BRAKK
Pintu depan terbuka lebar karena tendangan seseorang dari luar
"Apa yang kau lakukan pada adikku, hah ?!" orang itu maju mencengkram kaos Sasuke.
"Neji-nii !"
Tuh kan, Hiashi tidak sepenuhnya percaya.
.
.
.
SAVE THE SECRET © azalea supasuna
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto. Saya cuma minjem
Warning : OOC,typos,alur lambat,bahasa kacau,minim diksi,humor gagal,dkl
Pairing : SasuHina
Sorry kalau garing krenyes-krenyes
Don't Like Don't Read
.
.
.
Chapter 6
Suasana di ruang tamu kediaman Hyuuga terasa mencekam. Dua pemuda yang duduk saling berhadapan memancarkan aura gelap yang mampu membunuh satu sama lain. Percikan listik imajiner muncul dari mata kedua pemuda tersebut.
"Siapa kau ?" Tanya pemuda rambut panjang
"Di-dia i-itu…"
"Diamlah Hinata !" tanpa sadar Neji membentak Hinata
Hinata langsung menunduk diam tanpa kata.
"Hei, kau tidak perlu membentak Hinata seperti itu kan ?! Dasar sadako seles sampo" ujar Sasuke sinis.
Neji yang sadar telah membentak Hinata mulai meminta maaf sambil mengelus-elus rambut adiknya.
"Maafkan Nii-san, ya ? Nii-san tidak bermaksud membentakmu kok" pinta Neji dengan nada menyesal.
"Iya tidak apa-apa" Hinata memberikan senyum tanda ia telah memaafkan Neji.
Sasuke memperhatikan adegan drama di depannya dengan wajah bosan.
"Apakah kalian sudah selesai ?"
Neji menatap Sasuke tajam "Apa urusanmu disini ?" tanya Neji ketus
"Hanya bertamu" jawab Sasuke datar
"Hm. Pulanglah" usir Neji
"Kau tidak berhak mengusirku begitu saja" balas Sasuke
"Aku berhak untuk…"
"TADAIMAAA…!"
Pintu depan dibuka dan menampilkan sesosok gadis kecil yang menyerupai Neji.
"Neji-nii ?!" ujar Hanabi tak percaya. Seingatnya kakak sepupunya itu akan datang besok pagi. Dan jika tiba-tiba ia sudah disini, itu merupakan anugrah bagi Hanabi.
"Aaa, kangennn !" ujar Hanabi sambil berlari hendak memeluk Neji. Didekapnya Neji erat-erat. Setelah itu ia memandang Neji dengan wajah cengengesan.
"Hehehe…"
"Ada di bagasi mobil. Punyamu yang warna merah" ujar Neji seakan tahu isi hati Hanabi
Secepat kilat Hanabi segera keluar rumah. Ia melewati Tou-san dan Kaa-san'nya yang bingung melihat tingkahnya. Saat Hanabi menghampiri mobil sedan putih yang terparkir di samping mobil sport Sasuke, Hiashi baru menyadari bahwa keponakannya sudah datang.
Saat melihat Hiashi dan Hikari yang memasuki rumah, ketiga anak muda yang ada di ruang tamu seketika berdiri.
"Okaeri, Neji" Hiashi disusul Hikari memberi pelukan hangat kepada keponakannya itu.
"Tadaima, Ojii-san,Obaa-san"
"Kau sudah tumbuh semakin tinggi" ujar Hikari
"Bagaimana keadaan Tou-san'mu ?" Tanya Hiashi
"Tou-san baik-baik saja. Ia menitip salam kepada Jii-san sekeluarga. Dan juga, Jii-san berhutang penjelasan kepadaku" ucap Neji sambil melirik Sasuke melalui ekor matanya.
Hiashi menghela nafas. Kumat sudah sifat sister complex milik Neji.
"Aku akan menyimpan ini dulu" kata Hikari pergi sambil membawa beberapa tas belanja ke arah dapur.
"A-aku bantu Kaa-san" ucap Hinata sambil mengambil alih beberapa tas belanja.
Tinggallah tiga orang anak adam di ruang tamu. Neji masih bersabar menunggu penjelasan dari Jii-san'nya.
"Dia Uchiha Sasuke. Anak dari sahabat Jii-san –Fugaku-." terang Hiashi
"Kenapa harus tinggal di sini ?" ujar Neji dengan nada tidak suka
"Karena Fugaku sedang pergi ke Tokyo. Jadi ia menitipkan Sasuke di sini" terang Fugaku
"Oh, anak ayam ini takut di rumah sendirian, eh ?" ucap Neji mengejek
Sasuke memandang Neji dengan tatapan mematikan. Namun setelahnya ia menyeringai.
"Aaa… Dan apakah di Sunagakure produk shampomu tidak laku jadi kau promosi di sini, hm ?"
