Chapter 44 – Snow Woman
Wanita salju yang sesungguhnya tidak punya perasaan, darah, jantung atau air mata
.
Winter Arc
.
Karena insiden yang merenggut nyawa Yasmine tahun lalu di musim dingin, Maya bersikeras agar anak-anaknya, Hak dan Leila membawa teman-temannya menetap di suatu tempat sampai musim dingin berakhir seperti Awa (direkomendasikan oleh Jae Ha dan Yun), desa Hakuryuu (direkomendasikan oleh Kija) atau salah satu desa yang ada di wilayah suku Angin (tentu saja direkomendasikan oleh Hak dan Leila sedangkan kediaman Maya atau Ik-Su mereka jadikan alternatif terakhir karena tahun lalu mereka sudah menghabiskan musim dingin di kediaman Maya).
Akhirnya, mereka putuskan untuk menghabiskan musim dingin kali ini di desa Hakuryuu. Kija merasa senang dan terhormat karena Yona dkk bersedia menghabiskan waktu mereka di musim dingin kali ini di desa Hakuryuu, meski ia menyadari mungkin itu juga karena apa yang terjadi tahun lalu di musim dingin pada Yasmine, sehingga Yona dan yang lain ingin menghiburnya. Saat berada di perbatasan wilayah suku Bumi dan suku Api, mereka mendapat tamu tak terduga dimana perwakilan kaum nomaden yaitu Inukai dan perwakilan dari Kekaisaran Kai Selatan yaitu Amitha, yang mengejutkan adalah karena mereka datang bersama Kan Tae Jun dan para bawahannya.
"ah, ketemu?!" ujar Inukai, Amitha dan Tae Jun bersamaan.
"wah, lama tak bertemu, tuan muda~ ada urusan apa kali ini?" ujar Hak mencengkram leher Tae Jun dengan senyum terbaiknya dan sorot mata sedingin es.
"Hak, bagi denganku, aku juga ingin mencincang sesuatu" ujar Kija muncul dari belakangnya dengan ekspresi yang sama.
"tahan, hewan buas bodoh!?", Fuyu menusukkan jarum kecil untuk menahan gerakan kedua hewan buas yang berusaha memangsa Tae Jun "meski kalian bunuh dia, apa gunanya?".
Jae Ha melingkarkan kedua tangannya melewati pinggul Fuyu, memeluk Fuyu dari belakang "kau memang hebat, istriku~".
"baiklah, bercandanya sudah dulu, deh... ada urusan apa?" tanya Hak.
"bercandamu itu nggak lucu, Hak", Yona menjitak kepala Hak dari belakang, Lian Hua yang ada di gendongannya terlihat menggigil sehingga Yona menyerahkan Lian Hua ke tangan Hak "ayo, lebih hangat sama ayah, kan?".
"putri, bayi itu..." ujar Tae Jun menunjuk Lian Hua dengan jari bergetar.
Setelah Hak memperkenalkan putri mereka dengan senyum penuh kemenangan, Tae Jun yang terpuruk ditinggalkan untuk sementara. Inukai dan Amitha memberitahu tujuan mereka datang menemui mereka. Mereka diutus oleh Yohime dan Hakuya, Permaisuri dan Kaisar Kekaisaran Kai untuk menyampaikan peringatan.
Dimulai dari Amitha "seperti yang kita ketahui, saat ini di Kekaisaran Kai ada tim khusus yang dibentuk oleh Permaisuri dan Kaisar untuk menumpas habis anggota kuil Sakura merah sesuai janji mereka, kan? tim yang dipimpin oleh Arslan ini diberi nama tim Hakuoki (iblis Sakura) oleh tuan Dal, ayahmu. Sebenarnya Arslan dan ayahmu sendiri yang ingin kemari, tapi karena mereka berdua dibutuhkan... mereka menggerutu karena kau tak pernah menemui mereka lagi setelah menikah dan pergi bersama suamimu ke Kouka".
"maaf, banyak yang terjadi" ujar Fuyu tertawa sambil mengayunkan tangan dan mengatupkan kedua tangannya "bisa beritahu ayahku? Aku pasti pulang saat tahun baru ini jika situasinya memungkinkan, bersama Jae Ha".
