Chapter 39 – Their Last Cherry Blossom
Musim semi dimana kebahagiaan terbesar ia raih
Tanpa ia ketahui akan menjadi musim semi terakhir yang ia lewati
Bersama satu-satunya pria yang ia cintai, cinta pertamanya
.
Winter Arc
.
Dibantu oleh Kayano, Kyouka dan Mizuki, Khali dan Yasmine bergegas melakukan perjalanan menuju kerajaan Kouka dengan menaiki kapal untuk sampai di kerajaan Xing terlebih dahulu. Dengan menggunakan jalan darat melalui kerajaan Xing, mereka akhirnya tiba di perbatasan antara kerajaan Xing dan kerajaan Kouka.
Esok mereka tiba di tempat tujuan mereka, dan malam itu Khali berhasil menangkap beruang "malam ini kita makan stew beruang?!".
Ke-4 gadis yang bersamanya bersorak girang "YAY?!".
"ah~ begitu kita tiba di kerajaan Kouka, sumber makanan jadi lebih banyak" ujar Mizuki lega dan memeluk adiknya.
"benar, kak!? aku tak mau makan ular dan serangga liar seperti lipan atau kalajengking lagi!?" ujar Kyouka balas memeluk kakaknya sambil setengah menangis.
"masa? Menurutku makanan yang kecil begitu lebih mudah dicerna?" ujar Yasmine mengambil seekor burung yang ia panah barusan.
"jangan samakan kami bertiga dengan kalian berdua yang biasa hidup di alam liar?!" pekik si adik, Kyouka.
"benar, selera makan kami masih normal?!" tambah Mizuki.
Bicara soal selera makanan, Yasmine merasa napsu makan Khali agak berkurang akhir-akhir ini dan ia terlihat kehilangan beberapa berat badan sehingga Yasmine merasa cemas meskipun orang yang bersangkutan malah lebih mencemaskan Yasmine. Memang, pola makan Yasmine yang berbeda dengan orang kebanyakan akan membuat orang lain heran.
Melihat Kayano yang diam saja, Yasmine akhirnya bertanya "Kayano, aku senang karena kau mau menemaniku, tapi kenapa kau bersedia melakukan hal ini? kau memang membantu Petra mengasuhku, tapi apa tak masalah jika kau meninggalkan tanah airmu?".
Kayano justru tersenyum lebar setelah menggelengkan kepala "tak apa, mendengar bahwa anda berniat pergi ke kerajaan Kouka, saya justru merasa sangat senang karena saya bisa ikut dengan anda ke kerajaan Kouka... sebab, ada seseorang di kerajaan Kouka yang ingin saya temui...".
"maksudnya laki-laki yang ada di mimpimu itu?" goda Khali.
Saat Yasmine menanyakan apa yang dimaksud Khali, Khali menjelaskan bahwa selama tinggal di istana pasca beranjak dewasa, Kayano sering memimpikan pria berambut pirang dan bermata biru yang berasal dari kerajaan Kouka "aku merasa kalau ia orang yang sangat berharga bagiku meski kami terpisah oleh jarak yang sangat jauh... aku ingin bertemu dengannya dan berharap bisa bicara dengannya, sebab aku merasa aku telah melupakan sesuatu yang penting".
Keesokan harinya, saat tiba di desa yang tak lain adalah salah satu desa di wilayah suku angin, desa bekas tempat tinggal Hak, Leila dan Yasmine saat mereka masih kecil bersama mendiang orang tuanya. Setelah berkeliling, Khali mengajak Yasmine menuju batu nisan yang terletak di bawah pohon Tsubaki yang besar. Di batu nisan itu tertulis dengan jelas nama 'Ulla Dilwale Khun', ayah kandung Yasmine. Yasmine duduk di depan batu nisan, memperkenalkan Khali dan ke-3 teman seperjalanannya di hadapan batu nisan orang tuanya.
Khali memeluk Yasmine dari belakang setelah Yasmine memperkenalkan Khali sebagai pria yang ia cintai di hadapan makam mendiang ayahnya "apa kau tahu? Setiap kali kau menangis, kau selalu menangis tanpa suara, apakah itu karena kau terbiasa menangis seorang diri?".
"siapa juga yang nangis, bodoh?" ujar Yasmine mencubit tangan Khali dengan mata berkaca-kaca, dan saat air matanya siap menetes, Khali kembali membuatnya tertawa.
"Kiri?! Diam di tempat?!".
Tiba-tiba, seekor anjing melompat, menerjang dan menjilati Yasmine yang tersungkur ke tanah akibat ulah anjing jenis saluki itu.
