SAVE THE SECRET © azalea supasuna
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto. Saya cuma minjem
Warning : OOC,gaje,typo,alur lambat,bahasa gado-gado,minim diksi,humor gagal,garing,dkl
Pairing : SasuHina
RnR,please !
(Mohon maaf jika terdapat kesamaan cerita. Inspirasi saya banyak. Tetapi ini murni karya saya)
.
.
.
Hyuuga Hinata dan hidupnya yang biasa-biasa saja berubah, ketika seorang Uchiha Sasuke tinggal di rumahnya dan mengacaukan segalanya.
.
.
.
Chapter 7
Sampai di sekolah, Neji langsung menarik tangan Hinata. Meninggalkan Sasuke yang hanya menatap diam.
Sebelum jauh, Hinata sempat membungkukkan badannya ke arah Sasuke. Tanpa Sasuke sadari senyum tipis tersungging di wajah tampannya. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena Neji segera menarik tangan Hinata.
"Yo, Sasuke !" Sasuke menoleh dan menemukan Shikamaru yang tengah berjalan ke arahnya.
Bisa gawat kalau ia sampai tahu Sasuke berangkat bersama Hinata –juga Neji-.
"Kau ganti mobil, Sasuke ?" tanya Shikamaru melihat sedan putih yang berada di belakang tubuh Sasuke.
"Hn"
"Bukan tipemu sekali, eh ?" ejek Shikamaru
"Hanya ingin ganti suasana" jawab Sasuke sekenanya
"Aku tahu yang kau tahu" ujar Shikamaru santai
"Maksudmu ?" Shikamaru tak mungkin tahu kalau ia tinggal serumah dengan Hinata'kan ?
"Oh, ayolah. Kemana otak Uchihamu itu, hm ?" Sial. Ternyata Shikamaru benar-benar tahu.
"Apa yang kau inginkan ?" tanya Sasuke datar
"Aku tidak menginginkan apa-apa. Hanya ingin kau tahu bahwa aku tahu" Sasuke memandang Shikamaru tak percaya.
"Lagi pula jika aku mengumumkan hal itu ke seluruh sekolah apa untungnya bagiku ? Malah akan menjadi hal yang merepotkan" jelas Shikamaru sambil menguap.
"Sudahlah, ayo ke kelas"ajak Shikamaru pada Sasuke sembari mulai berjalan. Sasuke masih bergeming di tempat.
"Oi," Shikamaru berbalik dan memanggil Sasuke.
Sasuke mulai berjalan ke arah Shikamaru. Hah, Setidaknya Sasuke bisa mempercayai teman nanasnya itu.
Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang mendengar percakapan tersebut.
'Kelihatannya ada sesuatu yang kau sembunyikan ,ne Sasuke-kun ? Tapi tenang saja. Tak lama aku akan mengetahuinya' batin sosok tersebut sambil menyeringai
.
.
.
Bel masuk sebentar lagi dan Hinata belum menampakkan batang hidung sama sekali. Mungkin ia masih diseret kesana kemari oleh Neji.
Dan benar saja, bel masuk berbunyi dan semenit kemudian Hinata baru masuk ke kelas.
Ia buru-buru duduk di kursinya saat tatapan tajam Sasuke menuju ke arahnya.
Tak lama Guy-sensei masuk kelas dengan senyumnya yang membuat seisi kelas silau.
"Murid-muridku, kobarkan semangat muda kalian ! Ayo kita ke lapangan !" teriak Guy-sensei
"Ayo, Guy sensei !" ucap Lee semangat
"Waktu ganti baju 15 menit. Telat 1 menit putar lapangan 2 kali. Ayo Lee !" seru Guy-sensei dengan semangat masa mudanya.
"Ayo Guy-sensei !" ucap Lee tak kalah semangat, dan telah berganti baju olah raga. Entah kapan ia ganti baju.
Kedua guru dan murid tersebut berjalan beriringan dengan background ombak laut dan matahari yang bersinar terang. Seterang gigi Guy-sensei.
