SAVE THE SECRET © azalea supasuna
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto. Saya cuma minjem
Warning : OOC,gaje,typo,alur lambat,bahasa kacau,minim diksi,dkl
Genre : Drama,romance,etc
Rate : T
Pairing : SasuHina
RnR,please !
(Mohon maaf jika terdapat kesamaan cerita. Inspirasi saya banyak. Tetapi ini murni karya saya)
.
.
.
Hyuuga Hinata dan hidupnya yang biasa-biasa saja berubah, ketika seorang Uchiha Sasuke tinggal di rumahnya dan mengacaukan segalanya.
.
.
.
Chapter 5
Hari Kamis berjalan manis. Tetapi tidak untuk Hinata yang malah ingin menangis.
Bagaimana tidak ? Tadi pagi ia menerima tamu menyebalkan yang tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Sasuke. Dan saat pergi ke sekolah tadi, dengan teganya Sasuke menurunkannya 200 meter dari gerbang sekolah. Katanya sih, biar tidak ada yang melihat. Kenapa tidak sekalian satu kilo saja ?! Alhasil ia tadi berjalan kaki menuju sekolah. Untung saja bel masuk masih 10 menit lagi.
"Hinata !" merasa namanya dipanggil, Hinata menoleh dan menemukan Ino dan Sakura berlari memasuki gerbang sambil melambaikan tangan kepadanya.
"Mau ke kelas ya ? Kita bareng dong !"
"Boleh" Hinata tersenyum menyetujui
Selama perjalanan ke kelas, Ino dan Sakura berceloteh ria. Hinata hanya menjadi pendengar yang sesekali berkomentar atau tertawa ketika mereka melempar gurauan.
Tiba-tiba Ino yang berjalan di tengah merangkul Hinata dan Sakura.
"Kalian berdua, pulang sekolah nanti ke rumahku ya ?"
"Memangnya ada apa Pig ?" Tanya Sakura
"Nanti malam aku dan Shikamaru akan pergi kencan! Kalian tolong pilihkan baju untukku ya ?" pinta Ino memelas.
"Hah ? Bukankah ia sedang berhibernasi ?" Tanya Sakura dengan nada mengejek. Ino memukul lengan Sakura gemas.
"Kami sudah merencanakan ini dari seminggu yang lalu tahu ! Dia tidak akan berhibernasi" balas Ino kesal
"Kenapa kalian tidak kencan malam minggu saja ?" Hinata menyatakan pendapat
"Kata Shikamaru kencan di malam minggu itu merepotkan. Akan ada banyak pasangan yang memenuhi tempat kencan" jelas Ino
"Jadi kau lebih memilih kencan di malam Jumat, eh ?" ledek Sakura
"Biar saja. Yang penting aku pergi kencan" jawab Ino melengos
Hinata dan Sakura tertawa melihatnya
"Jadi bagaimana ? Kalian bisa kan ?" Tanya Ino penuh harap
"Tentu saja kami bisa. Iyakan Hinata ?"
Hinata akan mengiyakan ajakan kedua temannya itu kalau saja ia tidak mengingat sesuatu.
"Ah, maafkan aku Ino-chan. A-aku tidak bisa" Hinata berkata penuh penyesalan
"Memangnya kenapa Hinata ?" kepo Sakura
"Ano, a-aku harus menjaga rumah"
'Dari tangan usil Uchiha-san' imbuh Hinata dalam hati
"Yah, tidak seru dong kalau hanya aku dan Sakura saja !" keluh Ino
"Ah, aku punya ide. Ba-bagaimana kalau kalian mengajak Tenten-chan saja" usul Hinata
"Baiklah. Itu lebih baik daripada hanya berdua" Ino menyetujui usulnya.
Saat memasuki kelas, Hinata mengarahkan pandangannya pada bangku Sasuke. Tetapi ia tidak menemukan Sasuke di sana.
'Mungkin ia sedang bersembunyi dari fansnya' batin Hinata
.
.
.
KRINGG…
Bel tanda usai pelajaran berbunyi. Jika bagi siswa lain bel ini tanda kebebasan, lain bagi Hinata yang mengangap bel ini tanda kesengsaraan. Karena, jika ia tadi pagi berangkat dengan Sasuke, maka ia harus pulang dengan Sasuke juga.
Semua siswa mulai meninggalkan kelas setelah Hiruzen sensei keluar.
