Chapter 46 – Unexpected Aid
Pertolongan tak terduga datang dari seseorang yang seharusnya menjadi musuhnya
.
Winter Arc
.
~ Desa Hakuryuu ~
.
Kija meninju kepalan tinjunya ke dinding dan membuat seisi bangunan bergetar. Jae Ha yang bersandar di dinding menghampirinya dan menepuk bahunya, memintanya bersabar sebab tak ada yang bisa mereka lakukan di tengah badai salju begini. Kija dan Jae Ha sempat berdebat di saat Shina nekad hendak pergi keluar menyusul Hak yang paling pertama beranjak dari tempat duduknya dengan niat pergi keluar mencari Leila.
"semuanya, tenang?! Para hewan buas bodoh, bukan hanya kalian yang cemas dan takut?! tapi sayangnya Jae Ha benar, tak ada yang bisa kita perbuat di tengah badai salju begini?! kita tak bisa mencari Leila tanpa petunjuk di tengah badai salju begini, itu namanya bunuh diri?!" ujar Yun membanting meja.
Lian Hua yang digendong Yona terbangun dan menangis keras mendengar teriakan Yun. Zeno menghampiri Yona, berusaha menghibur Yona dan membantu Yona menidurkan Lian Hua. Di ruangan ini, suasana yang tegang membuat suhu dingin begitu menusuk tulang di ruangan ini.
Aruma masuk ke ruangan itu bersama Inukai "uwaah, suram...".
"dingin..." ujar Inukai merinding, bukan hanya karena ia baru saja kembali dari luar tapi juga karena suasana ruangan ini yang entah bagaimana membuatnya merasa tambah kedinginan.
Kyouka muncul di hadapan mereka sambil menggandeng Mulan dan Mizuki. Kyouka adalah 'bunga' yang memiliki kemampuan berpindah tempat (teleport). Mizuki memiliki kemampuan meramal dan memantulkan sesuatu mulai dari masa depan, masa lalu juga masa kini melalui perantara 'cermin air'. Seperti Mizuki, Mulan juga bisa meramal tapi bedanya Mulan meramal lewat pergerakan benda langit sehingga Mulan akan membaca pergerakan matahari, bulan dan bintang untuk meramal, entah itu masa depan atau takdir seseorang.
"seperti yang pernah kuberitahu, aku baru bisa berpindah tempat jika aku memiliki 'tanda' di tempat aku akan berpindah tempat, seperti 'seseorang' atau 'lokasi' tepatnya. Masalahnya, aku kesulitan menggunakan kekuatanku karena badai salju ini" ujar Kyouka mengarahkan telapak tangannya pada Mizuki dan Mulan.
"kemampuan meramalku bisa dibilang random, aku tak bisa meramalkan sesuatu secara pasti seperti 'dimana nona Leila' atau 'bagaimana kondisinya' sebab ramalan masa depan itu selalu datang secara tiba-tiba dan tak pasti kapan datangnya. Aku juga tak bisa menggunakan 'cermin air' tanpa adanya perantara yang dimasukkan dalam 'cermin air' seperti yang kulakukan dulu di hadapan kalian" tambah Mizuki mengangkat bahu.
"bagaimana bisa begitu?" tanya Yun heran.
Aruma mengintip keluar melalui tirai bambu di jendela "badai salju ini bukan badai salju biasa, kan? karena Setsuko... Yuki Onna milik Leila mengamuk, kan?".
"benar, seperti yang pernah terjadi pada mendiang nona Yasmine saat Tatiana lepas kontrol dan membuat kita semua melihat proyeksi masa lalu secara acak, badai salju ini dibuat oleh Yuki Onna dan mengacaukan kekuatan kami sebagai 'bunga' jadi kurasa saat ini kita tak punya pilihan lain selain memantau keadaan..." angguk Mizuki menunjuk Mulan "paling tidak, masih ada satu orang yang bisa diandalkan saat ini".
Seperti yang dijelaskan Kyouka, Mulan bisa mendeteksi kondisi seseorang melalui pergerakan benda langit sehingga badai salju ini tak mempengaruhi Mulan. Setelah para dayang bawahan tetua desa Hakuryuu membawa apa yang diminta Kija, Mulan meletakkan sebuah mangkuk raksasa itu di tengah ruangan dan menuangkan sake putih yang biasa dipakai pada saat upacara atau ritual tertentu. Begitu Mulan memegang tepi mangkuk itu dan membacakan mantera, isi mangkuk itu yang semula berisi sake putih menghitam, memperlihatkan ruang angkasa, galaksi bimasakti terlihat jelas di mangkuk itu.
Setelah ia mengamati dengan seksama isi mangkuk yang berubah menjadi galaksi itu, kening Mulan berkerut sebelum ia melipat tangan dan bertanya "...berita baik dan berita buruk, yang mana yang ingin kalian dengar lebih dulu?".
