Chapter 40 – Memoar Of Cluster Amaryllis

Bunga yang tumbuh di perbatasan antara dunia dan akhirat

Membuat mereka hanya bisa bertemu di alam mimpi

Atas bimbingan kupu-kupu ilusi yang datang dari alam kematian


.

Winter Arc

.

Malam itu Setia duduk di samping Yasmine, Setia membacakan cerita tidur untuk Yasmine, ia membacakan dongeng pengantar tidur tentang asal usul bunga Higanbana.

Bunga Higanbana juga disebut sebagai bunga kematian dari alam baka.

Higanbana berasal dari kata 'Higan' yang berarti 'pantai yang lain'. Kata ini diartikan sebagai alam baka, tempat berkumpulnya roh-roh yang sudah meninggalkan dunia manusia. Selain kematian, Higanbana juga terkait erat dengan perpisahan karena kalau melihat seseorang untuk terakhir kalinya, bunga-bunga Higanbana akan bermekaran di sepanjang jalan, daun dan bunga Higanbana tidak pernah bisa tumbuh bersamaan.

Jika bunganya mekar, daunnya akan jatuh berguguran.

Jika daunnya tumbuh menghijau, giliran bunganya yang layu.

Hal ini dilatarbelakangi oleh sebuah legenda sedih tentang sepasang kekasih yang tak pernah bisa bersatu.

Sebuah legenda sedih, Manju dan Saka yang dikenal sebagai dua penjaga Higanbana, dimana ada dua peri yang bertugas menjaga higanbana yang tumbuh di Diyu (neraka).

Manju bertugas menjaga bunga sementara Saka diperintah untuk menjaga daunnya oleh Dewi Amaterasu.

Keduanya dilarang meninggalkan tempat masing-masing. Namun karena penasaran, suatu hari kedua peri tersebut bertemu saat daun higanbana tumbuh mencapai kelopak bunga. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Sayangnya pertemuan mereka diketahui oleh Amaterasu.

Amaterasu, sang dewi matahari murka karena kedua peri tidak menaati perintahnya, sehingga Amaterasu mengutuk keduanya agar tidak pernah bisa bertemu lagi. Sejak saat itu bunga yang dijaga oleh Manju tidak pernah lagi tumbuh dalam waktu yang sama dengan daun Saka.

"seperti melindungiku, dia selalu berada di sampingku...".

Yasmine menatap Khali yang perlahan berubah ke wujud Alter sebelum ia menghilang ke balik api, dimana Yasmine mengarahkan telapak tangannya ke arah Khali yang terbakar tubuhnya dan meneriakkan namanya.

"KHALI?!".


Yasmine terbangun dan memegangi kepalanya "cuma mimpi? Aku lupa apa isi mimpinya tapi sepertinya belakangan ini aku selalu memimpikan hal yang sama setelah hari pertunanganku dengan Khali. Padahal, kondisi tubuh Khali justru membaik dibanding setengah tahun yang lalu".

Lewat 2 bulan setelah pertunangan mereka berdua, Khali menemani Yasmine yang ziarah ke kuburan orang tua kandungnya. Kali ini, Yasmine memperkenalkan Khali pada orang tuanya sebagai tunangannya.

Khali memeluk Yasmine dari belakang setelah Yasmine memperkenalkan Khali sebagai calon suaminya, tunangannya, pria yang ia cintai di hadapan makam mendiang ayahnya "aku sangat mencintaimu".

Yasmine balas memeluk Khali dan tertawa.

Selesai ziarah, Khali mengajak Yasmine ke tempat yang tak jauh dari desa, sebagai hiburan untuk Yasmine katanya. Saat tiba di tempat yang dimaksud Khali, Yasmine baru mengerti apa maksudnya.

Di samping pohon Asayuki yang batangnya masih berdiri kokoh dengan daun berwarna ungu, ada taman bunga yang terbentang luas di samping sungai. Kini yang ada di hadapan Yasmine adalah hamparan bunga matahari yang berbatasan dengan hamparan bunga Higanbana yang tumbuh di tepi sungai.

