SAVE THE SECRET © azalea supasuna

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto. Saya cuma minjem

Warning : OOC,gaje,typo,alur lambat,bahasa kacau,minim diksi,dkl

Genre : Drama,romance,etc

Rate : T

Pairing : SasuHina

RnR,please !

(Mohon maaf jika terdapat kesamaan cerita. Inspirasi saya banyak. Tetapi ini murni karya saya)

.

.

.

Hyuuga Hinata dan hidupnya yang biasa-biasa saja berubah, ketika seorang Uchiha Sasuke tinggal di rumahnya dan mengacaukan segalanya.

.

.

.

Chapter 4

Hari Selasa semua tampak biasa. Hinata yang sudah tahu bahwa Sasuke akan tinggal di rumahnya hanya bisa menerima dengan lapang dada. Yah, walaupun masih ada sedikit syok yang melanda.

"Hinata, apa kau baik-baik saja ?" Tanya Tenten khawatir melihat keadaan Hinata yang sedikit pucat

"Ah, a-aku tidak apa-apa Tenten-chan. Hanya sedikit pusing" ujar Hinata

"Apa perlu aku antar ke UKS ?" tawar Tenten

"Ti-tidak usah. Nanti pusingnya juga akan hilang sendiri kok" tolak Hinata

"Kalau begitu aku tinggal dulu ya ? Aku harus berkumpul di aula. Biasalah, lomba karate" kata Tenten. Ia ini memang atlet karate kebanggan KHS. Hampir semua lomba karate yang ia ikuti selalu mendapat juara pertama.

"Hu-um. Aku akan di sini saja" jawab Hinata

"Baiklah kalu begitu. Aku pergi dulu. Jaa Hinata"

"Jaa Tenten-chan" Hinata melihat Tenten melambaikan tangan ke arahnya. Ia balas melambai.

Kemudian ia mengarahkan pandangannya ke sekeliling kelas. Ini jam istirahat. Jadi hanya ada beberapa siswa yang berada di dalam kelas, termasuk dirinya. Ada Shikamaru yang tidur di pojokan, Chouji yang sibuk dengan keripik kentangnya dan Ice Prince KHS yang sedang memainkan ponsel.

Merasa diperhatikan, Sasuke mengangkat kepalanya yang menunduk. Ia menemukan Hinata sedang menatapnya. Hinata yang ketahuan sedang menatap Sasuke buru-buru menghadap ke depan kemudian menunduk. Sasuke menyeringai melihatnya. Ia ingat sekarang. Teman sekelasnya yang bermarga Hyuuga adalah gadis tadi. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu berjalan ke depan. Ia akan sedikit 'mengintrogasi' gadis itu.

"Hyuuga Hinata" ucap Sasuke datar setelah sampai di depan meja Hinata

"Y-ya ?" Tanya Hinata yang masih menunduk, sambil sesekali melirik Sasuke melalui poni tebalnya

"Mata ku di atas sini Hyuuga. Bukan di bawah lantai" kata Sasuke sinis

"Eh ?" seketika Hinata mendongak dan menatap tepat pada manik onyx Sasuke. Blush. Wajah Hinata memerah. Ia kembali menunduk.

"Ck," Sasuke berdecak kesal. Ia kemudian menagkup kedua pipi Hinata

"Lihat wajahku Hyuuga"

Wajah Hinata merah merona seperti tomat kesukaan Sasuke. Ia mencoba menunduk kembali, tetapi tidak bisa karena tangan Sasuke masih menahannya.

"Ini akan ku lepas. Tetapi jangan menunduk lagi. Tatap aku ketika aku sedang bicara" setelah mendapat anggukan tanda persetujuan dari Hinata, Sasuke melepas telapak tangannya dari kedua pipi Hinata. Dan sesuai janjinya tadi, Hinata kini tengah menatap Sasuke disertai semburat merah yang masih ada di pipinya.

"Kau dari klan Hyuuga bukan ?" Tanya Sasuke datar.

Sasuke, bukankah namanya Hyuuga Hinata? Sudah jelas kan kalau dia itu dari kalan Hyuuga ? Tapi dasar Hinata. Ia hanya mengangguk membenarkan.