"aduh, maaf?! anak ini... Kiri?! Jangan menerjang orang lain sembarangan begitu" ujar Leila yang kemudian tertegun setelah menarik Kiri, anjing peliharaannya dari Yasmine.
Sepasang mata biru Leila meneteskan air mata, sama halnya dengan Yasmine yang meneteskan air matanya ketika tatapan mata keduanya bertemu.
"kenapa kau menangis?" tanya Leila.
Yasmine menyeka air matanya dan menunjuk Leila "kau juga, tahu".
"ah, benar... kenapa..." ujar Leila menyeka air matanya.
"Leila, ada apa?", suara wanita yang terdengar begitu lembut datang dari belakang Leila, yang tak lain adalah Maya yang disusul Mulan.
Khali, Kayano, Kyouka, Mizuki, Leila dan Mulan terkejut saat mereka menyadari sosok Maya mirip dengan Yasmine.
Melihat Yasmine, Maya segera memeriksa tanda lahir di dada Yasmine sebelum memegang wajah Yasmine "...Yasmine?".
Yasmine mengenal kelembutan yang membungkusnya, kehangatan seorang ibu yang pernah ia rasakan saat ia baru lahir "...ibu?".
Setelah memeluk Yasmine, Maya langsung menangis sambil memeluknya erat "maafkan ibu, Yasmine!?".
"Yasmine... maksud ibu, adikku?".
Maya mengangguk dan mengayunkan tangannya, sehingga Leila ikut memeluk Yasmine dan ketiganya menangis bersamaan. Suasana haru dari mereka membuat Khali tersenyum lebar dan para wanita lain di tempat ini ikut menangis.
Malamnya setelah mereka mengistirahatkan diri di gubuk, satu-satunya tempat di desa itu yang masih utuh, Maya dan Leila mengajak Khali dan Kayano bicara setelah menidurkan Yasmine di kamar lain. Yasmine yang terlelap bersama Mulan, Kyouka dan Mizuki terbangun karena ia merasa mendengar suara Khali bicara dengan ibunya.
"aku sangat berterima kasih atas semua yang kau lakukan selama ini untuk menjaga putriku, tapi aku tak sebodoh itu sampai membiarkan putriku sengsara lebih dari ini... kau mengerti, kan?", Maya mengangkat wajahnya dan menatap Khali dengan ekspresi serius "aku tak bisa merestui hubunganmu dengan putriku... tidak setelah melihat apa yang terjadi pada Yasmine".
Leila menjelaskan kekuatan Maya, melihat isi hati dan masa lalu seseorang yang ia peluk dan Maya bisa melihat apa saja yang telah menimpa Yasmine selama ini.
"jika aku tahu ini yang akan terjadi padanya, sejak awal aku takkan membiarkan Azurite pergi membawanya" ujar Maya penuh penyesalan.
"saya mengerti jika anda tak bisa percaya pada pria yang mengaku bahwa ia mencintai putri anda sedangkan ia hampir membunuh putri anda", Khali tersenyum pilu sebelum mendongak dan menatap balik Maya "tapi setelah anda tahu apa yang terjadi, bisa saya minta tolong satu hal pada anda?".
Khali berniat membuat penyelesaian pada Karma dengan tangannya sendiri dan dia tak ingin jika Yasmine mengotori tangannya sehingga Khali meminta Maya dan Leila menjaga Yasmine dan membawa serta Kayano, Mizuki dan Kyouka bersamanya "sudah cukup, dia sudah cukup banyak bertempur. Aku ingin agar ia bisa menemukan kebahagiaannya sendiri layaknya wanita biasa, meski bukan aku yang akan mendampinginya di sisinya".
Yasmine langsung membanting pintu kamar dan membuat Mulan, Mizuki dan Kyouka yang mengintip tersungkur. Tanpa memberikan kesempatan pada mereka yang terkejut untuk bicara, Yasmine langsung masuk ke kamar dan menampar Khali.
"kenapa kau tak langsung saja bicara padaku kalau kau berniat pergi atau tak ingin berada di dekatku lagi?".
"bukan!? aku hanya...", Khali terlihat kesulitan menjawab hingga akhirnya ia berkata "karena aku tak ingin melihatmu menangis atau bersedih...".
"hah?" ujar Yasmine tertawa dan mencoba memukul Khali beberapa kali "katakan terus terang jika kau tak ingin berada disisiku lagi?! jangan malah berniat untuk menghilang seenaknya dan seenaknya melimpahkan tanggung jawabmu pada orang lain lalu menghilang dari hadapanku seenaknya?! Apa kata-katamu saat itu hanya bohong?! Kau katakan kau mencintaiku, setelah itu dengan mudahnya kau berniat pergi dari sisiku... kau pikir lucu mempermainkan perasaan orang lain?! jika keberadaanku begitu mengganggu bagimu, kau tidak perlu pergi kemanapun karena akulah yang akan pergi dan menghilang dari hadapanmu!?".
