Chapter 26 – Intoxicate Night

Party Fulfilled With Euforia, Tipsy and Glowing

Let's Get Wild Tonight


.

Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc

.

Pesta pada malam hari dilanjutkan di Fuuga, semua bergembira dengan pernikahan rahasia itu. Tentu saja ini harus dirahasiakan dari orang luar karena mereka tak mau mengundang masalah dari pihak istana.

"aku senang sahabatku menikah dengan pria yang ia cintai, tapi kenapa harus dirahasiakan dari orang luar juga? tapi aku percaya kalau para warga Fuuga pasti akan tutup mulut..." ujar Lily yang menyodorkan botol sake pada Han Dae.

"apa boleh buat, yang dinikahi tuan Hak adalah tuan putri Yona yang berarti menurut tradisi, sekarang ini tuan Hak dan tuan putri Yona berhak mengklaim tahta kerajaan sebagai raja dan ratu kerajaan Kouka" ujar Han Dae mengambil botol sake di tangan Lily dan berterima kasih.

Setelah melihat sekeliling, Lily menghampiri teman-teman seperjalanan Yona, siapa lagi jika bukan Yun dan ke-4 naga (minus satu karena Zeno ada di kamar bersama Kayano) karena ia ingin menanyakan dimana Yona. Yasmine yang tiba bersamaan dengan Lily juga menanyakan dimana Hak.

"tokoh utama kita hari ini malah hilang duluan?" ujar Yun melirik sekeliling.

"jika yang kau maksud Yona-chan dan Hak, Hak sudah menyeretnya ke kamar" sahut Jae Ha terkekeh sambil menunjuk Shina yang menganggukkan kepala untuk mengkonfirmasi apa yang ia lihat tadi.

"wah, cepat sekali? ya, sudah... kalau begitu, kurasa sebaiknya kunikmati saja pesta ini" ujar Yasmine menghela napas dan bergabung dengan kelompok anak-anak suku angin yang barusan memanggilnya.

Saat Kija dan Yun menawarkan Lily ikut bergabung dengan mereka, Lily menolaknya dengan sopan dan memilih untuk melangkahkan kakinya menuju deretan botol sake dan hidangan yang tersedia untuk ia letakkan di nampan yang ia bawa.

"taruhan, pasti dia akan menemui Tae Woo" ujar Jae Ha mengajak saudaranya taruhan namun Fuyu melingkarkan kedua lengannya melewati bahu Jae Ha, memeluk Jae Ha dari belakang dan menyandarkan kepalanya ke bahu Jae Ha, dari rona merah di wajahnya kelihatannya ia tak tahan lagi untuk menjaga matanya tetap terbuka. Dengan nada sedikit menggoda, kedua mata yang indah ibarat mutiara hitam itu menatap lurus Jae Ha seolah mengundangnya ditambah jari lentiknya memegang wajah Jae Ha perlahan. Meski terlihat jelas kalau ia sudah setengah sadar, entah mengantuk atau karena efek alkohol, senyuman nakal yang ia perlihatkan terlihat sangat menggoda.

"aku ngantuk~ ayo, kita ke kamar saja~".

Satu ucapan dari Fuyu menimbulkan seringai kepuasan di wajah Jae Ha yang menyentil dahi Fuyu dan berbisik "aku tak tahu kalau ternyata kau bisa menggodaku juga".

Setelah Fuyu memeluknya, Jae Ha menahan tubuh Fuyu dengan sebelah tangannya sebelum ia mengambil sebotol sake sebagai penghilang rasa sakit yang akan ia minum bersama Fuyu saat mereka hanya berdua di kamar dan membopong Fuyu "kalau begitu, kami ke kamar dulu~".

"dasar pengantin baru..." gumam Yun geleng-geleng kepala melihat kelakuan Jae Ha dan Fuyu, ini membuatnya teringat pada Hak dan Yona serta Zeno dan Kayano yang sudah tak ada di tengah pesta karena (tentu saja) mereka ada di kamar mereka masing-masing.

Kini tinggal Yun, Kija dan Shina yang ada di ruang pesta bersama Tak lama kemudian, terlihat Leila menghampiri mereka dengan wajah bertanya-tanya.

"jika kau mencari kakakmu, dia ada di kamar bersama istrinya" ujar Yun sebelum Leila yang kini duduk di depan mereka bertanya hal yang sama dengan Yasmine dan Lily.

Barusan, Lily dan Yasmine sudah menanyakan hal yang sama, mencari Yona dan Hak sebelum Lily mengambil sebagian hidangan serta sake ke nampan untuk ia bawa pada Tae Woo yang dipaksa istirahat di kamarnya sementara Yasmine yang tak ingin mengganggu pengantin baru ini bergabung dengan kerumunan anak-anak suku angin yang memanggilnya dan memintanya menari.

