Chapter 41 – Between The Shield and The Sword
Ketika pilihan harus dijatuhkan antara pedang dan perisai
Sang pemilik senjata yang memutuskan
Antara pedang dan perisai
.
Winter Arc
.
"meskipun kau memintaku untuk tetap hidup, Khali, sepertinya perasaanku sudah mati pada saat yang bersamaan dengan hilangnya kemampuanku untuk merasakan sakit. Jantung yang kau berikan akan terasa sakit setiap kali aku merindukanmu, setiap aku berpikir kematianmu adalah kesalahanku, setiap aku berpikir kalau aku ingin bertemu denganmu... jika kau minta aku untuk tak menangisimu, akan kutahan sepedih apapun air mata ini... tapi bagaimana bisa kau minta aku untuk bahagia dengan orang lain? Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kau disisiku sementara kau selalu menjagaku sejak dulu... tak mungkin aku bisa melupakanmu yang sudah menjadi bagian dalam hidupku, bahkan juga bagian dalam diriku... aku hanya ingin bersamamu, tapi itu takkan menjadi kata-kataku... aku sangat merindukanmu".
Dalam mimpinya, Khali memeluk Yasmine yang sedang berdoa di tepi sungai dari belakang.
"saat pertama kali kau melihatku dalam wujud ini, kau juga sedang berdoa untuk mayat anak burung itu, apa yang kau doakan kali ini?" ujar Khali merubah wujudnya ke wujud Alter.
Yasmine terbelalak melihat siapa yang telah memeluknya dari belakang dan meneteskan air mata "...Khali? aku memohon agar aku bisa bertemu denganmu sekali lagi...".
"kenapa setiap aku berubah wujud ke wujud Alter, kau malah menangis?" ujar Khali tertawa sinis sambil menyeka air mata Yasmine "Yasmine... kau boleh melupakanku jika kenangan itu terlalu menyakitkan bagimu... ini selamat tinggal terakhirku...".
Setelah Khali menciumnya, Yasmine tersenyum lembut meski air matanya berlinang "dasar brengsek... kau yang selalu ada di saat susah dan sedihku, sekarang setelah seenaknya datang dan pergi, kau minta aku untuk melupakanmu... bagaimana mungkin aku bisa bahagia bersama orang lain sementara kau selalu saja mengutamakanku?".
Khali memegang wajah Yasmine "karena kau segalanya bagiku... relakan aku, kau harus tetap hidup tanpaku... ini perjalananmu, jalan hidupmu... jangan terikat pada masa lalu, jangan tutup pintu hatimu pada orang lain karena kau takut terluka... luka seperti apapun itu pasti akan sembuh seiring waktu meskipun harus berbekas...".
"kau sengaja memintaku menemui kakakku, agar aku masih punya alasan untuk tetap hidup, kan?".
Khali tersenyum "kenapa kau ingin menemuiku lagi?".
"kau pernah bilang... jika berpisah tanpa mengucapkan kata perpisahan, maka itu bukanlah perpisahan, kan? sekarang biarkan aku berkata ini untuk yang terakhir kalinya..." ujar Yasmine memegang wajah Khali "terima kasih atas nyawa yang kau selamatkan ini... maafkan aku, karena setelah kematianmu, aku bersyukur untuk satu hal... aku bersyukur karena kau tak perlu menderita lagi setelah ini... terima kasih atas semua yang kau berikan padaku selama ini".
"Yasmine..." ujar Khali memegang kedua tangan Yasmine "aku ingin kau berjanji padaku, temukan kebahagianmu sendiri setelah ini... kau boleh mengingatku sesekali, tapi aku ingin kau bisa bahagia meski tak harus bersamaku. Tak apa jika kau melupakanku jika itu terlalu menyakitkan bagimu asalkan kau bahagia, karena aku sangat menyukai tawa dan senyumanmu yang tulus, seperti dulu, saat kelak semua lukamu sudah sembuh. Meski sudah ada orang lain di sampingmu, bukan berarti kau melupakanku atau mengkhianatiku. Hatimu mungkin akan berhenti berharap dan berhenti bergerak selama beberapa saat, tapi suatu saat pasti kau akan menemukan orang yang akan menyayangimu, mencintaimu dan menggantikanku menjagamu seperti yang pernah kulakukan... sayangi dia dan cintai dia seperti yang kau berikan padaku... karena itu bentuk terima kasihmu padaku yang terbesar... meski butuh waktu bertahun-tahun, pasti kau akan menemukan orang itu... aku selalu khawatir meninggalkanmu sendirian, tapi sekarang aku bisa lega... karena kau takkan sendirian lagi...".
