Chapter 35 – Sweet Dream

Mimpi yang begitu indah, saking indahnya mimpi itu, penderitaan yang kau rasakan saat kau terbangun akan terasa semakin sakit


.

Winter Arc

.

Saat berjalan di taman, Yasmine yang masih kecil menemukan mayat anak burung di bawah pohon. Setelah Yasmine mengubur mayat anak burung itu dan berdoa, Khali muncul dalam wujud Alter untuk pertama kalinya di hadapan Yasmine.

"untuk apa kau kubur mayat anak burung itu? Jika kau biarkan mayatnya, dia akan jadi tanah kembali setelah mayatnya membusuk...".

"tapi anak burung itu juga punya nyawa, ibu bilang setiap yang bernyawa pasti akan mati dan kita harus menghormati mereka dengan berdoa yang terbaik untuk mereka dan memberikan tempat peristirahatan yang layak baginya karena itu aku menguburnya dan berdoa untuknya..." ujar Yasmine berbalik melihat Khali "...kakak siapa? Kau bukan manusia, kan?".

"oh, rupanya matamu yang indah itu bisa melihat wujudku yang sebenarnya?" ujar Khali yang memegang bahu Yasmine dan menunjukkan taringnya.

Yasmine tak merasa takut sama sekali, bahkan ia memegang wajah Khali "tapi kenapa kau terlihat begitu sedih seperti ingin menangis, kak?".

Mendengar kata-kata Yasmine yang telah menembus isi hatinya, Khali menyembunyikan wajahnya ke bahu Yasmine dan meneteskan air mata "karena aku sadar, nasib macam apa yang harus kau emban di pundakmu yang kecil ini... tapi kali ini, meski harus kubayar dengan nyawaku, aku akan selalu melindungimu...".

"kak? kau tak apa-apa? kenapa menangis?".

Khali tersenyum dan menggelengkan kepala, ia menggenggam tangan Yasmine dan mengajak Yasmine kembali ke kamarnya. Malam harinya, Yasmine seharusnya tidur di kamarnya seperti biasa, tapi entah kenapa perasaannya tak enak setelah pertemuannya dengan Khali tadi siang sehingga ia menyusup diam-diam keluar kamar. Untuk sampai di kamar Setia, Yasmine harus melewati taman bunga di pekarangan dalam istana sebagai jalan pintas.

Kedua kalinya Yasmine bertemu Khali dalam wujud Alternya, di bawah sinar bulan purnama yang temaram, Yasmine menahan napas melihat indahnya wujud Alter Oni di hadapannya itu "...kakak yang tadi siang?".

Khali tersenyum dan mengelus kepalanya, rambut lurusnya yang seputih salju tertiup angin dan mata peraknya yang berkilat seperti pedang menatapnya lembut "selamat malam, Yasmine. Namaku Khali (dewa kematian), aku datang untuk menjemput ibumu...".

Yasmine yang masih polos, tak mengerti maksudnya "menjemput ibuku? Kakak mau bawa ibu kemana?".

Khali menuntun Yasmine untuk pergi menjauh dari kamar Setia namun Yasmine bersikeras ia ingin menemui Setia karena ia khawatir, mengingat ibunya tengah hamil, lalu meminta Khali untuk membawanya serta. Khali menolak dengan alasan kalau belum saatnya ia ikut dengan mereka berdua. Saat Yasmine bergegas lari menuju kamar Setia, yang ia temukan adalah Setia yang baru saja selesai melahirkan, darah segar berwarna merah terlihat menghitam di tengah kamar yang agak gelap karena hanya diterangi cahaya lilin.

Yasmine segera berlari memasuki kamar "ibu?!".

Azurite menahannya dan berniat membawanya menunggu di luar kamar bersama Tiara, selir Azurite yang tengah menggendong Tatiana yang masih bayi, sebab dokter akan menangani Setia yang mengalami pendarahan pasca melahirkan. Dengan suara yang lemah, Setia meminta Azurite membawa Yasmine dan Tiara mendekat. Setelah menitipkan suami mereka serta anak-anaknya pada Tiara lalu meminta Azurite untuk menjaga dan merawat Tiara dan anak-anak mereka, Setia tersenyum lembut dan memegang wajah Yasmine "Yatalia... kita harus berpisah, ya... maafkan ibu, tapi tak apa... kau tak sendirian... ada adikmu, ayahmu dan Tiara yang juga ibumu...".

Yasmine; yang saat di Gujarat dikenal sebagai Yatalia, menggelengkan kepala dan menangis "ibu mau kemana? Ibu jangan pergi...".