Khali berjalan melewati Yasmine dan memunggungi Yasmine sambil menatap padang bunga Higanbana yang berwarna merah pertanda musim gugur tiba "apa kau tahu? nama Higanbana secara harfiah ditulis dengan kanji yang berarti berarti bunga 'Higan', bunga yang mekar di pinggir Sungai San Tzu, dengan kata lain bunga kematian... arti nama bunga Higanbana sendiri adalah "Tidak akan pernah bertemu kembali", "kenangan yang terlupakan", "ditinggalkan"... semuanya memiliki arti terkait dengan kehilangan, kerinduan, penelantaran dan kenangan yang hilang, bahkan ada juga legenda yang mengatakan apabila kau bertemu dengan seseorang yang nantinya tidak akan pernah kau temui lagi, Higanbana akan berbunga di sepanjang jalan".

Sesaat, Yasmine merasa kalau sosok Khali seperti akan menghilang, sehingga Yasmine berlari dan memeluknya dari belakang "Khali!?".

Khali memegangi telapak tangan Yasmine, menoleh ke belakang dengan heran "...ada apa?".

"sesaat... aku merasa kau akan menghilang..." ujar Yasmine dengan suara gemetar sebelum ia mendongak ke arahnya "jangan menghilang... kau takkan pergi dan meninggalkanku sendirian, kan?".

"tidak akan..." ujar Khali mencium pelupuk mata Yasmine dan mengelus-elus kepala Yasmine "tenang saja... aku takkan pergi kemana-mana... aku akan selalu ada di dekatmu...".

Keduanya berbaring di tengah padang bunga matahari dan bunga Higanbana, berandai-andai jika mereka bukan 'bunga' dan 'daun'. Andai Khali bukan 'daun', andai saja Yasmine bukan 'bunga'. Jika sama-sama manusia atau sama-sama Oni, apakah mereka bisa hidup bersama dan bahagia selamanya? tapi pada akhirnya, hubungan mereka yang terbilang aneh atau tidak biasa ini takkan bisa terjalin jika mereka bukan 'bunga' dan 'daun', dan ini lahsangat penting bagi mereka.

Yasmine merentangkan kedua tangannya "Khali... kira-kira kenapa perjanjian bunga dan daun dibuat, ya?".

"kurasa perjanjian 'daun' dan 'bunga' dibuat untuk memperingatkan Oni yang kemampuannya melebihi manusia... juga untuk memperingatkan para manusia serakah yang telah membuat perjanjian dengan Oni hanya untuk mendapatkan kesempatan hidup kedua betapa pentingnya waktu yang telah hilang sehingga akan lebih baik jika kita menggunakan waktu kita dengan lebih bijaksana, agar kita bisa lebih bersyukur dan tidak serakah...".

"kira-kira ada nggak, ya? Cara untuk kita melepaskan diri dari kutukan ini?".

"kau takut kumakan atau kuhisap darahmu lagi?" ujar Khali terkekeh.

"...itu juga, sih... tapi..." ujar Yasmine menoleh ke arahnya dan tersenyum "aku lebih tak tahan jika aku harus melihatmu kesakitan karena menahan diri... tak apa jika kau tak tahan, kau boleh menghisap darahku atau memakan dagingku untuk meredakan rasa sakitmu".

"jika itu sampai terjadi lagi, sama saja mengakhiri hidupmu sendiri, kan?" ujar Khali menyentil dahi Yasmine "kau lupa kalau Leila akan menendangku ke laut dari tebing atau nyonya Maya akan membasmiku jika aku berani melukaimu? Aku bisa benar-benar mati nanti, lagipula tak ada laki-laki yang tahan jika harus melihat wanita yang dicintainya merasa kesakitan".

"tapi aku juga tak ingin melihat orang yang kucintai menderita", Yasmine tersenyum lembut sebelum ia tertawa lebar "tenang saja, aku tak berniat menyerahkan nyawaku padamu, kok... sebab yang kuinginkan adalah hidup panjang umur, bahagia bersamamu...".

Khali merubah posisi berbaringnya, menopang kepalanya dengan tangan kirinya sementara ia menyentuh wajah Yasmine dengan tangan kanannya "Yasmine... kurasa... lebih baik kau temui kakakmu...".

Yasmine duduk dan mengerutkan dahi "kakak... maksudmu, kak Hak? kenapa tiba-tiba?".

