Chapter 37 – The Beginning of Our Journey
Awal perjalanan dimulai
Dengan sebuah tekad yang dalam
Serta sumpah yang dibuat
Atas darah yang tumpah dan luka akibat pengkhianatan
.
Winter Arc
.
Setelah Khali memunggungi Yasmine dan Tara, Karma dan Khali bertarung dengan niat saling membunuh. Khali yang marah besar karena pengkhianatan Karma dan Karma yang bertekad untuk menyelesaikan rencananya, menyelesaikan apa yang telah ia mulai.
"apa kau lupa janji yang kita buat dulu!? Tak peduli siapapun yang bisa berada di sampingnya, selama salah satu dari kita bisa berada di sampingnya, kita harus melindunginya!?", Khali terus menyerang Karma dengan pedangnya, terlihat jelas amarahnya yang membuncah "kau yang harusnya melindunginya, malah mengkhianatinya dan membuatnya menangis?!".
Layaknya iblis yang turun ke bumi, keduanya bertarung namun terlihat jelas alur pertarungan di atas kendali Karma dan pada akhirnya, Karma berhasil membuat Khali bertekuk lutut pasca menebas perut Khali.
"jangan lupa, meski dalam pertarungan skillmu untuk bertahan lebih baik dariku, tapi skillku dalam menyerang lebih baik darimu", Karma mengacungkan pedangnya ke arah Khali "jika kau adalah 'perisai' yang bertugas melindunginya, Khali... maka akulah 'pedang' yang akan menghabisi siapapun yang menghalangi jalannya dan membahayakan nyawanya...".
Karma mengangkat kedua tangannya ke samping telinganya sambil menggenggam erat pedang yang lalu ia arahkan pada Khali, seharusnya pedang itu menusuk Khali namun...
"pembohong...", Yasmine menutupi wajah bagian kiri dan mata kirinya yang mengeluarkan darah "jika kau memang mencintaiku... kenapa kau mengkhianatiku?".
Karma tertegun melihat pedangnya melintasi wajah sebelah kiri Yasmine yang mungkin akan membutakan mata kiri Yasmine.
Khali yang berada di belakang Yasmine, menahan tubuhnya dari belakang "TUAN PUTRI!?".
"pergi... tinggalkan aku... sebelum aku membunuhmu", Yasmine menatap tajam Karma yang segera kabur dari sana, dan setelah Karma melompat dari balkon, Yasmine menggenggam erat lengan Khali "cepat... kejar dia... Khali...".
"tapi...!?".
"ini perintah... jangan khawatir, ada Tara dan sebentar lagi, bantuan pasti datang...".
Dengan rasa sakit yang seharusnya bisa membuatnya berteriak kesakitan atau menangis, Khali tertegun melihat Yasmine bisa tetap tersenyum dan memerintahkannya sehingga Khali tidak punya pilihan lain.
Tara, tak mempedulikan luka di tubuhnya, merangkak dan memeluk Yasmine yang tubuhnya terkapar ke lantai setelah Khali mengejar Karma "KAKAK!? KAKAK, BERTAHANLAH!?".
Yasmine tersenyum, di tengah napasnya yang berat, ia duduk dan memeluk Tara "tak apa-apa, Tara... tenang saja, tak usah takut lagi...".
Tara memeluk Yasmine dengan tubuhnya yang gemetar, menangis dengan sorot mata kosong saat tubuh Yasmine yang lemas menimpanya sehingga keduanya terbaring di lantai. Setelah itu, pintu kamar berhasil didobrak para prajurit yang menggunakan pancang kayu. Mereka tak bisa menahan rasa takut dan keterkejutan mereka melihat apa yang mereka temukan di kamar ini. Petra, kepala dayang merangkap pengasuh alias ibu susu Yasmine dan adik-adiknya masuk ke dalam kamar itu yang akhirnya berhasil dibuka disusul wakilnya, Kayano.
Tara ditemukan dalam kondisi shock sambil menangis di pelukan Yasmine yang tak sadarkan diri sambil memeluknya erat. Kondisi mereka saat ditemukan membuat prajurit dan dayang yang menemukannya berasumsi bahwa Tara berusaha melawan dan hampir diperkosa akibat luka lebam dan memar akibat dipukuli serta pakaiannya yang compang camping terlebih Tara bereaksi keras, ia panik, menangis keras dan berontak saat para prajurit berusaha mendekatinya dan baru tenang setelah Petra menenangkannya. Nagine yang bersembunyi di lemari ditemukan dalam keadaan yang sama dengan Tara, ia menangis ketakutan sambil meringkuk dengan sorot mata seolah baru melihat neraka.