"langsung saja katakan apa yang terjadi" pinta Hak mengerutkan kening.
"baik, berita baiknya, Leila masih hidup, dia dilindungi rasi Bintang Utara dan... aku tak tahu apa artinya ini, tapi ia dilindungi oleh naungan planet Mars dan cincin planet Saturnus terbang tak tentu arah seperti kehilangan tempat".
"bisa jelaskan dengan bahasa yang kami mengerti?" tanya Yun yang merasa seperti dihadapkan dengan bahasa planet.
"rasi Bintang Utara berarti Hokuto, dia hewan suci yang dimiliki oleh Leila, tentu saja ia akan melindungi Leila terlepas dari kenyataan bahwa Hokuto adalah roh hewan suci Kirin yang kini melebur dengan roh mendiang Takahiro. Cincin planet Saturnus berasal dari es dan bongkahan bintang, yang berarti adalah Yuki Onna, Youkai yang melebur dengan roh mendiang Setsuko saat ini tengah marah besar, entah karena apa, dan menyebabkan badai salju dahsyat saat ini", Mulan meminta mereka mendekat, menunjuk bintang yang berkelip redup di bawah naungan benda langit yang berwarna merah dan menyala terang "bintang yang berkelip redup itu nyawa Leila, ia masih hidup tapi kondisinya lemah sekali dan bisa dipastikan ia sedang tak sadarkan diri. Yuki Onna dan Hokuto berhubungan dengan Leila, jadi kondisi keduanya juga jadi kacau karena kondisi Leila yang melemah. Yang membuatku heran adalah ini... planet Mars yang menaungi Leila identik dengan pria, lambang untuk pria dewasa yang berarti... dari posisinya, bisa kukatakan kemungkinan saat ini Leila berada di wilayah suku api tapi masalahnya siapa pria yang menolongnya dan kenapa dia bisa berada disana?".
Hak langsung mengambil Tsu Quan Dao dan bergegas keluar namun Shina menangkapnya atas instruksi Yun.
Setelah keduanya tersungkur ke lantai, Hak langsung membentaknya "Shina?! lepaskan aku?! mana bisa aku duduk tenang tanpa tahu adikku aman atau tidak?!".
"tidak dengan cuaca seperti ini, Raijuu... jika terjadi sesuatu padamu...", Yun menunjuk Yona dan Lian Hua "siapa yang akan menjaga mereka berdua? kau berniat membuat istrimu menjadi janda muda dengan satu anak?".
Shina menoleh ke arah Inukai yang ada di belakang Aruma "Inukai, kau bisa mengetahui posisi Leila dengan indra penciumanmu, kan?".
"memang bisa, selama masih ada angin yang membawa baunya" angguk Inukai.
Aruma menepuk kepala Inukai sebelum memberitahu bahwa Inukai adalah keturunan langsung klan penakluk serigala di klan nomaden yang memiliki indra penciuman paling tajam sehingga ia bisa mengandalkan Inukai untuk mencari jejak lewat bau, tapi Aruma terkejut karena baru kali ini ia melihat Shina berinisiatif bicara duluan. Tak hanya Aruma, yang lain juga terkejut karena melihat Shina bersikap tak seperti biasanya.
Shina menoleh ke arah Hak "Hak, kau tetaplah disini bersama yang lain... saat badai salju reda, biar aku, Inukai dan Aruma yang pergi mencari Leila di wilayah suku api. Asal badai salju ini reda, Kyouka bisa mengantar kami ke wilayah suku api dengan teleport, sedangkan Mulan dan Mizuki bisa memantau keadaan kami dari sini, kan?".
"itu... mungkin bisa berhasil" ujar Yun takjub melihat Shina mengutarakan ide cemerlang itu.
"tapi Shina", Hak bersikeras namun ia merasa membeku saat Shina membuka topengnya dan sepasang mata naga itu menatapnya.
Shina mengangkat topengnya yang ia letakkan di ubun-ubunnya sehingga ekspresi Shina yang biasa tersembunyi di balik topeng kini terlihat jelas saat ia mengulurkan tangannya pada Hak dengan ekspresi yang seolah berkata bahwa ia takkan mundur kali ini "Hak, Yona dan Lian Hua membutuhkanmu... aku mengerti, sebagai kakaknya, kau tak ingin kehilangan adikmu lagi tapi kau dan Leila juga berharga bagi kami... lagipula, ini tanggung jawabku... jika sejak awal aku tak membiarkannya sendirian melawan Mikazuki dan pasukannya saat itu, mungkin hal ini takkan terjadi... jadi biarkan aku menebus kesalahanku dan mencarinya... aku berjanji, aku akan membawanya pulang".