"Lalu, apa hubunganmu dengan Hyuuga Hiashi ?" tubuh Hinata menegang. Keringat mulai muncul di sekitar pelipisnya.

"Hyu-yuga Hiashi itu…-glek- a-ayahku" jawab Hinata mencicit

Kalau saja Sasuke punya masalah dengan pendengaran, mungkin ia tidak akan mendengarnya.

"Kau sudah tahu bahwa aku akan tinggal di rumahmu ?"

"I-iya" jawab Hinata gagap

"Dan kau menyetujuinya ?" tanya Sasuke sinis

"Hu-um. Kan yang tinggal disana bukan hanya aku saja"

"Jadi, kau hanya ingin tinggal berdua denganku saja, eh ?" ucap Sasuke seraya menyeringai

"A-ah, ti-tidak. Bu-bukan begitu…"rona merah kembali hadir di wajah Hinata. Karena terlalu malu, ia hanya bisa menunduk.

"Bukankah ku bilang agar kau tidak menunduk, Hyuuga ?" namun hinata terlalu malu untuk mengangkat kepalanya

"Ck, keras kepala" mengabaikan Hinata yang tetap menunduk, Sasuke berbicara.

"Aku ingin kita membuat kesepakatan" mendengar kata kesepakatan membuat Hinata mendongak dan memiringkan kepala tanda tak mengerti.

Hah, walaupun malas, Sasuke harus menjelaskannya kepada gadis ini.

"Aku ingin kau merahasiakan tentangku yang tinggal di rumahmu, dan aku akan tetap menjaga rahasiamu"

Hinat bingung. Seingatnya ia tidak pernah memberitahukan rahasianya kepada Sasuke. Melihat Hinata yang sedang mengingat keras, Sasuke menyeringai.

"Kau tidak mau kan, kalau aku memberitahu pada Naruto perasaanmu yang sebenarnya ?"

Hinata membelalakkan mata.

'Dari mana ia tahu ?!' batin Hinata menjerit panik

"Hanya sekali lihat saja semua orang juga tahu kalau kau menyukai si baka Dobe itu" kata Sasuke datar

"Ja-jangan menjelek-jelekkan Naruto-kun seperti itu !" Hinat menggembungkan pipi kesal

"Well, it's up to you. Jika fans -gila- ku tahu aku tinggal di rumahmu, kira-kira apa yang akan terjadi ya ?" Sasuke mengeluarkan smirk devilnya.

Hinata mulai membayangkan dirinya dibully habis-habisan oleh SasuFC. Disuruh ini-itu, dibentak, dikerjai, dan hal-hal mengerikan lainnya. Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak mau itu terjadi.

"Ba-baiklah. A-aku setuju. Tapi jangan katakan perasaanku pada Naruto-kun. Onegai !"

"Hn" Hinata tidak mengerti arti gumaman Sasuke. Hn itu iya atau tidak ?

"Jadi ?" Tanya Hinata memastikan sambil mengulurkan tangan

"Deal"

Mereka saling berjabat tangan tanda dimulainya sebuah kesepakatan yang hanya diketahui mereka berdua. Ups, mereka melupakan Shikamaru yang ternyata pura-pura tertidur dan mendengarkan percakapan mereka. Chouji ? Lupakan. Dia terlalu sibuk dengan keripik kentang dan komik yang ada di tangannya.

.

.

.

Jam 5 pagi Hinata sudah bangun. Ia berencana berangkat ke sekolah pagi-pagi. Biarlah ia nanti menunggu di depan gerbang. Asal tidak bertemu Sasuke yang akan datang hari ini, ia rela melakukannya.

Setelah menata tempat tidur Hinata bergegas turun ke bawah. Ia menuju dapur untuk memasak sarapan dan membuat bento untuknya dan Hanabi. Selesai memasak ia menata sarapannya di meja makan. Menatap puas sarapan yang dibuatnya, Hinata kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap ke sekolah.

Hikari yang baru bangun tidur dan ingin memasak terkejut saat mendapati meja makan sudah tersedia sarapan.

'Pasti Hinata yang memasaknya' batin Hikari sambil tersenyum lembut

.

.

.

Tok tok tok

Terdengar suara ketukan pintu di depan sebuah kamar.

