingga saat mereka tiba di Fuuga yang memiliki dokter hebat, Han Dae secepatnya membawa Tae Woo ke mansion klan dimana para dayang bawahan Maya, mulai dari Mizuki dan Kayano sebagai spesialis pengobatan bersama Mulan sebagai perawat sudah bersiap setelah mendapatkan kabar dari Mundok bahwa mereka perlu menangani Tae Woo. Kayano adalah spesialis pengobatan dalam tubuh, Mizuki adalah spesialis pengobatan luar tubuh.

Tak seperti Mizuki yang mengomeli Tae Woo karena memaksakan diri melakukan perjalanan kembali dengan luka di tubuhnya yang bisa terbuka kapan saja, Kayano meminta Kyouka (adik kembar Mizuki) yang memiliki kemampuan teleport (berpindah tempat) membantunya pergi ke rumah dokter di hutan Timur untuk mengambil persediaan obat untuk membuat penawar racun yang ada di tubuh Tae Woo. Meski racun itu sudah dikeluarkan oleh tabib istana, racun yang masuk ke tubuh Tae Woo bisa menimbulkan infeksi, memperlambat proses penyembuhan dan menimbulkan peradangan di sekitar mulut lukanya.

"demamnya bisa kembali dan bertambah parah jika luka di tubuhnya belum sembuh betul, dan penyebab kenapa ia merasa sesak napas adalah karena luka di tubuhnya menggores diafragma yang terletak di bagian bawah paru-paru, ditambah racun dalam tubuhnya menimbulkan infeksi yang membuat lukanya lambat sembuh".

Diagnosis dari Kayano membuat Lily kembali tak bisa tidur sehingga ia lebih memilih berjaga di samping Tae Woo untuk merawatnya saat ia demam tinggi dan mungkin tak tidur semalaman lagi jika saja Mulan tak memintanya istirahat sementara ia yang akan mengawasi kondisi Tae Woo dengan berjanji kalau ia akan membangunkan Lily jika terjadi perubahan. Berhari-hari setelah itu mereka lewati dengan Lily yang membantu teman-teman Tae Woo di Fuuga untuk mengawasi Tae Woo yang termasuk bandel.

Baru tadi pagi kondisi Tae Woo membaik dan ia hilang dari kamarnya sebelum Lily mengantar makan siangnya, lagi-lagi. Saat ia melewati pepohonan yang berjajar rapi di tepi sungai, Lily melihat tombak Tae Woo dari balik semak.

"jenderal bodoh satu itu... masih saja!?" pikir Lily menepuk dahinya, tak habis pikir kenapa jenderal satu ini tak bisa beristirahat dengan benar dan menahan diri untuk tak latihan sebelum tubuhnya benar-benar pulih? Sudah beberapa kali ia memergoki Tae Woo kabur dari kamarnya saat ia merasa baikan dan latihan di tempat yang tak dilihat orang lalu berakhir dengan kondisi tubuhnya yang memburuk lagi.

"Tae Woo!?" teriak Lily muncul dari balik semak.

Selama tinggal di Fuuga, Lily menyadari bahwa Tae Woo memiliki kemiripan dengan Hak dan bisa dibilang, Tae Woo adalah Hak versi mini. Bukan hanya karakternya yang mirip, bahkan fisiknya juga mirip tapi Lily sama sekali tak memperhitungkan apa yang akan ia lihat kali ini. Matanya membulat saat ia menemukan pakaian serta tombak Tae Woo yang tergeletak di tepi sungai. Tae Woo menyampirkan rambutnya ke belakang saat ia baru keluar setelah menyelam ke dalam sungai untuk menyegarkan tubuhnya. Terlihat otot di tubuhnya yang terbentuk berkat latihan keras yang ia jalani. Bukan hanya otot lengan, bahu dan dada tapi juga otot perut yang terlihat jelas mengingat tubuh Tae Woo yang kini berada di air terlihat jelas dari kepala hingga pinggul.

Lily menutupi wajahnya dengan kedua tangannya saat menyadari kalau ia tidak sengaja melihat Tae Woo "KYA?!".

Tae Woo yang sadar kenapa Lily bereaksi seperti itu karena melihatnya tak mengenakan apa-apa (wajar saja, dia sedang mandi di sungai) langsung menoleh ke arah Lily dan refleks teriak saat Lily berteriak "WAA!?".


Maya menyisir rambut Tae Yeon yang duduk di pangkuannya terkejut melihat tamu yang baru tiba di mansion klan suku angin di Fuuga tapi seperti Mundok, tentu saja mereka menyambut kedatangan Yona dkk di Fuuga. Setelah Mundok memeluk ketiga cucu angkatnya (meski Hak menghindar dari pelukan Mundok seperti biasa pada saat Yasmine dan Leila dipeluk Mundok), Maya memeluk ketiga anaknya. Saat Maya memeluk Hak, Mundok sempat menggerutu karena Hak bersedia dipeluk Maya tapi malah menghindar saat Mundok ingin memeluknya. Setelah Maya dan Mundok mendengar apa yang terjadi di Kekaisaran Kai baru-baru ini, Hak dan Yona bertanya dimana Tae Woo dan Lily serta bagaimana kondisi mereka mengingat kabar mereka berdua yang mereka dengar terakhir kali membuat mereka berdua khawatir.