"kurasa lebih baik kau temui kakakmu, soal bagaimana reaksi kakakmu dan kemungkinan yang lain, kita pikirkan nanti... kau ingin bertemu dengannya, kan? meski kau tak bilang apa-apa, aku tahu kalau kau merindukannya... terlihat jelas dari sorot matamu, kau juga ingin bertemu kakak laki-lakimu meski itu hanya sebentar, kan? bukankah bagus jika anggota keluargamu bisa bertambah? memangnya kau tak ingin membuat kenanganmu dengannya?".

"selalu saja Khali seolah bisa menembus isi hatiku dan melihatku seutuhnya, aku tak bisa menyangkal apapun yang ia katakan karena itu semua benar" pikir Yasmine yang terharu "bicara gampang, tapi...".

"kita takkan tahu jika kita tak mencobanya, kan?" ujar Khali yang menyapu air mata Yasmine dan memeluknya.

Yasmine terkejut saat tiba-tiba Khali mendorong Yasmine hingga Yasmine terbaring di tanah. Sorot matanya seolah membekukan tubuh Yasmine, sesaat Yasmine berpikir ia akan diserang seperti saat itu, tapi kemudian Khali berbaring di samping Yasmine sambil menutup mata "ah, ngantuknya".

Lega dan geli membuat Yasmine tertawa kecil melihatnya "memang, cuacanya bikin ngantuk... baik, kurasa kau benar... jika kita sudah menceritakan semua yang terjadi sejak tahun lalu, kau mau apa setelah itu?".

Khali menyentuh giwang Yasmine dan tersenyum "...setelah itu, kita ceritakan hubungan kita dan minta restunya agar aku bisa menukarkan kedua giwang ini dengan giwang pernikahan...".

Yasmine mengecup kening Khali "biar aku yang cerita, dan setelah itu... kau harus berusaha mendekatinya, okay?".

"tentu..." ujar Khali menarik tangan Yasmine dan mencium Yasmine.

Keduanya tertidur untuk beberapa saat, ketika Yasmine membuka mata, hari sudah sore dan angin kencang mulai bertiup.

"semakin dingin disini..." ujar Yasmine duduk, ia agak terkejut karena ia tertidur cukup lama.

"aku mencintaimu, Yasmine..".

Saat Yasmine menoleh ke belakang karena mendengar suara Khali, ia melihat Khali duduk di belakangnya, tersenyum lembut dan mencium Yasmine.

Sorot mata Khali begitu tenang dan lembut menatap Yasmine yang heran "...Khali?".

Tiba-tiba, angin bertiup sangat kencang, menerbangkan kelopak bunga matahari, membuat Yasmine menutup mata sesaat.

Yasmine membuka mata sambil membetulkan rambutnya yang berantakan "aduh... rambutku berantakan... anginnya...".

Yasmine terkejut melihat Khali terbaring di depannya "apa yang kulihat tadi hanya mimpi atau aku masih setengah tidur?".

"Khali... ayo bangun, kita pulang... sudah sore, nanti yang lain mencari kita... semakin dingin disini, nanti kau masuk angin..." ujar Yasmine menyentuh bahu Khali.

Yasmine terbelalak, ia terkejut saat menyentuh tubuh Khali yang begitu dingin, begitu ia tempelkan telinganya ke dada Khali, wajah Yasmine berubah drastis menjadi pucat "tak ada lagi suara kehidupan darinya. Baik itu detak jantungnya, napasnya ataupun suhu tubuhnya, tak ada lagi yang tersisa selain jejak aliran linangan air mata dari matanya yang mulai kering dan suhu tubuhnya yang semakin dingin".

"tidak... ini bohong, kan? Khali, buka matamu!? Kau bilang... kau akan selalu ada disisiku, kan?" ujar Yasmine mendekap Khali erat dan mendongak, menatap langit senja yang sama merahnya dengan hamparan padang bunga Higanbana yang terhampar di tepi sungai ini.

"apabila kau bertemu dengan seseorang yang nantinya tidak akan pernah kalian temui lagi, Higanbana akan berbunga di sepanjang jalan".

Sambil memeluk erat tubuh Khali yang begitu dingin, Yasmine hanya bisa menangis "Khali... aku mohon, kembalilah!? Jangan tinggalkan aku sendirian!?".