"untuk ayahmu, tidak masalah... tapi untuk Arslan, maaf saja, akan kukirim dia pulang dengan cara kutendang dia kembali ke Kekaisaran Kai" ujar Jae Ha memeluk Fuyu dari belakang dan menyandarkan kepalanya ke bahu Fuyu.
Fuyu menghela napas "Jae Ha...".
"setelah mendengar laporan terakhir Arslan tentang perkembangan pembasmian anggota kuil Sakura merah, ayahmu khawatir terjadi sesuatu padamu sehingga ia memintaku pergi menemui anggota nomaden".
Dari sini, Inukai mengambil alih "seperti yang diberitahu kak Leila, suku nomaden terdiri dari beberapa klan dan setiap klan memiliki kepala klan, wakil kepala klan serta para anggotanya yang hidup bebas tanpa terikat pada bangsa atau wilayah manapun. Itu sebelum paman Aruma berniat menyatukan seluruh klan kaum nomaden dengan sistem kekeluargaan yang diajukan oleh kak Leila, mirip seperti sistem kekeluargaan suku Angin di kerajaan Kouka, dengan begitu tak ada lagi pertikaian di antara sesama klan kaum nomaden".
Aruma membuat perjanjian dengan klan Gozen, klan terkuat yang memiliki wilayah terbesar di Kekaisaran Utara saat itu, dengan bantuan Yohime dan Hakuya yang saat itu ada di bawah perlindungan kaum nomaden, tentunya; dimana klan Aruma akan mendapatkan bantuan untuk menyatukan klan di kaum nomaden, sedangkan klan Gozen akan dianggap sebagai klan yang paling berjasa karena membantu naiknya Hakuya dan Yohime sebagai Kaisar dan Permaisuri Kekaisaran Kai. Rencana jangka panjang yang beresiko, untungnya berhasil.
"dan di tengah rencana, siapa sangka bibi Tomoe yang galak itu malah menikah dengan paman Aruma yang urakan itu?" ujar Inukai melanjutkan penjelasan, bahwa di antara kaum nomaden, ada beberapa klan yang tak setuju dengan penyatuan klan ini karena bukan mereka yang ada di tonggak kepemimpinan. Alasan kedua, karena beberapa klan nomaden itu merasa seperti dibuat menjadi anjing Kekaisaran. Dengan membantu Yohime dan Hakuya naik tahta dan dibantu oleh klan dari keluarga kemiliteran yang biasanya berselisih dengan kaum nomaden, membuat para klan nomaden pihak oposisi berbalik menentang Aruma.
Inukai menghela napas setelah menjelaskan bahwa klan nomaden pihak oposisi yang tersisa tinggal sedikit, justru mereka yang tersisa ini adalah pihak yang menyusahkan "padahal paman Aruma menjadi ketua tertinggi nomaden juga bukan karena dia yang mau tapi karena dia yang dipilih... dia telah berjuang keras menghadapi para ketua klan lain dan berusaha meyakinkan mereka agar tak ada lagi pertumpahan darah di antara sesama klan di kaum nomaden, sehingga pada saat pemilihan ketua tertinggi nomaden dibuka, paman Aruma yang terpilih sebagai ketua tertinggi dan tak ada yang menolaknya".
"aku sering dengar soal itu dari permaisuri Yohime, mungkin itu sebabnya nyonya Tomoe yang ikut membantunya jadi jatuh cinta padanya?" ujar Amitha tertawa kecil sebelum ekspresinya berubah menjadi serius "tapi masalahnya muncul sekarang".
Amitha memberitahu hasil penyelidikan terakhir Arslan, dimana mereka mendapat informasi bahwa sisa anggota kuil Sakura merah dan beberapa klan kaum nomaden pihak oposisi yang bisa dibilang sama-sama masuk daftar hitam Kekaisaran Kai, membentuk aliansi.