Para siswa yang melihatnya sweatdrop berjamaah.
"Ayo Hinata !" ajak Tenten pada Hinata yang tengah asyik memandang duo magkuk itu.
"E-eh, iya. Aku ambil baju dulu" Hinata berbalik kebelakang membongkar isi tasnya.
"Eh, ka-kaos olah ragaku dimana ?" Hinata sibuk mencari kaos olah raganya yang entah terselip di mana. Sedangkan celana trainingnya sudah ia taruh di atas meja.
"Tadi udah dimasukin belum ?" tanya Tenten yang ikut melongok ke tas ransel Hinata.
"Ta-tadi sih udah. Ta-tapi kok nggak ada ?" Hinata hampir mewek
Sasuke yang masih ada di dalam kelas melihat hal itu. Ia memegang kaos olah raganya dengan perasaaan gamang.
Ia antara ingin dan tidak ingin meminjamkan kaosnya kepada Hinata. Hei, sejak kapan ia menjadi perduli begini ? Sasuke sendiri heran dengan sikapnya ini.
Namun ia tidak tega kalau Hinta harus dihukum mengitari lapangan karena tidak memakai kaos olah raga.
Tapi jika ia meminjamkan kaosnya kepada Hinata secara langsung, ia terlalu gengsi. Dan mungkin Hinata akan menolak. Hinata tak akan membiarkannya dihukum karena tidak memakai kaos olah raga, bukan ?
"A-ayo Tenten-chan. Kelihatannya a-aku memang tidak bawa". Ucap Hinata sendu. Segera ia mengajak Tenten keluar kelas. Ia tidak akan membiarkan Tenten dihukum gara-gara dirinya.
Sasuke yang mendengarnya segera berjalan ke depan dan menjatuhkan kaos olah raganya di samping kursi Hintaa tanpa diketahui si empunya kursi maupun Tenten.
"Tunggu dulu Hinata !" seru Tenten. Ia mengambil kaos yang dijatuhkan Sasuke tadi.
"Y-ya ?"
"Bukankah ini kaos olah ragamu ?" tanya Tenten sambil menunjukkan kaos olah raga kepada Hinata
"He ? Ka-kau menemukannya dimana ?" Hinata menerima kaos olahraganya
"Jatuh di samping kursimu. Ayo cepat kita ganti baju. Tinggal 8 menit lagi" Tenten menggeret Hinata ke kamar mandi.
'Bu-bukankah tadi tidak ada ?' pikir Hinata terheran
.
.
.
Hinata menyingsingkan lengan kaos olah raga yang dipakainya. Ia –sangat- merasa bahwa kaos ini bukan miliknya. Walaupun kaos olahraganya berukuran lebih besar daripada ukuran normal gadis seusianya, namun sekali lagi ia yakin bahwa ini bukan kaos miliknya.
Kaos ini saja hampir menutupi separuh pahanya, jika tidak ia masukkan ke dalam celana trainingnya. Hinata membayangkan dirinya hanya memakai kaos ini tanpa bawahan. Hiii. Dan selanjutnya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Uchiha-san, mana kaos olahragamu ? Jika tanpa kaos olahraga, kau terlihat bagai anak tanpa semangat muda !" tegur Guy-sensei
Hinata segera menoleh ke arah Sasuke. Dan benar saja. Ia melihat Sasuke mengenakan celana trainingnya dengan atasan kemeja sekolah.
"Aku lupa tidak membawa" ujar Sasuke santai
"Hah, baiklah kalau begitu lari 10 putaran !" perintah Guy-sensei
"Ayo, Sasuke-kun. Aku akan menemanimu !" ujar Lee semangat dan langsung berlari. Yang dihukum siapa yang lari siapa.
"Kau memang murid terbaikku, Lee !" ujar Guy-sensei berlinang air mata.
Hinata memilin ujung kaos olahraga yang dipakainya sembari menatap Sasuke yang sedang berlari.
'Mu-mungkinkah ini milik Sa-sasuke-kun ?'