Saat Yasmine hendak pergi meninggalkan tempat itu dan membelakangi mereka semua, Khali memegang kedua bahu Yasmine "jangan pergi?! Jangan pergi kemana-mana!? Ini kulakukan bukan karena kewajiban!?".
Yasmine terbelalak saat Khali mencium bibirnya sambil memeluknya erat.
"aku mencintaimu, Yasmine... sejak dulu hingga sekarang... meski aku tahu kau adalah 'bunga' yang memiliki tanda yang sama denganku, tapi karena aku tahu bahwa aku adalah 'Khali' yang mungkin akan membunuhmu, aku tak sebodoh itu sampai membiarkanmu mati di hadapanku karena aku kehilangan kontrol diriku?!", Khali menceritakan semuanya. Sebagai 'daun', Khali bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Yasmine meski ia tak bisa mengetahui apa yang ia pikirkan tapi adalah benar bahwa ia kadang merasa ingin memangsa Yasmine sebagai 'daun' dengan tanda yang sama dengan Yasmine "pertama kali aku menemukanmu yang memiliki tanda yang sama denganku, setelah aku terus mencarimu dan menemukanmu, aku hanya ingin melihatmu sekali lagi saja meski aku tahu kalau itu terjadi karena ikatan yang kita miliki sebagai 'daun' dan 'bunga'... tapi keinginan itu makin menjadi besar dan menggila sejak aku menyadari kalau aku telah jatuh hati padamu... aku tak lagi hanya ingin bertemu, aku juga jadi ingin menyentuhmu dan berada di sampingmu... tapi ketakutanku menahanku, aku takut jika aku harus melihatmu bersimbah darah... kehilangan nyawamu di hadapanku... atau bahkan di tanganku?!".
Yasmine memegang wajah Khali dan menyundul dahinya keras-keras sebelum mencengkram kerah baju Khali "memang kenapa dengan itu? aku bersyukur karena aku yang telah menjadi 'bunga'mu... sebab bukankah itu berarti kau bisa merasakan hatiku, perasaanku padamu? Kau selalu melindungiku tanpa aku bisa berbuat apa-apa, kau kira aku tak merasa sakit melihatmu menderita?! kenapa kau tak mengerti bahwa alasanku mengangkat senjata adalah karena aku tak tahan jika aku harus melihatmu menderita atau terluka karenaku!? Tak bisakah kau rasakan perasaanku padamu bahwa aku sangat mencintaimu, Khali?!".
Khali terbelalak melihat air mata Yasmine di tengah matanya yang menyiratkan amarah "putri, kau...".
"jangan panggil aku tuan putri lagi...", Yasmine menarik kerah jubah Khali "...jika kau benar-benar mencintaiku, panggil nama kecilku, Khali".
"Yasmine..." ujar Khali memeluk Yasmine yang memegang wajahnya dan kembali berciuman.
"wow... sampai lupa kalau kami berenam masih ada disini, ya?" celetuk Leila.
Hah? Berenam?
Begitu selesai berciuman, Yasmine dan Khali melihat ke arah mereka yang melihat keduanya sejak tadi dari awal hingga akhir, yang tak lain adalah Maya, Leila, Kayano, Mulan, Mizuki dan Kyouka.
"baru kali ini saya melihat sisi anda yang seperti ini~" goda Kayano.
Sontak ucapan Kayano membuat wajah Yasmine merah padam dan Khali menyembunyikan wajah Yasmine ke dadanya dengan memeluk Yasmine "jangan jadikan ini sebagai bahan untuk menggoda kami berdua, Kayano".
"wah~ aku tak tahu kalau ternyata adikku berani sekali" ujar Leila tersenyum lebar.
"kalau sudah marah, kadang kau lupa keadaan sekeliling dan langsung melampiaskan amarah, ya? mirip ayahmu..." ujar Maya tersipu.
"bukannya ibu juga begitu?".
"putrimu benar" angguk Mulan.
"diam kau" sahut Maya menjitak kepala Leila dan Mulan.
"maafkan aku, bunda... meski tahu ini hanya akan jadi cinta terlarang, aku tetap tak bisa lepas darinya dan memilih untuk bersamanya, karena aku tak mau jauh darinya".