"dan?! disinilah kakakku dan ibuku mendapatkan kabar dari mata-mata yang mereka kirim ke Kekaisaran Kai, kabar yang berbahaya dan ibu mendiskusikannya dengan kami", Tae Jun yang kembali dari keterpurukan, teringat apa yang terjadi "selain informasi yang diberikan oleh nona Amitha dan bocah dari nomaden ini, ada informasi berbahaya lainnya yang membuat kakakku segera bergegas menuju kastil Hiryuu membawa laporan mata-mata itu karena informasi yang tertulis sangat berbahaya".
Kan An Ri, ibu kandung Kan Kyo Ga dan Kan Tae Jun mengundang kedua anaknya, memberi tahu informasi yang ia dapatkan dari mata-matanya yang bergerak di 'bawah tanah' Kekaisaran Kai. Setelah ia membaca 'informasi berbahaya' yang tertulis di dokumen itu, ekspresi Kan Kyo Ga langsung berubah menjadi tegang sehingga Kan Tae Jun segera merebut dokumen itu, dan ekspresinya kini sama dengan kakaknya.
Tertulis dengan jelas bahwa klan nomaden pihak oposisi dan kuil Sakura merah berniat untuk melakukan percobaan pada manusia. Dengan menggunakan DNA hewan dan tumbuhan yang akan dicampur dengan DNA dalam tubuh manusia, mereka berniat membuat senjata biologis, bahkan mereka sudah memiliki daftar kelinci percobaan mereka, mulai dari yang gagal hingga yang berhasil dan bertahan hidup; dengan mengelompokkan mereka sebagai calon 'bibit' alias mereka yang akan dijadikan sebagai tempat mereka menanam DNA hewan dan tumbuhan atau calon 'bunga' bagi para wanita yang rahimnya akan digunakan sebagai tempat penampungan calon 'bibit'. Calon 'bunga' dimaksudkan agar para wanita yang dianggap layak karena mereka memiliki tubuh yang kuat, kecerdasan yang tinggi atau kemampuan bertempur yang memenuhi kriteria terlebih jika wanita itu memiliki kemampuan khusus; dapat melahirkan anak-anak yang melebihi orang tuanya setelah wanita itu disuntikkan sperma yang diambil dari laki-laki pilihan yang dicampur dengan DNA hewan atau tumbuhan. Tentu saja laki-laki yang dipilih adalah laki-laki yang sudah mereka incar sebagai calon pemberi bibit yang layak.
Masalahnya... di antara daftar kelinci percobaan itu, terdapat nama Leila yang akan dijadikan sebagai calon 'bunga'.
Kyo Ga segera merebut laporan itu dari tangan Tae Jun dengan niat untuk memberitahukan hal ini pada Soo Won sekaligus meminta Soo Won menghubungi Kekaisaran Kai agar informasi ini bisa mereka konfirmasi keakuratannya. Tae Jun yang khawatir pada sikap kakaknya ingin ikut menemaninya pada awalnya, tapi Kyo Ga menyuruhnya untuk menghubungi Yona jika ia masih berhubungan dengan Yona, untuk mengonfirmasi apakah mereka juga mendapat kabar yang sama dengan kabar yang mereka dapat ini atau tidak.
"kakak memang tak mengatakan apapun, tapi aku merasa sepertinya dia mencemaskan Leila... itu sebabnya dia menyuruhku kemari? dan di tengah jalan, aku bertemu mereka" ujar Tae Jun menunjuk Amitha dan Inukai, menutup penjelasan mereka.
"dan, seperti saat kita berhadapan dengan kuil Sakura merah, kelompok yang akan kita hadapi ini adalah kelompok orang-orang keras kepala yang takkan mundur sampai tujuan mereka bisa tercapai" ujar Amitha memberi penekanan.
"sekarang...", Inukai melihat sekeliling "dimana kak Leila?".
Benar, hanya ada Yona, Hak, Lian Hua, Kija, Zeno, Jae Ha dan Fuyu bersama mereka karena barusan sebelum tamu tak diundang ini datang, Leila pergi berburu dan mengumpulkan daun obat untuk makan malam dan persediaan mereka bersama Yun dan Shina.
Tak lama kemudian, Yun kembali bersama Shina yang membawa hasil buruan mereka, yaitu babi hutan. Barusan, Leila meminta mereka berdua kembali duluan kemari sebelum ia pergi ke dekat sungai.
