Chapter 47 – Place to Go Home

Tempat untuk pulang bukan hanya berupa tempat

Karena keberadaan seseorang bisa menjadi tempat untuk pulang


.

Winter Arc

.

Setelah berterima kasih pada Yuria dan Yu Jin, saat badai salju reda, mereka berpisah di tengah jalan.

Melihat Hokuto yang berlari terburu-buru dan terlihat gelisah, Kyo Ga menepuk lehernya pelan "tenanglah, Hokuto... majikanmu dalam bahaya, tapi takkan kubiarkan dia meninggalkan kita... percayalah padaku, kita pasti bisa menyelamatkannya".

Melihat Leila yang demam tinggi, Kyo Ga mendekapnya erat "bertahanlah, Leila".

Kyo Ga bergegas memacu Hokuto dan membawa Leila ke salah satu villa keluarganya, terletak di sebuah lembah dekat Saika. Disana sudah tersedia para pelayan, prajurit, dayang dan dokter yang ia perlukan. Setelah menyerahkan Leila pada tabib dan menjelaskan apa yang terjadi pada Leila, Kyo Ga meminta dokter itu untuk menangani Leila yang ia akui sebagai kerabat jauh ibunya. Kyo Ga menyuruh salah satu dari prajuritnya membawa surat yang ia tulis kepada ibunya ke kastil Saika sekaligus mengawal ibunya jika nanti ibunya ingin segera datang kemari. Di suratnya, Kyo Ga menjelaskan semua yang terjadi dan meminta An Ri merahasiakan hal ini untuk sementara, ia juga meminta An Ri menganggap Leila sebagai 'Iris', kerabat jauh mereka. Sesuai perkiraan Kyo Ga, An Ri segera datang secepat mungkin.

Kyo Ga segera bicara empat mata dengan An Ri ketika An Ri tiba "ibu mengerti, kan? nomaden yang seharusnya rekan Leila malah berbalik mencelakainya dan aku tak bisa membiarkan Leila dibawa oleh mereka dalam keadaan seperti ini, tapi aku tak bisa selalu ada di tempat dan aku tak tahu lagi siapa yang bisa kupercaya untuk dimintai tolong saat ini".

An Ri menganggukkan kepala "ibu mengerti, biar ibu yang mengurusnya saat kau tak bisa ada disini. Sesuai ucapanmu, selama Leila ada disini, dia akan kita perlakukan sebagai kerabat jauh kita, 'Iris'... sekarang, mana dia?".

"sedang tidur, demamnya masih tinggi sekali", Kyo Ga mengantar An Ri menuju kamar Leila dan menoleh ke belakang "omong-omong, apa ibu memberitahu soal ini pada Tae Jun?".

An Ri menutup mulutnya dengan telapak tangannya sebelum mengalihkan pandangan "ah...".

Hal ini bukan sengaja dirahasiakan dari Kan Tae Jun, hanya saja saat An Ri mendapat kabar dari Kyo Ga, Tae Jun sedang tak ada di tempat dan An Ri yang panik bergegas menemui Kyo Ga, hanya meninggalkan pesan di secarik kertas.

An Ri menyembunyikan setengah wajahnya di balik kipas dan tertawa kecil "tenang saja, tak perlu khawatir pada adikmu, dia pasti mengerti pesan yang kutinggalkan".

Kyo Ga memicingkan mata, ia tahu betul bahwa itu gelagat ibunya saat sedang mengusili anak-anaknya "sebenarnya pesan macam apa yang ibu tinggalkan?".

"ah, pesan biasa saja, kok... biasa..." sahut An Ri terkekeh.

Kyo Ga menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menutup mata seperti sedang berdoa "maaf, adikku... kakak tak bisa membantumu kali ini, jadi tabahkan hatimu...".


Sementara itu, di kastil Saika...

"aku pulang, bu~ lho?", Tae Jun membuka kamar An Ri dan menemukan kamar An Ri kosong, yang berarti An Ri sedang tak ada di tempat, ia menemukan secarik kertas di meja dan terkejut saat membaca isinya "EH?!".

Tertulis dengan jelas di secarik kertas itu sebuah pesan singkat yang bertuliskan 'ibu pergi dulu untuk sementara waktu, jangan dicari, bahaya. By : An Ri'.