"Duluan ya,Ta !" Ino dan Sakura keluar kelas sambil menyeret Tenten yang memasang wajah memelas.
Di bangku belakang, Naruto sedang memberi salam perpisahan pada Sasuke. Sebagai sahabat dari orok, ia tahu kebiasaan Sasuke yang pulang sekolah setelah suasana sekolah sepi. Biasalah, resiko jadi orang ganteng.
Tapi hari ini ia tidak bisa menemani Sasuke pulang. Ia harus mengantar Kaa-san'nya pergi ke rumah Miko Baa-san. Tidak tahu saja ia kalau Sasuke tinggal di rumah Hinata. Baguslah ia pulang duluan.
Saat melewati Hinata, Naruto berpamitan padanya. Hinata hanya mampu mengangguk tanpa kata dengan semburat merah yang kentara.
Sepeninggal Naruto, suasana kelas benar-benar sepi. Hanya ada Hinata yang sibuk memainkan kedua jari telunjuk di depan dada, dan Sasuke yang memainkan ponsel dengan headphone yang menempel di kepala.
5 menit
Hinata masih sabar. Sasuke belum sadar.
15 menit
Hinata menoleh ke belakang dan mendapati Sasuke masih asik dengan ponselnya.
'A-apa aku pulang sendiri saja ya?' Hinata ragu
'Lie. A-aku harus menunggunya' Hinata geleng-geleng kepala.
27 menit
Sasuke yang merasa lehernya sudah pegal mulai mengangkat kepala. Ia melepas headphone dan mengalungkannya pada leher.
Dilihatnya Hinata masih duduk manis di bangkunya. Ia kira Hinata akan kesal dan pulang sendiri. Ternyata tebakannya salah.
'Dasar gadis penurut' batin Sasuke dalam hati.
Ia mengecek jam di ponselnya. Gawat ! Sudah hampir setengah jam ia dan Hinata berada di kelas. Bisa-bisa ia dibunuh Hiashi karena pulang telat.
Sasuke bangkit dari bangkunya kemudian menyampirkan tas ranselnya pada salah satu bahu.
Disaat yang sama Hinata kembali mengecek jam tangan mungilnya. Ia menyerah. Ia akan pulang sendiri. Biar saja sasuke dimarahi Tou-san'nya. Biar dia tahu rasa !
Saat akan beranjak dari bangkunya, Hinata dikejutkan oleh sebuah suara.
"Ayo" ajak Sasuke tanpa melihat wajah Hinata dan langsung melenggang keluar kelas.
Hinata bangkit dari kursinya dan sedikit berlari menyusul langkah panjang Sasuke.
Ia mengikuti langkah Sasuke dengan pipi menggembung dan kaki yang dihentak-hentakkan.
Dukk
Sasuke yang berjalan di depannya menghentikan langkah secara tiba-tiba dan itu membuat Hinata yang ada di belakang menabrak punggung besarnya.
'Ga-gawat, siaga satu! Pasti Uchiha-san akan marah' iner Hinata ketar-ketir. Ia sebenarnya juga bingung kenapa ia bisa begini. Seingatnya ia tidak pernah bersikap kekanak-kanakan dengan menghentak-hentakkan kaki seperti itu. Saking takutnya ia hanya bisa menunduk.
Sasuke sedikit membungkuk dan mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata.
"Berhenti melakukan itu atau ku tinggal" ucap Sasuke sedikit mendesis.
Setelah mengatakan itu Sasuke kembali melangkah tanpa memperdulikan Hinata yang ketakutan seperti melihat hantu.
'Hiii. Ka-kalau ini sih lebih parah daripada hantu' Hinata bergidik dan segera berlari mengikuti Sasuke yang sudah jauh di depannya.
.
.
.
Sasuke dan Hinata pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Bukan selamat dalam artian terkena bencana, tetapi selamat karena ternyata Hiashi belum pulang. Dan sepertinya Hikari sedang pergi arisan dan Hanabi sedang sibuk di kamar.
Setelah melepas sepatu, mereka berdua langsung naik ke lantai dua.
"Jangan lupa tugasmu" ujar Sasuke pada Hinata sebelum ia masuk ke dalam kamar
Hinata hanya bisa pasrah sambil menghela nafas panjang.
.
.
.
Hari ini hari Minggu. Berarti sudah tiga hari Sasuke tinggal di kediaman Hyuuga. Dan selama tiga hari itu pula Sasuke dan Hinata berangkat dan pulang sekolah bersama. Oh, jangan lupakan pula tugas Hinata yang bertambah.
