Chapter 31 – Third Season
Musim gugur, musim ketiga setiap tahunnya dimana dedaunan dan bunga berguguran, langit berwarna kemerahan bagaikan darah, membuat memori berdarah yang terkubur kembali terngiang
.
Vengeance Arc
.
Musim kembali berganti, setelah kehebohan yang sempat terjadi karena kelahiran Sorano, putri kandung Ouryuu Zeno dan reinkarnasi istrinya Kaya di masa lalu yang kini terlahir kembali dengan nama Kayano dan sekali lagi menjadi istrinya. Yona dan yang lain tersenyum, mereka ikut bahagia melihat kebahagiaan Zeno dan Kayano, mereka menganggap cinta mereka berdua sebagai cinta sejati jika ada orang yang bertanya pada mereka tentang arti cinta sejati.
Yasmine tersenyum, ia ingat sekali saat Kayano yang masih menjadi dayang yang ditugaskan mengasuhnya sejak ia masih berada di kerajaan Gujarat, sesekali Kayano memandangi langit dengan sorot mata seolah merindukan seseorang. Setelah ia meninggalkan istana dan hidup di luar istana dengan mengelilingi kerajaan Gujarat, tanpa sengaja ia bertemu dengan Kayano saat ia tengah sekarat di musim dingin, sebelum ia bertemu Bihan terakhir kali dengan kondisinya saat itu yang tak heran membuat Bihan mengira Yasmine sudah tiada.
Bicara tentang Bihan, sejak awal musim dingin lalu, tak ada kabar sama sekali dari kerajaan Gujarat mengenai pencarian mereka sedangkan sekarang sudah memasuki awal musim gugur, bisa terlihat dari warna dedaunan hijau yang berubah warna menjadi orange kemerahan serta bunga-bunga yang mulai berguguran.
Kija melirik ke arah Yasmine, ia penasaran apa yang sebenarnya dipikirkan adik rekannya itu sejak melihat air matanya saat hari ulang tahunnya yang ke-18 tahun. Ia ingin tahu kebenaran apa yang sebenarnya tersimpan di balik ketenangan dan kesedihan yang sesekali terpantul dari bola mata berbentuk mata kucing berwarna hijau itu. Ia mengakui kalau mata heterochroma (mata beda warna) yang dimiliki Yasmine sangatlah unik, dimana mata kanannya berwarna hijau muda rerumputan dan mata kirinya berwarna hijau permata Jade, tatto kupu-kupu Ageha di sekitar mata kirinya bahkan menambah keindahan matanya.
Kija menggelengkan kepalanya, apa yang ia pikirkan? Yasmine adalah adik Hak, wajar jika ia memiliki kecantikan yang memikat terlepas dari warna rambutnya yang seputih salju dan bola mata yang unik tapi Yasmine ikut dengan mereka karena ada kedua kakaknya. Tiba-tiba, tak lama setelah pandangan mata mereka berdua bertemu untuk sesaat, Yasmine berdiri, apa gadis itu menyadari kalau ia menatapnya sejak tadi?
Yasmine menoleh ke arah Hak "kak, hanya tinggal menunggu makan siang kita selesai dimasak oleh Yun dan kak Leila, kan? aku jalan sebentar ya, mau cari penutup mulut".
Hak mengangguk "jangan pergi jauh-jauh".
"hati-hati, kembalilah saat makan siang, ya" tambah Yona.
"oke, iparku sayang~", Yasmine tersenyum usil dan melambaikan tangan saat Yona berteriak padanya akibat nama panggilan yang ia tujukan padanya barusan, keusilannya benar-benar ada di atas Hak.
.
Yasmine merasa mata kirinya berdenyut sejak tadi sehingga ia berjalan menjauh dari yang lain. Setelah berjalan agak jauh dari perkemahan, Yasmine menghentikan langkah kakinya saat ia berada di tepi ladang bunga. Kini yang ada di hadapan Yasmine adalah hamparan padang bunga Higanbana yang mewarnai ladang bunga dengan warna merah. Pupil kedua matanya melebar saat apa yang ia saksikan saat ini mengingatkannya pada apa yang terjadi di masa lalu.