"tunggu, berarti Leila sendirian sekarang?" ujar Yona lalu menanyakan dimana Leila berada.
Saat Shina berbalik ke belakang, ia menjatuhkan babi hutan di bahunya dan berlari kembali ke arah mereka datang barusan.
Zeno berlari menyusulnya "Seiryuu!? paling tidak jelaskan apa yang terjadi?!".
"Leila dalam bahaya!?" ujar Shina memberitahu bahwa Leila, seorang diri, dikepung musuh.
Mendengar ucapan Shina, Hak menyerahkan Lian Hua ke tangan Yona "Kija, Yun, tolong jaga Yona dan Lian Hua bersama Amitha dan gerombolan dari suku api?! Kau ikut dengan kami, Inukai?!".
Jae Ha menggendong Fuyu dan menyusul mereka "bisa beritahu kami kemana kita harus pergi, atau perlu kami pergi lebih dulu?".
"naik", Hak menjentikkan jarinya sehingga petir menyambar dari langit, Hak mengeluarkan Raijuu yang ia tunggangi. Setelah menangkap tangan Inukai, Hak menyuruh Shina dan Zeno ikut naik ke atas Raijuu sebelum pergi menuju tempat yang ditunjuk sesuai arahan Shina.
"tapi meskipun ada musuh, harusnya tak apa-apa, kan? Leila yang paling lihai di antara kalian dalam mengendalikan hewan buasnya, ditambah lagi ini musim dingin, ini saat dimana Yuki Onna mencapai kekuatan terkuatnya" ujar Inukai yang berpegangan pada Hak.
"benar, tapi sebagian besar kekuatan Yuki Onna disegel oleh mendiang Takahiro sebab tubuh Leila akan terkena efek sampingnya jika ia menggunakan Yuki Onna dengan kekuatan penuh. Jangan lupa, tak seperti saat kita menggunakan hewan suci, kita takkan mendapat efek samping karena hewan suci berpihak pada cahaya. Tak peduli sekuat apapun, Yuki Onna tetap Youkai dan Youkai berpihak pada unsur kegelapan, pasti ada efek samping yang akan didapatkan oleh tubuh si pemilik seperti saat Hak hampir kehilangan nyawanya akibat ulah Kokuryuu" tambah Fuyu yang ikut naik ke atas Raijuu bersama Jae Ha, di belakang Shina dan Zeno "Youkai ibarat pedang bermata dua... jika kau salah menggunakannya, tubuh kita yang akan terkena dampak buruknya".
"hal itu tak terjadi padamu, kan?" tanya Jae Ha.
"meski nona keturunan Oni darah murni dari ibunya, ayah nona adalah manusia, jadi Zeno rasa tak sama dengan tuan dan nona yang keturunan Miko dan Oni".
Fuyu mengiyakan ucapan Zeno "aku Hanyo, tak seperti Leila dan Hak yang Hybrid".
Ketika mereka tiba di tempat itu, mayat yang membeku bergelimpangan di atas tanah. Hanya ada satu orang yang berdiri di tengah kubangan darah yang mewarnai permukaan salju dengan warna merah yang terbuat dari darah para mayat itu. Leila yang rambutnya putih seperti salju dan kedua kukunya yang panjang kini berlumuran darah menoleh ke arah mereka dengan sorot mata yang kosong dari sepasang bola mata sebiru laut itu, sepasang sayap hitam muncul dari punggungnya.
Hak turun dari Raijuu dan berniat menghampirinya "...Leila?".
"terkejut? Wajar, itu adalah sosok iblis, dengan kata lain sosok Alter, sosok asli sebagai Oni... cantik sekali, kan? sosok wanita iblis... tak heran kau dijuluki Yuki Onna, Iris".
Saat pria paruh baya yang berambut hitam dengan sepasang bola mata perak muncul di hadapan mereka, Leila menancapkan katana yang tersarung di pinggangnya ke tanah "Mai no Fubuki (tarian badai salju)!?".
