Chapter 30 – Forgotten Birthday

Hari kelahiran kita ke dunia seharusnya menjadi hari yang indah namun kenangan yang menyakitkan itu membuatnya ingin melupakannya


.

Vengeance Arc

.

~ Kuuto, kastil Hiryuu ~

.

Memasuki bulan Juni, pada musim hujan yang merupakan berkah bagi lahan pertanian adalah karunia bagi sebagian orang, sebab ada juga yang tidak beranggapan demikian.

Lily menempelkan kepalanya ke meja sambil melirik keluar jendela "ah... hujan lagi...".

Ayura ikut menatap keluar jendela "jika ini di wilayah suku air, mungkin sudah banjir".

"tapi tak terasa hampir setahun sejak anda menangani isu Nadai, nona Lily".

Benar, itulah yang menjadi alasan kenapa ia datang ke kastil Hiryuu kali ini. Mendengar ucapan Tetora, Lily teringat saat ia pertama kali bertemu dengan Yona dan teman-temannya tahun lalu saat ia mulai menangani isu Nadai. Banyak hal yang terjadi sejak saat itu, sangat banyak bahkan ia tak lagi sama dengan yang dulu, dan Lily bersyukur atas semua perubahan itu. Persahabatan yang ia jalin bersama Yona dan teman-temannya serta dengan Tae Woo dan warga suku angin adalah sesuatu yang sangat ia syukuri seumur hidupnya.

Sekelebat pikiran lain timbul begitu nama Tae Woo terlintas di kepalanya.

Ia ingin tahu, sebenarnya Tae Woo menganggapnya sebagai apa?

Terakhir kali ia bertemu dengan Tae Woo adalah saat ia berpisah dengannya di Fuuga setelah ayahnya menjemputnya pasca ekspedisi mereka ke Kekaisaran Kai Selatan. Sejak kembali dari Fuuga, ia sempat beberapa kali ikut dengan Joon Gi dalam rapat kelima suku, tapi perwakilan dari suku angin diganti oleh Mundok karena kondisi Tae Woo masih belum pulih. Sudah lewat 4 bulan sejak apa yang terjadi malam itu, saat Tae Woo melindunginya dengan tubuhnya dan sekarat, nyawanya menjadi taruhannya, demi melindunginya.

Apa yang terjadi malam itu telah mengubahnya; membuatnya memiliki sesuatu yang harus ia capai demi melindungi orang yang ia sayangi dan orang yang ingin ia lindungi, menggerakkan tekadnya bahkan mungkin... hatinya.

Namun sekarang ia merasa ragu, terlebih jika mengingat apa yang terjadi malam itu. Meskipun mereka berdua sama-sama mabuk malam itu, apa yang terjadi malam itu bukanlah sesuatu yang seharusnya ia lakukan bersama Tae Woo sebagai sesama sahabat. Ia merasa gunda, sebenarnya apa yang dipikirkan jenderal muda dari suku angin itu tentangnya?

"oh, akhirnya kali ini jenderal Tae Woo yang datang dalam rapat kelima suku".

Mendengar ucapan Ayura, Lily segera beranjak dari tempat duduknya dengan mata terbelalak sebelum ia berlari keluar. Di belokan salah satu lorong, setelah ia menemukan Tae Woo berdiri sambil bercakap-cakap dengan seseorang.

Lily berlari menghampiri Tae Woo dengan wajah tersenyum lebar "Tae Woo~".

Tae Woo tersenyum lebar saat ekor matanya menangkap sosok Lily dan mengangkat sebelah tangannya "merindukanku, Lily?".

"kau benar sekali!?", Lily mengayunkan serangan mendadak, melayangkan beberapa pukulan dan tendangannya yang bisa dihindari Tae Woo dengan mudah.

Ketika Lily kehilangan keseimbangan pasca melancarkan tendangan pada Tae Woo, Tae Woo yang menyadari tubuh Lily akan menghantam lantai cukup keras segera menangkap tubuhnya dengan melingkarkan lengan kanannya ke pinggang Lily sementara tangan kirinya memegang pergelangan tangan Lily. Jarak wajah mereka berdua yang sangat dekat saat ini mengingatkan Lily pada apa yang terjadi malam itu sehingga wajah Lily memerah.

"dengan ini, 10 banding 0... kau kalah lagi...", Tae Woo membantu Lily berdiri tegap sebelum ia melepaskan genggaman tangannya dari Lily dan menggaruk lehernya "sudahlah, menyerah saja, nona Lily".

Lily menggembungkan pipinya dan mengepalkan kedua tangannya "itu karena kau sama sekali tak memberiku kelonggaran?! Dasar curang?!".

Tae Woo terkekeh sambil melipat tangan "segalanya adil dalam peperangan dan cinta".

Geun Tae yang sempat melihat apa yang terjadi barusan bersiul "wow, ada apa ini? reuni antar sepasang kekasih?".