Tapi tak peduli betapa kerasnya Yasmine menangis, berapa kali Yasmine memanggil namanya, Khali tak pernah membuka matanya, ia telah tertidur untuk selamanya. Entah berapa lama dia menangis, bersamaan dengan saat ia mulai menangis, hujan turun seolah langit ikut menangis bersamanya. Yasmine hanya bisa menangis sambil memeluk erat Khali di bawah hujan deras, di tengah padang bunga Higanbana sampai Karma muncul di hadapannya ketika hujan reda.

Setelah mendorong Yasmine menjauh, Karma membakar jasad Khali di hadapan Yasmine dan abu jasad Khali terbang tertiup angin.

Leila melihat Yasmine menangis di hadapan pria itu sehingga ia membentengi Yasmine "siapa kau? menjauh dari adikku?!".

"ini demi kau dan demi Khali, putri Yasmine... kau akan mengerti jika kau membaca surat yang ia titipkan pada Kayano" ujar Karma sebelum menghilang dari hadapan mereka.

Ketika Leila menoleh ke belakangnya dan memegang kedua bahunya, menanyakan apa yang terjadi dan dimana Khali, Yasmine langsung menangis. Begitu Leila membawanya kembali ke rumah, Maya melihat apa yang terjadi dan memberitahu mereka semua apa yang telah terjadi, bahwa Khali telah meninggalkan mereka untuk selamanya.

Mereka semua menangis malam itu dan Yasmine yang paling terpukul atas kepergiannya.


Seolah mendapat firasat atas kematiannya, Khali meninggalkan sepucuk surat yang ia titipkan pada Kayano "Khali berpesan, jika suatu saat terjadi sesuatu padanya, tolong serahkan ini pada anda...".

Surat Khali seolah menjawab semua pertanyaan Yasmine.


Yasmine, saat kau membaca surat ini, aku tak lagi ada di dunia ini. Kematianku yang sangat mendadak pasti memberatkanmu, karena itu akan kuberitahu satu hal. Aku sudah tahu kalau aku akan mati setelah kuberikan jantungku padamu saat kau seharusnya mati pada saat musim dingin terakhir kita di kerajaan Gujarat. Setiap 'daun' dapat meminjamkan jantungnya pada orang yang sudah mati, agar orang itu mendapatkan kesempatan hidup kedua.

Hari itu, setelah aku menghisap darahmu dan jatuh ke bawah jurang bersamaku, seharusnya kau sudah mati... karena aku yang membunuhmu... aku tak terima, dan aku kehilangan akalku, sehingga aku tak berpikir ulang dan aku takkan menyesal untuk memberikan jantungku padamu agar kau bisa tetap hidup. Suatu hari, Karma sempat muncul di hadapanku sehingga aku meminta Karma membakar jasadku jika aku sudah mati. Aku minta maaf atas keputusan yang seenaknya kubuat ini, tapi aku mengerti... ada kemungkinan kau akan sadar bahwa aku masih bisa hidup kembali jika kau mengembalikan jantungku yang ada di tubuhmu, padaku... aku tak menginginkan itu, karena itu aku meminta Karma melakukannya padaku. Aku takkan memintamu memaafkan Karma yang telah membunuh adik-adikmu, tapi kuminta kau mengerti bahwa ini kulakukan karena aku ingin kau tetap hidup, jangan menyalahkan Karma atas apa yang kuminta padanya.

Aku masih bisa hidup meski tanpa jantung dalam jangka waktu tertentu meski aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan... jika aku masih ingin tetap hidup, aku harus mengambil kembali jantungku yang ada di dalam tubuhmu, tapi aku tak sanggup memberitahumu apalagi mengambil kembali jantungku... aku tak jujur padamu sejak awal tentang perasaanku, bahkan berniat meninggalkanmu, karena aku sadar bahwa akan semakin sulit bagi kita untuk berpisah jika kau tahu perasaanku, seperti yang kualami.

aku selalu menutup mata dan telingaku karena aku berharap untuk tetap bisa bersamamu, tapi aku terlalu naif... aku pikir mimpi itu bisa jadi kenyataan jika aku menahanmu lebih lama lagi tapi sebanyak apapun aku menutupinya dan sekeras apapun aku melawannya, kenyataan itu tetap berdiri di tempatnya... aku bisa saja mengakhiri ini dengan mudah, tapi aku hanya ingin melihatmu tetap hidup lebih lama dariku, meski hanya sedetik lebih lama... aku sudah tak bisa melindungimu lagi, jadi jangan menangisiku terus agar aku bisa pergi dengan tenang.