"tak terasa, sudah lewat setahun sejak saat itu, ya?".
Flashback...
Khali berjalan melewati Yasmine dan memunggungi Yasmine sambil menatap padang bunga Higanbana yang berwarna merah pertanda musim gugur tiba "apa kau tahu? nama Higanbana secara harfiah ditulis dengan kanji yang berarti berarti bunga higan, bunga yang mekar di pinggir Sungai San Tzu, dengan kata lain bunga kematian... arti nama bunga Higanbana sendiri adalah "Tidak akan pernah bertemu kembali", "kenangan yang terlupakan", "ditinggalkan"... semuanya memiliki arti terkait dengan kehilangan, kerinduan, penelantaran dan kenangan yang hilang... bahkan ada legenda yang mengatakan, apabila kau bertemu dengan seseorang yang nantinya tidak akan pernah kalian temui lagi, Higanbana akan berbunga di sepanjang jalan...".
Sesaat, Yasmine merasa kalau sosok Khali seperti akan menghilang, sehingga Yasmine berlari dan memeluknya dari belakang "Khali!?".
Khali memegangi telapak tangan Yasmine, menoleh ke belakang dengan heran "...ada apa?".
"sesaat... aku merasa kau akan menghilang..." ujar Yasmine dengan suara gemetar, mendongak ke arahnya "jangan menghilang... kau takkan seenaknya pergi meninggalkanku, kan?".
"tidak akan..." ujar Khali mencium pelupuk mata Yasmine dan mengelus-elus kepala Yasmine "tenang saja... aku takkan pergi kemana-mana... aku akan selalu ada di dekatmu...".
Yasmine tersenyum dan memegang kedua pipinya, Khali menatapnya lekat sambil memegang wajahnya sebelum ia memegang dagu Yasmine dan mengecup bibirnya lembut saat Yasmine menutup matanya perlahan.
Flashback End...
Pemandangan yang sama kini terhampar di depan matanya, apa yang ia saksikan seorang diri kini membuatnya mengerutkan keningnya dan bergumam "dasar pembohong...".
"konon jika kau bertemu seseorang saat bunga Higanbana mekar di sepanjang jalan berarti kau baru saja bertemu seseorang yang nantinya tidak akan pernah kau temui lagi... dengan kata lain, orang itu akan segera mati, putri Yasmine..." ujar pria berambut coklat cepak bermata hitam muncul di belakang Yasmine, kedua tangannya berada pada posisi siap menutupi kedua mata Yasmine.
Tanpa menoleh ke belakang, Yasmine menghunuskan belati yang tersarung di pinggulnya dan mengarahkannya pada Karma, darah muncrat dari leher Karma yang terkena tebasan belati itu, menetes ke padang bunga Higanbana yang berada di bawah kaki mereka.
Karma menyeringai melihat darah dari lehernya yang tertempel di tangannya "sambutan yang kasar sekali, putri Yasmine... begitu sambutanmu pada kekasihmu?".
Yasmine mengerutkan keningnya dan menatap tajam Karma, hawa membunuhnya meningkat tajam, amarah dan kebenciannya membuncah keluar dari sekujur tubuhnya, sekarang ia sangat ingin membunuh pria yang ada di hadapannya ini dan ia membenci fakta bahwa pria itu sempat menjadi kekasihnya.
"mantan kekasih... hubungan kita sudah berakhir sejak kau bantai setengah dari adik-adikku di depan mataku...".
Karma terkekeh, ia sudah memperkirakan reaksi Yasmine yang keras padanya.
"dinginnya, padahal aku sengaja datang karena aku merindukanmu".
Yasmine terkekeh, menyeringai dan mengacungkan belati ke depan "aku juga merindukanmu... aku ingin bertemu denganmu lagi... agar aku bisa membunuhmu, Karma...".
"putri Yasmine!? hentikan!?".
Yasmine terbelalak saat menoleh ke belakang dan melihat Kija melingkarkan tangan kirinya melewati pinggulnya sementara Kija mengarahkan cakar naganya ke depan, membuat Karma yang berlari ke arah Yasmine terpental sejauh beberapa meter.
