Chapter 27 – Rumor
Kabar yang terbang dibawa angin dan diberitakan oleh burung belum tentu kebenarannya
.
Vengeance Arc
.
Berawal dari Zeno yang mendengar berita ini dari Kayano sehingga Kayano menceritakan apa yang ia dengar ketika pergi ke rumah dokter di hutan Timur. Kayano menceritakan pada Yona dkk bahwa ia mendengar ada sekelompok orang yang mencari keberadaan mereka dan ingin bertemu dengan berbagai maksud dan tujuan. Tentu saja, berita itu membuat istri Ouryuu yang sedang hamil enam bulan ini khawatir pada suaminya.
"tak perlu khawatir, suamimu itu dibunuh berapa kalipun takkan mati" ujar Yun mengayunkan tangan.
"nah, karena kalian semua sudah ada disini... Zeno, selain kau yang mendapat medali itu dari mendiang raja Hiryuu, apa ketiga ksatria naga yang lain juga mendapat semacam pusaka yang diberikan mendiang raja Hiryuu?" tanya Kayano saat menggenggam tangan Zeno.
"wah, aku tak terlalu ingat kejadian yang sudah lama begitu" jawab Zeno memiringkan kepala dan berpikir keras mendengar pertanyaan istrinya "seingatku... memang ada, tapi aku tak ingat apa saja yang diberikan mendiang raja Hiryuu pada Guen, Abi dan Shuten".
Zeno menceritakan bahwa itu terjadi tak lama setelah ia mendapat medali itu dari raja Hiryuu dan ia berusaha mengingat apa saja yang diberikan oleh raja Hiryuu pada ketiga ksatria naga yang lain. Kija mengiyakan pernyataan Zeno dan menjawab pertanyaan Kayano bahwa di desa Hakuryuu terdapat pusaka pemberian mendiang raja Hiryuu berupa cincin. Pada saat perhatian beralih pada Shina, Shina hanya memiringkan kepala (sebenarnya bukan salahnya dia jadi tak tahu apapun mengenai ksatria naga, seperti biasa). Untungnya, Zeno mengingat kalau Seiryuu pertama, Abi mendapatkan kalung dari raja Hiryuu meski mereka tetap tak tahu apakah benda itu masih ada atau tidak di desa Seiryuu. Dan saat mereka menatap Jae Ha... tak hanya Fuyu yang duduk di pangkuan Jae Ha, yang lain juga sedikit banyak menyadari bahwa sejak pusat pembicaraan mulai diarahkan padanya yang secara tidak langsung akan mengarah pada desa Ryokuryuu, aura di sekitar Jae Ha jadi terasa berat, ketegangan yang membuat mereka merasa tak nyaman. Fuyu mengerti perasaan itu, itu bukan kemarahan atau kebencian, tapi kesedihan.
"sebelumnya, Kayano-chan..." ujar Jae Ha mengangkat tangan dan tersenyum, berusaha agar terlihat seramah dan senyaman mungkin di mata yang lain karena ia tak ingin yang lain merasa tak nyaman (meski sudah terlambat soal itu) dan ia tak ingin menyinggung Kayano yang pasti berakhir dengan harus berurusan dengan Ouryuu Zeno "apa hubungannya pertanyaanmu soal pusaka yang dimiliki ksatria naga selain suamimu dengan kelompok yang mencari kami?".
"itu dia, ada sisa pemberontak dari suku api yang membentuk kelompok sendiri karena mereka masih beranggapan kalau mereka adalah keturunan raja Hiryuu. Jenderal Kyo Ga memasukkan mereka dalam daftar buronan. Ada kabar angin yang menarik datang dari salah satu kelompok dari beberapa kelompok yang mencari kalian" ujar Tae Woo lanjut memberitahu bahwa saat Kyo Ga berhasil menangkap kelompok itu, kelompok itu memberitahu bahwa kelompok yang mencari kelompok Yona dkk bukan hanya mereka "mereka memberitahu bahwa di antara kelompok yang mencari kalian, ada satu kelompok yang berkeliling mencari desa ksatria naga karena menginginkan benda pusaka yang diberikan mendiang raja Hiryuu pada ke-4 ksatria naga generasi pertama".
