Chapter 42 – Last Flower Petals

Kelopak bunga yang menari tertiup angin

Beterbangan di tengah salju

Untuk yang pertama dan terakhir kalinya di musim salju


.

Winter Arc

.

Terdengar suara barang pecah belah terjatuh ke lantai, vas bunga yang ia pegang tiba-tiba retak saat berada di tangannya dan ketika ia mendongakkan kepalanya ke depan, genggaman kedua tangannya pada vas tersebut lepas sehingga vas itu jatuh ke lantai, pecah dan berserakan.

"nyonya Maya, ada apa?" ujar Mulan masuk dan terkejut, menahan napas saat kedua tangannya menutupi mulutnya.

"Ulla..." gumam Maya melihat arwah mendiang suaminya di hadapannya.

Dengan seulas senyuman terukir di wajahnya dengan sorot mata yang sedih, Ulla berlutut di hadapan Maya dan mengelus wajah Maya "maafkan aku, Maya...".


Maya membuka pintu kamar dan masuk ke kamar dimana Yasmine ditempatkan "Yasmine!?".

Mulan, Kyouka, Mizuki serta Kayano yang menggendong Sorano menyusul masuk. Setelah ia menyerahkan Sorano pada Zeno, Kayano dan Mizuki duduk di samping Yasmine, memeriksa kondisi Yasmine dan berdiskusi selama beberapa saat sebelum akhirnya Kayano menghampiri Zeno, menyandarkan wajahnya yang berlinang air mata ke bahu Zeno dan memeluk Zeno.

"mohon maaf, tapi sebagian besar organ dalamnya rusak, kondisi nona Yasmine sudah..." ujar Mizuki mengepalkan kedua tangannya, menutup mata sambil menundukkan kepala.

"aku bermimpi, ayah datang menjemputku...", Yasmine mengulurkan tangannya ke arah Maya dan kedua kakaknya berada "maafkan aku, ibu, kakak...".

"tak perlu mengatakan apapun...", Maya tersenyum lembut dengan mata berkaca-kaca setelah ia mengelus kepala Yasmine dan mengecup kening Yasmine "ibu sudah tahu, karena ayahmu sendiri yang datang menemuiku dan memberitahu kondisimu".

Mereka kembali diingatkan kali ini, tak peduli seberapa besar usaha mereka melawan takdir dan berjuang untuk tetap hidup, tetap ada hal yang tak bisa kita cegah. Hak, Leila dan Maya memeluk Yasmine bergantian dan mengucapkan salam perpisahan untuk detik terakhir meski terlihat jelas, mereka tak siap melepaskan kepergian Yasmine. Siapapun tak ada yang siap jika dihadapkan pada perpisahan terlebih jika itu perpisahan untuk selamanya akibat kematian.

Mereka mengucapkan perpisahan mereka, mulai dari Lily dan kedua dayangnya, Yona, Yun, Fuyu dan ke-4 ksatria naga kecuali Kija yang berdiri mematung di belakang sampai akhirnya Yasmine mengulurkan tangannya ke arah Kija, satu-satunya yang belum mendekatinya sejak tadi.

"bawa aku keluar" pinta Yasmine tersenyum.


Kija mendongak sambil menatap langit dimana langit fajar membuat warna langit yang gelap dan kelam mulai diterangi oleh matahari yang akan terbit beberapa menit lagi. Di belakangnya, Yona dan mereka semua yang sudah mengucapkan perpisahannya pada Yasmine tadi berdiri. Kija menundukkan kepala dan melihat Yasmine yang ia gendong ala bridal style berselimutkan kain putih yang tebal. Sebelah tangannya yang terkepal bergetar, sama seperti seluruh tubuhnya yang bergetar hebat saat ia memeluk Yasmine, duduk di dekat pohon raksasa di tepi tebing dimana mereka bisa melihat pemandangan di seluruh Sensui dari atas sini.

Yasmine tertawa kecil dan tersenyum lemah "kau menangis lagi?".

"sempat-sempatnya...", Kija hendak mengomelinya namun ia tahu, Yasmine hanya memancing reaksinya agar mereka berakhir pada pertengkaran konyol mereka. Kija tak memakan umpan yang diberikan Yasmine dan memeluknya erat "maafkan aku... aku tak bisa melindungimu...".

"sudahlah... sudah cukup... aku telah hidup dengan baik... tak ada yang kusesali...", Yasmine mengulurkan tangannya dan memegang wajah Kija yang berlinang air mata "dan jika ada yang kusesali, itu adalah... andai aku bisa menghabiskan waktu lebih lama, bersama kalian... meski hanya sedetik lebih lama... aku mengerti, cepat atau lambat hal ini akan terjadi... tapi aku tidak menyangka, ini akan terjadi secepat ini...".