Yasmine menggelengkan kepala sebelum tersenyum lembut di tengah air matanya "aku tidak akan melupakanmu, Khali... karena aku sangat mencintaimu...".
Khali memeluk erat Yasmine dengan tubuh bergetar, pertama kalinya air matanya menetes di hadapan Yasmine untuk yang pertama dan terakhir kalinya "dulu aku mencintaimu, Yasmine... sampai sekarang pun aku mencintaimu... aku menyayangimu... maafkan aku, karena aku harus pergi meninggalkanmu lebih dulu dan membuatmu menderita...".
Ini percakapan yang terjadi saat Yasmine menceritakan dengan tenang apa yang terjadi setelah mereka berdua terjatuh dari jurang itu di musim dingin "itulah yang telah terjadi".
Setelah suasana di antara mereka berdua hening beberapa saat, Yasmine menoleh ke arah Bihan dan tersenyum sendu "biar kutebak apa yang ingin kau tanyakan padaku, Bihan... sebenarnya aku menganggap Khali dan Karma sebagai apa? apa aku benar-benar menganggap keduanya sebagai alatku belaka sehingga aku bisa membuang atau menggunakan mereka semudah itu? apa itu yang kau pikirkan?".
Bihan tertegun dan bungkam, Yasmine pun melanjutkan ucapannya "jika Khali yang selalu melindungiku adalah perisai, maka Karma adalah pedang yang akan memotong semua yang membahayakanku. Kilatan pedang yang bersinar di tengah medan peperangan memang sempat membuatku kagum, tapi pedang itu terlalu tajam sampai orang-orang yang kusayangi terenggut nyawanya. Perisai yang selalu melindungiku pada akhirnya akan rusak juga karena banyaknya goresan yang ia dapatkan, tak hanya membuat tipis perisai itu tapi juga membuatnya tak bisa bertahan lagi. Saat perisai itu pecah, ia tak bisa melindungiku lagi, tapi juga membuatku terluka akibat tusukan pedang yang menembusnya. Aku tak ingin jika pedang menembus perisaiku atau perisaiku hancur demi melindungiku dari pedang, itulah sebabnya... aku sendirilah yang akan mematahkannya sebelum pedangku menghancurkan perisaiku atau patah sendiri karena berkarat setelah terlalu banyak menghisap darah... tanpa kusadari, kalau akulah pedang yang menembus perisaiku sendiri".
"lalu, dari semua pilihan yang ada... kenapa anda harus membunuh Karma dengan tangan anda sendiri? kenapa anda tak meminta Khali melakukannya untuk menggantikan anda saat ia masih berada di sisi anda?".
Yasmine tersenyum sendu dan memegang wajah Bihan "jika Khali adalah perisai terkuat yang selalu melindungiku, Karma adalah pedangku yang terkuat... kau pikir apa jadinya jika pedang terkuat dan perisai terkuat diadu? Aku tak mau pedang dan perisaiku hancur berkeping-keping, jika aku harus mengorbankan salah satu, lebih baik aku patahkan pedang itu dengan tanganku sendiri meski tanganku juga harus ikut terluka".
Bihan terkesima saat ia melihat bagaimana punggung Yasmine yang kecil itu berusaha untuk tetap berjalan maju dan ia menyadari satu hal "putri Yasmine, anda percaya pada Karma dan Khali sepenuhnya, tapi Karma mengkhianati anda dan Khali kehilangan nyawanya. Memang benar bahwa baik Khali atau Karma takkan bisa melawan apalagi membunuh tuan putri yang mereka cintai. Apapun pilihan tuan putri pada mereka berdua, baik membuang atau menerima, mereka berdua akan menerimanya. Itu sebabnya anda tak ragu untuk mematahkan pedang anda, Karma, demi melindungi perisai anda, Khali... itu jugalah sebabnya Karma dan Khali menerima kematian mereka di tangan anda... sebesar itukah perasaanmu pada Khali, putri Yasmine? jika begitu... sudah tak ada tempat lagi bagiku...".
Setelah Bihan berpikir sejenak dan tersenyum sedih, ia jadi ingin menertawakan dirinya sendiri karena telah memikirkan hal bodoh. Setelah bicara soal pedang dan perisai, Bihan yang tahu soal pedang dan perisai yang ditemukan oleh putri Yona, Bihan menanyakan pada Yasmine soal apakah Yasmine sudah memberitahu mereka soal legenda terakhir 'bunga' dan 'daun' tapi Yasmine hanya tersenyum.
"terakhir, jika anda bersedia menjawabnya... apa yang sebenarnya anda rasakan pada pria yang bernama Kija, si Hakuryuu itu?".
"kenapa bertanya begitu?".