Aku takkan memintamu untuk melupakanku karena aku tahu menyakitkan rasanya jika kita harus melupakan orang yang kita sayangi karena itu sama saja membunuhnya, orang yang sudah mati hanya bisa hidup dalam kenangan orang yang masih hidup. Maafkan aku karena aku harus pergi meninggalkanmu padahal aku yang menyuruhmu untuk tetap hidup karena bagaimanapun aku ingin kau tetap hidup, sesulit apapun itu.

mungkin kau berpikir, jika pada akhirnya aku hanya akan meninggalkanmu, seharusnya kita tak menjalani hubungan ini sejak awal... aku sempat berpikir demikian, tapi akhirnya aku tak bisa menahan diriku untuk tak memilikimu, aku sudah tak bisa melepaskanmu... kini aku tidak akan bisa menahanmu, pergilah kemanapun kau inginkan... sejak awal, tak seharusnya aku ada di sampingmu...

kaulah 'bunga'ku dan akulah 'daun'mu... meski aroma tubuhmu memabukkan Oni lain, hanya akulah Oni yang dapat merasakan apa yang kau rasakan, juga satu-satunya Oni yang akan memangsamu. Cepat atau lambat, ini akan terjadi... maafkan aku yang hanya bisa membuatmu menangis... sejak awal, tak seharusnya aku mencintaimu, tapi aku ingin kau ingat satu hal, melindungimu adalah segalanya bagiku. Aku takkan mengkhianatimu apapun yang terjadi, itu adalah sumpah yang kubuat sepenuh hati.

Aku ingin kau berjanji satu hal kepadaku, temukanlah kebahagianmu sendiri setelah ini... kau bisa mengingatku sesekali, tapi aku ingin kau bisa bahagia meski tak harus bersamaku, karena aku sangat menyukai tawamu dan senyumanmu yang tulus... jangan mati menyusulku terlalu cepat, jaga jantungku baik-baik... meskipun kita tak dapat bersama, tapi aku akan berusaha menepati janjiku... aku takkan mengkhianatimu, meski raga ini hancur... ingatlah kau tidak sendirian, jiwaku akan selalu menyertaimu...

Aku mencintaimu, Yasmine.

Khali.


Leila yang melihat keadaan Yasmine, menyadari kalau Yasmine menangis semalaman setelah membaca surat dari Khali. Leila yang membaca isi surat itu juga ikut menangis, terlebih setelah ia mendengar Yasmine bicara padanya.

"aku yang seharusnya sudah mati tahun lalu, kini masih hidup dengan nyawa Khali sebagai gantinya... secara tak langsung, aku yang telah membunuh Khali, kak...".

Leila hanya bisa memeluk Yasmine "jangan katakan itu, jangan salahkan dirimu... jangan sia-siakan nyawa yang telah diselamatkan oleh Khali, karena itu hiduplah...".

Beberapa hari setelah itu, Maya masuk ke kamar dengan wajah cemas dan meletakkan nampan berisi makan malam untuk Yasmine "Yasmine, makanlah sedikit... sejak kemarin kau selalu menyisakan makanan dalam jumlah banyak, kalau begini terus kau bisa sakit...".

Baru saja Maya bicara begitu dan keluar kamar, malam itu Leila menemukan Yasmine terkapar di dekat ranjang akibat muntah darah saat ia ingin memeriksa kondisi Yasmine sebelum ia tidur "Yasmine!?".

Kayano selaku spesialis pengobatan dalam tubuh mendiagnosa bahwa Yasmine kehilangan kemampuan untuk merasakan rasa sakit bahkan menolak makanan. Bisa dibilang, tubuhnya yang menolak makanan akibat faktor psikologis, stress atau depresi membuat tubuhnya jadi memproduksi lebih banyak asam, asam lambung yang tinggi membuatnya tak bisa menerima makanan dengan baik bahkan tak jarang, makanan bisa jadi tak bisa masuk. Yasmine positif mengalami Analgesia, suatu kondisi dimana seseorang kehilangan kemampuan merasakan rasa sakit dalam keadaan sadar yang disebabkan shock secara psikis yang sangat besar sehingga itu membuat alam bawah sadarnya jadi melumpuhkan fungsi syarafnya untuk merasakan sakit.