Saat Tae Jun bertanya kepada salah satu prajurit, rombongan Kyo Ga yang pergi ke kastil Saika sudah kembali tapi Kyo Ga pergi lagi ke suatu tempat dan ia masih belum kembali hingga kini sehingga Tae Jun merasa bingung. Pertama, Kyouka muncul tiba-tiba bersama Mizuki lalu ia, Amitha, Heuk-Chi dan bawahannya diteleport kembali ke kastil Saika secara paksa. Sekarang kakak dan ibunya pergi di saat bersamaan, apa mereka bekerja sama meninggalkannya saat ini? apa yang sebenarnya terjadi?

Merasa ditinggalkan, akhirnya Tae Jun bermain dengan kucing yang ada di kamar ibunya "kenapa tiba-tiba rasanya jadi sedih, ya?".

"itu namanya kesepian, tuan Tae Jun yang menyedihkan" ujar Heuk-Chi dari belakang.

"diam kau, Heuk-Chi?! kau ini ada di pihak siapa, sih?!" pekik Tae Jun.


Badai salju sudah reda, sehingga Shina bersiap pergi bersama Aruma dan Inukai. Kyouka juga sudah siap mengantar mereka ke wilayah suku api, tapi saat mereka ingin berangkat, Zeno yang juga sudah menyiapkan tasnya meminta mereka membawanya.

"Zeno, tolong lindungi nona Leila...".

Zeno menunjukkan ekspresi dewasa yang kadang ia perlihatkan, teringat bagaimana ekspresi Kayano yang meminta tolong pada Zeno sambil menangis "Zeno sudah berjanji pada Kayano untuk melindungi nona".

Shina menoleh ke arah Aruma dan Inukai yang menganggukkan kepala mereka berdua sebelum ia menganggukkan kepala. Kyouka menghela napas, berdecak pinggang sebelum meminta ke-4 laki-laki ini berpegangan tangan.


Mungkin akibat shock yang diterima tubuhnya, Leila mengalami demam tinggi setelahnya dan tertidur. Meski ia membuka matanya, sangat sulit baginya untuk menjaga kesadarannya serta menyadari kondisi sekelilingnya dan tetap bangun karena gegar otak yang ia alami sehingga ia terlihat bingung melihat sekelilingnya akibat demam tinggi yang ia alami sebelum ia kembali tertidur, pingsan tepatnya. Saat tertidur, ia sering terbangun akibat mimpi buruk dalam keadaan panik seperti yang ia alami di rumah kayu itu. Ia baru bisa tenang setelah kembali tak sadarkan diri atau kembali tertidur di pelukan Kyo Ga atau An Ri. Rambutnya yang semula hitam legam bahkan berubah menjadi putih bersih seperti salju.

Malam itu, Leila terbangun dari tidurnya di tengah kamar yang redup, hanya ada lentera yang menerangi kamar ini. Kepalanya masih terasa pusing tapi tak separah sebelumnya, ia juga tidak merasa mual dan bisa bernapas lebih lega.

Di tengah pandangannya yang kabur, ia melihat sesosok wanita yang duduk membelakanginya dan ia memanggilnya sambil menarik ujung kimononya "...ibu?".

Terkejut, An Ri menoleh ke belakang dan tersenyum lega "ah, kau sudah sadar?".

"bagaimana bisa kau salah mengenali ibuku dengan ibumu?" ujar Kyo Ga yang bertopang dagu duduk di sebelah Leila.

"KYA?! Maaf?!", Leila melepaskan tangannya namun karena ia berteriak tiba-tiba, ia kembali batuk-batuk yang membuatnya kembali kesulitan bernafas.

"Kyo~ kenapa kau buat dia terkejut, hah? sampai kesulitan bernapas begitu" gerutu An Ri yang mencubit pipi Kyo Ga tanpa ampun.

"yang anakmu aku atau dia?!" protes Kyo Ga pada perlakuan ibunya yang beda jauh, mengelus pipinya yang terasa sakit.

Setelah An Ri menjelaskan pada Leila bahwa mereka menampungnya di villa milik keluarga mereka dengan mengatakan identitas Leila pada semua orang bahwa Leila adalah 'Iris', kerabat jauh An Ri, An Ri memberitahu bahwa mereka terpaksa merahasiakan identitas Leila, mereka tak ingin jika Leila kembali celaka seperti saat kedua pria nomaden itu mencelakainya jika ada yang tahu bahwa Leila dirawat disini.