Karena seingatnya tadi Sasuke sempat memasukkan kaos olahraganya ke dalam tas.
Hinata menaikkan salah satu kerah kaosnya dan membau
Blush
'I-ini wangi Sasuke-kun'
yang sudah tercampur dengan keringat Hinata
.
.
.
Setelah melaksanakan jam olah raga, murid kelas XI-2 segera menyerbu kantin.
"Teuchi Jii-san, aku pesan ramen super satu porsi !" teriak Naruto tak tahu malu
"Roger, Naruto !" balas Teuchi tak kalah keras. Ia sudah terbiasa dengan teriakan Naruto saat memesan ramennya.
Sasuke yang disamping Naruto hanya diam. Padahal ia tadi sudah lari 10 putaran lapangan dan ditambah melakukan tanding basket yang menjadi jadwal olah raga hari ini. Namun ia sama sekali tidak berselera makan. Ia hanya meminum air mineral.
"Pesanan datang" ucap Ayame sambil membawa seporsi besar ramen.
"Wahhh…" mata Naruto berbinar-binar. Segera ia menyantap makanannya seperti orang tak makan satu tahun.
"Sousouke, kenapou kou tidouk membowou kauwos olaoh rogoumu ?" tanya Naruto dengan mulut penuh remen
"Telan dulu makananmu, Dobe !" ujar Sasuke jijik
Glekk… cepat-cepat Naruto menelan ramennya.
"Kenapa kau tidak membawa kaos olah ragamu ? Kau kan orangnya teliti sekali" tanya Naruto heran
"Setelitinya aku, aku hanyalah manusia biasa, Dobe. Tempatnya salah dan lupa" ujar Sasuke puitis
"Uhukk…Uhukk…" Naruto yang mendengarnya tersedak ramen yang dimakannya.
"K-kau terlalu banyak berlari Sasuke !" ujar Naruto horor
Sasuke hanya menyeringai melihatnya. Tidak mungkinkan ia memberitahu Naruto bahwa ia meminjamkan kaos olahraganya kepada Hinata ? Bisa-bisa kawannya itu melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Jashin karena telah menyembuhkan sifat tidak perduli Sasuke.
.
.
.
Hinata berdiri di depan pintu kantin sambil memandang Sasuke dan Naruto yang tengah terlibat pembicaraan.
Ditangannya terdapat jus tomat yang ia beli dari finding machine. Seminggu tinggal bersama Sasuke membuatnya tahu bahwa bungsu Uchiha itu menyukai segala makanan dan minuman berbahan dasar tomat.
Niatnya sih Hinata ingin memberikan jus tomat itu kepada Sasuke. Itung-itung sebagai ucapan terima kasih karena Sasuke telah meminjaminya kaos olahraga, yang membuat Sasuke harus rela lari 10 kali putaran lapangan.
Dengan langkah ragu-ragu, Hinata menghampiri Sasuke
"A-ano, Sa-sasuke-kun, i-ini untukmu !" Hinata menyerahkan jus tomat yang dibawanya dengan wajah menunduk.
Sasuke menyeritkan dahi melihat Hinata yang ada di depannya. Kenapa gadis ini memberikannya sekaleng jus tomat ?
Sedangkan Hinata masih menunduk dengan tangan yang ia sodorkan ke Sasuke. Hatinya gelisah saat Sasuke tak kunjung mengambil jus tomat itu. Apakah Sasuke tidak mau menerimanya ?
Naruto melihat bergantian pada Hinata yang terus membungkuk dan Sasuke yang tidak segera mengambil jus tomat yang disodorkan Hinata.
"Waahh, kau memang baik sekali Hinata-chan. Arigatou-ne" Naruto tiba-tiba mengambil jus tomat itu dari tangan Hinata dan langsung meminummya
'Ugh, kenapa Teme suka sekali dengan buah ini sih' gerutu Naruto dalam hati sambil menahan diri agar tidak memuntahkan kembali jus itu.