"dimataku, mereka justru baru saja berkelahi atau berkompetisi dalam suatu hal" sahut Kyo Ga yang kembali heran dengan Geun Tae, kenapa jenderal suku Bumi ini selalu berpikir ke arah sana?

Tae Woo dan Lily mengayunkan tangan, menyangkal ucapan Geun Tae sebelum Tae Woo dan Lily menjelaskan kesepakatan yang mereka buat saat mereka surat menyurat dimana Lily dan Tae Woo bertaruh jika sekali saja Lily berhasil mengalahkan Tae Woo dalam sparring, maka Tae Woo bersedia mengabulkan keinginan Lily, apapun itu.

"tapi sejak kapan kalian berdua saling berkirim surat?" tanya Joon Gi yang muncul di belakang Lily tiba-tiba.

"kutitipkan pada tetua Mundok" ujar Lily yang bergeser satu langkah ke samping setelah ia menoleh ke belakang "ayahanda!? Membuatku terkejut saja?!".

"jika sekali saja nona Lily menjatuhkanmu dalam sparring, maka kau akan mengabulkan satu keinginannya lalu apa keuntungannya bagimu?".

Tae Woo menyeringai dan berjalan menjauh "rahasia...".

Lama mereka berdua tak bertemu, tentu saja keduanya menghabiskan waktu bersama setelah rapat kelima suku selesai sambil berusaha untuk tak memedulikan pandangan mata yang terus mengawasi mereka berdua dari kejauhan.

"oh iya, bagaimana kondisi Kayano? usia kandungannya bulan ini sudah memasuki 8 bulan, kan? ".

"ah, mengenai hal itu..." ujar Tae Woo mengayunkan tangannya sehingga Lily mendekatkan telinganya.

Pandangan mata yang mengawasi mereka seketika berubah menjadi makin terasa tajam (Joon Gi) atau penasaran (Geun Tae) sebelum akhirnya Lily berteriak.

"APA!? SUDAH LAHIR!?".

Tae Woo menutup mulut Lily dan menempelkan jari telunjuknya "sst...".

"siapa yang sudah lahir?" tanya Joon Gi keluar dari persembunyiannya.

Tanpa menjawab pertanyaan Joon Gi, Lily menyeret Tae Woo setelah pamit pada mereka dan meminta Ayura dan Tetora untuk mengemas barang mereka secepatnya "ayahanda, pulanglah duluan?! aku pergi ke Fuuga sebentar bersama jenderal Tae Woo untuk mengunjungi temanku disana yang baru saja melahirkan?!".

Tae Woo terkejut saat Lily menarik kerah bajunya "eh?!".

"keberatan?".

"tidak, tapi...".

"kalau begitu, tunggu apalagi? ayo kita pergi?!" sahut Lily kembali menyeretnya.

Geun Tae tertawa melihat keakraban Lily dan Tae Woo "nona Lily sekarang energik sekali".

"sepertinya hanya menunggu waktu sampai putriku diambil..." gerutu Joon Gi menempelkan kepalanya ke dinding.


Beberapa hari yang lalu...

Yona dkk yang baru keluar dari gua tempat mereka berteduh setelah menunggu selama hampir semalaman pasca hujan deras semalam dikejutkan oleh Kyouka yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.

"celaka!? cepat ke Fuuga sekarang?! Zeno yang paling pertama, ya?" ujar Kyouka panik.

Yun memegang kedua bahu Kyouka "tunggu, Kyouka, kenapa panik begitu? tenang dulu".

Kyouka mengayunkan kedua tangannya "bagaimana aku bisa tenang, Yun?! Kayano baru saja kontraksi?! bayinya sudah mau lahir?!".

"EH?!".


.

~ Fuuga ~

.

Sesampainya di Fuuga, Zeno yang biasanya paling ceria di antara para saudara naganya terlihat tegang sambil mondar-mandir, berputar-putar di tempatnya sampai Leila mengomentari bahwa ia akan membuat lubang jika terus berputar-putar begitu.

Terdengar dengan jelas teriakan Kayano dari dalam "AKH?! SAKIT!?".

"bertahanlah?! Terus dorong?!" teriak Maya yang membantu persalinan.

"Sedikit lagi?! kau pasti bisa?!" tambah Mizuki.

"huhuhu... SAKIT?!" pekik Kayano.

"kakak?! Kayano pingsan?! Bagaimana ini?!" pekik Kyouka setengah menangis.

"cepat bangunkan dia?!" jawab Mizuki.

"kepalanya sudah keluar?!" sahut Mulan.

"tarik tubuhnya keluar pelan-pelan kalau kepalanya keluar?!" sahut Maya.

"entah kenapa perutku mulas..." gumam Kija memegangi perutnya.

"minum obat maag sana" sahut Yasmine menyodorkan obat maagnya.

Setelah pergulatan teriakan, tangisan dan kecemasan yang mengudara di kediaman Mundok di mansion klan suku angin, Fuuga, akhirnya persalinan yang berlangsung sejak siang hari tadi berakhir pada malam hari. Begitu para wanita yang membantu persalinan keluar, yang pertama kali ditanyakan oleh Zeno adalah bagaimana kondisi Kayano dan anak yang ia lahirkan.