Leila mengayunkan tangan dan menggelengkan kepala sebelum melirik sekeliling "kalau yang itu aku sudah tahu dan aku takkan heran, yang ingin kuketahui itu mana Yasmine? bahaya jika dia minum sake saat dia lepas dari pengawasanku di tengah pesta seperti ini".

Kija dan Yun mengerutkan kening dan Shina memiringkan kepala mereka. Benar, jika mereka ingat, mereka tak pernah melihat Yasmine minum sake di hadapan mereka, tak seperti kedua kakaknya yang tahan banting jika berurusan dengan minuman beralkohol. Kija tak tahan untuk bertanya pada Leila, apa Yasmine tak tahan alkohol sepertinya atau ini berhubungan dengan penyakit yang diderita Yasmine (gangguan pencernaan akibat tubuhnya menolak makanan).

"tak ada masalah dengan penyakitnya, malah ini lebih berbahaya... dalam artian lain" ujar Leila memasang ekspresi kompleks, antara simpati atau geli.

Tiba-tiba, Kija bisa merasakan ada seseorang yang melingkarkan kedua lengannya melewati bahunya, memeluknya dari belakang dan menyandarkan wajahnya ke punggungnya seperti apa yang terjadi hari itu, dimana kehangatan dan aroma bunga melati dari tubuhnya bisa ia rasakan dengan jelas seperti saat ini.

Yasmine!?

Dengan wajah merona merah karena malu, terkejut dan heran, Kija menoleh ke belakang dan bertatapan dengan sepasang mata kucing Yasmine yang menatapnya "...nona Yasmine?".

Tak disangka, Yasmine memegang bahu dan wajah Kija, mencengkram kerah leher baju Kija. Saat jarak wajah mereka berdua sangat dekat dan semakin dekat hingga hampir tak ada jarak, Kija merasa nafasnya berhenti dan tubuhnya terasa beku sesaat ketika ia menyadari Yasmine yang tampaknya berada di bawah pengaruh alkohol hampir menciumnya. Untungnya Leila tak seusil Jae Ha dan Hak, dia tak mungkin membiarkan adik perempuannya yang berada di bawah pengaruh alkohol melakukan hal yang tidak-tidak pada pria polos yang tak bersalah semacam Kija (sebab jika itu Jae Ha, mungkin dia hanya akan membiarkan apa yang akan terjadi dan jika itu Hak, dia pasti akan membuat adiknya tak sadarkan lebih dulu untuk menyelamatkan bibir adiknya dan Kija yang terlalu polos itu).

Sementara anak-anak suku angin yang ada di aula ini menahan napas saat menyaksikan adegan ciuman yang hampir terjadi antara Yasmine dan Kija, Leila segera mengantisipasi apa yang hampir terjadi dengan merebut Ao dari tangan Shina. Mulut Shina yang memberi Ao makan membulat saat Leila melemparkan Ao yang tak bersalah ke wajah Yasmine. Setelah Yasmine melepaskan Ao dari wajahnya, Yun menggunakan kesempatan yang diberikan Leila tadi untuk menyemprotkan serbuk obat bius pada Yasmine sehingga Yasmine tertidur di atas tubuh Kija.

"mission complete" ujar Yun dan Leila melakukan toss.

"duh, maaf sekali ya, Kija... jika Yasmine minum alkohol, dia akan mencium korban terdekat yang berarti itu adalah kau yang jaraknya paling dekat dengannya tadi" ujar Leila tertawa kecil.


"lalu, kenapa aku yang harus mengantarnya ke kamar?" gerutu Kija yang muncul pertigaan di kepala, jika yang memintanya bukan Yun dan Leila yang telah menyelamatkannya barusan, ia tak ingin menggendong Yasmine yang terlelap ke kamarnya setelah barusan Yasmine hampir saja menciumnya meski itu dilakukan Yasmine karena ia berada di bawah pengaruh alkohol.

Kakak adik sama saja, sama-sama merepotkan dan sulit ditebak perilakunya, itulah yang sering terlintas di pikiran Kija saat Yasmine atau Hak berulah dengan menjadikan Kija sebagai korban keusilan mereka. Tapi terlepas dari sikap usil mereka berdua, Kija sudah menganggap mereka sebagai bagian dari keluarganya, keluarga yang ia dapat sejak perjalanannya dimulai, keluarga yang dihubungkan oleh ikatan kasat mata meski mereka tak memiliki hubungan darah.

Hanya satu hal yang membuat Kija khawatir mengenai Yasmine, karena Yasmine selalu saja bersikap seolah ia baik-baik saja dan tak mau terbuka pada mereka tentang luka yang ia derita. Ia bisa mengerti bahwa sikapnya itu sama dengan Hak, bukan hanya karena harga diri mereka yang tinggi membuat mereka benci dikasihani tapi juga karena mereka tak ingin orang lain khawatir pada mereka. Justru ini yang membuat orang lain khawatir pada mereka.