Khali selalu menghindar saat Yasmine bertanya hal ini, tapi untuk yang pertama kalinya Khali menunjukkan wujud Alternya setelah Yasmine mengingat semuanya pasca tragedi di usianya yang akan menginjak 16 tahun di musim panas yang membuat Yasmine mengetahui identitas Bihan, Karma dan Khali sebenarnya.
Khali adalah Oni klan Rasetsu dengan tanda yang sama dengan Yasmine, jika Yasmine adalah 'bunga' maka Khali adalah 'daun'nya. Khali bisa mengetahui perasaan Yasmine berkat bunga yang menyalurkan perasaan Yasmine padanya. Pertama kali Yasmine melihat wujud Alter Khali sejelas itu, sosok Oni yang muncul dalam mimpinya begitu indah hingga membuatnya menahan napas juga rasa rindu yang tidak ia ketahui apa penyebabnya meski ia selalu berada didekat Yasmine, tapi Khali juga menimbulkan rasa takut di hatinya, bukan karena dia merasa kalau Khali berbahaya baginya, tapi karena Yasmine merasa Khali bisa menghilang kapanpun tanpa memperdulikan perasaan Yasmine.
Melihat Yasmine meneteskan air mata saat Yasmine melihat wujud Alternya, Khali tersenyum sinis "...kau takut?".
Meski bersikeras mengatakan kalau ia tak takut, air mata Yasmine tak bisa berhenti dan Khali menutup kedua matanya "dasar bodoh, kalau kau takut, tutup saja matamu...".
Ucapan yang terdengar mengejek sebelum Khali menciumnya, ciuman yang manis dan panas.
.
"apa maksudmu dengan bilang kalau kau akan jadi keluargaku saat itu?" tanya Yasmine, entah kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal ini karena mimpinya semalam membuatnya ingat pada hal yang harusnya ia perjelas.
Entah kenapa, Khali terlihat gusar pada awalnya, hingga akhirnya ia menatap Yasmine sambil memegang kedua bahunya "setelah kakakmu sudah ketemu semua dan kita ceritakan semuanya padanya... pada saat itu, maukah kau menemui kakakmu sebagai keluargaku?".
"hah?" ujar Yasmine terbelalak.
"kurang jelas?", Khali memegang wajah Yasmine sebelum berlutut sambil memegang kedua tangan Yasmine "menikahlah denganku, Yasmine...".
"minta restu kakak kami dulu sana?!" ujar Leila menginjak kepala Khali keras-keras sementara Maya malah tersenyum dan menepuk bahu Leila "kalau begitu, tunangkan saja mereka berdua dulu, beres kan? kita berdua bisa menjadi wali mereka...".
"yah, setelah ayah meninggal, harusnya anak laki-lakinya, dengan kata lain kakak kita atau jika tidak, paman kita yang harus menjadi saksi pernikahan kalian berdua" ujar Leila melipat tangan dan memiringkan kepala "tapi rasanya rumit... baru saja aku bertemu adikku, ternyata dia sudah punya kekasih... aku jadi merasa adikku direbut seketika".
Tak perlu ditanyakan lagi, Maya tertawa, menghampiri Yasmine dan memeluk Yasmine saat melihat Yasmine menangis deras "wah, wah... sepertinya kita sudah dapat jawabannya...".
"hahahaha... aku tak tahu harus berkata apalagi saking senangnya..." ujar Yasmine dengan air mata berlinang, keluar tanpa bisa ditahan, tak peduli meski yang lain melihatnya.
"aku heran... kenapa perempuan mudah sekali menangis tidak peduli baik saat sedih ataupun terharu?" ujar Khali yang memeluk Yasmine erat.
"karena itu adalah salah satu ciri khas perempuan, sulit bagi kami menahan air mata yang keluar sebagai ekspresi kebahagiaan kami" ujar Maya tertawa kecil sambil menyapu air mata Yasmine "perempuan sanggup menahan air mata kesedihan selama apapun yang ia inginkan tapi sangat sulit untuk menahan air mata kebahagiaan...".
Sayup terdengar suara Khali yang membangunkan Yasmine, Khali menyapu air mata Yasmine dan menatapnya cemas "...kau mimpi buruk?".
Yasmine bangun dan menyapu air matanya "bukan, aku hanya memimpikan ibu angkatku... saat aku pertama kali bertemu mereka dan malam ulang tahunku, saat aku kehilangan mereka".
Khali mencium pelupuk mata Yasmine yang basah dan memeluknya erat "tak apa-apa, kau tak perlu menangis lagi... aku akan selalu ada di sampingmu...".