"aku tak bisa melindunginya... untuk apa kekuatan dewa yang kumiliki ini? untuk apa... jika aku bahkan tak bisa melindungi wanita yang kucintai...", Kija menggertakkan giginya sebelum mengecup kening Yasmine sehingga air matanya berjatuhan ke wajah Yasmine, berbisik pelan "kurasa aku memang bodoh... kenapa aku baru sadar... saat aku akan kehilanganmu... bahwa selama ini aku mencintaimu... sekarang aku hanya bisa menyesalinya... kenapa aku tak jujur lebih awal?".

Yasmine tersenyum dan meneteskan air mata "aku adalah wanita yang telah menjual jiwaku kepada iblis, dan kau adalah cahaya... tak perlu membuatku ingat pada perasaan berdosa".

"itu tak benar... melihat air matamu setelah kau melihat korban perang, aku sadar bahwa kau tak pernah mengharapkan kematian orang-orang yang tak berdosa... Kau bukan orang jahat, kau wanita yang baik".

"kau prajurit yang memiliki ikatan batin dengan teman-temanmu. Aku tak bisa membiarkanmu mati di tempat itu. Kembalilah ke medan pertempuran tempat kau harus membakar jiwamu dan berjuang, bertempurlah bersama teman-temanmu, sebagai prajurit yang memiliki ikatan yang ditakdirkan oleh langit", Yasmine menceritakan legenda terakhir 'bunga' dimana 'bunga' yang terukir di dadanya bisa mengabulkan satu keinginannya, selama keinginan itu tak berhubungan dengan nyawa seperti menghidupkan seseorang kembali "teruskan perjuangan kalian di medan pertempuran dan gantikanlah aku... lindungilah Yona dan kakakku, saudara-saudara nagamu, keluarga kita... karena tubuh ini sudah tak bisa bertempur lagi, untuk yang terakhir kalinya, aku ingin kau...".

"kenapa..." ujar Kija terbelalak.

"kita lihat, apa yang akan muncul nanti... jika gagal, aku hanya akan kembali menjadi kelopak bunga... tapi jika berhasil, aku masih bisa berjuang bersama kalian... kumohon, Kija... sebab syarat untuk mendapatkannya adalah jika 'bunga' di dadaku mendapat tetesan darah dari orang yang kucintai...".

Setelah mendengar ucapan Yasmine, air mata Kija terhenti sesaat dengan mata terbelalak saat Yasmine menciumnya.

"terima kasih... di saat akhir kau telah mengajariku hal yang berharga... Aku beruntung, meski tak kusangka bahwa aku bisa mencintai seseorang sekali lagi sebelum aku mati", Yasmine yang tersenyum dengan lembut sebelum menutup matanya perlahan "selamat tinggal, Kija... terima kasih, semuanya, maafkan aku...".

Terlihat Ulla muncul di hadapan mereka dan Yasmine menyambut uluran tangan Ulla dengan wajah berurai air mata. Seperti gadis kecil yang pertama kali bertemu ayahnya, Yasmine hanya bisa menangis sambil memeluk erat Ulla yang menggendongnya. Saat Ulla membawa Yasmine pergi dari sana, Yasmine melambaikan tangannya sambil tersenyum di tengah air matanya, ia disusul oleh roh Azurite yang menggendong roh Tatiana.

Sesuai ucapan Yasmine, tepat setelah rohnya meninggalkan tubuhnya, Kija mengepalkan cakar naganya ke telapak tangannya dan meneteskan darahnya ke tanda 'bunga' di dada Yasmine saat roh Azurite dan roh Tatiana yang sempat melebur dengan Byakko dan Kupu-Kupu Ilusi kembali berpisah.

Darah yang menetes di 'bunga' melati di dada Yasmine membentuk spirit naga yang menyatu dengan spirit Byakko menyatu dan merasuki pedang milik Yona yang tersarung di pinggang Yona, pedang bersarung coklat dengan gagang pedang berukiran naga emas yang melingkar, tertempel permata biru batu Lapis Lazuli di mulut naga dan mulut sarung pedang.

'Bunga' melati di dada Yasmine keluar dan bersatu dengan spirit Kupu-Kupu Ilusi, membentuk belati yang kini terletak di tangan Kija, belati bersarung emas dengan permata Peridot dan Jade yang memiliki warna hijau muda dan hijau gelap seperti mata Yasmine. Tubuh Yasmine yang ada di dekapannya bersinar keputihan dan perlahan berubah menjadi kelopak putih dari bunga melati yang berterbangan tertiup angin.