"pergilah dan jangan pernah lagi kau temui putri Yasmine... atau aku akan membunuhmu, tak peduli meski dulu kau sahabatku... Karma...".
"Bihan...", Karma berdiri sambil menyeka darah di ujung bibirnya, menyeringai saat ia melihat rombongan Yona dkk tiba di tempat itu tak lama kemudian, membentengi Yasmine sehingga Karma berdecak pinggang dan menghela napas "sayang sekali, tampaknya urusan kita harus ditunda sementara waktu karena gangguan yang kita dapatkan, putri Yasmine... tapi aku pasti akan menemuimu lagi, dan saat itu... kita selesaikan urusan kita saat tak ada gangguan sama sekali".
"lepaskan aku, Kija?!" protes Yasmine yang berontak dari cengkraman Kija saat Karma pergi dari tempat itu "jangan lari, Karma?!".
Hak meminta Kija melepaskan Yasmine sehingga saat Kija melepaskannya, Hak memeluknya erat "aku tak tahu apa yang terjadi, tapi tenanglah... ini tak sepertimu...".
Mendengar detak jantung Hak yang memeluknya memang membuatnya tenang. Setelah Hak menepuk-nepuk kepalanya, Yasmine mendelik pada Kija "kenapa kau menghentikanku? Dan sejak kapan kau...".
"maaf, aku merasa ada yang tak beres sehingga aku dan Jae Ha mengikutimu... lalu setelah kau mengarahkan belatimu pada pria itu, aku bergegas menghampiri anda sementara Jae Ha pergi ke perkemahan untuk memanggil bantuan".
"berarti kau sudah dengar percakapanku dengannya barusan, kan?", Yasmine melangkah maju sambil menatapnya tajam.
Kija merinding melihat sorot mata Yasmine, menganggukkan kepala.
"dan kau masih menghentikanku?".
"itu...".
Belum sempat Kija menjawabnya, Yasmine menamparnya, se-ku-at te-na-ga, sampai yang lain dibuat bengong sebelum Yasmine mengerutkan kening, mencengkram kerah baju Kija setelah ia menamparnya "bukankah sudah kubilang... jangan memanggilku dengan embel-embel 'tuan putri', Hakuryuu Kija".
Melihat sorot mata dan ekspresi Yasmine, lagi-lagi Kija merasa seolah Yasmine siap menangis kapan saja dan ini membuatnya merasa bersalah sehingga ia memeluk Yasmine dan membuat mereka yang melihatnya terkejut. Tak hanya Yona, Hak dan yang lain, bahkan Yasmine sama sekali tak mengira Kija akan memeluknya karena setahunya dia bukan tipe orang seperti itu.
"maafkan aku... tapi alasan kenapa aku menghentikanmu... karena aku merasa bahwa kau akan hancur setelah kau melakukan sesuatu yang tak bisa kau tarik kembali, nona Yasmine...".
Yasmine memeluknya balik "bodoh...".
.
Pasca makan siang Bihan menjelaskan bahwa setelah mengantar kembali kurir yang ditugaskan ratu Tara dari kerajaan Gujarat kembali ke kerajaan Gujarat, ia menyebar anggota kelompoknya untuk mencari tahu keberadaan Karma di kerajaan Kouka sebab ia tak bisa kembali ke kerajaan Gujarat sebelum menyelesaikan misinya yaitu membunuh Karma, itu perintah langsung dari Tara sebagai ratu kerajaan Gujarat saat ini.
"beliau telah memberi perintah eksekusi untuk Karma atas tuduhan pembunuhan terhadap ke-3 orang putri kerajaan Gujarat".
"lalu bagaimana dengan perlindungan terhadap Tara, Nagine dan Nadine?" tanya Yasmine, ia memang bukan kakak kandung mereka tapi biar bagaimanapun ia masih menganggap mereka bertiga sebagai adiknya.
"tuan Veer, pria yang sempat ingin ditunangkan dengan anda itu yang menjaganya, begitu ratu Tara genap berusia 16 tahun pada pertengahan musim semi tahun depan, mereka berdua akan menikah".