Leila terkejut begitu mengetahui bahwa ini sudah lewat seminggu sejak Leila dibawa kemari, 10 hari sejak ia sadar di rumah kayu itu, dua minggu sejak ia jatuh ke sungai itu dan terpisah dari kakak dan sahabatnya. Kakak dan sahabatnya, keluarganya pasti cemas setengah mati jika tak ada kabar darinya. Ia harus segera kembali menemui mereka, tapi karena bangun tiba-tiba, Leila merasa pusing, rasa sakit menusuk tulang rusuk (depan dan belakang), tulang kering dan tulang punggungnya sehingga ia kembali terjatuh ke tempat tidur.

Untungnya Kyo Ga berhasil menangkap tubuhnya sebelum tubuh Leila membentur lantai yang mungkin akan memperparah lukanya "kau ini... sudah kubilang, jangan bangun dulu, kan?".

"kau bilang itu terakhir kali aku bangun, kan?" gerutu Leila yang matanya terlihat berputar, ia bahkan tak bisa berteriak kesakitan akibat rasa sakit yang menyerangnya tadi saking sakitnya, tapi dari wajahnya yang langsung pucat pasi, An Ri dan Kyo Ga tahu bahwa Leila pasti merasa kesakitan.

Kyo Ga dan An Ri bertukar pandangan setelah mendengar ucapan Leila barusan, berarti Leila tak ingat apa yang terjadi saat ia demam tinggi meski itu tak mengherankan.

Kyo Ga meletakkan Leila kembali ke ranjang dan mengelus kepalanya "tidurlah, demammu masih belum turun".

"tapi kakakku...".

"akan kuminta Tae Jun untuk menghubungi kakakmu, sekarang tidur dan pulihkan kondisimu".

Saat Leila tertidur, An Ri tersenyum lebar "sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatmu bisa bersikap lembut pada wanita~ selain aku, ya".

Mendengar ucapan An Ri, Kyo Ga memalingkan wajahnya yang memerah "apa ibu mau bilang kalau aku jadi lembek sekarang?".

"tidak, justru ini bagus untukmu... sebab dengan begini, kau bisa mengerti apa yang dimaksud dengan menyayangi dan disayangi dan ibu merasa...", An Ri meletakkan kompres ke dahi Leila "dengan Leila berada di sampingmu, kau akan bisa mendapatkan sesuatu yang kurang darimu selama ini...".

"apa maksud ibu dengan sesuatu yang kurang dariku selama ini?" tanya Kyo Ga bersungut.

An Ri hanya tersenyum "yang kurang darimu adalah belas kasihan... ibu percaya, kelembutan Leila akan mencairkan es yang ada di dalam hatimu".


Saat ia bangun ketika Kyo Ga kembali ke Saika dan Leila merasa kondisinya sudah jauh lebih baik, Leila bertanya pada An Ri "nyonya, kenapa anda dan jenderal Kyo Ga tetap bersikap baik pada saya? Setelah hal buruk yang saya lakukan pada keluarga anda meski kalian sudah begitu baik pada saya...".

"tidak, Tae Jun sudah cerita semuanya pada kami, Leila... kau tak perlu berpura-pura bersikap jahat di hadapanku lagi", An Ri menggelengkan kepala dan tersenyum mendengar ucapan Leila sebelum memegang kedua pipi Leila dan mengadu dahi "mataku tak salah lihat, kau memang benar-benar gadis yang baik... hanya saja, kau harus menanggung takdir yang begitu kejam... aku bisa melihatnya, saat kau menghunuskan pedang ke arah Tae Jun dan Kyo Ga, yang kulihat dan membuatku shock bukan karena aku merasa kau mengkhianatiku tapi karena aku melihat dengan jelas, kesedihan yang besar membuat gadis sebaik dirimu terpaksa mengangkat senjata dan melakukan itu semua... Kyo Ga sudah cerita sedikit yang ia ketahui tentang masa lalumu padaku. Kutegaskan sekarang, ini bukan karena kasihan, tapi karena aku menginginkanmu...".

Leila terkejut mendengar ucapan An Ri "maksud anda?".