"sejak kapan ekspresi dan kata-katamu jadi dewasa begini? sejauh inikah keberadaan adikku mengubahmu, Shina?", Hak terkekeh dan meraih tangan Shina, ia berdiri dan memeluk Shina "jangan menganggap ini terjadi karena kesalahanmu... dan kalian semua harus kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, mengerti?".
"benar kata Raijuu, lagipula jika kau merasa begitu, aku juga sama bersalahnya..." ujar Yun melipat tangan namun Zeno menepuk bahunya.
Shina menepuk punggung Hak dan menganggukkan kepalanya yang ada di bahu Hak.
"baru kali ini aku melihatmu bicara sebanyak itu" ujar Aruma melipat tangan, menyeringai.
"baiklah, apakah kali ini gara-gara Leila?" ujar Jae Ha yang memangku Fuyu mengikat rambut Fuyu, bersiul.
"Mulan, kau yakin yang ada di dekat Leila itu pria? Kita masih belum tahu jika pria itu musuh atau kawan, kan? kita masih belum tahu siapa pria itu dan kenapa dia menolong Leila. Apa kau punya petunjuk tentang siapa kira-kira orang ini?" ujar Aruma menautkan dagu.
Setelah Mulan menggelengkan kepalanya, Hak mengerutkan kening "entah kenapa... firasatku buruk dalam beberapa hal".
"jika pria itu berbuat macam-macam kepada Leila, boleh kuhentikan jantungnya?" ujar Shina memakai kembali topengnya.
"silahkan" sahut Hak menyeringai.
"tapi terkadang, pertolongan bisa datang dari pihak yang tak terduga, hati-hatilah" ujar Mulan menghela napas.
Jae Ha tersenyum lega melihat teman-temannya kembali bersemangat, jika teringat apa yang terjadi saat itu.
Melihat Leila lenyap bagaikan asap di depan mata mereka, Shina melepas topengnya dan terus melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Leila sebelum ia berlutut dan memukulkan kedua tangannya ke tanah sambil menangis sehingga Zeno memeluknya. Hak yang hampir meraih Leila barusan menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya. Jae Ha memeluk Fuyu yang menangis di dekapannya. Aruma menggendong Inukai yang menangis dan mencabut Murasaki yang tertancap di tanah.
"roh Yuki Onna masih ada di katana ini, yang berarti Leila masih hidup", Aruma mengambil sarung katana Murasaki dan menyarungkan Murasaki "jika manusia yang dirasuki oleh hewan gaib itu meninggal, seperti yang terjadi pada Yasmine, roh manusia yang telah melebur dengan roh hewan gaib akan kembali ke langit setelah pemiliknya mati, sementara hewan gaib yang merasuki mereka hanya akan kembali ke tempat asalnya. Dengan kata lain, melihat Yuki Onna masih ada di katana ini, bisa disimpulkan bahwa Leila masih hidup".
Ucapan Aruma membuat mereka kembali bangkit dan berniat mencari Leila, namun Yuki Onna yang berada dalam katana Murasaki bergetar dan keluar dari katana lalu mengamuk sehingga menyebabkan badai salju. Kyouka yang sudah mengetahui hal ini dari Mizuki yang mendapat penglihatan soal ini segera membawa Kan Tae Jun dan Amitha bersama pasukan mereka ke kastil Saika sesuai dengan permintaan Yona sementara Yona dkk dikirim ke desa Hakuryuu.
Sambil mengelus dahi kuda itu, Kyo Ga menoleh ke sekeliling "kenapa kau ada disini? dimana majikanmu, Hokuto?".
Suara gemerincing bel dari sepasang gelang kaki mendarat di belakang Kyo Ga "mencari kakak perempuanku yang cantik itu? kau merindukannya, Kan Kyo Ga?".
Kyo Ga menoleh ke belakang dan mengerutkan keningnya "kau... adik Leila, Yasmine? sedang apa kau disini?".
Yasmine tertawa melihat ekspresi Kyo Ga yang jelas-jelas tak suka melihat kemunculannya, ia menutup mulutnya dan terkekeh "ekspresimu jelas-jelas menunjukkan kalau kau tak suka, lho... berharap kakakku yang muncul dan bukan aku?".
"jangan bicara seolah-olah aku tertarik pada kakakmu, langsung saja katakan apa maumu".
Setelah Yasmine meminta Kyo Ga mengikuti Hokuto, tiba-tiba Hokuto mengangkat kedua kaki depannya dan memekik sebelum berbalik dan berlari ke suatu arah. Kyo Ga terkejut atas aksi Hokuto yang tiba-tiba.
"kejar dia dan tolong selamatkan kakakku, kakakku dalam bahaya".
"kalau begitu, kenapa tak kau saja yang...".
"aku sudah tak bisa melindunginya lagi meski aku ingin...", tubuh Yasmine melayang, perlahan tubuhnya memudar bersama salju yang bertiup, membuat para prajurit suku api yang melihat hal itu pucat pasi, karena mereka baru saja melihat hantu.