Neji maju mencengkram kaos Sasuke –lagi-. Sasuke tidak mau kalah ia juga mencengkram kemeja yang dipakai Neji.
Hinata yang datang dari dapur segera meletakkan minuman yang dibawanya kemudian berusaha melerai keduanya.
"N-neji-nii, Sasuke-kun sudah jangan bertengkar" lerai Hinata. Namun keduanya terlalu keras kepala.
"Pergi kau dari sini. Dasar pantat ayam"
"Kau saja yang pergi. Dasar sadako"
Hiashi menghela nafas panjang. Sepertinya rumahnya yang damai dan tenang akan berubah mulai saat ini.
"Tou-san. Tolong hentikan mereka" Hinata meminta bantuan Hiashi
"Ehem !" Hiashi memberi peringatan ringan. Namun tidak diindahkan. Mereka sibuk beradu argument tanpa kejelasan.
"Apa, hah ?!" Sasuke nyolot
"Kau yang apa ?!" Neji tak terima
Hinata melirik Tou-san'nya yang kelihatannya akan murka. Dan benar saja.
BRAKK
Hiashi menggebrak meja.
"Sudah puas berdebat tidak jelasnya ?"
Mereka saling tatap dan kemudian melepas cengkraman satu sama lain.
"Sebagai hadiahnya, seminggu dari sekarang kalian harus membersihkan kebun belakang rumah" perintah Hiashi mutlak.
"Tapi Jii-san…"
"Tidak ada tapi-tapian. Kalian itu sudah dewasa. Seharusnya kalian malu dengan kelakuan yang sudah kalian perbuat tadi" ceramah Hiashi
"Apa tidak bisa…"
"Dua minggu"
"Baiklah !"
"Baiklah !"
"K-kompak sekali" dua tatapan laser mendatangi Hinata. Ia harus bersembunyi di balik punggung Tou-san'nya.
"Kalau begitu…"
"Kalau begitu…"
Hinata cekikikan. Kedua pemuda ini saling memberi deathglare satu sama lain.
"Sebaiknya kalian masuk kamar dan mandi. Sudah hampir petang"
Mereka hanya mengangguk mengiyakan.
"Kau juga sebaiknya segera mandi Hinata" kata Hiashi sambil mengacak rambut putri sulungnya
"Hu-um"
Hinata mengikuti langkah Sasuke yang berjalan menaiki tangga di depannya. Neji yang sedang mengangkat kopernya menyeritkan dahi. Kenapa Sasuke naik ke atas ? bukankan kamar tamu ada di lantai bawah ?
"Hei, pantat ayam. Mau kemana kau ?" Tanya Neji curiga
"Ke kamarmu mungkin. Ah, tidak. Sekarang itu adalah kamarku" balas Sasuke menyeringai
Sasuke menatap Hinata yang menghentikan langkahnya karena ia berhenti. Sasuke akan sedikit bermain dengan Neji.
Grep. Tangan besar Sasuke meraih lengan Hinata lalu menariknya
"Ayo. Hime" Sasuke menekankan kata terakhirnya
"Hei…hei…hei. Lepaskan tangan kotormu itu dari adikku, Uchiha !" seru Neji. Tetapi Sasuke terlalu bebal untuk perduli.
Hinata ? jangan ditanya. Wajahnya sudah memerah sejak tangan Sasuke menyeretnya tadi.
Neji akan berlari ke atas jika saja Hiashi tidak menghalanginya.
"Sudahlah Neji. Biarkan Sasuke menempati kamarmu" kata Hiashi sambil menepuk pundak keponakannya itu.
"Kenapa ia tidak tidur di kamar tamu saja ?!" Neji tak terima. Yang tamu siapa, yang tidur di kamar tamu siapa.
"Jii-san dan Baa-san kira kau akan datang hari Senin. Jadi kami belum sempat meminta Sasuke-kun untuk membereskan barangnya ke kamar tamu.
"Lebih baik kau yang mengalah. Toh hanya 3 minggu ini " bujuk Hikari
"3 Minggu ?! Ayam jadi-jadian itu akan tinggal di sini selama 3 minggu ?!" Neji syok
"Sudah seminggu Sasuke tinggal disini. Kalau ditotal jadi sebulan" Neji membelalakkan mata tak percaya.
"Dan kenapa Jii-san tadi meninggalkan Hinata sendirian dengan ayam jadi-jadian itu ?" tuntut Neji
"Sebenarnya kami sudah mengajak Hinata. Tetapi ia tidak mau. Ia bilang akan menemani Sasuke" jelas Hikari
Neji menatap Jii-san dan Baa-san'nya tidak percaya. Otak adik sepupunya pasti sudah diracun oleh ayam jadi-jadian itu.
"Jadi, kau mau pergi ke kamar tamu, atau kembali ke Suna ?" Tanya Hiashi kalem meng'kratak'kan.