Pandangan mata Setia terlihat kabur, namun ia masih bisa menangkap sosok yang bersembunyi di balik pintu, perlahan cahaya kehidupan di matanya memudar bersamaan dengan terkulainya sebelah tangannya yang memegang wajah Yasmine ke bawah "wahai iblis, silahkan kau ambil nyawaku, tapi penuhi permintaan terakhirku... tolong jaga anak ini dan bimbing dia menuju kebenaran... tepatilah janjimu, lindungilah putriku... putri kandung Maya...".

Yasmine menangis keras saat pertama kali melihat kematian di depan matanya "IBU!?".


Tiara, selir Azurite mengetahui apa yang terjadi pada Maya saat Yasmine berusia 9 tahun. Tiara merasa kalau Yasmine akan bernasib buruk seperti yang telah dialami Maya dan Ulla, orang tua kandungnya. Pikiran itu membuat Tiara menghunuskan pedangnya pada Yasmine yang saat itu baru berusia 9 tahun. Meski sempat menghindar dari tusukan vital karena refleks tubuh yang bagus, serangan itu menyayat punggung Yasmine.

Saat Yasmine mengerang kesakitan memegangi lukanya terbaring di lantai, Tiara mencekiknya dan mengarahkan pisaunya pada Yasmine sambil menangis "maafkan aku, putri kandung Maya Hime".

Pintu yang terkunci itu didobrak oleh dua pria, yaitu Khali dan Karma. Tepat sebelum pisau itu menusuk Yasmine, Karma menebas Tiara sementara Khali memeluk Yasmine yang hampir pingsan sambil menangkis pisau yang dihunuskan pada Yasmine.

"ah, kenapa kau bunuh, dasar bodoh?" protes Khali pada Karma.

"kau sendiri, apa bukan cari-cari kesempatan untuk memeluk Hime-sama?" ujar Karma yang memicingkan mata pada Khali.

"jangan main-main, darurat..." ujar Khali melilitkan sobekan kain baju ke tubuh Yasmine untuk menghentikan pendarahan dari punggung Yasmine "tapi... sekarang bagaimana?".

"...aku punya ide" ujar Karma tersenyum jahat sambil melirik pedang di tangannya.

Bersekongkol dengan Bihan yang berubah ke wujud Alter, Karma melukai dirinya dan Khali, berpura-pura diserang oleh Bihan yang kabur ke arah kota sehingga saat Bihan kabur ke kota, para prajurit sibuk mencari Bihan yang berhasil kabur setelah ia mengembalikan wujudnya ke wujud manusianya dan bersembunyi di markas utama Peddler.


Azurite memasuki klinik istana, dimana Khali dan Karma baru saja selesai diobati sedangkan Yasmine terlelap di salah satu ranjang "bagaimana kondisi putriku?".

"untungnya luka beliau hanya tergores dan karena usianya yang masih sangat muda, lukanya takkan berbekas, hanya saja dari banyaknya jumlah darah yang keluar dari tubuhnya, andai saja kedua prajurit ini tak segera menemukan tuan putri dan menahan pendarahan di tubuh beliau, beliau takkan tertolong".

Mendengar penjelasan dokter, Azurite berterima kasih pada Khali dan Karma "aku tak pernah melihat kalian sebelumnya, apa kalian berdua prajurit baru?".

Karma mengakui bahwa ia dan Khali berniat melamar menjadi prajurit kerajaan dan baru tiba hari ini di ibukota. Saat ingin mendaftar, rupanya sudah terlalu malam sehingga keduanya yang baru tiba di kota ini diminta untuk tinggal di mess militer sementara untuk kembali mendaftar esok hari.

Khali menambahkan penjelasan Karma bahwa mereka berdua mendengar suara teriakan anak kecil dan wanita dari kamar yang mereka lewati. Saat mereka mendobrak kamar itu, ternyata mereka menemukan Yasmine dan Tiara yang diserang oleh Oni "kami berusaha melawan tapi Oni itu terlalu kuat, sayangnya kami kalah dan Oni itu berhasil kabur sehingga kami hanya bisa berteriak meminta bantuan sementara kami menahan pendarahan di tubuh permaisuri dan tuan putri tapi saat kami menghampiri mereka berdua... mohon maaf...".

Bersamaan dengan Khali, Karma juga membungkukkan badannya di hadapan Azurite "mohon maaf, karena kami telah gagal melindungi permaisuri...".

"tapi putriku selamat... sudahlah, itu berarti sudah takdir istriku... kalian bahkan terluka karena melawan Oni itu, justru aku harus berterima kasih karena kalian telah menyelamatkan nyawa putriku", Azurite duduk di samping ranjang Yasmine dan mengelus dahi Yasmine yang terlelap karena luka di tubuhnya membuatnya demam tinggi "tapi apa kalian melihat seperti apa Oni itu?".

Khali mengangguk "sekilas kami melihat sosoknya di bawah sinar bulan, dia...".

"...ayah?".