"Sasuke, bangun! Nanti Tou-san dan Kaa-san terlambat !" teriak Mikoto sambil menggedor-gedor pintu kamar anak bungsunya.

Sasuke yang mendengar teriakan Kaa-sannya malah menutup kepalanya dengan bantal. Mencegah suara yang merusak gendang telinganya.

Merasa gedoran yang dilakukan Kaa-sannya semakin kencang dan beruntun, Sasuke menyerah.

"Arghhhh. Siaal" teriak Sasuke yang teredam bantal

Ia kemudian terduduk sambil membanting bantalnya ke samping, lalu berjalan ogah-ogahan menuju pintu.

Cklek

"Ada apa Kaa-san ?" Tanya Sasuke malas

"Astaga Sasuke, bukankah kemarin Kaa-san sudah bilang agar kau bangun lebih pagi ?!" Mikoto memarahi Sasuke sambil berkacak pinggang

"Hn"

Sebenarnya Sasuke ingat titah Kaa-san'nya itu. Tapi ia terlalu malas untuk bangun mengingat alasannya adalah pergi ke kediaman Hyuuga.

"Kau tidak mau kan keluarga Hyuuga menunggu kita terlalu lama ? Keluarga Hyuuga itu selalu menjunjung tinggi kedisiplinan, Sasuke" Mikoto menceramahi Sasuke

'Biar saja menunggu. Buat mereka kesal dan melarangku tinggal di rumahnya' cibir Sasuke dalam hati.

Melihat anaknya yang tidak merespon, Mikoto menghela nafas panjang.

"Lebih baik kau cepat mandi dan bersiap. Kaa-san tunggu setengah jam lagi" Mikoto meninggalkan Sasuke yang masih terdiam.

Sasuke menutup pintu dengan cara membantingnya. Kemudian terduduk di pinggir ranjang merenungi nasib. Sampai…

"SASUKE !" teriak Mikoto dari bawah.

Sasuke terkejut hampir terjengkang. Segera ia menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Daripada ia nanti dikutuk jadi batu ?

.

.

.

Setelah keluar dari kamar mandi dan sudah wangi, Sasuke turun ke bawah menghampiri Fugaku dan Mikoto yang sedang menanti.

"Sudah siap Sasuke ?" Tanya Mikoto memastikan

"Hn"

"Jangan lupa kopermu !" Fugaku mengingatkan. Sasuke menyeret kopernya dengan wajah masam.

Sampai di halaman mereka sudah sudah ditunggu oleh Kabuto.

"Fugaku-sama, mobil anda dan tuan Sasuke sudah siap" ujar Kabuto

"Hn. Kami pergi dulu. Jika Sasuke mampir biarkan. Tetapi jangan biarkan ia menginap" perintah Fugaku kepada Kabuto.

"Baik, Fugaku-sama"

Sasuke mendelik tidak suka. Masa tidur di rumah sendiri dilarang ?!

"Jaga rumah baik-baik Kabuto-san. Ayo Sasuke-kun" ajak Mikoto

Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping suaminya. Sedangkan Sasuke sendiri masuk ke dalam mobil sportnya. Sesuai perjanjian, fasilitas Sasuke tidak jadi disita. Oleh karena itu ia akan membawa mobil sportnya ke kediaman Hyuuga. Ia yakin kediaman Hyuuga mempunyai garasi mobil yang luas. Yah, walaupun ia harus rela meninggalkan motor kesayangannya di rumah.

Ia mengikuti mobil Fugaku yang berjalan di depan. Ia harap hidupnya setelah ini tidak akan merepotkan. Sabar Sasuke, hanya sebulan. Ya, hanya sebulan.

.

.

.

Hinata keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan seragam sailornya. Ia menyisir rambut panjangnya dan menyematkan jepit kecil yang mempermanis penampilannya. Kemudian ia menyambar tas sekolah di atas meja belajar lalu bergegas turun.

Di bawah ternyata sudah ada keluarganya yang berpakaian rapi. Ia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Masih jam 6.30 pagi. Hinata menuruni tangga dan ikut bergabung di ruang keluarga.