Tak masalah dengan Lily, tapi kondisi Tae Woo memang masih mengkhawatirkan meski orang yang bersangkutan tak merasa demikiain. Setelah Maya dan Mundok menceritakan bagaimana kondisi mereka berdua setelah datang ke Fuuga, saat itulah Fuyu membisiki Jae Ha sebelum Jae Ha menggendong Fuyu dan pergi keluar diam-diam.

Jae Ha membopong Fuyu sebelum melompat ke langit dan melirik Fuyu "tapi kau yakin, tak terdengar suara musuh yang datang dari luar?".

Fuyu mengangguk "kurasa hanya ada mereka berdua, tapi setelah Lily meneriakkan nama Tae Woo dan berteriak, kudengar Tae Woo juga berteriak. Mendengar kondisi Tae Woo dari tetua Mundok, bagaimana kalau lukanya terbuka lagi?".

Jae Ha menautkan sebelah alisnya begitu mendengar seperti apa teriakan Lily dan Tae Woo yang didengar Fuyu "atau malah terjadi hal lain yang sebenarnya tak perlu kita cemaskan?".


"maaf, maaf, aku benar-benar tak sengaja..." gumam Lily yang menutupi wajahnya, meringkuk sambil membelakangi Tae Woo, wajahnya terasa panas dan benar-benar merah saat ini.

"sudahlah, yang lebih penting... bisa bantu aku mengganti perbanku?" pinta Tae Woo yang saat ini telanjang dada setelah ia mengenakan celananya pasca mengeringkan tubuh, wajahnya yang tersipu sama merahnya dengan Lily.

"oh, sebentar" ujar Lily mengambil isi tas kecilnya yang kini dipenuhi persediaan pertolongan pertama. Lily bersyukur Tae Woo tak bisa melihat wajahnya yang mungkin memerah saat ini karena ia melilitkan perban di tangannya dari belakang Tae Woo "tenanglah, jantungku... aku ini apa-apaan? mengganti perban memang seperti ini, kan?".

Berbeda dengan kulitnya yang putih pucat dan mulus seperti guci porselen, kulit Tae Woo yang coklat karena terbakar matahari memiliki beberapa bekas luka. Sedikit lagi luka di tubuh Tae Woo akan menutup, terlihat dari kulit ari baru yang berwarna agak kemerahan di punggungnya meski luka dalam hingga mulut luka di dadanya memang lambat sembuh akibat racun itu.

"lukamu... mungkin akan berbekas, ya?".

"meski berbekas tak masalah bagiku..." ujar Tae Woo yang detik berikutnya terbelalak saat ia merasakan rambut dan dahi Lily yang bersandar ke punggungnya "...Lily?".

Lily menutup kedua matanya, mengerutkan keningnya yang sandarkan ke punggung Tae Woo dan menempelkan telapak tangannya ke luka di punggung Tae Woo yang mungkin berbekas "maaf...".

Tae Woo membalikkan tubuhnya dan menghela napas saat melihat Lily hampir menangis "aku sudah bilang, tak masalah bagiku meski berbekas, kan? jangan berekspresi seperti itu...".

"tapi..." ujar Lily menyeka air matanya yang hampir jatuh, ia sama sekali tak bermaksud untuk menangis lagi di hadapan Tae Woo dan membuatnya cemas tapi jika teringat apa yang terjadi di malam itu, Lily merasa kesal atas ketidakberdayaannya dan teringat ketakutannya saat itu.

"aku percaya selama kita masih hidup, setiap luka yang kita terima pasti sembuh meski akan meninggalkan bekas. Bagiku, luka yang bisa dilihat mata meski berbekas seperti yang kudapat lebih baik ketimbang luka tak terlihat yang kau dapat... tak seharusnya kau minta maaf padaku atas luka yang kudapat" ujar Tae Woo mengadu dahi dan menggenggam kedua tangan Lily, menyeka air mata Lily dengan tangan kirinya sebelum mencubit pipi Lily "jika sekali lagi kau berpikir kalau kau harus minta maaf padaku, merasa bersalah atau bertanggung jawab atas luka di tubuhku, aku marah".

Lily menyeka air matanya, mengangguk dan tersenyum "baik...".

Setelah Lily selesai membalutkan perban dan Tae Woo memakai kembali baju atasnya, Tae Woo merasakan kehadiran seseorang di dekat mereka sehingga ia melempar tombaknya ke atas pohon namun beberapa pisau lempar Jae Ha dan kunai Fuyu berhasil menangkisnya.

