Chapter 33 – One Season

Hanya perlu semusim baginya untuk menunggu agar dapat kembali bertemu dengannya dan menyelesaikan urusan di antara mereka berdua

Semusim dimana tanah diselimuti warna putihnya salju

Akhirnya ini semua berakhir dimana yang satu kehilangan nyawanya dan yang satu hancur hatinya


.

Vengeance Arc

.

Musim dingin kembali datang, musim dingin kedua bagi Yona dan Hak sejak mereka berdua pergi meninggalkan kastil. Sejak Karma muncul di hadapan mereka musim gugur lalu, Bihan ikut dengan mereka dengan upaya membujuk Yasmine untuk mengurungkan niatnya namun Yasmine tetap bersikeras pada keputusannya. Hingga akhirnya Yasmine merasa gerah dengan aktivitas 'bujukan' yang Bihan lakukan setiap harinya, Yasmine meminta Bihan menghentikan upayanya dan kembali ke kerajaan Gujarat.

Yasmine menunjuknya dan pergi menjauh saat Bihan menolak permintaannya "kalau begitu, paling tidak berhentilah mengikutiku kesana kemari?! Ini menggangguku?!".

Saat Yasmine bergegas meninggalkannya, Leila menepuk bahu Bihan yang berdiri mematung "sudah, biarkan dia sendiri dulu... harusnya kau sudah tahu seperti apa sifat adikku, kan?".

Bihan menghela napas "justru karena saya tahu seperti apa sifatnya sejak kecil, itu membuat saya tambah khawatir, nona Leila".

"izinkan aku bertanya satu hal... Yasmine bilang usiamu terpaut 10 tahun dengannya dan kalian memang sudah saling kenal sejak kecil seperti ia mengenal Karma dan Khali sejak kecil, tapi sebenarnya... kau menganggap adikku sebagai apa?" tanya Hak.

Belum sempat Bihan menjawab pertanyaan Hak, Shina memotong pembicaraan mereka "Hak!? Yasmine... dia...".


Warna putihnya salju yang menyelimuti tanah ternodai oleh merahnya darah yang bercucuran dari luka di leher Karma, ia menatap Yasmine dengan sorot mata terluka, gadis di hadapannya ini benar-benar membencinya dan berniat membunuhnya, tapi itu wajar.

Yasmine melangkah maju dan menatap Karma penuh amarah, mengacungkan katana di tangan kirinya "aku percaya padamu, tapi kau khianati kepercayaanku... kenapa... kenapa kau bunuh adik-adikku, Karma?!".

"karena anda putri kandung Maya Hime... dengan status anda sebagai putri angkat, sangat kecil kemungkinan anda akan ditunjuk sebagai ratu... saya hanya mengakui anda, hanya anda yang pantas menjadi ratu kerajaan Gujarat... saya ingin anda yang menjadi ratu kerajaan Gujarat...".

"sudah cukup yang kudengar darimu..." ujar Yasmine tersenyum dengan mata berkaca-kaca "matilah...".

Sebelum Yasmine menusuk Karma dengan katana yang ia arahkan ke jantung Karma, Khali memeluk Yasmine dari belakang, menahan Yasmine dan menggenggam tangan kiri Yasmine "kurasa aku sudah bilang sebelumnya... jangan muncul lagi di hadapan putri Yasmine atau aku akan membunuhmu...".

"Khali, lepaskan aku..." ujar Yasmine.

"maaf, meski itu perintah anda, saya menolaknya... tolong berikan saja perintah padaku untuk membunuhnya, putri Yasmine..." pinta Khali.

Yasmine berbalik, mencengkram kerah jubah Khali dan mencium Khali, membuat Karma dan Khali terbelalak.

Karma yang naik darah melihat hal itu menghunuskan pedangnya "Khali, kau...!?".

Saat genggaman tangan Khali melonggar, Yasmine kembali melangkah maju, mengarahkan katana di tangannya untuk menusuk Karma tepat di jantungnya.

"putri Yasmine, hentikan!?" ujar Khali menghadang Yasmine dari depan saat Yasmine akan menusuk Karma sehingga katana itu menusuk pinggul Khali.

"kenapa menghentikanku..." ujar Yasmine melepaskan genggaman tangannya dari katananya karena terkejut dan memeluk Khali "dia bukan orang yang pantas kau lindungi sampai harus mengorbankan tubuhmu, Khali?!".