Di sisi lain, Kyo Ga tak bergeming meski ia memang terkejut dan ia menoleh ke sekelilingnya "dimana kau, Yasmine? apa yang terjadi pada Leila? kenapa kau memintaku untuk...".
"aku sudah mati, Kan Kyo Ga... kau akan mengerti saat kau melihat sendiri kondisi kakakku... dan aku meminta pertolonganmu karena aku percaya, jika itu kau, kau pasti akan melindungi kak Leila... jika Takahiro adalah perisai yang melindunginya, maka kau adalah pedang yang memusnahkan semua bahaya yang mengancamnya".
Mendengar ucapan Yasmine di kepalanya, Kyo Ga segera naik ke atas kudanya dan mengejar Hokuto secepat yang ia bisa. Para prajurit suku api yang ikut bersama Kyo Ga tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan mereka tak tahu apa yang harus dilakukan selain mengikutinya dan menuruti perintahnya. Saat Hokuto berhenti di depan tebing, memekik sambil menaikkan kedua kakinya kembali, dari kejauhan Kyo Ga melihat Leila yang tak sadarkan diri jatuh dari ketinggian dari atas tebing di depannya. Kyo Ga turun dari kudanya dan menyuruh pasukannya menyusulnya secepat mungkin dan menghampiri Hokuto yang ia naiki. Setelah Kyo Ga naik ke atas Hokuto, Hokuto terjun ke bawah dan mendarat di depan danau. Danau yang membeku dimana terdapat bebatuan yang bisa dijadikan sebagai jembatan penghubung itu dikelilingi oleh semak dan pepohonan sehingga Hokuto dan Kyo Ga mungkin tak terlihat, tapi Kyo Ga bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di depan matanya.
Kyo Ga melihat empat orang pria; dua di antaranya memakai pakaian nomaden dan yang dua lagi berpakaian hitam bahkan salah satunya memiliki tatto bunga Sakura merah di lehernya. Di tangan salah satu pria berpakaian nomaden itu terdapat kalung dengan liontin yang sangat Kyo Ga kenal, kalung dengan permata air mata ikan paus yang dimiliki Leila. Kedua pria itu terlihat sangat gembira karena mendapat kalung itu dan tengah berdebat dengan kedua pria berpakaian hitam itu.
Kyo Ga menampakkan dirinya di hadapan ke-4 pria itu "siapa kalian dan sedang apa kalian disini?".
Tentu saja ke-4 pria itu berusaha mengelak dan menghindari pertengkaran karena mereka tak ingin berurusan dengan Kyo Ga, mereka tak tahu siapa Kyo Ga tapi mereka merasa bahwa Kyo Ga pasti berasal dari kalangan bangsawan di Kerajaan Kouka.
Tak membuang waktu, Kyo Ga menunjuk kalung yang ada di tangan salah satu pria nomaden itu "aku kenal wanita yang memiliki kalung itu... dimana pemilik kalung itu?".
Tak menjawab pertanyaan Kyo Ga, ke-4 pria itu menghunuskan pedangnya. Saat Kyo Ga ingin menghunuskan pedangnya, ia melihat salju di kaki ke-4 pria itu membeku dan membelenggu gerakan pria itu. Sesosok wanita berambut putih yang memiliki kulit putih sepucat salju dengan sepasang mata berwarna permata amber yang kosong dan retak di wajahnya muncul perlahan dari balik salju. Wanita itu berteriak pilu seolah sedang menangis dan salju yang membelenggu ke-4 pria itu perlahan membekukan para pria itu. Perhatian Kyo Ga yang takjub pada wanita salju di hadapannya teralihkan saat Hokuto menyenggol bahunya dan mengangkat dagu ke arah lubang yang terdapat di tepi danau yang membeku ini.
Kyo Ga memicingkan kedua matanya yang terbelalak saat kedua matanya menangkap sebuah tangan dengan jemari yang lentik tenggelam perlahan dari lubang itu, sebuah gelang dari batu Lazuli dengan manik bunga yang ia berikan pada Leila itu melingkari tangan yang menghilang ke bawah sungai itu.
"LEILA?!", Kyo Ga segera berlari melewati wanita salju dan ke-4 pria yang membeku itu, ia sempat bertemu pandang dengan wanita salju yang tersenyum padanya sebelum ia berlutut di dekat lubang itu.
Terlalu gelap.
Es yang tebal menutupi permukaan danau yang membeku dan ia kesulitan untuk menemukan Leila di dalam danau beku yang gelap ini.
Hokuto melewatinya dan berhenti di atas permukaan es yang tak begitu jauh dari lubang yang ia tatap, agak di tengah danau dekat bebatuan dimana danau ini terhubung menuju dua arus, ke atas dimana aliran sungai mengalir ke bawah membentuk danau dan ke bawah dimana mulut danau menuju air terjun yang berada beberapa meter di samping kiri jembatan penghubung dari bebatuan itu.