Setelah meletakkan Yasmine di atas futon yang ada di kamarnya, saat Kija berniat memakaikan selimut padanya, Yasmine menggenggam tangannya dan menariknya. Kija kembali berada di posisi yang berbahaya dan kali ini tak ada seseorang yang bisa ia mintai tolong. Yasmine yang duduk di atas tubuhnya menahannya di atas futon, dan di saat Kija yang panik berusaha untuk menenangkan diri sekaligus memikirkan cara untuk melepaskan diri dari situasi ini, Yasmine malah memeluknya, menempelkan kepalanya ke dada Kija dan berbaring di atas tubuhnya.

"dulu hatiku pernah terluka dengan sangat dalam dan begitu parahnya... tapi akhir-akhir ini aku merasa baikan, mungkin bukan hanya karena kalian... tapi juga karena kau, Kija... suara dan sikapmu terasa menenangkan bagiku... jadi jangan berpikir kalau aku membencimu, Kija, aku justru berterima kasih padamu karena kau ada di dekatku saat aku menangis...".

Saat Yasmine kembali tertidur, Kija melihat linangan air mata keluar dari mata Yasmine. Kija menghela napas, mengelus rambut dan menepuk kepala Yasmine sebelum ia menyandarkan sebelah punggung tangannya ke dahi, menutup mata perlahan dan mengerutkan keningnya "kenapa saat untuk pertama kalinya aku melihatmu jujur, malah terasa sakit bagiku melihat air matamu yang berlinang? Wahai Dewa, jika kau izinkan, tolong izinkan aku melihat lukanya dan beritahu aku, bagaimana cara menyembuhkan lukanya agar aku bisa melihat senyuman tulus darinya saat lukanya sudah sembuh".

Setelah meletakkan Yasmine kembali di futon dan menyeka air mata Yasmine, saat Kija ingin menyelimuti Yasmine, Yasmine melingkarkan kedua lengannya melewati bahu Kija, memeluk Kija dan mencium Kija "apa kau tak tahu betapa aku merindukanmu? Aku mencintaimu... aku merindukanmu... selamat malam... Khali...".

Saat Yasmine terlelap di atas tubuhnya sambil memeluknya, Kija menutupi wajahnya yang memerah, terlepas dari keterkejutannya akibat ulah Yasmine yang menciumnya, Kija mengerutkan kening dengan mata terbelalak saat melihat Yasmine menangis lagi, jelas Yasmine salah mengira ia sebagai sosok seseorang saat Yasmine menciumnya tadi "...sebenarnya siapa yang ingin kau peluk, nona Yasmine?".


Lily tersenyum usil saat kepalanya muncul dari balik kamar "hei, kesepian di kamar sendirian, jenderal?".

Tae Woo memalingkan wajahnya, mengubah posisi tidurnya memunggungi Lily "ini terlalu berlebihan... berikan aku sake paling tidak segelas, tahun ini aku sudah 19 tahun".

"sebotol kecil saja, ya?" ujar Lily tertawa kecil dan masuk sambil membawakan nampan berisi sake serta beberapa hidangan pesta berupa makanan berat seperti nikujaga dan cemilan seperti roti dll.

Tae Woo langsung bangun dan memeluk Lily yang meletakkan nampan itu di sampingnya saat Lily duduk di dekatnya "kau yang terbaik, nona Lily?!".

"hei, sudah kubilang panggil saja nama kecilku, kan?" sahut Lily tertawa geli saat Tae Woo memeluknya.

Detik berikutnya, mereka baru sadar kalau apa yang mereka lakukan memalukan sehingga Tae Woo melepaskan Lily. Lily tak keberatan saat Tae Woo memeluknya karena ini sama seperti apa yang dilakukan Jae Ha, bedanya bagi Lily, ia bisa merasakan kalau Tae Woo bukan tipe pria playboy yang akan menyentuh sembarang wanita karena dia tipe pria yang menghargai dan menjaga wanita. Hal ini ia sadari sejak lama tapi hal itu makin jelas setelah ia mengungsi di Fuuga sementara waktu ini. Meski banyak wanita yang akrab dengannya, dia tak memiliki wanita spesial (kekasih) di Fuuga. Wajahnya memerah, kenapa ia memikirkan hal ini?

Karena terlalu fokus pada pikirannya, Lily hampir saja luput mendengar pertanyaan Tae Woo tentang kemana ia akan pergi setelah dijemput ayahnya kembali karena urusan di Kekaisaran Kai Selatan dan urusan dengan kuil Sakura merah sudah beres "apa kau akan kembali ke Suiko atau kembali ke Sensui?".