Es yang ada di sekeliling Leila terlihat seperti bunga yang mekar, merambat menuju pria itu namun pria yang ia lawan berhasil menghindari serangannya. Mereka terkejut, selama ini Leila tak pernah mengeluarkan katana yang selalu tersampir di pinggulnya itu dari sarungnya, tanpa mereka tahu kalau ternyata katana itu memiliki kekuatan istimewa.
Katana Murasaki, katana itu termasuk salah satu senjata suci khusus karena ia tak hanya dapat menusuk penghuni dunia manusia tapi juga penghuni dari dunia lain. Katana itu juga dijuluki pedang alam baka karena konon pemiliknya dapat membuka pintu yang menghubungkan dunia manusia dengan perbatasan alam baka. Murasaki itu yang digunakan oleh mendiang Takahiro sebagai medium untuk menyegel sebagian besar kekuatan Yuki Onna karena nyawa Leila yang hampir melayang saat Leila berusaha menguasai penggunaan Yuki Onna sebagai Youkai-nya.
Ketika teman-temannya ingin membantunya, Leila menancapkan Murasaki ke tanah sehingga kubah dinding es yang tebal menciptakan dinding pemisah di antara mereka "jangan ada yang ikut campur?! Aku harus membunuh Mikazuki dengan tanganku sendiri, sebab dia dan antek-anteknya yang menyerang kami di gunung bersalju itu sampai mendiang Takahiro harus mati karena melindungiku?!".
Saking tebalnya dinding es itu, Jae Ha dan Zeno yang kekuatannya sudah aktif kesulitan tak bisa menghancurkannya karena dinding es itu akan kembali seperti semula meskipun dinding es itu retak atau pecah. Jae Ha juga tak bisa melompat masuk ke dalam dimana Leila dan pria bernama Mikazuki itu berada karena dinding es ini berbentuk kubah yang menutup rapat tanpa celah meski mereka masih bisa mendengar percakapan mereka dari dalam, satu-satunya yang bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam hanyalah Shina. Fuyu sebagai keturunan kaum Siren memang bisa mengendalikan air, tapi meski ia berusaha mencairkan dinding es itu, dinding es itu kembali membeku.
"percuma saja, hawa dingin mulai berbalik menyerangmu... tanganmu mulai membiru akibat radang dingin, kau akan kesulitan mengendalikan es ini jika kau tidak dapat mengendalikan hawa dingin dalam tubuhmu... ini salah satu kelemahanmu, menyerah sajalah dan biarkan aku membawamu".
"berisik, Mikazuki" ujar Mulan mempererat genggamannya pada Murasaki "tak peduli apapun kelemahan atau kekurangan yang kumiliki, jika aku mengasahnya, pasti bisa kujadikan sebagai senjata... jika hawa dingin di dalam tubuhku mulai tidak terkendali, aku cukup membuatnya menjadi lebih dingin lagi dan membekukanmu!?".
"jangan lakukan, jika kau melakukannya...!" ujar Fuyu yang ditarik Jae Ha dari belakang.
Sekeliling mereka sudah seperti di kutub utara, terlalu dingin seolah tulang mereka membeku, tak bisa dibayangkan betapa dinginnya di dalam situ.
"jika aku boleh tahu, kenapa kau sama sekali tak mau minggir dari situ?" tanya Mikazuki yang menggerutu karena ia kehilangan seluruh anak buahnya kali ini, sebab Leila telah membunuh semua anak buahnya "segitu bencinya padaku sampai kau menghabisi semua anak buahku?".
"ada orang-orang yang tak bisa kubiarkan terluka di belakangku", Leila berdiri dan menghela napas panjang "jadi jangan harap aku akan minggir dari sini".
"hentikan, Leila!? jika kau mengorbankan dirimu demi melindungi seseorang, itu hanya akan membuat orang yang kau lindungi merasa sedih!? Tak akan ada yang tersisa dalam dirimu jika kau membunuh seseorang sampai mengorbankan dirimu meski itu demi melindungi orang lain terlebih jika kau lakukan itu untuk balas dendam!? Kau yang paling tahu betapa pedihnya hal itu, kan?!" ujar Hak meminta Leila untuk menarik kembali kekuatannya sambil berusaha untuk menjebol dinding es itu dengan petirnya dibantu teman-temannya "apa kau lupa, apa yang telah terjadi pada Yasmine?!".
