Chapter 43 – Separation

Saat perpisahan terjadi dan yang bisa kita lakukan

Hanyalah merelakan perpisahan

Merelakan bukan berarti melupakan


.

Winter Arc

.

Setelah perjamuan di kastil Hiryuu selesai, Lily meminta izin pada Joon Gi untuk pergi bersama Tae Woo dan Mundok ke Fuuga. Geun Tae menggodanya seperti biasa, namun Joon Gi yang tahu apa yang baru-baru ini terjadi, akhirnya hanya bisa mengizinkan Lily pergi bersama Tae Woo dan Mundok setelah meminta Lily untuk tak merepotkan Mundok dan Tae Woo.

Joon Gi menoleh ke arah Tae Woo "tolong jaga putriku selama ia ada di Fuuga".

Tae Woo menganggukkan kepala, air matanya sudah kering dan sorot matanya terlihat tegar, ia mungkin sudah bisa menguatkan dirinya dan bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi di hadapan yang lain, tapi sebersit kesedihan masih terlihat cukup jelas di sepasang mata birunya. Mereka mungkin tak tahu karena terlalu shock atas berita kematian Yasmine, tapi gosip yang mulai beredar kali ini baru akan mereka dengar saat kembali nanti.


Begitu mereka tiba di Fuuga, Lily, Tae Woo dan Mundok bertemu dengan rombongan Yona dkk dan Maya yang sudah menunggu di mansion klan suku angin. Maya menyampaikan berita kematian Yasmine secara resmi di Fuuga. Warga suku angin berduka atas kematian Yasmine yang begitu cepat. Begitu mengetahui berita itu, Ayame menangis di pelukan Saki, Tae Yeon menangis sambil memeluk Hak. Tae Woo tak menangis lagi, ia sudah cukup menangis tapi ia menyadari air mata Lily yang mulai jatuh sehingga ia menyandarkan wajah Lily ke bahunya. Baru saja Tae Woo memeluk Lily, Han Dae ikut memeluk Tae Woo dari belakang, membuat Tae Woo merasa ingin menjitaknya namun ia urungkan niatnya melihat Han Dae menangis.

Di akhir pemakaman, Yona sempat pingsan dan Hak membawanya kembali ke kamar agar ia bisa istirahat, sudah beberapa hari Yona kurang tidur dan hampir tak mau makan jika Leila atau Maya tak memaksanya. Begitu Kayano dan dokter di Fuuga selesai memeriksanya, mereka tak tahu apa ini saat yang tepat atau tidak untuk menyampaikan berita ini sebab berita gembira ini datang di saat mereka sedang berduka.

Yona sedang hamil, sudah 2 bulan.

Teringat ucapan terakhir Yasmine, Hak mengepalkan tinju tangannya, mengerutkan kening dan mengacak sebagian rambutnya dengan sebelah tangannya "dasar bodoh kau, Yasmine...".

Setelah berkumpul di kamar tempat Yona dibaringkan, Hak memberitahu ucapan terakhir yang ia dengar dari Yasmine di tengah pusaran kelopak bunga melati di bawah salju itu "Yasmine bisa melihat roh seseorang dengan matanya, mungkin ia sudah tahu... ada jiwa baru yang masih terlalu lemah, di dalam tubuhmu... itu sebabnya ia berusaha keras melindungimu, meski harus mengorbankan dirinya".

Begitu Yona menangis, Hak memeluknya erat. Saat Maya mulai menangis, Leila yang merasa ia akan menangis juga, meminta yang lain ikut menunggu di luar kamar dan membawa Maya keluar. Setelah Yona meminta maaf padanya, Hak menggelengkan kepalanya.

"jangan minta maaf, Yona", Hak menyeka air mata Yona dan meneteskan air matanya sebelum ia mengecup kening Yona "jangan sia-siakan pengorbanan Yasmine, lahirkan anak ini dengan selamat, kau dan anak ini... kita besarkan dia dengan tangan kita dan buat dia bahagia, itulah... penebusan yang bisa kita berikan pada Yasmine...".

Yona memeluk erat Hak sambil menangis setelahnya.

Kija yang menyandarkan punggungnya ke dinding, menyandarkan kepalanya ke dinding saat ia yang berada di teras kamar mendongak ke atas langit, menatap salju. Setelah melihat langit yang abu-abu dan terasa begitu kelam, ia melihat salju yang begitu cantik dan dingin memenuhi daratan dengan warna putih. Angin bertiup dan menerbangkan dedaunan, Kija yang merapikan poninya terbelalak saat ia merasa seolah melihat Yasmine menari di tengah salju, tersenyum di tengah tariannya, terlihat begitu gembira dan begitu cantik.