"karena aku tak mau kau menanggung beratnya perasaan bersalah yang akan kau terima jika kau membunuhnya dengan tanganmu sendiri..." ujar Khali menyandarkan kepalanya ke bahu kecil Yasmine "atas kematian adik-adikmu yang terjadi... bukan karena tanggung jawabmu... kau merasa bersalah... apalagi jika kau membunuh Karma... dengan tanganmu sendiri... dan yang terpenting, aku tak ingin melihat... wanita yang kucintai mengotori tangannya sendiri...".

Saat tubuh Khali terkulai lemas, Yasmine menahan tubuhnya, mendekap erat kepalanya sambil mengacungkan katana di tangannya pada Karma "pergi dari sini sebelum aku membunuhmu, cepat!?".

Saat Karma kabur dari sana, di tengah perjalanan ia tak sengaja bertemu Bihan. Bihan sempat ingin menghajarnya tapi Karma menyarankan agar Bihan secepatnya menemui Yasmine dan Khali.

"dengan luka seperti itu, tak heran jika Khali hilang kontrol".

Mendengar ucapan Karma, Bihan bergegas karena menyadari Yasmine dalam bahaya "putri Yasmine?!".

Yasmine terkejut melihat warna rambut Khali yang perlahan berubah menjadi putih, sejak tadi ia menahan tubuh Khali yang terbaring di tanah sambil memegangi luka di pinggulnya dan saat Khali membuka kedua matanya, Yasmine merasa sedikit lega "Khali?! Kau tak apa-ap...".

Tiba-tiba, Khali mendorong Yasmine ke atas ranjang dengan posisi siap menyerangku. Sambil mencengkram kedua tangan Yasmine, Khali menatap Yasmine intens. Melihat sorot mata yang tenang dari kedua mata Khali yang sebening riak air, Yasmine tak menyangka kalau Khali akan menggigitnya dan menghisap darahnya.

"Kha... kh..." erang Yasmine yang mencengkram kepala Khali dan berusaha melepaskan diri meski percuma karena ia kalah tenaga.

Bihan yang tiba di tempat itu terkejut melihat Yasmine hampir tak sadarkan diri, melihat tangan Yasmine terjatuh lemas ke tanah dan sorot mata Yasmine yang tak fokus, Bihan menendang Khali sekuat tenaga. Akibat tendangan Bihan, daging leher Yasmine yang digigit Khali ikut tercabik. Adalah saat Yasmine memegangi lehernya yang mengucurkan darah sambil berusaha menahan rasa sakitnya, Yasmine menyadari kalau Khali akan terjatuh ke bawah jurang. Tanpa memedulikan lukanya, Yasmine melompat dan saat ia berhasil menggenggam tangan Khali, ia ikut terjatuh ke bawah jurang. Di bawah jurang, mereka beruntung karena Kayano yang saat itu sedang bersama si kembar Mizuki dan Kyouka menemukan mereka berdua.

Setelah keduanya selamat, keduanya memutuskan untuk pergi ke kerajaan Kouka agar mereka bisa mencari keluarga Yasmine yang mungkin masih hidup sekaligus memancing Karma pergi dari kerajaan Gujarat.

"tertawalah, aku merasa diriku bodoh sekali, bisa-bisanya aku sempat berpikir bahwa aku jatuh cinta padanya" ujar Yasmine terkekeh.

"tak ada yang patut disalahkan karena selamanya perasaan tidak bisa disalahkan, tuan putri... yang salah adalah kita yang mengemban perasaan itu, meski kita tahu tak seharusnya perasaan itu kita miliki, meski kita bisa memilih ingin mengembangkan perasaan itu atau membuangnya, kita tetap memilih untuk mengemban perasaan itu karena mungkin kita tak ingin menyesal jika hal yang berharga itu hilang" ujar Khali memeluknya dari belakang.

Yasmine menoleh ke belakang, selalu saja Khali bisa mengatakan sesuatu yang bisa melegakan hatinya, semudah ia membuat Yasmine menangis, semudah itu pula bagi ia membuat Yasmine kembali tersenyum. Khali mendekatkan wajahnya ke wajah Yasmine sebelum bibir keduanya kembali bertemu di bawah langit bersalju.


Terdengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya, tanpa Yasmine menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang itu, Yasmine sudah mengetahui siapa orang yang menghanpirinya berkat mata kirinya yang terus berdenyut sejak tadi.

"mengingatkanmu pada apa yang terjadi di musim dingin itu, putri Yasmine?".

"akhirnya kau datang juga..." ujar Yasmine menghunuskan belati dan katana yang terselip di pinggangnya, mengacungkan belatinya ke arah Karma dan menatap tajam Karma "sekarang, disini, tanpa gangguan siapapun... kita selesaikan urusan kita sampai salah satu di antara kita berdua tak bisa bergerak lagi...".