An Ri menceritakan tentang adik perempuan Kyo Ga dan Tae Jun yang tak sempat lahir, lalu ia mengelus kepala Leila sambil menatapnya lembut "jika saja anak itu lahir dengan selamat... ia pasti akan seumuran denganmu... mungkin, sejak pertama kali kita bertemu dan setelah hari-hari yang kita lalui bersama, aku menginginkanmu dan aku jadi merasa tak bisa... untuk tidak menyayangimu... seolah kau putri kandungku... aku menginginkan seorang anak perempuan sepertimu...".

Kemudian, An Ri memegang kedua pipi Leila sambil tersenyum dengan penuh kelembutan di tengah air matanya "boleh aku memelukmu?".

Air mata Leila ikut menetes saat ia melihat An Ri tersenyum lebar dengan penuh kelembutan dan kasih sayang seorang ibu sambil berkata bahwa ia bisa menganggap An Ri sebagai ibunya sendiri dan menganggap rumah mereka sebagai rumahnya sendiri, ia lebih senang jika Leila bisa menjadi putrinya sehingga Leila balas memeluknya sambil menangis dan memanggilnya ibu.


Malam itu, Kyo Ga baru sampai di villa itu setelah kembali dari Saika untuk menjenguk An Ri dan Leila namun ia menemukan Leila yang berusaha bangun dari tempat tidurnya sehingga ia berniat kembali menaruh paksa Leila ke tempat tidurnya dengan membopongnya.

"ingat apa kataku? Jangan memaksakan diri untuk bangun?!".

"tapi aku bosan di tempat tidur terus?!" protes Leila yang merasa dirantai di dalam kamar, ia sudah berada di atas ranjang selama lebih dari setengah bulan.

Kyo Ga menghela napas berat, ia menyelimuti tubuh Leila dengan selimut sebelum ia kembali membopong Leila keluar "kalau begitu, kau bisa minta padaku untuk membawamu ke tempat lain untuk mengusir kebosananmu, kan?".

Leila tak tahu harus berkata apa sehingga ia lebih memilih diam saja saat berada di gendongan Kyo Ga, ia masih belum tahu apa yang membuat Kyo Ga menolongnya kali ini meski ia adalah musuhnya. Benar, Kyo Ga sudah mengatakan dengan jelas bahwa Kyo Ga menolongnya bukan karena rasa tanggung jawab, bukan karena rasa kasihan dan Kyo Ga tak ingin melihatnya mati di depan matanya, tapi ia masih belum mengerti, sebenarnya Kyo Ga menganggapnya sebagai apa?

Saat Kyo Ga meletakkannya di dekat jendela yang ada di kamar paling atas bangunan itu, Leila bisa melihat pemandangan dari atas sini dimana ibukota wilayah suku Api, Saika yang terlihat di kejauhan begitu terang benderang di malam hari. Jika ia melihat ke bawah, terlihat kebun di halaman villa yang bertebaran dengan bunga kamelia yang bunga berserakan di atas salju.

"wah, indahnya!?".

Melihat reaksi Leila yang bersemangat seperti anak kecil, Kyo Ga tertawa namun ia menutupi mulutnya untuk menahan tawa ketika Leila mendelik padanya. Leila diam sejenak sebelum ia menghela napas dan tersenyum dengan ekspresi seolah berkata 'apa boleh buat'. Menyadari udara dingin malam ini mungkin agak menusuk dilihat dari tubuh Leila yang bergetar, Kyo Ga duduk di belakang Leila, meletakkan Leila di pangkuannya sambil memeluknya dari belakang. Leila terkejut karena Kyo Ga tiba-tiba memeluknya dari belakang, namun bukan berarti ia tak suka karena kedua lengan yang kokoh dan kekar meski agak kasar itu mendekapnya dengan lembut, membuatnya merasa hangat dan aman. Ia tak seharusnya terlena seperti ini, sehingga ia mempertegas semuanya malam ini.

Leila mendongak dan meraih pipi Kyo Ga "jenderal...".

Dari sorot mata Leila, Kyo Ga tahu ada yang ingin ia bicarakan sehingga Kyo Ga mengecup punggung tangan Leila "aku tak akan mendengarkan apa yang ingin kau padaku jika kau masih memanggilku dengan panggilan formal begitu... bukankah sudah kuberitahu, kau bisa panggil aku dengan sebutan apa saat kita hanya berdua?".

"Kyo, aku serius?!" protes Leila dengan wajah memerah karena serangan mendadak itu.

Kyo Ga terkekeh dan tersenyum simpul "baik, bicaralah".