"Kenapa semua sudah rapi begini ?" Tanya Hinata heran

"Jelas dong. Kita kan mau menyambut keluarga Uchiha" jelas hanabi bangga

Aduh, Hinata lupa rencana menghindari Uchiha yang sudah tersususn di kepala. Tanpa membalas perkataan Hanabi, ia berjalan menuju dapur mengambil bento miliknya dan Hanabi. Kemudian ia kembali ke ruang keluarga.

"Hanabi-chan, ini bento milikmu" ucap Hinata sambil memberikan bento Hanabi. Setelahnya ia memasukkan bento miliknya ke dalam tas.

"Tou-san, Kaa-san, Hinata pamit dulu ya ?"

"Sebentar lagi keluarga Uchiha akan datang Hinata. Lebih baik kau tunggu saja dulu" nasehat Hikari. Hiashi sibuk dengan laptop di depannya.

"Ta-tapi Kaa-san a-aku ada jadwal pi-piket" Hinata merasa bersalah karena sudah membohongi Kaa-san'nya.

Tapi bukankah berbohong demi kebaikan –diri sendiri- diperbolehkan ?

"Bukankah jadwal piket Nee-chan hari Selasa ?" Tanya Hanabi curiga

"A-ah, i-itu…" Hinata kehabisan kata. Hanabi semakin memicingkan mata.

"I-itu, karena a-aku harus…"

TING TONG

"Ah, a-aku harus membukakan pintu. Ya, buka pintu. Hahaha" Hinata tertawa canggung sambil berlari kecil menuju pintu depan.

Hiashi dan Hikari geleng-geleng kepala. Hanabi cekikikan melihatnya. Dan mereka semua tahu alasan Hinata melakukannya.

TING TONG

Bel ditekan sekali lagi

"I-iya tunggu sebentar"

Cklek. Kunci pintu diputar. Hinata melihat tiga orang berdiri di depannya. Dan ia mengenal salah satu dari ketiganya. Ia adalah Uchiha Sasuke yang berdiri paling belakang dan memasang wajah garang.

"Siapa Hinata ?" Tanya Hikari yang datang tiba-tiba

"Eh, eto…" melihat Hinata yang kebingungan, Hikari melihat keluar dan memekik kaget

"Astaga, hinata ! Mereka itu keluarga Uchiha. Kenapa tidak disuruh masuk ?" Hinata hanya menunduk.

"Ayo silahkan masuk"

"Tidak usah Hikari. Kami hanya ingin mengantar Sasuke-kun saja" jelas Mikoto

Sasuke membungkukkan badan kepada Hikari dan menatap tajam Hinata. Hinata buru-buru bersembunyi di balik punggung Kaa-san'nya.

"Ini putri sulungku, Hinata" ucap Hikari sambil menarik Hinata dari balik punggungnya.

Hinata membungkukkan badan sambil tersenyum gugup.

"Wah, putrimu sudah besar Hikari. Terakhir kami melihatnya waktu umur 4 tahun. Sekarang sudah cantik begini" piji Mikoto

"Cocok jadi mantu Kaa-san kan Sasuke ?" Hinata merona. Sasuke memutar bola mata

"Aduh imutnya" Mikoto maju sambil menjewer pipi Hinata

Hanabi dan Fugaku muncul dari dalam karena menunggu Hikari dan Hinata yang tidak kunjung kembali.

"Fugaku"

"Hiashi"

Kedua Tou-san ini saling berjabat tangan

"Ini putri bungsu kami. Namanya Hyuuga Hanabi" ucap Hiashi

"Ohayou Jii-san, Baa-san" sapa Hanabi kemudian membungkuk

"Yang ini persis copy-an Hiashi" Mikoto takjub

Hanabi melihat sosok tinggi tampan yang ia yakini sebagai Sasuke. Ia menyenggol-nyenggol Hinata. Hinata pura-pura tidak tahu.

"Maafkan kami karena merepotkanmu"

"Tidak apa-apa. Jika aku yang sedang ada urusan mendadak mungkin aku juga bisa menitipkan Hinata ke rumahmu"

Sasuke dan Hinata saling lirik, dan kemudian membuang muka.

Fugaku melirik jam tangannya.

