Chapter 38 – Last Winter in Gujarat Kingdom
Musim dingin terakhir di kerajaan padang pasir
Padang pasir yang gersang seolah memanggang di siang hari
Padang pasir yang dingin seolah membekukan tulang di malam hari
Kini harus ia tinggalkan dan mungkin untuk selamanya
.
Winter Arc
.
Tepatnya di awal musim dingin, Khali dan Bihan kembali ke ibukota untuk membawa Yasmine ke kuburan mendiang Azurite yang meninggal akibat jatuh sakit. Keduanya tiba-tiba berhenti di depan tebing batu dimana mereka bisa melihat air terjun, tempat yang biasa dijadikan tempat istirahat para pengelana karena padang bunga itu berada di dekat Oasis.
"kau mau apa?" tanya Yasmine saat Khali menurunkannya di depan tebing.
Khali memegang wajah Yasmine dan mengadu dahi "sorot matamu seolah berkata kematian adik-adik angkatmu dan mendiang ayah angkatmu, Azurite adalah karena dirimu... atau apa? kau masih menyesal dan menyalahkan dirimu karena sempat mencintai pria yang membunuh adik-adikmu?".
"bukankah itu pantas kudapatkan? sepertinya aku memang punya bakat untuk membuat orang terdekatku sengsara..." ujar Yasmine tersenyum dengan ekspresi menahan pahit "Khali, apakah aku memang tak bisa bahagia? meskipun begitu, tak masalah karena itu bisa kuterima... sebab aku memang tak pantas bahagia...".
"baiklah... jika aku mati disini setelah jatuh dari jurang, apa itu akan jadi salahmu juga?" ujar Khali berjalan ke arah tebing sambil membelakangi Yasmine.
"apa? tung...".
Saat Khali benar-benar terjun ke bawah jurang itu, Yasmine spontan berlari menghampirinya, menangkap tangannya "TIDAK!?".
Dengan mudahnya, Khali menjadikan tebing di depannya sebagai lonjakan bagi kakinya dan mendarat di samping Yasmine "lihat? Kau ada disini saat aku hampir jatuh ke jurang dan kau berhasil menolongku... kau tak ada disana saat Karma membunuh adik-adimu dan kau tidak pernah menginginkan itu terjadi pada mereka, kan? Jangan berangaapan bahwa hal buruk yang menimpa orang terdekatmu sebagai salahmu, kau tak seharusnya merasa bertanggung jawab atas apa yang tak kau inginkan terjadi pada orang lain...".
"kau... hanya untuk mengatakan hal itu padaku, kau sengaja terjun dari sini... kalau kau mati, bagaimana?! jangan bercanda?!".
"menurutku, tak ada orang yang tak pantas bahagia, putri Yasmine...", Khali memegang kedua wajah Yasmine yang berlinang air mata "jika kau tetap merasa bersalah pada mereka, tetaplah hidup, tuan putri... tetaplah hidup sebagai ungkapan terima kasihmu pada mereka, kau harus tetap hidup meski dengan rasa ingin mati... dengan begitu, kenangan tentang mereka akan tetap ada dan mereka akan tetap hidup dalam dirimu karena seseorang yang telah mati hanya akan meninggalkan nama dan kenangan, mereka yang telah mati hanya bisa hidup dalam diri orang lain sebagai kenangan".
"tertawalah, aku merasa diriku bodoh sekali, bisa-bisanya aku sempat berpikir bahwa aku jatuh cinta padanya".
"tak ada yang patut disalahkan karena selamanya perasaan tidak bisa disalahkan, putri... yang salah adalah kita yang mengemban perasaan itu, meski kita tahu itu tak seharusnya kita miliki, meski kita bisa memilih ingin mengembangkan perasaan itu atau membuangnya, kita baru menyesali jika hal yang berharga itu sudah hilang".
Yasmine mencengkram punggung Khali saat ia menangis di pelukan Khali "cinta pertamaku yang diakhiri dengan pengkhianatan, ibarat bunga di padang pasir nan gersang".
Setelah menyeka air mata Yasmine, Khali mengecup pelupuk mata dan dahi Yasmine "buang jauh-jauh ekspresimu yang tersenyum sambil berkata bahwa kau tak pantas bahagia... akulah yang akan menjadi keluargamu nanti...".