"Yasmine hancur hatinya karena pria yang harus ia bunuh adalah mantan kekasihnya, pria yang pernah ia cintai... hanya ada kebencian yang kurasakan pada pria ini, jadi kau tak perlu takut karena aku takkan hancur karenanya, kak" ujar Leila mengarahkan katana Murasaki ke arah Mikazuki "aku tak berencana untuk mengorbankan diriku atau sendiri mati di tangannya, kak... aku hanya akan... membunuhnya...".
"kau tak bisa membunuhnya, Leila!? Mikazuki... dia ayah kandung Takahiro!?" ujar Inukai.
"APA?!" teriak mereka di tempat itu yang mendengarnya kecuali Leila dan Shina yang terlalu shock untuk berteriak.
"jangan bercanda, Inukai!?" teriak Leila dari balik es.
"memangnya ini waktu yang tepat untuk bercanda? Aku serius, kak Leila!?" ujar Inukai yang mengakui bahwa ia tak sengaja mengetahui hal ini dari percakapan Aruma dan Tomoe dengan Mulan, kakak kandung mendiang Takahiro saat mereka menjaga Leila yang demam tinggi tak lama setelah kematian Takahiro "singkirkan barrier es ini!?".
"jika apa yang kau katakan benar, lantas... kenapa dia berusaha membunuh Takahiro saat itu?" sahut Leila yang membuat Mikazuki tertawa keras "apanya yang lucu?".
Mikazuki menyeringai "lalu memangnya kenapa? kenyataannya, Takahiro memang putraku dan aku memerlukanmu tapi setelah mengetahui bahwa aku berniat menggunakanmu agar kami bisa melakukan ritual Taizan Fukun, ia menghalangiku... jadi aku membunuhnya".
Mikazuki memberi penjelasan bahwa ritual Taizan Fukun adalah ritual untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Diperlukan Miko dengan kekuatan tinggi menggunakan salah satu senjata suci seperti katana Murasaki untuk membuka pintu gerbang perbatasan dunia ini dan alam baka. Setelah Murasaki membuka pintu perbatasan, Miko tersebut harus menarik roh orang yang sudah mati untuk kembali dimasukkan ke tubuh milik roh tersebut. Dengan kata lain, dihidupkan kembali. Namun menghidupkan kembali seseorang sangat besar bayarannya, sehingga ritual Taizan Fukun termasuk dalam ritual terlarang sebab tak hanya pelaksana ritual yang akan mendapat serangan atau bahaya jika ritual gagal, bahkan mungkin pelaksana ritual itu akan kehilangan nyawanya. Itu sebabnya Takahiro mencegah Mikazuki.
"jadi dengan harapan untuk menghidupkan istrimu kembali, kau bermaksud mengorbankanku dan kau bunuh Takahiro karena ia menentangmu?".
"benar sekali... anak bodoh, padahal jika ia membantuku untuk memanggil kembali ibunya, ia takkan kubunuh karena ia masih berbakti padaku tapi karena dibutakan oleh cinta, dia berbalik melawanku dan menjadi anak durhaka" ujar Mikazuki mengulurkan tangannya pada Leila "tapi kau kumaafkan, Leila... kaulah wanita satu-satunya yang dicintai dan akan dinikahi Takahiro, berarti kau juga putriku... jika kita mempersembahkan jiwa seseorang sebagai bayarannya, mungkin kita bisa membawa kembali orang yang sudah mati siapapun itu, mendiang Takahiro atau adikmu".
"jangan dengarkan dia, nona!? membawa kembali orang yang sudah mati itu dilarang?!" teriak Zeno dari luar.
Leila menutupi wajahnya dan tertawa keras "menggelikan".
"apanya yang lucu?" ujar Mikazuki heran.