Sama seperti musim dingin saat itu, lagi-lagi Karma menghentikan serangannya saat pedang di tangannya hampir mengenai Yasmine. Lembek. Inilah yang dimanfaatkan oleh Yasmine.

Ketika Yona dan yang lain tiba disana, mereka hanya bisa melihat saat Yasmine melangkah maju dan menusuk Karma tepat di jantungnya dengan belati di tangannya. Darah dari luka di tubuh Karma merembes keluar, membuat warna hamparan salju yang putih di sekitar tubuhnya menjadi merah. Melihat Karma terbaring sekarat di depannya, Yasmine hanya diam menatap Karma dari atas.

Karma menatap Yasmine "satu pertanyaanku... apa pernah... kau mencintaiku?".

Yasmine mengerutkan kening "kau... bahkan tidak menyadarinya?".

Karma tertawa, terkekeh, sehingga rasa darah dalam mulutnya yang ia muntahkan keluar bisa ia rasakan "kurasa... aku memang bodoh... padahal jika aku mengulurkan tangan... mungkin kau akan meraihnya...".

Yasmine mencabut belatinya dari dada Karma, duduk di dekat Karma "sudah terlambat untuk menyesal sekarang... ada kata-kata terakhir?".

"meski anda takkan pernah memaafkan saya, putri... maafkan saya, karena telah membuat anda menangis..." ujar Karma mengulurkan tangannya ke atas, memegang wajah Yasmine dengan sebelah tangannya yang berlumuran darah dan tersenyum "tapi... tak peduli sebesar apapun kau membenciku... meski kau sudah berubah menjadi wanita dingin yang kejam... aku tetap... mencintaimu... Yasmine...".

Yasmine berdiri dan mempererat genggaman tangannya pada katananya, menusuk leher Karma dengan katananya, membuat salju yang putih bersih ternoda merahnya darah Karma "dasar pembohong...".

Yona menempelkan tangannya yang terkepal ke dadanya "Yasmine...".

Saat Yona ingin melangkah maju, Leila menahannya dan menghampiri Yasmine, memegang kedua bahu Yasmine dari belakang "sudahlah... semuanya sudah selesai... kau sudah berjuang dengan keras selama ini... jadi jangan lagi kau tahan semua rasa sakit dan air matamu...".

Yasmine menoleh ke belakang dengan sorot mata kosong meski wajahnya berurai air mata, ia terduduk lemas sambil memeluk erat Leila dan menangis histeris, tangisan terkeras dan terlama ketiga yang pernah ia alami "aku sama sekali tak mengerti, bagaimana bisa dia katakan kalau dia mencintaiku tapi dia bunuh orang-orang yang berharga bagiku? adik-adikku... dan Khali... kenapa dia melakukan semua itu dan membuatku harus membunuhnya? kenapa... meski aku sudah membunuhnya dan membalas dendam atas kematian adik-adikku dan Khali... kenapa yang kurasakan setelah membunuhnya hanyalah kekosongan dan rasa sakit?".

"Yasmine... kekosongan yang kau rasakan adalah rasa kehilangan dan rasa sakit yang kau terima adalah rasa sakit karena kehilangan, rasa sakit itu bukti bahwa kau masih hidup... karena itu, tetaplah hidup... tak apa, menangislah, agar kau bisa tersenyum kembali keesokan harinya, aku percaya..." ujar Leila yang memeluk erat, mengelus punggung dan kepala Yasmine dengan lembut.

Yang pertama kalinya ia alami pasca kematian Azurite, ayah angkatnya dan adik-adiknya saat ia memeluk Khali yang membiarkannya menangis.

Yang kedua kalinya setelah Khali pergi meninggalkannya untuk selamanya di musim gugur.

"dulu aku mencintaimu... sebesar dan sedalam kebencian dan amarahku padamu, sebesar itulah aku mencintaimu dulu...".

Saat Yasmine tertidur karena kelelahan menangis, Hak membopongnya dan mengajak yang lain kembali ke perkemahan sambil membawa Yasmine.


Hak menghela napas sambil melipat tangan "jika sejak awal aku tahu reaksinya akan seperti ini... apa seharusnya kuhentikan dia sejak awal?".

"kau kira hanya kau yang berpikir begitu? aku dan ibunda sudah membujuknya..." ujar Leila menghela napas, melipat tangan saat melirik ke arah tenda dimana Yasmine terlelap dan Hak meletakkannya di tenda kecil yang biasa ia tempati bersama Yasmine "karena itulah sejak awal kubilang jangan lakukan itu, hentikan saja... tapi dia terlalu keras kepala seperti seseorang".