Sebelum Yasmine sempat menanyakan apa maksud ucapan Khali barusan, seseorang muncul di belakang mereka. Siapa yang menyangka kalau setelah berziarah ke kuburan Azurite dan pergi ke hutan terdekat untuk berburu, mereka berdua malah bertemu dengan Karma. Tanpa ragu, Yasmine menghunuskan pedangnya dengan hawa membunuh yang dahsyat.
Warna putihnya salju yang menyelimuti tanah ternodai oleh merahnya darah yang bercucuran dari luka di leher Karma, ia menatap Yasmine dengan sorot mata terluka, gadis di hadapannya ini benar-benar membencinya dan berniat membunuhnya, tapi itu wajar.
Yasmine melangkah maju dan menatap Karma penuh amarah, mengacungkan katana di tangan kirinya "aku percaya padamu, tapi kau khianati kepercayaanku... kenapa... kenapa kau bunuh adik-adikku, Karma?!".
"karena anda putri kandung Maya Hime... dengan status anda sebagai putri angkat, sangat kecil kemungkinan anda akan ditunjuk sebagai ratu... saya hanya mengakui anda, hanya anda yang pantas menjadi ratu kerajaan Gujarat... saya ingin anda yang menjadi ratu kerajaan Gujarat...".
"sudah cukup yang kudengar darimu..." ujar Yasmine tersenyum dengan mata berkaca-kaca "matilah...".
Sebelum Yasmine menusuk Karma dengan katana yang ia arahkan ke jantung Karma, Khali memeluk Yasmine dari belakang, menahan Yasmine dan menggenggam tangan kiri Yasmine "kurasa aku sudah bilang sebelumnya... jangan muncul lagi di hadapan putri Yasmine atau aku akan membunuhmu...".
"Khali, lepaskan aku..." ujar Yasmine.
"maaf, meski itu perintah anda, saya menolaknya... tolong berikan saja perintah padaku untuk membunuhnya, putri Yasmine..." pinta Khali.
Yasmine berbalik, mencengkram kerah jubah Khali dan mencium Khali, membuat Karma dan Khali terbelalak.
Karma yang naik darah melihat hal itu menghunuskan pedangnya "Khali, kau...!?".
Saat genggaman tangan Khali melonggar, Yasmine kembali melangkah maju, mengarahkan katana di tangannya untuk menusuk Karma tepat di jantungnya.
"putri Yasmine, hentikan!?" ujar Khali menghadang Yasmine dari depan saat Yasmine akan menusuk Karma sehingga katana itu menusuk pinggul Khali.
"kenapa menghentikanku..." ujar Yasmine melepaskan genggaman tangannya dari katananya karena terkejut dan memeluk Khali dengan air mata berlinang akibat shock "dia bukan orang yang pantas kau lindungi sampai harus mengorbankan tubuhmu, Khali?!".
"karena aku tak mau kau menanggung beratnya perasaan bersalah yang akan kau terima jika kau membunuhnya dengan tanganmu sendiri..." ujar Khali menyandarkan kepalanya ke bahu kecil Yasmine "atas kematian adik-adikmu yang terjadi... bukan karena tanggung jawabmu... kau merasa bersalah... apalagi jika kau membunuh Karma... dengan tanganmu sendiri... dan yang terpenting, aku tak ingin melihat... wanita yang kucintai mengotori tangannya sendiri...".
Saat tubuh Khali terkulai lemas, Yasmine menahan tubuhnya, mendekap erat kepalanya sambil mengacungkan katana di tangannya pada Karma "pergi dari sini sebelum aku membunuhmu, cepat!?".
Begitu banyak darah yang keluar dari tubuh Khali, Yasmine terkejut melihat warna rambut Khali yang perlahan berubah menjadi putih, sejak tadi ia menahan tubuh Khali yang terbaring di tanah sambil memegangi luka di pinggulnya dan saat Khali membuka kedua matanya, Yasmine merasa sedikit lega "Khali?! Kau tak apa-ap...".
Tiba-tiba, Khali mendorong Yasmine dengan menahan kedua tangan Yasmine yang terbaring di atas salju. Sambil mencengkram kedua tangan Yasmine, Khali menatap Yasmine intens. Melihat sorot mata yang tenang dari kedua mata Khali yang sebening riak air, Yasmine tak menyangka kalau Khali akan menggigitnya dan menghisap darahnya.