"ucapanmu barusan kontradiktif... kau bilang, dengan membantumu menghidupkan kembali istrimu dengan ritual Taizan Fukun bisa dianggap sebagai bakti Takahiro padamu dan ibunya? Apa aku akan dianggap anak durhaka jika aku menolak untuk melakukan ritual itu? lantas bagaimana denganmu sendiri?" ujar Leila menunjuk Mikazuki "kemana saja kau selama ini, hah? setelah istrimu meninggal, selama bertahun-tahun kau tinggalkan Mulan dan Takahiro di kuil Kousei, jika kau memang ayah kandung mereka, kenapa kau malah menelantarkan mereka berdua? Jika kami sebagai anak menentang keinginan kalian sebagai orang tua atau berbalik melawan kalian, kalian menyebut kami sebagai anak durhaka, tapi apa tak ada istilah orang tua yang durhaka pada anaknya karena kalian yang salah langkah dan memperlakukan kami secara tak adil? Bukankah itu sangat tak adil dan egois jika hanya kami sebagai anak yang disalahkan sedangkan kau sendiri tak menunjukkan baktimu sebagai orang tua?".
Mikazuki mengacungkan pedangnya ke arah Leila "apa kau berniat melawan ayah mertuamu? Kau tak akan bisa menang melawanku... Aku ayah kandung mereka, jadi terserah padaku mau mengasuh mereka atau tidak setelah kematian ibu mereka... saat Takahiro lahir, kami terpaksa menaruhnya bersama Mulan di kuil Kousei karena Ifrit, iblis di salah satu gunung di Kekaisaran Kai Utara membuat kekacauan. Sebagai Miko, sudah tugas ibu mereka untuk mengusirnya dan istriku, Xue Lien harus kehilangan nyawanya demi menyegel Ifrit... bertahun-tahun aku terus mencari cara untuk membawanya kembali dan melakukan penelitian setelah meletakkan kedua anak-anakku di tempat yang aman. Sampai kutemukan bagaimana caranya aku bisa membawa kembali ibu mereka dan aku sadar diperlukan pengorbanan yang setimpal".
"tindakanmulah yang egois?! ayah kandung macam apa yang berusaha mencabut nyawa putri kandungnya sendiri?!", Jae Ha yang berada di luar kubah es itu menendang dinding es sekuat tenaga, teringat bagaimana Fuyu menangis saat masih berselisih dengan Dal "jika seorang ayah sebagai satu-satunya tempat seorang anak bergantung setelah mereka harus kehilangan ibunya, kemana lagi mereka harus bergantung?!".
"apapun alasanmu, tidak mengubah kenyataan bahwa kau menelantarkan Mulan dan Takahiro, anak kandungmu?! Jangan harap aku bersedia menuruti permintaanmu dan aku takkan sudi menganggapmu sebagai ayahku!? Mendiang ayah kandungku takkan pernah mengorbankan atau menjerumuskan satu pun dari anak-anaknya" ujar Leila mengacungkan katana Murasaki ke atas sambil menatap mata katana yang bersinar biru "jika kau benar-benar ingin bertemu dengan istrimu, masih ada satu cara lain untuk menemui istrimu di alam sana... akan kubawa kau ke tempatnya... jurus terlarang, Murasaki... Kenshin no Yasha Shirayuki (jantung pedang iblis salju)...".
"jurus itu... hentikan?! kau bisa benar-benar mati jika kau nekad menggunakannya?! mungkin kau memang bisa mengalahkanku, tapi jurus itu akan mengubah raga dan jiwamu menjadi satu dengan salju jika kau tak bisa menahan hawa dinginnya?! itu jurus bunuh diri!?".
"kenapa? memang kau tak akan mendapatkan apa yang kau inginkan jika aku mati lebih dulu, tapi pada akhirnya aku akan mati juga, jadi tidak masalah, kan? kau hanya takut mati makanya kau berniat membawa istrimu kembali ke dunia ini, kan? pengecut" ujar Leila menghela napas berat.
Muncul pertigaan di kepala Mikazuki "apa?! lidah tajammu sama saja dengan Takahiro?!".
Hak hanya bisa memukul barrier es itu dari luar dengan putus asa karena sementara yang lain berusaha memecahkan dinding es itu "Leila!? jangan bercanda!? Aku takkan memaafkanmu jika kau mati seenaknya!? Kau yang bilang... kalau kau takkan mengorbankan dirimu sendiri, kan!?".