Saat Hokuto menoleh ke arahnya dan mengangguk, Kyo Ga mengerti bahwa disanalah posisi Leila. Hokuto tak bisa mengeluarkan Leila dari sana karena meski Hokuto memecahkan es di danau ini, tetap tak ada yang bisa menarik Leila keluar dari danau itu selain dirinya saat ini.
Tanpa membuang waktunya, Kyo Ga berlari menuju tengah danau menggunakan jembatan dari bebatuan itu. Setelah menemukan tubuh Leila di dekat lokasi Hokuto berdiri, Kyo Ga mengiris permukaan es itu menggunakan pedangnya untuk membuat lubang yang cukup besar baginya agar ia bisa menarik Leila keluar dari danau beku. Setelah berhasil menarik setengah dari tubuh Leila keluar, es di sekelilingnya retak sehingga Hokuto menggigit jubah belakang Kyo Ga yang melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Leila. Setelah Hokuto melompat dan mendarat di tepi danau, es tempat mereka berada barusan runtuh sehingga Kyo Ga berterima kasih pada Hokuto, jika tidak ia bisa ikut tenggelam di dasar danau es ini.
Kyo Ga merinding saat menyadari betapa dinginnya tubuh Leila dan mengerutkan kening saat melihat bibir Leila yang biru, wajah kaku yang kelabu dan tak ada reaksi dari tubuh lemasnya yang terkulai di dekapan Kyo Ga. Setelah menempelkan telinganya ke dada Leila dan mencari denyut nadi di pergelangan tangan Leila, Kyo Ga menghela napas lega setelah akhirnya ia bisa menemukan denyut nadi Leila yang sudah sangat lemah. Tapi ia masih belum bisa lega, napas Leila tak terasa saat ia meletakkan jari tangannya ke depan hidungnya sehingga ia memberikan napas buatan serta pertolongan pertama untuk korban tenggelam pada Leila selama beberapa saat.
Akhirnya Leila memuntahkan sejumlah air yang diawali dengan batuk kecil, hingga akhirnya ia memuntahkan sejumlah besar air yang tertelan. Sambil memegangi dadanya dan meringkuk, Leila terus memuntahkan air yang terlanjur ia telan dan Kyo Ga mengangkat tubuhnya tegak lurus untuk memudahkan Leila bernapas, melihat setiap tarikan napas di tengah usahanya untuk mengisi kembali paru-parunya dengan udara begitu menyiksanya.
Setelah semua air yang ia telan berhasil dimuntahkan, tubuh Leila mulai gemetar kedinginan, ia menatap Kyo Ga kebingungan, sebelum Kyo Ga sempat berkata sesuatu, Leila melingkarkan kedua tangannya ke leher Kyo Ga dan Kyo Ga mengerutkan kening saat mendekap Leila yang menangis ketakutan.
Saat genggaman tangan Leila melonggar, Kyo Ga menangkap kepala Leila yang tak sadarkan diri dan melihat darah mengucur dari kepalanya. Bukan hanya itu, Leila mulai kejang-kejang dan memuntahkan darah, tubuhnya bergetar hebat dan kristal es yang putih terlihat membentuk di ujung rambutnya yang hitam.
Pasca menyelimuti Leila dengan jubahnya, Kyo Ga melihat para prajuritnya hampir sampai di tempat ini. Para prajurit suku api terkejut melihat ke-4 pria yang membeku, mereka memeriksa kondisi ke-4 pria itu dan memberitahu Kyo Ga bahwa mereka berempat masih hidup. Hokuto menjilati Leila yang gemetaran di tangan Kyo Ga, sehingga Kyo Ga segera naik ke atas Hokuto dan memberi instruksi pada para prajuritnya untuk membawa siapapun dari ke-4 pria itu yang masih hidup ke kastil Saika untuk diinterogasi nanti mengingat ini masih daerah wilayah suku api.
"bagaimana dengan anda, Jenderal?".
"aku harus segera mencari dokter dan membawa korban tenggelam yang ditenggelamkan oleh mereka ini secepat mungkin untuk ditangani dokter, sebaiknya kalian bergegas sebelum badai salju tiba. Tunggu saja aku di kastil Saika, aku akan kembali secepatnya", Kyo Ga menepuk leher Hokuto dan pergi membawa Leila.
Hokuto melesat secepat kilat, memang pilihan tepat untuk pergi mencari dokter terdekat sambil menunggangi Hokuto. Sayangnya Kyo Ga sadar, takkan sempat untuk membawa Leila ke desa terdekat jika ia harus sambil mencari dokter. Melihat badai salju mulai turun, ia harus mencari tempat berteduh secepatnya atau kondisi Leila akan makin parah. Di tengah kebingungannya, Kyo Ga mempererat dekapannya saat Hokuto berhenti di depan rumah kayu beratapkan jerami yang cukup tua. Sepasang suami istri yang sudah lanjut usia terlihat di depan rumah itu. Merasa tak punya pilihan, Kyo Ga meminta tolong pada suami istri itu untuk memberi tempat berteduh sementara.