"kenapa kau menolongku? Maksudku... memang, kau sudah mengatakan alasanmu tapi tetap saja... dilihat dari posisi kita saat ini, kita berdua ini musuh, kan? lantas kenapa kau masih saja menolongku bahkan melindungiku? Dengan kau membawa dan merawatku di fasilitas pribadi milik keluargamu, bukankah tindakanmu ini bisa dianggap sebagai tindakan mencurigakan jika sampai terdengar oleh pihak istana, bahwa kau menolongku, adik dari musuh rajamu?".

"apa tak ada yang pernah bilang padamu bahwa kau ini lemot?", Kyo Ga terkekeh, menggaruk keningnya yang berkedut sebelum mendorong dan membaringkan Leila ke lantai dan mengelus dagu Leila sambil menatapnya dari atas. Sorot mata coklat yang biasanya terlihat begitu tajam dan dingin seperti pisau es kini terlihat begitu tenang dan dipenuhi kesungguhan, yang bertemu pandang dengan sepasang mata biru Leila yang terlihat mengkilap di bawah sinar bulan "aku tak peduli apapun kata orang di sekelilingku, kalaupun hal ini sampai diketahui pihak istana, aku hanya akan balik bertanya pada mereka... apa ada yang salah jika aku menyelamatkan dan melindungi wanita yang kucintai ketika wanita itu meregang nyawa di hadapanku?".

Leila tersentak, menutupi mulutnya dengan kedua tangannya "Kyo...".

"ah, kurasa aku sudah gila... kau tak bisa bayangkan betapa takutnya aku ketika aku merasakan tubuhmu yang begitu dingin setelah aku menarikmu keluar dari danau es itu, kan? aku tak bisa bertindak sesuai logikaku lagi setelah itu, karena yang kutahu hanyalah bagaimana caranya aku harus bertindak agar aku tak kehilanganmu...", Kyo Ga menepuk dahinya sebelum melirik ke arah Leila dengan wajah tersipu, menyandarkan tubuh Leila ke bahunya sambil menggenggam kedua tangan Leila dan memedang belakang kepala Leila, mengecup kening Leila "aku tak ingin melihatmu terlibat dalam bahaya seperti itu lagi, sebagaimana aku benar-benar tak ingin kehilanganmu... aku mencintaimu, Leila... tinggallah denganku, Leila... tetaplah di sampingku dan tinggalkan medan perang yang hanya akan membahayakan nyawamu... aku ingin kau yang menjadi pasangan hidupku... menikahlah denganku, Leila...".

"Kyo, bagiku rumah adalah tempat dimana ada orang-orang yang menunggu kepulangan kita, tempat dimana ada keluarga kita yang menunggu kepulangan kita dan menyambut kedatangan kita dengan hangat dan dengan tangan terbuka. Itulah yang bisa kusebut rumah dan disini bukan rumahku", Leila mengepalkan tangannya sebelum mendongak, menatap Kyo Ga dengan mata berkaca-kaca "aku ingin pulang ke rumahku karena aku merindukan keluargaku... biarkan aku pulang... maafkan aku, aku tak bisa bersamamu saat ini sebab itu sama saja aku mengkhianati keluargaku".

"aku tak ingin jika terjadi sesuatu padanya saat ia terlibat dalam bahaya ketika aku tak bisa berada di sampingnya, itulah sebabnya aku tak ingin dia jauh dariku dan menyembunyikannya dari siapapun yang mungkin akan membahayakannya... tapi jauh di lubuk hatiku, sebenarnya aku hanya ingin memonopolinya untukku sendiri... meski aku tahu bahwa hatimu bukan milikku tapi aku tetap menginginkanmu, Leila... sepantasnya aku mengerti, egois namanya jika aku mengabaikan perasaannya...", Kyo Ga mengerutkan kening saat menggenggam kedua bahu Leila, sebelum ia mendekapkan wajah Leila ke dadanya dengan tangan gemetar "baiklah, aku mengerti... aku akan mengantarmu pada keluargamu dan menjelaskan apa yang terjadi selama kau menghilang".

"tapi jangan katakan hubungan kita, Kyo... aku tak ingin jika ada keluargaku yang berusaha membunuhmu jika ia tahu apa yang terjadi di antara kita, terutama kakakkku... bisa-bisa dia akan langsung membunuhmu".