"menurut istrinya, Ouryuu mendapat medali itu dari mendiang raja Hiryuu dan medali itu selalu ada padanya, kan?" ujar Lily menunjuk Kayano sementara matanya menangkap medali naga yang tergantung di kepala Zeno "nah, masalahnya bagaimana dengan ke-3 ksatria naga yang lain? kami tak bisa mengunjungi desa ke-3 ksatria naga yang lain untuk memberitahu kabar itu atau sekedar memberikan peringatan".
"jadi tak ada pilihan lain selain menghubungi kalian dan kami menunggu kalian kemari karena katanya kalian akan kemari, menurut Mizuki" angguk Tae Woo pada Mizuki.
Kija tentu saja akan memberi peringatan pada desa Hakuryuu dengan menghubungi mata-mata dari desa Hakuryuu yang biasa menyamar sebagai pedagang untuk memberi kabar pada desa Hakuryuu agar mereka berhati-hati dan memperketat penjagaan.
Shina tak merasa desanya akan dalam bahaya karena selain desanya terletak di tempat yang tak mudah diprediksi terlebih ia merasa warga desa Seiryuu dan tetua desa Seiryuu terlalu apatis untuk menyimpan barang kuno semacam pusaka peninggalan raja Hiryuu pada naga generasi pertama sementara mereka menganggap kekuatan Seiryuu sebagai kutukan.
Jae Ha... apa perlu ditanya? Ia tak peduli jika kelompok itu memasuki desanya, mengacaukan desa Ryokuryuu tempat ia dilahirkan atau apapun kepentingan mereka, yang jelas ia tak punya niatan untuk menghubungi desa Ryokuryuu tentang kabar yang ia dengar meski hanya sekedar untuk memberikan peringatan; sama sekali. Fuyu terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun ia batalkan karena Jae Ha menarik diri dari topik utama pembicaraan saat ini dengan menyingkir dari barisan dan bersandar ke pojok ruangan disusul Fuyu.
"lalu, apa benar-benar hanya itu? aku merasa bahwa masih ada yang ingin kalian sampaikan atau malah berusaha kalian sembunyikan" ujar Yasmine melipat tangan.
Kayano terlihat ragu, daripada berusaha menyembunyikan sesuatu, ia lebih terlihat seperti tak ingin memberitahu apa yang ia pikirkan. Zeno sebagai suaminya tentu saja sudah tahu apa yang telah membuat istrinya kepikiran; ia menggenggam tangan Kayano dan berbisik apakah Zeno perlu menggantikannya bicara meski Kayano hanya menggelengkan kepala.
Sebelum pembicaraan berlanjut, Zeno menarik Kayano keluar kamar "baiklah, Kayano, kau sedang hamil 6 bulan, aku tak mau kau banyak pikiran jadi istirahatlah".
"kurasa sebaiknya kita jalan-jalan keluar?" ujar Jae Ha mengulurkan tangannya pada Fuyu dan tersenyum "berdua saja".
Fuyu mengangguk, ia merasa kalau ia perlu membujuk suaminya ini di tempat lain sekaligus menanyakan apa yang terjadi. Ia memang sudah mendengar bahwa perlakuan desa ksatria naga selain Hakuryuu yang menurutnya tak manusiawi. Tak jauh berbeda dengan apa yang ia alami di kuil Sakura merah. Setelah berhenti di tengah hutan yang ada di atas sungai, hanya mereka berdua yang ada di tempat ini.
"jika kau ingin membujukku untuk pergi ke desa Ryokuryuu seperti yang lain, lupakan saja".
Fuyu menggenggam tangan Jae Ha dan menggelengkan kepalanya "aku tak ingin kau pergi ke tempat yang hanya akan mengingatkanmu pada kenangan buruk apalagi aku tahu kalau kau hanya akan diperlakukan dengan buruk di tempat itu, tapi... aku tak ingin kau menyesal karena mengacuhkan bahaya yang mungkin akan membahayakan tempat kelahiranmu... tak peduli seburuk apapun tempat itu, biar bagaimanapun desa itu tetap tempat kau dilahirkan. Jika kau tak dilahirkan di desa itu sebagai Ryokuryuu, mungkin aku takkan bertemu denganmu dan aku bersyukur karena kau lahir dan bertemu denganku".
Jae Ha memeluk Fuyu dan tersenyum getir "apa tak pernah ada yang menyebutmu curang?".