"masih ada beberapa hal yang harus kuurus di Sensui, jadi kurasa setelah ini aku akan kembali ke Sensui".

Rombongan Soo Won sudah kembali ke kerajaan Kouka, yang berarti sebentar lagi rombongan An Joon Gi akan datang untuk menjemputnya di Fuuga. Ia akan kembali ke rumahnya, wilayah suku air tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, tempat orang-orang yang ia sayangi berada serta tempat warga suku air yang ingin ia lindungi berada. Ia merasa nyaman tinggal di Fuuga tapi ia tahu, ada kewajiban yang harus ia penuhi sebagai putri jenderal suku air sehingga ia harus kembali. Ia sadar akan hal itu, tapi tetap saja hal itu membuatnya merasa kalau ia pasti akan merindukan kesehariannya di Fuuga. Sebagian dirinya merasa kesepian mengetahui fakta kalau ia akan meninggalkan tempat ini.

"sepertinya akan jadi sepi".

Lily terkejut mendengar ucapan Tae Woo "maksudnya?".

"yah, sebab tak ada lagi yang cerewet padaku tiap hari, sepertimu".

Ucapan Tae Woo membuatnya kembali memukulinya "Tae Woo!? Aku cerewet begini karena aku peduli padamu, tahu!?".

"karena apa? karena lukaku ini? Sebenarnya... kau menganggapku sebagai apa?" ujar Tae Woo menggenggam kedua pergelangan tangan Lily, awalnya untuk menahan serangan Lily namun kini keduanya bertatapan intens.

Efek alkohol, mungkin. Keduanya sama-sama mabuk meski masih terbilang ringan mengingat sedikitnya jumlah alkohol yang sudah mereka tengguk. Tak ada lagi suara yang keluar setelah pertanyaan Tae Woo yang jawabannya masih menggantung di udara namun kedekatan mereka saat ini membuat suhu tubuh dan detak jantung mereka berdua meningkat.

Lily tak menjawab pertanyaan Tae Woo, ia melingkarkan kedua tangannya melewati celah di antara kedua tangan Tae Woo dan memeluk Tae Woo. Lily mencengkram kain baju di bagian punggung Tae Woo dan berusaha berhati-hati untuk tak menyakiti luka di punggung Tae Woo sambil menyandarkan wajahnya ke bahu Tae Woo. Mendengar suara detak jantung Tae Woo saat ini membuatnya merasa tenang.

"begitu cepat, seolah akan meledak... ini detak jantungku atau detak jantung Tae Woo?".

Tae Woo terbelalak, namun ia melingkarkan kedua lengannya dan memeluk Lily erat. Tangan kanannya membelai rambut lurus Lily dan menyampirkan rambut Lily ke balik telinga, terlihat semburat merah di pipi Lily yang membuatnya tersenyum setelah ia menempelkan wajahnya ke dekat telinga Lily.

"aroma bunga Lily yang harum dan terasa menentramkan jiwa... sesuai namanya, Lily...".

Tae Woo menempelkan wajah Lily ke dekapannya, setelah menghirup aroma parfum Lily yang bisa ia rasakan berasal dari rambut dan bajunya, Tae Woo mencium kening Lily. Lily terbelalak namun ia memegang wajah Tae Woo dan mengecup pelupuk mata Tae Woo.

Wajah keduanya memerah, terlihat semburat merah dari pipi keduanya yang kini bertatapan, entah karena pengaruh alkohol atau suhu tubuh mereka yang meningkat, entah kenapa malam ini terasa panas. Apa ini karena pengaruh alkohol atau karena euforia yang bergejolak malam ini?

Entahlah.

Satu hal yang jelas.

Jarak wajah mereka berdua yang begitu dekat, membuat keduanya bisa melihat jelas, lentiknya bulu mata Lily dan birunya bola mata Tae Woo yang sama sepertinya. Jarak yang sangat dekat itu makin menipis hingga tak ada lagi jarak di antara wajah mereka berdua ketika bibir mereka bertemu sementara kedua lengan mereka mencengkram punggung satu sama lain.

Ciuman pertama sambil berpelukan pada malam perayaan pernikahan satu-satunya pemimpin yang ia akui dan sahabat yang ia sayangi tidak buruk, kan?

Andai Tae Woo tak mengerang kesakitan karena lukanya terasa sakit, mungkin Lily yang sadar atas apa yang terjadi barusan takkan langsung menarik diri dan memintanya beristirahat setelah ia meminta maaf dan bertanya apa ia baik-baik saja. Setelah memastikan luka di punggung Tae Woo tak terbuka, Lily meninggalkan kamar setelah mengucapkan selamat malam, begitu juga dengan Tae Woo yang mengucapkan selamat tidur.

Satu hal yang jelas, sepertinya mereka berdua akan kesulitan tidur malam ini.