Khali, Karma dan Azurite mengalihkan pandangan mereka pada Yasmine. Yasmine menangis saat Azurite memeluknya. Azurite sudah memintanya untuk tak memaksakan diri mengingat apa yang terjadi padanya, namun Yasmine sempat menyebutkan sosok Oni yang ia lihat yaitu sosok Alter Khali, sosok Oni berambut perak lurus yang panjang dan bermata emas.

Setelah kejadian itu, penjagaan di istana diperketat dan Azurite memberikan pengawal pribadi untuk tiap putrinya, namun hanya Yasmine yang memiliki dua pengawal. Tentu saja penentuan pengawal ini dilakukan dengan menguji kemampuan para prajurit di istana dan yang terpilih untuk menjadi pengawal Yasmine adalah Karma dan Khali.


7 tahun kemudian...

Terhitung sejak malam di musim panas saat Yasmine hampir dibunuh pada usia 9 tahun, hanya menunggu beberapa hari untuk Yasmine menyambut hari ulang tahunnya yang ke16 tahun. Sebagai putri kerajaan Gujarat, ke-7 bersaudari putri kerajaan Gujarat diajarkan cara bertarung, seni bela diri militer serta seni budaya seperti seni tari dan seni musik. Terutama bagi Yasmine yang terlahir sebagai 'bunga' dan sempat hampir mati dibunuh oleh 'daun' pada usianya yang baru 9 tahun, para putri kerajaan Gujarat dibesarkan untuk menjadi putri yang pantas menjabat sebagai ratu kelak. Azurite sebagai raja kerajaan Gujarat yang berhasil membesarkan ketujuh putrinya sebagai orang tua tunggal tentu merasa bangga, andai saja watak para putrinya yang tak terlalu membuatnya khawatirkan.

Kepala Azurite hampir terjatuh dari tangan yang menopang dagunya karena mendengar suara barang pecah belah terhempas ke dinding, lagi-lagi...

Yasmine menunjuk kedua pengawalnya "ayahanda, tolong beri hukuman pada duo idiot ini!?".

Ini sudah biasa bagi Azurite, pasti Yasmine lagi-lagi terganggu dengan keusilan yang selalu dilakukan dengan kompak oleh Karma yang usil dan Khali yang spontan, terlepas dari sikap ke-2 pengawalnya yang mungkin terbilang lancang, kemampuan keduanya tak perlu diragukan lagi sehingga Azurite hanya mengayunkan tangan "sudah, sudah, kau tahu kalau mereka berdua memang bersahabat, kan?".

"aku tak peduli, ayahanda?! Dari semua prajurit yang ada di kerajaan Gujarat, kenapa aku harus mendapat si dingin Khali dan si usil Karma sebagai pengawal yang bertugas melindungiku!?".

"kenapa saya juga kena?" gerutu Khali menunjuk Karma "yang mengatai tarian anda kan dia".

"aku tak mengatakan kalau tarian putri Yasmine jelek, hanya saja kostumnya terlalu terbuka dan mohon maaf jika Karma selalu usil pada tuan putri tapi kasihan orang yang harus menjadi pengganti Karma untuk menjaga tuan putri yang hiperaktif, bisa-bisa dia berumur pendek..." ujar Karma dari belakang Yasmine.

"tutup mulutmu, bajingan?!" ujar Yasmine melempar bantal serta barang pecah belah lainnya ke arah Karma.

"tuan putri, mohon maaf atas kelancangan saya, saya tak bermaksud ikut campur tapi tolong diingat bahwa sebentar lagi anda berusia 16 tahun, kan? Hanya beberapa hari lagi sampai anda dinyatakan dewasa, tolong bersikap lebih lembut layaknya perempuan sedikit, bisa-bisa tak ada yang sudi menikahi anda atau mati terbunuh di tangan anda..." sahut Khali yang membantu menangkap semua barang yang dilempar Yasmine pada Karma sementara Karma yang berada di belakang Khali melemparkan kembali barang-barang tersebut ke tempatnya seperti semula.

"pertunjukan akrobatik yang luar biasa seperti biasa", Tatiana masuk sambil bertepuk tangan, ia datang bersama pria yang menahan tawa, berdiri di belakangnya.

"energik seperti biasa, putri Yasmine?", Veer masuk sambil memberi salam pada Azurite dan Yasmine, membungkukkan badan sebelum tersenyum dan mengulurkan tangan pada Yasmine "nah, sekarang bisa saya membawa pergi putri Yasmine?".

Veer adalah tunangan yang ditentukan oleh Azurite untuk Yasmine, tentu saja Yasmine yang saat itu memiliki prinsip 'ikuti arus dan jalani apa yang ada' hanya menerima pertunangannya.