Maya tersenyum, ini yang kesekian kalinya ia menyaksikan kelahiran nyawa baru di dunia ini termasuk ketiga anaknya "tenang saja, istrimu baik-baik saja, ia hanya kelelahan dan anakmu lahir dengan selamat".

Kyouka yang sempat menangis muncul dari belakang Maya "kak Mizuki mengawasi kondisi Kayano, ia memang sempat pingsan tapi tak apa".

Setelah Maya memberitahunya bahwa Mulan dan Yun selesai memandikan anak mereka, Zeno bergegas masuk dan menemui Kayano yang membaringkan anak mereka di atas tubuhnya.

Bayi perempuan.

Zeno dan Kayano tersenyum, keduanya tertawa lebar, meneteskan air mata saking bahagianya. Mereka berdua akan memikirkan nama untuknya namun sekarang yang ingin mereka berdua lakukan adalah tidur bersama sambil menggenggam jari tangan nyawa yang baru lahir ini.

Akhirnya kericuhan hari itu berakhir dengan tenang namun saat mereka hendak pergi tidur, ada seseorang yang menjerit, Leila teringat satu hal "ah!? bicara tentang musim hujan di bulan Juni, bukannya bulan ini...".

.

Saat Lily datang berkunjung ke Fuuga, ia datang bersama Tae Woo dan bertemu dengan Yona dkk sesuai harapannya. Tentu saja ia sangat senang bisa bertemu dengan Yona dan yang lain, tapi bukan berarti ia melupakan tujuan utamanya datang kemari. Saat Tae Woo mengajaknya ke kamar Kayano, mereka melihat kelompok Happy Hungry Bunch bersama keluarga Hak dan beberapa warga suku angin berkunjung, memberi selamat atas lahirnya anggota keluarga yang baru.

Bayi molek yang digendong Kayano begitu manis seperti Kayano, tapi meski rambutnya lurus seperti Kayano, warna rambut yang pirang dan warna mata birunya sama seperti Zeno. Kayano tersenyum dan menoleh ke arah Zeno saat Lily menanyakan nama anak itu. Zeno tersenyum dan mengangguk sebelum memberitahu nama anak itu.

"Sorano...".

Mendengar jawaban Zeno, Lily tersenyum sambil mengelus kepala Sorano, putri mereka yang masih bayi merah "nama yang bagus".

Lily menyadari ada kesibukan lain di luar sehingga ia bertanya pada Tae Woo yang menjawab bahwa itu untuk acara yang akan datang.


Keesokan harinya...

"kejutan!?".

Yang lain memberi selamat pada ulang tahun yang ke-18 tahun pada Yasmine.

Yasmine terbelalak "...eh?".

"masa kau lupa? Ini hari ulang tahunmu yang ke-18 tahun, kan?" ujar Yona menggandengnya.

"hari ini..." ujar Yasmine menutupi tatto kupu-kupu Ageha yang ada di sekitar mata kirinya "aku lupa...".

Untuk beberapa saat otaknya memproses kenapa yang lain bisa tahu soal hari ulang tahunnya sementara ia sama sekali tak pernah membicarakannya sampai ia melihat ekspresi wajah dan sorot mata Leila yang membuatnya sadar bahwa ini ulah Leila.

"kakak!?".

Yasmine terlihat bersiap mengomeli Leila, namun Leila lebih dulu memeluknya dan berbisik dengan lembut.

"maaf, aku tahu kau tak suka jika ulang tahunmu dirayakan, tapi aku ingin kau tahu... masih ada kami, kami menyayangimu dan bersyukur bisa bertemu denganmu... karena itu, izinkan kami berterima kasih atas kelahiranmu dan merayakan hari ulang tahunmu bersama tahun ini, sebagai keluargamu... ya?".

Mendengar ucapan Leila, Yasmine memeluknya erat dan menangis sambil menyembunyikan wajahnya ke pelukan Leila "apa yang terjadi pada hari itu takkan bisa kulupakan, saat aku tak bisa melindungi mereka dan harus kehilangan orang-orang yang kusayangi... bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri jika aku bahkan tak tahu bagaimana cara menebusnya? Apa ini berarti bahwa aku tak diizinkan melupakan apa yang terjadi?".

Hak menyadari, air mata yang tumpah dari mata adiknya bukanlah air mata bahagia karena ia diberi kejutan seperti ini namun Maya memegang lengannya dan menggelengkan kepalanya, menatapnya dengan sorot mata seolah memintanya untuk tak bertanya tentang apa yang tengah dirasakan adiknya kali ini saja sehingga Hak menutup mulutnya, tanpa ia sadari kalau Kija juga bisa melihat apa yang dirasakan Hak, Kija merasakan kesedihan yang sama dengan yang biasa ia rasakan dari Yasmine yang mungkin berhubungan dengan masa lalu Yasmine, tanpa mereka sadari kalau mereka akan segera mengetahuinya.