Hinata dan Sasuke terkejut melihat Naruto yang tiba-tiba mengambil jus tomat itu dan langsung meminumnya.
"Kanapa kau meminumnya, Dobe ?!" bentak sasuke
"Habis kau tak kunjung mengambilnya sih" ujar Naruto enteng
Sasuke menatap Naruto dengan pandangan membunuh. Jus itukan buat Sasuke kenapa Naruto yang meminummnya ?!
Sedangkan Hinata merasa lega sekaligus sedih di saat bersamaan. Lega kerena ia tidak harus terus membungkuk dan sedih karena Sasuke tidak mau mengambil jus tomat yang ia berikan.
"Sini!" Sasuke tiba-tiba merebut jus tomat yang dipegang Naruto. Ia mengguncang-guncangkan kaleng tersebut. Tidak ada suara air sedikitpun di dalamnya.
"Kau?!" geram Sasuke marah
"Apa ? Kau tidak mau meminumnyakan ?" sahut Naruto tak merasa bersalah
Sasuke hendak maju mencengkram kaos Naruto, namun gagal karena dihalangi Hinata
"Su-sudahlah U-chiha-san. Bukankah kau tidak mau mengambilnya ?"
Deg. Hati Sasuke tertohok mendengarnya. Bukankah baru kemarin mereka saling memanggil dengan nama kecil ? Dan sekarang ia dipanggil dengan nama marganya ?
"Hn. Aku memang tidak mau mengambilnya, Hyuuga" balas Sasuke dingin
Hinata menunduk. Entah mengapa hatinya terasa sakit. Lebih sakit saat Sasuke tidak mau mengambil jus tomat yang ia berikan.
"Ba-baiklah kalau begitu. Aku permisi" Hinata melangkah keluar dari kantin dengan wajah menunduk tanpa melihat Sasuke maupun Naruto.
.
.
.
Canggung. Itulah yang Neji rasakan saat mereka bertiga berada di dalam mobil saat perjalanan pulang sekolah.
Jika tadi pagi Hinata tidak mau duduk di depan dan harus menjadikannya supir pribadi, kali ini tanpa disuruh Hinata langsung duduk di depan.
Sasuke kelihatannya juga tidak masalah. Ia asyik memasang headphone di kepalanya sambil menutup mata.
Seharusnya Neji merasa senang dengan keadaan ini. Ia jadi tak perlu menjauhkan adik kesayangannya dari ayam jadi-jadian itu. Namun entah mengapa saat ia melihat wajah murung Hinata, Neji merasa sedih.
Sampai di rumah pun Sasuke dan Hinata langsung bergegas ke lantai dua, dengan Sasuke yang berjalan di depan dan diikuti Hinata yang berjarak 3 meter di belakang.
Tidak ada kata ejekan dari Sasuke maupun ucapan terima kasih Hinata untuk Neji. Kalau ejekan Sasuke sih, Neji akan senang hati tidak menerimanya. Tetapi ini ucapan terima kasih dari Hinata. Garis bawahi kata Hinata.
Neji jadi kesal sendiri. Sebenarnya ada apa sih dengan kedua orang itu?! Seperti kekasih yang sedang musuhan saja!? Wait! Neji pasti sudah gila karena berpikir seperti itu.
.
.
.
Sasuke menjatuhkan dirinya ke kasur tanpa melepas seragamnya. Pikirannya melayang pada kejadian di kantin tadi. Sungguh, ia tidak bermaksud berkata kasar kepada Hinata. Ia hanya kesal karena jus yang seharusnya ia minum malah dihabiskan Naruto.
Dan yang paling menyebalkan adalah saat Hinata membela Naruto dan memanggilnya dengan nama marga. Bukannya ia tak mau mengambil jus tomat yang Hinta berikan. Ia hanya sedang berpikir untuk apa Hinata memberikan jus tomat itu kepadanya.
"Hah" Sasuke menghela nafas panjang. Ia melihat jam tangannya. Satu setengah jam ? Ia memikirkan hal ini selama satu setengah jam ?!