Sebelum pergi, Veer mengecup punggung tangan Yasmine dan tersenyum "sayang sekali, saya harus pergi sekarang tapi saya pasti akan datang saat ulang tahun anda".

"setidaknya kau bisa beri kabar kalau kau akan datang agar kami bisa menyambutmu, kan?" ujar Yasmine, basa-basi sebenarnya.

"tidak, saya tak ingin merepotkan, lagipula", Veer tersenyum dan memegang wajah Yasmine "dengan melihat wajah anda dan melihat anda dalam keadaan sehat saja sudah lebih dari cukup, tuan putri".

Yasmine memegangi wajahnya yang memerah saat Veer pergi menjauh, ia tak pernah merasa apa yang dikatakan Veer sebagai kebohongan.

Karma mendengus "benar-benar laki-laki yang pandai merayu".

Khali menganggukkan kepala "benar".

"setidaknya dia lebih pandai memperlakukan wanita dengan lembut, tak seperti seseorang yang selalu usil padaku atau selalu bersikap dingin".

"siapa yang anda maksud?" ujar Khali dan Karma bersamaan, namun Yasmine hanya tertawa sambil mengangkat bahu.


"biasanya yang kita tahu, ada cinta segitiga, tapi kakak kita malah terlibat cinta segiempat?".

Yasmine mendelik, terkekeh sambil menautkan alis "kau itu masih bocah, sudah berani bicara soal cinta, Tatiana?".

"jangan lupa kita hanya beda setahun", Tatiana menunjuk Yasmine sebelum mengangkat satu tangannya "ayo pasang taruhan, siapa yang bisa menaklukkan hati kakak kita saat ulang tahun kak Yatalia yang ke-16 tahun nanti? Aku pasang taruhan pada Veer".

Tara mengangkat tangan "aku di pihak oposisimu, kak... aku pilih Khali".

Yasmine meminta kedua adiknya yang tertua menghentikan taruhan yang menurutnya konyol ini sambil menunjuk ke-4 adiknya yang tersisa "keempat adik kita masih kecil!? Mana mungkin mereka mengerti...".

Dan ke-4 adik mereka malah ikut bertaruh, dimana Anna juga memilih Khali seperti Tara dan kembarannya Tasya memilih Veer seperti Tatiana, sedangkan si kembar Nagine dan Nadine memasang taruhan pada Karma.

"kalian ini...", Yasmine menghela napas sambil geleng-geleng kepala sebelum menginjakkan sebelah kakinya ke kusen jendela sementara kedua tangannya berpegangan pada daun jendela "biarkan aku terjun bebas?! ah, pemandangannya indah sekali dari sini~".

Anna langsung memegangi pinggul Yasmine dari belakang "kakak?! hentikan?!".

Kembarannya, Tasya membantunya "benar?! jangan main bungee jumping tanpa tali, dong?!".

Nagine yang lebih pendek dari para kakaknya itu terpaksa memegangi kaki kakaknya untuk menghentikan aksi ekstrem kakaknya "pikirkan keselamatan sendiri, kak?!".

Dan kembaran Nagine, Nadine si bungsu memegangi kaki Yasmine yang sebelah lagi "nyawa kakak lebih penting?!".

"kalau kakak sampai kenapa-kenapa, bisa-bisa tahta kerajaan dijatuhkan padaku dan itu sangat merepotkan?!" protes Tatiana menarik sebelah tangan Yasmine.

"itu yang lebih kau khawatirkan? Adik brengsek?!" pekik Yasmine.

Tara geleng-geleng kepala sebelum mengayunkan tangannya "ya, ampun... kakak, kalau kau kenapa-kenapa, kau bisa membuat tiga laki-laki yang terlanjur jatuh hati padamu itu menangis, tahu".

Yasmine memicingkan matanya "siapa maksudmu, Tara?".

Melihat akhirnya kakaknya menoleh ke arahnya, Tara menyeringai "siapa lagi? Khali, Karma dan Veer, kan?".

"dasar brengsek?!" pekik Yasmine yang disambut gelak tawa adik-adiknya.

Begitulah kehebohan yang selalu terjadi di antara mereka dalam kehidupan Yasmine sebagai putri kerajaan Gujarat, tapi semua kenangan indah itu hanya menjadi mimpi indah yang akan berakhir menjadi mimpi buruk pada akhirnya.

Terlihat Yasmine yang masuk ke kamarnya kembali lewat balkon, terduduk lemas dengan mata terbelalak yang perlahan mengeluarkan air matanya, dengan tubuh gemetar ia berusaha berdiri meski akhirnya ia hanya bisa memeluk tubuh salah satu adiknya yang bergelimang darah dan berteriak, menangis histeris sebelum menemukan kenyataan yang lebih pahit dimana ia harus melihat adik-adiknya yang mati terbantai di depan matanya.