"ini tak bisa dianggap enteng, bukan hanya tak bisa merasa sakit, ia juga tak bisa merasakan apa itu panas, dingin, lapar ataupun kelelahan... baginya, makan dan tidur hanya untuk mengisi energi... jika mendapat luka fatal, akan jadi masalah karena ia tak merasakan rasa sakit sama sekali...".

"apa tak ada cara menyembuhkannya?" tanya Maya.

"memang bisa sembuh dengan terapi, masalahnya adalah... jika putri Yasmine sendiri memilih untuk membiarkannya, saya sebagai dokter bisa apa?" ujar Kayano menghela napas.

"lalu... apa ada pantangannya atau kondisi yang membuat penyakitnya ini makin parah?" tanya Maya.

"tentu saja, dia tak boleh stress apalagi depresi... jika ada yang mengganjal di pikirannya, dia tak boleh memendamnya dan harus mengutarakannya jika dia tak mau asam lambungnya naik" jawab Kayano.

Malam itu, Leila yang berjaga di samping Yasmine mendengarkan cerita Yasmine tentang asal usul bunga Higanbana "sama halnya dengan Oni dan Hanatsuki yang terkena kutukan 'daun' dan 'bunga', keduanya tak akan bisa bersatu tak peduli sebesar apapun perasaan mereka... apa menurutmu aku bodoh, kak?".

"ingat apa kata Kayano? Jangan banyak pikiran, istirahatlah..." sahut Leila masuk ke samping Yasmine dan menarik selimut "sekarang, bagaimana jika kau dengar ceritaku?".

Yasmine mengedipkan mata saat melihat Leila tersenyum. Leila menceritakan hubungannya dengan mendiang Takahiro.

"mereka mencoba membohongiku dan menutupi fakta kematian Takahiro, tapi aku ingat betul apa yang terjadi meski aku sempat tak ingat akibat demam tinggi yang kualami... warna merah darahnya yang melumuri es yang putih kebiruan saat itu dalam sekejap membuatku membenci musim dingin dan bunga berwarna merah, termasuk bunga Higanbana... setidaknya itulah yang kupikirkan 3 tahun lalu saat aku masih seusiamu", Leila mengelus kepala Yasmine sebelum ia tersenyum sendu dengan mata berkaca-kaca "tapi ibunda tak bisa dibohongi sama sekali... saat ia tahu bahwa aku mengingat semuanya, ia langsung menasehatiku dan aku teringat apa yang dikatakan mendiang Takahiro sebelum ia jatuh ke bawah... ia tersenyum, dan ia bilang...".

"maafkan aku, Leila...".

Leila bertopang dagu dan membiarkan air matanya mengalir "dasar pria bodoh... secepat itu dia meninggalkanku... aku sempat ingin menyalahkan diriku, tapi mimpi yang kualami saat aku demam tinggi itu mengubah semuanya".

Saat demam tinggi, Leila bermimpi bertemu dengan mendiang Takahiro di sebuah taman bunga yang indah, dimana bunga Higanbana tumbuh di tepi sungainya. Mereka bicara banyak hal dan Takahiro meminta Leila hal yang sama dengan apa yang diminta Khali pada Yasmine.

"seiring waktu berjalan, aku sadar... sebesar apapun penyesalan dan kesedihanku, dia takkan kembali lagi, dan yang bisa kulakukan hanyalah memenuhi keinginan terakhirnya... jika ia ingin aku bisa menemukan kebahagiaanku lagi, tetap hidup dan tersenyum, akan kulakukan... agar ia tak bersedih saat mengawasi dari atas sana".

Mendengar ucapan kakaknya, Yasmine tahu, Leila tak bermaksud membuatnya sedih sehingga ia memeluk Leila erat. Leila mengelus kepalanya dan merangkul bahunya, tersenyum setelah ia menyeka air matanya.

Teman dan saudara senasib.

Malam itu, entah karena apa yang diceritakan Leila, Yasmine bermimpi ia bertemu dengan Khali setelah Tatiana menarik tangannya hingga mereka sampai di tempat yang sama dengan yang disebutkan Leila.