Yasmine tersenyum dan menghela napas lega "oh, begitu? syukurlah... aku percaya Veer pasti bisa menjaga adikku".
"kau tak bisa menyembunyikannya terus menerus dari kami, jadi jelaskan apa yang sebenarnya terjadi...", Hak berdiri dan duduk di depannya sambil menggenggam kedua tangan Yasmine "kami tak pernah bertanya padamu selama ini karena kami merasa itu bukan sesuatu yang bisa kau ceritakan pada orang lain dengan mudah... tapi paling tidak, beri kami penjelasan tentang siapa pria barusan".
Melihat tatapan mata Hak, Yasmine menutup mata dan mengerutkan kening, mengerti betul ia harus menjelaskan hal yang ia tutupi selama ini pada mereka, sekarang. Yasmine mengeluarkan 3 buah foto dari sakunya dan memperlihatkan foto itu pada Hak dan yang lain, 2 dari 3 foto itu diambil beberapa hari sebelum ia akan berusia 16 tahun sedangkan foto terakhir diambil saat ia berusia 17 tahun.
Pada foto pertama, terlihat foto 7 orang anak perempuan yang tak lain adalah foto ke-7 putri kerajaan Gujarat, salah satunya adalah Yasmine yang warna rambutnya beda dengan sekarang, warna rambutnya yang saat ini berwarna seputih salju, terlihat berwarna merah bunga Tsubaki dalam foto itu bahkan warna matanya berbeda, bola mata berbentuk mata kucing itu warna matanya sama, sama-sama berwarna hijau muda rerumputan sehingga mereka sempat menoleh ke arah Yasmine, apa ini benar-benar Yasmine?
Yasmine tersenyum simpul, mengerti betul apa yang dipikirkan oleh kakak laki-laki dan teman-temannya dan menjelaskan bahwa warna rambutnya jadi putih semua seperti sekarang akibat shock dari rasa sakit yang ia terima sebelum ia sekarat dan sempat koma, dan sebelah matanya bukan mata miliknya. Demi melindungi Tara, Yasmine mendapat luka tebasan melintasi mata kirinya.
"serangan Karma membutakan mata kiriku, seharusnya mata kiriku ini sudah tak bisa melihat lagi tapi seorang 'daun' yang membawaku lari dari istana melakukan transplantasi pada mata kiriku, menggunakan mata kiri salah satu adikku yang mati terbunuh di tangan Karma" ujar Yasmine menutupi mata kirinya dan tersenyum sendu "ini mata milik mendiang Tatiana... pria itu menanamkan mata Tatiana padaku saat aku tak sadarkan diri akibat koma dan menorehkan tatto kupu-kupu ini untuk menutupi bekas luka yang melintasi mata kiriku, bersama roh Tatiana yang melebur dengan Youkai kupu-kupu ilusi dari pihak kegelapan yang merasukiku".
Mereka kembali melihat foto kedua dimana Yasmine yang warna rambutnya masih berwarna merah bunga Tsubaki dan kedua matanya masih sama warnanya terpotret bersama tiga orang laki-laki yaitu pria berambut hitam lurus bermata hijau yang paling tinggi berdiri di belakang Yassmine; tak lain adalah Bihan, pria berambut coklat cepak bermata hitam yang mirip sekali dengan Darius berdiri di samping kanan Yasmine; tak lain adalah Karma, tapi yang membuat mereka terkejut adalah pria berambut hitam bermata biru Azure Sky yang berdiri di samping kiri Yasmine.
Dengan model rambut hitam lurus yang berantakan terutama poni depannya yang mirip dengan Hak, bentuk mata biru Azure Sky dan kulit putih pucat yang mirip dengan Kija, mereka seperti melihat wajah Kija yang dipadukan dengan warna rambut Hak. Dari auranya yang terasa gelap, ia lebih seperti Hak tapi wajah dan perawakannya (kecuali ototnya yang mirip Hak) persis Kija.
"sebelum kalian bertanya siapa pria itu, lebih baik kalian lihat dulu foto terakhir".