"apa anda tak sadar? ekspresi anda jadi lembut saat bersamanya meski anda sering bertengkar dengannya...", Bihan merenggangkan tubuhnya sebelum meneruskan ucapannya "mungkin itu karena sedikit banyak dia memang memiliki kemiripan dengan Khali, tapi sudah cukup, kan? takkan ada yang marah jika akhirnya anda bisa menemukan kebahagiaan anda kembali, meski bukan dengan Khali... justru ini bagus untuk anda, anda sudah cukup banyak menderita akibat pertempuran yang panjang ini".
Pada akhirnya, Yasmine menggelengkan kepala "aku tak bisa... sebab aku merasa, jika aku menjalin hubungan dengan pria lain, aku akan melupakannya... dan aku tak ingin membunuhnya lagi...".
"menurutku, dia bukan tipe pria akan memintamu melupakan mendiang tunanganmu".
"aku tahu, tapi meski begitu, aku tetap...".
Ketika Yona dkk kembali ke asal, mereka seperti melewati sebuah lorong yang dipenuhi oleh bayangan masa lalu dimana mereka bisa melihat campuran masa lalu mereka dan salah satunya adalah saat Yasmine melihat apa yang terjadi di Sensui ketika ia menemukan Hak pertama kali dimana Hak berusaha membunuh Soo Won, yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk menemui Hak sebelum ia pergi untuk kembali mencari Leila yang saat itu menghilang tanpa kabar dan tak meninggalkan jejak.
Mereka semua membuka mata dan menemukan bahwa mereka semua ada di kamar Yasmine, masih di malam yang sama meski mereka merasa seperti sudah beberapa minggu berlalu.
Tidak lama kemudian, Yasmine sadar, melirik ke samping dimana ia melihat kakak dan teman-temannya menghampirinya "kak... ibu mana?".
Benar, ada Kyouka disana. Seperti saat Kayano akan melahirkan, seharusnya Kyouka sebagai 'bunga' yang memiliki kekuatan teleport (pindah tempat) dan kakaknya, Mizuki sebagai bunga yang memiliki kekuatan meramal masa depan (mirip seperti Ik-Su) bisa memperingati mereka tentang apa yang menimpa Yasmine seperti yang dilakukan Maya saat Hak hampir mati pada akhir musim gugur 2 tahun yang lalu.
"tidurlah, ibu pasti datang. Istirahatlah, kau terluka parah..." ujar Leila mengelus dahi Yasmine.
Yasmine menghela napas "kuharap ibu tepat waktu... sebelum aku pergi menyusul ayah...".
"jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, itu tak lucu..." sahut Hak dengan ekspresi serius.
Tak menghiraukan ucapan Hak dan yang lain, Yasmine meminta agar ia dibawa keluar dimana ia bisa melihat salju "ini berkaitan dengan 'pedang dan perisai' dalam ramalan, dan ini harus kulakukan sekarang".
Pada akhir musim dingin, pesta ulang tahun Soo Won yang ke-21 tahun kembali diadakan dan kali ini Soo Won melihat Lily yang hadir bersama Joon Gi tampak tak begitu bersemangat. Tae menyadari gelagat Lily sehingga ia menyembunyikan Lily di belakangnya ketika Soo Won mengajaknya bicara di tepi balkon.
Tae Woo menghela napas ketika Soo Won pergi dan mengalihkan perhatiannya pada Lily yang ia sembunyikan dari Soo Won barusan "apa yang terjadi? pasti terjadi sesuatu sampai anda tak bersemangat seperti biasanya".
Lily bisa bersikap tegar seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan keluarganya, Yona dan teman-temannya tapi entah kenapa kali ini ia tak bisa menahan perasaannya di hadapan Tae Woo. Tak sempat menjawab pertanyaan Tae Woo, Lily memeluk Tae Woo sambil menangis. Sejak dulu (dan mungkin hingga kini) Tae Woo tak terbiasa menghadapi wanita yang sedang menangis, alih-alih menghibur atau bertanya apa yang terjadi, akhirnya ia hanya bisa menyembunyikan wajah Lily yang menangis ke dekapannya, menepuk pelan punggung Lily tanpa berkata apa-apa.
Di salah satu gazebo taman, setelah tangisannya reda, Lily duduk di samping Tae Woo yang menyodorkan makanan dan minuman yang telah disediakan. Setelah menyeka air matanya dan menutupi wajahnya yang berurai air mata dengan sapu tangannya, Tae Woo kembali bertanya tentang apa yang meresahkan hati putri jenderal suku air sehingga Lily mulai bercerita dengan ekspresi seolah siap menangis kapan saja, membuat Tae Woo mendapat firasat buruk.