Kyo Ga terkekeh, ia merasa memang itu yang akan dilakukan Hak jika ia tahu selama ini Leila sengaja ia sembunyikan darinya "baik, aku bisa beranggapan tak terjadi apapun di antara kita, tapi aku tak bisa melakukannya lagi jika kau memintaku menganggap bahwa perasaan ini tak pernah ada sama sekali, kau mengerti? sebab jika sekali saja kau menyadari perasaanmu, sudah terlambat untuk menghentikannya".

"benar, aku pun mencintaimu... entah sejak kapan, aku telah jatuh hati padamu... aku mengerti bahwa itu tak bisa menjadi kata-kataku saat ini, tapi...", Leila memeluknya dan menangis, ia tahu kesempatan seperti ini takkan terjadi lagi, meskipun mungkin di masa depan mereka tidak akan bisa bersama, setidaknya ia takkan menyesal di masa depan karena ia telah memilih untuk jujur pada perasaannya sendiri.

Menyadari Leila menangis tanpa ia ketahui alasannya, Kyo Ga mengelus wajahnya "Leila?".

"Kyo, aku tahu ini permintaan yang egois... bahkan bisa dibilang ceroboh... meski hanya sekali, aku ingin merasakan bagaimana rasanya bersatu dengan orang yang kucintai... sayangnya, aku memang tak sempat menjalaninya saat bersama mendiang Takahiro... tapi tampaknya aku bisa melakukannya saat bersamamu...", Leila tersenyum di tengah air matanya saat memegang pipi Kyo Ga "kau bisa memilikiku malam ini, Kyo".

Kyo Ga mengerti apa maksudnya, tapi ia tak mengerti alasan Leila memintanya "tapi kenapa... Leila, aku tak seharusnya...".

Ucapan Kyo Ga terpotong karena Leila menciumnya, Kyo Ga terbelalak dibuatnya.

"aku mencintaimu, Kyo...", Leila tersenyum, di matanya terpancar cinta dan ketulusan yang berpadu dengan kepasrahan dan kesedihan akan perpisahan yang akan datang cepat atau lambat "tetaplah bersamaku dan peluk aku dengan erat, hanya untuk malam ini, sebab besok pagi akan menjadi fajar perpisahan bagi kita...".

Kyo Ga memegang kedua pipi Leila "...apa kau yakin dengan hal ini?".

Leila mengangguk sebelum menutup kedua matanya "aku tak keberatan... lakukan".

Kyo Ga mendongak dan menghela napas "ah... kurasa aku dan kau sudah sama-sama gila".

Meski pasti ada anggota keluarga mereka yang setuju dengan hubungan mereka berdua, tetap tak semudah itu mengingat posisi keduanya saat ini. Keduanya yang memiliki logika dan otak yang cerdas mengerti hal itu dengan baik, tapi pada akhirnya perasaan tak bisa disalahkan. Kyo Ga adalah Jenderal suku Api Kerajaan Kouka saat ini, 'kepala' suku Api saat ini yang berusaha memperbaiki kebobrokan suku Api serta membangun kembali kepercayaan dari suku lain dan pihak kerajaan setelah apa yang terjadi selama masa pemerintahan suku Api di tangan ayahnya. Ini merupakan masa-masa yang sulit bagi Kyo Ga dan ia ingin Leila bisa mendampinginya, ia menginginkan Leila berada di sampingnya, bukan hanya pada saat sulitnya tapi juga pada saat suksesnya sebagai pendamping hidupnya karena ia terlanjur mencintainya. Tapi ia tahu betul dan ia mengerti, jika memaksakan kehendak pada pasangannya, itu bukan cinta tapi keegoisan semata sehingga setelah ia jujur tentang perasaannya pada Leila, ia hanya akan menerima jika Leila menerimanya atau menolak dan memilih berpisah.

Leila pun demikian, sebenarnya ia ingin mendampingi Kyo Ga terlebih setelah apa yang An Ri katakan dan setelah apa yang diakui Kyo Ga padanya, ia tidak ingin meninggalkannya agar ia bisa mendukungnya dan membantunya, bukan hanya di saat sulitnya tapi juga di saat suksesnya selama sisa hidupnya hingga kematian memisahkan mereka tapi ia tahu dan ia mengerti betul bahwa ia tak bisa melakukannya, tidak selama Kyo Ga berada di pihak Soo Won sementara ia berada di pihak Yona. Mereka adalah musuh dan terlepas dari posisinya sebagai putri kerajaan Gujarat yang menghilang, ia tak ingin hubungannya dengan Kyo Ga membuat rahasia dari garis keturunannya terkuak yang mungkin akan menyebabkan Kyo Ga dan keluarga mereka, bahkan kerajaan Kouka terlibat masalah dengan kerajaan Gujarat terlebih jika mereka tahu mengenai kematian Yasmine di kerajaan Kouka tahun lalu.