Entah ini keberuntungan atau memang karena bimbingan Hokuto, rupanya nenek tua itu adalah dokter dan suaminya adalah pedagang, mereka berdua bukan pemilik rumah itu dan kebetulan mereka akan berteduh di rumah kayu itu juga mengingat badai salju mulai turun. Keduanya juga pengelana sehingga mereka tak keberatan jika Kyo Ga membawa Leila dan Hokuto masuk ke rumah kayu itu. Sepertinya rumah kayu itu sudah lama tak ditempati, untungnya rumah kayu itu cukup luas untuk menampung mereka dan kuda mereka. Agar mereka tak dicurigai, Kyo Ga mengakui bahwa mereka baru saja diserang bandit gunung dan saat mereka melawan para bandit itu, Leila terjatuh ke danau yang beku dari atas jurang akibat didorong para bandit itu yang berusaha kabur.
"kumohon tolonglah dia, dokter!?", Kyo Ga merogoh kantongnya, menyerahkan jepit rambut yang dikembalikan Leila padanya dulu; menurut Leila jepit rambut itu adalah milik Yona yang diberikan oleh Soo Won sebagai hadiah ulang tahun Yona "saat ini, aku hanya bisa membayar dengan ini".
Yuria, dokter wanita itu meminta suaminya, Yu Jin untuk meminjamkan baju ganti pada Kyo Ga melihat baju Kyo Ga agak basah. Sebelum ia menekankan bahwa ia akan tetap menolong Leila dengan atau tanpa bayaran melihat kondisi Leila yang sekarat, Yuria meminta Kyo Ga membaringkan Leila di tengah ruangan.
"Yu Jin, cepat rebus air panas untuk membasuh es di tubuhnya", instruksi Yuria pada Yu Jin sebelum ia duduk di samping Leila, menggulung kedua lengan kimononya yang ia ikat pada bagian ketiak ke bahu dengan kain "para laki-laki, balik badan dan keringkan pakaiannya yang basah, jangan mengintip sampai kuizinkan".
Menurut Yuria, Leila mendapat cidera yang cukup parah dan memerlukan penanganan dokter yang lebih lihai darinya untuk perawatan lebih lanjut, untungnya Yuria masih bisa memberikan pertolongan pertama dan untuk perawatannya, diperlukan dokter hebat seperti dokter di Saika.
Ubun-ubun dan belakang kepala Leila terbentur keras menyebabkan pendarahan, tulang kering di kedua kakinya mengalami dislokasi, beberapa tulang rusuk bagian belakang dan tulang rusuk bagian depan mengalami retak, punggung jemari tangan kirinya terkelupas, belum lagi kini ia mengalami hipotermia akibat terjatuh ke danau yang beku di tengah musim dingin ini.
"paling tidak, dia tak boleh bangun dari tempat tidur sampai musim dingin berakhir... tapi yang paling penting sekarang, kita harus segera menghangatkan tubuhnya", Yuria menoleh ke arah Kyo Ga "sebelumnya, gadis ini siapamu?".
Bisa saja Yuria yang menghangatkannya, tapi ia harus memantau keadaan Leila, belum lagi ia harus menyiapkan obat-obatan lainnya karena luka yang dialami Leila adalah luka dalam yang memerlukan penanganan ekstra.
Kyo Ga mengakui Leila sebagai istrinya. Setelah melepaskan semua pakaiannya dan menutupi dirinya dengan selimut, Kyo Ga berbaring di samping Leila, mendekap erat tubuh Leila yang gemetar kedinginan dan berbisik "takkan kubiarkan kau mati di depan mataku, Leila...".
Dengan suara yang parau dan napas tersendat-sendat, Leila melirik ke arah Kyo Ga "suami istri yang... menolongku?".
Setelah memberitahu bahwa kedua suami istri itu tengah pergi mencari kayu bakar dan tanaman obat selagi badai salju sedang reda, Kyo Ga menempelkan tangannya ke dahi Leila, memeriksa kembali suhu tubuh Leila yang kini kembali normal "kau ini benar-benar... kenapa kau mudah sekali terlibat masalah? Kau pikir sudah berapa lama kau tidak sadarkan diri dan harus berapa lama aku berbaring sambil memelukmu sampai kau kembali hangat?".
"kau tak perlu... melakukannya... jika terpaksa... atau karena... rasa tanggung... jawab..." sahut Leila sebelum menutupi mulutnya dan kembali batuk-batuk "bukankah aku... musuhmu? Tapi kenapa... kau menolongku... bahkan... mengakuiku...".