Selama dua hari Yasmine demam tinggi akibat luka dan shock yang ia dapat, mata kirinya yang tertusuk tak bisa melihat lagi, rambut lurusnya yang semula berwarna merah berubah warna menjadi putih seluruhnya, begitulah yang dijelaskan dokter pada Azurite. Pada malam hari saat memasuki hari ulang tahun Yasmine yang ke-16 tahun, Khali membawa kabur Yasmine dari kastil dengan menggunakan wujud Alternya. Karma yang saat itu masih berpura-pura sebagai teman mereka, untuk menunjukkan bahwa ia berada di pihak mereka berusaha mengejarnya namun gagal karena Khali berhasil menyembunyikan Yasmine dibantu Bihan dan teman-teman mereka, sesama 'bunga' dan 'daun' yang tergabung ke dalam organisasi yang saat ini dipimpin oleh Bihan sebagai kepala perkumpulan Peddler.
Penipu, orang yang memperdaya orang lain dengan kata-kata.
Perompak, orang yang merampas milik orang lain dengan kekerasan.
Penculik, orang yang membawa orang lain untuk ditukarkan dengan keuntungan tertentu, baik berbentuk materi atau tidak, untuk diri sendiri atau orang lain.
Pandai besi, orang yang memiliki keahlian mengolah besi menjadi senjata atau perkakas lain.
Ninja, orang yang dikirim diam-diam ke suatu tempat untuk mengumpulkan informasi atau orang yang memiliki keahlian menyusup di tempat tersembunyi untuk melakukan suatu misi, entah mengirim pesan atau sampai membunuh orang.
Pedagang, orang yang menukarkan barang dagangan yang ia miliki dengan sejumlah uang atau melakukan sistem barter (tukar menukar barang) dengan harga sesuai sebagai transaksi jual beli.
Pembunuh, orang yang merenggut nyawa orang lain.
Peddler, berasal dari kata penjual keliling adalah sebutan untuk orang yang melakukan semua itu di kerajaan Gujarat. Peddler dikenal juga dengan sebutan pedagang kematian karena rata-rata yang mereka dagangkan adalah senjata dan segala sesuatu yang bisa mereka jual meski di antara sesama Peddler kadang sampai harus bertaruh nyawa dan Bihan adalah Peddler terkuat yang bisa dibilang sebagai 'kepala' perkumpulan Peddler cabang ibukota kerajaan Gujarat. Hal yang sangat mudah bagi mereka jika hanya sekedar menyembunyikan keberadaan 'daun' dan 'bunga' dari kejaran prajurit kerajaan terlebih prajurit kerajaan takkan bisa sembarangan masuk dan menyerbu markas para Peddler sebab sudah ada ketentuan tak tertulis bagi prajurit kerajaan untuk tak mengusik Peddler yang terdiri dari para 'daun' dan 'bunga' yang menjadi rekan yang kadang bisa diandalkan bagi para prajurit kerajaan Gujarat.
Malam itu, entah apa yang membuat Yasmine tak bisa tidur, malamnya saat Yasmine melihat bulan cembung yang akan berubah menjadi bulan purnama sebentar lagi, Karma yang berjaga di samping kamar Yasmine menyapanya "anda tak bisa tidur?".
"memang aku tidak bisa tidur, makanya aku keluar kamar".
Akhirnya, keduanya membicarakan soal tarian yang akan dibawakan Yasmine pada hari ulang tahunnya yang ke-16 tahun ini. Selain kostum penari yang mengharuskan Yasmine memakai kostum penari yang memperlihatkan tanda bunga di dadanya, tarian itu menggunakan pedang dan kipas di kedua tangannya serta selendang di lehernya. Tarian itu berkisah tentang sepasang kekasih yang terikat oleh cinta terlarang karena mereka adalah 'daun' dan 'bunga'.
Alkisah, seorang 'daun' jatuh cinta pada 'bunga' yang merupakan penari tercantik di kerajaan gurun pasir ini. Awalnya 'daun' hanya berniat memangsa 'bunga' itu setelah bunga itu tumbuh dewasa sebab saat 'daun' menemukannya, 'bunga' itu masih terlalu kecil untuk ia konsumsi, tapi keduanya hidup bersama hingga suatu hari, setelah 'bunga' itu tumbuh dewasa dan 'bunga' mengetahui identitas asli 'daun' saat 'daun' itu mencoba melindunginya dari 'daun' lain yang ingin memakannya. Karena identitasnya ketahuan, 'daun' menghilang dari hadapan 'bunga' dan melindunginya dari kejauhan. Saat jantung 'bunga' berhenti berdetak, 'daun' memberikan jantungnya pada 'bunga' sehingga 'bunga' hidup kembali sedangkan 'daun' harus kehilangan nyawanya sebagai tebusannya. Kisah ini memberikan sebuah pesan tersirat, bahwa siapapun yang perasaannya lebih besar akan lebih banyak berkorban meski ia harus kehilangan nyawa lebih dulu.