Neji menghela nafas pasrah. Jika sudah berkata dengan nada seperti itu, maka tidak ada siapapun yang boleh menentang perkataan Hiashi.
'Lain kali akan ku balas kau, Uchiha' geram Neji dalam hati.
.
.
.
Pada hari Senin yang cerah ini, di meja makan keluarga Hyuuga sedang mengadakan ritual sarapan pagi.
Di ujung meja ada sang kepala keluarga Hiashi duduk dengan tenangnya. Sisi kiri meja ada sang istri juga keponakan tercinta. Sedangkan sisi kanan meja ada Sasuke dan Hinata. Oh, jangan lupakan ada Hanabi yang nyempil di tengah-tengah mereka. Selama sarapan berlangsung tak ada yang bersuara.
"Aku selesai. Terima kasih atas makanannya. Ayo Hinata " ajak Sasuke pada Hinata
"Hei-hei mau kemana kau ?!" Neji berdiri
"Ke kebun binatang. Ya ke sekolah lah !"
"Ehem !" Sasuke dan Neji kembali duduk
"Hinata, hari ini kau berangkat dengan Neji saja. Ia pasti memerlukanmu untuk mengurus beberapa keperluan disana" saran Hiashi
"Baiklah Tou-san" jawab Hinata patuh. Setidaknya nanti ia diturunkan di tempat seharusnya.
Mendengar jawaban Hinata, Neji memberikan seringai gratis kepada bungsu Uchiha.
'Kau kalah Uchiha' setidaknya begitulah isi kepala Neji
Sasuke berdecih dalam hati. Namun ia punya ide cemerlang setelahnya.
"Jii-san, bagaimana kalau aku berangkat bersama mereka saja ?" usul Sasuke
"Ah, itu ide yang bagus Sasuke-kun. Kau setuju kan anata ?" Hikari menatap suaminya
"Bukan ide yang buruk"
"Tapi Jii-san, ia kan punya mobil sendiri. Kenapa tidak memakainya ?" Neji berusaha membuat persuasi
"Sudahlah Neji. Sebagai kakak seharusnya kau mengalah" ujar Hiashi bijak
Sasuke menatap Neji dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya.
"Ayo, Hinata" ajak Sasuke sambil menggandeng tangan Hinata.
"E-eh" Hinata hanya bisa pasrah dengan wajah memerah
"Hei-hei !"
"Lebih baik kau cepat berangkat" saran Hikari
Neji hanya bisa menghela nafas panjang. Kenapa harus selalu ia yang mengalah ?
.
.
.
Sampai di halaman, ia melihat Sasuke dan Hinata yang sudah duduk manis di kursi belakang mobil.
"Kalian tidak sedang menjadikanku seorang supir, kan ?" Tanya Neji sarkastis
"Menurutmu ?" tantang Sasuke
"E-eto, biar a-aku pindah di depan saja" tangan Hinata baru saja menyentuh pintu mobil, saat tangannya yang lain dipegang Sasuke.
Dengan wajah memerah, Hinata menatap Sasuke dengan pandangan bertanya.
Sasuke menjawabnya dengan pandangan juga, yang jika diartikan kira-kira bunyinya seperti ini.
'Pindah ke depan dan rahasiamu akan terbongkar'
Hinata menghela nafas panjang, lalu menatap Neji dengan pandangan bersalah.
"Ma-maf Nii-san. A-aku disini saja" setelah mengucapaknnya Hinata langsung menunduk tak berani menatap Neji dan ingat bahwa tangannya masih dalam genggaman Sasuke. Jantung Hinata jadi berdebar gimana gitu.
Lebih baik menjadikan Neji supir pribadi hari ini daripada rahasia Hinata yang terancam nanti.
Neji menatap tak percaya pada adik sepupunya yang menunduk dan memberikan tatapan membunuh pada Sasuke.
Sasuke yang ditatap hanya mengedikkan bahu.
'Sudahlah Neji. Balas dendam itu indah pada waktunya' hibur Neji pada diri sendiri
Poor Neji
.
TBC
.
.
Special Thanks To :
TheTomatoShop, yvkiss, Zizah, Pikajun, 161200-chan, Papaya, Lovely sasuhina, lumi, Chikuma, Sabaku no Yanie, ranmiablue, and imamanur2,
Yang udah review di chap 5 kemarin
Kritik, saran dan masukan kalian sangat berharga.
For this chap, I'll say
Maaf kalau ceritanya makin gaje :(
Maaf kalau alurnya semakin membosankan :3
Maaf karena update lama :(
Dan maaf karena telah menjadikan Neji orang yang menderita :)
Untuk beberapa waktu kedepan kyaknya saya gak bisa update ff ini. Kurang dapet penerangan soalnya. Jadi mau hiatus dulu. Jangan ada yang nyariin ya ! Kurang kerjaan banget gue nyariin lo ! [pundung di pojokan sambil ngorek aspal]
Thanks for reading
Sup