"maaf, kak... tapi jika aku tak menghentikannya disini, entah ada berapa banyak nyawa yang akan melayang di tangannya hanya untuk mencoba membangkitkan kembali istri dan anak-anaknya... katana di tanganku membuat mataku bisa melihat apa saja yang telah dia lakukan selama ini, berapa banyak jiwa yang harus mati di tangannya demi ambisi kosong. Adalah tugas seorang anak untuk menghentikan perbuatan bodoh orang tuanya, ini adalah apa yang belum diselesaikan oleh Takahiro, karena itu aku harus menyelesaikannya menggantikan Takahiro..." ujar Leila meneteskan air mata dan tersenyum "sampaikan pada Takahiro saat kau bertemu dengannya di alam sana... bahwa aku mencintainya...".
Tiba-tiba ada badai salju yang membentuk pusaran angin puyuh di tengah mereka berdua, salju itu terus berkumpul membentuk wujud seorang wanita. Wanita salju itu membekukan semua yang ada di situ hingga ke dalam sumsum tulang dan darah mereka, tak terkecuali Mikazuki. Setelah membekukan mereka semua, Yuki Onna menghancurkan mereka semua, tak terkecuali Mikazuki yang membeku menjadi patung es menjadi berkeping-keping.
Di belakang Hak dan yang lain, muncul seseorang yang bersiap menghancurkan dinding es buatan Leila "minggir... biar kujebol dinding es ini...".
Inukai terbelalak dan menangis lega melihat siapa yang datang "tepat waktu, paman!?".
"aku kemari secepat mungkin setelah aku mendapat sinyal SOS, lho... minggir... aku dijuluki Bakuen no Aruma (Aruma si ledakan api) bukan tanpa alasan..." ujar Aruma mengumpulkan tenaga dalam dengan kekuatan penuh, pada mata tombaknya perlahan mengeluarkan gabungan batu dan api, batuan magma muncul dari mata tombaknya yang ia lontarkan untuk menjebol dinding es itu.
Saat Aruma berhasil menjebol dinding es itu, terlihat Yuki Onna melayang ke atas dan berubah wujud menjadi katana Murasaki yang terjun ke bawah dengan kecepatan tinggi, menusuk Leila tepat di tengah. Mereka hanya bisa melihat saat Leila tertusuk Murasaki namun saat mereka ingin menghampiri Leila, Leila menutup matanya perlahan sambil tersenyum dan menghilang begitu saja bagai asap, lenyap dan hanya menyisakan katana Murasaki yang tertancap di atas tanah bersalju.
Hak yang hampir berhasil meraih Leila barusan terduduk lemas, mengepalkan kedua tangannya yang ia pukulkan sekuat tenaga ke tanah sebelum berteriak "LEILA?!".
Tiba-tiba, Lian Hua menangis keras saat Tae Jun menggendongnya. Setelah Yona mengambil kembali Lian Hua, menggendongnya dan membuainya untuk menenangkannya, Yona merasa mendapat firasat buruk.
Kyo Ga menatap keluar dan rambutnya tertiup angin saat ia menatap gunung bersalju di teras istana kastil Hiryuu. Fajar telah terbit saat ia ingin meninggalkan istana dan setelah ia bertemu Soo Won, ia pamit sebelum pergi meninggalkan kastil Hiryuu. Di tengah jalan, entah kenapa ia mendapat perasaan tak enak, dadanya terasa sakit seolah ditusuk oleh pedang kasat mata. Ia menghentikan kudanya dan para prajurit yang ikut bersamanya terkejut melihat kuda raksasa di hadapan mereka yang turun dari langit. Kyo Ga turun dari kudanya dan mendekati kuda raksasa itu, sementara anak buahnya yang merasa ketakutan sehingga mereka tetap di tempat mereka memintanya berhati-hati dan sebagian lagi memintanya mundur. Kyo Ga mengacuhkan ucapan prajurit bawahannya dan menggapai kuda raksasa itu, tentu saja ia tak akan lupa pada kuda raksasa yang ia kenal ini.
Sambil mengelus dahi kuda itu, Kyo Ga menoleh ke sekeliling "kenapa kau ada disini? dimana majikanmu, Hokuto?".