Di atas segalanya, ada mitos (menurut Maya) atau lebih tepatnya kutukan (menurut Yasmine dan Leila) dimana para wanita yang terlahir sebagai 'bunga' dengan tanda lahir yang berbentuk bunga pada salah satu bagian tubuh mereka akan menanggung sebuah kutukan dimana pria yang mereka cintai akan mati mendahului mereka atau cinta pertama mereka takkan terwujud. Meskipun Maya mengatakan berkali-kali bahwa itu hanya mitos, tidak bagi Leila dan Yasmine yang harus kehilangan cinta pertama mereka berdua karena mengalami perpisahan yang pahit akibat kematian. Leila tidak ingin jika kelak Kyo Ga juga mengalami hal yang sama dengan mendiang Takahiro, itu sebabnya ia memilih untuk berpisah.

Ketika fajar menyingsing, Kyo Ga membangunkan Leila "fajar sudah tiba...".

Leila mengucek matanya sebelum mengulurkan kedua tangannya ke atas "bawa aku keluar".


Sementara itu, setelah berhari-hari mencari lokasi Leila dari desa ke desa, mereka tiba di desa terakhir yang belum mereka periksa dan hasilnya pun nihil.

Melihat Inukai menggelengkan kepala, Aruma berjongkok sambil menundukkan kepala setelah menghela napas panjang "bukan disini juga?".

"kau yakin, ini lokasi terakhir yang mungkin ditempati Leila?" tanya Shina pada Aruma dan Inukai.

"atau mungkin masih ada beberapa lokasi yang tertinggal?" gumam Zeno.

"bocah, hidungmu tak tersumbat, kan?" tanya Aruma.

"memangnya aku anjing?!" pekik Inukai yang tersentak dan berlari ke suatu arah.

Zeno, Shina dan Aruma berlari mengikuti Inukai dan tertegun saat Inukai berlari menghampiri Kyo Ga yang turun dari kudanya sambil membopong Leila yang tak sadarkan diri. Inukai yang merasa sangat lega melihat Leila selamat, memeluknya erat sambil menangis setelah Kyo Ga berlutut di depannya tanpa menurunkan Leila dari dekapannya.

"jadi kau yang membawanya selama ini?" geram Shina.

"Seiryuu", Zeno meminta Shina mundur sambil menahannya dan menganggukkan kepala pada Aruma.

Aruma mengangguk, menghampiri Kyo Ga "bisa jelaskan apa yang terjadi?".

Sesuai permintaan Leila, Kyo Ga memberitahu apa yang terjadi pada Leila "jika kau memang ketua mereka dan jika Leila memang bagian dari keluarga kalian, kenapa nomaden menyerang Leila bahkan berusaha membunuhnya? apa jadinya jika aku tak kebetulan lewat situ?".

Aruma terkekeh "kebetulan lewat, hah?".

Setelah Aruma menjelaskan perpecahan yang ada di suku Nomaden sendiri, wajar jika mereka dari pihak oposisi mengincar kalung Leila dan membahayakan nyawa Leila karena Leila yang pada awalnya mengusulkan sistem kekeluargaan yang dijalankan suku Nomaden saat ini.

"terima kasih atas kebaikan hatimu... sekarang, bisa kembalikan Leila pada kami? keluarganya menunggunya dengan cemas di rumah" pinta Shina.

Sebelum Kyo Ga menyerahkan Leila ke tangan Shina, Aruma bertanya "tapi kenapa kau malah menolong Leila? Apa untungnya itu bagimu?".

"meski dia musuhku, aku tak serendah itu sampai membiarkan ada wanita yang mati terbunuh di depan mataku... kulakukan ini bukan hanya karena balas budi atas pertolongannya pada kita berdua di tengah longsor itu, bukan karena tanggung jawab atau kasihan...", Kyo Ga menepis poni Leila dari keningnya, pandangan matanya sama sekali tak lepas dari Leila dan setelah ia mengecup kening Leila, Kyo Ga segera memunggungi mereka semua untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah "tapi karena dialah tempat hatiku berpulang...".