Kyo Ga kembali mengelus-elus punggung Leila dan memotong ucapan Leila "benar, kau ada di pihak musuh, tapi kutekankan sekarang, ini kulakukan bukan karena rasa tanggung jawab dan aku melakukannya bukan karena terpaksa, aku hanya tidak ingin melihatmu mati di depan mataku dan aku tak ingin kau mati...".
Saat Kyo Ga melihat Leila terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi ia batalkan dan lebih memilih memalingkan wajahnya yang berkerut keningnya ke samping, Kyo Ga menyadari ada yang tak beres dengan paru-parunya dari cara Leila bicara dan beberapa kali batuk.
Kyo Ga memegang dagu Leila dan menghadapkan wajahnya kembali menatapnya "napasmu mulai terasa sesak?".
Leila tak menjawab pertanyaan Kyo Ga, ia menepis tangan Kyo Ga dan berbaring menyamping sambil menutupi wajahnya "tadi... kau bilang... suami istri... itu masih... dengan kata lain... aku masih... harus pura... pura jadi... is...".
"stop, tak perlu memaksa bicara...", Kyo Ga menutupi mulut Leila dan menyodorkan pakaian Leila yang sudah kering ke sampingnya "pakailah, bisa-bisa nanti kau kedinginan lagi jika kau hanya berbalutkan selimut begitu".
Melihat wajah Leila memerah, Kyo Ga heran melihat Leila tak bergeming "kenapa? kau ingin aku membantumu?".
Leila menunjuk Kyo Ga dengan sebelah tangannya saat pertigaan muncul di kepalanya, napas yang pendek tak membuatnya berhenti untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan "jangan... mengatakan... sesuatu... yang... membuatku... jadi ingin... berteriak... padamu... aku tak bisa... bangun... jadi... jangan... kau kira... aku ingin kau... membantuku... pakai baju... belum puas... melihat... tubuhku... saat aku..." .
Wajah Kyo Ga merah padam sehingga ia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya "bukan hanya kau yang merasa malu, jadi jangan berkata seolah aku diuntungkan disini... kau kira aku pernah tidur dengan wanita dalam keadaan telanjang bulat begitu?".
Melihat reaksi Kyo Ga, Leila terkejut "ini pertama... kalinya kau... tidur dengan... wanita?".
"selain ibuku, tentu saja saat aku masih kecil...", Kyo Ga menurunkan tangannya dan menatap Leila intens "benar, kau wanita pertama yang tidur denganku, puas? Tak sepertimu yang sudah terbiasa dengan laki-laki, silahkan tertawa jika kau...".
"apa yang... membuatmu... mengira... aku sudah... pernah tidur... dengan... pria lain?" potong Leila.
Mendengar ucapan Leila, Kyo Ga terbelalak "jadi aku juga yang...".
Saat Leila mengangguk, benar, sama seperti Kyo Ga yang tidur dengan Leila, Kyo Ga juga pria pertama yang tidur dengannya, dalam artian sambil telanjang bulat, wajah Kyo Ga pun kembali memerah. Setelah keduanya terdiam dengan wajah memerah, akhirnya Kyo Ga meminta Leila untuk mengakhiri perdebatan soal ini yang segera disetujui oleh Leila dengan anggukan kepala.
"sekarang... apa sebaiknya kita tunggu saja dokter Yuria kembali agar dia yang membantumu berpakaian?" gumam Kyo Ga memecah suasana kikuk ini.
"mungkin... itu lebih baik...", Leila kembali menutupi mulutnya sebelum batuk kecil terselip dari mulutnya.
Untuk sesaat, Leila berpikir ia tak perlu terjebak di tempat ini bersama Kyo Ga jika saja ia tak ceroboh menggunakan kekuatannya. Tentu saja Leila berterima kasih pada Kyo Ga yang telah menyelamatkannya, tapi ia masih tak habis pikir, kenapa ia bisa terjatuh dari jurang dimana ia berakhir tenggelam di danau es itu? belum lagi, menurut Kyo Ga, ada dua orang pria berpakaian nomaden bersama dua orang yang diduga sebagai sisa anggota kuil Sakura merah. Kenapa dua kubu yang berada di dua wilayah berbeda; dimana nomaden biasa berada di bagian Utara dan sisa anggota kuil Sakura merah biasa terdapat di bagian Selatan, yang diketahui Leila sebagai pihak yang tak berkaitan, malah muncul di satu tempat. Ini tak mungkin bisa disebut kebetulan. Andai ia ingat apa yang terjadi...
Tunggu.
Kyo Ga menoleh, mengerutkan kening dan mendekat saat melihat pupil dan napas Leila mulai tak beraturan "Leila?".
Leila tak menjawabnya, ia mulai ingat apa yang terjadi.