Sasuke lelah. Ia mulai lelah dengan hal ini. Ia menutup kedua matanya dengan lengan kirinya. Saat hampir terlelap tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya diketuk.
Sasuke mengerang kesal. Tidak bisakah orang itu membiarkannya tidur dengan tenang ? Dengan wajah masam Sasuke mulai berjalan ka arah pintu. Ia berniat menyemprot orang yang berani mengganggunya. Namun saat ia sudah membuka pintu, tidak ada siapa-siapa di depannya. Hanya ada sebuah kotak persis di depan kakiknya. Dengan raut wajah bingung, Sasuke mengambil kotak itu dan membawanya masuk ke kamar.
.
.
.
Hinata sedih. Entah karena apa. Mungkinkah karena kejadian tadi pagi ? Seharusnya ia sudah bisa memaafkan Sasuke. Dan seharusnya pula ia senang karena ia bertemu dengan Naruto. Namun hal itu tidak terjadi padanya.
Tiba-tiba ia ingat akan kaos olah raga Sasuke yang masih ada di dalam tasnya. Ia harus segera mengembalikannya kepada Sasuke. Yah, walaupun tidak secara langsung.
Cepat-cepat Hinata mengambil kaos Sasuke dari tasnya kemudian mencucinya. Setelah kering ia menyetrikanya dan menaruhnya di atas tempat tidur. Ia sempatkan untuk menulis sesuatu untuk Sasuke.
Ia kemudian berpikir bagaimana cara menyerahkan kaos itu kepada Sasuke tanpa menemuinya. Minta tolong pada Neji? Tidak. Itu sama saja dengan bunuh diri. Diletakkan begitu saja di depan pintu? Tidak. Tidak. Hinata geleng-geleng kepala. Bagaimana kalau nanti malah dijadikan keset kaki oleh Sasuke? Ditaruh dalam tas kresek hitam? Nanti malah dikira bom. Hah. Hinata bingung.
Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. Cepat-cepat ia merogoh kolong tempat tidurnya. Ia menarik sesuatu dari dalam sana.
"S-syukurlah,kotak sepatuku masih ada"
.
Dengan perasaan deg-degan ,Hinata mulai berjalan keluar kamar. Ia meletakkan kotak tersebut di depan kamar Sasuke.
Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya berkali-kali, Hinata mulai mengetuk pintu kamar sasuke.
.
Hanya dua ketukan dan setelahnya ia lari terbirit-birit masuk ke kamar.
.
.
.
Dengan wajah penasaran Sasuke mulai membuka kotak –yang ia yakini adalah kotak sepatu-
Ternyata di dalamnya ada sebuah kaos. Sasuke mengeluarkan kaos tersebut, dan ia mengenalinya sebagai kaos olahraga miliknya. Bukankah kaos olahraganya ada di Hinata? Kenapa tiba-tiba ada di sini? Atau jangan-jangan…
Sasuke mencoba melihat kembali ke dalam kotak tersebut dan menemukan secarik kertas di dalamnya.
Terima kasih atas kaosnya,dan maaf telah membuatmu dihukum
Sasuke tersenyum simpul. Dugaanya benar. Hinata sudah tahu. Jadi ini alasan Hinata memberinya jus tomat? Sebagai ucapan terima kasih ?
Ah,bodohnya Sasuke karena telah menolaknya. Bukan menolak sih,tapi tak sempat menerima.
Segera ia keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Hinata yang ada di sebelahnya secara tak sabar.
Cklek
Greb
"E-eh" Hinata bulshing. Kenapa ni orang tiba-tiba meluk?
"A-ada a-apa Sas,ah U-uchiha-san?" tanya Hinata gugup
"Sasuke. Panggil aku Sasuke, Hinata"
"I-iya. A-ada apa?" Hinata mencoba mengurai pelukan Sasuke.