"oi, balik sini?!" ujar Aruma mengacungkan tombaknya "bisa-bisanya kau menyerangnya saat ia tak sadar begitu?!".

"kondisinya belum pulih dan dia memaksaku untuk mencari keluarganya karena ia bersikeras untuk pulang ke rumah dimana keluarganya menunggu, sebaiknya kalian cepat atau demamnya akan lebih parah" ujar Kyo Ga melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang sebelum ia naik ke atas kudanya dan pergi meninggaklan tempat itu.

"paman Zeno, kenapa mataku ditutupi dari tadi?" tanya Inukai pada Zeno yang menutupi kedua matanya sejak sebelum Kyo Ga mengecup kening Leila.

"Inukai, berapa usiamu?" tanya Zeno.

"eh? 15 tahun, sih".

"karena itu, jawaban pertanyaanmu, karena kau masih di bawah umur..." jawab Zeno.


Saat Leila terbangun, ia terkejut melihat sorot mata khawatir dari keluarga, sahabat dan teman-temannya yang menatapnya dari atas meski ekspresinya yang poker face tak berubah.

Setelah mengedipkan mata berkali-kali, ia balik menatap mereka kebingungan "...kakak? ini dimana? WOAH!?".

Leila terkejut karena Hak menariknya dan memeluknya erat hingga ia kesulitan bernapas. Yona ikut memeluk Leila dari belakang sedangkan teman-teman mereka memeluk Leila bergantian, menyambut kembali kepulangan Leila.

"dasar bodoh?! kau hilang selama satu bulan?! Terakhir kali kami melihatmu adalah saat kau tertusuk dan menghilang bagai asap dari hadapan kami?! kami bahkan sempat mengira kalau kau sudah pergi menyusul Yasmine, tahu?! kau pikir bagaimana perasaanku jika kau bahkan ikut mengorbankan dirimu dan mati menyusul Yasmine secepat itu?! jangan lakukan itu lagi!?" bentak Hak sambil memegangi kedua bahu Leila dan mengguncang tubuh saudara kembarnya.

"benar!? jangan gunakan jurus bunuh diri itu lagi!? jangan mencoba atau bahkan berpikir untuk mengorbankan dirimu lagi?!" tambah Yona terisak.

"Shina, Zeno, Aruma dan Inukai mencarimu selama seminggu lebih sampai akhirnya mereka bisa menemukanmu, tahu!? kau ini bikin kami cemas saja?!" pekik Yun.

"kalian tak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Kija menyeka air matanya.

"yah, kalau apa yang ingin kami katakan sudah dikatakan oleh Hak semua, kami harus bicara apalagi?" ujar Jae Ha terkekeh.

Merasakan kehangatan dari teman-temannya, tanpa terasa membuat air mata Leila menetes. Ini sempat membuat mereka semua terkejut dan heran sebab Leila tidak pernah lagi menangis di hadapan mereka selain saat mereka melihat Leila menangis untuk yang pertama dan terakhir kalinya ketika Yasmine meninggal.

"aku pulang..." ujar Leila tersenyum sambil menyeka air matanya "maaf, aku sudah membuat kalian semua khawatir, aku janji takkan mengulanginya lagi... tapi aku senang... karena aku tahu, masih ada keluargaku yang begitu menyayangiku...".

Mendengar ucapan Leila, mereka kembali memeluknya bersamaan "Leila~".

"bagus... sebab, jika kau tak menyesali perbuatanmu kali ini, akan kuseret kau ke hadapan ibu, biar ibu yang memarahimu nanti" angguk Hak yang melipat tangan.

"eh?! jangan, dong..." pinta Leila.


A/N:

Okay, ini adalah akhir dari Winter Arc yang berfokus pada apa yang terjadi saat musim dingin sekitar tiga tahun terakhir, dimana tahun pertama adalah saat Yasmine berhasil membalaskan dendam kematian adik-adiknya dan Khali pada Karma, tahun kedua saat Yasmine meninggal dunia (RIP Yasmine huhuhu T^T maaf nak), dan tahun terakhir adalah saat Leila menghilang selama kurang lebih sebulan.

Next Arc adalah Arc terakhir.