Yah, walaupun kehadiran Sasuke juga ada sedikit untungnya. Hanya sedikit lho yaa. Ia bisa jadi menghemat uang jajan dan bisa bertanya pelajaran yang tidak ia mengerti.
Biasanya di hari Minggu keluarga Hyuuga akan menghabiskan waktu bersama. Tetapi entah mengapa hari ini keluarga Hyuuga sibuk dengan urusan masing-masing dan hanya menyisakan Sasuke dan Hinata di rumah.
Segitu percayakah Hiashi kepada Sasuke sampai-sampai meninggalkan Hinata sendiri di rumah ? Kayaknya enggak deh.
Setelah seharian membantu Hinata membersihkan rumah -karena ancaman Hiashi pastinya-Sasuke duduk santai di depan TV sambil membawa setoples keripik kentang yang entah ia dapat dari mana.
Sedangkan Hinata mungkin berada di zona nyamannya-kamar- menghindari tatapan tajam dan suruhan menyebalkan Sasuke.
Lagi seru-serunya melihat pertandingan bola di TV, tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.
Sasuke tidak perduli dan tetap melanjutkan kegiatannya menonton TV.
.
Seseorang yang menekan bel mengerutkan kening
'Apa tidak ada orang di rumah ?' batinnya heran.
Ia menekan bel sekali lagi
.
Sasuke mulai kesal.
'Cih, ganggu orang aja' gerutu Sasuke tanpa berniat meninggalkan singgasananya.
Bel kembali ditekan. Namun kali ini secara beruntun dan brutal.
Sasuke geram " HINATAAA" Sasuke teriak-teriak manggil Hinata. Mungkin bila Hiashi ada di rumah, ia akan di gantung di pohon mangga depan rumah.
Sasuke menatap kesal pada pintu kamar Hinata yang tidak terbuka-buka. Lebih kesal lagi pada orang yang menekan bel depan pintu tanpa ampun.
Dengan langkah panjang ia segera menghampiri pintu dan memutar kuncinya.
CKLEK
Pintu dibuka dan menampilkan seseorang di depannya.
Sasuke memperhatikan sosok di depannya dengan pandangan meneliti. Rambut panjang dan membawa koper besar. Tidak salah lagi. Dia pasti,
"Maaf, rumah ini tidak menerima produk sampo apapun" setelah mengatakan hal itu Sasuke kembali menutup pintu dengan cara membantingnya.
.
Sementara orang di depan pintu yang dikira sales sampo mulai mengeluarkan aura hitam. Perempatan tak kasat mata mulai muncul di keningnya.
Ia merasakan firasat yang buruk. Pasalnya ia belum pernah melihat orang yang membukakan pintu tadi. Pembantu baru ? Tidak mungkin. Jangan-jangan,
.
Sasuke kembali duduk di depan TV. Ia melihat Hinata yang keluar dari kamarnya dan mulai melangkah pelan ke arahnya.
"A-ano, siapa yang datang ta-tadi Uchiha-san ?" Tanya Hinata penasaran karena ia mendengar rentetan bel ditekan.
"Bukan orang penting" sahut Sasuke santai
"Kenapa saat ku panggil tadi kau tidak menyahut ?" lanjut Sasuke. Sebenarnya Hinata mendengar Sasuke memanggilnya. Tetapi ia sedang di kamar mandi.
"A-ano,"
BRAKK
Pintu depan terbuka lebar karena tendangan seseorang dari luar
"Apa yang kau lakukan pada adikku, hah ?!" orang itu maju mencengkram kaos Sasuke.
"Neji-nii !"
Tuh kan, Hiashi tidak sepenuhnya percaya.
.
TBC
.
.
A/N : aloha (dadah-dadah)
Maaf kerena saya update lama. Biasalah orang –sok- sibuk
Saya lagi pusing sama tugas sekolah. Tiap hari presentasi mulu. Pinter juga kagak !
Lagi nungguin tema SHDL untuk tahun ini. Niatnya sih pingin ikutan. Niatnyaa…
And big-big thanks for ranmiablue, TheTomatoShop, and Sabaku no Yanie yang udah review di chap 4. And also big-big thanks buat yang udah read, fav, and follow.
Ditunggu kritik,saran, masukan,fav,follow dan reviewnya buat chapter ini.
See you : D
Sup.