"aku tak bilang kalau kau harus pergi kesana, kan?" ujar Fuyu tertawa kecil, memeluk Jae Ha dan tersenyum lebar sambil memegang wajah Jae Ha "aku istrimu, aku akan mengikutimu kemanapun kau membawaku, keputusa ada di tanganmu, Jae Ha".
Malam itu, Maya yang didampingi Leila dan Kayano mengajak Yona dan Hak bicara sebelum mereka pergi meninggalkan besok.
"apa maksud ibu mengatakan bahwa yang perlu kami khawatirkan saat ini selain si mata sayu adalah Yasmine?".
"cepat atau lambat, Yasmine pasti harus menghadapi takdirnya dan setelah ia menyelesaikan urusan dengan masa lalunya, ia pasti akan menceritakan apa yang terjadi dan kau akan mengerti setelah ia menceritakannya padamu, kenapa aku dan Leila tak menceritakan hal itu padamu".
Jawaban ibunya yang ambigu memang kurang memuaskan, tapi setelah Maya memberitahunya dan Yona bahwa yang bisa mereka lakukan saat ini hanya melanjutkan perjalanan mereka dan menghadapi beberapa kelompok yang mencari mereka sesuai rumor yang beredar.
Yona berencana mengunjungi desa Hakuryuu, desa Seiryuu dan desa Ryokuryuu akan menjadi tempat tujuan terakhir mereka "bicara soal kepergian kita, apa Jae Ha bersedia mengantarkan kita ke desa Ryokuryuu, ya?".
"tak perlu khawatir soal si mata sipit itu, dia bersedia mengantar kita ke lokasi desa Ryokuryuu setelah istrinya membujuknya tapi dengan satu syarat, dia tak mau datang ke desa itu jadi dia hanya akan memberitahu kita lokasi desa itu dan menunggu di dekat desa bersama istrinya".
"bicara soal suami istri... ibu, apa ayah tipe yang menurut pada istri mengingat kakak kami ini sepertinya tipe yang menurut pada istri?".
"LEILA?!" pekik Yona dan Hak.
Hanya berselang beberapa hari setelah Yona dan kelompoknya pergi dari Fuuga, rombongan An Joon Gi datang untuk menjemput Lily. Saat berpisah dengan rombongan suku angin, Lily menoleh ke sekeliling dan tak menemukan Tae Woo di antara rombongan pengantar kepergian Lily. Lily tak heran mengingat kondisi Tae Woo tak begitu baik tadi pagi, meski ia berusaha maklum, tak mengubah kenyataan kalau ia merasa sedikit kecewa karena ia tak bisa bertemu Tae Woo sebelum ia kembali. Tae Yeon menyadarkannya dari lamunannya, saat malaikat kecil itu memegang roknya dan membisiki sesuatu padanya, Lily malah bergegas kembali menuju mansion klan suku angin.
"Lily, mau kemana? Kita sudah mau berangkat?!".
"ada yang ketinggalan, ayahanda?! Aku akan segera kembali!?".
Han Dae, Ayame, Saki dan Nobu langsung tersenyum lebar ala kuda, siasat mereka membuat Lily dan Tae Woo bertemu sebelum Lily kembali dengan menggunakan si malaikat kecil Tae Yeon berhasil.
Lily masuk ke kamar Tae Woo dengan tergesa-gesa karena mendengar dari Tae Yeon bahwa ada yang ingin dibicarakan Tae Woo padanya namun saat Tae Woo menyangkalnya, Lily baru menyadari kalau ini pasti akal-akalan anak-anak suku angin lagi meski ada satu hal yang Lily syukuri, ia bisa bertemu dengan Tae Woo tanpa rasa canggung di antara mereka berdua kali ini.
Hanya satu hal yang diminta oleh Lily sebelum ia pergi "tak ada yang akan cerewet padamu sepertiku setelah aku pergi, jadi jaga dirimu baik-baik".
"kenapa kesannya seperti kita takkan bertemu lagi? kau bisa datang kemari kapanpun kau mau, sebab akan lebih ramai saat kau datang berkunjung kemari" sahut Tae Woo tersenyum melihat Lily tersenyum sebelum pergi.
Seulas senyuman yang indah dan semburat merah terlihat di wajah Lily saat ia pergi, An Joon Gi tentu menyadari ini meski yang lebih ia pikirkan adalah segelintir kabar angin yang ia dengar di Fuuga selama menunggu Lily barusan.