Sambil menyeka air matanya, Khali meminta Yasmine bersiap "ayo, hapus air matamu dan tunjukkan wajah bahagiamu pada nyonya Maya dan Leila...".
Yasmine berdiri dan membuka selendangnya, terlihat bekas luka di leher seperti terkoyak akibat gigitan binatang buas. Khali melihat pada satu titik, bukan kepada tanda lahir berbentuk bunga melati yang besar di dada Yasmine, tapi pada bekas luka di leher Yasmine.
Yasmine tersenyum sendu "katakan saja terus terang kalau bekas luka ini membuatku jelek...".
"tidak, kau cantik seperti biasa... tapi aku membenci bekas luka itu karena itu handicap bahwa aku tak hanya gagal melindungimu pada saat itu, bahkan...".
Yasmine tersenyum dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Khali "hush, ini hari bahagia kita, aku tak ingin momen bahagia ini dirusak oleh pertengkaran atau suasana murung darimu, okay?".
Khali mencium bekas luka di leher Yasmine sebelum mengecup kening, pelupuk mata, pipi, bibir dan berakhir ke bekas luka itu lagi, meminta maaf pada tubuh Yasmine "satu-satunya yang patut kusyukuri dari luka yang berbekas ini adalah karena bekas luka itu tak mengurangi kecantikan dan kebaikan hatimu".
Mendengar ucapan Khali, Yasmine tidak bisa menahan tawa "sungguh, aku sangat menyukai kejujuranmu itu...".
Leila berdehem "bisa tidak, kau santap adikku setelah kau menikahinya? Tentu saja itu baru bisa kau lakukan setelah kalian berdua menemui kakak laki-laki kami, sesuai syarat dari ibu kami~ untuk kali ini, aku akan tutup mulut, deh".
"kakak!?" pekik Yasmine.
Melihat Yasmine memakai gaun cheongsam berwarna kuning keemasan dengan bordir bunga berwarna kuning gading, Leila menghampiri dan memeluknya erat "ah, kau cantik sekali~ aku yakin mendiang ayah pasti akan tersenyum melihatmu tumbuh menjadi gadis yang cantik".
"meski kurasa ayahmu itu tipe ayah yang akan merasa bad mood saat hari pernikahan putrinya, karena ia harus melepaskan putrinya jatuh ke tangan pria lain dan merelakan pria itu membawa putrinya" ujar Maya terkekeh, muncul tiba-tiba dari belakang mereka.
"ibu!? Jangan bikin kami terkejut?!" pekik Leila dan Yasmine bersamaan.
Di depan altar, Khali mengulurkan tangannya pada Yasmine.
"apa perasaan ibuku dulu juga begini, ya?" gumam Yasmine menyambut uluran tangan Khali.
Khali mengajak Yasmine pergi "seperti apa?".
"tegang dan cemas... tapi... dijalani dengan penuh kegembiraan dan harapan..." ujar Yasmine tersenyum lebar saat menaiki tangga.
Pada usia yang ke-17 tahun, Yasmine bertunangan dengan Khali. Sesuai adat yang berlaku di kerajaan Xing, giwang pertunangan (yang biasanya terbuat dari bebatuan di alam yang dicampurkan dengan perak, sedangkan untuk giwang pernikahan dibuat dari bebatuan di alam yang dicampur dengan emas) disematkan ke kedua telinga Yasmine sebagai bukti pertunangan dengan Khali. Khali menyematkan sepasang giwang berbentuk gigi taring yang dibuat dari batu bulan, disambung dengan ornamen besi pengait telinga dari perak. Yuki menangis karena merasa seperti seorang ibu yang menunangkan putrinya. Acara pertunangan diadakan tepat pada hari ulang tahun Yasmine yang ke-17 tahun, mungkin karena Khali mengetahui, Yasmine menganggap hari ulang tahunnya sebagai hari sial dan Khali ingin mengubah anggapan seperti itu dalam diri Yasmine. Khali tak hanya memberikan giwang pertunangan, syal hitam berenda dengan bordiran benang emas, tapi juga kebahagiaan pada Yasmine.
Maya memang sempat menentang keras hubungan Khali dan Yasmine, tetapi pada akhirnya Maya kalah dari keinginan kuat Yasmine. Leila mengerti hal itu, sebagai anak dan kakak, Leila hanya ingin ibu dan adiknya bisa akur dan tersenyum, bahagia bersama lagi.
Meski kebahagiaan ini tak berlangsung lama.
Tak satupun dari mereka yang tahu, bahwa seperti bunga Sakura yang berguguran secara perlahan tapi pasti, nyawa seseorang akan melayang saat bunga Sakura menggugurkan kelopak terakhirnya.