Tapi Sasuke malah memeluknya lebih erat."Maaf" ucap Sasuke singkat
"E-eh, u-untuk apa?" Hinata bingung
"Karena menolak jus tomatmu"
"O-oh, se-seharusnya a-aku yang minta maaf,ka-karena membuatmu dihukum" Hinata tertunduk
Sasuke mengurai pelukannya "Tentu saja. Kau harus minta maaf" Sasuke menyeringai
"Ma-maaf" Hinata berkata sekali lagi
"Tak semudah itu"
"E-eh?" Hinata mendongak menatap Sasuke. Entah mengapa ia punya firasat buruk tentang ini.
"Mulai sekarang kau harus membuatkanku jus tomat setiap hari" perintah Sasuke mutlak
"Ha-hanya itu ?" tanya Hinata memastikan
"Tentu. Apa kau mau syarat yang lain?" kembali Sasuke menyeringai
"Ti-tidak!" Hinata berkata cepat
"Bagus" Sasuke mengacak rambut Hinata pelan. Hinata merona.
"Buatkan se-"
"Apa yang kau lakukan pada adikku, Uchiha?!"
"Eh?"
Kedua orang yang berdiri di depan pintu seketika menoleh pada ujung tangga. Disana ada sesosok Neji Hyuuga yang sedang dalam mode murka.
Bagaimana tidak murka? Ia melihat dengan jelas tangan laknat Sasuke yang menyentuh-mengacak lebih tepatnya-rambut indah Hinata.
"Ada apa ?" tanya Sasuke cuek
"Singkirkan tanganmu dari rambut adikku !"
"Maksudmu begini ?" Sasuke kembali mengacak rambut Hinata
Neji tak tahan. Segera ia menghampiri Hinata dan menghempaskan tangan Sasuke dari kepala adiknya. Ia kemudian memeluk adiknya posesif.
"Se-sesak, Ne-neji-nii" Hinata kehabisan nafas
"Ah, maaf" segera Neji melepas pelukan mautnya.
"A-ada apa Neji-nii ?"
Ah, tuh kan. Neji jadi lupa tujuan utamanya datang ke sini. Naitnya sih ia ingin menggeret Sasuke untuk mengerjakan hukuman mereka berdua –membersihkan kebun belakang rumah- yang diperintahkan langsung oleh Hiashi.
Sebenarnya Neji ingin kabur saja. Namun apa daya jika sang Jii-san menggedor-gedor pintu kamarnya untuk mengingatkan apa yang telah dititahkan harus dilaksanakan.
Dan tentu saja Neji tak ingin membersihkan sendirian. Makannya ia ke atas untuk menyeret Sasuke. Tak disangka ia malah menemukan si ayam jadi-jadian itu tengah mengacak mesra rambut adiknya.
Entah apa jadinya Sasuke kalau saja Neji sempat melihatnya memeluk Hinata tadi.
"…Nii"
"…Ne-neji-Nii"
"Eh, oh ada apa ?"
"Ke-kenapa kesini ?"
"Kau. Ikut aku. Ada perintah yang harus dilaksanakan" tanpa babibu Neji langsung menyeret Sasuke. Meninggalkan Hinata yang terbengong melihatnya.
.
.
.
'Sial. Kenapa aku bisa lupa' gerutu Sasuke dalam hati.
Pasalnya ia kini sedang berada di kebun belakang kediaman Hyuuga, memakai sarung tangan putih, dan tengah mencabuti rumput liar. Hell. Baru kali ini ada seorang Uchiha yang mencabuti rumput liar. Lupakan ibunya yang memang senang berkebun.
Pantas saja Neji segera menyeretnya kemari.
"Cih," tanpa sadar Sasuke mendecih pelan
"Kerjakan saja tugasmu, Uchiha" semprot Neji
"A-ano, a-apakah aku boleh membantu kalian ?" tanya Hinata yang datang tiba-tiba dan sudah siap dengan peralatan tempurnya.
"Hn. Kemarilah" ucap sasuke
Bak anak ayam, Hinata segera mendekat ke arah Sasuke.