"Kha... kh..." erang Yasmine yang mencengkram kepala Khali dan berusaha melepaskan diri meski percuma karena ia kalah tenaga.
Di tengah kesadaran yang menipis akibat jumlah darah yang dihisap Khali dari tubuhnya serta rasa sakit yang tak tertahankan, Yasmine menyadari gemetar tubuh Khali serta napasnya yang tak beraturan. Keringat mengucur dari keningnya dan matanya yang merah kini menapat tajam Yasmine, tatapan hewan buas yang kelaparan. Semakin banyak darah Yasmine yang dihisap olehnya, Yasmine menyadari luka Khali sembuh dengan cepat meski Yasmine sendiri hampir pingsan.
Bihan yang tiba di sana terkejut saat melihat Yasmine hampir tak sadarkan diri, melihat tangan Yasmine terjatuh lemas ke tnaah, Bihan menendang Khali sekuat tenaga. Akibat tendangan itu, daging leher Yasmine yang digigit Khali ikut tercabik sehingga Yasmine memegangi lehernya yang mengucurkan darah sambil berusaha menahan rasa sakit. Ajaibnya, saat Yasmine melihat Khali akan terjatuh ke bawah jurang, Yasmine memegangi lehernya yang mengucurkan darah sambil berusaha menahan rasa sakitnya dan tanpa memedulikan lukanya, Yasmine melompat untuk meraih tangan Khali. Pada saat ia berhasil menggenggam tangan Khali, ia ikut terjatuh ke bawah jurang, meninggalkan Bihan yang meneriakkan nama keduanya dari atas dan mengira bahwa keduanya tak selamat.
Di bawah jurang, setelah luka di tubuhnya sembuh sempurna dan menemukan Yasmine yang tak bernyawa, pertama kalinya dalam hidupnya, Khali menangis dan putus asa sambil memeluk erat Yasmine.
"jangan mati, Yasmine...".
Khali menyeka air matanya dan meletakkan tubuh Yasmine di tanah. Khali mencabik dadanya dan memasukkan jantungnya ke tubuh Yasmine untuk menggantikan jantung Yasmine yang sudah tak berdetak melalui luka yang ia buat di punggung Yasmine. Punggung Yasmine mulai menutup perlahan setelah ia memasukkan jantungnya, membentuk tatto ular yang semula putih menjadi berwarna hitam. Setelah memberikan napas buatan pada Yasmine, Yasmine kembali bernapas dan Khali tak sadarkan diri. Mereka beruntung karena Kayano yang saat itu sedang bersama si kembar Mizuki dan Kyouka menemukan mereka berdua.
Saat Khali sudah sadar, ia melihat Kyouka keluar kamar untuk memanggil Mizuki.
"aku tahu 'daun' memang memiliki spesialisasi mentransplantasi organ manusia pada dirinya sendiri atau orang lain, termasuk 'bunga'... tapi baru kali ini kulihat 'daun' yang memberikan jantungnya sendiri pada 'bunga'... kau memang tak sayang nyawa, ya?", Mizuki yang duduk di samping Khali beranjak setelah memeriksa keadaan Khali dan memastikan kalau Khali baik baik saja, terlepas dari kenyataan bahwa jantungnya kini sudah tak ada di tubuhnya lagi "kau masih bisa bertahan hidup untuk beberapa saat setelah kehilangan jantungmu, tapi aku tak tahu sampai kapan kau bisa bertahan...".
Khali tersenyum, ia sudah tahu resiko itu sejak ia menyerahkan jantungnya pada Yasmine.
Kayano berjaga di samping Yasmine yang saat ini tertidur lelap berkat efek obat bius. Saat ia sadar, Yasmine mengulurkan tangannya ke arah pintu masuk "...Khali".
Kayano langsung menoleh dimana Khali berdiri di balik pintu "Khali, masuklah...".
Saat Khali mendekat dan duduk di sampingnya, Yasmine menggenggam erat tangan Khali dan tersenyum lemas "syukurlah... aku mimpi... mimpi kau menghilang... dan tak bisa kutemukan dimanapun... tak peduli seberapa keras aku berusaha mencarimu...".
"...aku ada disini, tenang saja..." ujar Khali tersenyum lembut dan mengecup tangan Yasmine.
"jangan menghilang... dari sisiku..." pinta Yasmine.