Yasmine mendongak menatap langit setelah diam beberapa saat "Karma, mungkin karena aku masih kekanakan, jadi aku tak mengerti... kenapa seseorang bisa begitu menderita karena cinta? Bukankah cinta seharusnya memberi kebahagiaan seperti ayah dan ibu yang saling mencintai? Jika mereka sudah tahu bahwa tak seharusnya mereka bersama dan hanya akan berakhir dengan penderitaan, kenapa mereka tetap menjalin hubungan?".
"ada kalanya, meski otak kita mengerti, kita tetap mendahulukan perasaan kita. Kelak jika anda mengalaminya sendiri, anda pasti akan mengerti... tapi putri, ini menurut saya... seseorang yang mau mengakui kalau dirinya kekanakan, justru adalah orang yang dewasa... orang dewasa saja belum tentu mau mengakui kalau dirinya kekanakan...".
Yasmine tertawa kecil dan melirik Karma "tumben kau bicara bijak? Ada angin apa?".
"saya serius".
"kau sendiri, pernah jatuh cinta? Atau paling tidak, ada yang kau sukai?" tanya Yasmine yang berpikir "dengan usia Karma yang 6 tahun di atasku, kurasa paling tidak dia pasti punya cinta pertama apalagi mengingat paras tampannya, kan? yah, meski aku tak suka mengakuinya".
"cinta pertama, ya... ada... tapi bertepuk sebelah tangan, sebab seperti yang orang bilang... cinta pertama biasanya tak terbalas".
"wah, sulit kupercaya ada wanita yang menolak Karma" pikir Yasmine lantas bertanya "...kau ditolak?".
"bukan, wanita itu tidak tahu perasaan saya. Jika anda merasakan cinta pertama, satu nasehat saya, tak peduli apapun yang terjadi sebelumnya atau apapun yang kita lakukan, kita takkan pernah bisa melupakan cinta pertama kita... hanya saja, yang memutuskan siapa cinta pertama kita adalah kita sendiri, sebab meskipun namanya cinta pertama bukan berarti dia yang paling pertama kita cintai sebab bisa juga dialah orang yang paling kita cintai dari orang-orang pernah membuat kita jatuh cinta".
"mendengarmu bicara bijak, membuatku sadar kalau kau memang lebih tua dariku, ya..." ujar Yasmine yang menimbulkan pertigaan di kepala Karma "putri?!".
Melihat Yasmine tertawa, Karma menghela napas "yah, sudahlah... karena sudah lewat tengah malam, tolong anda istirahat secepatnya".
"omong-omong, kau bilang kalau cintamu bertepuk sebelah tangan? dengan siapa?".
"bukan urusan anda".
"lho? kenapa? maksudku, biarkan aku membantumu jika kau...".
Tanpa sempat Yasmine menyelesaikan ucapannya, Karma mencium kening Yasmine "cinta pertama saya itu anda... anda itu benar-benar telmi, ya?".
Dengan wajah yang memerah, Karma berjalan melewati Yasmine. Yasmine bergegas masuk ke dalam kamar dan terduduk lemas setelah ia menutup pintu kamar karena teringat apa yang terjadi barusan "mimpi apa aku barusan!?".
Ini terjadi 2 minggu sebelum ulang tahun Yasmine yang ke-16 tahun. Yasmine tak bisa cerita soal ini pada adik-adik dan ayahnya, tapi ia sempat menceritakan ini pada Khali dan Bihan saat mereka berkunjung ke 'gang belakang' ibukota. Bihan sempat menggodanya tapi Khali hanya memberi respon dingin dengan berkata bahwa apapun keputusan Yasmine, mau menerima atau tidak perasaan Karma, terserah pada Yasmine sehingga Yasmine menerima perasaan Karma.
Saat ia membuka matanya, Yasmine merasakan rasa sakit yang seolah membakar mata kirinya. Ia teringat mata kirinya terkena tebasan pedang Karma yang melintasi wajah kirinya setelah ia merasakan perban melilit sebelah wajahnya.
"tak perlu khawatir soal mata kirimu, kau sudah dapat transplantasi mata yang cocok".
Yasmine menoleh ke samping, ia menemukan Bihan duduk di sampingnya bersama Khali dan Kayano. Sembari meminta maaf pada Yasmine, Kayano memberitahu bahwa Khali mengambil mata kiri Tatiana untuk didonorkan menjadi mata kiri Yasmine yang dibutakan Karma. Kayano terkejut saat Yasmine tiba-tiba bangun karena ingin menampar Karma, namun setelah Khali menjelaskan bahwa roh Tatiana yang menemuinya dan memintanya melakukan hal itu, setelah Kayano yang menahan tubuhnya kembali membaringkan Yasmine ke ranjang dan menyelimuti Yasmine, Yasmine menutupi sebelah matanya dan menangis.