"Hei, kesini saja. Bantu kakakmu ini, Hinata!" seru Neji
Namun entah karena tidak mendengar atau terlalu asik dengan Sasuke, Hinata tak mengindahkan Neji sama sekali. Ia sibuk mencabuti rumput dan sesekali bergurau dengan Sasuke.
Sumpah, Neji merasa kalau sekarang ia adalah makhluk tak kasat mata.
Dengan kesal Neji mencabuti rumput tak bersalah itu secara brutal.
Sementara itu,
Sasuke mencabuti rumput dengan pikiran tak fokus. Entah mengapa ia terus memperhatikan Hinata. Ia jadi teringat ibunya saat tengah berkebun.
Saat sedang asik memandangi Hinata, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh di atas kepalanya. Ia mencoba mengambilnya. Namun kelihatanya usaha tersebut sia-sia, karena sesuatu itu tidak mau diam di tempat.
"Hinata, bisa kau bantu aku sebentar"
Mendengar nama adiknya dipanggil, Neji menengok ke sumber suara
"A-ada apa ?"
"Bisa kau ambilkan sesuatu di atas rambutku ?"
Sasuke menuduk. Memudahkan Hinata untuk mengambil sesuatu di atas rambutnya.
Neji meremas rumput di tangannya.
"I-ini" Hinata memperlihatkan sesuatu tersebut kepada Sasuke
"Huwaa. Jauhkan belalang itu dariku Hinata!"
Kena kau Uchiha. Neji menyeringai. Saatnya pembalasan dendam dimulai.
.
.
.
Setelah sore hari dihabiskan untuk membersihkan kebun belakang rumah, dan ada kejadian belalang nemplok di kepala yang bikin Sasuke merana, akhirnya ia bisa istirahat juga.
Kini ia tengah berendam di bathup merilekskan tubuh. Setelah dirasa cukup ia mulai beranjak ke kamar.
Ia membuka lemarinya untuk mengambil baju. Saat lemarinya terbuka, tiba-tiba ada belasan belalang yang meloncat ke arahnya, dan sebagian lainnya memenuhi isi lemari.
"Huwaa" Sasuke terjengkang sampai terduduk di kasur
Ia tahu siapa pelakunya
"HYUUUGAAA SIALANNN" teriak Sasuke tiba-tiba
BRAKKKK
Dan tiba-tiba pula, pintu kamarnya terbuka
"Siapa yang kau bilang sialan, ha ?!" tanya Hiashi yang berdiri di depan pintu sambil memegang katana
"Ah, i-itu. Bukan Hiashi jii-san. Ta-tapi Neji. Keponakan Jii-san" sial. Kenapa Sasuke jadi ketularan gagapnya Hinata ?!
"Apa yang dilakukannya ?"
"Ia memasukkan puluhan belalang di lemari bajuku" entah darimana Neji mendapatkannya.
Hiashi memasuki kamar Sasuke dan memeriksa lemarinya. Ia mengambil salah satu belalang tersebut.
"Kau takut dengan ini ?" Hiashi mengacungkan belalang itu di depan muka Sasuke
"Ha-hanya geli saja"
"Oh, baguslah. Karena menu malam ini adalah steik belalang" ucap Hiashi kalem sambil meninggalkan kamar Sasuke.
Dan oh, ia juga menyempatkan diri untuk melempar belalang itu ke arah Sasuke.
Mati kau Sasuke.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hai hai hai
Sup update setelah 3 bulan berhibernasi. Hehehe
Terima kasih untuk semua yang sudah membaca chap 6, bahkan meninggalkan jejak.
TheTomatoShop : papi Hiashi tuh emang kayak gitu. Btw 3 bulan itu lama gk ? :D
: ini udah update ya :)
Sabaku no Yanie : sudah dilanjut ya :)
Zizah : Ada. Tuh buktinya Neji bilang gitu. Gimana cara pembalasan dendam Neji ? Keren nggak ? wkwkwk
asasi : sudah dilanjut :)
Dan terima kasih juga buat kamu yang udah mau baca chap ini. Iya kamuu. Terima kasih ya :)
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
Sup