"jahatnya, padahal kami mencemaskan kalian, lho" ujar Jae Ha turun dari pohon.

"sambutan yang kasar sekali, ya?" tambah Fuyu yang dibopong Jae Ha.

Lily terkejut melihat teman seperjalanan sahabatnya ada di depan matanya "Jae Ha!? kenapa kau ada disini?".

"dan sejak kapan kalian berdua mengintip kami berdua dari atas pohon?" tanya Tae Woo yang melipat tangan dengan wajah jelas-jelas terganggu.

Setelah menjelaskan apa yang terjadi di Kekaisaran Kai dan menjelaskan siapa Fuyu, Jae Ha memberitahu alasan mereka pergi ke Fuuga karena Hak dan Yona yang mencemaskan mereka berdua serta penyebab kenapa mereka berdua bisa ada disini.

"maaf, kami tak bermaksud mengganggu kalian" ujar Jae Ha tersenyum lebar.

Fuyu mengangguk "benar, tenang saja, kami takkan bilang apa yang kalian lakukan pada yang lain".

"kami tak melakukan apa-apa!? kalian salah paham!?" pekik Tae Woo dan Lily bersamaan.


"sekarat dan hampir mati karena melindungi perempuan? seingatku aku melatihmu untuk tak dijatuhkan dan hampir mati semudah itu?" ujar Hak melipat tangan, bersandar di depan pintu dan menyeringai.

"aku tak mau dengar hal itu dari orang yang pernah mati sekali dan menyebrang ke alam sana karena melindungi perempuan" ujar Tae Woo memasang kuda-kuda, bersiap untuk menangkis serangan Hak atas ucapannya barusan melihat Hak bersiap mengangkat tangannya.

Detik berikutnya Tae Woo dibuat terkejut karena ia bukannya dipukul, Hak justru memeluknya sebelum mengelus kepala Tae Woo sambil tersenyum "untunglah kau selamat".

Tae Woo menundukkan kepalanya, wajahnya tersipu karena senang melihat reaksi Hak. Saat Lily melewatinya, ia menahan Lily "Lily, kembalikan tombakku, kau sembunyikan tombakku dimana?".

"tidak boleh?! Tombakmu sudah kusimpan di tempat yang aman. Akan kuminta tetua Mundok menguncimu di kamar sampai lukamu sembuh jika kau sekali lagi kabur dari kamar untuk berlatih saat lukamu belum sembuh jadi bersiaplah" ujar Lily yang menyembunyikan tombak Tae Woo barusan.

"apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua?" ujar Yona muncul dari belakang Hak.

Lily menghentikan langkahnya dan berbalik, ia tersenyum lebar dan memeluk erat Yona yang melompat ke pelukannya "Yona?! aku merindukanmu?!".

"aku juga?!" ujar Yona menepuk bahu Lily sebelum memegang bahu Lily dan mengadu dahi "aku khawatir sekali mendengar apa yang terjadi, tapi aku yakin kau akan aman selama tinggal di Fuuga. Senang melihatmu sehat dan baik-baik saja".

"benar, sangat sehat dan baik-baik saja, cerewet malah" gumam Tae Woo menghela napas.

Muncul pertigaan di kepala Lily yang kini melancarkan kepalan tangannya ke arah Tae Woo "kalau kau tak ingin aku cerewet padamu, jaga dirimu dan sayangi dirimu dengan benar, dasar jenderal bodoh?!".

"orang yang selalu mengatai orang lain bodoh adalah si bodoh yang sebenarnya?! memangnya kau ibuku?! aku setahun lebih tua darimu?!" sahut Tae Woo menangkis serangan Lily.

"tak peduli meski kau lebih tua setahun dariku, aku takkan cerewet kalau kau mengurus dirimu sendiri dengan benar?! tunggu dulu, jangan lari?! kau mau lukamu terbuka lagi?!" pekik Lily menahan Tae Woo dengan menarik baju Tae Woo saat Tae Woo bersiap mengambil langkah seribu.

"de javu..." gumam Yasmine.

"benar" angguk Leila.

"de javu terhadap apa?" tanya Yun.

"kakak kami dan Yona" ujar Leila tersenyum simpul.

"di masa lalu, kelahi terus" angguk Yasmine.

"berisik?!" pekik Yona dan Hak bersamaan.

Di tengah pergulatannya dengan Lily, Tae Woo menoleh ke arah Hak "omong-omong, kalian tak berpapasan dengan orang-orang aneh yang mencari kalian atau mendengar isu itu?".

"oh, kau mengingatkanku!? Aku lupa, harusnya aku memberitahu Yona soal isu itu" ujar Lily melepaskan cengkraman kedua tangannya dari Tae Woo.

Saat Yona ingin menanyakan apa maksud Tae Woo dan Lily, Mundok dan Maya mengajak mereka bicara mengenai beberapa hal yang harus mereka urus.