Kedua foto tadi memang mengejutkan tapi foto terakhir yang dimaksud Yasmine adalah yang paling mengejutkan. Terlihat Yasmine memakai gaun cheongsam berwarna kuning keemasan dengan bordir bunga berwarna kuning gading dan pria yang mirip dengan Kija itu memeluknya dengan melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Yasmine. Dengan warna rambut putih lurus itu, ia benar-benar mirip dengan Kija.
"pria itu Khali... mendiang tunanganku...".
Yasmine menjelaskan bahwa sesuai adat yang berlaku di kerajaan Xing, giwang pertunangan biasanya dibuat dari bebatuan alam yang dicampur dengan perak sedangkan giwang pernikahan dibuat dari bebatuan alam yang dicampur dengan emas. Yasmine menyampirkan rambutnya ke belakang telinga sehingga terlihat jelas giwang yang disematkan di kedua telinga Yasmine yaitu sepasang giwang berbentuk gigi taring yang dibuat dari batu bulan dan disambung dengan ornamen besi pengait telinga dari perak. Itu adalah giwang pertunangan, bukti pertunangannya dengan Khali.
"aku bertunangan dengan Khali tahun lalu, pada hari ulang tahunku di musim panas saat aku berusia 17 tahun... tapi pertunangan kami tak berlangsung lama, sebab hanya 2 bulan setelah kami berdua bertunangan, Khali meninggal... tampaknya kutukan dimana pria yang kami cintai akan mati mendahului kami atau cinta pertama kami takkan terwujud memang berlaku pada kami yang terlahir sebagai 'bunga' memang benar...".
Mendengar Yasmine berkata begitu sambil tertawa mengejek seolah menertawakan diri sendiri membuat Hak tak tahu harus berkata apa sementara Yona langsung memeluknya erat, membuat Yasmine merasa bingung.
"apa hubungannya... orang-orang yang ada di foto-foto yang kau tunjukkan dengan penjelasan atas siapa Karma sebenarnya?" tanya Yona memegang bahu Yasmine.
Yasmine memberitahu bahwa kecuali Bihan, Karma dan Khali adalah prajurit kerajaan Gujarat yang ditugaskan untuk menjaganya sebagai pengawalnya. Karma mengakui Yasmine sebagai calon ratu kerajaan Gujarat yang paling pantas mendapatkan tahta kerajaan Gujarat namun saat ia mengetahui kalau Yasmine bukan anak kandung Azurite dan Setia melainkan keponakannya yang mereka angkat, untuk memastikan posisi Yasmine sebagai satu-satunya putri yang akan mewarisi tahta kerajaan Gujarat, Karma membunuh putri kerajaan Gujarat selain Yasmine.
"ia berhasil menghabisi setengah dari jumlah adikku yang ada, tak cukup dengan membunuh 3 orang dari 6 orang adikku, Karma masih berniat membunuh ketiga adikku yang tersisa agar aku bersedia dan tidak punya pilihan selain meneruskan tahta kerajaan Gujarat" ujar Yasmine berdiri, memalingkan wajahnya menatap langit yang berwarna orange kemerahan saat matahari sore mulai terbenam sambil mengerutkan keningnya dan mengepalkan kedua tangannya "aku takkan pernah mengikuti kemauannya, aku takkan menjadi seperti apa yang ia inginkan, karena itu... sebelum dia membunuh ketiga adikku yang tersisa, hanya ada satu penyelesaian bagiku, membawanya keluar istana dan membunuhnya, sebelum ia berhasil membunuh ketiga adikku yang tersisa... dan ini hanya akan selesai jika salah satu di antara kami berdua mati... aku atau Karma...".
Bihan berdiri menghadapi Yasmine "jika Khali ada disini, pasti dia yang akan melakukannya tapi sekarang dia tak ada disini untuk mencegahmu...".
Yasmine mengerutkan kening "apa yang ingin kau katakan?".
"biarkan saya yang melakukannya untuk anda, putri Yasmine...".
Yasmine berdiri dan menghela napas "ini harus kuselesaikan dengan tanganku sendiri... meski harus kubayar dengan nyawaku...".
"kalau begitu, hentikanlah".