"tak apa, menangislah sepuasmu...", Khali duduk di samping ranjang Yasmine, mendongak ke luar jendela dimana langit malam yang gelap terasa begitu dingin di tengah hujan yang turun dengan derasnya "langit juga menangis malam ini".
Melihat atmosfer di antara mereka, Bihan mengelus kepala Yasmine, memintanya istirahat dan jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tak perlu sebelum keluar kamar bersama Kayano yang ingin menyiapkan makanan dan minuman sebelum memberi Yasmine obat. Cukup lama Yasmine menangis dan Khali hanya diam di sampingnya sambil menggenggam tangannya, ia tak bicara apapun untuk menghiburnya tapi ia tak meninggalkan Yasmine sendirian.
Yasmine menyeka air matanya dan menggenggam lengan Khali "apa aku bisa percaya padamu, Khali?".
Khali menoleh ke arah Yasmine dengan ekspresi serius "apa saya pernah bohong pada anda, putri Yasmine?".
"tidak...", Yasmine menutupi sebelah matanya yang kembali meneteskan air mata "tapi aku tak tahu... siapa lagi yang bisa kupercaya? Padahal aku percaya padanya, tapi kenapa...".
"lupakan saja apa yang terjadi... jika itu terlalu menyakitkan bagimu, lupakan perasaanmu pada si brengsek itu".
"mudah bagimu untuk bicara, tapi tahu apa kau soal perasaanku?! kau yang begitu dingin, tahu apa soal perasaan...".
"terserah jika kau menganggapku pria yang dingin, sebab adalah salahku sampai kau terluka di tangan lelaki itu tapi apapun alasannya, perasaanku padamu takkan berubah, aku hanya ingin melihatmu bisa tersenyum seperti sebelumnya, saat kau bisa tertawa dan tersenyum bahagia dengan tulus lagi setelah semua lukamu sudah sembuh, sebab itulah kebahagiaan terbesarku...", Khali mengecup kening Yasmine sebelum ia menutupi kedua mata Yasmine dengan telapak tangan kirinya yang lebar "apa salah jika aku memintamu untuk melupakan laki-laki yang telah mengkhianati dan melukaimu? Jangan menangis lagi... air mata tak cocok untukmu... kau lebih pantas tersenyum...".
"kau curang, Khali... jika kau berkata begitu, air mataku malah semakin sulit berhenti, kan?".
Malam itu, Yasmine bermimpi bertemu dengan arwah Tatiana yang melebur dengan 'Youkai' di dalam tubuh Yasmine. Mereka berdua bicara banyak hal dan salah satunya, Tatiana meminta Yasmine untuk tidak menyalahkan dirinya atas kematiannya dan kedua adiknya serta mencari kebahagiaannya sendiri. Begitu tersadar dari mimpinya, ia menemukan Khali yang terlelap di samping tempat tidurnya sambil menggenggam tangannya.
Setelah melepaskan perban yang melilit wajahnya, mata kiri Tatiana yang memiliki warna hijau tua Jade jika dibandingkan warna mata aslinya yang berwarna hijau muda rerumputan terlihat kontras tapi justru itu membuat matanya terlihat unik, tapi sayangnya luka yang melintasi mata kirinya meninggalkan bekas sehingga Yasmine meminta Bihan dan Khali agar bekas luka yang melintasi mata kirinya ditutupi dengan tatto kupu-kupu Ageha di sekitar mata kirinya.
Yasmine mengenakan kostum penari berwarna merah maroon dengan renda emas dan korsase bunga di tepi rompi bagian atas yang hanya menutup sebagian dada dan lengannya tertutup oleh panjang lengan baju berbentuk kimono, sementara rok berenda yang dikenakan Yasmine memiliki lipitan yang memanjang dari paha hingga kaki. Dengan kostum dan penampilan yang baru, ia mengganti namanya dengan nama aslinya, Yasmine dan ia mendapatkan nama julukan 'Hanatsuki' yang dikenal sebagai rekan 'Gin Oni', sang iblis perak.
Setelah menata rambutnya dengan mengikatnya ala pony tail, Yasmine beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Khali dan Bihan yang sudah menunggunya "aku takkan menangis lagi... Tatiana, Anna, Tasya, tunggulah... aku pasti akan menuntut balas atas kematian kalian bertiga... takkan kubiarkan kematian kalian bertiga menjadi sia-sia... meski kalian bertiga tak menginginkan ini, aku akan membuat penyelesaian dengan Karma, meskipun itu harus dibayar dengan nyawaku...".