Benar, setelah Leila menggunakan jurus jurus terlarang Murasaki, Kenshin no Yasha Shirayuki (jantung pedang iblis salju) membuat raganya menyatu dengan elemen salju dan es membuat ia bisa mengendalikan salju dan es yang ada di sekitarnya. Ia sempat bersatu dengan salju di sekelilingnya, menjadi salju yang terbang ditiup angin hingga akhirnya ia mendapatkan kembali kesadarannya, tepat setelah roh ayahnya pergi meninggalkannya dan roh Setsuko mendorongnya kembali kemari, teringat sosok kakak, ibu, sahabat dan orang-orang yang ia sayangi di dunia ini, ia kembali membuka matanya dan raganya sebagai manusia kembali di tempat yang salah, membuatnya jatuh ke bawah jurang.
Leila terjun bebas dari ketinggian jurang itu dan mendarat di atas aliran sungai yang membeku, kepalanya terbentur es yang keras dan tenggelam, hanyut oleh arus sungai hingga akhirnya ia sampai di danau itu. Tulang rusuk bagian belakang dan kepala bagian belakangnya membentur salah satu bebatuan yang membentuk jembatan penghubung di danau sehingga bagian belakang kepalanya berdarah dan bisa ia rasakan bunyi retak dari tulang rusuk bagian belakangnya saat air danau yang dingin menggantikan oksigen di paru-parunya yang berusaha ia simpan sejak tadi. Leila menolak untuk menyerah, ia berbalik menggunakan batu itu sebagai pilar agar ia tak terseret arus dan memecahkan es yang ada di pinggir sungai itu.
Setelah berhasil memecahkan es itu dan membuat lubang yang cukup baginya, Leila memanjat keluar, merayap menggunakan kedua tangannya, ia berhasil mengeluarkan sebagian tubuhnya namun saat tubuhnya dari bagian dada hingga kaki masih terendam dalam danau beku itu, ia didorong oleh seorang pria berpakaian nomaden kembali ke dalam danau. Pasca salah satu pria berpakaian nomaden merebut kalungnya, rekannya menenggelamkan Leila kembali ke dasar danau dan Leila tak punya tenaga untuk melawan saat ini.
Lagi-lagi ia dijatuhkan ke dasar danau yang gelap, dingin dan sepi.
Saat Yuria dan Yu Jin kembali, mereka berdua melihat Kyo Ga duduk di samping Leila sambil memanggil nama Leila kemudian Leila mengalami serangan panik. Leila memegangi lehernya dengan kedua tangannya karena sesak nafas dan kejang-kejang, pupil matanya mengecil dan ia bahkan tak sadar ia mencekik lehernya sendiri yang membuat ia makin kesulitan bernapas. Saat Kyo Ga menahan kedua tangan Leila atas instruksi Yuria, entah kenapa ia bisa melihat apa yang terjadi pada Leila sebelum ia datang menyelematkannya sejak Leila melawan pasukan Mikazuki. Sambil berusaha menahan tenaganya agar ia tak memperparah luka di tubuh Leila, Kyo Ga memeluknya erat.
"Leila, tenanglah?! Takkan ada yang menyakitimu disini?! Aku ada disini?! Aku pasti akan melindungimu, tak peduli siapapun yang datang?!", Kyo Ga mengerutkan kening dan mengadu dahi sambil memegang wajah Leila saat ia melihat setengah kesadaran Leila mulai pulih, pupil mata Leila mulai kembali normal, di tengah napasnya yang tersengal, Kyo Ga melihat air mata menetes perlahan dari sepasang mata biru Leila, membuatnya mengecup pelupuk mata Leila sebelum ia kembali mengadu dahi sambil memegang wajah Leila "maafkan aku karena aku tak ada disana saat orang-orang brengsek itu mencelakaimu... tapi aku takkan membiarkan apapun terjadi padamu selama kau masih ada di dekatku... karena itu, tak ada yang perlu kau takutkan lagi...".
Setelah mendengar ucapan dan merasakan kehangatan tubuh Kyo Ga yang terasa menenangkan baginya, Leila memeluknya sambil menangis lega. Selama beberapa saat, Kyo Ga menepuk-nepuk kepala dan punggungnya sebelum Leila kembali tertidur. Saat tubuh Leila terkulai lemas di dekapannya, Kyo Ga segera menutupi tubuh polosnya dengan selimut sebelum ia meminta Yuria untuk memeriksa kondisi Leila dan kalau bisa, membantunya berpakaian.
Melihat reaksi Kyo Ga yang merasa malu, Yuria bersedia meski ia tertawa kecil melihat reaksi Kyo Ga yang masih terbilang agak polos "kalian berdua pasti pengantin baru, ya? masih masa malu-malunya, tuh... juga masa paling mesra-mesranya".
Wajah Kyo Ga tambah merah mendengar ucapan Yuria.