Yasmine mencengkram kerah baju Bihan, mendorong Bihan yang punggungnya menghantam pohon dan menatapnya tajam "bagaimana mungkin kau bisa memintaku menghentikan semua ini dan tak membunuhnya? membunuh pria yang telah membantai ke-3 adikku dan hampir membunuh adikku di depan mataku, bahkan membakar tubuh mendiang tunanganku di depan mataku!?".
Bihan melompat ke belakang Yasmine sambil merebut syal yang biasa melilit lehernya, meski Yasmine berusaha menutupinya, bekas luka di lehernya terlalu besar untuk ia sembunyikan.
Melihat bekas luka di leher Yasmine. Bihan menggenggam erat syal milik Yasmine "saya bisa mengerti jika anda melakukan ini semua demi adik-adik anda tapi saya takkan mengerti kenapa anda bisa memaafkan dan melakukan ini demi mendiang tunangan anda? mendiang tunangan anda hampir membunuh anda dan meninggalkan bekas luka itu di leher anda!?".
Yasmine menutupi bekas luka di lehernya "kau mempermasalahkan 'ini' sekarang?".
"tentu saja, apa bedanya dia dengan Karma yang akhirnya malah melukai anda!?".
"jangan samakan Khali dengan psikopat itu?! Apa yang terjadi hari itu terjadi di luar kehendak Khali?!".
Tak mau kalah, Bihan tetap melanjutkan argumentasinya "benar, saya tak meragukan ikatan yang kalian berdua miliki tapi saya tetap tak bisa memaafkan Khali yang telah berjanji untuk melindungi anda tapi malah melukai anda, tak peduli sebesar apapun anda mencintainya tetap tak mengubah kenyataan kalau dia hampir membunuh anda karena lepas kontrol!?".
Dan Yasmine memilih bertahan kali ini "Bihan, aku takkan membiarkan nyawaku direbut oleh siapapun termasuk oleh Khali sebelum aku menyelesaikan urusanku dengan Karma".
Seolah mempertanyakan maksud ucapan Yasmine barusan, Bihan menautkan alis "lalu kenapa anda tak melawan saat ia lepas kontrol dan hampir membunuh anda?".
Yasmine memalingkan pandangan matanya dari Bihan, tak terlihat keraguan di matanya "...aku tak keberatan mati di tangan Khali".
Seolah kehilangan keinginan berargumentasi lebih jauh, Bihan menghela napas berat, berdecak pinggang dan menggaruk kepalanya "setahuku... anda wanita dingin yang cerdas, sejak kapan anda jadi sebodoh ini?".
"terserah jika kau menganggapku bodoh, tapi jangan membencinya... atau paling tidak, meski kau tak bisa memaafkan perbuatannya, jangan samakan dia dengan Karma karena tak seperti Karma yang hanya bisa melukaiku, sampai akhir hidupnya Khali selalu melindungiku dan dia kehilangan nyawanya karena melindungiku... jika ada yang harus disalahkan atas apa yang telah terjadi di antara kami berdua, di antara aku atau Khali, akulah yang harus disalahkan atas kematian Khali... cukup untuk sekarang, apapun yang orang lain katakan padaku setelah ini tak akan mengubah keputusanku sebab jika aku diminta memilih antara pengampunan atau balas dendam, aku akan memilih balas dendam..." ujar Yasmine membelakangi mereka semua dan beranjak dari tempat itu "tolong... biarkan aku sendiri...".
Meski akhirnya ketegangan di antara mereka mencair, tak mengubah kenyataan bahwa Yona dan yang lain merasa bisa ikut merasakan sakitnya melihat Yasmine yang berusaha tetap tegar meski ia harus menanggung banyak luka.
Sambil berjalan, Yasmine kembali menghitung sejak terakhir kali ia bertemu Karma. Musim pertama, musim dingin. Musim kedua, musim semi. Musim ketiga, musim panas. Hanya perlu tiga musim baginya untuk menunggu bisa bertemu kembali dengan Karma namun saat ia ingin membalas dendam dan membunuhnya, ia lagi-lagi gagal dan ia kembali harus menunggu. Kali ini, berapa musim lagi yang harus ia lalui agar ia bisa kembali bertemu dengan Karma?