"Maaf Hiashi, aku tidak bisa berlama-lama. Kami harus mengejar penerbangan"

"Apa tidak bisa masuk sarapan dulu ?" tawar Hikari

"Maaf Hikari, kami sudah hampir terlambat" sesal Mikoto

"Baiklah kalau begitu" Hikari dan Mikoto saling berpelukan

"Kami titip Sasuke. Jika dia salah jangan ragu untuk menghukumnya"

"Hm. Tentu"

"Dan kau Sasuke, turuti semua perkataan keluarga Hyuuga dan jangan buat masalah" petuah Fugaku

"Baik-baiklah dengan Hinata" kalian pasti tahu ini suara siapa

"Ciee" Sasuke dan Hinata kompak mendelik pada Hanabi

"Kami pergi dulu"

"Hati-hati di jalan"

Fugaku dan Mikoto masuk ke dalam mobil. Fugaku sudah siap menjalankan mobilnya saat Mikoto tiba-tiba berteriak sambil melongok ke luar.

"Titip Sasuke-kun ya, Hinata-chan !"

Hinata mengagguk disertai semburat merah. Sasuke memasang wajah datar.

Setelah menunggu tanda-tanda istrinya yang tidak akan berteriak lagi, Fugaku mulai menjalankan mobilnya. Ia menekan klakson dan mengangguk pada keluarga Hyuuga yang melambaikan tangan, dan memberi tatapan kepercayaan pada Sasuke.

Setelah mobil Fugaku hilang dari pandangan, keluarga Hyuuga plus Sasuke masuk ke dalam rumah.

"Hinata, tolong tunjukkan Sasuke ke kamar atas" ujar Hikari

"Ta-tapi Kaa-san, i-itukan kamar Ne-neji-nii" bela Hinata

"Tidak apa-apa Hinata. Neji baru akan datang hari Senin. Biarkan Sasuke tidur di atas" perintah Hiashi

"Kami tunggu di ruang makan. Membereskan pakaiannya nanti saja sepulang sekolah" nasehat Hikari

Hinata mengangguk patuh. Ia berjalan di depan Sasuke yang kini menaiki tangga sambil menenteng koper. Sampai di depan kamar Neji ia berhenti.

"Ini kamarnya Uchiha-san" ucap Hinata sambil membukakan pintu kamar.

Sasuke masuk kedalam kamar. Ia meletakkan kopernya di samping almari.

"Siapa itu Neji ?"

"I-ia kakak sepupuku"

"Hn. Setelah pulang sekolah kau yang harus membereskan semua bajuku" perintah Sasuke

"A-aku ?" Hinata menunjuk dirinya

"Hn"

"Ke-kenapa aku ?" Hinata bingung. Inikan baju Sasuke, kenapa harus ia yang membereskan ?

"Kau mau aku memberitahu Naruto ?"

"Tidak !" Hinata panik. Dengan terpaksa ia harus menuruti Sasuke.

"Pintar" Sasuke mengacak pelan rambut hinata kemudian turun begitu saja.

Sedangkan Hinata masih mematung sambil memegang puncak kepalanya.

'Ta-tadi itu apa ?' semburat merah mulai muncul di kedua pipinya

"Oi" Hinata tersentak. Buru-buru ia mengikuti Sasuke yang ada di depannya.

.

.

.

Selesai sarapan Hikari meminta Hinata untuk berangkat sekolah bersama Sasuke.

"Tidak usah Kaa-san. A-aku bisa naik bus kok"

"Kalau harus menunggu bus, nanti kau terlambat Hinata" ucap Hiashi

"Ba-bagaimana kalau a-aku diantar Tou-san saja ?"

"Tidak bisa ! Nanti malah aku yang terlambat " Hanabi memprotes

"Kau tidak keberatan kalau Hinata berangkat bersamamu'kan, Sasuke ?" Tanya Hikari penuh harap

"Hn" Hiashi mendelik

"Ma-maksudku iya. Tidak apa-apa" Sial !

Gagal sudah rencana Hinata menghindari Sasuke pagi ini.

.

TBC

.

.

.

A/N : capek! (lihat atas)

Thank you for ranmiablue, Sabaku no Yanie, and TheTomatoShop yang udah review di chap kemarin.

Tetep ditunggu kritik,saran dan masukan untuk chapter ini.

HAPPY BIRTHDAY SASUKE-KUN ! Moga langgeng sama Hinata sampai ajal memisahkan. He he he

Arigatou

Sup