"siapa yang kau maksud?" tanya Hak.

"apa Yasmine... benar-benar tak bisa merasakan rasa sakit? sebab menurutku... justru Yasmine paling mengerti apa itu rasa sakit yang sebenarnya..." gumam Yun.

Selama beberapa saat setelah itu, Yasmine mengalami shock yang cukup berat dan kondisinya seperti berhibernasi, ia hanya berbaring dan hampir tak mau makan. Setiap kali ia menangis dengan sorot mata yang kosong, Leila selalu memeluknya lembut namun kondisinya membaik setelah Hak yang merasa kondisi Yasmine tak bisa dibiarkan begitu terus membawanya pergi menjauh dari yang lain untuk bicara padanya, diikuti oleh Leila dan Yona.

"kau apakan adikmu?" tanya Jae Ha kagum melihat perubahan Yasmine.

"hanya kuberi semacam terapi shock" jawab Hak.

"kau beri itu nama terapi shock? Sebenarnya tak salah, tapi..." gumam Leila.

"tapi itu terlalu keras, tahu?! lembut sedikit pada adik-adikmu, kenapa?" protes Yona menepuk keras lengan Hak "berbaik hatilah sedikit?!".

"sayang sekali, 99% kebaikan hatiku hanya bisa kuberikan padamu" ujar Hak memegang dagu Yona "is-tri-ku".

"ya, ampun... bagaimana mungkin pria dingin satu ini bisa menjadi suami sebaik ini?" gumam Yona menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan memeluk Hak yang tertawa sambil menepuk-nepuk punggungnya. Hal ini tentu membuat Jae Ha menahan tawa sementara Leila tersenyum lebar melihat keduanya.

Melihat kondisi Yasmine sudah membaik, akhirnya Bihan memutuskan untuk kembali, pulang ke kerajaan Gujarat.

Saat berpisah dengan Bihan yang akan kembali ke kerajaan Gujarat, Yasmine bertanya "Bihan, sebenarnya untuk apa kau lakukan ini semua?".

Bihan tersenyum dan menggenggam tangan Yasmine "kulakukan ini semua demi kau, sebagai sesama laki-laki yang mencintai wanita yang sama...".

Yasmine terbelalak, selama ini ia menganggap Bihan sebagai kakaknya terlebih dengan jarak usia mereka berdua yang terpaut 10 tahun, tanpa ia ketahui kalau ternyata Bihan menganggap Yasmine sebagai wanita, entah sejak kapan.

"sebagai sesama laki-laki yang mencintai wanita yang sama, aku mengerti perasaan Khali dan Karma, tak satupun dari kami yang ingin kau menderita karena yang kami inginkan adalah agar kau bisa tetap hidup dan mendapatkan kebahagiaanmu... aku mengerti kau sangat mencintainya dan itu sebabnya sampai sekarang kau tak bisa melupakannya... aku sadar sudah tak ada tempat lagi bagiku di hatimu tapi bisakah kau berjanji untuk mengabulkan satu permintaanku ini demi aku? relakan dia, temukan kebahagiaanmu sendiri... agar aku bisa meninggalkanmu dengan tenang".

"jangan berkata seolah kau akan meninggalkanku selamanya atau kita takkan bisa bertemu lagi, kita masih bisa bertemu, kan?" ujar Yasmine menggelengkan kepala, menempelkan telapak tangannya ke dada Bihan dan tersenyum sendu "hentikan, Bihan... aku tidak ingin kau bernasib sama dengan Khali... dan yang terpenting, aku tak ingin melupakannya... aku merasa jika aku menjalin hubungan dengan pria lain setelah kematiannya, aku akan melupakannya dan aku tak ingin itu terjadi... karena itu, maafkan aku... aku tak bisa pergi kemanapun, disinilah tempatku, Kouka sudah menjadi rumahku, dimana ada keluargaku yang menungguku pulang".

Bihan mengerti, Yasmine tak bisa ikut dengannya kembali ke kerajaan Gujarat sehingga Bihan memeluknya erat dan mengecup kening Yasmine, mengucapkan salam perpisahan sebelum ia kembali pulang ke kerajaan Gujarat.

"berani sekali kau, bahkan di hadapanku..." gerutu Hak mengepalkan tangannya.

"Bihan, cepat lari!?" ujar Leila melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Hak "kakak, kita tak tahu kapan lagi mereka bisa bertemu, kan? biarkan saja... dasar overprotektif...".

"sebenarnya itu juga yang ingin dilakukan kak Hak saat kau dicium jenderal suku api itu, tahu" ujar Yasmine terkekeh.

"lupakan saja" sahut Leila.