Menggenggam kelopak bunga melati di tangannya yang ia kecup, Kija menangis keras setelah tubuh Yasmine musnah, menjadi kelopak bunga "YASMINE?!".

Kelopak bunga yang berterbangan itu seolah berbisik dan memeluk mereka, membisikkan kata terakhirnya sambil mendekap mereka dengan kehangatan terakhirnya di musim dingin.

Yona yang memeluk erat Hak sambil menangis dan menyebut nama Yasmine, merasa Yasmine memeluknya dari belakang dan mendengar bisikan "jangan menangis, Yona... jangan salahkan dirimu atas apa yang terjadi, jangan menganggap kematianku sebagai salahmu atau aku akan menghantuimu...".

Hak yang membiarkan Yona menangis di pelukannya, mendekap erat Yona dan ia merasa ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang "kak, jaga istri dan anakmu baik-baik... jika tidak, tak ada gunanya aku mengorbankan nyawaku... jangan pernah menyalahkan Yona atas kematianku, atau aku akan membencimu... jangan pernah merasa bersalah atas kematianku atau menganggap kau gagal melindungiku... jika tidak, aku akan terus mendatangimu dalam mimpimu sampai kau berhenti menyalahkan dirimu atau orang lain atas kematianku...".

Leila bersandar pada bahu Shina dan menangis, mendengar bisikan yang lembut dari belakang "kakakku sayang, temukan kebahagiaanmu dan selagi kau masih punya kesempatan, jujurlah, jika kau memang mencintainya...".

"maafkan aku karena aku tak bisa menepati janjiku, ibu... aku pasti akan menunggu bersama ayah di alam sana... aku menyayangimu...", Maya mendongak dan membiarkan air matanya berlinang "dasar anak bodoh... kenapa kau malah pergi mendahuluiku menemui ayahmu?".

Lily meneteskan air mata dengan sorot mata yang tenang dan mendongak saat menggenggam kelopak bunga di tangannya "hangatnya...".

"apa kita... sudah tak bisa bertemu? Yasmine...", Kija berdiri dan menggenggam erat belati di tangannya, saat itulah ia merasa Yasmine memeluknya dan mendengar suara Yasmine dalam kepalanya "belati itu adalah Shamsir, belati yang dapat membunuh iblis dengan racunnya jika kau menusuknya tepat di jantungnya serta dapat menangkal sihir... gunakan aku agar kau bisa bertahan hidup di medan peperangan jika kau membutuhkanku, Kija".

"kau wanita tangguh, Yasmine", Kija menyeka air matanya dan tersenyum sambil mengangkat belati itu "meski sudah mati, kau ingin terus berjuang, ya? kalau begitu, sesuai keinginanmu... aku akan bersamamu dan meneruskan perjuanganmu, kita lindungi keluarga kita...".

Fuyu yang memeluk Jae Ha merasa bisa melihat Yasmine tersenyum dari kejauhan, menjauh dari mereka setelah melambaikan tangannya.


Lily teringat bahwa Tae Woo pernah berkata bahwa ia tertarik pada Yasmine sehingga awalnya ia ragu untuk menceritakannya, tapi jika mengingat bagaimana duka yang harus dilewati oleh Maya, Leila dan Hak serta Yona dll, ia merasa harus memberitahu Tae Woo. Setelah Yasmine meninggal, Yona dkk, Hak dan Leila pergi mengantar Maya dan dayangnya ke kediaman milik Maya untuk menaruh kelopak bunga melati yang terbuat dari tubuh Yasmine di kuil sebagai pengganti abu jasadnya.

Lily menyeka air matanya, masih terisak "kejadiannya... tiga hari yang lalu... maaf, karena tak memberi kabar pada kalian secepatnya".

"begitu... nona Yasmine sudah...", Tae Woo menutupi kedua matanya dengan telapak tangan kanannya, terlihat lintasan air mata yang berlinang di baliknya.

Saat Lily yang kembali menangis memeluknya, Tae Woo memeluknya erat, mencium kening Lily dan Lily membiarkan air mata Tae Woo jatuh ke wajahnya. Tanpa memedulikan tatapan mata dari sekitar mereka, meskipun tak ada siapapun saat ini di dekat mereka berdua, keduanya berciuman.

Mereka berdua tak menyadari, Soo Won dan Mundok yang saat itu bersandar di balik lorong yang berbeda mendengar dengan sangat jelas percakapan mereka berdua. Soo Won tak tahu ia harus bereaksi seperti apa, sorot matanya hanya dipenuhi kesedihan jika teringat bagaimana perasaan Yona dan Hak. Mundok menutupi satu-satunya matanya yang bisa melihat dengan telapak tangannya dan membiarkan air mata menetes dari matanya.