Yasmine tersenyum padanya di tengah air matanya sebelum memeluknya "Kija, kau harus selalu tersenyum dan bahagia, ya... sebab aku sangat menyukai senyumanmu itu... jangan lupa menemukan kebahagiaanmu sendiri... jika kau tak bahagia atau menangisiku terus, aku takkan memaafkanmu".

"kau yang tak lagi berada di sisiku, entah kenapa aku merasa saat ini kau sedang tersenyum bahagia...", Kija menggenggam Shamshir, belati yang ia dapatkan sebagai manifestasi 'bunga' dari jiwa Yasmine, ia tersenyum dan air matanya menetes dari mata birunya "jangan khawatir, Yasmine... pasti akan kulindungi apa yang belum kau selesaikan, agar pengorbananmu tak sia-sia... aku mencintaimu, Yasmine...".

Hak bersandar di depan pintu "aku tak mengira kau akan jatuh cinta pada adikku, ular putih".

"jika kau hanya ingin mengejek atau mengajakku berdebat..." ujar Kija meninggalkan Hak tapi langkah kakinya terhenti mendengar ucapan Hak.

"Yona merasa bersalah padamu dan ia merasa harus minta maaf padamu, Kija", Hak menghela napas melihat punggung Kija dari belakang "padahal sudah kubilang, itu bukan salahnya...".

"tak seharusnya tuan putri merasa bersalah seperti itu, tak ada satupun dari yang mengira kalau ini yang akan terjadi, kan?", Kija menoleh ke belakang "lalu, kau mau aku berbuat apa?".

Hak menunjuk ke dalam kamar, sehingga Kija bicara dengan Yona setelahnya. Perlu beberapa kali keduanya bicara hingga akhirnya Yona berhenti menyalahkan dirinya.

Sebelum pergi meninggalkan Fuuga, Kija menerbangkan kelopak bunga melati Yasmine yang ia simpan. Awalnya ia membawa kelopak bunga melati itu sebagai cinderamata peninggalan terakhir Yasmine, tapi seiring waktu, ia merasa kelopak bunga itu hanya akan memberatkannya bagai rantai besi dan akan menyulitkannya melupakan kesedihannya. Seperti yang dikatakan oleh Yasmine, ia tak boleh bersedih terus menerus, sebab rekan, teman-teman, sahabat, saudara dan juga keluarganya menunggunya di medan pertempuran. Itu sebabnya ia harus melangkah maju dan melepaskan kesedihannya, merelakan kepergiannya meski itu sangat menyakitkan. Jika kau mencintai seseorang berarti kau juga harus siap menerima rasa sakit akibat penderitaan yang harus kau dapat saat mencintainya, dan ini konsekuensi yang kau dapat jika kau mencintai seseorang.

Kija membuka matanya perlahan, berbalik memunggungi kelopak bunga yang beterbangan dan menyusul Yona dkk "selamat tinggal, Yasmine... tapi aku takkan melupakanmu...".


Setelah Yona mulai hamil besar, mereka menetap sementara di kediaman Maya sebab Hak bersikeras mereka tak bisa menetap di Fuuga untuk menunggu kelahiran anak mereka. Di awal musim gugur tepatnya di bulan September, anak yang lahir adalah anak perempuan, bayi merah yang molek dengan mata biru yang yang ia warisi dari Hak dan rambut merah yang ia warisi dari Yona.

Saat Hak menggendong putrinya, Yona meminta Kija mendekat "kami ingin kau yang memberi nama untuk anak pertama kami, Kija".

"suatu kehormatan bagiku, putri", Kija menangis sehingga Shina dan Leila menepuk bahunya. Melihat bayi yang digendong oleh Yona, Kija tersenyum "...Lian Hua, dari kata Lian (Princess of Sun) dan Yingchun Hua (Winter Jasmine)".

Mendengar nama yang diberikan oleh Kija, Hak tersenyum dan mengelus dahi bayi merah yang ada tenggelam di gendongannya "nama yang indah... Lian Hua...".

Yona mengangguk dan tersenyum lebar "benar... terima kasih karena kau sudah memberi nama yang indah, Kija".


A/N:

Yasmine salah satu karakter yang kusukai karena karakternya tapi sejak awal dia kukisahkan sebagai gadis yang malang dan bagi yang mengharapkan dia tetap hidup, maaf karena aku memutuskan untuk membunuhnya, gomen bagi yang suka pada Yasmine, gomen Kija fans. RIP Yasmine

Arin Dragneel tadinya mau kuhentikan ceritanya, tapi lanjut nulis deh karena ada yang penasaran :P terima kasih atas dukungannya XD wah, senang karena ada yang suka

SakuraiKonami oh my... maaf karena lagi-lagi ada yang nangis, tapi senang mendengar pendapatmu XD