"baik, aku takkan kemana-mana... selamat tidur..." ujar Khali mengecup kening Yasmine dan menghela napas saat Yasmine tertidur "...pada saat dia bangun, aku berpikir untuk mengatakan salam perpisahan dan berkata... jangan temui aku lagi setelah ini atau aku akan membunuhmu, ...begitu, tapi jika ia malah maju duluan seperti tadi... bagaimana aku bisa pergi dari sisimu, dasar bodoh...".
Kayano menjitak kepala Khali sekuat tenaga "kau memang bodoh... kau sudah tahu apa yang akan terjadi jika terjalin hubungan di antara kalian berdua, yang seharusnya tak boleh menjalin hubungan... antara mangsa dan pemburu, hanya ada dua pilihan yang tersisa... mangsa dimakan oleh pemburu atau si pemburu mati kelaparan karena tak ingin membuat mangsanya mati...".
Mendengar ucapan Kayano, Khali hanya diam sehingga Kayano menghela napas.
"aku tak menyalahkanmu atau tuan putri atas apa yang kalian berdua rasakan satu sama lain... hanya saja, perasaan itu bisa membunuh salah satu di antara kalian. Setelah melihat apa yang terjadi, aku beranggapan antara kau dan tuan putri, siapapun yang perasaannya lebih besar akan mati lebih dulu karena mengorbankan dirinya... tadinya kupikir jika hal itu terjadi pada tuan putri yang merelakan dirinya menjadi mangsamu demi menghentikan rasa sakitmu, aku takkan memaafkanmu dan akan kupastikan kau mati di tanganku jika nyawa tuan putri melayang akibat ulahmu...", Kayano menghela napas sebelum menunjuk dada Khali yang diperban "tapi sekarang, apa yang harus kulakukan? Jika tuan putri tahu kalau kau...".
"karena itu, rahasiakan ini darinya, Kayano... kumohon...".
Kayano hanya bisa mengiyakan permintaan Khali.
Setelah keduanya selamat, keduanya memutuskan untuk pergi ke kerajaan Kouka agar mereka bisa mencari keluarga Yasmine yang mungkin masih hidup sekaligus memancing Karma pergi dari kerajaan Gujarat.
"apa kau akan tetap ikut denganku?".
"pertanyaan bodoh... tentu saja aku akan ikut denganmu, kemanapun kau pergi, putri Yasmine".
"tertawalah, aku merasa diriku bodoh sekali, bisa-bisanya aku sempat berpikir bahwa aku jatuh cinta padanya" ujar Yasmine terkekeh sebelum memalingkan wajahnya dari Khali dan menatap langit "tanpa kusadari, kalau kau selama ini selalu ada belakangku".
"tak ada yang patut disalahkan karena selamanya perasaan tidak bisa disalahkan, tuan putri... yang salah adalah kita yang mengemban perasaan itu, meski kita tahu tak seharusnya perasaan itu kita miliki, meski kita bisa memilih ingin mengembangkan perasaan itu atau membuangnya, kita tetap memilih untuk mengemban perasaan itu karena mungkin kita tak ingin menyesal jika hal yang berharga itu hilang" ujar Khali memeluknya dari belakang "kau tak bisa disalahkan karena tak menyadari perasaanku sebab aku juga berusaha menyembunyikannya darimu, karena aku terlalu takut kalau hubungan kita akan berubah setelah kau tahu perasaanku... tapi melihatmu hampir kehilangan nyawa, jika bukan karena mereka bertiga yang menemukan kita, membuatku takut dan menyesal... jika terlambat, aku akan kehilanganmu dan seharusnya aku jujur sejak awal...".
"kukira kau akan menghindariku?".
"aku memang merasa bersalah atas apa yang terjadi, dan aku sempat berniat untuk pergi dari sisimu tapi kau memintaku untuk tetap berada di sisimu sehingga aku menyadari... aku tak bisa pergi dari sisimu karena aku sudah terlanjur cinta mati padamu...", Khali memegang perban di leher Yasmine yang tersembunyi di balik selendangnya "maafkan aku...".
Yasmine menoleh ke belakang, selalu saja Khali bisa mengatakan sesuatu yang bisa melegakan hatinya, semudah ia membuat Yasmine menangis, semudah itu pula bagi ia membuat Yasmine kembali tersenyum. Khali mendekatkan wajahnya ke wajah Yasmine sebelum bibir keduanya kembali bertemu di bawah langit bersalju.
